MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Catatan Akhir Tahun, Selesai di Awal Tahun

Minggu, 08 Desember 2019
Barusan iseng buka blog sendiri di chrome. Kemudian ku tersadar bahwa tahun 2019 akan segera berakhir. Dan saat ku melihat jumlah tulisan di blog pada tahun 2019 anjlok, disitu ku sedih kenapa ku berhenti ngeblog 😭.

Terkadang kita memang butuh berhenti dari sesuatu yang tadinya rutin kita jalani. Namun berhenti terlalu lama tentu juga tidak baik. Yang ada malah keenakan seperti halnya saya yang berhenti ngeblog 😒.


Tahun 2019 memang tahun hectic saya. Selain hectic karena bertambah anggota keluarga, saya juga hectic karena menghadapi masa-masa akhir perkuliahan suami. Lebih tepatnya masa akhir kami menerima dana bantuan beasiswa LPDP. Artinya, ketika suami tidak lulus akhir tahun ini, maka kami harus bersiap membiayai uang kuliah semester depan.

FYI, uang kuliah mahasiswa disertasi di kampus suami ku (The Ohio State University) adalah sebesar $8000. Sangat mustahil kami bisa membayar ini semua. Pun dari pihak kampus terutama pihak jurusan suami, tidak bisa menjanjikan bantuan biaya kuliah. Sehingga satu-satunya solusi hanyalah SEGERALAH LULUS 😁😁

Setelah melewati lika liku yang cukup panjang, menantang dan bikin tegang, alhamdulillah suami ku lulus dan resmi jadi bapak Doktor tanggal 3 Desember kemaren. Trus aku otomatis jadi ibu Doktor kan ya ... ✌️✌️🀭🀭

Perjalanan studi suamiku bisa dibilang cukup epic. Dari awal memulai studi hingga detik-detik mau ujian sidang disertasi, ada aja hal-hal yang bikin semua tak sesuai rencana awal. Tentunya hal ini bikin ketar ketir donk. Karena seolah dibayang-bayangi ga jadi lulus tepat waktu.

Doyan Mempercepat
Entahlah ini baik atau tidak. Tapi memang 2 kata di atas gambaran keluarga kami. Entah mengapa segala sesuatu dikeluarga kami diuji dengan waktu. Bahwa apa yang kami jalani serba dipercepat. Termasuk kuliah suami.

S2 yang harusnya membutuhkan waktu 2 tahun, bisa diselesaikan dalam waktu 13 bulan oleh suami. Katanya motivasinya hanya 1, ingin segera berkumpul dengan keluarga. Padahal, awal perkuliahan suamiku ngeluh kewalahan mengikuti perkuliahan. Terlebih mata kuliah yang dia ambil ternyata mata kuliah anak S3. Biidznillah, ternyata terlewati semua. Tanpa ku tau bagaimana perjuangannya.

Dipercepat lulus kenapa bilang diuji? Karena bagi kami segala sesuatu itu adalah ujian. Paling tidak ujian niat bagi kami atau ujian hati biar tidak sombong. Dan ujian untuk suami yang ga terlalu lama menikmati US 🀭

Timeline Sekedar Timeline
Bagi kami, berbagi dan mendiskusikan jadwal dan targetan diri satu sama lain bisa dikatakan jadi rutinitas. Jadi misal suami bilang akan ada magang bulan sekian tanggal sekian. Saya pun demikian, harus kesini dan dan kesini untuk pemenuhan kebutuhan hari ini minggu sekian bulan sekian.

Namun ternyata dalam perjalanannya, timeline hanya sekedar timeline. Sangat banyak jadwal yang berganti tidak sesuai timeline, termasuk jadwal perjalanan studi suami. Kalo timeline aku kalo berubah cuma ngefek kekondisi perut πŸ˜‚. Kalo timeline studi suami???

