MOM BLOGGER

A Journal Of Life

'Ruangan' untuk Marah ('Time Out' untuk semua)

Minggu, 22 November 2015

Marah marah marah >_<
Geraaaaaaaaam. Huffft...
Saya itu ibu yang pemarah. Asli dan sangat jujur. Kalo udah marah ... hiks ... malu dan sedih kalo ngingetnya.

Gini gini... Saya sekarang sedikit mau berbagi hal terkait marah. Kayanya sih udah ada yang dapetin broadcast nya ya. Tapi biar semua pada tau, saya copas-in aja ya ...

★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★

Hati-hati menjaga lisanmu wahai ibu... !!!

كنت في يوم من الايام انظف بيتي وجاء ابني وهو طفل واسقط تحفة من الزجاح فانكسرت
Suatu hari, saya sedang membersihkan rumah. Tiba-tiba anak lelaki saya datang, ia masih kecil waktu itu, ia menjatuhkan satu hiasan yang terbuat dari kaca, dan pecah.
فغضبت عليه اشد الغضب لانها غالية جداً واهدتني اياها امي فأحبها ، واحب ان احافظ عليها ...
Saya benar-benar marah ketika itu. Karena hiasan itu amat mahal harganya. Ibu saya telah menghadiahkannya dan saya amat menyukainya, maka saya menjaganya dengan amat baik...
ومن شدة الغضب دعوت عليه قلت : 
( عسى ربي يطيح عليك جدار يكسر عظامك )
Karena terlalu marah, saya melontarkan kata-kata: "semoga kamu tertimpa dinding bangunan dan tulang-belulangmu hancur!"
مرت السنين ونسيت تلك الدعوة ولم اهتم لها ولم اعلم انها قد ارتفعت الى السماء ... 
Beberapa tahun berlalu, saya lupa akan doa itu, saya pun tak menganggapnya penting, dan saya tidak tau bahwa ternyata doa itu telah naik ke atas langit...
كبر ابني مع اخوانه واخواته ..
وكان هو احب ابنائي الى قلبي ؛ 
اخاف عليه من نسمة الهواء ...
ويبر فيَّ اكثر من اخوانه واخواته ...
درس وتخرج وتوظف واصبحت ابحث له عن زوجة
Anakku lelakiku itu dan saudara-saudarinya yang lain semakin besar. Rasanya, dialah yang paling saya cintai dari anak2ku yang lain. Dialah yang paling saya khawatirkan. Ia pula yang paling berbakti kepadaku dibandingkan saudara/i nya yang lain. Dia telah tamat belajar, bekerja, dan sudah waktunya untuk saya mencarikannya pasangan...
. . . 
وكان عند والده عمارة قديمة ويريدون هدمها وبناءها من جديد
Ayahnya memiliki sebuah gedung tua yang hendak direnovasi.
.
ذهب ابني مع والده للعمارة وكان العمال يستعدون للهدم
Maka pergilah anakku bersama ayahnya ke gedung itu. Para pekerja sudah siap-siap untuk merenovasinya..
وفي منتصف عملهم ذهب ابني بعيداً عن والده ولم ينتبه له العامل فسقط الجدار عليه ..
Ditengah-tengah aktivitas mereka, anakku pergi agak jauh dari ayahnya, para pekerja tidak mengetahui bahwa ada ia disana, bangunan yang sengaja dirobohkan untuk direnovasi itu jatuh menimpanya...
وصرخ ابني ... ثم اختفى صوته ... 
توقف العمال ، واصبح الجميع في قلق وخوف ... 
Anakku berteriak hingga suaranya tak terdengar lagi. Semua pekerja berhenti. Mereka ketakutan! Mereka khawatir!
ازالوا الجدار عنه بصعووووبة وحضر الاسعاف 
ولم يستطيعوا حمله لانه اصبح كالزجاح اذا سقط وتكسر ...
Mereka menyingkirkan dinding yang menghimpit anakku itu dengan susah payah dan segera memanggil ambulans. Mereka tidak bisa mengangkan badan anakku. Ia remuk. Seperti kaca yang jatuh, pecah berkeping-keping...
حملوه بصعوبة ونقلوه للعناية ...
وعندما اتصل والده ليخبرني
كأن الله اعاد امام عيني تلك الساعة التي دعوت فيها على ابني وهو طفل ... وتذكرت تلك الدعوة ...
Mereka membawanya dengan amat sulit dan segera memindahkannya untuk pertolongan lebih lanjut.. . Ketika ayahnya menghubungi saya untuk mengabarkan hal itu, seakan Allah menghadirkan kembali apa yang telah saya doakan untuknya dahulu ketika ia kecil...
بكيت حتى فقدت وعيي ..
واستيقظت في المستشفى ... وطلبت رؤية ابني ...
Saya menangis hingga jatuh pingsan. Ketika sadar, saya berada di rumah sakit.. Dan saya meminta untuk melihat anak saya...
رأيته ، وليتني لم اره في تلك الحالة ..!
رأيته وكأن الله يقول : 
هذه دعوتك ... استجبتها لك بعد سنين طويلة ؛لأن دعوة الوالدين مستجابة ... والان سأخذه من الدنيا 
Ketika melihatnya, ah! Andaikan aku tidak melihatnya dalam keadaan sebegitu... Saya melihatnya, seakan-akan Allah berkata "nih, ini doamu kan? Sudah saya kabulkan setelah sekian lama; doa orang tua itu mustajab, dan sekarang Aku akan mengambilnya..."
وفي تلك اللحظات توقف جهاز القلب ... 
Ketika itu, jantung aaya seakan berhenti berdetak...
ولفظ ابني انفاسه الاخيرة ..
Anak saya menghembuskan nafas terakhirnya...
صرخت وبكيت وانا اقول : 
Sembari berteriak dan menangis saya berkata:
ليته يعود للحياة .. ويكسر تحف البيت جميعها ...
Andaikan ia hidup lagi! Tidak mengapa jika dia hancurkan semua perabot rumah...
ولا افقده ..
Asalkan saya tidak kehilangan ia...
ليت لساني انقطع ولا دعوت عليه تلك الدعوة ..!
Andaikan saja lidah saya ini terpotong dan tidak mendoakannya sebegitu!
ليت وليت وليت ولكن .......... ليتها تنفع كلمة •• ليت ••
Andaikan... Andaikan... Andaikan... Tetapi, andaikan kalimat 'andaikan' ini berguna...
رسالتي لكل ام : 
لاتتسرعين في وقت غضبك بدعائك على ابنك ...،
Risalah kepada para ibu: jangan terburu-buru mendoakan anakmu ketika sedang marah...
استعيذي بالله من الشيطان ... وان اررتي
ولكن لاتدعين عليه ...
فتندمين كما ندمت ""
Berlindunglah kepada Allah dari godaan setan,... Jika kamu ingin memukulny, pukul aaja, tapi jangan mendoakannya macam-macam, sehingga kalian akan menyesal seperti saya...
اكتب لكم هذه الكلمات ودمعاتي تسبق كلماتي ... 
Saya menuliskan ini dengan airmata yang membanjir...
ليت روحي تلحق روحك يابني واستريح من هذا الالم الذي اعيشه بعد وفاتك ...
""""""""""
Andaikan ruhku pun turut bersamamu, nak. Hingga saya bisa beristirahat dari kepedihan yang saya rasakan sepeninggalmu...
قصة مؤثرة ..
""""""""""""
ارجو نشرها لجميع النساء
الدعوة مقبولة .. ولو بعد حين
Kisah yang menginspirasi. Tolong sebarkan keseluruh wanita, doa itu akan terjawab, walau setelah beberapa lama...
#copas#

