MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Weaning with Love (jilid 2)

Rabu, 26 Agustus 2015

26 Agustus 2015. 24 jam lebih kurang Zaid di sapih. Ziad nyaris 48 jam. Ya Allah... sungguh ini lebih berat dari pada memberi ASI... >_<

Sebelumnya saya sudah bercerita sedikit ttg WWL. Dan dari 8 poin, baru 3 poin yang saya jabarkan berdasarkan aplikasi oleh diri sendiri. Di jilid 2 ini, saya coba lanjutkan ya poin2nya...

Kompak, disiplin, dan konsisten
Saya kurang tau bagaimana harus menjabarkannya. Saya yakin secara makna pasti kita semua sudah paham maksudnya.

Kompak ■■ Tentunya tim sukses ya yang dimaksud disini. Menurut saya, kekompakan disini sangat terkait dengan pemahaman masing2 tim sukses tentang metode WWL. Pada kenyataannya, tim sukses yang saya bentuk (dadakan) hanya mengetahui tujuan utama yaitu 'penyapihan'. Lain dari itu, baik terkait konsep, prinsip dan peran masing2 tim sukses memang belum terbentuk dengan baik. Dan semua ini tentunya kesalahan saya yang kurang mengedukasi tim sukses jauh2 sebelum proses penyapihan ini dilakukan.

Disiplin ■■ Artinya harus sesuai dengan apa yang telah ditetapkan. Kita harus mampu membagi aktivitas terkait penyapihan dengan baik. Kapan anak diajak bermain, kapan waktunya tidur, dan kapan waktunya makan dan nyemil. Tapi sejujurnya aplikasi disiplin sendiri saya masih linglung. Heu..

Konsisten ■■ berarti ga boleh goyah. Dan... saya pun goyah. Semalam, Zaid tidur pukul 20.30 dengan cara digendong keluar rumah (karena dia ga mau di dalam rumah). Pukul 11.00 Zaid bangun dan mendapati saya tidak di kamar (saya tidur memisahkan diri). Meski sudah saya sugesti berkali2, anak butuh proses untuk mengerti apa yang dimaksud ibunya. Karena mosi tidak percaya pada suami terkait cara pengalihan yang dilakukan suami, akhirnya setelah 10 menit Zaid belum nyaman dengan Abinya, saya keluar kamar persembunyian. Dan menyerah untuk memberi ASI. Di hati saya berdalih, "ya sudah, tidak usah terlalu saklek dan drastis, bertahap saja".  Huft... dan hal ini jangan dicontoh yak... :(

Persiapan Pengalihan
Kayanya semua ibu tau deh, kalo ASI itu minuman ajaib sebagai mood booster si bayi. Artinya, apapun yang terjadi pada bayi, ASI lah hal pertama yang kita sodorkan. Betul tidak...
Nah, sebagai hal utama yang sangat berharga buat bayi, tentunya kita perlu menyiapkan pengalihan untuk calon toddler kita. Agar mereka tidak kaget dan pelan-pelan bisa beradaptasi tanpa ASI.
Caranya seperti apa? Hmmm ... setau saya, yang pasti cari pengalihan yang agak serupa dengan ASI. Yups! Susu. Saya disini tidak menyebutkan susu formula ya. Tapi S-U-S-U. Susu sapi, susu kambing atau pun susu kedelai. Dan sebenarnya pengenalan terhadap susu tambahan ini memang sebaiknya dilakukan sebelum anak disapih. Sehingga ketika proses penyapihan dilakukan, anak sudah terbiasa meminum susu tambahan.
Selain itu, pengalihan lain yang perlu kita siapkan yaitu pengalihan aktivitas. Anak yang sedang di sapih tentunya akan mengalami kebingungan ketika perasaannya mulai tidak nyaman. Baik karena mengalami pertengkaran dengan teman, ataupun karena ada keinginan yang tidak terpenuhi. Selain itu energi mereka mulai perlu disalurkan agar tidak berlebih yang bisa membuat anak menjadi rewel. Nah, biasanya ASI lah pelipur lara si anak. Atau istilahnya kaya yang tadi saya bilang, mood booster. Selama masa penyapihan, demi menjaga konsistensi proses, perlu donk anak dikasih aktivitas menyenangkan yang membuat anak bahagia dan ceria. Misalnya dengan bermain. Para praktisi homeschooling tentunya sangat akrab ya dengan metode bermain untuk anak usia dini. Nah untuk ibu-ibu yang belum biasa menciptakan ide kreatif bermain dengan anak (seperti saya...hehe), bisa memanfaatkan ide bermain dengan memanfaatkan kegiatan sehari2. Seperti melibatkan anak mencuci baju, menyapu rumah, ngepel, dll. Atau bisa juga dengan melihat contoh2 aktivitas yang cukup banyak di share ibu2 muda di media sosial.

Persiapan Mental
Wah .... ini poin terpenting nih. Tokoh utama dalam proses menyapih. Kenapa? Karena ketika mental tidak siap, siap2 saja penyapihan gagal (dan saya mengalaminya, baca aja disini :) )
Persiapan mental disini terkait ibu dan anak ya... jadi maksudnya, ga hanya anak saja yang harus siap disapih, tapi ibu juga harus siap. Nah, biasanya yang ga sadar mentalnya udah siap apa belum itu ya emaknya. Jadi disatu sisi si ibu ingin sekali segera menyapih agar bisa 'merdeka'. Tapi disisi lain, si ibu baru menyadari betapa momen menyusui buah hati itu merupakan momen terindah antara kita dan buah hati (#curhat). So, ibu-ibu...lurusin niat sebelum mendeklarasikan menyapih anak yak... :P Emang niat yang lurus itu seperti apa? Jawab aja lah ya sendiri... hihihi
Terkait kesiapan anak, jika ada yang bertanya apa tanda-tandanya? Berdasarkan pengalaman saya, anak akan berkurang intensitas menyusuinya. Selain itu anak sudah siap dialihkan ketika meminta ASI ke hal lain seperti ke mainan.

Sabar dan Doa
Sampailah di ujung penjelasan. Bagi saya, 7 poin di atas hanyalah ikhtiar fisik yang bisa kita lakukan demi kesuksesan penyapihan. Tapi ingat... anak itu ada dalam kendali Allah ... meminta lah kepada Allah agar diberi kemudahan dan kesabaran dalam menjalani proses penyapihan ini. Sabar dan teruslah berdoa. Sesungguhnya anak itu hanya titipan... dan semoga kita terhindar dari rasa memiliki yang berlebihan... :)

Bandung, 10 November 2015

"Hari pahlawan ... hari dimana saya bertekad mengalahkan sejuta alasan demi satu tujuan: menebar manfaat!!!"

Selamat hari pahlawan... :)

Weaning With Love

Selasa, 25 Agustus 2015

Ada yang tau kan dengan judul di atas??? Kalo emak2 kayanya bakal tau deh. Secara itu istilah yang dipakai untuk menyapih sang buah hati.

Dunia emak-emak itu ibaratkan universitas sepanjang hayat. Pokoknya kalo udah jadi emak-emak, ya berarti sudah teregistrasi otomatis di universitas emak2. Paling jurusannya aja yang beda2. Ada jurusan tradisional, modernisme, urban, mix match sama naluriah. Dan mungkin ada banyak lagi cabang lainnya. Hehehe.