Normalnya, akhir tahun 2018 suami sudah harus menjalani ujian candidacy, semacam komprehensi. Namun ternyata harus diundur karena saya baru saja melahirkan anak ketiga. Kemunduran ini tentu berimbas pada timeline yang lain. Sehingga kami merasa perlu melirik hal lain yang bisa membantu kami mengembalikan timeline menjadi normal. Terutama timeline kelulusan 😁

Mempercepat Kepulangan Saya dan Anak-anak adalah bagian dari Solusi
Tak banyak keluarga yang memilih berpisah ketika menjalani studi. Dan mungkin sangat jarang sekali keluarga mahasiswa yang mempercepat kepulangan mereka. Jikapun ada bukan untuk konteks mempercepat, namun melepas rindu dengan mudik.

Berbeda dengan keluarga kami yang memilih mempercepat kepulangan saya dan anak-anak sebagai salah satu usaha normalisasi kondisi. Selain itu, deadline lulus  suami yang bersamaan dengan musim dingin, membuat kami semakin membulatkan tekad untuk kembali menjalani hubungan jarak jauh (LDM/Long Distance Marriage).

Tentunya kepulangan ini sudah mengalami pertimbangan yang matang. Bahkan sudah kami persiapkan sejak tahun 2018. Namun secara teknis memang terkesan mendadak.

Realistis
Sebagai keluarga yang memiliki anak cukup banyak, kami mencoba realistis dalam mengambil keputusan. Apakah sebuah keputusan diambil benar-benar murni untuk memperoleh kebaikan bersama atau hanya ego sesaat.

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan real kami adalah perihal uang. Manakah yang lebih hemat ketika kami hidup bersama hingga kelulusan atau hidup berjarak. Setelah dihitung-hitung, sebenarnya sama aja. Cuma beda tipis πŸ˜‚.

Tiba-tiba Banyak Drama
Dimasa-masa penuh pertimbangan ini, entah kenapa tiba-tiba kami merasa memperoleh begitu banyak skenario drama kehidupan πŸ˜…. Mulai dari drama kompor ga bisa mati saat suami sedang di Kanada, drama lupa matiin kompor sampe rumah nyaris kebakaran, drama Zaynab eczema, drama zazi gores mobil tetangga dan kami ganti rugi sebesar $600, hingga drama keluarga dekat (pamannya suami) kami meninggal 2 orang.

Drama yang terakhir inilah yang akhirnya membuat saya memutuskan memantapkan diri berkata:

"Kayanya ini pertanda kita disuruh pulang ke Indonesia deh!"

Bukan karena saya merasa dipaksa, tapi benar-benar lebih ke 'perenungan' gitu lho. Kondisi dimana kita merasa kok ya banyak kejadian yang ngegiring kita untuk selalu mikirin satu hal. Dalam kasus kami, satu hal nya adalah pulang ke tanah air.

Mama Mertua
Tinggal di daerah rawan banjir seorang diri, merupakan faktor pendorong mempercepat kepulangan ke Indonesia.

Sebenarnya orang-orang sekitar mertua ada. Tetangga alhamdulillah baik2. Pun sebelah rumah mertua masih rumah adik dan kakak dari mama mertua.

Namun, karena kerabat yang meninggal merupakan suaminya bibi. Yang mana beliaulah selama ini satu-satunya laki-laki yang masih kuat untuk melakukan ini itu untuk keluarga di Baleendah, terutama ketika banjir datang. Jadilah membuat kami semakin galau. Artinya hanya tersisa Uwa yang sudah renta laki-lakinya. Kalo terjadi apa-apa? Amerika itu jauh. Ga bisa pulang mendadak dan butuh waktu 2 hari baru sampe ke Indonesia.

Selain itu, kondisi kesehatan mama mertua juga agak kurang stabil. Semakin membuat kami tidak terlalu menikmati kehidupan di rantau seperti tahun sebelumnya. Ya inilah mungkin yang dinamakan cara Allah ngasih petunjuk ya. Karena kan yang menghadirkan pemikiran untuk pulang, tentunya Allah. Dan alhamdulillahnya udah di tahun akhir kuliah. Kalo tahun awal? Ga kebayang bakal kaya gimana ☹️.

