MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Kuantitas ASI: Cukupkah ASI ku?

Kamis, 02 Mei 2019
ASI (Air Susu Ibu) tentunya menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan bayi. Kampanye menyusui bayi secara ekslusif pun kerap digalakkan untuk memotivasi para ibu memberikan ASI sebagai makanan pertama bayi. Selain diyakini sebagai makanan terbaik untuk bayi, ASI juga dipandang mudah dan murah dalam hal penyajiannya jika dibandingkan dengan susu formula. Tapi apakah memang demikian?

Source: www.medela.com

Tantangan Meng-ASI-hi
Sebagai makanan yang melekat ditubuh ibu, kuantitas ASI tentunya sangat bergantung pada pola hidup sang ibu. Mulai dari pola tidur, pola makan dan juga manajemen waktu ibu. Dan setiap ibu tentunya memiliki tantangan masing-masing dalam usaha pemenuhan gizi bayi melalui ASI ekslusif (ASIX) di 6 bulan pertamanya ini.

Bagi saya pribadi, perjalanan memberikan ASIX untuk anak-anak-anak selalu berliku alias penuh drama. Saat ASIX si kembar, tantangan yang saya hadapi yaitu seputar hubungan pernikahan jarak jauh (LDM), drama menyusui tandem dan drama minimnya support keluarga baik secara psikis maupun fisik. Alhasil si kembar Zaid dan Ziad tidak memperoleh ASIX di 6 bulan pertama mereka.

Perjalanan ASIX Zaynab pun tak semulus yang diharapkan. Meskipun hanya satu bayi, ASIX Zaynab terancam gagal. Bukan karena LDR, tandem ataupun tak ada support. Melainkan karena faktor hidup dirantau yang menuntut saya harus mampu mengelola waktu agar memiliki gizi dan istirahat cukup. Jujur, saya agak pesimis.

Berdamai Dengan Idealisme
Melirik pada pengalaman terdahulu saat meng-ASI-hi si kembar, kondisi di perantauan tanpa bantuan siapapun (hanya saya, suami dan si kembar) membuat saya tidak begitu ngoyo untuk sukses ASIX Zaynab. Terlebih setelah Zaynab lahir tak semulus yang saya harapkan membuat saya lebih memilih berdamai dengan kondisi ideal yang diinginkan. Bukan tidak mau mengusahakan, hanya tidak terlalu ngoyo seperti jaman si kembar biar tidak stres juga. Begitu pikir saya.

Baca juga: Zaynab's Birth Story


Tapi tak disangka, apa yang tak terlalu diharapkan justru terwujud. Zaynab ternyata tidak mau minum susu formula. 11 hari di NICU tabungan ASI saya ternyata berlebih. Artinya, selama di NICU Zaynab 100% ASI. Meskipun demikian, saya masih tetap tidak mau ngoyo Zaynab harus ASIX. Kenapa? Karena saya tau diri kondisi tubuh yang kurang istirahat tentunya berpengaruh pada produksi ASI.

Sehingga, saya memutuskan untuk memberi susu formula kepada Zaynab ketika saya merasa produksi ASI menurun. Terlebih sepulang Zaynab dari NICU, saya tidak bisa pumping terjadwal lagi karena sang bayi sudah disisi. Artinya 24 jam akan saya lalui untuk menjaga dan merawat Zaynab plus menjalankan peran lain bagi si kembar dan suami. Tau sendiri kan gimana habits nya bayi baru lahir??? Dipadukan dengan urusan domestik rumah tangga di negara orang yang apa-apa semuanya sendiri.

Tapi apa yang terjadi? Zaynab menolak mentah-mentah susu formula yang dibekali pihak rumah sakit sepulang dari NICU. Tak hanya sekali dua kali saya suguhkan Zaynab susu formula. Bahkan saya membeli dot baru (sebelumnya saya pakai dot dari rumah sakit) berharap Zaynab mau mengisap susu formula dari dot baru tersebut.

Asumsi pun muncul. Oh mungkin Zaynab menolak susu formula, bukan dotnya. Akhirnya saya pun pumping lagi alakadarnya untuk melihat apakah Zaynab mau bottlefeeding. Hasilnya? Nihil. Zaynab ternyata tidak hanya menolak susu formula tetapi juga menolak dot.

Harusnya ini menjadi berita bahagia buat saya karena Zaynab cerdas memilih hanya direct breastfeeding. Artinya saya bisa terbebas dari resiko bingung puting dan gagal ASIX. Tapi untuk kondisi saat ini, pilihan Zaynab itu adalah ujian tersendiri buat saya.

6 Bulan Yang Menantang
Menyadari Zaynab memilih dengan sangat cerdas jenis makanan dan cara penyajiannya, membuat saya harus sadar gizi dan istirahat. Akhirnya, saya pun mulai membekali diri dengan makanan-makanan yang bisa menambah kuantitas ASI. Dan tentunya makanan-makanan tersebut adalah makanan yang saya suka dan membuat saya bahagia ketika memakannya.

Tak dinyana, memasuki usia 4 bulan Zaynab terkena eczema. Gejalanya sudah muncul sejak Zaynab usia 2 bulan. Saat itu saya langsung menghindari makanan-makanan pemicu alergi (alergen). Awalnya saya hanya menghindari seafood karena beranggapan Zaynab sensitif seafood faktor genetis dari saya karena saya alergi seafood juga. Namun ternyata, tak hanya seafood, Zaynab juga intoleran terhadap produk-produk turunan susu.

Jadilah usia 2 menjelang 3 bulan, saya menghindari makanan-makanan alergen tersebut yang notabene saya suka semua. Mulai dari ikan-ikanan, udang, susu, keju, coklat, kacang-kacangan, dan roti-rotian. Alhasil, pilihan makanan untuk milk booster saya berkurang donk kaaaaan.

Saya pun mengalihkan diri dengan pola makan sehat. Buah-buahan dan sayuran hijau. Dan memang cukup membantu menambah produksi ASI. Namun sayang, buah dan sayuran merupakan makanan tak tahan lama. Artinya, per 3 atau 4 hari sekali saya harus memperbarui bahan makanan tersebut.

Disinilah tantangannya. Butuh waktu khusus bagi suami saya untuk bisa menemani belanja kebutuhan tersebut (saya sangat menyesal tidak mengasah kemahiran mengendarai mobil saya). Dalam menunggu waktu senggangnya suami, bahan makanan tersebut terlanjut kosong. Dan saya hanya bergantung pada karbo dan protein saja. Sehingga di waktu-waktu inilah saya merasa produksi ASI seperti kejar tayang. Mau makan dan minum sebanyak apapun, saya tidak merasakan ASI yang berlimpah.

Itulah tantangan 6 bulan pertama yang saya rasakan.

Baca juga: Eczema Pada Bayi Usia 2-6 Bulan


ASI Berlimpah vs ASI Secukupnya
Melewati berbagai macan uji coba pola makan dan pola tidur, saya sedikit banyaknya belajar perihal ASI di tubuh saya sendiri. Kapan dia berproduksi dan kapan dia benar-benar kosong.

Awalnya saya berfikir payudara (PD) tidak tender (keras) artinya ASI sudah habis. Dan baru akan produksi setelah sudah habis. Sehingga ketika hendak menyusui Zaynab, saya kerap tidak percaya diri karena payudara saya sangat jarang terasa tender.

Namun Zaynab yang hanya ingin direct breasfeeding seolah memaksa saya untuk tetap menyodorkan PD tak peduli tender ataupun tidak. Dari berkali-kali pengamatan, akhirnya saya mulai bisa meyakini bahwa ASI ditubuh saya akan berproduksi ketika Zaynab mulai menghisap. Saat itu juga ada sensasi ngilu seperti air mengalir di PD yang saya rasakan saat Zaynab mulai menghisap PD.

Bagi saya hal ini merupakan pengalaman baru yang mematahkan mindset bahwa PD lunak artinya ASI habis. Selama bayi masih mau menghisap, artinya tubuh akan selalu mengirimkan sinyal ke otak untuk menginstruksikan ASI diproduksi oleh kelenjar ASI. Maka bisa dikatakan tidak ada istilahnya ASI habis selama kita masih makan dan minum dan anak mau menghisap.

Dari pengalaman inilah, saya bandingkan dengan pengalaman ibu-ibu lain yang menyusui juga, saya menyimpulkan ada tipe ASI berlimpah, ada yang tipe ASI cukup. Faktor yang mempengaruhi berlimpah atau tidaknya ASI tersebut juga beraneka ragam. Yang pasti, jangan langsung berkesimpulan PD tidak ada ASI hanya karena PD kita lunak, atau ketika dipencet tidak mengeluarkan ASI. Tetaplah percaya diri dan yakin bahwa ASI akan selalu diproduksi ketika ada permintaan, apakah lewat hisapan anak atau lewat pumping.

The Power of Pumping
Saya menyadari, tipe ASI cukup alias tidak berlimpah seperti saya sebenarnya cukup beresiko tekor ASI. Kenapa? Karena ada kalanya bayi tidak sabar menunggu aliran ASI naik dan deras yang menyebabkan bayi tantrum duluan sebelum ASI diproduksi. Disinilah letak pentingnya pumping.

Tadinya saya berharap bisa pumping terjadwal lagi terutama di malam hari. Namun kondisinya tidak semudah yang saya bayangkan. Pumping malah menambah beban kerja saya, mulai dari preparasi alat pumping, pumpingnya sendiri dan terakhir pembersihan alat pumpingnya. Sedangkan saya tidak bisa pumping saat Zaynab menyusu. Sehingga pumping bukanlah pilihan tepat untuk kondisi saya daat ini dalam meningkatkan kuantitas ASI. Karena yang terjadi ASI tetap saja pas-pasan dan hasil pumping pun tidak diminum oleh Zaynab meski menggunakan cupfeeder sekalipun.

Namun, saya sangat sepakat andaikan kondisi memungkinkan, saya ingin kembali memiliki pumping terjadwal agar produksi ASI saya tak lagi secukupnya melainkan berlimpah. Sehingga tidak perlu ada drama tangisan saat harus menunggu aliran ASI naik dan keluar dari PD.

GERD Mempengaruhi Produksi ASI
Memasuki usia 3 bulan, bayi mulai meningkat kemampuan hisapnya. Sehingga yang tadinya butuh 30-60 menit untuk menyusu bisa terpenuhi dalam 5-15 menit saja. Namun tidak semua bayi menyusu hingga mereka benar-benar kenyang. Ada tipe bayi yang menyusu dengan pola menyicil seperti halnya Zaynab.

Zaynab, memiliki asam lambung yang cukup tinggi. Sehingga di bulan pertama kelahirannya, Zaynab mengalami GERD. Yaitu gumoh yang berlebih bahkan lebih terlihat seperti muntah namun bukan muntah.

Baca juga: Aspirasi Mekonium


Kondisi inilah yang melatarbelakangi Zaynab hanya bisa menyusu sedikit demi sedikit dan harus berjeda. Dan pola ini sedikit banyaknya menyumbang drama naik turunnya produksi ASI saya. Kenapa? Karena ASI tidak pernah benar-benar dalam kondisi kosong. Sehingga produksi ASI selanjutnya tentunya sejumlah yang keluar tadi. Sedangkan tak lama berselang Zaynab sudah haus lagi. Makanya, PD saya tidak pernah tender karena ASI tidak pernah benar-benar kosong.

Hal ini pula yang melatarbelakangi saya memberikan dot untuk Zaynab agar saya bisa beraktivitas lain dan Zaynab bisa bottlefeeding dibantu si kembar atau abinya. Dan saya bisa melakukan pumping agar produksi ASI kembali normal. Namun harapan hanya tinggal harapan. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengikuti ritme Zaynab.

Alhamdulillahnya, memasuki usia 5 bulan GERD Zaynab mereda meski masih muncul sesekali. Dan tentunya pola menyusu Zaynab pun berubah lebih baik dan sekarang Zaynab mampu menyusu hingga sangat kenyang.

Perjalanan Belum Berakhir
Hakikatnya, kemudahan dan terjangkaunya 'harga' ASI sebanding dengan kesungguhan dan ketulusan seorang ibu dalam mengusahakannya. Bagaimana optimis disetiap tantangannya. Tidak mudah memang dan penuh liku. Apapun hasil akhirnya, ekslusif ataupun tidak. Dibantu formula atau pun tidak, tentu tak mengurangi rasa sayang dan cinta kasih kita.

6 bulan pertama bagi saya dan Zaynab. Alhamdulillah akhirnya terlewati sudah. 28 April kemaren Zaynab genap 6 bulan. Tak disangka Zaynab ASIX tanpa bantuan formula tentu semua kuasa dan takdir dari Allah ta'ala. Kita manusisa hanya berusaha. Allah jua yang menentukannya.

Tentunya perjalanan ini belum berakhir. Masih ada 18 bulan ke depan perjalanan meng-ASI-hi ini akan terjadi. Semoga happy ending ya Zaynab. Aamiin ya Allah ...