Istilah2 di atas hanya karangan saya aja ya. Berdasarkan yang saya rasakan dan amati. Secara sadar ataupun tidak, setiap ibu2 baik yang berada di desa ataupun di kota, yang bertetangga hidup bersosial ataupun individualis, sarjana ataupun tamatan S3 (SD, SMP, SMA), semua pasti akan tercemplung ke universitas ini. Karena universitas ini terbentuk secara alami sebagai hasil dari interaksi sosial.

Kembali lagi ke judul. Meski ga semua tau makna dari judul di atas, tapi kalo melihat para pembaca blog kebanyakan ibu2 urban modern, pasti yang baca tulisan ini pada tau deh. Atau paling ga, pernah denger.

Weaning with Love yang sering disingkat WWL ini, kalo dibahasa Indonesiakan jadi 'Menyapih dengan Cinta'. Oh berarti ada donk ya menyapih ga dengan cinta??? Ya bisa jadi. Saya kurang tau..hehehe.

Saya disini ingin berbagi tentang pengalaman yang belum seberapa ini plus sebagai catatan pribadi perjalanan hidup saya juga, bahwa saya pernah melewati fase penyapihan anak seperti ini. Seperti yang akan saya bagi, semoga mau yak baca nya.. :D

Sekitar bulan Juni, 1 bulan menjelang anak2 berumur 2 tahun. Saya mencoba menyapih anak2 dengan cara tradisional. Yaitu dengan mengoleskan odol ke sumber ASI. Hehe. Saya lupa kalo dalam WWL ga boleh yang gitu2an. Pas diingetin sama temen, jadilah saya merubah cara dan tentunya berdampak pada belum berhasilnya penyapihan saya.

Dalam metode WWL, kekuatan sugesti dan komunikasi itu penting. Makanya dari anak2 18 bulan saya sudah mengkomunikasikan ke mereka. Tapi ya saya tipe ortu yang kurang konsisten, jadilah ga setiap hari sugestinya saya lakukan. Terus pas kemaren baca2, ada ibu yang share kalo dia mensugesti anaknya sejak lulus ASIX 6 bulan. Saya cuma bisa nyengir kuda. Malu ma diri sendiri., wkwkwkwk.

Karena penyapihan belum berhasil, dan memang waktu itu ternyata saya masih berat hati melepas momen indah bersama anak2 yang sudah terutinkan sejak mereka brojol, proses ngeASI berlanjut sampai tgl 24 Agustus 2015. Dan hari ini, 25 Agustus 2015 adalah hari pertama anak2 berproses kembali. Dengan cara apa?

Sebelum saya kasih tau dengan cara apanya, saya ingin sedikit berbagi dulu tentang poin2 yang harus diperhatikan seorang ibu dalam menerapkan metode WWL dalam penyapihan. Info ini saya kutip darisini

1) Siapkan Tim sukses
2) Dont offer but dont refuse
3) Sugesti berulang2 (hypnoterapi)
4) Tidak membohongi anak
5) Konsisten, disiplin dan kompak
6) Persiapkan pengalihan
7) Persiapkan mental
8) Sabar dan doa

8 poin yang saya dapat ini menurut saya sangat logis. Jadi saya mencoba untuk menerapkannya meski ada beberapa hal yang bisa jadi agak kurang tepat setelah dipraktekan karena terkait situasi kondisi juga.

Siapkan tim sukses
Tim sukses yang bisa dibentuk hanya 5 orang. Saya, suami, si kembar yang akan disapih, dan satu lagi ibu mertua saya. Sebenarnya dalam penyiapan tim sukses, harus benar2 dipahamkan bahwa cara menyapih yang disarankan adalah seperti apa. Kenapa menyapih dengan mengolesi puting atau sejenisnya tidak dianjurkan. Kemudian sampaikan bahwa anak adalah cerdas, mereka bisa menyapih diri mereka sendiri di saat yang tepat.
Jujur saya tidak mempersiapkan tim sukses ini dengan baik. Saya hanya mencoba mengkondisikan si kembar, bahwa mereka sudah anak2, tidak lagi bayi yang menyusu ke ibu. ASI umi hanya untuk bayi. Zaid dan Ziad sudah besar dan sudah bisa tidur sendiri. Seharusnya sugesti dengan diksi senada dengan ini terus dilakukan oleh semua timses. Nah, kelemahan saya dalam melakukan sugesti adalah saya kurang percaya diri karena terpengaruh dengan pemikiran sendiri terkait kemampuan verbal anak2 yang belum berkembang baik. Saya seperti tidak yakin apakah mereka mengerti atau tidak. Karena dari referensi yang saya baca, rata2 setiap ibu memberi sugesti anak2 nya yang semakin hari semakin mengerti komunikasi 2 arah, dan sudah memberikan respon terhadap sugesti tersebut. Selain itu baik suami ataupun mertua belum begitu memahami urgensi WWL. Dan saya bukan tipe presentator yang baik dalam hal ini. Salah satu penyebabnya, karena saya segan dengan mertua yang notabenenya aktivis posyandu. (Khawatir salah cara menyampaikan) hiks...
Mesko demikian, saya coba yakinkan diri sendiri. Dan memantapkan hati untuk memulai tahapan penyapihan mereka. Terutama karena Ziad sudah menunjukan kemandirian dan tidak tergantung lagi pada saya. Lebih memilih beraktivitas ketika tida menemukan saya. Sedangkan Zaid, masih sangat nempek ke saya. Bismillah ,,, Perihal hasil, biarlah Allah yang menentukan.

Dont offer but dont refuse
Ini adalah sebuah prinsip. Dan harus kita ingat. Tampak sederhana namun sering terlupa oleh saya. Ketika kondisi sudah sangat melelahkan, saya sering menyerah sehingga menawarkan anak2 untuk tidur. Bagi mereka, tidur atau "bubu" itu adalah nenen. Dan ketika saya menawarkan tidur, artinya mereka akan nenen. Dan hal ini masih pernah terjadi di antara masa penyapihan awal bulan Juni hingga kemaren hari. Ketika kondisi seperti ini menimpa, saya hanya bisa berharap anak2 paham dan mengerti apa yang saya sugestikan setiap mereka minta, lagi, dan sesudah nenen.
Untuk menolak permintaan mereka ngeASI alhamdulillah saya belum pernah lakukan. Saya hanya sering tertidur posisi miring sehingga anak2 menangis paduan suara ketika bangun tengah malem karena mendapati posisi saya yang menyulitkan mereka untuk ASI. #emaknyakebluk

Sugesti berulang2 (hypnoterapi)
Hal ini yang saya singgung di atas. Sugesti. Sampaikan kepada anak, kenapa mereka harus disapih, tidak ASI lagi. Sebelumnya lakukan secara bertahap sugesti yang dilakukan. Misal, kondisikan anak paham dimana saja boleh ASI. Kapan saja. Pelan2 komunikasikan kalo beberapa waktu lagi ASInya udahan. Pahamkan kalo mereka sudah besar. Tidak bayi lagi. ASI hanya untuk dedek bayi. Metode ini bagi penerap hypnotherapy mungkin sudah sangat terbiasa. Tapi bagi yang belum terbiasa, apalagi belum terbangun komunikasi dengan anak, akan merasa kesulitan. Dan saya sempat merasakan hal tersebut seperti yang saya sampaikan dipoin pertama. Namun ternyata saya keliru, anak2 itu memang cerdas, meski tida membalas dengan respon yang memadai, mereka memperlihatkan perubahan yang siginifikan dalam merespon hal2 yang telah saya ajarkan. Misalkan meminta izin untuk bermain kotor2an, merapikan mainan sesudah bermain. Memang belum konsisten, tapi bagi saya hal seperti ini saja sudah menjadi tanda bahwa anak2 memang pembelajar yang baik.

