MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Berteman Dengan Eczema

Senin, 22 Juli 2019
Halo semua. Setelah sekian lama ga nulis, semoga apa yang saya tulis sekarang kelar dan published ya πŸ˜…

Semenjak Zaynab terkena eczema, saya memang tidak memaksakan diri memenuhi target menulis di blog yang tadinya satu kali kali dalam satu minggu. Seminggu berlalu, dua minggu dan akhirnya dua bulan. πŸ˜… Tak terasa kebiasaan menulis memudar dan dan masuklah saya dalam zona nyaman yang berkepanjangan. Nyaman kagak ngeblog πŸ™ˆ.

Sekarang? Alhamdulillah perlahan saya mulai mengerti bagaimana eczema itu dan cara mengontrolnya. Jadilah saya pengen aktif nulis lagi di blog. Kangen kaaaaaan akutu πŸ€—πŸ€—πŸ€—

Baca Juga: Alergi dan Eczema

Eczema atau Dermatitis?
Sesungguhnya ku tak tak ingin membahas istilah. Selain lelah bolak balik nge-googling. Ku juga takut salah paham dan jadi sok tau. Tapi eh tapi, ga papalah ya tak tulis saja disini. Kalo-kalo misal ada yang keliru kan bisa dikoreksi sama kamu😁.

Eczema atau dermatitis merupakan dua istilah untuk sebuah kondisi serupa. Namun ternyata, ada perbedaan dalam dua istilah ini.


Eczema sendiri, merupakan istilah yang digunakan untuk sebuah kondisi kulit yang mengalami peradangan. Sedangkan dermatitis , istilah umum yang digunakan untuk seseorang yang memiliki gejala gangguan kulit seperti merah-merah, gatal, kering dan lain-lain yang salah satunya adalah eczema.

Tapi, kayanya ini mah ya. Eczema ataupun dermatitis merupakan dua istilah untuk kondisi serupa. Kalo kata saya sih, eczema itu istilah terkenalnya, dermatitis itu istilah medisnya. Yang intinya si dua istilah ini kerap digunakan untuk sebuah kondisi kulit yang tidak wajar dan bersifat genetis atau turun temurun.

Istilah Lainnya
Saya kurang paham memang kenapa ada berbagai macam istilah yang digunakan untuk sebuah kondisi kulit meradang ini. Selain eczema dan dermatitis, penggunaan istilah eksim atopik juga kerap ditemukan atau dermatitis atopik. Nah eksim atau dermatitis atopik inilah yang disebut sebagai istilah lain dari eczema.

Nah dikalangan masyarakat awam, selain istilah eksim, kondisi kulit dengan gangguan berupa rasa gatal, kering, merah-merah, mengeras, bintik-bintik terkadang muncul dengan istilah amis darah atau manis darah. Saya pribadi sih ga tau apakah istilah tersebut sama atau tidak. Yang pasti istilah dermatitis memang digunakan untuk menggambarkan sebuah gangguan kulit. Jenisnya atopik atau tidak, perlu diagnosa lebih lanjut. Sedangkan amis darah, kalo kulit kita gampang borokan.

Yaaaa kalo udah eczema ya bakal borokan πŸ™ˆ. Jadi sama apa tidak?

Appointment 25 April masih ke dokter anak

Kondisi bulan Mei memburuk lagi pasca 25 April
Akhirnya minta rujukan ke deematologis

Cing lah pokona mah kitu. Intinya, kalo denger istilah-istilah di atas, berarti kamu harus siap-siap sama 5 hal berikut.

5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Eczema
Dari secuil ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dari berbagai macam sumber, saya pun berniat untuk menuliskan treatment eczema Zaynab. Mana tau ada yang bisa diadopsi atau diadaptasi.

Namun sebelum saya menuliskan tentang treatment eczemanya Zaynab, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan jika anak didiagnosis dermatitis atopik atau eczema.

1. Kenali Eczemamu
Apa itu eczema. Siapa yang bisa terkena eczema. Apakah eczema sama dengan alergi. Dan lain sebagainya. Observasi dan pelajari terus menerus hingga menemukan klik terhadap eczema yang diderita (untuk kasus saya, diderita anak saya).

Berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya pada mulanya menyerahkan sepenuhnya penanganan eczema kepada ahlinya (dokter). Saya berfikir bahwa dokter lebih paham tentunya. Namun ternyata, karena Zaynab tidak langsung dirujuk ke dermatologis. Jadilah Zaynab setiap kali berobat diresepkan obat baru sesuai mazhab dokter jaga saat itu. Maklum, disini kami tidak punya dokter keluarga. Jadi dokternya beda-beda terus 😁.

21 Mei, nyaris satu bulan dari appointment sebelumnya
Ke dermatologis baru tanggal 10 Juni

Dengan mengenali eczema kita, menjalani
apa yang dokter nasehatkan dan obat yang diresepkan cukup membantu mengurangi kebingungan saat eczema tak kunjung mereda padahal kita merasa sudah melakukan semua yang dikatakan dokter dan menggunakan obat yang diresepkan dokter.

Baca Juga: Eczema Pada Bayi Usia 2-6 Bulan

Berhubung eczema berbeda dari penyakit lainnya yang memiliki pemicu yang jelas. Jadi eczema tidak serta merta hilang atau sembuh seperti halnya sakit demam, flu atau penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus. Sehingga jika kita tidak memahami apa itu eczema, maka kita bisa dengan mudahnya berpindah dari satu dokter ke dokter lain atau dari satu obat ke obat lainnya karena panik kok kulitnya ga sembuh-sembuh (pengalaman pribadi ini mah hehehe).

Kondisi paling baik ya begini
Merah terang tanpa cairan

Ya meskipun pada perjalanannya memang eczema itu bikin kita melakukan trial and error sampe akhirnya  nemu yang pas. Baik itu dokter yang cocok atau obat yang adem di hati. Harapannya trial and error bisa diminimalisir dengan kita benar-benar mengenal eczema yang diderita.

2. Tingkatan dan Jenis Eczema
Eczema pada setiap orang itu berbeda-beda. Ada 3 tingkatan jika mau dibagi berdasarkan tingkat keparahannya.
- eczema ringan (mild)
- eczema sedang (accute)
- eczema berat (chronic)

Selain itu, setiap orang  bisa  jadi  memiliki jenis eczema yang berbeda. Yang mana setiap jenisnya memiliki ciri fisik yang berbeda. Ada 7 jenis eczema yang pernah saya baca. Salah satunya ya dermatitis atopik yang lagi diderita Zaynab ini. Untuk jenis lainnya silahkan pelajari sendiri ya. Saya kurang ahli merangkum hal-hal diluar kapabilitas saya. Uhuk. Alias males.

10 Juni saat pemeriksaan di dermatologis

3. Faktor pemicu
Aneka ragam faktor pemicu munculnya eczema bergantung pada respon tubuh masing-masing. Secara garis besar eczema kambuh  karena dipicu oleh lingkungan sekitar. Bisa karena debu, polusi, asap rokok, dan lain-lain. Bisa juga karena makanan tertentu seperti turunan susu sapi, kacang-kacangan, berry-berryan dan lain-lain.

Nah yang perlu kita ingat, respon tubuh setiap orang akan berbeda reaksinya. Waktu kambuh eczema setelah terpapar faktor pemicu pun bisa berbeda. Jadi coba diperhatikan dengan seksama. Dan hindari membanding-bandingkan satu individu dengan individu yang lain ya. Misal:

"Anak temen saya eczema juga karena makan ayam suntik. Kamu kebanyakan makan ayam suntik kali!"
Padahal keluarga kita ga punya riwayat alergi ayam suntik.

Langkah awal mengenali faktor pemicu menurut saya, cari tau riwayat kesehatan keluarga kita. Jangan keluarga orang lain hehehe. Karena biasanya ini mah ya, faktor pemicunya suka sama.