Columbus, 1 Mei 2019

Eczema Pada Bayi 2-6 Bulan

Sabtu, 20 April 2019
Gayung pun bersambut. Itulah yang saya rasakan. Allah izinkan saya menenangkan hati lewat cara yang tak bisa saya gambarkan dengan kata-kata.

Sebelum Eczema Menyerang
Pelipis Zaynab sudah berair tapi tidak menggagu aktivitasnya

Eczema Zaynab, Ujian Saya
Beberapa hari terakhir, saya memang kehilangan ketenangan jiwa dalam menghadapi eczema Zaynab. Hampir setiap hari saya menangis yang sedikit banyak berefek pada produksi ASI. Tentunya saya tidak mau kondisi ini terus menerus berlarut.

Zaynab terindikasi eczema di usia 2 bulan. Namun baru memperoleh diagnosa dokter di usia 4 bulan. Dari usia 4 bulan hingga sekarang 16 hari menjelang usia 6 bulan (tulisan ini masuk draft tanggal 12 April 2019), sepuluh hari terakhir adalah hari-hari yang cukup berat untuk saya karena Eczema Zaynab semakin parah.

Awal Mula curiga Eczema
Tapi belum terdiagnosa

Kita pasti akan memperoleh ujian hidup dari Allah. Dan hal utama yang selalu saya damba ketika memperoleh ujian adalah Allah karuniakan saya ketenangan jiwa dalam menghadapinya. Termasuk ketenangan jiwa yang tak perlu merasa permasalahan saya lebih berat dari permasalahan orang lain. Alias saya bisa selow dan let it flow ...

Membuka Mata, Temukan Inspirasi
Perlahan tapi pasti. Allah menggiring saya dalam pikiran melalui penglihatan saya akan sebuah kesyukuran dan keikhlasan dalam menjalani hidup melalui orang-orang disekitar saya. Dan bagi saya, tidak mudah memperoleh inspirasi dari sekitar mengingat saya agak sedikit sulit menerima masukan atau sejenisnya ketika menghadapi masalah.

Belajar dari pengalaman hamil lalu, ketika saya merasa putus asa dalam menjalani kehamilan saya yang cukup berat, Allah tunjukkan secara langsung beberapa orang teman yang diuji sulit memperoleh keturunan. Ya! Di waktu yang berdekatan dengan dirawatnya saya di rumah sakit, 4 orang teman saya mengalami keguguran. Saat itu rasanya saya dipenuhi rasa berdosa dan kebodohan yang teramat sangat karena sempat berfikir yang macam-macam akan kehamilan saya.

Tidak mau menjadi orang bodoh lagi, untuk ujian eczema nya Zaynab ini, saya berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuka mata terus menerus agar bisa memetik hikmah dari orang-orang sekitar saya. Mereka adalah inspirasi saya. Semoga Allah mengirimkan kemudahan bagi mereka atas setiap masalah yang mereka hadapi. Aamiin.

Sebelum insiden berdarah
Pelipis mulai merah karena mulai digesek dan digaruk

You Never Walk Alone!
Alhamdulillah, saya bukanlah satu-satunya orang yang tengah berjuang menjalankan ujian hidup. Setiap manusia pasti memiliki ujian sendiri-sendiri. Dan Allah perlihatkan satu persatu orang-orang yang dengan tegarnya menjalani ujian hidup yang menurut saya jauh lebih berat dari apa yang saya alami saat ini.

Diantara mereka, ada yang sedang bersabar menanti perkembangan pencernaan anaknya, berjuang merawat batitanya yang eczema di saat sedang hamil tua, dan ada yang terkaget mendapati anaknya terkena impetigo. Melihat bagaimana mereka mengelola emosi dalam menghadapi permasalahan ini membuat saya tersentak untuk tidak berputus asa atas rahmat Allah ta'ala.

Meskipun berat dan sudah saya coba terus menerus mengingat esensi dari sebuah ujian adalah keikhlasan dan kesabaran. Namun tetap pada prakteknya sungguh sangatlah berat. Yang awalnya saya optimis bisa berlapang dada dan tegar menjalani kehidupan ke depan setelah mengetahui Zaynab terkena eczema, baru 1 bulan berjalan saya berasa ambruk. Astaghfirullah.

Naik turunnya rasa optimis ini memang manusiawi. Hanya saja saya khawatir, sikap yang saya ciptakan dalam menghadapi masalah ini menggiring saya jadi pribadi yang menolak informasi, nasehat ataupun interogasi dan intervensi. Kenapa bisa begitu? Karena saya sepertinya masih berjuang untuk bisa menerima kondisi yang sedang saya hadapi sekarang. Alias belum 'acceptance'.

Pasca insiden berdarah
Kondisi masih ramah mata seolah tidak kena eczema
Perhatikan tangan Zaynab. Itu eczema

Saya pun mencoba melihat kembali pengalaman pribadi saya menjalani amanah bersama anak-anak yang speech delay. Saya yang saat itu lebih sering berputus asanya ketimbang optimisnya tidak ingin masuk ke dalam situasi serupa untuk saat ini. Saya sangat menginginkan diri ini memiliki sikap optimistik dalam menjalankan amanah baru ini. Karena berputus asa dari rahmat Allah tentulah tidak baik. Dan saya masih terus belajar.

Agar tidak berlarut dalam masalah dan merutuki kegelapan, saya pun memberanikan diri untuk berbagi secuil tentang eczema dari sudut pandang saya. Entahlah akan bermanfaat entahlah tidak. Saya niatkan tulisan ini untuk menghibur para orang tua lain yang barangkali sedang berjuang merawat bayi eczema.

Fakta-fakta Eczema Pada Bayi
Ketika eczema menimpa orang dewasa, kesadaran untuk menggaruk dan konsekuensi setelahnya tentu sudah ada. Berbeda dengan bayi, yang belum mengerti apa-apa melainkan hanya menggaruk dan menggaruk.

Saat tummy time masih bertahan tanpa menggaruk

Uniknya, eczema menstimulus kemampuan menggaruk Zaynab lebih cepat dari bayi-bayi yang lain ๐Ÿ˜…. Usia 2 bulan Zaynab sudah bisa menggaruk dengan nikmat dan khusyu. Sehingga, sejak hasil garukannya memperparah kondisi kulitnya, pembendongan terhadap Zaynab lebih digiatkan.

Fakta lainnya eczema pada bayi yaitu, terbatasinya kebebasan eksplorasi bayi terhadap sekitar. Kenapa? Karena distraksi rasa gatal yang disebabkan oleh eczema. Dan salah satu cara yang bisa kita lakukan agar anak tetap bisa eksplor untuk melancarkan stimulusnya, dengan mengikuti ritme tubuh dan ketertarikan yang anak tunjuki. Untuk Zaynab, sejak usia 4 bulan dia sudah sangat senang eksplor dengan di tatah ๐Ÿ˜…. Ga usah ngomong tahap perkembangan ya ... pliiiis!

Fakta dibalik pemotretan Zaynab
Ruk garuuuuuk

Nah, karena hal ini lah akhirnya ibu dengan anak eczema harus sangat sadar diri bahwa dirinya kekurangan waktu untuk melakukan aktivitas rumah tangga lainnya. So, jangan tanyakan kapan me time ya ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜…. Jawabannya, nyaris ga ada. Jadi ya harus legowo dan lapang dada meskipun tentunya itu sulit ๐Ÿ˜ฅ.

Penyebab Eczema
Berdasarkan penjelasan dokter yang menangani Zaynab, eczema hingga saat ini belum diketahui apa penyebabnya. Tapi eczema muncul karena faktor alergi yang dimiliki oleh seseorang. Dan hal ini berdampak pada pengobatan untuk penderita eczema ini. Sehingga seringnya obat penderita satu dengan yang lainnya bisa jadi berbeda.

Berdasarkan info lain yang bertebaran di rumah nya Om Google, eczema disebabkan oleh faktor alergi. Namun karena alergi itu sendiri tidak diketahui penyebabnya apa, maka eczema pun tidak diketahui apa penyebab pastinya. Dokter hanya menyampaikan bahwa eczema adalah faktor lucky atau unlucky nya kita ๐Ÿ™„. Oke baiklah ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚ Zaynab lagi kurang beruntung nih ๐Ÿ˜

Ciri-ciri Eczema Muncul
Untuk kasus Zaynab, sensitifitas kulit Zaynab sudah terlihat pasca Zaynab keluar dari NICU. Terutama setelah rambutnya dicukur. Kulit Zaynab langsung berubah berkerak terutama bagian kepala dan pelipis dekat telinga. Khusus pelipis juga disertai cairan bening yang terkadang mengering terkadang basah.

Setelah kami konfirmasi, dokter menyatakan bahwa hal di atas bukanlah gejala dari eczema. Namun dengan gejala di atas, eczema yang memang sudah ada di tubuh Zaynab ke trigger. Dan kondisi diperparah setelah Zaynab mulai bisa menggaruk.

Penanganan Yang Dilakukan
Saya berfikir permasalahan kulit Zaynab tadinya hanyalah permasalahan kulit bayi yang biasa terjadi. Sehingga saya hanya mengoles-oles mineral oil (baby oil) setiap kali Zaynab beres mandi. Hal ini saya lakukan sudah atas saran dokter saat appointment 1 bulan. Appointment 2 bulan, kulit kepala Zaynab terlihat perubahan. Tapi tidak untuk wajah sehingga Zaynab dianjurkan petrolleum jelly untuk wajah dan badannya. Selain itu, dokter memberikan resep moisturiser cream tambahan.

Menjelang usia 3 bulan, wajah Zaynab jadi sering memerah terutama setelah terpapar udara luar yang memang sedang dingin. Saya sudah curiga kalau Zaynab alergi dingin seperti saya. Sempat terlintas eczema tapi saya coba tepis dan saya pun sebenarnya tidak terlalu paham apa itu eczema. Saya berfikir wajah Zaynab hanya akan memerah seperti halnya reaksi kulit saya terhadap udara dingin.

Masih ramah dilihat ya fotonya

Jadwal appointment selanjutnya masih 1 bulan lagi, yaitu appointment 4 bulan. Sehingga saya menyabar-nyabarkan diri untuk menindaklanjuti kondisi kulit wajah Zaynab ini. Tapi qadarullah, 1 minggu menjelang appointment, wrap Zaynab berhasil dia lepas saat saya sedang tertidur pulas. Dan saat saya bangun, setengah wajah Zaynab sudah dipenuhi darah ๐Ÿ˜ญ.

Kondisi inilah awal mula memburuknya eczema Zaynab. Kondisi saat itu tidak memungkinkan saya membawa Zaynab walk in appointment. Sehingga sekitar kurang dari 1 minggu kulit Zaynab hanya saya treatment biasa. Sempat berfikir mau kasih Betadine sebagai antiseptik tapi saya khawatir. Jadilah hanya di kompres dan memastikan tangan Zaynab tidak menggaruk lagi.

Zoom out 1
(Bagian ini sekarang melebar ๐Ÿ˜ข)

Akhirnya, saat appointment 4 bulan, dokter bilang memang benar Zaynab terkena eczema dan kulitnya sudah infeksi. Jangan tanya gimana perasaan saya. Rasanya udah kebal ngadepin kaya ginian sepanjang hamil, lahiran hingga sekarang ngerawat Zaynab lucu ini ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜. Cuma bisa bilang la hawla walakuwwata illabillah ..

Jadilah Zaynab diresepkan hal berikut ini:
1. Antibiotik oles 1%
2. Antibiotik minum untuk 10 hari
3. Cerave sebagai moisturiser creamnya

Zoom out 2
Bagian ini warnanya selalu merah pekat
(2 aja zoom out nya ... ga tega saya ๐Ÿ˜ญ)

Lalu ...
Seharusnya, Zaynab diminta kembali ke dokter minggu depannya. Tapi karena Abinya sedang ke Indonesia dan ZaZi sekolah, jadilah baru 2 minggu setelahnya kita kembali untuk pantau eczema Zaynab.

Di appointment ini, Zaynab diberi treatment baru lagi.

1. Antibiotik oles 1%
2. Hydrocortisone max strength 1% untuk pemakaian 5 hari.

Alhamdulillah di hari ke 5 kondisinya membaik. Tidak merah lagi. Tapi dihari ke 6 kembali berair dan hari ke 7 kegaruk dan kembali memerah, merah dan merah.

Tampak depan
Gabungkan 2 gambar sebelum ini
Itulah penampakan Zaynab sejak 10 hari terakhir

Akhirnya saya buat appointment lagi dan dapet tanggal 12 April. FYI, setiap kali appointment, dokternya selalu berbeda. Entah mereja baca entah tidak riwayat pasien. Saya berhusnudzon saja. Dan di appointment yang ini, Zaynab diberi resep baru lagi.

1. Antibiotik oles 2% (sebelumnya 1%)
2. Antifungus 1%
3. Steroid oil yang hingga tulisan ini dibuat, obat ini belum di approve pihak asuransi.