Tidak membohongi anak
Hal ini yang sering dilakukan oleh ibu2 kita jaman dahulu. Saya yakin mereka tidak bermaksud membohongi, karena yang saya tangkap, cara seperti itu mereka gunakan karena memang mujarab. Dan toh anak tidak akan apa2.
Tapi ternyata, perkembangan ilmu memberikan informasi bahwa penyapihan dengan cara seperti ini bisa memberikan efek negatif pada anak. Selain 'melucuti' nilai2 kejujuran, anak juga akan merasa sangat terpukul karena hal yang selama ini bisa jadi penenang mereka ketika galau, tiba2 tidak ada. Dan cara seperti ini akan menjadi lebih tidak adil lagi bagi anak ketika orang tua seolah tidak peduli dengan perasaan anak ketika disapih dan cenderung tidak memberikan mereka pengalihan aktivitas malah memarahi atau mencueki anaknya. Mudah2an kita tidak seperti itu ya. Yang perlu diingat dalam menyapih adalah, dalam proses penyapihannya, ada cinta di dalam nya. Ada komunikasi sehingga anak paham sudah saatnya mereka disapih.

Oh ya, prinsip poin yang satu ini bagi saya masih sangat ngambang ya. Tapi kalo saya bahas disini jadi ikut ngambang bahasannya.

Konsisten, disiplin dan kompak

Bersambung ...

ESA [masa lalu yang tak pernah berlalu]

Jumat, 21 Agustus 2015

Sebelum jadi emak-emak rempong, saya pernah jadi mahasiswi kece lho... ga percaya? Beuuuuuuh. Liat aja noh poto-poto saya di album FB. Wkwkwkwk.
2006, 9 tahun silam (cieeeee). Saya diterima di kampus negri, di jurusan yang katanya paling paporit (lafal sunda), English Department.  Kalo di bahasa Indonesiain jadi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Jujur saya bukannya senang malah setres keterima di jurusan ini. Welcome to the jungle of strangers lah pokonya. Bismillah... ikhlas. Hehehe

Awal registrasi, sayq dikenalkan dengan yang namanya ESA. Ini bukan nama orang ya. ESA itu nama himpunan mahasiswanya. Kepanjangannya "English Students' Association" (kalo baca kepanjangannya saya bawaannya nyanyi terus...hehe. Anak ESA pasti paham). Nah himpunan inilah salah satu organisasi yang bikin saya jadi manusia normal. Ga lagi jadi manusia di tengah kerumunan orang aneh. Heu.. (yang tau kisah saya pasti ngerti... #banyak rahasia amat yak tulisan ini).

Waktu saya jadi MaRu alias mahasiswa baru nan imut, saya ga disambut tuh sama Presiden ESA nya. Huh gimana sih... hehehe... Untungnya ada bapak sekjen yang kata orang waktu itu cakep. Hmmmm... iya gitu??? Cakep mah relatif ah... hihihi. Entah magnet apa yang membuat saya tertarik gabung di himpunan ini. Ingin bersosialisasi dan wara wiri menghabiskan energi yang berlebih (tapi kalo belajar ngantuk teyuuuus). Jadilah saya anggota ESA semenjak tahun 2006 itu. Jadi pengurusnya baru tahun 2007. Karena sayanya salihah kali ya (aamiin), jadilah saya disuruh ngurusin departemen kerohanian Islam. Yah, karir saya mentok di ROHIS dah. Wkwkwkwk. Padahal saya punya bakat debat lhooo tapi pake bahasa Indonesia sama bahasa Minang, :P

Walaupun saya di ROHIS, primbon kaderisasi, saya yang khatam duluan ketimbang ketua pengkaderannya sendiri, #colek Riansyah. Terus ya, walaupun bahasa Inggris saya pas-pasan, primbon event terbesar departemen penalaran yaitu AECS (Annual English Contests and Seminar) saya yang kuasai... #aseeeeeek.

Pasti pada ngirain saya sombong ya.... No! BIG NO!. Saya itu bangga. Bangga karena senior saya berani mempercayakan amanah yang sangat menantang kepada saya. Entahlah waktu itu seperti apa saya melakoninya, satu hal yang saya ingin sampaikan, terima kasih karena telah membuat saya merasa hidup di jurusan yang sangat saya tidak sukai. Oh andaikan kalian tau, ruh saya dalam menulis skripsi adalah ESA. Pembuktian bahwa aktivis ESA juga bisa lulus normal (normal di jurusan bahasa Inggris itu 5 tahun ya.... :P. Kalo kurang dari 5 tahun itu hanya sebiji aja jumlahnya. Ga tau tah kalo sekarang).

Dulu itu, saya sangat berkesan dengan sebuah gedung yang bernama Pentagon. Gedung unik berbentuk segi 5 sesuai namanya. Dimana kolor dan payung bersatu ingin mengeringkan diri. Puntung rokok dan kulit kacang terbuang tak diaku. Di gedung ini semua ide dan kreativitas terjadi. Berbekal layar PC yang sudah sangat lusuh, keyboard pasrah dipencet-pencet, tumpukan draft yang sangat lengkap sebagai primbon ESA yang harus dikuasai anggotanya. Ruangan remang-remang ini selalu hidup 24 jam. Tidak usah kaget jika dipagi hari menemukan 'kuncen' himpunan masih ngorok dipojok ruangan berbekal sarung lusuh. Tak peduli ada yang datang, tidurnya kuncen tetaplah tidur meski gempa datang.

Ah sudahlah. Kenangan dahulu tentang mahasiswa sangat berbeda tampaknya dengan sekarang. Dahulu, belel itu sebuah kebanggaan. Almamater yang sengaja tak pernah dicuci. Jeans bolong plus rambut gondrong kumplit dengan kaos oblong, jadi ciri khas mahasiswa teruatama mahasiswa fakultas dimana saya berada, FPBS.

Ah ESA ku. Warna yang telah engkau berikan membuat ku bisa berfikir bahwa hidup tak selamanya baik. Karena kebaikan tak akan berarti jika tak ada keburukan. Dihimpunan ini aku menemukan makna hidup yang berbeda. Nyaris 5 tahun aku bersama dan membersamai ESA. Belajar dari setiap individu nya. Belajar dari setiap aktivitasnya. Ilmu dan life skill berdampingan mesra disini. Meski kadang tawa diselingi air mata. Tapi kebersamaan membuat kenangan yang tadinya begitu pahit berubah manis.

Ah kenapa saya jadi melow begini ketika menuliskan tentang ESA ini. Kenapa tetiba saya rindu orang-orang ini. Sosok teteh yang pertama kali menyambut saya sebagai mahasiswa baru, teh Indah Jayanti. Dan sosok sekjend yang sok cool bahkan sampai detik terakhir saya bertemu dengannya, kang Wafi wifqatillah (maap kl nama lengkapnya salah). Dan tentunya sosok Presiden pecicilan bernama kg Opiek yang begitu energik memberi semangatnya. Ada teh Imot yang selalu nempel kaya perangko sama Mba Sari di beberapa event ESA. Mereka berdua setia banget menghuni sesi acara. Dan selalu tampil keren mengemas acara ESA. Teh Nunun yang suka setress dan duduk letih di kursi sambil minta dipeluk dan bilang 'uni,,,,'. Ih aku kangen kalian deh. Saat menulis ini aku kebayang acara AECS 2008. #eh

Kayanya AECS 2008 tu berkesan banget deh. Mungkin karena ini acara yang pertama kali saya benar-benar 'in' dan 'on'. Eh ga taunya ketua pelaksananya sekarang jadi suami saya. Aduh duniaaaaaaa.... Jaman AECS nya aja saya cuma komunikasi di awal aja sama ketuplak nya. Sekarang udah jadi suami aja. (Banyak banget ajanya).