Meluruskan Niat
Meskipun niat awal pulang dipercepat karena karena ingin berbirrul walidain, kami tetap harus meluruskan niat. Khawatirnya kalo niat salah, malah bikin kecewa dan jadi ga ikhlas dengan keputusan yang sudah diambil. Salah satu caranya biar lurus niat, dengan melihat berbagai macam konsekuensi logis yang akan kami hadapi sesampai di Indonesia. Apa sajakah itu?

1. Sekolah anak-anak
Mempercepat kepulangan artinya memberhentikan sekolah ZaZi sebelum waktu liburan tiba. Ada rasa sedih bercampur kasihan. Karena ZaZi tengah menikmati sekali bersekolah disini. Terlebih mereka sudah kelas 1 SD. Ya Allah ... Sedih kalo harus mengingat-ingat ini. Semoga ZaZi bisa memperoleh pengalaman belajar lebih baik di Indonesia.

Hingga saat ini saya belum bisa bercerita banyak tentang pilihan pendidikan ZaZi. Opsi homeschooling masih menduduki peringkat pertama πŸ˜…. Dan kegalauan hati karena karena sekolah ZaZi ini sudah saya persiapkan agar kuat mental hiks. Doakan ya ...

2. Adaptasi anak-anak, jiwa dan raga
Perubahan cuaca dan iklim dari negara 4 musim ke negara tropis, anak-anak tentu butuh waktu adaptasi fisik. Perubahan iklim sosial pun membuat anak-anak cukup terkaget melihat perbedaan yang ada antara Amerika dan Indonesia. Dan tentunya kami harus bersiap untuk hal ini.

Benar saja, minggu awal di Indonesia, anak-anak-anak bergantian diare dan demam. Memasuki musim penghujan, mereka mengalami batuk kering disertai demam juga secara bergantian. Drama anak sakit di rantau vs saat LDM itu beda sensasinya πŸ˜…

3. Domisili
Mempercepat kepulangan saya dan anak-anak artinya, suami belum selesai kuliah. Belum Ph.D. artinya, setelah ke Indonesia, suami harus kembali ke US. Artinya lagi, kami harus memikirkan pilihan domisili saat LDM.

Disinilah niat mulia birrulwalidain diuji. Setelah 1 minggu bersama mertua, kami pun bertolak ke Payakumbuh (rumah orang tua saya). Rumah mertua yang langganan banjir, di musim panas jadi kekeringan. Dampaknya, anak-anak diare karena kekurangan air bersih dan mungkin karena adaptasi cuaca dan dan lingkungan juga.

Alhamdulillah kondisi mertua stabil dan support kuliah anaknya kelar cepat. Sehingga segala macam bentuk keputusan kami beliau dukung. Paling tidak jika terjadi apa-apa, saya sudah di Indonesia dan bisa dengan cepat ke Bandung ketimbang kalo saya masih di US . Ya kan?

4. Disertasi
Konsekuensi pulang cepat yang harus dihadapi berikutnya yaitu, pengerjaan disertasi suami yang dilakukan selama perjalanan dan di Indonesia. FYI, suami mengerjakan disertasi di Payakumbuh selama 3 minggu. Kenapa di Payakumbuh? Karena syarat pulang cepat yang saya ajukan yaitu, LDM jangan terlalu lama. Dan solusinya dengan memastikan sebelum pulang ke Indonesia apakah komite mengizinkan suami mengerjakan disertasi di Indonesia dengan meeting jarak jauh.

Dan alhamdulillah diizinkan πŸ˜ƒ

September Ceria, September ke Indonesia!
Meski sudah memutuskan pulang dipercepat, kami saat itu belum memutuskan akan pulang bulan apa. Di akhir tahun 2018 kami sempat mewacanakan pulang di bulan Mei 2019 dengan harapan ZaZi bisa sekolah SD di bulan Juli. Namun rencana itu tidak bisa terlaksana karena suami tidak memungkinkan perjalanan jauh di bulan tersebut.