Sehingga, dari tanggal 12 April lalu, hingga hari ini 19 April (seminggu), Zaynab masih menjalankan treatment yang belumlah ideal.

Kondisi Saat Ini
9 hari menjelang Zaynab berusia 6 bulan. Kondisi eczema belum membaik malah semakin melebar. Ketika menuliskan ini sesak didada masih sangat terasa. Tapi saya harus mampu mendokumentasikan perjalanan eczema Zaynab ini agar saya tidak lupa treatment apa saja yang sudah ditempuh. Dan tentunya saya berharap Zaynab segera menemukan penanganan dan pengobatan yang cocok.

Tangan diikat
Pelipis merah berair

Ingin mengeksekusi pengobatan ala Dr. Aron yang dituliskan reviewnya oleh teman saya. Tapi kondisi saat ini belum memungkinkan menempuh ikhtiar tersebut karena alasan yang tidak bisa saya sebutkan disini.

Cara membahagiakan diri

Curhat boleh ya ...
Dengan kondisi tangan yang sering diikat atau di wrap, kesempatan Zaynab untuk tengkurap menjadi sangat sedikit. Dan juga, saat Zaynab sedang asik bermain, tiba-tiba rasa gatal mengganggu dan mengalihkan semuanya.

Jujur, kondisi tersebut membuat iba rasanya hati ini. Tapi beginilah amanah yang saat ini Allah ta'ala percayakan kepada keluarga kami.

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon ketulusan dan keridhoan teman-teman untuk mendoakan kesembuhan Zaynab. Semoga Allah segera angkat rasa gatalnya. Pulihkan kondisi kulitnya. Sungguh, rindu rasanya menciumi wajah Zaynab tanpa takut menyakiti dia.

Saya tau, cobaan ini mungkin belumlah seberapa dan tak patut dicurhati apalagi dikeluhkan. Doakan saya kuat dan ikhlas menjalani semua ini seperti halnya orang-orang terdahulu yang ikhlas dan tetap bersyukur atas rahmat Allah ta'ala.

Columbus, 19 April 2019

NB:
Sejak keluar usia 2 minggu hingga 2 bulan, Zaynab wajahnya memang sudah memerah dan berair tapi mereda sendiri. Menjelang 3 bulan bagian pelipis yang berair mulai memerah.

Sebelum tragedi berdarah, Zaynab rutin saya pakaikan minyak kelapa di kepala dan wajah yang memerah. Kulit yang kering saya balur cream pelembab khusus. Wajah yang berair saya oles cream dari dokter. Saya tidak terlalu memperhatikan apa saja yang saya gunakan. Mungkin disitulah letak kesalahan saya.

23 Februari 2019 tragedi berdarah
5 Maret appointment 4 bulan Zaynab plus konsul kondisi kulit
21 Maret cek eczema Zaynab
12 April cek eczema juga
25 April saya akhirnya bikin appointment lagi karena kondisi makin tak terarah. Sedangkan obat belum juga di acc insurance hingga saat ini

Semoga perjalanan ini segera menemu titik terangnya. Aamiin ...


3 Alasan Ibu Si Kembar Boleh Marah

Selasa, 02 April 2019
Siapa yang ga pernah marah? Tampaknya semua manusia pernah marah ya. Bahkan anak kecilpun bisa marah dengan cara mereka sendiri. Ada yang marah dengan menangis, marah karena ga dikasih benda kesayangannya misalnya. Ada juga yang marah dengan ngambek karena ga jadi di bawa ke taman bermain favoritnya. Hihihi, macem-macem deh kalo anak kecil. Nah, gimana nih marahnya kita orang dewasa?


Marah sebagai reaksi alami dari dalam tubuh manusia atas sesuatu yang membuat hati gelisah dan bergemuruh memang merupakan suatu hal (emosi) yang biasa. Namanya juga reaksi alami, jadi ya wajar kan ada karena udah bawaan manusia alias sunatullahnya kalo manusia itu punya rasa marah.

Menurut orang-orang di dunia psikologi, marah itu  
"reaksi emosional akut yang ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang, semisal ancaman, agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan, atau frustrasi, dan dicirikan oleh reaksi kuat pada sistem syaraf otonomik, khususnya oleh reaksi darurat pada bagian simpatetik; dan secara implisit disebabkan oleh reaksi serangan lahiriah, baik yang bersifat somatis atau jasmaniah maupun yang verbal atau lisan". (Sumber disini). 

Ngerti ga? Ga! Hahahaha. Saya juga ๐Ÿ˜†. Gegara ngeliat banyak istilah. 

Tapi ya intinya marah itu ada rangsangan sebelum akhirnya ada serangan hihihihi. Rangsangannya bisa berupa ancaman, pengekangan diri, serangan lisan, kecewa, frustrasi. Sedangkan serangannya bisa berupa serangan lahiriah seperti memukul ataupun secara verbal lewat ucapan. Kebayang kan ya. Ya harus. Lha wong pada pernah marah semua wkwkwkwkwk ✌๐Ÿ˜†

Marah dalam konteks hubungan antara orang tua dan anak, tampaknya seperti sebuah lingkaran setan. Jika si A dibesarkan oleh orang tua yang pemarah, maka 90% si A akan tumbuh menjadi anak yang pemarah juga. Seperti yang dilansir media Republika tentang pewarisan sifat marah dari orang tua ke anak berdasarkan riset terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Development and Psychopathology, di Amerika Serikat. 

Jadi seperti ada mata rantai yang siap menurunkan marah sebagai sebuah tabiat, kebiasaan atau bahkan tradisi. Maka tak heran kalo banyak yang bilang marah itu genetis. 


Hmmm ... berdasarkan hasil riset di atas, marah genetis namun faktor lingkungan jauh memiliki andil lebih besar ketimbang faktor genetis itu sendiri. Tak peduli orang tua yang membesarkannya adalah orang tua kandung atau tidak, sifat pemarah akan bisa diturunkan.


Berhubung saya bukan pakarnya, tak usahlah kita terlalu membahas secara teoritis apakah marah itu genetis atau tidak. Sini sini sini ... Kita bahas saja apa yang kita rasakan (kita? Gue aja kali ... :P)

Polemik buat saya memang tentang marah ini. Nyaris sepanjang tahun 2014 hingga 2016 saya habiskan waktu untuk menggali apa penyebab saya marah. Memang 2 tahun bukanlah waktu yang spektakuler lamanya. Namun akan jadi spektakuler jika dalam 5 tahun masa keemasan anak-anak, hampir 50% nya saya 'nodai' dengan ma ma ma rah marah ... kata trio kwek kwek ... :'( hiks. 

Genetis? Bisa jadi. Karena memang saya memiliki Ayah yang tempramen dalam mendidik anak-anaknya. Ayah saya menurun dari siapa? Konon kata Papa, Kakek saya juga pemarah sehingga gelar beliau pun Dt. Rajo Marah (dan sampe sekarang saya ga tau ini bener apa ga #lol). Jadi?

Hubungan sebab akibat sepertinya menjadi hubungan yang pasti - saling mengaitkan kehidupan manusia. Misal, sebab Allah ciptakan manusia makanya ada kehidupan. Eh terlalu luas ya. Hmmm ... jika dikaitkan dengan hubungan orang tua dan anak seperti ini misalnya, sebab anak rebutan mainan makanya orang tua marah. Artinya yang menjadi penyebab adalah anak, yaitu anak rebutan mainan. Sehingga solusi yang harus kita temukan adalah bagaimana caranya agar anak tidak rebutan mainan?

Mem-break down faktor-faktor penyebab marah ini memang tidak segampang rumus KPK dan PBB di mata pelajaran matematika SD. Perlu tambahan ilmu donk di dalamnya sejenis ilmu psikologi anak. Hahahaha ... yang pada akhirnya memang mengantarkan kita pada rangkaian pembelajaran tiada henti. 

Yup!!! Menjadi orang tua artinya menjadi pembelajar sejati. Pembelajar seumur hidup, tiada henti! Biar kata kita kuliah S3 dibidang komunikasi, atau bidang pertanian, kenegaraan atau bidang lain diluar bidang anak-anak, tetap saja, ketika menjadi orang tua, ilmu wajib yang harus kita gali adalah ilmu terkait pengasuhan atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah Parenting. 


Berdasarkan pengalaman saya yang tentunya masih cetek ini, saya akhirnya memetik pelajaran dari perjalanan marah memarahi anak ini pada sebuah  kesimpulan bahwa saya merupakan ibu dan orang tua yang 'menghalalkan' memarahi anak. Marah yang seperti apa? Marah yang beralasan tapi bukan alasan  yang dibuat-buat.

๐ŸŒทMarah saat anak tidak berhenti berantem

Banyak sekali faktor penyebab marahnya orang tua. Ditambah faktor internal semakin menjadi-jadilah pembenaran terhadap marah yang sudah mulai bergumul di dada. Dan saya termasuk orang tua yang disinilah tantangannya, untuk bisa memilah dimana marahnya kita kepada anak sebagai usaha meluruskan kesalahan, bukan sebagai pelampiasan kekesalan. Jadi alamiahnya, orang tua yang sedang banyak pikiran banyak masalah pasti akan mudah terpancing emosi. 

Alih-alih memikirkan step by step meredam emosi saat anak mulai bertingkah, yang ada kepala semakin terasa panas. Apalagi seperti saya yang harus menghadapi anak kembar #curhat ๐Ÿ˜†. Jadi hal yang paling saya ingat kalo sudah dalam kondisi darurat seperti ini adalah, fokus pada kesalahan anak. Bukan pada kepelikan situasi kondisi. Sekali, dua kali dan tiga kali diberitahu mereka masih belum paham, saya mulai tenangkan diri dengan kalimat penutup "Solve your problem guys!"

๐ŸŒทMarah saat anak melanggar kesepakatan yang dibuat

Sebagai orang tua yang sangat lemah dalam kontrol marah, saya memang membuat kesepakatan dengan anak-anak tentang apa saja yang membolehkan saya marah. Seperti contoh kasus di atas. Saya boleh marah jika mereka berantem sudah keterlaluan dan tidak mengindahkan perkataan saya sebelum pada akhirnya  saya marah. 

Kesepakatan 'kapan boleh marah' ini juga  saya berlakukan untuk mereka kepada saya dan suami. Seperti mereka boleh marah jika saya atau suami becanda keterlaluan sedangkan mereka sebelumnya sudah bilang ga mau becanda. 

Jadi marah disini lebih mengarah pada ketegasan sikap bahwa kita benar-benar serius ditengah becanda yang kadang kita suka berlebihan. Maklum, kami sekeluarga doyan becanda dan doyan iseng. Dan kami juga suka bete sendiri kalo becanda dan iseng keterlaluan apalagi jika terjadi di momen yang kurang tepat.

๐ŸŒท Marah saat anak melanggar batas-batas permainan fisik

Namanya anak laki-laki, aktivitas fisik sudah bagian dari diri mereka. Sehingga seringkali mereka bermain dan becanda terlewat batas dan secara tidak sengaja kehilangan kontrol kekuatan fisik. Seperti tidak sengaja menendang, memukul, atau mencolok.

Dalam hal ini saya berhak marah sebagai efek jera atas aktivitas fisik (becanda) berlebihan yang mereka lakukan. Dalam hal ini saya mencoba memberikan mereka pemahaman atas sebab akibat dari apa yang mereka lakukan dan apa akibatnya. Maklum, anak kembar ini belum percaya kalo belum mengalami sendiri. Meski udah dibilangin "hati-hati mainnya ga ketendang perut, kepala dan pantat ya". Mereka jawab iya kompak dan tak berapa lama ada yang nangis ๐Ÿ˜….

Baca Juga: Ruangan untuk Marah

Dari tiga hal di atas terlihat jelas ya kalau perkembangan ZaZi saat ini memang musingin ala anak TK. Anak TK laki-laki yang terlalu kecil untuk bisa memahami utuh apa yang kita sampaikan, nasehatkan dan maksudkan. Tapi juga terlalu besar untuk dibiarkan dan dimaklumkan.

Saya tidak menafikkan bahwa menjadi orang tua sangat kecil kemungkinannya kita terhindar dari sifat pemarah ini. Yang bisa kita lakukan adalah, meramu sedemikian rupa apa saja yang menjadi tabiat kita sekeluarga terkait sifat marah ini.

Nah, berdasarkan tabiat keluarga saya yang memang 'khas' marah ngomel-ngomel, saya meramu agar marah tak menjadi penyesalan dan anak paham kenapa kita marah.

