MOM BLOGGER

A Journal Of Life

"Muslimah Solehah Zaman Now"

Friday, February 2, 2018

Kenapa judul tulisan ini sayang kurung dalam tanda kutip coba? Karena saya tertarik untuk membahas penggunaan istilah kekinian yang tengah menjamur di Indonesia.

Setuju ataupun tidak setuju karena saya ga minta persetujuan teman-teman 😅, penggunaan istilah kekinian di berbagai kalangan memang sedang marak. Apa-apa yang sedang kekinian, pasti semua jadi latah menggunakannya. Yang terbaru sebut saja tentang penggunaaan kata Dilan.

Udah tau doooonk Dilan itu apa dan atau siapa ... Dilan adalah seorang tokoh di sebuah novel remaja karyanya om Pidi Baiq. Pasca novel ini di film kan, Dilan makin terkenal. Dan ... Yups! Dilan jadi istilah kekinian di Indonesia dengan berbagai macam pelesetannya. Dilan-mar lah ... Dilan-carkan lah ... Dilan ... jutkan lah ... semua kata yang memiliki awalan di-tetiba ikutan ngehits gegara Dilan ini. Bahkan muncul kata-kata tak baku alias maksa 😅 seperti Dilan-mar

Perkembangan meme menggunakan istilah kekinian tampaknya udah jadi budaya baru ya di Indonesia. Memang dasar orang Indonesia itu aktifnya kebangetan. Apapun bisa disulap jadi menarik dan bisa mengalahkan trending topic kelas dunia. Jadi kayanya, kalo isu internasional mau dialihkan, bisa tuh sewa jasa buzzer Indonesia buat mengalihkan isu dengan meme berkelas internesyeinel 😆😆

Meskipun tinggal di benua belahan sana, balik benua Asia alias Amerika, saya dan tentunya masyarakat diaspora Indonesia di Amerika tak mau kalah ketinggalan donk ngikutin yang kekinian. Meski raga tak di Indonesia, tapi tetap, update-an berita masih ngIndonesiah! 😁😁

Hal ini terlihat dari interaksi sosial yang saya rasakan dengan sesama warga Indonesia. Tak jarang kami pun bercanda gurau menggunakan istilah-istilah kekinian atau berdiskusi terkait isu-isu kekinian. Meskipun kadang kami sering ketinggalan sih 😂😂😂 Di Indonesia sudah heboh soalan Milea eh disini masih soalan Dilan, misalnyaaaaaa. 

Nah, termasuk dalam menciptakan atau mengkreasikan judul sebuah kajian baik itu kajian ilmiah ataupun religi. Tema yang disuguhkan biasanya diusahakan ngikutin istilah kekinian. Ya tujuannya biar menarik aja 😂😂😂 Seperti judul acara kajian online milik Radio IMSA, radionya komunitas Indonesia di Amerika pekan lalu, yaitu 'Muslimah Solehah Zaman Now'.

Sekarang saya mau bahas dulu istilah 'Zaman Now' nya yang tentu menjadi istilah kekinian. Menariknya, dua kata yang berbeda bahasa ini mendapat sorotan lho dari Kemendikbud. Penggunaan kata Zaman kerap kali diketik dengan kata tak bakunya, Jaman. Dan tampaknya membuat resah para pemerhati bahasa salah satunya teman-teman di Kemendikbud donk ya. Lucunya, koreksinya hanya pada penggunaan kata Zaman. Sedangkan miks bahasa yang digunakan tidak disorot sama sekali. 

Kenapa? Entahlah. Bisa jadi karena memang mau fokus mengoreksi yang kurang tepat saja. Sedangkan miks bahasa yang terbentuk cukup dikategorikan sebagai fenomena berbahasa saja. Dimana bahasa merupakan alat komunikasi yang tak bisa dikontrol perkembangannya. 

Saya jadi teringat tulisan salah seorang teman yang menuliskan tentang kegelisahannya ketika menemukan banyak tulisan menarik dan berkonten bagus tapi memiliki tata bahasa yang kurang tepat. Salah satunya karena menggunakan miks bahasa tanpa menerapkan kaedah yang benar (eh kaedah apa kaidah ayoooo 😂😂😂). Misalnya, penggunaan kata asing tanpa dicetak miring, atau penggunaan kata serap yang tidak baku.

Saya pribadi, bukan tipe yang resah, karena saya kadang (kadang lho yaaaaa) menjadi pelaku sumber keresahan itu sendiri ✌😆. Kenapa? Ga ada maksud apa-apa. Saya hanya berdalih bahwa menulis di blog tidaklah harus memperhatikan kaedah kepenulisan yang benar. Cukup tidak menggunakan singkatan dan berbahasa yang baik dan benar dalam arti dimengerti struktur bahasanya, ya sudah cukup jadi bekal untuk menulis di blog.

Tapi ... jika semua orang berdalih demikian, wah sayang juga ya ilmu mata pelajaran Bahasa Indonesia kita 😂😅. Tapi lagi ...  kalo ejaan sesuai EYD bisa-bisa ga jadi nulis gegara cek kamus lagi cek kamus lagi 😂😂😂.