Selain itu, bulan Mei merupakan bulan dimana eczema Zaynab masih meradang parah. Fokus kami saat itu hanya ke penyembuhan Zaynab. Sehingga hilanglah wacana pulang bulan Mei.

Memasuki akhir Juni, tiba-tiba suami menginfokan bahwa dia bisa ke Indonesia bulan November untuk menghadiri conference. Sehingga kami wacanakan pulang bulan November 2019. Saya pun tidak keberatan karena hanya beda 1 bulan dari kelulusan.

Tak lama berselang, ternyata paper suami juga diterima panitia conference di Jakarta. Dan bulan pelaksanaan conferencenya adalah bulan September. Saya pun keberatan jika pulang bulan September. Karena terlalu lama dari bulan kelulusan. Ditambah saat itu suami masih belum seminar proposal. Sehingga susah untuk saya optimis suami bisa lulus bulan Desember.

Disaat kami masih belum memutuskan kapan akan pulang, bulan Juni atau Juli dalam 2 minggu berturut-turut kami memperoleh berita duka seperti yang saya ceritakan di atas. Disaat itulah saya berfikir bahwa, oh mungkin ini momen yang Allah kasih. Bismillah, dengan segala macam kemungkinan, kami pun memutuskan pulang di bulan September.

Perlahan Melihat Cercah Harapan
Semua berlalu begitu cepat. Saya tidak bisa menggambarkan rincinya bagaimana. Seingat saya, justru pasca kami memutustkan pulang bulan September, satu persatu timeline studi suami terlaksana.

Target seminar proposal yang tadinya bulan Agustus sempat sirna, melihat secercah harapan. Bagaimana ga pesimis. Suami baru candidacy bulan Mei 2019. Agak mustahil jika seminar proposal dilakukan 3 bulan setelahnya. Melihat dari pengalaman teman-teman mahasiswa Indonesia lain, paling cepat jarak antara candidacy dengan seminar proposal yaitu 6 bulan. Bahkan ada yang 1 tahun atau lebih.

Alhamdulillah, sebelum akhirnya pulang, suami memperoleh jadwal seminar di bulan September awal. Tadinya kami sempat deg-degan. Jika sebelum pulang suami belum seminar, maka kemungkinan lulus Desember yang tadinya 80% bisa merosot jadi 1%. Yangmana 1% itu adalah takdir. Artinya, akan ada kemungkinan kami LDM cukup lama ☹️.

Saya deg-degan takut LDM. Suami deg-degan nya banyak. Takut LDM iya, takut bayar uang kuliah sendiri pun iya πŸ˜….


Itulah mungkin hadiah dari Allah karena niat mau birrulwalidain hehehe. Jadinya dilancarin studi 😍. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah.


LDM Babak 3
Ya! Pasca saya dianter pulang ke Indonesia bulan September, bulan Oktober kami pun memasuki babak ketiga LDM. Doyan amat ya LDM πŸ˜…. Itulah tadi yang saya katakan berhenti sesaat.

Berhenti sesaat dari rutinitas bersama. Hidup terpisah. Asal jangan terlalu lama. Karena khawatir keenakan kaya saya keenakan ga ngeblog πŸ˜‚πŸ˜‚. Kan bahayaaaa

Ya begitulah. Live must go on kalo kata orang. Suami harus lulus tepat waktu kalo ga mau LDM lama-lama. Artinya, disertasi harus kelar. Riak-riaknya bikin banyak berdoa. Ya itulah tujuan Allah ngasih kita riak kehidupan.

Sebelum balik ke US, disertasi suami sempat diobrak-abrik lagi pasca hasil revisi seminar dikembalikan komite ke suami. Saya aja stres. Apalagi suami. Raga suami di Payakumbuh. Tapi jiwanya sama disertasi πŸ˜‚πŸ˜‚. Sampai akhirnya balik US, diperjalanan pun laptop jadi kekasihnya πŸ™ˆ. Demi submit ontime ke komite agar memperoleh kejelasan apakah bisa final exam atau ...