๐ŸŒธBerani jujur
Sampaikan sejujurnya jika kita keceplosan marah pada anak padahal bukan mereka penyebab marahnya kita.
๐ŸŒธBercerita
Ceritakan kepada anak proses terjadinya marah pada diri kita. Apakah karena rumah berantakan atau karena Abi kurabg perhatin ๐Ÿ˜†✌.
๐ŸŒธDiskusikan
Carilah cara terbaik sehingga marah menjadi problem bersama yang harus diselesaikan secara bergotong royong.
๐ŸŒธBerlapang dada
Terima dengan lapang dada jika salah seorang dari anggota keluarga mengingatkan kita untuk tidak perlu marah untuk hal tertentu.
๐ŸŒธBerangkulan
Berpelukan dan berangkulan menjadi ramuan penetralisir suasana yang kadung mencekam karena kemarahan yang membara.
๐ŸŒธIstighfar
Cara terbaru yang sangat mudah diterima Zaid dan Ziad karena mereka sedang on fire tauhidnya. Masha Allah Tabarakallah

Dengan 6 hal di atas akhirnya saya, Zaid dan Ziad sebagai korban penularan genetis marah di keluarga ini, terus menerus saling mengingatkan akan kesungguhan kami untuk mengontrol diri agar tidak marah yang berlebihan apalagi hingga bermain fisik. Sehingga, kalaupun salah satu diantara kami kehilangan kontrol diri, maka 6 ramuan di atas harus segera diminumkan agar emosinya terselesaikan.

Begitulah sedikit cuap-cuap pengalaman soal marah. Saya berharap kami sekeluarga bisa bertumbuh dalam suasana aman damai sentosa tanpa marah ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜.

Columbus, 1 April 2019

Romantisme Menulis

Senin, 04 Maret 2019
Sudah lama rasanya tidak menulis lepas bebas terhempas puas!!!!!! Mumpung memasuki pekan bertema di 1minggu1cerita (1m1c), maka saya membebaskan diri untuk menulis apapun sesuka hati tapi tetap sesuai tema. Bisa ga ya ....

Meskipun sampai saat tulisan ini diketik, saya belum tau akan menulis apa. Ya beginilah ciri-ciri kalimat pembuka ketika ingin menulis sesuai tema, tapi tidak memiliki ide cerita ๐Ÿ˜†✌.


Tema 1m1c pekan ke 10
Tema 1m1c kali ini adalah Romantis. Ketika membaca tema ini, saya langsung berfikir kayanya tema ini akan sangat menggetarkan jiwa para pemuda pemudi yang tengah menanti pujaan hati belahan jiwa nih. Eh tapi bukan berarti ibu-ibu muda penuh karya (plis jangan eneg ya) kaya saya ini tidak bergetar jiwanya ketika membaca kata romantis ini ya. Hanya saja saya merasa agak gimanaaa gitu kalo menceritakan hal-hal romantis terutama terkait dengan pasangan. Romantisme dengan anak? Wah semua tulisan di menu ini adalah wujud romantisme saya dengan anak-anak-anak. KLIK aja! ๐Ÿ˜†

Okeh, kembali lagi tentang kata 'romantis' yang menggetarkan jiwa para muda mudi. 

Bergetar jiwa maksud saya disini yaitu seolah ada koneksi yang terjadi saat suatu kata tertentu (dalam hal ini kata 'romantis') muncul, baik dengan dilihat atau didengar. Sehingga membuat seseorang merasa 'lebih tercurah limpahkan' segalanya tatkala mendengar atau membaca kata tersebut lewat sebuah tulisan, perkataan atau perbuatan. Dengan kata lain, biasanya akan muncul ide hendak menuliskan, berbicara atau melakukan apa.

Tapi wait! Sebenarnya apa sih definisi romantis ini?

Berdasarkan baca-baca sepintas lalu ala emak-emak yang saya lalukan barusan (banget), kata romantis ini atau dalam bahasa inggris ditulis romantic berasal dari kata romance. Romance atau Romans sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk jenis karya sastra dan seni pada abad ke 17 atau 18 yang menggunakan bahasa Roman. Rumpun bahasa Roman sendiri berkembang dari bahasa latin yang sekarang bisa kita lihat di bahasa Prancis, Spanyol, Itali, Rumania dan Portugis. 

Lalu apa hubungannya dengan getar-getar jiwa muda mudi? 

Karena karya sastra dan seni abad ke 18 ini selalu bercerita tentang cinta dan perasaan, maka pada tahun-tahun selanjutnya, makna kata Roman pun selalu diasosiasikan pada hal-hal terkait cinta dan perasaan. Maka tak heran jika kita mendengar kata roman atau romantis, tiba-tiba hal-hal terkait percintaan muncul di otak. Karena memang definisi yang terbentuk tak jauh-jauh dari perasaan, cinta, fantasi, ataupun hal-hal yang mengasyikkan (ini kata KBBI ya).

Definisi Romantis versi Saya
Mendefinisikan kata berdasarkan apa yang kita rasa lalu dicitrakan oleh indra ataupun pikiran kita, sah-sah saja jika saya membuat definisi atau padanan kata sendiri kan? Kan ceritanya saya mau nulis bebas suka-suka ๐Ÿ˜† #ngeles

Dalam menggunakan kata romantis, bukanlah sebuah hal aneh jika asosiasi kata romantis ini tertuju pada orang-orang terdekat yang kita cintai. Karena memang pada perjalanannya, kata romantis memang disematkan pada sebuah hubungan antar manusia satu dengan manusia yang lain. Seperti yang saya sebutkan di atas, romantisme dengan pasangan atau romantisme dengan anak.

Sedangkan dalam tulisan kali ini, saya hendak mendefinisikan kata romantis sekemau saya ๐Ÿ˜…. Lalu memberikan padanan kata versi saya, dimana romantis tak hanya relasi antara manusia saja. Romantis, bisa diperluas dengan melihat getaran lain sebuah hubungan. 

Selagi masih melibatkan perasaan dan cinta, maka kata romantis ini pun bebas dipadankan dengan apapun. Semisal hubungan manusia dengan pekerjaanya yang melahirkan romantisme dalam bekerja. Atau manusia dengan hobi atau perjalanan hidupnya yang melahirkan romantisme manusia dalam membersamai hobi atau hidupnya.

Menulis dan Blog
Rutinitas menulis, saya yakini memiliki romantisme tersendiri yang tercipta antara si penulis dengan karyanya. Bagaimana sebuah ide yang berseliweran di otak ditangkap lalu dituangkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah karya tulis seperti yang saya lakukan saat ini.

Terkesan mudah, tapi pada kenyataannya sulit (bagi saya). Bagaimana sebuah tulisan utuh berhasil dicipta melalui teknik ketik-delete-ketik lalu baca dan kemudian berulang lagi ketik-delete-ketik. Setelah selesai pun ada proses revisi yang dilakukan jika ternyata tertangkap mata ada kata yang salah ketik atau tak enak dibaca.

Proses seperti inilah yang menurut saya menjadi hubungan romantis antara saya dengan tulisan saya. Tak peduli bagaimana hasil akhinya, kenikmatan membersamai ide dan merangkainya dalam bentuk kata lalu kalimat dan kemudian paragraf, sudah lebih dari cukup. Apresiasi pihak luar hanyalah sebatas bumbu tambahan.

Ibarat rumah tangga, orang lain akan melihat bahagia jika kita dan pasangan kita terlihat bahagia. Meskipun mereka tidak pernah tau bagaimana kenyataannya. 

Menjadi tidak cukup penting bukan sebuah pandangan apresiasi pihak luar?

Tapi, ketika menulis di blog seperti yang saya lakukan saat ini adalah sebagai salah satu usaha saya meningkatkan kredibilitas misalnya, maka apresiasi itu penting. 

Seperti halnya para motivator pasangan muda yang harus sangat bisa menjaga hubungan dengan pasangan untuk sebuah reputasi di mata publik. Dengan kata lain, demi karir ๐Ÿ˜. Menulis blog pun bisa jadi demikian juga ๐Ÿ˜†.

Romantisme Menulis
Pada akhirnya, semua kembali pada niatan masing-masing hati kita. Toh tidak ada yang benar dan yang salah dalam hidup ini. Semua relatif. Meskipun kata orang-orang positivisme atau aliran seberangnya memandang orang seperti saya seperti tidak berpendirian. 

Ya sudahlah ya, ga usah bahas lebih lanjut. Tulisan ini hanyalah cara saya membahagiakan diri dalam memerdekakan ide dan kata yang dirangkai dalam minggu bertema di 1m1c kali ini. 

Jika ada yang bener, ambil hikmahnya. Kalo banyak ngaconya, maapin saya. Demi 1m1c, saya rela bercerita dengan sok iye kya gini ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.

Satu hal yang benar adanya dalam tulisan ini yaitu, saya makin cinta menulis. Sungguh! AKU CINTA!!! Apalagi dengan romantisme seperti saat tulisan ini dibuat. Semakin terasa bahwa menulis itu memupuk kepekaan perasaan dan cinta. Karena dengan menulis, kemampuan membaca kita meningkat. Paling ga membaca apa yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Maklumin saya anak social science, dapetin wangsit hanya dengan melamun. Biar kaya Einstein ๐Ÿ˜Ž. Jenius ๐Ÿ˜†✌ 

Jadi deh 1 tulisan buat diposting ๐Ÿ’…๐Ÿ’…๐Ÿ’…

Semoga yang baca ga nyesel terdampar disini ya ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

THE END


Columbus, 3 Maret 2019

Workshop Kurikulum Anak Usia Dini

Sabtu, 23 Februari 2019
Pendidikan, katanya harus dimulai sejak dini. Tapi bukan berarti kita harus mengajari anak membaca dan menulis layaknya anak SD sejak usia dini ya ๐Ÿ˜†. Seperti halnya tumbuh kembang anak, pendidikan pun memiliki tahapan-tahapannya. Karena memang pada dasarnya mendidik anak itu sama halnya dengan membantu anak mencapai tahapan tumbuh kembang yang sesuai dengan usianya.


Tanggal 2-10 Februari lalu, saya mengikuti sebuah workshop online tentang kurikulum anak usia dini (AUD). Workshop ini diadakan oleh klastulistiwa.com yang informasinya saya peroleh dari teman saya. Karena saya mengetahui concern teman saya ini seperti apa dalam menyebar info di akun medsosnya, maka tanpa pikir panjang saya pun mendaftarkan diri untuk mengikuti workshop yang diinfokannya itu.

Motivasi Awal Ikutan Workshop
Sejak resmi menjadi ibu, tahun 2013 lalu, pikiran untuk menjadi homeschooling mom selalu mengikuti saya. Tadinya saya berfikir homeschooling untuk AUD bisa dilakukan cukup dengan menghadirkan aneka kegiatan bermain yang menarik dan menyesuaikan kebutuhan anak. Ternyata, pada praktiknya, menghadirkan kegiatan bermain sesuai kebutuhan anak itu tidak semudah yang saya bayangkan. Saya pun menyadari bahwa saya pribadi membutuhkan rencana di atas kertas berbentuk kurikulum dengan bekal ilmu tumbuh kembang AUD.

Baca Juga: Blueprint Pengasuhan

Pada tahun 2016, saya pun (sok-sok an) mencoba mengejawantahkan ilmu kesarjanaan saya ๐Ÿ˜…. Berbekal aneka materi yang saya peroleh baik dari pengalaman menjadi guru PAUD dan hasil cari-cari online, saya kolaborasikanlah dengan ilmu keguruan saya dalam merancang kurikulum. Berhasil alhamdulillah (lumayanlah). Tapi saya terhenti dan kembali berdamai untuk tidak terlalu kaku dalam panduan kurikulum ala-ala saya itu. (Putus asa karena ga sesuai yang diharapkan) ๐Ÿ˜†

Ide menelurkan kegiatan dengan panduan kurikulum sepertinya tak lepas dari background pendidikan saya. Tapi merealisasikannya tak semudah yang terlihat di akun instagram teman-teman lain yang tidak memiliki latar belakang keguruan seperti saya. Hiks sedihnya.

Ibarat dokter, kalo lagi sakit tetep aja kan butuh bantuan dokter lain ๐Ÿ˜‚. Jadilah saya merasa butuh bantuan rekanan lain yang lebih berpengalaman agar tidak putus asa karena melihat orang lain kok ya asik gitu main sama anaknya ๐Ÿ™ˆ.

Namun harapan untuk menemukan bantuan pun tak segera terendus oleh saya. Entah karena saya yang tidak peka kayanya. Jadilah baru tahun 2019 ini akhirnya saya menemukan bala bantuan yang saya harapkan tadi. Yaitu si workshop pengembangan kurikulum AUD ini.

Sedikit tentang Pilihan Pendidikan: Sekolah Formal atau Homeschooling?
Bagi saya mempersiapkan pendidikan anak tidak hanya sekedar memilihkan sekolah terbaik dan atau favorit untuk anak. Tapi juga dengan menghadirkan aneka pilihan diluar pilihan mainstream, salah satunya homeschooling. Tujuan awalnya hanya sebagai tindakan preventif saja kalo-kalo anak-anak 'tidak cocok' dengan sekolah formal karena keterbatasan bahasa mereka mengingat keberadaan kami di negara orang. Ternyata, 3 tahun di Columbus, anak-anak cocok dengan sekolah formal disini.