Nah, saya pribadi, mulai tercengang dengan kemampuan menulis saya tatkala #eitdahtatkala 😆 cerpen saya di proofread sama editor komunitas #1m1c, Ayu Welirang. Merah-merah raport saya dibuat nya 😂😂😂😂 ... banyak kata dan penggunaannya yang masih belum tepat dan sesuai kaedah. Untung Ayu baek, langsung editin jadi saya tinggal approval suggestion 🙈

Dari pengalaman inilah saya mulai terhenyak (dan saya sadar mulai dari awal tulisan banyak kali ya kata-kata saya yang tidak sesuai kaedah, ga papa ya ... bukan tugas matpel Bahasa Indonesia ini 😆😆✌✌✌), bahwa saya ternyata masih banyak Pe-Er jika mau menjadi seorang penulis beneran. Kasian kan editornya kalo musti editin kata tidak baku jadi baku, imbuhan yang tepat apa, penggunaan imbuhan digabung apa dipisah sama kata dasar. Okeh! Saya belajar lagi. Nanti! Kalo emang beneran mau nulis serius 😂😂😂🙈🙈🙈

Sekarang, saya mau sedikit berbagi saja tentang kajian online yang memiliki judul percis judul tulisan saya. Hitung-hitung latihan nulis ... nulis ... dan nulis 😆

Muslimah solehah zaman now, yang kaya gimana sih? Tadinya, saya berfikir kajian akan mengarak pendengar radio membahas hal-hal terkait fenomena wanita muslimah zaman now. Yang masya Allah ... perkembangan dan penerimaan masyarakat Indonesia sudah sangat baik terhadap ajaran Islam. Apa-apa yang dulu dianggap tabu seperti jilbab lebar bahkan cadar/niqab, sudah menjadi hal lumrah di kalangan ibu-ibu urban zaman now.

Mudahnya update informasi di zaman now, membuka luas pandangan kita tentang fenomena yang ada. Dan tentunya kita sadar, bahwa Islam saat ini tengah menjadi sorotan dunia. Terutama geliat muslimahnya.

Tapi, dalam kajian online lalu yang bersama ustadzah Nur Hamidah, Lc. M.Ag., dugaan saya keliru. Ternyata ustdzah lebih menjelaskan hal mendasar tentang konsep wanita itu sendiri di dalam Alquran. Barulah kemudian beliau menjelaskan bagaimana cara mengimplementasikannya di zaman now. Jadi tidak seperti yang saya pikirkan, kajian kontemporernya (tapi di akhir bahasan, Ustadzah hamidah memberikan contoh-contoh konkrit yang kekinian 😊)

Penjelasan asal kata wanita di dalam Alquran dari kata Al Untsa, kemudian Imro'ah/Mar'ah dan kemudian Annisa yang di ambil dalam surat Annisa, membuat saya kembali berfikir akan fenomena bahasa yang ada.

Sering kali kita lupa menelisik asal dari sebuah kata, histori yang menyertainya dan kemudian perkembangannya. 'kemalasan' dalam melatih kepekaan bahasa ini diperparah dengan penggunaan kata yang kurang tepat, sehingga menggiring kita pada kesalahan berfikir dan berlogika (logical fallacy). Jadi wajar saja, logical fallacy sering terjadi. Karena memang kita mungkin terlalu mengagungkan pemikiran sendiri tanpa mau memperkaya diri dengan ilmu kebahasaan yang mumpuni. Lha wong orang belajar belasan tahun tentang linguistik misalnya, kita baru baca arti sebuah kata dikamus aja udah bisa tampil pede beropini huhuhuhu ... itu saya sebenarnya.

Jadi, kajian di radio malam itu membuat saya jadi malu sendiri. Kemalasan dalam membaca atau paling tidak mencari sumber sebuah ilmu agar tidak terjadi simpang siur penafsiran masih sering saya lakukan, dengan dalih malas 😣😣😣

Padahal, ternyata ketika sebuah ilmu kita pelajari benar-benar akarnya, bisa menambah keimanan. Karena memang adabnya kan ilmu dulu baru amal. Amal dulu baru kemudian iman ... kata ustadz Budi Azhari ...

Oke, balik lagi ke acara kajian online. Disini, Ustadzah Halimah mempertegas tentang hak prerogatif Allah dalam menetapkan jenis sex seseorang. Sehingga yang ada di dunia ini hanyalah 2 jenis sex, yaitu laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang namanya perempuan jadi-jadian atas dasar LGBT. Begitu kata beliau ketika membahas kata Al Untsa yang artinya wanita secara jenis kelamin. Duh maaf saya yakin yang ngerti bahasa arab getek baca penjelasan saya yang sangat tak terstruktur ini 😂😂😂

Beranjak membahas kata lain di dalam Alquran yang memiliki arti perempuan, yaitu imroah atau mar'ah. Dalam asal kata ini, perempuan disini lebih ke perannya. Peran sebagai istri dan ibu. Dan ada pertanggungjawaban atas peran yang dilekatkan Allah pada setiap perempuan di dunia. Sehingga, membuat kita para perempuan lebih berhati-hati dan bertanggungjawab dalam mencari calon suami dan calon ayah bagi calon anak-anak kita. Dan buat yang sudah menikah, agar lebih bertanggung jawab dalam menjalankan peran sebagai istri dan ibu.