Alhamdulillah, minggu awal November kami sudah memperoleh kejelasan timeline. Kapan pre exam, kapan final exam. Tapi, potensi gagal itu ada. Jika pre exam gagal. Final exam ga akan jadi 😭. Alhamdulillah semua terlewati. Yaitu resmi Ph.D atau doktor per tanggal 3 Desember 2019.

S2 dan S3 Tak Wisuda
Karena wisuda itu tak selamanya pas sama timeline kita πŸ˜….

Jaman S2, di Ohio University jadwal wisuda hanya 2 kali dalam 1 tahun, yaitu bulan Mei dan Desember. Sedangkan suami lulus bulan Agustus. Bisa sih dikondisikan lulus Desember untuk wisuda. Toh masih ada hak dari beasiswa. Tapi, family is numero uno πŸ™ˆ. Alias udah kangen keluarga. Apalagi dari nikah bisa dikatakan kami hanya bersama 8 bulan doank. Ya pasti kangenlah 😒

Begitu juga dengan S3. Ujiannya luar biasa.

Bisa. Bisa banget kalo suami mau wisuda. Peluang besar banget bahkan bisa bantu kita nambah pundi-pundi tabungan. Namun ternyata kami ga bisa bohong. Family is numero uno πŸ˜…. Terutama anak-anak udah besar kaya sekarang. Rapuh kami sekeluarga di LDM babak 3 ini. Hingga akhirnya, lagi-lagi pak Topik ga wisuda 😒.

Yang sedih saya. Yang merasa bersalah saya. πŸ˜”πŸ˜Ÿ Suami? Alhamdulillah santai kaya di pantai. Saya hanya berdoa semoga Allah kasih pengganti kisah yang lebih indah. Aamiin.

Demikian
Ya begitulah catatan akhir tahun saya. Meski sudah di Indonesia dari bulan September, tapi karena suami baru pulang dari US tanggal 24 Desember kemaren, jadi saya pun merasa baru pulang πŸ˜‚. Lebih tepatnya baru akan bersiap menghadapi kehidupan pasca rantau yang sebenarnya. Karena 3 bulan kemaren hanyalah masa transisi dimana kami belumlah bertransformasi secara utuh sebagai 1 keluarga.

Semoga cerita panjang ini ada hikmahnya πŸ˜….

Setiap keputusan yang diambil secara sadar, in sya allah bikin kita jadi bisa melihat lebih dalam hikmahnya. Dan bikin bersyukur banyak. Ya meski tetap sih saya masih rindu Columbus. Ga boong kalo saya reverse culture shock πŸ™ˆ sampe sekarang πŸ˜‚πŸ˜‚.

Payakumbuh, 1 Januari 2020

Babak Baru Pendidikan Anak

Rabu, 06 November 2019
Satu bulan lebih satu minggu saya dan anak-anak di Indonesia. Hal penting yang selalu dipikirkan dan direncanakan sejak dari jauh hari hingga sekarang adalah tentang hak pendidikan anak-anak terutama Zaid dan Ziad (ZaZi). Aneka kemungkinan dengan segala alternatifnya sudah saya dan suami perkirakan sebelum balik ke Indonesia. Sekarang tiba masanya untuk menjalankannya.

https://thebestschools.org/magazine/homeschool-style-right/

Jika boleh berkata jujur (kalo bohong kan dosa πŸ˜…), salah satu pertimbangan saya memulangkan diri sendiri dan anak-anak tanpa menunggu kuliah suami selesai yaitu karena pertimbangan hak pendidikan anak-anak. Memang tidak terlalu signifikan antara pulang September atau Desember tahun ini jika dikaitkan dengan periode tahun ajaran. Karena tetap ZaZi akan masuk SD di tahun ajaran 2020/2021.

Namun, rentang waktu 3 bulan itu cukup signifikan untuk saya pribadi agar bisa beradaptasi dalam mempersiapkan segala sesuatu terkait hak pendidikan ZaZi. Dalan hal ini terkait pilihan jalur pendidikan, formal atau informal.