Baca Juga: Homeschooling Aja Gitu?

Namun, karena tahun 2019 adalah tahun terakhir in sya Allah kami berada di Amerika, saya pun merasa perlu lagi untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan untuk melakukan homeschooling. Sehingga lagi dan lagi kebutuhan saya untuk memiliki kemampuan mengembangkan kurikulum kembali dirasakan. Jadilah saya makin termotivasi untuk belajar sedikit demi sedikit agar bisa mengembangkan kurikulum sesuai ilmunya.

Sedikit Tentang Kurikulum
Pastinya istilah kurikulum sudah tidak asing ya ditelinga kita. Biar konsepnya lebih kebayang, saya cantumkan sedikit tentang apa itu kurikulum.

Pengertian kurikulum menurut UU nomor 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS Kurikulum adalah "seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu".

Dari dua pengertian di atas, ada 3 komponen yang perlu kita perhatikan:
1. Seperangkat rencana dan pengaturan
2. Cara penggunaan
3. Tujuan pendidikan

Dengan kata lain, kurikulum dibuat untuk merancang dan mengatur kegiatan pembelajaran sedemikian rupa agar tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Anak Usia Dini (AUD)
Menurut beberapa ahli, anak usia dini (AUD) adalah anak yang memiliki rentang usia 0-6 tahun. Penyebutan istilah usia dini juga di alamatkan untuk anak-anak usia pra sekolah, yaitu 0-6 tahun tadi. Ada juga yang menyebutkan rentang usia 0-8 tahun.

Di Indonesia sendiri, penyebutan anak usia dini akan langsung diasosiasikan pada PAUD, yaitu pendidikan anak usia dini. PAUD sendiri merupakan jenjang pendidikan sebelum anak memasuki Taman Kanak-kanak, yaitu usia sekitar 2-4 atau 5 tahun.

Sedangkan jika saya merunut pada kurikulum yang dikembangkan tim workshop yang saya ikuti, anak usia dini yang dimaksud adalah rentang usia 4-7 tahun. Meskipun dalam praktiknya, tim workshop tetap membantu pengembangan aktivitas untuk anak-anak usia di bawah 4  tahun.

Intinya sih AUD itu anak kecil yang belum masuk usia sekolah dan atau usia siap sekolah (usia 7 atau 8 tahun).

Tujuan Pengembangan Kurikulum AUD
Pengembangan kurikulum untuk anak usia dini yang diterapkan dalam workshop ini, sedikit banyaknya memang mengikuti cara pengembangan kurikulum resmi dari pemerintah. Yang tujuan akhirnya yaitu menyelaraskan kompetensi yang diharapkan di setiap aktivitas anak-anak agar tujuan pendidikan tercapai.

Jadi bisa dikatakan bahwa pengembangan kurikulum ini untuk membantu orang tua agar on the track. Alias terarah sesuai tahap tumbuh kembang anak dalam melakukan aktivitas bareng anak kelompok usia dini ini.

Sedangkan tujuan pribadi saya dalam mengembangkan kurikulum AUD ini, terutama untuk anak sendiri, karena saya ga ada kerjaan selain mikirin anak, anak, dan anak lagi ๐Ÿ˜†. Jadi tujuan saya untuk menyibukkan diri.

Baca Juga: Fakta Mendidik Anak Kembar

Selain itu kehidupan berumah tangga saya yang nomaden membuat saya berfikir untuk mempersiapkan diri atas segala kemungkinan termasuk kemungkinan pilihan pendidikan yang ditawarkan ke anak seperti yang saya sebutkan di atas.

Tapi eh tapi, setelah mengikuti workshop ini, saya kayanya bakal merevisi tujuan saya mengembangkan kurikulum untuk anak ini. Biar lebih berfaedah. #tsah!

Apa Saja Yang Didapat di Workshop AUD?
Banyak hal yang saya dapatkan dari workshop yang diadakan oleh teman-teman klastulistiwa ini. Secara garis besar ada tiga hal, yaitu:

1. Materi-materi tentang anak dan kurikulum
Hari pertama workshop dimulai dengan kuliah telegram (kulgram) yang terbagi ke dalam 2 sesi.
๐ŸŒธ Sesi pertama membahas tentang homeschooling
๐ŸŒธ Sesi kedua membahas tentang cara mengembangkan kurikulum

Setelah kulgram selesai, peserta workshop tetap standby selama satu minggu untuk mengaplikasikan materi dari kulgram. Materinya diantaranya:


2. Diskusi dan resume lengkapnya
Seluruh hasil diskusi baik di kulgram ataupun di grup workshop di rangkum cukup rapi oleh tim klastulistiwa. Sehingga ketika dibutuhkan untuk mereview saya pribadi merasa terbantu karena materi-materi yang disampaikan di dalam diskusi juga tersedia (tidak lagi berbentuk file pdf yang perlu didownload ulang).

Selain resume kulgram dan workshop, juga ada resume tugas kelompok dan tugas pribadi. Sehingga semua peserta workshop bisa memperoleh ide kegiatan lengkap untuk setiap tema dan subtema kurikulum.

3. Panduan dan bimbingan langsung dalam mengembangkan kurikulum
Meskipun online, workshop kurikulum ini menurut saya cukup komprehensif karena arahan dan panduan aktif dari tim pelaksana. Selama kita mengikuti acara sesuai schedule, maka workshop akan terasa seperti workshop offline (tatap muka).

Nah selain 3 hal di atas, bagi peserta yang menunaikan kewajiban dengan mengerjakan tugas-tugas yang ada akan memperoleh sertifikat penghargaan. Saya pribadi sih ga ekspek, tapi ya lumayan aja kan nambah-nambah bukti keikutsertaan dan buat portofolio kita juga ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜‰


Selain itu, meskipun online, peserta tetap mendapat workshop kit yang dikirim langsung ke alamat rumah peserta. Karena saya lagi ga di Indonesia, jadi workshop kit saya kirimkan ke rumah kakak saya yang isinya seperti terlihat di bawah ini:


Beginilah Workshop Online
Karena namanya workshop, jadi ya hasil akhir yang diharapkan tentunya setiap peserta bisa mengembangkan kurikulum secara mandiri. Seperti yang pernah saya lakukan dulu ๐Ÿ˜† bedanya sekarang mah pake panduan dari orang yang berilmu, ga sok-sok an lagi pake ilmu kanuragan ๐Ÿ™ˆ.

Sebelum melakukan praktik bagaimana cara mengembangkan kurikulum AUD, seperti yang saya sampaikan di atas, tim klastulistiwa membekali saya dan peserta lainnya dengan berbagai macam materi seputar pendidikan anak dan kurikulum AUD. Fokus utama memang untuk membakali peserta yang memiliki motivasi melakukan homeschooling untuk anak-anaknya berdasarkan nilai-nilai Islam.

Diskusi pun dilakukan untuk menyamakan persepsi tentang hal-hal terkait. Dari materi dan diskusi inilah saya memperoleh insight baru tentang kenapa perlu homeschooling dan apa yang perlu kita lakukan jika memilih pendidikan formal.

Sambil berjalan, setelah materi disampaikan dan diskusi dilakukan, teh Mierza, pemateri sekaligus founder dari klastulistiwa.com mulai memandu kami para peserta melakukan pengembangan kurikulum AUD di bantu beberapa fasilitator. Saya masuk kelompok yang difasilitatori oleh teh Rina.

Bagi teman-teman jurusan keguruan tentu tidak akan asing dengan aktivitas pengembangan kurikulum ini. Bagaimana menelurkan kurikulum ke dalam bentuk kegiatan berdasarkan kompetensi yang ada. Dalam workshop ini, bedanya ada aspek Islami yang perlu kita perhatikan sehingga anak sebagai peserta didik bisa memperoleh pendidikan agama sejak dini menyesuaikan dengan usia mereka.

Resume Materi yang Saya Tangkap
Sejujurnya, hingga tulisan ini saya buat, saya belum kelar baca semua materi yang 'digelontorkan' oleh teh Mierza. Masha Allah materinya banyak berlimpah dan isinya daging semua. Makanya saya butuh waktu ekstra untuk menuntaskan semuanya di tengah ke(sok)sibukan saya.

Secara garis besar, yang bisa saya bagikan dalam tulisan ini, materi yang saya dapat di workshop ini adalah:
1. Tentang taksonomi bloom dan maslow
2. Penggunaan KKO yang KISS
3. Contoh-contoh ide bermain
4. Aneka macam materi tentang pendidikan anak
5. Video-video mendidik anak dalam Islam
6. Kurikulum AUD

Penasaran kan sama materi-materinya ๐Ÿ˜†.

Contoh Pengembangan Kurikulum
Dalam workshop online ini, semua peserta akan dibagi ke dalam 4 grup untuk melakukan tugas grup. Grup A1, A2, B1 dan B2 dengan spesifikasi grup A adalah pengembangan kurikulum untuk anak usia 4-6 tahun dan grup B anak usia 5-7 tahun.

Selain pengembangan kurikulum dalam tugas grup, ada juga tugas individu. Pada tugas individu ini, kita diminta mengembangkan kurikulum untuk anak didik kita, yaitu anak sendiri.

Nah, berikut saya cantumkan contoh tugas grup yang saya buat setelah melewati 3 kali revisi ๐Ÿ™ˆ.

Merisa Putri:
Rina Mardiana:
Rina Mardiana:
Merisa Putri:
Merisa Putri:
Rina Mardiana:
Merisa Putri:
Nama: Merisa Putri
Tugas Grup 2A
1. Tema Tanaman TK-A
Subtema:
๐ŸŒธMacam2 tanaman
Kompetensi: bahasa, seni
Kegiatan:
* menyebutkan aneka tanaman dari kemasan bibit tanaman yangmenyebutkananam (daun mint, tomat, bunga hias,strawberry, jahe, cabe, dan daun bawang)✅
* menanam bibit2 tanaman tersebut✅
* menyiram tanaman✅
* mengamati pertumbuhan tanaman✅
* menceritakan apa yang  dilihat dan amati dari tanaman2 tersebut✅
* mengulang doa melihat permulaan buah
* menggambar aneka tanaman yang terdapat di taman dekat rumah✅
* membuat nama tanaman di atas pasir sintetis
๐ŸŒธFungsi tanaman
Kompetensi: bahasa, seni
Kegiatan:
* memasak tumisan sayur dengan menggunakan daun bawang dan tomat yang ditanam✅
* membuat jus strawberry (menghitung brp strawberry yang diperlukan, brp sendok madu dan air)✅❤️
* menonton video reboisasi ✅
*  menyebutkan fungsi pohon berdasarkan video yang ditonton✅
* menggambarkan aneka tanaman hias✅
* menghias rumah dengan tanaman hias✅
2. Tema Bepergian TK-A
Kompetensi: fisik dan motorik, bahasa
Subtema:
๐ŸŒธTempat pemberhentian dan pemberangkatan kendaraan
* mencocokkam jenis transportasi dan tempat pemberhentian menggunakan flashcard✅
* menyebutkan tempat pemberhentian mana saja yang pernah dikunjungi✅
* bermain peran menjadi kendaraan (pesawat, kapal, bus dan kereta api) yang akan berangkat dan yang sedang mencari tempat pemberhentiannya ✅
* menyebutkan nama tempat pemberhentian dalam bahasa arab dan bahasa inggris✅
๐ŸŒธBagian2 dari kendaraan
* merangkai balok mainan berupa kendaraan ✅ MERANGKAI
* menyebutkan bagian apa saja yang sedang mereka rangkai dalam bahasa arab dan bahasa inggris dan indonesia✅
* menggambar salah satu kendaraan✅
* menyebutkan nama bagian kendaraan sesuai gambar
๐ŸŒธDengan apa kendaraan bisa bergerak
* menonton video jenis2 bahan bakar untuk kendaraan✅
* mencocokkan kendaraan sesuai dengan bahan bakarnya menggunakan sticker✅
* MENYEBUTKAN bahan bakar yang digunakan setiap kendaraan✅
* menyetorkan doa naik kendaraan
3. Tema Pekerjaan TK-A
Kompetensi: Sosial
Subtema:
๐ŸŒธMacam2 pekerjaan
*menyebutkan pekerjaan orang tua, orang tua teman, opa, oma, om dan tante.✅
* menyebutkan pekerjaan yang ada di flash ✅
* bermain peran  ✅
* mewarnai gambar macam2 pekerjaan✅
* mencocokkan gambar yang diwarnai dengan tulisan nama pekerjaan✅

๐ŸŒธTugas dari macam2 pekerjaan
* menyebutkan tugas pekerjaan yang dilakukan keluarga sekitar: umi, abi, om, tante, opa, oma✅
* menyebutkan tugas pekerjaan dari flash card✅
* mencocokkan pekerjaan yang dilakukan umi dan abi dengan yang ada di flascard✅
*  mencocokkan pekerjaan dengan tugasnya dengan tracking line✅
* mewarnai alat yang mengidentifikasi pekerjaan tertentu✅
*menyebutkan kegunaan atau fungsi alat tersebut✅

Demikianlah sedikit (katakanlah) review saya tentang workshop yang saya ikuti. Semoga berkah dan saya bisa menerapkannya sesegera mungkin.