★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★

Jujur, setelah baca BC di atas, saya jadi berusaha mengingat-ingat kembali apa saja kata-kata yang saya lontarkan ke anak-anak ketika marah. Tapi saya gagal mengingatnya. Alhasil, saya cuma bisa beristighfar dan memperbarui doa kepada Allah..

"Ya Allah, tariklah semua doa-doa buruk yang pernah terlontar dari mulutku. Sungguh Engkau Maha Pemurah. Ampunilah hambaMu yang penuh khilaf ini" :'(

Tolong di aminin ya... pliiiiis... semoga kita terhindar ya dari hal-hal buruk.

Nah, nyambung lagi ke perihal emak-emak pemarah nih ya. Saya coba putar otak alias mikir cara biar saya ga perlu keceplosan kalo marah. Mikir mikir mikir ... dan akhirnya saya nemu sebuah cara, yaitu dengan menyediakan ruangan khusus untuk marah. Jadi gimana tuh aturan mainnya?

Begini...

Saya berhasil mencontohkan marah kepada anak-anak. Jadi saat ini anak-anak ketularan pemarah nya saya. Karena mereka sudah tertular yang membuat mereka melakukan self defense dengan marah melalui tindakan fisik (memang fase nya juga sih). Misal dengan nyubit, mukul dan nendang bahkan mencakar. Belum lagi banyak faktor lain yang bisa memancing marah, mulai dari mood anak-anak yang sedang buruk apakah karena mereka masih mengantuk, kecapean, atau kelaparan. Atau bisa jadi karena rebutan mainan. Banyak hal dan saya yakin semua orang tua sangat tau itu.

