MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Bahagianya Punya Anak?

Selasa, 06 Desember 2016
Siapa ga bahagia diberi amanah bernama anak. Tentu semua bahagia. Kalaupun ada yang tidak bahagia tampaknya lain cerita karena memilih alur berbeda.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan salut saya kepada seluruh pasangan yang sedang menanti kehadiran buah hati baik yang baru menikah ataupun yang sudah bertahun-tahun menikah (semoga Allah segera merahmati kalian semua dengan keberkahan memiliki keturunan, aamiin), izinkan saya berbagi sedikit cerita tentang "bahagianya punya anak?".

Beberapa waktu yang lalu, saya sedikit berbagi pemikiran tentang "rumput tetangga selalu tampak lebih hijau". Perihal bahagia pun tampaknya akan memakai persepsi yang sama. Persepsi dimana kita sebagai pelaku utama si pembuat bahagia itu. Seperti halnya kita pelaku utama yang bisa membuat rumput kita lebih hijau dan indah.

Perihal bahagia, pastilah memiliki anak itu merupakan kebahagiaan setiap pasangan. Kelahiran bayi mungil itu seperti melengkapi rasa yang selama ini hanya milik kita dan pasangan kita.

Namun ternyata, kebahagiaan pun harus selalu dipelihara. Sebagaimana kita memelihara rasa bahagia menikah dengan pasangan kita, pun kebahagiaan memiliki anak demikian pula.

Anak semakin hari semakin bertumbuh. Yang tadinya hanya seorang bayi mungil lucu perlahan beranjak menjadi bayi aktif menggemaskan. Kemudian waktu bergulir menjadi anak kecil penuh rasa ingin tahu dengan segenap cara nya memenuhi rasa itu. Bertumbuh remaja dengan sikap protesnya dan dewasa dengan segenap kemandiriannya.

Sebagai orang tua, membersamai anak dalam 24 jam waktu mereka sering kali membuat kita lupa bahwa ternyata anak kita sudah semakin pintar dan punya banyak kebisaan. Kita juga sering lupa bahwa mereka mulai meniru tingkah dan perkataan kita. Sampai akhirnya sang anak berbuat sesuatu diluar dugaan dan harapan kita. Marah? Ya seringkali kita marah. Kecewa? Tentu, karena merasa gagal menjadi orang tua. Tapi apa kemudian menjadi solusi? Tampaknya hanya solusi sesaat tanpa jalan keluar yang jelas dan pasti.

Disaat inilah kemudian menjaga kebahagiaan memiliki anak itu diuji. Bahagia nya punya anak? Jawaban nya tergantung dari mana kita hendak menjawabnya. Karena anak adalah amanah. Bersama kehadirannya ada ujian sepanjang hayat bagi para orang tua. Ketika kita meletakkan kata bahagia pada standar dunia semata, maka bersiaplah kecewa. Namun jika kebahagiaan yang kita patri bagian dari visi pencapaian tujuan ukhrawi, maka boleh jadi kita memiliki rasa bahagia itu selamanya. Bersama doa yang selalu kita kirimkan pada mereka ... bersama rasa jujur tentang apa yang kita perolah selama membersamai mereka, anak-anak kita.

Columbus, 6 Desember 2016