Buat teman-teman yang tertarik atau mau kepo tentang workshop ini, bisa kunjungi web klastulistiwa.com ya. Di web itu juga bisa dibaca tentang latar belakang dan karya-karya teh Mierza sebagai pemateri dalam workshop ini.

Apapun motivasi awalnya, bagi saya mau kita memilih homeschooling ataupun tidak, prinsip 'selalu belajar-belajar selalu' harus terus kita pupuk dan tanam. Agar kita tidak kebablasan dan keenakan 'menitipkan' pendidikan anak-anak kita ke sekolah atau madrasah. Esensinya anak itu amanah buat kita orang tua nya, guru dan lingkungan sebagai faktor eksternal yang bisa membantu kita dalam mendidik anak. Begitu kan ya?

Semoga tulisan ini bermanfaat ya. Jika ada yang kurang tepat atau ada yang mau ditanyakan, silahkan tinggalkan komennya ๐Ÿ˜Š.

Columbus, 23 Februari 2018

Ngobrol Tentang Sekolah Zaid dan Ziad

Kamis, 21 Februari 2019
Kembali menulis tentang anak setelah sekian lama memutuskan 'off'. Kenapa? Karena berbagai macam alasan ๐Ÿ˜„. Salah satu alasannya karena belum siap mental menerima berbagai macam masukan dari pihak luar. Cemen ya alasannya ๐Ÿ˜…

Homeschooling atau sekolah formal

Jadi memang perihal anak, dahulu kala menjadi hal yang sangat menarik bagi saya untuk 'diumbar' ke khalayak melalui dunia media sosial. Bukan karena apa-apa. Karena memang saya ga punya rutinitas lain yang bisa dibagi selain rutinitas 'kebersamaan' dengan anak. Ditambah saat itu media sosial menjadi salah satu 'tempat ternyaman' saat itu untuk mengungkap segala jenis perasaan. Terutama buat ibu-ibu muda alay seperti saya. Yang membesarkan si kembar sendiri tanpa kehadiran fisik suami. Syediiiiihnya ๐Ÿ˜‚.

Lalu sekarang? Aneka pengalaman dan perjalanan hidup mengantarkan saya untuk sedikit beralih menjadi pribadi 'introvert' perihal anak. Paling tidak saya memilih tertutup di dunia maya. Salah satunya dengan membatasi postingan yang membahas anak-anak baik melalui foto ataupun caption. Membatasi bukan berarti tidak pernah posting tentang anak sama sekali ya ๐Ÿ˜‚. 

Pilihan membatasi diri ini bermula dari kegelisahan saya akan karakter pribadi saya. Dimana saya adalah tipe individu yang ketika memperoleh pujian maka akan terhenti pada capaian yang dipuji itu saja, dan apabila memperoleh kritikan, maka akan mundur melanjutkan capaian yang telah direncanakan. Karakter seperti inilah yang saya endus agak berdampak buruk pada perjalanan hidup saya. Karena daya juang bisa menurun dan keflematisan saya akan menggiring saya pada karakter 'cepat puas'.

Di satu sisi saya bersyukur dengan karakter macam ini. Paling tidak saya bisa terhindar dari yang namanya karakter ambisius. Dimana, si ambisius yang tidak terkontrol akan menggiring pada hal negatif berupa ketertekanan.

Apapun karakter itu, intinya sih gimana kita ngontrolnya ya. Tsah!

Lalu apa kabar si kembar ZaZi?

Nah ini yang mau saya tuliskan.

Anggap saja tulisan ini sebagai refleksi diri seorang saya, di usia anak kembarnya yang telah beranjak ke angka 5. Masya Allah ...

Saya tidak bisa lagi mengingat dengan jelas, tulisan dengan tema apa saja yang pernah saya goreskan di blog ini terkait si kembar. Yang pasti tulisan berisi curhatan barbar saya yang stressful mendampingi sikembar hingga tulisan yang berisi tips mendidik anak yang sok-sokan saya buat kayanya ada deh di blog ini ๐Ÿ˜‚. Bahkan ada tulisan yang isinya cuma se paragraf kalo saya ga salah, saking saya desperado sama diri sendiri dalam hal mendidik anak ๐Ÿ˜† trus ga tau harus menumpahkan emosi negatif sehingga berujung pada kedipan kursor yang menghasilkan tulisan singkat pelepas lelah jiwa.

Masya Allah ... mengingat kembali masa-masa 'indah' itu rasanya saya pengen mewek sekarang ๐Ÿ˜ฃ. Ga nyangka bakal berada di fase 'mempersiapkan' si kembar untuk menjadi kakak bagi adik bayi mereka. In sya Allah ...

Tuh kan tulisan prolog nya jadi kepanjangan yaks ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Begini nih kalo udah nulis tentang anak ๐Ÿ˜†

Okeh, di lima tahun usia Zaid dan Ziad ini, saya mau brainstorming saja dengan teman-teman yang baca tulisan ini (kalo ada ๐Ÿ˜‚), perihal pilihan pendidikan untuk anak: di sekolah atau di rumah?

Konteksnya pendidikan Zaid Ziad. Jadi akan dibahas perihal isi otak saya dan suami terkait pilihan pendidikan untuk si kembar.

Jadi kemaren, ketika piknik dengan teman-teman Indonesia disini, salah seorang teman nyeletuk ke saya ketika kami membahas soal sekolah anak.

"Mba Putri homeschooling aja. Situ kan S.Pd ..."

Yup! Saya dan suami sama-sama berlatarbelakang Pendidikan keguruan. Logikanya, cukuplah untuk bisa menjelma (kaya siluman aje) jadi guru buat anak sendiri. Tapi praktiknya ga semudah logika kan ya ... ๐Ÿ˜†

Saya dan suami sejujurnya sudah sejak anak-anak berusia 2 tahun tak putus membincangkan perihal pilihan pendidikan anak ini. Berbagai macam jenis pilihan pendidikan seperti sekolah alam, sekolah Islam terpadu hingga homeschooling masuk dalam bahasan-bahasan saya dan suami. 

Alhamdulillah, mengenyam hidup di Amerika membuat saya dan suami sedikit terbantu dan terbuka mata dan pikiran dengan sistem pendidikan disini. Paling tidak, kekhawatiran saya perihal biaya pendidikan usia dini yang luar biasa 'najong' di Indonesia bisa teratasi sementara. Sembari belajar 'adem'nya guru PAUD disini menerapkan metode yang agak mirip metode Montessori ini, anak-anak pun terbantu perkembangannya yang sempat mengalami keterlambatan dalam kemampuan verbal.

Dua tahun didampingi guru-guru headstart (sejenis PAUD di Indonesia), saya pun terbuka mata untuk melihat lebih teliti dan mendalam kebutuhan Zaid Ziad dan kemudian mengenyampingkan 'obsesi' pribadi saya terkait pendidikan anak.

Merunut dari pengalaman menerapkan berbagai metode bermain untuk anak usia dini oleh diri sendiri, kemudian mendidik anak yang diperbantukan guru-guru headstart anak-anak, membawa saya pada sebuah titik temu pendidikan yang cocok untuk Zaid Ziad dalam konteks tempat. Di sekolah atau di rumah? Jawabannya? MIX.

Hakikatnya, pendidikan untuk anak-anak kita memanglah pendidikan campur-campur. Baik perihal lingkungan belajarnya maupun metodenya. Karena tidak ada kan lingkungan yang ideal plus metode yang sempurna? Semua saling melengkapi. Bahkan hal negatif pun diperlukan dalam pendidikan anak untuk memberikan sisi pembanding sebagai bagian dari kehidupan dunia nyata yang memang selalu terdiri dari dua sisi. Sehingga kurang bijak juga rasanya ketika saya terlalu khawatir dengan hal negatif dan memilih untuk menghindarinya. Anak seolah di border dari hal-hal negatif yang membuat mereka menjadi tabu akan hal tersebut. Sehingga membuat mereka menjadi rapuh.

Semisal perihal kekhawatiran saya tentang anak yang terkena kecanduan games. Karena tidak ingin anak kecanduan games, akhirnya saya tidak mengizinkan anak bergaul dengan anak lain yang suka ngegame. Alih-alih memberikan solusi lain untuk anak, larangan demi larangan justru membuat anak jadi penasaran dan backstreet. Sehingga ada baiknya mengkomunikasikan alasan kenapa games dilarang menjadi cara yang ditempuh ketimbang larangan saklek yang justru memancing tumbuhnya jiwa pemberontak anak. 

Jadi, untuk sementara ZaZi bakal terus memperoleh pendidikan formal di sekolah dengan syarat home education ga boleh berhenti dan saya dan suami sebagai orang tua harus selalu eling bahwa pendidikan anak adalah tanggungjawab kami.

Mari kita lihat saja ke depan, apakah akan ada perubahan pemikiran dan ZaZi bakal jadi anak homeschooling? Let's see ya. In sya Allah apapun itu semua pasti yang terbaik selama kita mengusahakan yang terbaik. Semoga Allah meridhoi. Aamiin.

Columbus, 2018


Pendidikan Hati untuk Membentuk Karakter Anak

Jumat, 08 Februari 2019
Mendidik dan membesarkan anak tak bisa lepas dari tantangan dan juga ujian. Mulai dari saat mereka terlahir hingga mereka tumbuh dewasa. Setiap orang tua tentunya menginginkan ujian dan tantangan tersebut mampu terlewati dengan baik dengan melihat anak-anak tumbuh menjadi anak yang berkarakter baik.


Karakter Baik Menurut Al-Qu'ran
Di dalam islam, karakter baik yang dimaksud yaitu taat kepada Allah, mencintai Rasulullah, berbakti kepada orang tua, dan saling menghargai sesama. Lebih lengkapnya, karakter baik yang perlu dimiliki oleh seorang mukmin sudah dijelaskan di dalam Al-Quran. Di antaranya terdapat dalam surat Al-Mu'minun ayat 1-11.

ู‚َุฏْ ุฃَูْู„َุญَ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ُูˆู†َ (1) ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‡ُู…ْ ูِูŠ ุตَู„َุงุชِู‡ِู…ْ ุฎَุงุดِุนُูˆู†َ (2) ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‡ُู…ْ ุนَู†ِ ุงู„ู„َّุบْูˆِ ู…ُุนْุฑِุถُูˆู†َ (3) ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‡ُู…ْ ู„ِู„ุฒَّูƒَุงุฉِ ูَุงุนِู„ُูˆู†َ (4) ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‡ُู…ْ ู„ِูُุฑُูˆุฌِู‡ِู…ْ ุญَุงูِุธُูˆู†َ (5) ุฅِู„َّุง ุนَู„َู‰ ุฃَุฒْูˆَุงุฌِู‡ِู…ْ ุฃَูˆْ ู…َุง ู…َู„َูƒَุชْ ุฃَูŠْู…َุงู†ُู‡ُู…ْ ูَุฅِู†َّู‡ُู…ْ ุบَูŠْุฑُ ู…َู„ُูˆู…ِูŠู†َ (6) ูَู…َู†ِ ุงุจْุชَุบَู‰ ูˆَุฑَุงุกَ ุฐَู„ِูƒَ ูَุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงู„ْุนَุงุฏُูˆู†َ (7) ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‡ُู…ْ ู„ِุฃَู…َุงู†َุงุชِู‡ِู…ْ ูˆَุนَู‡ْุฏِู‡ِู…ْ ุฑَุงุนُูˆู†َ (8) ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‡ُู…ْ ุนَู„َู‰ ุตَู„َูˆَุงุชِู‡ِู…ْ ูŠُุญَุงูِุธُูˆู†َ (9) ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงู„ْูˆَุงุฑِุซُูˆู†َ (10) ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَุฑِุซُูˆู†َ ุงู„ْูِุฑْุฏَูˆْุณَ ู‡ُู…ْ ูِูŠู‡َุง ุฎَุงู„ِุฏُูˆู†َ (11)

Artinya: "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara salatnya. Mereka itulah orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi (surga) firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (QS. 23: 1-11)

Untuk mengantarkan anak-anak kita pada pembentukan karakter seperti yang termaktub di dalam Al-Quran tersebut, maka perlu dilakukannya tarbiyah atau pendidikan hati untuk anak.

Pendidikan Hati
Tentunya kita semua sudah pada tahu apa itu hati yang dimaksud dalam konteks pendidikan. Makna hati lebih mendekat ke perasaan atau batin seseorang. Dalam KBBI hati disebut sebagai "sesuatu yang berada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan segala macam pengertian". Arti lainnya yaitu "sifat (tabiat) batin manusia".