Baca Juga: Eczema Zaynab dan Dermatologis

4. Treatment
Selain respon tubuh yang berbeda, jenis peradangan yang berbeda, hingga faktor pemicu dan lamanya eczema menyerang seseorang yang juga bisa berbeda, ternyata treatment masing-masing orang pun berbeda.

Memang secara umum, prosedurnya sama, namun dalam perjalanannya akan ada perbedaan treatment yang dilakukan bergantung pada:
- Lamanya eczema meradang
- Obat yang sudah diberikan
- Riwayat kesehatan dan alergi di dalam keluarga
- Tingkat keparahan kulit yang mengalami peradangan

19 Juni sisa warna gelap di titik eczema nya

5. Imunitas dan Steroid
Bisa dikatakan, penyakit eczema merupakan penyakit yang terkait dengan sistem kekebalan tubuh. Tidak ada penyebab yang pasti dan pengobatan yang jelas.

Karena eczema terkait kekebalan tubuh, maka tak heran setiap individu memeliki reaksi yang berbeda terhadap faktor pemicu ataupun treatment yang diberikan. Karena semua bergantung imunitas tubuh masing-masing.

Lalu apa hubungannya imunitas dengan steroid?

Jadi katanya, setiap penyakit yang belum ada obatnya, steroid merupakan obat yang digunakan untuk mengurangi keluhan terhadap sebuah penyakit. Seperti eczema yang jika dibiarkan maka rasa gatalnya akan membuat kita ingin menggaruk berkepanjangan. Dan efek sampingnya membuat kulit mengalami peradangan terus menerus. Jika kulit terus meradang, virus dan bakteri dengan sangat mudah masuk dan menyerang.

Baca juga referensi di Milis Sehat biar kamu makin oke pahamnya. Karena bahasa saya mah belibet bahasa orang awam πŸ˜‚.

Mulai provokasi Zaynab dengan lingkungan baru
Biar terbentuk imun tubuhnya
Abis dari sini? Ya eczemanya meradang lagi hehehe

Nah, jika sudah memperhatikan 5 poin di atas, harapannya ketika membaca treatment eczema yang dijalani Zaynab, kita bisa mengambil langkah-langkah pengobatan dengan bijak. Alias tidak mengikuti plek ketiplek seperti apa yang saya lakukan.

Karena apa? Karena masing-masing individu itu berbeda.πŸ˜‰

Saya ulang-ulang terus soal ini ya, bahwa tiap individu itu berbeda. Resep dokter aja belum tentu cocok, apalagi rekomendasi orang lain. Tapi ya memang harus siap-siap rajin observasi sih sampe nemu yang cocok πŸ™ˆ.

Bayi yang suka bersin bisa jadi indikasi awal bayi sensitif
Bisa juga karena reaksi alergi dari paparan lingkungan

Apa saja treatment eczema Zaynab?
Bagi yang pernah membaca tulisan saya sebelumnya tentang eczema Zaynab, pasti tau donk gimana ketar ketirnya saya menghadapi eczema Zaynab yang tak kunjung membaik. Padahal nasehat dan resep dokter saya jalankan sesuai panduan. Meski sempat krisis kepercayaan terhadap dokter, saya tetap menjalani apa yang disarankan dokter.

Memang setelah peristiwa salah resep, saya jadi termotivasi untuk membaca lebih lanjut tentang eczema. Selain itu, saya juga jadi dipaksa memahami alur cerita meradangnya eczema Zaynab.

Yang membuat saya:

1. Meyakini bahwa tak ada penyakit yang tak ada obatnya, sehingga terus lakukan ikhtiar dan petik pelajaran dari pengalaman orang-orang
2. Selalu observasi lingkungan sehingga ngeh setelah terpapar apa eczema Zaynab kembali meradang
3. Meyakini kandungan ASI itu rasanya percis apa yang kita makan
4. Jadi tau bahwa setelah makan makanan alergen, rasa ASI tidak disenangi Zaynab
5. Kita yang paling tau, dokter hanya menyarankan berdasarkan keilmuannya.
6. Second, third, forth bahkan fifth opinion itu perlu agar tak gegabah memberikan obat

Provokasi makanan buat liat reaksi tubuh Zaynab
Seberapa toleran Zaynab dengan ASI setelah Uminya konsumsi makanan alergen

Saya  berharap semoga teman-teman pembaca yang nyangkut di blog saya ini tidak mengalami kebingungan seperti saya atau bahkan kasus salah resep.

Oke oke ... Berikut treatment nya Zaynab.

Treatment Saat Meradang Akut
Meradang akut versi saya untuk kasus Zaynab:
πŸ‘‰ Kulit merah gelap, mengeluarkan cairan bening, rasa gatal parah.

Treatmentnya yaitu: (aplikasikan berurutan)
1. Antibakteri oles
2. Corticosteroid (hydrocortisone 1%)
3. Ceramide atau pelembab

Treatment Saat Meradang Biasa
Dengan ciriπŸ‘‰ kulit merah terang, tidak mengeluarkan cairan, gatal ringan.

Treatmentnya yaitu: (aplikasikan berurutan)
1. Fluocinolon 0.05 %
2. Ceramide atau pelembab
3. Petrolleum jika kulit masih kering setelah diberi ceramide untuk mengikat kelembaban kulit

Kalo tidur, tangannya diikat untuk mengurangi garukan
Saya masih menghindari pemberian antihistamin

Berteman dengan Eczema
Eczema bukan penyakit berbahaya. Namun jika dibiarkan, bisa membahayakan. Kenapa? Karena bisa memudahkan bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh kita yang bisa menjadi penyebab munculnya penyakit lain.

Meskipun bukan penyakit berbahaya, eczema bisa mengundang kepanikan dan mengganggu psikis. Karena eczema penyakit yang terlihat dan bisa menimbulkan reaksi sosial yang jika kita menolak memiliki penyakit tersebut, hanya akan menambah beban mental kita yang juga bisa berefek pada eczema itu sendiri. Sehingga, berteman dengan eczema merupakan langkah awal dalam mengobati eczema.

Meski belum tiap hari, Alhamdulillah Zaynab makin bisa dibiarin tidur dengan tangan bebas ikatan

Semoga buat teman-teman yang memiliki eczema atau anaknya terkena eczema bisa menemukan treatment yang adem di hati ya.

Kalo keluarga kamu punya riwayat atopik (alergi, asma, dan rhinitis), 50% kemungkinan kamu bakal punya anak atopik juga. Jadi be ready aja. Jinakkan eczema dengan berteman dengannya. Biar ga pake panik kaya saya di awal πŸ™ˆ.

Yang pasti, kemunculan eczema memang tidak bisa dihilangkan 100%. Namun bisa di manage sehingga dia tidak meradang parah.

Kondisi saat ini
Setelah melalui perjalanan yang ga sepanjang Kirana Retno Hening (saya ga mau ya Allah 😭), alhamdulillah meski masih sering meradang. Paling tidak saya bisa melewatinya dengan agak sedikit tenang bertemankan steroid. Tapi, berteman dengan steroid bukan berarti memberikan steroid tanpa panduan ya.

Columbus, 22 Juli 2019

Jalan-jalan ke Dermatologis

Tulisan ini lagi diperbaiki

Maaf atas ketidaknyamanannya ya πŸ™πŸ€—

Alergi dan Eczema

Mohon maaf, tulisan di artikel ini lagi diedit 😁


Kuantitas ASI: Cukupkah ASI ku?

Kamis, 02 Mei 2019
ASI (Air Susu Ibu) tentunya menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan bayi. Kampanye menyusui bayi secara ekslusif pun kerap digalakkan untuk memotivasi para ibu memberikan ASI sebagai makanan pertama bayi. Selain diyakini sebagai makanan terbaik untuk bayi, ASI juga dipandang mudah dan murah dalam hal penyajiannya jika dibandingkan dengan susu formula. Tapi apakah memang demikian?