Dalam agama, kita sudah diberikan langkah-langkah dalam mengatasi marah. Seperti berpindah posisi dan diakhiri berwudhu dan melaksanakan amalan sunnah jika memang marah itu sudah sangat memuncak. Namun hal ini agak sedikit menantang jika yang memancing marah itu adalah tingkah unik anak-anak. Tentunya anak-anak akan menunjukan sikap lainnya apabila kita diam dalam rangka menahan marah. Misal, anak-anak rewel karena ingin sesuatu. Langkah pertama dengan memberi pengertian bahwa yang mereka inginkan itu belum bisa diberikan sekarang karena alasan tertentu, tidak diindahkan. Kemudian kita coba memberikan tawaran pikihan dan ternyata anak tetap keukeuh dan mulai menunjukan gejala rewel. Kita pun mencoba closing dengan pilihan yang kita coba tawarkan dan menyampaikan bahwa hanya itu yang bisa dilakukan, dan akhirnya anak tantrum.

Berdasarkan teorinya, anak tantrum karena ada keinginan mereka yang tidak terpenuhi sebaiknya dibiarkan saja sekitar beberapa menit. Namun karena situasi tertentu kita sebagai orang tua dengan keterbatasan kapasitas daya tampung masalah tentunya bisa meledak juga mendapati anak yang 'tidak paham' ini. Terlebih jika anaknya seperti anak-anak saya. Belum lagi kalo kitanya lagi banyak pikiran.. ciile gaya.. hahaha. Tantrum nya anak-anak bukanlah bergolek dilantai melainkan mengikuti kemana saya pergi dan menarik-narik tangan dan baju saya ke arah yang mereka maksudkan. Dan memberikan toleransi dengan mengikuti kehendak mereka dalam keadaan tantrum seperti ini sama saja saya menyerah dan membuat anak-anak berfikir bahwa tangisan bisa meluluhkan saya. BIG NO!!! Jangan atur umi dengan tangisan kalian. (Umi galak)

Dan disinilah fungsi ruangan khusus yang saya maksud. Ruangan untuk marah. Saya atau pun anak-anak akan berada diruangan ini. Ruangan apapun yang sedang tidak ada orang. Ruangan dimana saya atau pun anak-anak bisa melepas marah atau bisa sering disebut 'Time out' dalam prakteknya. Kenapa ruangan, dan juga berlaku untuk saya? Karena sesungguhnya inti masalah nya ya saya. Jika saya sedang good control, anak-anak se rewel apapun bisa saya atasi. Karena memang pada dasarnya anak-anak saya anak-anak yang mudah mengerti. (Anak-anak semuanya saya yakin mudah untuk mengerti kok ya. Kitanya aja orang tua yang rada cepet tidak sabar).

Ngomong soal 'Time Out (TO)' yang memang sedang happening. Jujur, praktek TO ini gagal berkali-kali saat diterapkan ke anak-anak saya. Disamping mereka yang belum mengerti, mereka juga bukan tipe anak-anak biasa, mereka luar biasa. Hehehe. Karena ketika di TO, ada saudaranya yang akan membantu. Dan mendistraksi saudara yang sdg di TO. Nasib nasib... anak kembar. Dari dalam perut sudah punya PIC alias partner in crime.. hehehe.

Jadi gimana efektifitasnya ruangan ini? Sangat efektif untuk saya mengkondisikan anak-anak dan saya sendiri. Saya jadi bisa menghindari marah yang aneh. Marah yang ga penting. Yang sekedar pelepas nafsu aja. Hiks. Dan anak-anak pun jadi mengerti, bahwa marah itu hal yang buruk. Sesuatu yang umi sendiri juga sedang berjuang mengendalikannya. Sesuatu yang harus dihindari. Terlebih jika marah tanpa alasan. Siapapun, dirumah ini yang marah tanpa alasan, silahkan masuk ke sebuah ruangan dimana kamu disana sendiri.

Nb: konsepnya sama seperti konsep TO, namun sepemahaman saya, TO pemberlakuan hanya untuk anak. Sedangkan karena sikon di keluarga saya yang sedikit berbeda, sehingga TO diberlakukan juga jika orang tua (dalam hal ini saya) mulai kesel dan akan marah.

Oh ya, NB lagi: saya bukan ahli teori parenting, saya mencoba mempraktekan teori yang saya tau dan pahami, dan memodifikasinya sesuai kebutuhan anak-anak saya.

Bandung, 23 Nov 2015

Post Comment
Posting Komentar

Komenmu sangat berarti bagiku 😆
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... 🤗