Secara ruhaniyah hati diartikan sebagai tempat beradanya keimanan, ketaatan, dan pengagungan kepada Allah Azza Wajalla (Suparlan, 2012). Sehingga pendidikan hati yaitu sebuah proses yang dilakukan secara bertahap dalam membentuk sifat atau tabiat dan juga kebiasaan termasuk di dalamnya keimanan dan ketakwaan.

Lalu Apa Hubungannya Pendidikan Hati dengan Pembentukan Karakter?
Karakter menurut Alwisol, penulis buku Psikologi Kepribadian, merupakan penggambaran dari tingkah laku namun bukanlah kepribadian yang dilakukan dengan memperlihatkan serta menonjolkan  nilai, baik itu benar atau salah secara implisit maupun eksplisit.

Hati yang terdidik akan bisa mengarahkan tingkah laku sehingga terbentuk karakter positif. Seperti karakter jujur yang merupakan salah satu teladan yang dicontohkan Rasulullah. Karakter ini tentu hanya akan muncul pada individu yang memegang nilai menteladani Rasul sebagai wujud pendidikan hati yang cinta rasul, misalnya.

Sehingga bisa dikatakan mendidik hati umpama mendidik kepala suku agar bisa mengajak dan mengarahkan pasukannya, dalam hal ini seluruh anggota tubuh manusia. Hati yang baik tentu kan mengarahkan lidah untuk berkata yang baik, mengendalikan kaki untuk melangkah ke jalan-jalan yang baik, dan lain-lain.

Dari An Nu'man bin Basyir radhiyallahuanhuma, Nabi Shallallahualaihi wa sallam bersabda,
"Ketahuilah bahwa di dalam diri manusia ada segumpal darah, jika baik maka akan baiklah semua dirinya, dan jika rusak maka rusaklah semua dirinya, ketahuilah segumpal darah itu adalah hati" (Hr. Bukhari & Muslim)

Cara Mendidik Hati Anak Untuk Membentuk Karakter Baik
Anak, sebagaimana yang telah kita ketahui, terlahir bersama fitrahnya, seperti fitrah keimanan dan kebaikan. Mendidik hati anak artinya mendidik fitrah mereka berjalan pada jalur yang sudah ditetapkan Allah Azza Wa Jalla. Tentunya semua ini membutuhka usaha dan langkah konkrit dari kita sebagai orang tua yang dititipi amanah olehNya.

Bagaimana caranya mendidik hati anak untuk membentuk karakter baik yang Islami?

1. Tauhid Sejak Dini

“Rafi’ ra. meriwayatkan bahwa aku melihat Rasulullah saw. menyerukan adzan ke telinga Hasan bin Ali ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fathimah ra.” (HR. Tirmidzi).

Hadits di atas menyiratkan pentingnya pengenalan tauhid sejak dini. Bahkan ketika ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa janin di dalam rahin sudah mampu menangkap suara di usia kandungan tertentu, artinya kita sebagai muslim bisa memperkenalkan kalimat tauhid sejak bayi masih berada di dalam kandungan.

2. Tanamkan Nilai Tanpa Gengsi
Mendidik hati artinya menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak, seperti nilai kejujuran, tanggung jawab, tolong menolong, toleransi, memaafkan, dan lain sebagainya. Tentunya hal ini dilakukan sedini mungkin sembari kita terus memperbaiki diri. Tak ada manusia yang luput dari kesalahan pun kita sebagai orang tua. Jika kita sempat terlalai atau khilaf dalam mendidik anak maka kita pun bisa menanamkan nilai kehidupan kepada anak. Seperti nilai kejujuran dan ketulusan meminta maaf tanpa perlu merasa gengsi.

3. Berikan Teladan
Perkara hati bukanlah soalan yang mudah diaplikasikan ke anak seperti halnya logika matematika yang kita ajarkan bahwa 1+1=2. Sehingga mendidik hati anak perlu dilakukan dengan sentuhan. Sentuhan seperti apa? Yaitu sentuhan keteladanan. Sehingga ketika menginginkan anak berkarakter baik, maka berikanlah teladan untuk karakter baik tersebut. Karena mendidik dengan suri tauladan akan mudah masuk dan menyentuh hati anak.

4. Kondisikan Lingkungan
Lingkungan merupakan pembawa pengaruh terbesar dalam kehidupan manusia. Dalam mendidik hati anak agar memiliki karakter yang baik, maka memastikan lingkungan yang kondusif perlu dilakukan. Karena anak akan dengan cepat menyerap nilai dan kebiasaan dari lingkungan sekitar.

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur." (QS. 16:78)

5. Berdoa
Tak ada yang lebih penting dari doa terlebih ketika kita berbicara hati. Karena pada hakikatnya setiap yang ada di langit dan di bumi adalah dalam kendali dan kuasa Allah azza wa jalla. Termasuk hati kita dan hati anak-anak kita. Untuk itu selalu berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah perlu senantiasa dilakukan dalam mendidik hati anak.

Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Hasan dan Husain lahir, Rasulullah saw. memanjatkan doa kepada Allah memohon perlindungan bagi kedua cucunya dengan doa berikut ini.
ุฃُุนِูŠْุฐُ ูƒُู…َุง ุจِูƒَู„ِู…َุงุชِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุชَّุงู…َّุฉِ ู…ِู†ْ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุทَุงู†ٍ ูˆَู‡َุงู…َّุฉٍ ูˆَู…ِู†ْ ูƒُู„ِّ ุนَูŠْู†ٍ ู„ุงَู…َّุฉٍ.
“Aku mohonkan perlindungan bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, jiwa yang jahat, dan dari setiap mata yang memperdaya.”
Kemudian, Rasulullah saw. bersabda,
ู‡ٰูƒَุฐَุง ูƒَุงู†َ ุงَุจِูŠ ุงِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…ُ ูŠُุนَูˆِّุฐُ ุงِุณْู…َุงุนِูŠْู„َ ูˆَุงِุณْุญَุงู‚َ.
“Demikianlah bapakku, Ibrahim, memanjatkan doa perlindungan bagi Ismail dan Ishak.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Penutup
Meski hati tak tampak dalam pandangan manusia, namun hati bisa tercermin dari tingkah laku dan karakter. Hati pun diyakini memiliki peran utama dalam menghidupkan jiwa manusia. Seperti halnya jantung sebagai organ utama yang menghidupkan raga manusia. Sehingga, mendidik hati adalah kunci utama dalam mengantarkan anak menjadi individu yang berkarakter positif dan islami.

Dengan mendidik hati anak, secara tidak langsung kita sebagai orang tua juga tengah mendidik hati kita. Maka didiklah hati kita dengan ilmu dan iman. Semoga kita mampu menjaga amanah ini.

Referensi:
- Endah H, Darosy (2011), Jurnal Psikologi UNDIP.
- Suparlan (2015), Mendidik Hati Membentuk Karakter.
- dakwatuna.com
- dosenpsikologi.com
- rumaysho.com

Columbus, 7 Februari 2019

'Yes Man': Inspirasi Belajar Keluar Negeri

Senin, 04 Februari 2019
Siapa sih yang ga mau belajar ke luar negeri. Jujur-jujuran aja, kalo belajar ke luar negeri itu memang keren kan ya. Keren pengalamannya dan keren juga tantangannya. Yang pasti, belajar di luar negeri sendiri alias di negeri orang itu bakal berpeluang memperoleh insight baru. Bisa dikatakan lebih kaya akan nilai dan pesan moral lah. Menurut saya ya ...


Saya, bukanlah pribadi yang senang belajar di jenjang formal. Melanjutkan pendidikan formal ke tingkat yang lebih tinggi juga bukan menjadi impian. Jadi boro-boro kepikiranbuat  belajar ke luar negeri, lanjut ke jenjang yang lebih tinggi saja ga jadi targetan pribadi saya.

Baca Juga: Sekolah di Amerika, Beda?

Tapi meskipun demikian, saya selalu penasaran dengan orang-orang yang seneng banget belajar di jenjang pendidikan formal. Baik yang non stop kuliahnya (beres kuliah S1, lanjut S2. Belum lama beres S2, lanjut lagi S3), maupun yang kuliah kerja kuliah kerja. Masha Allah. Otaknya ga panas apa ya ... ๐Ÿ˜….

Memetik Inspirasi Dari Sekitar
Bersyukurnya saya saat ini berada di lingkungan orang-orang yang seneng belajar. Jadi saya bisa melihat langsung gimana sih orang yang hobi belajar itu nuntasin pekerjaannya sebagai mahasiswa, misalnya. Gimana sih cara mereka membahagiakan diri kalo misal otak udah ngebul. Atau gimana cara mereka bersosialisasi, mengatur ritme dengan peran lain mereka terutama bagi yang sudah berkeluarga.

Tiga tahun menyaksikan fenomena ini, kesimpulan awal yang bisa saya ambil adalah mereka memang orang-orang pilihan yang ulet dan bekerja keras. Pintar dan ga malesan. Mereka mau tenggelam dalam ilmu, terseok kepayahan dalam ujian. Dan yang pasti, mereka membuat saya jadi sangat ingin seperti mereka, belajar tanpa henti, dengan menjadi mahasiswa (lagi).

Tapi apa sesempurna itu mereka? Saya protes donk!!! ASLI IRI!!! Dan dalam tulisan ini saya bahas kisah inspiratif yang menurut saya bisa memotivasi kita untuk terus menjadi pribadi pembelajar sejati.

Baca Juga: Produktif Dampingi Suami Bersekolah

Haruskah Belajar Formal?
Geliat belajar generasi muda saat ini memang luar biasa ya (kalo ngomong kaya gini saya mendadak merasa tua). Entah karena saya memang lagi berada di lingkaran mahasiswa, tapi memang kesadaran masyarakat kita akan pentingnya pendidikan semakin meningkat. Terlebih semakin banyaknya peluang bagi setiap kalangan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi tanpa terkendala dana dengan aneka macan tawaran beasiswa.

Tapi apakah harus belajar di jenjang pendidikan formal?

Pertanyaan ini lantas saya lontarkan ke salah seorang kenalan saya. Pertanyaan yang sangat menghantui saya yang baru memiliki predikat sarjana. Meski pernah mengecap pendidikan master selama 1 semester, tak lantas membuat saya memiliki keinginan kembali bersekolah master dengan berbagai macam pertimbangan, apalagi setelah beranak pinak seperti sekarang.

Lalu apa jawaban dari kenalan saya tersebut?

"Belajar tak harus bersekolah!" Begitu katanya.

Saya, yang mendengar jawaban itu merasa memperoleh pembenaran atas segala pertimbangan yang ada dalam pikiran saya. Saya ga lanjut S2 berarti ga salah donk ya. Tapi saya kurang puas meski sesaat merasa terbela. Saya coba tanya lebih mendalam lagi.

"Lha, terus kamu kenapa mau cape-cape sekolah sampe sejauh ini?"

Pertanyaan ini saya lontarkan karena saya sudah cukup kapok dengan karakter orang-orang pintar yang selalu membuat orang lugu seperti saya terjebak. Seperti yang pernah saya alami zaman sekolah dulu. Dengan polosnya saya percaya bahwa teman saya tidak belajar apapun untuk persiapan ujian harian. Saya lugu mengikutinya. Alhasil, ujiannya bernilai baik sedangkan saya??? Ga usah dijawablah ya.

Baca Juga: Persiapan Keberangkatan Studi ke Amerika

Dalam jawaban teman saya ini, saya mencurigai hal senada bakal terjadi. Bisa saja dia tidak mau saya menjadi pintar seperti dirinya ๐Ÿ˜…. Makanya dia tidak memotivasi saya untuk bersekolah kembali dengan mengeluarkan jawaban seperti di atas.

Menjawab pertanyaan saya selanjutnya, dia hanya berkata,

"Saya tu Yes Man. Kaya judul film ya?!" Katanya.

"Maksudnya? Saya belum pernah nonton fiom itu" Dialog pun mulai terbuka.

"Tapi ga ada kaitannya sih sama film. Itu cuma istilah saja buat diri sendiri. Saya ga sadar ternyata saya selalu mengiyakan tawaran yang datang. Tak banyak pikir dan pertimbangan. Jadi saya merasa kaya Yes Man gitu. Termasuk ketika menjalani kehidupan akademis dan karir. Saya melakukan apapun yang orang sekitar saya minta. Dan ternyata, setelah dipikir-pikir semua itu jadi jalan buat saya untuk sampai ke titik sekarang." tambahnya menjelaskan.

"Ya tapi ga mungkin donk tawaran dan permintaan datang ke sembarang orang" ungkap saya rada sewot.

"Proses sih!" Katanya singkat.

Singkat cerita, tersadarlah saya bahwa keberuntungan memperoleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi itu tidak melulu soal ambisi. Ada orang-orang yang ternyata sampai ke titik tertentu justru karena tak memiliki ambisi akan hal tertentu. Tapi tidak pula tanpa usaha.