Lanjut ke kata Annisa, kata yang sudah sangat populer dikenal sebagai kata yang berarti perempuan dalam bahasa arab. Dan ternyata di dalam kata Annisa ini terdapat keutuhan peran sekaligus hubungan yang mengatur seorang perempuan dalam lingkup sosial (hablumminannas), ketuhanan (hablumminallah) dan lingkup dosmetik.

Dari ketiga asal kata inilah kemudian kita bisa mengimplementasikan cara yang tepat agar menjadi muslimah solehah tidak hanya di zaman now, tapi di sepanjang zaman. Dimana penghayatan kita yang memiliki fitrah lahir sebagai perempuan kita jaga dengan menjaga kesadaran dalam bergaul. Lalu menyempurnakannya dengan peran yang akan kita jalani kedepan pasca menikah dengan tetap menjaga keseimbangan gerak secara vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan manusia) untuk stabilitas urusan domestik.

Maka, jika 24 jam waktu yang kita miliki sama, tinggal menjaga kualitas hubungan dengan Allah agar 24 jam kita lebih bermakna dan tidak berlalu tanpa manfaat.

Baik, buat temen-temen yang penasaran dengan materi kajian tersebut, berikut saya salin rangkuman yang dibuat sendiri oleh Ustadzah Hamidah. Biar kita ga cuma dengar, kata beliau, tapi juga baca 🤗

*** 
Muslimah zaman Now
by. Ustadzah Nur Hamidah Lc MAg
dalam acara KIORI (Kajian Islam Online Radio Imsa)
Senin, 29 Januari 2018

I. Kosa kata wanita dalam Al-Quran, yaitu;

a. Untsa Qs 49 : 10 --> bentuk kelamin & yang dipakai utk panggilan perempuan dlm warisan. >< LGBT
b. mar'ah / imroah. Qs 66 : 10-11 --> Istri & Ibu. ( Status yg melekat dan diminta pertanggungjawaban) dan nisa
c. Nisa --> Nama surat dlm Al-Quran (Mencakup semua status baik sex & gender dlm kehidupan di rumah ataupun di masyarakat.

Nisa : Mencakup semua sisi kehidupan:
a. Sebagai hamba Allah yang memahami Hablumminallah
b. Sebagai istri dan ibu yang  bertanggung jawab di Rumah, baik :
- sumur, kasur & dapur
c. Sebagai anggota masyarakat yang berinteraksi Hablumminannas baik dlm aspek ipoleksosbudhankam

II. Bekal menjadi muslimah zaman Now.

1. Dari kata al-untsa, sadar dirinya adalah sex nya adl wanita, maka :
- menolak LGBT
- Berprilaku & berdandan sebagai wanita tidak menyerupai laki-laki
- Mengenal batas aurat & siapa mahromnya. Qs 4 : 23 / 24 : 31.

2. Dari kata Al-Mar'ah maka : apapun kedudukan, profesi, jabatan & kesibukannya di sosial kemasyarakatan
(ISTRI)
- Dia akan selalu menjadi istri yang setia dan ta'at kepada suaminya.
- Mengindari dosa sebagai istri yaitu : " suka mencela & tidak mensyukuri suami"
- Menjadi pendamping suami dalam suka dan duka dgn ilmu sabar & syukur
(IBU)
- Status sebagai ibu akan terus melekat utk bertanggung jawab dengan jasmani, rohani, keimanan & akhlak anak-anaknya
- Dirumahnya dia akan diminta pertanggungjawaban selama menemani anak-anak nya, saat diluar meninggalkan anak-anak nya juga akan diminta pertanggungjawaban akan perlindungan dan pendidikan mereka.

3. Dari kata Nisa, maka dia akan menjadi "Alquran yang berjalan ". Maka :
1. Hubungan dengan Alquran semakin akrab ( dibaca sampai khatam, difahami terjemah & tafsirnya utk diamalkan, di simpan dalam hatinya & disiarkan dgn dakwahnya ".
2. Hubungan dengan Allah SWT melalui sholat ( wajib & qiyamullail). Qs 4 : 43
3. Akhlak mulia saat berinteraksi dgn orang lain. Qs 4 : 36
4. Kedekatan dengan warisan Rosul baik shiroh dan hadits-hadits Nabi. Qs 4 : 68-69.
Oke deh ... segitu dulu luapan pikiran dari saya. 

***

Di akhir tulisan ini, ada yang iseng ngitung saya melakukan berapa pelanggaran kaedah menulis ga? 😆😆😆😆

Columbus, 2 Februari 2018

Post Comment
Post a Comment

Komenmu sangat berarti bagiku 😆
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... 🤗