Duh maaf ya tulisan ini ngacak banget. Ini bener2 ungkapan kerinduan saya aja. Dan ketakjuban saya karena ternyata jodoh saya ga jauh-jauh dari anak ESA. Sama pengen berbagi cerita aja sih, barangkali ada anggota aktif ESA yang baca. Terus terus ... biar sejarah tentang ESA ada archive nya di blog saya yang masih seumur jagung. Harusnya saya dari dulu ya nulis blog. Jadi setiap kegiatan di ESA dituliskan di blog deh. Jadi biar bisa dibaca ntar sama anak cucu versi laporan lengkapnya.

Teman-teman angkatan saya, dan adik-adik yang pernah berinteraksi dengan saya. Makasi ya dah mewarnai hidup saya. Gadis2 centil umbrella yang meramaikan survey lokasi PAB. Panitia P2M yang sempet cekcok ma saya,, hiks. Maafkan saya. Tapi habis P2M semua jadi terasa lebih dekat. Panitia KAB spesialnya ibu komandan Tia yang bener2 keren ngatur PAB mpe ga tidur. Aduh semuanya deh. Pokonya semuanya. Kalo saya sebut semua disini kok ya jadi ucapan terima kasih buat skripsi ya. Hehehe...

Sekian dulu aja deh. Reunian ESA ditunggu banget. Reunian dengan anak pinaknya kita bakal lebih rame. Tapi No smoking ya. Hihihihi... ga nyambung. Tapi disambung-sambungin aja deh.

Kang apis sama kg aghe.. saya pengen nyebut nama ente berdua ah.

^^
Bandung, Ciwaruga
21 Agustus 2015
11.44 AM

Menikah??? Mikir dulu deh ...

Rabu, 19 Agustus 2015

Duh udah lama juga ga nulis di blog ini, berasa udah satu tahun cyiiiint... #lebay. Malam ini saya lagi mikir nih, tumben ini. Saya kepikiran, jangan-jangan saya sempat stres gara-gara faktor Belum Siap ya... Belum siapa apa? Ya belum siap nikah, belum siap hamil, belum siap punya anak, belum siap menerima situasi kondisi pasangan, belum siap ini itunya rumah tangga. "Oooooooooh". Komen readers kompak. #mudah-mudahan aja yang baca banyak. Heu :D

Saya tidak tau ya kalau yang saya rasakan dan pikirkam ini apakah hal yang wajar dan dialami setiap ibu rumah tangga dan wanita pada umumnya. Atau justru hanya saya saja yang berlebihan... Soalnya saya dan beberapa orang teman memang mengakui kelebayan saya. Hmmmm...

Dulu itu saya berfikir menikah itu gampang. Cuma beda teman tidur, kalo jaman kuliah teman tidur saya perempuan, setelah nikah berubah jadi laki-laki. Terus cuma beda aktivitas. Kalo dulu aktivitas bareng teman sekarang aktivitas bareng suami. Dan bla bla bla lainnya. Padahal saya sangat tau kalau menikah itu butuh kesiapan. Siapa lahir batin kalo kata guru ngaji saya. Dan dengan PD nya saya dulu merasa sangat siap dipersunting pangeran pujaan hati... #cikiciw...

Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa menikah itu adalah kehidupan baru yang bisa merubah segala. Yups, segalanya!!! Mulai dari kebiasaan sampai rutinitas. Tapi jujur saya tidak pernah membayangkan hal-hal dibawah ini akan saya alami. Karena saya memiliki patokan bahwa kehidupan setelah menikah ya kaya mama papa. Kerja, cari duit, pulang, kumpul sama anak-anak dan besok beraktivitas lagi. Tanpa terpisah jarak dan waktu dalam waktu lama.

Meski sudah terlewati semua, tapi tampaknya hal-hal di bawah ini sempat membuat saya mengalami degradasi karakter. Seolah termatikan dan tidak bernilai. Terlalu pasrah dengan keadaan dan tidak berani move on.

Yuk simak apa aja sih hal yang saya alami itu. Barangkali ada yang sedang mengalami atau pernah atau akan. Selain bisa saling menguatkan, paling tidak kita jadi merasa tidak sendiri seperti yang dulu saya rasakan.

1) LDR 2 tahun
Terancam LDR 2 tahun di awal pernikahan, saya pasang badan untuk berkata 'NO'. Saya dan (waktu itu calon) suami berdiskusi tentang kemungkinan LDR, saya mencoba melakukan lobbying. Kesepakatan waktu itu ada dua opsi, pertama suami saya pulang ke Indonesia untuk menjemput saya, kedua suami mempercepat masa studinya menjadi 1 tahun. Memang kehidupan ini Allah yang ngatur ya...Ternyata dibulan ke 5 pernikahan, kehamilan saya yang tadinya hanya berisi 1 janin, ternyata terdapat 2 janin. Artinya, jika saya menyusul suami ke US, kami harus mempersiapkan biaya lebih. Dan akhirnya saya hanya bisa pasrah dan memantapkan diri untuk LDR berapapun lamanya. Alhamdulillah dengan saling support, saya dan suami bisa melewati fase ini. Dengan segala kemudahan yang diberikan Allah, suami saya bisa menyelesaikan studinya cukup 1 tahun saja. Katanya sih karena selalu diburu-buru sama saya, hehehe.. maap yak pak suami. #alhamdulillah ga jadi 2 tahun.

★★ LDR atau Long Distance Relationship kaya nya lagi ngetren ya. Hehehe... perlu ada bahasan khusus nih kayanya. :D. Tapi saya kapok LDR :( . Dan Desember ini bakal LDR lagi.... #mamaaaaaaaaa owaaaaaaa

2) Kehamilan diawal Pernikahan
Belum genap 1 bulan kami menikah. Tanggal 7 Desember 2012. Dan tanggal 31 Desember saya positif hamil, whaaaaat????!!!!! Kok bisa cepet gitu ya? Bukannya hamil itu susah. Orang-orang pake kosong dulu berapa bulan. Kok saya langsung tekdung gini. Eh,,, harusnya alhamdulillah, begitu kata suami. Saya hanya tertunduk. Pikiran saya jadi kacau. Keinginan untuk bisa mendampingi suami studi S2 agar tidak LDR terlalu lama tampaknya akan pupus. Belum lagi kondisi fisik saya yang semakin ngedrop karena mual muntah berkepanjangan setiap harinya. Merasa tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa plus efek hormon kehamilan yang membuat saya menjadi sensitif. 7 bulan tepatnya 31w jalan 32w, saya harus melahirkan prematur setelah bedrest selama 1 minggu karena mengalami pecah ketuban dini. Inilah takdir Allah. Anak-anak diizinkan untuk di adzankan Abinya langsung. Dan saya melahirkan didampingi langsung oleh suami yang ngedennya lebih-lebih dari saya yang asli ngeden. Hehehe

★★ pengaruh psikologis jika seorang wanita belum siap dengan kehamilannya cukup besar dan akan berefek pada perlakuan dia terhadap janin dan bayinya nanti.