Source: www.medela.com

Tantangan Meng-ASI-hi
Sebagai makanan yang melekat ditubuh ibu, kuantitas ASI tentunya sangat bergantung pada pola hidup sang ibu. Mulai dari pola tidur, pola makan dan juga manajemen waktu ibu. Dan setiap ibu tentunya memiliki tantangan masing-masing dalam usaha pemenuhan gizi bayi melalui ASI ekslusif (ASIX) di 6 bulan pertamanya ini.

Bagi saya pribadi, perjalanan memberikan ASIX untuk anak-anak-anak selalu berliku alias penuh drama. Saat ASIX si kembar, tantangan yang saya hadapi yaitu seputar hubungan pernikahan jarak jauh (LDM), drama menyusui tandem dan drama minimnya support keluarga baik secara psikis maupun fisik. Alhasil si kembar Zaid dan Ziad tidak memperoleh ASIX di 6 bulan pertama mereka.

Perjalanan ASIX Zaynab pun tak semulus yang diharapkan. Meskipun hanya satu bayi, ASIX Zaynab terancam gagal. Bukan karena LDR, tandem ataupun tak ada support. Melainkan karena faktor hidup dirantau yang menuntut saya harus mampu mengelola waktu agar memiliki gizi dan istirahat cukup. Jujur, saya agak pesimis.

Berdamai Dengan Idealisme
Melirik pada pengalaman terdahulu saat meng-ASI-hi si kembar, kondisi di perantauan tanpa bantuan siapapun (hanya saya, suami dan si kembar) membuat saya tidak begitu ngoyo untuk sukses ASIX Zaynab. Terlebih setelah Zaynab lahir tak semulus yang saya harapkan membuat saya lebih memilih berdamai dengan kondisi ideal yang diinginkan. Bukan tidak mau mengusahakan, hanya tidak terlalu ngoyo seperti jaman si kembar biar tidak stres juga. Begitu pikir saya.

Baca juga: Zaynab's Birth Story


Tapi tak disangka, apa yang tak terlalu diharapkan justru terwujud. Zaynab ternyata tidak mau minum susu formula. 11 hari di NICU tabungan ASI saya ternyata berlebih. Artinya, selama di NICU Zaynab 100% ASI. Meskipun demikian, saya masih tetap tidak mau ngoyo Zaynab harus ASIX. Kenapa? Karena saya tau diri kondisi tubuh yang kurang istirahat tentunya berpengaruh pada produksi ASI.

Sehingga, saya memutuskan untuk memberi susu formula kepada Zaynab ketika saya merasa produksi ASI menurun. Terlebih sepulang Zaynab dari NICU, saya tidak bisa pumping terjadwal lagi karena sang bayi sudah disisi. Artinya 24 jam akan saya lalui untuk menjaga dan merawat Zaynab plus menjalankan peran lain bagi si kembar dan suami. Tau sendiri kan gimana habits nya bayi baru lahir??? Dipadukan dengan urusan domestik rumah tangga di negara orang yang apa-apa semuanya sendiri.

Tapi apa yang terjadi? Zaynab menolak mentah-mentah susu formula yang dibekali pihak rumah sakit sepulang dari NICU. Tak hanya sekali dua kali saya suguhkan Zaynab susu formula. Bahkan saya membeli dot baru (sebelumnya saya pakai dot dari rumah sakit) berharap Zaynab mau mengisap susu formula dari dot baru tersebut.

Asumsi pun muncul. Oh mungkin Zaynab menolak susu formula, bukan dotnya. Akhirnya saya pun pumping lagi alakadarnya untuk melihat apakah Zaynab mau bottlefeeding. Hasilnya? Nihil. Zaynab ternyata tidak hanya menolak susu formula tetapi juga menolak dot.

Harusnya ini menjadi berita bahagia buat saya karena Zaynab cerdas memilih hanya direct breastfeeding. Artinya saya bisa terbebas dari resiko bingung puting dan gagal ASIX. Tapi untuk kondisi saat ini, pilihan Zaynab itu adalah ujian tersendiri buat saya.

6 Bulan Yang Menantang
Menyadari Zaynab memilih dengan sangat cerdas jenis makanan dan cara penyajiannya, membuat saya harus sadar gizi dan istirahat. Akhirnya, saya pun mulai membekali diri dengan makanan-makanan yang bisa menambah kuantitas ASI. Dan tentunya makanan-makanan tersebut adalah makanan yang saya suka dan membuat saya bahagia ketika memakannya.

Tak dinyana, memasuki usia 4 bulan Zaynab terkena eczema. Gejalanya sudah muncul sejak Zaynab usia 2 bulan. Saat itu saya langsung menghindari makanan-makanan pemicu alergi (alergen). Awalnya saya hanya menghindari seafood karena beranggapan Zaynab sensitif seafood faktor genetis dari saya karena saya alergi seafood juga. Namun ternyata, tak hanya seafood, Zaynab juga intoleran terhadap produk-produk turunan susu.

Jadilah usia 2 menjelang 3 bulan, saya menghindari makanan-makanan alergen tersebut yang notabene saya suka semua. Mulai dari ikan-ikanan, udang, susu, keju, coklat, kacang-kacangan, dan roti-rotian. Alhasil, pilihan makanan untuk milk booster saya berkurang donk kaaaaan.

Saya pun mengalihkan diri dengan pola makan sehat. Buah-buahan dan sayuran hijau. Dan memang cukup membantu menambah produksi ASI. Namun sayang, buah dan sayuran merupakan makanan tak tahan lama. Artinya, per 3 atau 4 hari sekali saya harus memperbarui bahan makanan tersebut.

Disinilah tantangannya. Butuh waktu khusus bagi suami saya untuk bisa menemani belanja kebutuhan tersebut (saya sangat menyesal tidak mengasah kemahiran mengendarai mobil saya). Dalam menunggu waktu senggangnya suami, bahan makanan tersebut terlanjut kosong. Dan saya hanya bergantung pada karbo dan protein saja. Sehingga di waktu-waktu inilah saya merasa produksi ASI seperti kejar tayang. Mau makan dan minum sebanyak apapun, saya tidak merasakan ASI yang berlimpah.

Itulah tantangan 6 bulan pertama yang saya rasakan.

Baca juga: Eczema Pada Bayi Usia 2-6 Bulan


ASI Berlimpah vs ASI Secukupnya
Melewati berbagai macan uji coba pola makan dan pola tidur, saya sedikit banyaknya belajar perihal ASI di tubuh saya sendiri. Kapan dia berproduksi dan kapan dia benar-benar kosong.

Awalnya saya berfikir payudara (PD) tidak tender (keras) artinya ASI sudah habis. Dan baru akan produksi setelah sudah habis. Sehingga ketika hendak menyusui Zaynab, saya kerap tidak percaya diri karena payudara saya sangat jarang terasa tender.

Namun Zaynab yang hanya ingin direct breasfeeding seolah memaksa saya untuk tetap menyodorkan PD tak peduli tender ataupun tidak. Dari berkali-kali pengamatan, akhirnya saya mulai bisa meyakini bahwa ASI ditubuh saya akan berproduksi ketika Zaynab mulai menghisap. Saat itu juga ada sensasi ngilu seperti air mengalir di PD yang saya rasakan saat Zaynab mulai menghisap PD.

Bagi saya hal ini merupakan pengalaman baru yang mematahkan mindset bahwa PD lunak artinya ASI habis. Selama bayi masih mau menghisap, artinya tubuh akan selalu mengirimkan sinyal ke otak untuk menginstruksikan ASI diproduksi oleh kelenjar ASI. Maka bisa dikatakan tidak ada istilahnya ASI habis selama kita masih makan dan minum dan anak mau menghisap.