Inspirasi Part 1
Seperti teman saya ini. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, bisa dikatakan dia lanjut ke jenjang berikutnya dengan cukup cepat tahapannya. Lulus S1 tahun 2010, lanjut S2 2013 dan selesai 2014. Kemudian bersekolah lagi S3 di tahun 2016 awal hingga sekarang. Semua mengalir, tanpa dia targetkan. Begitu dia menceritakannya pada saya.

Bagi orang-orang sekitarnya, dia seperti sosok jenius yang bisa lanjut bersekolah ke luar negeri tanpa harus merasakan kegagalan dalam melayangkan permohonan beasiswa. Setelah lulus sarjana tahun 2010, di tahun yang sama dia mencari beasiswa S2 ke Amerika Serikat. Dapatlah dia beasiswa USAID dengan kampus negara Amerika sebagai kampus bidikan dan tujuan. Terlihat mulus tanpa penolakan dan kegagalan.

Belumlah beres masa studinya S2 nya, datang tawaran untuk melanjutkan S3 dengan mengikuti sebuah program kerjasama. Sehingga tak lama berselang dari kelulusan masternya, S3 lah dia di Ohio State University (OSU) ini. Di kampus yang sama dengan suami saya. Masha Allah.

Penasaran ga sih dengan kisahnya teman saya ini? Jujur, saya saja sampai sekarang ga percaya kalo dia sampe ke titik sekarang hanya karena dia seorang Yes Man. #sayajulid

Yes Man Story
Tak banyak orang yang mengetahui kisahnya, kata teman saya ini pada saya. Karena memang dia bukanlah sosok yang pandai membuat cerita apalagi mengisahkan diri untuk dijadikan inspirasi sekitar. Memang, teman saya ini terlihat sebagai pribadi yang serius dan cukup kaku. Media sosialnya lebih sering berbincang perihal yang berat-berat kaya batu ๐Ÿ˜….

Kadang saya suka bingung, kenapa hanya sedikit orang-orang hebat yang mau dan mampu membagikan inspirasi hidup mereka ke khalayak, termasuk teman saya ini.

Jadilah saya berpikir untuk meneruskan kisah-kisah keren ini. Setelah sebelumnya saya berhasil memperoleh kisah keren lainnya dari seorang wanita sekaligus ibu. Dan sama, dia juga tidak mau identitasnya dimunculkan. Masha Allah tawadhu sekali. Tabarakallah.

Baca Juga: Menempuh Doktoral Bersama Bayi

Back To Yes Man's Story
Teman saya ini, sebelum berangkat S2, bekerja sebagai salah satu staf administrasi di salah satu kampus negeri. Kalo dipikir-pikir, staf administrasi kok bisa-bisa nya sekolah tinggi, keluar negeri pula. Tapi disinilah inti cerita saya tentang apa yang saya cantumkan pada judul tulisan saya, Yes Man: Inspirasi Belajar Keluar Negeri

Berawal dengan kepribadian yang senang meng-iya-kan segala macam tawaran selagi bermanfaat dan positif, tanpa memikirkan benefitnya-teman saya ini secara tidak sadar menjemput takdir baiknya seperti sekarang. Terkesan minimalis sih usahanya. Ga kaya para pemburu beasiswa yang pernah saya baca yang jatuh bangun sampe berdarah-darah.

Bukan Berarti Tak Ada Usaha
Memang, teman saya ini tidak memiliki target capaian tertentu. Katanya, dia hanya mengusahakan apa yang bisa dilakukan dan melihat peluang yang bisa diambil.

Jadi, ketika sedang skripsi, saya lupa lagi apakah setelah sidang atau justru sebelum sidang skripsi, dia memperoleh tawaran dari salah seorang dosen di jurusannya untuk melamar menjadi staf administrasi salah satu pembantu rektor. Tanpa pikir panjang dia melayangkan lamaran tersebut dan setelah melalui fit and proper test, dia diterima.

Tadinya, dia melirik balai bahasa kampus tersebut sebagai tempat memulai debut karirnya. Tapi ternyata nasibnya tak berjodoh disana katanya. Sempat sedih dan kecewa juga dia, karena bisa dikatakan dia sangat berharap bisa bekerja di balai bahasa.

Ternyata, jalan rezeki memang terbuka melalui pintu lain. Begitu ungkap teman saya ini. Setelah menjadi staf administrasi, kesempatan berselancar di dunia maya jadi lebih banyak. Disinilah dia memiliki waktu dan fasilitas lebih dalam mempersiapkan diri untuk melamar beasiswa dan mencari kampus tujuan. Berbekal internet kampus disela waktu istirahat kerja.

Tentunya persiapan ini perlu usaha dan kerjakeras. Saya bilang ke teman saya ini, kok bisa kamu langsung lulus. Kamu hebat banget donk ya. G-E-N-I-U-S

Baca juga: Yang Muda Yang Inspiratif

Dan dia menangkis, entahlah, mungkin hanya ingin rendah hati ๐Ÿ˜…. Dia bilang dia hanya mengatur strategi dengan tidak ngoyo harus ke negara mana dan di kampus apa. Dia juga hanya memastikan kemampuan dirinya untuk memperoleh beasiswa yang dia bidik dan kampus yang dia lirik mampu dia penuhi standar kelulusannya. Istilah orang sekarang mah kaya memantaskan diri gitu.

Dia Ternyata Pernah Gagal
Mengulik kisah lainnya agar saya tak terlalu terhempas, akhirnya saya pun iseng bertanya.

"Pernah gagal ga? Atau punya fase pahit atau apalah yang ga ideal dalam hidup." Kata saya.

"Pernahlah ... ... ...". Cerita pun mengalir panjang kali lebar kali tinggi.

Saya yang mendengarkan mengangguk-ngangguk paham. Hati saya bergumam dan secara tidak sadar membandingkan dengan diri sendiri. Saya jadi menyadari bahwa penyikapan teman saya ini terhadap masalah, kegagalan atau ketidak idealan dalam hidup, sangat berbeda dengan saya.

Sedikit Tentang Latar Belakang Yes Man ini
Berasal dari keluarga sederhana, ayahnya seorang guru dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Melanjutkan SMP dan SMA di pesantren modern yang tak jauh dari rumahnya di sebuah kabupaten. Pesantren ini baru saja berdiri saat itu, tanpa kualitas yang mumpuni dan prestasi yang menjanjikan.

Kehilangan sang Bapak di tahun 2008 justru nyaris membuat dia tak bertitel sarjana. Berbekal beasiswa kesana kemari dengan bantuan orang sekitar yang baik hati, 2010 gelar sarjana dia raih.

Diterima S2 atas restu ibu, harapan mendiang bapak dan dukungan atasannya
Selain "Yes Man" ke segala hal, teman saya ini ternyata juga "Yes Man" ke orang tuanya. Bersekolah di pesantren, yang katanya jadi pembuka kebebasan berfikir dan berindak, karena mengiyakan permintaan ayahnya.

Berkesempatan pesantren di Gontor, tapi karena sang ibu tidak rela berjauhan dan meminta sekolah di pesantren dekat rumah saja, jadi jalan buat dia memperoleh berkah ilmu. Padahal teman saya ini bilang, dia bersekolah di pesantren nodern yang belum ajeg sistemnya kala itu. Kelas dan guru pun masih terbatas. Tapi memang ilmu kalo berkah mah ya. Ga usah cari tempat favorit atau ternama apalagi mahal hehehe.

Setelah direstui sang Ibu, lamaran beasiswa dia diterima atas bantuan rekomendasi atasannya. Pada tau kan kalo pengajuan ke beasiswa ada yang meminta untuk menyertakan rekomendasi profesor atau doktor?

Baca juga: Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Studi ke Amerika

Tawaran S3 Datang
Meski sedang cuti sementara dari kantornya, atasannya teman saya ini memang tipe atasan yang mendukung sekali jika ada bawahan ulet menuntut ilmu. Jadi, saat teman saya ini sedang di titik akhir penuntasan S2 nya, tiba-tiba dia memperoleh tawaran S3 dari atasannya melalui sebuah program kerjasama. Dimana teman saya ini bisa melanjutkan S3 di salah satu dari 3 kampus yang tergabung dalam program tersebut. Artinya, dia dibantu semua hal untuk memperoleh LoA dari kampus-kampus tersebut.

Setelah menuntaskan semua syarat dan ketentuan untuk mendaftar di kampus yang dia pilih, yaitu OSU, dia pun mulai mencari beasiswa karena kerjasama yang ditawarkan tidak mengurusi funding. Singkat cerita, dia berhasil memperoleh beasiswa LPDP. Lagi-lagi, tanpa mengalami kegagalan dulu ๐Ÿ˜…. #guesewot

Inspirasi Part 2
Kita tentunya tidak bisa menyamakan jalan hidup kita dengan orang lain. Karena setiap manusia memiliki jalan hidup dan garis takdir masing-masing. Tapi, tak lantas membuat kita menutup mata dari kisah hidup orang lain juga.

Hikmah, inspirasi atau pelajaran bisa datang dari mana pun, siapapun. Mungkin nasib kita tidak akan serupa dengan orang sukses yang tengah kita baca atau dengar kisahnya. Tapi, semangat atau pengalaman dan cara mereka menjalani hidup, tentu bisa kita ambil untuk ditiru yang baik-baiknya. Pun dari mereka yang mungkin di mata kita bukan siapa-siapa, inspirasi tetap bisa kita petik jika kita mau jeli melihat dan menyusuri.

Baca Juga: Rubrik Baru: Inspirasi Hari Ini

Belajar dari kisah teman saya, sebut saja namanya Yes Man tadi, banyak pelajaran yang bisa saya ambil.

1. Lakukan Apapun Selagi itu Baik
Kadang, saya suka picky dalam melakukan sesuatu. Apalagi kalo dirasa hal tersebut tidak terlihat benefitnya. Saya mengenal teman saya ini sebagai orang yang sangat pintar. Heran, kok dia mau jadi staf administrasi alias kerjaan yang ga ada sama sekali bayangan karirnya sebagai lulusan sarjana pendidikan. Tapi, ternyata justru disitulah batu pijakannya untuk melompat menjemput takdir akademik dan karirnya.

2. Ijabahnya Doa sang bapak
Tertampar rasanya saya ketika mendengar kisah teman saya ini. Sebegitunya dia memuliakan orang tuanya. Dan ternyata, sebelum ayahnya meninggal, ayahnya sudah berfikir menyekolahkan teman saya ini ke jenjang S2. Saya melihatnya, takdir dia bersekolah ini sebagai ijabahnya doa sang bapak untuk anaknya.

3. Kebiasaan Baik Kepada Ibu
Ada sebuah kebiasaan yang dimiliki teman saya ini yang menurut saya membuat jalan hidupnya berkah. Yaitu selalu memberi kabar dimana pun dia berada dan meminta doa kepada ibunya setiap kali hendak tes, ujian dan lain-lain.

4. Belajar lagi belajar terus dimana dan kapan pun
Motivasi teman saya ini dalam belajar ternyata sederhana, yaitu hanya ingin mengetahui sesuatu yang belum diketahui. Wow! Lha saya? Baru aja merasa belajar rada banyak, ngedadak udah merasa cape karena motivasinya salah niat ๐Ÿ˜…. Makanya teman saya ini kerjaannya belajar lagi belahar terus dimana pun dan kapan pun. Tak harus melalui jalur formal, non formal atau informal, semua adalah tempat belajar.

Tips Mencari Beasiswa dan Kampus
Sebagai penutup dari tulisan ini, teman saya menitipkan beberapa tips buat temab-teman atau adik-adik yang sedang mencari beasiswa baik di dalam atau pun luar negeri. Tips umum dan mendasar dalam mencari beasiswa dan kampus.

1. Pelajari
Banyaknya informasi tentu harus benar-benar kita pelajari. Baik informasi mengenai beasiswa ataupun kampus. Setelah yakin paham dengan semua syarat, ketentuan, proses dan prosedurnya, maka mulai list persiapan yang perlu dilakukan.

2. Persiapkan dengan matang
Persiapan untuk berkuliah dengan bantuan beasiswa, biasanya meminta beberapa hal sebagai gambaran kemampuan dan kelayakan kita sebagai applicant. Sehingga pastikan apa yang kita persiapkan itu detail, mulai dari persiapan dokumentasi maupun persiapan tes.

3. Pasrahkan diri
Jika usaha yang kita lakukan sudah maksimal, maka pasrahkan diri untuk hasil terbaik di mata Allah. Luruskan kembali niat.

Dari Saya
Itulah sekisah yang bisa saya sampaikan tentang inspirasi hari ini. Semoga kita jeli dan ga pake gengsi melihat dan memetik inspirasi dari sekitar.

Buat yang belum tau, rubrik inspirasi ini terlahir untui melatih diri saya pribadi untuk bisa lebih peka terhadap inspirasi-inspirasi yang terserak.

Columbus, 3 Februari 2019