3) Bulan Madu di tengah Bencana
Jumat ijab qobul-Sabtu resepsi-Minggu istirahat-Senin diboyong ke Bandung-Selasa suami mulai kerja-Rabu rumah mertua banjir besar.
Ya Allah...perubahan kehidupan saya sampe segini nya yaaaaa #mewek.
Hai hai kaum lelaki terutama yang bakal nikah. Ingat ya, liburan pasca nikah itu penting, biar istri ga kaget dengan kehidupan barunya, pun kamu lelaki juga sadar kalo sekarang sudah beristri.
Jujur rentetan aktivitas dari ijab qobuk sampe kebanjiran itu membuat saya cukup kaget. Selain itu, banjir menghalangi suami yang baru 5 hari halal dengan saya pulang ke rumah karena terjebak. Dan konyol nya, suami lupa memberi kabar sekedar SMS atau telpon dengan alasan, lupa kalo sekarang udah beristri. #ambilpancidah
Pokoknya yang udah nikah bisa bayangin lah ya, gimana ga ngerasa tercampakkannya saya. Meski saya tau tidak ada maksud buruk dari suami saya. Tapi tetap saja kondisi psikologis seorang wanita di awal kehidupan barunya itu sungguh-sungguh gonjang ganjing.

3 poin dulu ya. Kalo kepanjangan khawatir ngantuk bacanya.. hehehe, eh saya denk yang udah ngantuk. Yuk ah bye bye. Yang punya pengalaman serupam leave comment ya... kunjungi FB saya juga boleh. Biar makin banyak kenalannya. Makasih..

Bandung, Baleendah
19 Agustus 2015
10.35 PM

NB: 3 hal di atas saya lewati dengan berbagai macam rasa perasaan. Marah iya... pasrah iya. Sedih iya... bahagia iya. Saya yang tadinya sangat heboh dengan segambreng aktivitas menjadi seorang wanita yang tak berdaya kemana-mana. Hanya 3 minggu waktu yang saya lewati dengan tidak berkesusahan. Setelahnya??? Kehamilan yang berat dan merawat baby kembar menjadi hari-hari baru yang berat dan melelahkan, tapi membahagiakan. Namun itulah manusia, lupa bersyukur dikala 'ada'.  

Z-A-I-D

Kamis, 13 Agustus 2015

Assalamualaikum selamat pagi ...
Beberapa waktu lalu, dalam keadaan yang sedih karena beres agresi sama Ziad, saya menuliskan hal-hal terkait Ziad. Nah alhamdulillah pasca tulisan itu, ga ada lagi agresi saya ma Ziad. Karena saya sudah tau cara mengatasi serangannya Ziad #senyumpuas ... hehe..

Sekarang saatnya nulis tentang Zaid. Z-A-I-D (dieja ya bacanya..biar ga ketuker.., heu). Zaid ini lahir 5 menit lebih awal dari Ziad. Meski bobotnya hanya 1.9kg, saya tetap ga kuat membantu Zaid terdorong keluar secara alami. Mungkin karena air ketuban sudah terlalu kering. Jadilah dibantu dengan dibelek beberapa centi. Baru deh "owaaaaaaaa....".

Kata orang, bagaimana anak lahir itu menentukan sedikit banyaknya karakter anak. Misal, anak yang susah sekali lahirnya, susah dalam artian ga mau keluar-keluar padahal dah mules maksimal, kemungkinan karakter anaknya keras. Kalo anak yang cur keluar kaya ga kerasa apa-apa, bakal jadi anak yang nurut. Tapi itu kan katanya ya.. hehehe... percaya atau tidak, yang pasti karakter anak yang fitrah adalah baik. ;)

Zaid-Ziad, meski mereka kembar, bukan berarti mereka sama dalam semua hal. Jadi maaf ya kalo saya rada sedikit kesal kalo orang-orang suka mencari kesamaan mereka. Dan saya juga bete kalo orang-orang memandang salah satu dari mereka lebih baik dari yang lain. Hiks. Kayanya yang komen suka lupa, kalo dua-duanya anak sayah! :(

Zaid ini bukanlah anak yang menonjol seperti halnya Ziad. Saya yakin, dengan perbedaan ini mereka akan selalu menjadi saudara yang saling melengkapi. Zaid sangatlah pengertian dan perasa. Anak yang sangat kooperatif. Menyukai permainan fisik seperti olah raga. Dan juga tertarik hal-hal berbau seni seperti halnya musik. Transportasi kesukaannya adalah kapal terbang. Menyusun puzzle meski belum bisa pas pada posisi nya, menjadi mainan yang lebih menarik perhatiannya ketimbang mobil-mobilan yang sangat disukai oleh saudaranya, Ziad.

Oh iya, jika Ziad seorang eksekutor terbaik, Zaid ini seorang Planner. Ide-ide bermain seringnya tercetus dari Zaid. Tapi kemudian yang menjadi dominan adalah Ziad. Hehehe. Dan hebatnya, Zaid biasanya lebih sering bersabar atas Ziad. Tapi bukan berarti mereka tidak pernah rebutan mainan ya. Hehe. Itu kayanya sudah menjadi rutinitas anak kecil ya yang namanya rebutan. Hanya saja Zaid lebih mudah diberikan pemahaman agar mau bersabar mengganti giliran hingga akhirnya Ziad puas bermain.

Hmmm.. apalagi ya? Sepertinya itu dulu ya. Segala sesuatu tentang perkembangan lelaki kembar ini akan selalu dipantau umi abinya. Tapi memang kelemahan kami (terutama saya) adalah tidak fokus. Jadi jika ada karakter atau hal-hal terkait anak-anak saya yang terlupakan oleh saya ibunya sendiri, plis mohon dimaklumi. Pliiiiiiiis...

Terima kasih sudah membaca. Semoga orang tua yang lain yang belum menuliskan seputar anaknya, bisa menuliskannya ya. Biar lebih jleb dan inget. Hehehe #selfreminder

^^
13 Agusturs 2015
9.51 am
@Bandung, Ciwaruga.

5 Fakta 'derita' Konyol IRT

Selasa, 11 Agustus 2015

Selamat pagi .., eh dah mau siang ,, (selamat pagi, siang, sore, malam aja ya. Soalnya tulisan nya galau, dipublish trus diedit lagi :D )

Ceritanya, dari tadi (pagi sampe sekarang udah siang) saya mau nulis tentang bahagianya saya ahad kemaren diajakin suami ke ITB dan saya berinteraksi sedikit dengan teman-temannya. Tapi kok ya ga ngalir ya... #tears. Malah saya ceritanya jadi ngalor ngidul. :(

Saya padahal cuma mau bilang betapa bahagia nya saya yang diberi kesempatan memperkenalkan diri saat ajang perkenalan mereka. Lebay memang. Tapi saya bahagia karena sudah lebih dari 2 tahun saya tidak pernah lagi berbicara di depan sekumpulan orang. Dan hal lain yang bikin saya bahagia , karena saya merasa 'ada' dan 'hidup' lagi.