Dari pengalaman inilah, saya bandingkan dengan pengalaman ibu-ibu lain yang menyusui juga, saya menyimpulkan ada tipe ASI berlimpah, ada yang tipe ASI cukup. Faktor yang mempengaruhi berlimpah atau tidaknya ASI tersebut juga beraneka ragam. Yang pasti, jangan langsung berkesimpulan PD tidak ada ASI hanya karena PD kita lunak, atau ketika dipencet tidak mengeluarkan ASI. Tetaplah percaya diri dan yakin bahwa ASI akan selalu diproduksi ketika ada permintaan, apakah lewat hisapan anak atau lewat pumping.

The Power of Pumping
Saya menyadari, tipe ASI cukup alias tidak berlimpah seperti saya sebenarnya cukup beresiko tekor ASI. Kenapa? Karena ada kalanya bayi tidak sabar menunggu aliran ASI naik dan deras yang menyebabkan bayi tantrum duluan sebelum ASI diproduksi. Disinilah letak pentingnya pumping.

Tadinya saya berharap bisa pumping terjadwal lagi terutama di malam hari. Namun kondisinya tidak semudah yang saya bayangkan. Pumping malah menambah beban kerja saya, mulai dari preparasi alat pumping, pumpingnya sendiri dan terakhir pembersihan alat pumpingnya. Sedangkan saya tidak bisa pumping saat Zaynab menyusu. Sehingga pumping bukanlah pilihan tepat untuk kondisi saya daat ini dalam meningkatkan kuantitas ASI. Karena yang terjadi ASI tetap saja pas-pasan dan hasil pumping pun tidak diminum oleh Zaynab meski menggunakan cupfeeder sekalipun.

Namun, saya sangat sepakat andaikan kondisi memungkinkan, saya ingin kembali memiliki pumping terjadwal agar produksi ASI saya tak lagi secukupnya melainkan berlimpah. Sehingga tidak perlu ada drama tangisan saat harus menunggu aliran ASI naik dan keluar dari PD.

GERD Mempengaruhi Produksi ASI
Memasuki usia 3 bulan, bayi mulai meningkat kemampuan hisapnya. Sehingga yang tadinya butuh 30-60 menit untuk menyusu bisa terpenuhi dalam 5-15 menit saja. Namun tidak semua bayi menyusu hingga mereka benar-benar kenyang. Ada tipe bayi yang menyusu dengan pola menyicil seperti halnya Zaynab.

Zaynab, memiliki asam lambung yang cukup tinggi. Sehingga di bulan pertama kelahirannya, Zaynab mengalami GERD. Yaitu gumoh yang berlebih bahkan lebih terlihat seperti muntah namun bukan muntah.

Baca juga: Aspirasi Mekonium


Kondisi inilah yang melatarbelakangi Zaynab hanya bisa menyusu sedikit demi sedikit dan harus berjeda. Dan pola ini sedikit banyaknya menyumbang drama naik turunnya produksi ASI saya. Kenapa? Karena ASI tidak pernah benar-benar dalam kondisi kosong. Sehingga produksi ASI selanjutnya tentunya sejumlah yang keluar tadi. Sedangkan tak lama berselang Zaynab sudah haus lagi. Makanya, PD saya tidak pernah tender karena ASI tidak pernah benar-benar kosong.

Hal ini pula yang melatarbelakangi saya memberikan dot untuk Zaynab agar saya bisa beraktivitas lain dan Zaynab bisa bottlefeeding dibantu si kembar atau abinya. Dan saya bisa melakukan pumping agar produksi ASI kembali normal. Namun harapan hanya tinggal harapan. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengikuti ritme Zaynab.

Alhamdulillahnya, memasuki usia 5 bulan GERD Zaynab mereda meski masih muncul sesekali. Dan tentunya pola menyusu Zaynab pun berubah lebih baik dan sekarang Zaynab mampu menyusu hingga sangat kenyang.

Perjalanan Belum Berakhir
Hakikatnya, kemudahan dan terjangkaunya 'harga' ASI sebanding dengan kesungguhan dan ketulusan seorang ibu dalam mengusahakannya. Bagaimana optimis disetiap tantangannya. Tidak mudah memang dan penuh liku. Apapun hasil akhirnya, ekslusif ataupun tidak. Dibantu formula atau pun tidak, tentu tak mengurangi rasa sayang dan cinta kasih kita.

6 bulan pertama bagi saya dan Zaynab. Alhamdulillah akhirnya terlewati sudah. 28 April kemaren Zaynab genap 6 bulan. Tak disangka Zaynab ASIX tanpa bantuan formula tentu semua kuasa dan takdir dari Allah ta'ala. Kita manusisa hanya berusaha. Allah jua yang menentukannya.

Tentunya perjalanan ini belum berakhir. Masih ada 18 bulan ke depan perjalanan meng-ASI-hi ini akan terjadi. Semoga happy ending ya Zaynab. Aamiin ya Allah ...

Columbus, 1 Mei 2019

Eczema Pada Bayi 2-6 Bulan

Sabtu, 20 April 2019
Gayung pun bersambut. Itulah yang saya rasakan. Allah izinkan saya menenangkan hati lewat cara yang tak bisa saya gambarkan dengan kata-kata.

Sebelum Eczema Menyerang
Pelipis Zaynab sudah berair tapi tidak menggagu aktivitasnya

Eczema Zaynab, Ujian Saya
Beberapa hari terakhir, saya memang kehilangan ketenangan jiwa dalam menghadapi eczema Zaynab. Hampir setiap hari saya menangis yang sedikit banyak berefek pada produksi ASI. Tentunya saya tidak mau kondisi ini terus menerus berlarut.

Zaynab terindikasi eczema di usia 2 bulan. Namun baru memperoleh diagnosa dokter di usia 4 bulan. Dari usia 4 bulan hingga sekarang 16 hari menjelang usia 6 bulan (tulisan ini masuk draft tanggal 12 April 2019), sepuluh hari terakhir adalah hari-hari yang cukup berat untuk saya karena Eczema Zaynab semakin parah.

Awal Mula curiga Eczema
Tapi belum terdiagnosa

Kita pasti akan memperoleh ujian hidup dari Allah. Dan hal utama yang selalu saya damba ketika memperoleh ujian adalah Allah karuniakan saya ketenangan jiwa dalam menghadapinya. Termasuk ketenangan jiwa yang tak perlu merasa permasalahan saya lebih berat dari permasalahan orang lain. Alias saya bisa selow dan let it flow ...

Membuka Mata, Temukan Inspirasi
Perlahan tapi pasti. Allah menggiring saya dalam pikiran melalui penglihatan saya akan sebuah kesyukuran dan keikhlasan dalam menjalani hidup melalui orang-orang disekitar saya. Dan bagi saya, tidak mudah memperoleh inspirasi dari sekitar mengingat saya agak sedikit sulit menerima masukan atau sejenisnya ketika menghadapi masalah.

Belajar dari pengalaman hamil lalu, ketika saya merasa putus asa dalam menjalani kehamilan saya yang cukup berat, Allah tunjukkan secara langsung beberapa orang teman yang diuji sulit memperoleh keturunan. Ya! Di waktu yang berdekatan dengan dirawatnya saya di rumah sakit, 4 orang teman saya mengalami keguguran. Saat itu rasanya saya dipenuhi rasa berdosa dan kebodohan yang teramat sangat karena sempat berfikir yang macam-macam akan kehamilan saya.

Tidak mau menjadi orang bodoh lagi, untuk ujian eczema nya Zaynab ini, saya berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuka mata terus menerus agar bisa memetik hikmah dari orang-orang sekitar saya. Mereka adalah inspirasi saya. Semoga Allah mengirimkan kemudahan bagi mereka atas setiap masalah yang mereka hadapi. Aamiin.

Sebelum insiden berdarah
Pelipis mulai merah karena mulai digesek dan digaruk

You Never Walk Alone!
Alhamdulillah, saya bukanlah satu-satunya orang yang tengah berjuang menjalankan ujian hidup. Setiap manusia pasti memiliki ujian sendiri-sendiri. Dan Allah perlihatkan satu persatu orang-orang yang dengan tegarnya menjalani ujian hidup yang menurut saya jauh lebih berat dari apa yang saya alami saat ini.