Pernyataan saya yang terakhir bukan berarti selama ini saya merasa hal kebalikannya ya. Hanya saja, selama ini 'ada' dan 'hidup'nya saya itu kuantitas dan kualitas nya kurang. Atau lebih tepatnya situasi yang monoton (atau mungkin terlalu dinamis) sehingga membuat saya merasa 'tidak ada' dan 'tidak hidup'. Ah memang akhir2 ini saya jadi lebay, tepatnya setelah menjadi emak2 alias ibu-ibu. Tetiba saya berubah menjadi orang yang tak berdaya dan tak berarti. Merasa tak satupun yang bisa saya lakukan ditengah segambreng aktivitas yang sebenarnya setia menunggu saya. #ironis sekali pemirsah! 

Menjadi seorang ibu dan ibu-ibu. 2 hal yang saling terkait kaya 2 sisi koin. Jadi ibu itu mau ga mau masuk dalam dunia ibu-ibu coba (ngomong dengan terpaksa. Dan dunia ibu-ibu itu cukup menyiksa dan butuh adaptasi maksimal buat saya.Sehingga jadilah saya ibu yang masih suka mengintervensi diri sendiri dengan isu-isu ibu-ibu yang ada. Alhasil, saya jadi 'bad mood'. Nah, kalo dulu jaman belum berbuntut saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan ketika sedang 'bad mood'. Sekarang? Tentu ga bisa seenak saya aja donk. Ada anak yang harus saya pikirkan sebelum melakukan hal-hal tertentu.

Kebiasaan buruk saya ketika 'bad mood' adalah dengan pergi ke suatu tempat sendiri untuk menyepi. Yups. Sendiri. Terkadang saya berkendaraan, terkadang saya berjalan kaki. Yang penting sendiri. Membawa pergi hati yang tengah basah dengan air mata (ahiiiw). Begitu ceritanya. Dan sekarang, kebiasaan saya itu tidak bisa lagi saya lakukan tentunya. Apalagi buntut saya sudah 2. #ohNo ...

Terkadang saya berfikir, enak ya jadi ibu yang bekerja di luar rumah. Sesaat punya waktu tanpa diikuti buntut. Jika sejenak ingin menyepi, bisa bebas pergi tanpa harus diikuti anak-anak. Karena anak-anak ibu bekerja tentunya sudah dikondisikan dititipkan ke seseorang. Benar ga sih seperti itu? #jawab ya ibu bekerja... (working mom vs stay at home mom lagi hot nih jadi topik lagi.. hehhee .. tapi plis jangan perang disini yak.. :D )

Anggapan-anggapan saya tentang kehidupan ibu lain yang lebih baik dari saya ini mungkin muncul karena saya pribadi belum menemukan cara yang tepat untuk mengaktualisasikan diri. Sehingga saya hanya terpasung pada persepsi negatif saya. Bukannya beraktual malah saya sibuk memikirkan hal yang hanya membuat saya semakin 'tak ada' dan 'tak hidup'.

Saya meyakini, setiap orang khususnya para ibu melewati fase pencarian seperti yang saya hadapi sekarang ini. Pencarian untuk beraktualisasi dalam kondisi baru dan berbeda dari kehidupan sebelum memiliki anak. Dan beruntunglah teman-teman yang tidak butuh waktu dan perjuangan berarti dalam masa adaptasi dan pencarian ini. Buat teman-teman yang butuh waktu dan perjuangan panjang untuk bisa berdamai dengan dunia ibu-ibu, tos dulu. Kita senasib!!!

Baik ibu bekerja ataupun IRT, pastinya memiliki 'derita' masing-masing. Saya tidak bisa memastikan 'derita' yang dialami ibu bekerja karena saya belum pernah berada di posisi tersebut. Yang ada hanyalah anggapan seperti di atas. Bahwa ibu bekerja punya banyak waktu untuk bisa menyepi tanpa gangguan bocah-bocah. Kalaupun ada 'derita' lebih ke tuntutan kerja dan manajemen waktu. (Bagi saya terlihat sederhana karena merupakan resiko logis untuk ibu bekerja). Nah bagaimana dengan 'derita' ibu rumah tangga? saya tampaknya bisa share disini. Semoga saja bisa jadi motivasi buat ibu-ibu yang lain terutama yang masih merasa 'menderita'.

♥Tumpukan Piring dan Baju Kotor: derita tiada akhir

Rata-rata IRT menyelesaikan pekerjaa rumah tangga sendiri alias tanpa bantuan asisten rumah tangga. Sehingga piring dan baju kotor menjadi momok yang tak berkesudahan. Saya pribadi memang tidak bisa berdamai dengan 2 hal ini. Semalas-malasnya saya, piring dan baju harus selalu dicuci. Jika tidak? Kepala saya serasa mau pecah dan saya serasa ingin pergi selama-lamanya menjauh dr piring dan baju kotor ini. Jadi, bagaimana tidak menderitanya coba, disatu sisi ingin tetap rapi, disisi lain bosan dengan rutinitas mencuci yang jika mau divariasi, mentok-mentok mencuci dengan bernyanyi sambil bergoyang. Tapi capek juga kan. Huft .. untuk poin ini saya tidak bermaksud mengatakan Ibu bekerja terbebas dari tugas ini ya. Perbedaannya. Ibu bekerja memiliki variasi aktivitas di luar rumah. Jika pun menyelesaikan 2 pekerjaan ini, ibu bekerja bisa lebih enjoy dan berdamai karena punya dalih, 'cape pulang kerja'. Nah kami? Cape pulang dari mana? Lha wong cuma di rumah aja. Hehehe

Trus gimana dong cara mengatasi biar ga 'menderita' melihat dua tumpukan ini?

Sederhana saja. Jangan sampai ditumpuk. Jika teman-teman memiliki kebiasaan menumpuk piring dan baju kotor. Sekarang ubah kebiasaan tersebut. Mencuci piring langsung sehabis makan dan mencuci baju setiap hari jauh membuat otak tidak mumet. Sehingga kita bisa mengerjakan cucian-cucian tersebut sebagai pekerjaan harian yang tidak memberatkan. Jika khawatir monoton. Coba atur jadwal mencuci dengan pasangan Anda. Selang seling setiap harinya. Jika masih 'menderita', mungkin teman-teman butuh asisten rumah tangga. Silakan ajukan ke pak suami ya.. hehehe

♥ Anak Rewel, Jengkel to athe Max

Permasalahan anak rewel memang akan dialami oleh setiap ibu, baik ibu bekerja maupun IRT. Bedanya, 'derita' IRT adalah harus mendapati anak rewel dengan kuantitas yang lebih banyak dibandingkan ibu bekerja. Betul?

'Derita' IRT ini akan menjadi berlipat apabila anak rewel bertepatan dengan kejadian masalah lain. Ooooh.. rasa-rasanya mau minggat aja dari rumah.

Trus gimana donk biar ga menderita? Teman-teman harus bersabar. Hehehe ... memilih menjadi IRT seperti halnya memilih menjadi ibu bekerja ada resiko logis yang harus siap kita terima. Salah satunya ya ini. Tapi tenang. Anak rewel pasti ada sebabnya. Jika anak kita sering rewel, berarti ada 2 kemungkinan. Pertama anak sedang merasa tidak nyaman (jiwa ataupun raganya), yang kedua, anak memperoleh efek aura negatif dari ibunya yang sedang 'bad mood'. Silahkan cari solusi yang cocok ya dengan teman-teman sekalian, heu ...

♥ Rumah lagi Rumah lagi .. bosan!!!

Poin ketiga ini tidak semua dialami IRT tampaknya. IRT yang memiliki kendaraan pribadi bisa melakukan aktivitas di luar rumah tentunya bersama krucil-krucilnya. Bagi yang senasib dengan saya, terlebih lagi dengan memiliki anak lebih dari 1, keinginan untuk beraktivitas di luar rumah seperti derita tiada akhir sampai akhirnya pak suami yang ngajak 'hangout' atau sejenis dinner. Selain itu? Just stay at home!!!

Eh tapi ya, sebenarnya bagi ibu muda yang masih memiliki 1 anak saja, jika ada keinginan seperti ini masih sangat memungkinkan lho. Hitung-hitung memperkenalkan anak dengan rutinitas sosial lainnya selain rutinitas di rumah. Untuk ibu beranak 2 atau lebih, bisa jalan-jalan saja keliling komplek atau mungkin main ke rumah tetangga. Hehehe

Selamat deh buat ibu-ibu yang tidak memiliki keinginan beraktivitas diluar rumah. Terlebih yang mampu menciptakan variasi aktivitas di dalam rumah bersama anak-anaknya. Saya pribadi baru bisa mengatasi keinginan ini dengan cara bermedia sosial untuk tegur sapa sama teman-teman saya yang sudah menyebar ke penjuru dunia (lebay). Selain itu saya belum berani membawa anak-anak tanpa suami. Khawatir mereka ngantuk dan saya tidak bisa menggendong balita ngantuk seumuran sekaligus. (nasib beranak kembar)

♥IRT itu Kucel bin Kumel

Tidak menjadi alasan memang untuk IRT berkilah tidak bisa tampil cantik. Karena dandan kan bisa dilakukan meski kita hanyalah seorang IRT. Tapi .... memang sangat jarang sekali IRT yang tampil rapi di rumah. Alasannya ya cuma 1, "kan ga kemana-mana".

Trus kenapa jadi 'derita'? Kan ga ada alasan untuk tidak dandan dan rapi?

Nah, 'derita' karena dilematis. Dilematis karena komenan orang sekitar. Ga dandan dibilang kucel, dandan dibilang centil. Tapi ini balik lagi sih ke pribadi kitanya. Jika ingin tampil rapi dan cantik, berhias lah meski hanya di rumah, terlebih untuk menyambut kedatangan suami pulang ngantor. Kalo ada rasa takut diledek tetangga, ya itu sih tergantung kita nya. Mau cuek atau ambil pusing. Jadi ga dilematis lagi kan...

Nah kalo udah rapi dan cantik, ga akan ngerasin lagi deh 'derita' jadi IRT yang sering dicap kucel bin kumel.

♥ Mau Beli Gincu berkualitas: suami says "Gincu kok mahal Amat!"

Lagi-lagi kasuistik. Ga semua ya IRT ga berpenghasilan. Terlebih jaman sekarang banyak IRT berpenghasilan dari rumah dengan usaha online. Tapi mau berpemghasilan or not, tetap donk kudu ijin ke suami kalo mau beli sesuatu. Seperti beli gincu alias lipstik. Menurut saya, tetap sih beda IRT yang beli gincu mahal dengan ibu bekerja yang beli gincu mahal. Kalo IRT kan suami bisa bilang gini "ga pake gincu kamu tetap cantik ko". Padahal itu cuma alibi suami aja biar ga beliin atau izinin istri beli gincu mahal. IRT kan kalo belanja rata-rata kudu bareng suami (biasanya). Nah kalo ibu bekerja kan selain suami ga tau harga gincu yang dipake istri karena istri belinya sama teman-teman kantornya, gincu berkualitas dibutuhkan biar ga cepat luntur dibawa beraktivitas seharian. (Gincu ga selamanya berwarna ya. Ada yang warna natural biar bikin bibir ga pucet).

Ya derita yang ini sih ge menderita banget sih ya ... tapi kalo semua item kebutuhan perempuan dikomenin mahal sama suami, kaya nya istrinya kudu bersabar. Hehehe.. dan nabung buat beli sesuatu yang berkualitas meski cuma 1 biji aja.

Udah dulu ah. Berawal dari mengaku bahagia lho kok jadi membahas derita ya akhirnya. Hahaha .. nah lho ketahuan kan kalo saya memanh sedang galau. Mohon dimaklumi ya .. dan mohon bimbingannya.

Untuk 'derita' IRT yang terpikirkan oleh saya baru 5 poin aja. Dan 5 poin ini subjektif banget ya. Saya ga bermaksud mengeneralisir. Hanya share saja buat seru-seruan dan biar tulisan saya nambah. Soalnya saya lagi belajar jadi blogger ya baik ceritanya. Hehehe.. terima kasih sudah mau membaca. Silahkan tambah ya derita yang lain di kolom komen. Kalo bisa sekalian buat mengatasi nya. Biar ga menderita lagi, hehehe ...

^^
BANDUNG
10 Agustus 2015

Belajar Memahami Hikmah dibalik Fitrah, bernama Lemah

Sabtu, 01 Agustus 2015

“Hakikatnya manusia itu lemah, maka kelemahan itulah yang sesungguhnya membuat kita semakin dekat padaNya ...”

Proses panjang perjalanan manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya belajar. Setelah ‘resmi’ menghirup udara dunia, ketika itulah manusia memulai belajar di dunia baru agar mampu bertahan. Perlahan-lahan, manusia kecil berusaha untuk memahami sesuatu yang memang harus dipahami. Memahami ketika ada rasa lapar, tangis lah satu-satu nya cara yang baru mereka ketahui agar orang tua pun tahu ingin mereka. Karena kala itu, bayi baru belajar sesuai dengan jatah mampu mereka saat itu. Seiring berjalannya waktu, dan seiring jejak sejarah yang telah tertapaki di setiap jenjang pendidikan, manusia pun pada akhirnya (harus) lebih banyak memahami sesuatu agar mampu bertahan.
Kemampuan untuk memahami sesuatu itu tentunya butuh proses belajar yang mendalam. Tidak hanya sekedar tahu dan hafal, tapi juga, paham. Semua orang tentunya tahu bahwa jam dinding menunjukkan kepada kita posisi waktu saat itu. Namun tidak semua orang memahami arti dari detik berlalu yang terus berdentang pada jam tersebut. Kemudian, setiap orang juga mengetahui satu per satu huruf abjad sehingga mereka pun mampu membaca dan menulis. Namun ternyata, tidak semua orang memahami hakikat dari membaca dan menulis yang sesungguhnya. Karena membaca dan menulis tidak hanya sebatas pada huruf, karena membaca dan menulis yang sesungguhnya ada pada indera yanng dipadukan dengan jiwa bernama iman.
Begitu juga dalam memahami kata bernama fitrah. Secara bahasa, fitrah artinya suci. Fitrah merupakan sesuatu yang memang sudah sebagaimana mestinya. Fitrahnya air adalah membasahi dan api membakar. Kemudian ada lagi sifat yang sudah menjadi fitrah sesuatu itu. Seperti dua contoh tadi, sifat air itu cair, dan api itu panas. Dan itulah yang menjadi fitrah sifat mereka.