Diantara mereka, ada yang sedang bersabar menanti perkembangan pencernaan anaknya, berjuang merawat batitanya yang eczema di saat sedang hamil tua, dan ada yang terkaget mendapati anaknya terkena impetigo. Melihat bagaimana mereka mengelola emosi dalam menghadapi permasalahan ini membuat saya tersentak untuk tidak berputus asa atas rahmat Allah ta'ala.

Meskipun berat dan sudah saya coba terus menerus mengingat esensi dari sebuah ujian adalah keikhlasan dan kesabaran. Namun tetap pada prakteknya sungguh sangatlah berat. Yang awalnya saya optimis bisa berlapang dada dan tegar menjalani kehidupan ke depan setelah mengetahui Zaynab terkena eczema, baru 1 bulan berjalan saya berasa ambruk. Astaghfirullah.

Naik turunnya rasa optimis ini memang manusiawi. Hanya saja saya khawatir, sikap yang saya ciptakan dalam menghadapi masalah ini menggiring saya jadi pribadi yang menolak informasi, nasehat ataupun interogasi dan intervensi. Kenapa bisa begitu? Karena saya sepertinya masih berjuang untuk bisa menerima kondisi yang sedang saya hadapi sekarang. Alias belum 'acceptance'.

Pasca insiden berdarah
Kondisi masih ramah mata seolah tidak kena eczema
Perhatikan tangan Zaynab. Itu eczema

Saya pun mencoba melihat kembali pengalaman pribadi saya menjalani amanah bersama anak-anak yang speech delay. Saya yang saat itu lebih sering berputus asanya ketimbang optimisnya tidak ingin masuk ke dalam situasi serupa untuk saat ini. Saya sangat menginginkan diri ini memiliki sikap optimistik dalam menjalankan amanah baru ini. Karena berputus asa dari rahmat Allah tentulah tidak baik. Dan saya masih terus belajar.

Agar tidak berlarut dalam masalah dan merutuki kegelapan, saya pun memberanikan diri untuk berbagi secuil tentang eczema dari sudut pandang saya. Entahlah akan bermanfaat entahlah tidak. Saya niatkan tulisan ini untuk menghibur para orang tua lain yang barangkali sedang berjuang merawat bayi eczema.

Fakta-fakta Eczema Pada Bayi
Ketika eczema menimpa orang dewasa, kesadaran untuk menggaruk dan konsekuensi setelahnya tentu sudah ada. Berbeda dengan bayi, yang belum mengerti apa-apa melainkan hanya menggaruk dan menggaruk.

Saat tummy time masih bertahan tanpa menggaruk

Uniknya, eczema menstimulus kemampuan menggaruk Zaynab lebih cepat dari bayi-bayi yang lain πŸ˜…. Usia 2 bulan Zaynab sudah bisa menggaruk dengan nikmat dan khusyu. Sehingga, sejak hasil garukannya memperparah kondisi kulitnya, pembendongan terhadap Zaynab lebih digiatkan.

Fakta lainnya eczema pada bayi yaitu, terbatasinya kebebasan eksplorasi bayi terhadap sekitar. Kenapa? Karena distraksi rasa gatal yang disebabkan oleh eczema. Dan salah satu cara yang bisa kita lakukan agar anak tetap bisa eksplor untuk melancarkan stimulusnya, dengan mengikuti ritme tubuh dan ketertarikan yang anak tunjuki. Untuk Zaynab, sejak usia 4 bulan dia sudah sangat senang eksplor dengan di tatah πŸ˜…. Ga usah ngomong tahap perkembangan ya ... pliiiis!

Fakta dibalik pemotretan Zaynab
Ruk garuuuuuk

Nah, karena hal ini lah akhirnya ibu dengan anak eczema harus sangat sadar diri bahwa dirinya kekurangan waktu untuk melakukan aktivitas rumah tangga lainnya. So, jangan tanyakan kapan me time ya πŸ˜†πŸ˜…. Jawabannya, nyaris ga ada. Jadi ya harus legowo dan lapang dada meskipun tentunya itu sulit πŸ˜₯.

Penyebab Eczema
Berdasarkan penjelasan dokter yang menangani Zaynab, eczema hingga saat ini belum diketahui apa penyebabnya. Tapi eczema muncul karena faktor alergi yang dimiliki oleh seseorang. Dan hal ini berdampak pada pengobatan untuk penderita eczema ini. Sehingga seringnya obat penderita satu dengan yang lainnya bisa jadi berbeda.

Berdasarkan info lain yang bertebaran di rumah nya Om Google, eczema disebabkan oleh faktor alergi. Namun karena alergi itu sendiri tidak diketahui penyebabnya apa, maka eczema pun tidak diketahui apa penyebab pastinya. Dokter hanya menyampaikan bahwa eczema adalah faktor lucky atau unlucky nya kita πŸ™„. Oke baiklah πŸ˜…πŸ˜‚ Zaynab lagi kurang beruntung nih 😁

Ciri-ciri Eczema Muncul
Untuk kasus Zaynab, sensitifitas kulit Zaynab sudah terlihat pasca Zaynab keluar dari NICU. Terutama setelah rambutnya dicukur. Kulit Zaynab langsung berubah berkerak terutama bagian kepala dan pelipis dekat telinga. Khusus pelipis juga disertai cairan bening yang terkadang mengering terkadang basah.

Setelah kami konfirmasi, dokter menyatakan bahwa hal di atas bukanlah gejala dari eczema. Namun dengan gejala di atas, eczema yang memang sudah ada di tubuh Zaynab ke trigger. Dan kondisi diperparah setelah Zaynab mulai bisa menggaruk.

Penanganan Yang Dilakukan
Saya berfikir permasalahan kulit Zaynab tadinya hanyalah permasalahan kulit bayi yang biasa terjadi. Sehingga saya hanya mengoles-oles mineral oil (baby oil) setiap kali Zaynab beres mandi. Hal ini saya lakukan sudah atas saran dokter saat appointment 1 bulan. Appointment 2 bulan, kulit kepala Zaynab terlihat perubahan. Tapi tidak untuk wajah sehingga Zaynab dianjurkan petrolleum jelly untuk wajah dan badannya. Selain itu, dokter memberikan resep moisturiser cream tambahan.

Menjelang usia 3 bulan, wajah Zaynab jadi sering memerah terutama setelah terpapar udara luar yang memang sedang dingin. Saya sudah curiga kalau Zaynab alergi dingin seperti saya. Sempat terlintas eczema tapi saya coba tepis dan saya pun sebenarnya tidak terlalu paham apa itu eczema. Saya berfikir wajah Zaynab hanya akan memerah seperti halnya reaksi kulit saya terhadap udara dingin.

Masih ramah dilihat ya fotonya

Jadwal appointment selanjutnya masih 1 bulan lagi, yaitu appointment 4 bulan. Sehingga saya menyabar-nyabarkan diri untuk menindaklanjuti kondisi kulit wajah Zaynab ini. Tapi qadarullah, 1 minggu menjelang appointment, wrap Zaynab berhasil dia lepas saat saya sedang tertidur pulas. Dan saat saya bangun, setengah wajah Zaynab sudah dipenuhi darah 😭.

Kondisi inilah awal mula memburuknya eczema Zaynab. Kondisi saat itu tidak memungkinkan saya membawa Zaynab walk in appointment. Sehingga sekitar kurang dari 1 minggu kulit Zaynab hanya saya treatment biasa. Sempat berfikir mau kasih Betadine sebagai antiseptik tapi saya khawatir. Jadilah hanya di kompres dan memastikan tangan Zaynab tidak menggaruk lagi.

Zoom out 1
(Bagian ini sekarang melebar 😒)

Akhirnya, saat appointment 4 bulan, dokter bilang memang benar Zaynab terkena eczema dan kulitnya sudah infeksi. Jangan tanya gimana perasaan saya. Rasanya udah kebal ngadepin kaya ginian sepanjang hamil, lahiran hingga sekarang ngerawat Zaynab lucu ini 😘😘😘. Cuma bisa bilang la hawla walakuwwata illabillah ..