Manusia, sebagaimana halnya air dan api yang juga merupakan ciptaan dari Dzat yang satu, memiliki sifat bawaan yang bernama fitrah. Salah satunya yaitu lemah.
Banyak hal yang menjadi bukti kelemahan manusia. Misalkan saja, ketidakberdayaan kita dalam mengontrol datangnya penyakit, kesulitan kita dalam mencari pekerjaan ataupun ketidaktahuan kita akan kecelakaan yang akan menimpa. Andaikan manusia itu kuat, pastilah mereka tidak mau ada penyakit yang menggerogoti tubuhnya, atau pastilah mereka akan dengan mudah memilih pekerjaan sekenanya, bahkan mampu menghindari kecelakaan dengan adanya kekuatan. Tapi, itu hanyalah perumpamaan, umpama manusia tahu apa yang tidak dia inginkan akan datang, menimpa atau mendatanginya. Inilah bukti manusia itu lemah.


Bagi seorang mukmin, tentunya dia sangat menyadari akan hakikat yang telah menjadi sunatullah ini. Hakikat akan kedekatan mereka yang lebih kepada Rabb nya ketika mereka mampu mengarahkan kelemahan tersebut berdasarkan landasan-landasan yang disuratkan Allah.


Landasan yang pertama, dalam menyikapi kelemahan kita, perlu dimunculkan keimanan. Keimanan akan berlakunya kekuatan Allah swt yang Maha Dahsyat. Karena Allah lah yang telah mentakdirkan lemah sebagai fitrah kita.


“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (QS. 4: 28)


Inilah suratan itu, dan Allah yang kuasa atas semuanya. Dan kita hanyalah makhluk nya yang lemah. Tidak setuju dikatakan makhluk lemah? Atau kita menolak untuk dikatakan lemah? Atau tidak senang, tidak suka atau lainnya karena yakin kita adalah makhluk yang sempurna?


“... boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu,padahal itu tidak baik bagimu. ...” (QS. 2: 216)


Ayat di atas mengisyaratkan sesuatu, bahwa harus ada penerimaan terhadap sesuatu yang belum kita mengerti apa maksudnya. Sebagai contoh, mungkin kita pernah merasa bingung dan bahkan nyaris putus asa ketika berbagai macam jenis usaha dan disempurnakan dengan ibadah beserta doa-doa, namun apa yang kita tuju tak kunjung tercapai. Tiba-tiba hati kita menjerit bertanya atau tepatnya menuntut “Ya Allah, apa lagi yang harus saya lakukan? Kenapa apa yang saya tuju tak kunjung saya dapat?” .... nah, ketika dalam kondisi seperti inilah biasanya titik puncak ujian terhadap kita terkait ayat di atas. Ketika kita memahami, bahwa Allah lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita, tiba-tiba juga kita merubah jeritan kita menjadi sebuah ketawakalan. “Ya Rabb .... ketika usaha-usaha beriring ibadah ini hamba lakukan semata-mata hanya untuk mencapai tujuan hamba saja, maka ampunilah hamba ya Rabb. Sesungguhnya semakin dekat dengan mu dengan uji yanng Engkau beri jauh lebih hamba harapkan.”

Ada ‘penglemahan’ diri, dan itulah titik nadir kita. Itulah posisi dimana Allah serta merta terasa sangat, sangat, dan sangat dekat. Tanpa tahu dan menduga ... pertolongan Allah pun datang. Bahkan melebihi dari apa yang kita harapkan. (lihat kembali QS. 4: 28 di atas)

“ Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. 94: 6)
Ini adalah kerja hati berbekal iman. Karena tidak semua orang kemudian mampu berada pada posisi seperti ini. Itulah tadi, karena tidak semua orang memahami. Dan pada akhirnya, hanya orang-orang yang sadar dan berimanlah yang akan semakin dekat dengan Allah dalam setiap sulit yang dihadapi. Karena mereka adalah orang-orang yang menyadari bahwa mereka adalah lemah. Tapi mereka memiliki Allah yang Maha Kuat yang akan selalu membantu mereka.

Kemudian, landasan berikutnya: munculkan ikhtiar terbaikmu, agar lemah mu mendekatkan mu pada Allah.
Sudah sangat akrab di telinga seorang mukmin ayat Allah yang berisi:
“... Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri ...” (QS. 13: 11)
Allah ingin menguji kita, akan selalu menguji, dari titik terlemah kita. Ketika kita berhasil melewatinya, ketika itulah kedudukan kita bergeser. Ketika kita gagal, maka Allah pun akan memberlakukan ‘remedial’.
Nasib dalam ayat ini tidak sebatas nasib yang berpatokan pada kesejahteraan materi, tapi lebih mendalam, sangat mendalam dari itu. Nasib disini merupakan pertaruhan akan kehidupan kekal kita. Karena pada hakikatnya, hidup di dunia merupakan pergulatan untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat. Jadi, ketika kita benar-benar telah membekali diri dengan keimanan yang kokoh, maka tidak akan ada ragu lagi, bahwa setiap detik dan langkah demi langkah kehidupan kita adalah dalam rangka menuju kehidupan akhirat. Menuju syurga atau nerakanya, itulah yang kemudian pilihan yang diberikan Allah. Dalam ayat ini, perubahan yang diberikan Allah adalah perubahan kepada arah kebaikan. Ketika kita menuju kebaikan tersebut, maka Allah yang akan membantu kita dan kemudian mengizinkan kita untuk bernasib baik di dunia dan di akhirat.
Kemudian, bagaimana dengan perubahan seseorang yang dulunya baik dan sekarang menjadi buruk? bukanlah Allah yang merubah nasibnya kepada keburukan itu. Karena sesungguhnya manusia lah yang memilih dan menjerumuskan diri nya pada jalan kesesatan itu.
Maha Mulia dan Pemurahnya Allah, ketika kita mendekat kepada Allah satu jengkal, Allah akan mendekati kita satu hasta (Hadits). Namun, ketika kita menjauhi Allah, sesungguhnya Allah tidak pernah menjauhi kita. Karena, andaikan Allah mencabut rahmatNya (karena menjauhi kita), sungguh, udara pun tak akan diberikan kepada kita untuk bernafas.
“Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 13)

Untuk itulah, bagi kita yang mampu memahami, memberikan ikhtiar terbaik adalah untuk sebuah kedekatan dengan Dzat yang dicinta. Memberikan ikhtiar yang terbaik bukan untuk pencapaian tujuan duniawi, melainkan tujuan ukhrawi. Karena pada hakikatnya, dunia akan mengikut ketika kita memiliki orientasi hidup dalam makna ukhrawi.

Ikhwahfillah, itulah hal bisa sedikit saya bagi, tentang pemaknaan yang belumlah mampu begitu mendalam tertuang dalam tulisan ini. Mendalamnya kepahaman bergantung pada diri kita masing-masing. Semakin kokoh keimanan itu, semakin bulat keyakinan itu, diikuti kesucian jiwa (Tazkiyatun nafs), ketika itu lah kita mampu melihat dengan bashirah. Karena sesungguhnya, Allah telah menganugrahkan pada sebagian manusia kemampuan untuk melihat sesuatu yang tidak mampu dilihat oleh manusia yang lain. Karena manusia-manusia itu memiliki pandangan dengan menggunakan mata Allah (Bashirah). Karena mereka, adalah orang-orang terpilih yang benar-benar mencintai Allah dan Rasulnya melebihi diri mereka sendiri.
“... Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, ...(QS. 5: 54)
Wallahu’alam bishowab. Afwan jika ada kesalahan dalam saya memaknai. Mohon diluruskan jika ada yang kurang tepat. Semoga bermanfaat.

Bandung, 12 Juni 2015