Jadilah Zaynab diresepkan hal berikut ini:
1. Antibiotik oles 1%
2. Antibiotik minum untuk 10 hari
3. Cerave sebagai moisturiser creamnya

Zoom out 2
Bagian ini warnanya selalu merah pekat
(2 aja zoom out nya ... ga tega saya 😭)

Lalu ...
Seharusnya, Zaynab diminta kembali ke dokter minggu depannya. Tapi karena Abinya sedang ke Indonesia dan ZaZi sekolah, jadilah baru 2 minggu setelahnya kita kembali untuk pantau eczema Zaynab.

Di appointment ini, Zaynab diberi treatment baru lagi.

1. Antibiotik oles 1%
2. Hydrocortisone max strength 1% untuk pemakaian 5 hari.

Alhamdulillah di hari ke 5 kondisinya membaik. Tidak merah lagi. Tapi dihari ke 6 kembali berair dan hari ke 7 kegaruk dan kembali memerah, merah dan merah.

Tampak depan
Gabungkan 2 gambar sebelum ini
Itulah penampakan Zaynab sejak 10 hari terakhir

Akhirnya saya buat appointment lagi dan dapet tanggal 12 April. FYI, setiap kali appointment, dokternya selalu berbeda. Entah mereja baca entah tidak riwayat pasien. Saya berhusnudzon saja. Dan di appointment yang ini, Zaynab diberi resep baru lagi.

1. Antibiotik oles 2% (sebelumnya 1%)
2. Antifungus 1%
3. Steroid oil yang hingga tulisan ini dibuat, obat ini belum di approve pihak asuransi.

Sehingga, dari tanggal 12 April lalu, hingga hari ini 19 April (seminggu), Zaynab masih menjalankan treatment yang belumlah ideal.

Kondisi Saat Ini
9 hari menjelang Zaynab berusia 6 bulan. Kondisi eczema belum membaik malah semakin melebar. Ketika menuliskan ini sesak didada masih sangat terasa. Tapi saya harus mampu mendokumentasikan perjalanan eczema Zaynab ini agar saya tidak lupa treatment apa saja yang sudah ditempuh. Dan tentunya saya berharap Zaynab segera menemukan penanganan dan pengobatan yang cocok.

Tangan diikat
Pelipis merah berair

Ingin mengeksekusi pengobatan ala Dr. Aron yang dituliskan reviewnya oleh teman saya. Tapi kondisi saat ini belum memungkinkan menempuh ikhtiar tersebut karena alasan yang tidak bisa saya sebutkan disini.

Cara membahagiakan diri

Curhat boleh ya ...
Dengan kondisi tangan yang sering diikat atau di wrap, kesempatan Zaynab untuk tengkurap menjadi sangat sedikit. Dan juga, saat Zaynab sedang asik bermain, tiba-tiba rasa gatal mengganggu dan mengalihkan semuanya.

Jujur, kondisi tersebut membuat iba rasanya hati ini. Tapi beginilah amanah yang saat ini Allah ta'ala percayakan kepada keluarga kami.

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon ketulusan dan keridhoan teman-teman untuk mendoakan kesembuhan Zaynab. Semoga Allah segera angkat rasa gatalnya. Pulihkan kondisi kulitnya. Sungguh, rindu rasanya menciumi wajah Zaynab tanpa takut menyakiti dia.

Saya tau, cobaan ini mungkin belumlah seberapa dan tak patut dicurhati apalagi dikeluhkan. Doakan saya kuat dan ikhlas menjalani semua ini seperti halnya orang-orang terdahulu yang ikhlas dan tetap bersyukur atas rahmat Allah ta'ala.

Columbus, 19 April 2019

NB:
Sejak keluar usia 2 minggu hingga 2 bulan, Zaynab wajahnya memang sudah memerah dan berair tapi mereda sendiri. Menjelang 3 bulan bagian pelipis yang berair mulai memerah.

Sebelum tragedi berdarah, Zaynab rutin saya pakaikan minyak kelapa di kepala dan wajah yang memerah. Kulit yang kering saya balur cream pelembab khusus. Wajah yang berair saya oles cream dari dokter. Saya tidak terlalu memperhatikan apa saja yang saya gunakan. Mungkin disitulah letak kesalahan saya.

23 Februari 2019 tragedi berdarah
5 Maret appointment 4 bulan Zaynab plus konsul kondisi kulit
21 Maret cek eczema Zaynab
12 April cek eczema juga
25 April saya akhirnya bikin appointment lagi karena kondisi makin tak terarah. Sedangkan obat belum juga di acc insurance hingga saat ini

Semoga perjalanan ini segera menemu titik terangnya. Aamiin ...


3 Alasan Ibu Si Kembar Boleh Marah

Selasa, 02 April 2019
Siapa yang ga pernah marah? Tampaknya semua manusia pernah marah ya. Bahkan anak kecilpun bisa marah dengan cara mereka sendiri. Ada yang marah dengan menangis, marah karena ga dikasih benda kesayangannya misalnya. Ada juga yang marah dengan ngambek karena ga jadi di bawa ke taman bermain favoritnya. Hihihi, macem-macem deh kalo anak kecil. Nah, gimana nih marahnya kita orang dewasa?


Marah sebagai reaksi alami dari dalam tubuh manusia atas sesuatu yang membuat hati gelisah dan bergemuruh memang merupakan suatu hal (emosi) yang biasa. Namanya juga reaksi alami, jadi ya wajar kan ada karena udah bawaan manusia alias sunatullahnya kalo manusia itu punya rasa marah.

Menurut orang-orang di dunia psikologi, marah itu  
"reaksi emosional akut yang ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang, semisal ancaman, agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan, atau frustrasi, dan dicirikan oleh reaksi kuat pada sistem syaraf otonomik, khususnya oleh reaksi darurat pada bagian simpatetik; dan secara implisit disebabkan oleh reaksi serangan lahiriah, baik yang bersifat somatis atau jasmaniah maupun yang verbal atau lisan". (Sumber disini). 

Ngerti ga? Ga! Hahahaha. Saya juga πŸ˜†. Gegara ngeliat banyak istilah. 

Tapi ya intinya marah itu ada rangsangan sebelum akhirnya ada serangan hihihihi. Rangsangannya bisa berupa ancaman, pengekangan diri, serangan lisan, kecewa, frustrasi. Sedangkan serangannya bisa berupa serangan lahiriah seperti memukul ataupun secara verbal lewat ucapan. Kebayang kan ya. Ya harus. Lha wong pada pernah marah semua wkwkwkwkwk ✌πŸ˜†

Marah dalam konteks hubungan antara orang tua dan anak, tampaknya seperti sebuah lingkaran setan. Jika si A dibesarkan oleh orang tua yang pemarah, maka 90% si A akan tumbuh menjadi anak yang pemarah juga. Seperti yang dilansir media Republika tentang pewarisan sifat marah dari orang tua ke anak berdasarkan riset terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Development and Psychopathology, di Amerika Serikat. 

Jadi seperti ada mata rantai yang siap menurunkan marah sebagai sebuah tabiat, kebiasaan atau bahkan tradisi. Maka tak heran kalo banyak yang bilang marah itu genetis. 


Hmmm ... berdasarkan hasil riset di atas, marah genetis namun faktor lingkungan jauh memiliki andil lebih besar ketimbang faktor genetis itu sendiri. Tak peduli orang tua yang membesarkannya adalah orang tua kandung atau tidak, sifat pemarah akan bisa diturunkan.


Berhubung saya bukan pakarnya, tak usahlah kita terlalu membahas secara teoritis apakah marah itu genetis atau tidak. Sini sini sini ... Kita bahas saja apa yang kita rasakan (kita? Gue aja kali ... :P)

Polemik buat saya memang tentang marah ini. Nyaris sepanjang tahun 2014 hingga 2016 saya habiskan waktu untuk menggali apa penyebab saya marah. Memang 2 tahun bukanlah waktu yang spektakuler lamanya. Namun akan jadi spektakuler jika dalam 5 tahun masa keemasan anak-anak, hampir 50% nya saya 'nodai' dengan ma ma ma rah marah ... kata trio kwek kwek ... :'( hiks. 

Genetis? Bisa jadi. Karena memang saya memiliki Ayah yang tempramen dalam mendidik anak-anaknya. Ayah saya menurun dari siapa? Konon kata Papa, Kakek saya juga pemarah sehingga gelar beliau pun Dt. Rajo Marah (dan sampe sekarang saya ga tau ini bener apa ga #lol). Jadi?

Hubungan sebab akibat sepertinya menjadi hubungan yang pasti - saling mengaitkan kehidupan manusia. Misal, sebab Allah ciptakan manusia makanya ada kehidupan. Eh terlalu luas ya. Hmmm ... jika dikaitkan dengan hubungan orang tua dan anak seperti ini misalnya, sebab anak rebutan mainan makanya orang tua marah. Artinya yang menjadi penyebab adalah anak, yaitu anak rebutan mainan. Sehingga solusi yang harus kita temukan adalah bagaimana caranya agar anak tidak rebutan mainan?

Mem-break down faktor-faktor penyebab marah ini memang tidak segampang rumus KPK dan PBB di mata pelajaran matematika SD. Perlu tambahan ilmu donk di dalamnya sejenis ilmu psikologi anak. Hahahaha ... yang pada akhirnya memang mengantarkan kita pada rangkaian pembelajaran tiada henti. 

Yup!!! Menjadi orang tua artinya menjadi pembelajar sejati. Pembelajar seumur hidup, tiada henti! Biar kata kita kuliah S3 dibidang komunikasi, atau bidang pertanian, kenegaraan atau bidang lain diluar bidang anak-anak, tetap saja, ketika menjadi orang tua, ilmu wajib yang harus kita gali adalah ilmu terkait pengasuhan atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah Parenting. 


Berdasarkan pengalaman saya yang tentunya masih cetek ini, saya akhirnya memetik pelajaran dari perjalanan marah memarahi anak ini pada sebuah  kesimpulan bahwa saya merupakan ibu dan orang tua yang 'menghalalkan' memarahi anak. Marah yang seperti apa? Marah yang beralasan tapi bukan alasan  yang dibuat-buat.

🌷Marah saat anak tidak berhenti berantem

Banyak sekali faktor penyebab marahnya orang tua. Ditambah faktor internal semakin menjadi-jadilah pembenaran terhadap marah yang sudah mulai bergumul di dada. Dan saya termasuk orang tua yang disinilah tantangannya, untuk bisa memilah dimana marahnya kita kepada anak sebagai usaha meluruskan kesalahan, bukan sebagai pelampiasan kekesalan. Jadi alamiahnya, orang tua yang sedang banyak pikiran banyak masalah pasti akan mudah terpancing emosi. 

Alih-alih memikirkan step by step meredam emosi saat anak mulai bertingkah, yang ada kepala semakin terasa panas. Apalagi seperti saya yang harus menghadapi anak kembar #curhat πŸ˜†. Jadi hal yang paling saya ingat kalo sudah dalam kondisi darurat seperti ini adalah, fokus pada kesalahan anak. Bukan pada kepelikan situasi kondisi. Sekali, dua kali dan tiga kali diberitahu mereka masih belum paham, saya mulai tenangkan diri dengan kalimat penutup "Solve your problem guys!"

🌷Marah saat anak melanggar kesepakatan yang dibuat

Sebagai orang tua yang sangat lemah dalam kontrol marah, saya memang membuat kesepakatan dengan anak-anak tentang apa saja yang membolehkan saya marah. Seperti contoh kasus di atas. Saya boleh marah jika mereka berantem sudah keterlaluan dan tidak mengindahkan perkataan saya sebelum pada akhirnya  saya marah. 

Kesepakatan 'kapan boleh marah' ini juga  saya berlakukan untuk mereka kepada saya dan suami. Seperti mereka boleh marah jika saya atau suami becanda keterlaluan sedangkan mereka sebelumnya sudah bilang ga mau becanda. 

Jadi marah disini lebih mengarah pada ketegasan sikap bahwa kita benar-benar serius ditengah becanda yang kadang kita suka berlebihan. Maklum, kami sekeluarga doyan becanda dan doyan iseng. Dan kami juga suka bete sendiri kalo becanda dan iseng keterlaluan apalagi jika terjadi di momen yang kurang tepat.

🌷 Marah saat anak melanggar batas-batas permainan fisik

Namanya anak laki-laki, aktivitas fisik sudah bagian dari diri mereka. Sehingga seringkali mereka bermain dan becanda terlewat batas dan secara tidak sengaja kehilangan kontrol kekuatan fisik. Seperti tidak sengaja menendang, memukul, atau mencolok.

Dalam hal ini saya berhak marah sebagai efek jera atas aktivitas fisik (becanda) berlebihan yang mereka lakukan. Dalam hal ini saya mencoba memberikan mereka pemahaman atas sebab akibat dari apa yang mereka lakukan dan apa akibatnya. Maklum, anak kembar ini belum percaya kalo belum mengalami sendiri. Meski udah dibilangin "hati-hati mainnya ga ketendang perut, kepala dan pantat ya". Mereka jawab iya kompak dan tak berapa lama ada yang nangis πŸ˜….

Baca Juga: Ruangan untuk Marah

Dari tiga hal di atas terlihat jelas ya kalau perkembangan ZaZi saat ini memang musingin ala anak TK. Anak TK laki-laki yang terlalu kecil untuk bisa memahami utuh apa yang kita sampaikan, nasehatkan dan maksudkan. Tapi juga terlalu besar untuk dibiarkan dan dimaklumkan.

Saya tidak menafikkan bahwa menjadi orang tua sangat kecil kemungkinannya kita terhindar dari sifat pemarah ini. Yang bisa kita lakukan adalah, meramu sedemikian rupa apa saja yang menjadi tabiat kita sekeluarga terkait sifat marah ini.

Nah, berdasarkan tabiat keluarga saya yang memang 'khas' marah ngomel-ngomel, saya meramu agar marah tak menjadi penyesalan dan anak paham kenapa kita marah.

🌸Berani jujur
Sampaikan sejujurnya jika kita keceplosan marah pada anak padahal bukan mereka penyebab marahnya kita.
🌸Bercerita
Ceritakan kepada anak proses terjadinya marah pada diri kita. Apakah karena rumah berantakan atau karena Abi kurabg perhatin πŸ˜†✌.
🌸Diskusikan
Carilah cara terbaik sehingga marah menjadi problem bersama yang harus diselesaikan secara bergotong royong.
🌸Berlapang dada
Terima dengan lapang dada jika salah seorang dari anggota keluarga mengingatkan kita untuk tidak perlu marah untuk hal tertentu.
🌸Berangkulan
Berpelukan dan berangkulan menjadi ramuan penetralisir suasana yang kadung mencekam karena kemarahan yang membara.
🌸Istighfar
Cara terbaru yang sangat mudah diterima Zaid dan Ziad karena mereka sedang on fire tauhidnya. Masha Allah Tabarakallah

Dengan 6 hal di atas akhirnya saya, Zaid dan Ziad sebagai korban penularan genetis marah di keluarga ini, terus menerus saling mengingatkan akan kesungguhan kami untuk mengontrol diri agar tidak marah yang berlebihan apalagi hingga bermain fisik. Sehingga, kalaupun salah satu diantara kami kehilangan kontrol diri, maka 6 ramuan di atas harus segera diminumkan agar emosinya terselesaikan.

Begitulah sedikit cuap-cuap pengalaman soal marah. Saya berharap kami sekeluarga bisa bertumbuh dalam suasana aman damai sentosa tanpa marah πŸ˜†πŸ˜.

Columbus, 1 April 2019

Romantisme Menulis

Senin, 04 Maret 2019
Sudah lama rasanya tidak menulis lepas bebas terhempas puas!!!!!! Mumpung memasuki pekan bertema di 1minggu1cerita (1m1c), maka saya membebaskan diri untuk menulis apapun sesuka hati tapi tetap sesuai tema. Bisa ga ya ....

Meskipun sampai saat tulisan ini diketik, saya belum tau akan menulis apa. Ya beginilah ciri-ciri kalimat pembuka ketika ingin menulis sesuai tema, tapi tidak memiliki ide cerita πŸ˜†✌.


Tema 1m1c pekan ke 10
Tema 1m1c kali ini adalah Romantis. Ketika membaca tema ini, saya langsung berfikir kayanya tema ini akan sangat menggetarkan jiwa para pemuda pemudi yang tengah menanti pujaan hati belahan jiwa nih. Eh tapi bukan berarti ibu-ibu muda penuh karya (plis jangan eneg ya) kaya saya ini tidak bergetar jiwanya ketika membaca kata romantis ini ya. Hanya saja saya merasa agak gimanaaa gitu kalo menceritakan hal-hal romantis terutama terkait dengan pasangan. Romantisme dengan anak? Wah semua tulisan di menu ini adalah wujud romantisme saya dengan anak-anak-anak. KLIK aja! πŸ˜†

Okeh, kembali lagi tentang kata 'romantis' yang menggetarkan jiwa para muda mudi. 

Bergetar jiwa maksud saya disini yaitu seolah ada koneksi yang terjadi saat suatu kata tertentu (dalam hal ini kata 'romantis') muncul, baik dengan dilihat atau didengar. Sehingga membuat seseorang merasa 'lebih tercurah limpahkan' segalanya tatkala mendengar atau membaca kata tersebut lewat sebuah tulisan, perkataan atau perbuatan. Dengan kata lain, biasanya akan muncul ide hendak menuliskan, berbicara atau melakukan apa.

Tapi wait! Sebenarnya apa sih definisi romantis ini?

Berdasarkan baca-baca sepintas lalu ala emak-emak yang saya lalukan barusan (banget), kata romantis ini atau dalam bahasa inggris ditulis romantic berasal dari kata romance. Romance atau Romans sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk jenis karya sastra dan seni pada abad ke 17 atau 18 yang menggunakan bahasa Roman. Rumpun bahasa Roman sendiri berkembang dari bahasa latin yang sekarang bisa kita lihat di bahasa Prancis, Spanyol, Itali, Rumania dan Portugis. 

Lalu apa hubungannya dengan getar-getar jiwa muda mudi? 

Karena karya sastra dan seni abad ke 18 ini selalu bercerita tentang cinta dan perasaan, maka pada tahun-tahun selanjutnya, makna kata Roman pun selalu diasosiasikan pada hal-hal terkait cinta dan perasaan. Maka tak heran jika kita mendengar kata roman atau romantis, tiba-tiba hal-hal terkait percintaan muncul di otak. Karena memang definisi yang terbentuk tak jauh-jauh dari perasaan, cinta, fantasi, ataupun hal-hal yang mengasyikkan (ini kata KBBI ya).

Definisi Romantis versi Saya
Mendefinisikan kata berdasarkan apa yang kita rasa lalu dicitrakan oleh indra ataupun pikiran kita, sah-sah saja jika saya membuat definisi atau padanan kata sendiri kan? Kan ceritanya saya mau nulis bebas suka-suka πŸ˜† #ngeles

Dalam menggunakan kata romantis, bukanlah sebuah hal aneh jika asosiasi kata romantis ini tertuju pada orang-orang terdekat yang kita cintai. Karena memang pada perjalanannya, kata romantis memang disematkan pada sebuah hubungan antar manusia satu dengan manusia yang lain. Seperti yang saya sebutkan di atas, romantisme dengan pasangan atau romantisme dengan anak.

Sedangkan dalam tulisan kali ini, saya hendak mendefinisikan kata romantis sekemau saya πŸ˜…. Lalu memberikan padanan kata versi saya, dimana romantis tak hanya relasi antara manusia saja. Romantis, bisa diperluas dengan melihat getaran lain sebuah hubungan. 

Selagi masih melibatkan perasaan dan cinta, maka kata romantis ini pun bebas dipadankan dengan apapun. Semisal hubungan manusia dengan pekerjaanya yang melahirkan romantisme dalam bekerja. Atau manusia dengan hobi atau perjalanan hidupnya yang melahirkan romantisme manusia dalam membersamai hobi atau hidupnya.

Menulis dan Blog
Rutinitas menulis, saya yakini memiliki romantisme tersendiri yang tercipta antara si penulis dengan karyanya. Bagaimana sebuah ide yang berseliweran di otak ditangkap lalu dituangkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah karya tulis seperti yang saya lakukan saat ini.

Terkesan mudah, tapi pada kenyataannya sulit (bagi saya). Bagaimana sebuah tulisan utuh berhasil dicipta melalui teknik ketik-delete-ketik lalu baca dan kemudian berulang lagi ketik-delete-ketik. Setelah selesai pun ada proses revisi yang dilakukan jika ternyata tertangkap mata ada kata yang salah ketik atau tak enak dibaca.

Proses seperti inilah yang menurut saya menjadi hubungan romantis antara saya dengan tulisan saya. Tak peduli bagaimana hasil akhinya, kenikmatan membersamai ide dan merangkainya dalam bentuk kata lalu kalimat dan kemudian paragraf, sudah lebih dari cukup. Apresiasi pihak luar hanyalah sebatas bumbu tambahan.

Ibarat rumah tangga, orang lain akan melihat bahagia jika kita dan pasangan kita terlihat bahagia. Meskipun mereka tidak pernah tau bagaimana kenyataannya. 

Menjadi tidak cukup penting bukan sebuah pandangan apresiasi pihak luar?

Tapi, ketika menulis di blog seperti yang saya lakukan saat ini adalah sebagai salah satu usaha saya meningkatkan kredibilitas misalnya, maka apresiasi itu penting. 

Seperti halnya para motivator pasangan muda yang harus sangat bisa menjaga hubungan dengan pasangan untuk sebuah reputasi di mata publik. Dengan kata lain, demi karir 😁. Menulis blog pun bisa jadi demikian juga πŸ˜†.

Romantisme Menulis
Pada akhirnya, semua kembali pada niatan masing-masing hati kita. Toh tidak ada yang benar dan yang salah dalam hidup ini. Semua relatif. Meskipun kata orang-orang positivisme atau aliran seberangnya memandang orang seperti saya seperti tidak berpendirian. 

Ya sudahlah ya, ga usah bahas lebih lanjut. Tulisan ini hanyalah cara saya membahagiakan diri dalam memerdekakan ide dan kata yang dirangkai dalam minggu bertema di 1m1c kali ini. 

Jika ada yang bener, ambil hikmahnya. Kalo banyak ngaconya, maapin saya. Demi 1m1c, saya rela bercerita dengan sok iye kya gini πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Satu hal yang benar adanya dalam tulisan ini yaitu, saya makin cinta menulis. Sungguh! AKU CINTA!!! Apalagi dengan romantisme seperti saat tulisan ini dibuat. Semakin terasa bahwa menulis itu memupuk kepekaan perasaan dan cinta. Karena dengan menulis, kemampuan membaca kita meningkat. Paling ga membaca apa yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Maklumin saya anak social science, dapetin wangsit hanya dengan melamun. Biar kaya Einstein 😎. Jenius πŸ˜†✌ 

Jadi deh 1 tulisan buat diposting πŸ’…πŸ’…πŸ’…

Semoga yang baca ga nyesel terdampar disini ya πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

THE END


Columbus, 3 Maret 2019