Banyak faktor yang selalu menjadi bahasan ketika saya dan suami berbicara tentang pilihan jalur pendidikan untuk anak-anak kami. Pilihan untuk melakukan homeschooling (HS) pun masuk daftar kemungkinan. Bahkan sejak ZaZi berusia bayi kami sudah mengangkat wacana HS ini.

Babak Awal Pendidikan ZaZi
Meskipun wacana untuk melakukan HS sudah muncul sejak ZaZi bayi, gambaran pelaksanaannya justru baru muncul sekarang-sekarang ini. Kenapa? Karena kondisi baru bisa dikatakan cukup stabil saat ini, terutama kondisi saya sebagai pelaku utama yang akan mengeksekusi HS ini.


Sehingga, tercatatlah bahwa ZaZi menyicip pendidikan di lembaga formal untuk tahapan pendidikan anak usia dini di usia 2,5 tahun. Hingga usia 6 tahun bulan Juli lalu, ZaZi masih menjalani pendidikan formal di tanah rantau kami, negeri Paman Sam.

Meskipun babak awal pendidikan ZaZi adalah jalur formal, tetap saja bahasan kemungkinan untuk melakukan HS menjadi topik utama dalam pembahasan hak pendidikan untuk ZaZi. Terlebih mengingat kami yang sudah merantau 3 tahun lebih di negara yang sistem pendidikannya sangat memanjakan kami. Keluar dari zona nyaman, jujur kami pun agak sedikit gamang.

Babak Baru kah?
Berawal dari kegamangan saya sebagai seorang ibu yang memiliki kepekaan rasa, akhirnya kami mencoba untuk mengalokasikan waktu lebih untuk proses adaptasi saya dalam mempersiapkan pendidikan untuk ZaZi. Dan tentunya juga proses proses adaptasi untuk ZaZi di tanah kelahirannya yang memiliki kultur dan suasana yang berbeda dengan Amerika.


Dan inilah dia, katakanlah babak baru jalur pendidikan ZaZi. Meskipun belum resmi dan bisa dikatakan sebagai babak percobaan sebelum memasuki tahun ajaran baru, apa yang ZaZi lakukan saat ini tentunya menjadi bagian dari periode perjalanan pendidikan mereka.

Rekam Jejak Babak Baru
Tercatat sejak tanggal 14 Oktober 2019, saya berpositif diri untuk mengeksekusi aktivitas belajar ala HS versi saya. Saya mencoba meyakinkan diri bahwa memiliki bayi bukanlah penghalang. Bahwa menikmati proses terkadang menjadi jalan terang terbukanya jalan menuju tujuan.


Tak perlu jauh-jauh saya melihat contoh untuk bisa menyemangati diri. Perjalanan blog ini justru berawal dari ketidakyakinan dan kurangnya rasa percaya diri saya. Namun dengan segala gejolak yang muncul saya tetap berusaha menghasilkan satu demi satu tulisan yang tak pernah saya alamatkan diperuntukkan kepada siapa. Hingga akhirnya blog ini bisa menjadi sumber referensi untuk beberapa tulisan yang belumlah banyak ini.

Begitu pula untuk HS ZaZi, saya berharap meski belum memiliki persiapan yang bisa dikatakan matang, menjalani satu persatu proses menuju HS ini bisa mengantarkan saya pada sebuah keyakinan hati untuk pilihan jalur pendidikan ZaZi, formal atau informalkah.

Aktivitas Kami Satu Bulan Ini
Tidak banyak tentunya aktivitas yang kami jalani dalam satu bulan penuh liku ini. Tapi selama makna belajar itu tak melulu sebatas belajar dengan mendengarkan guru menjelaskan dan dan kemudian mengerjakan tugas, maka bisa dikatakan ZaZi sudah melalui puluhan aktivitas dalam satu bulan terakhir.


Berawal dari aktivitas pagi yang belum terlalu teratur, saat itu saya masih menargetkan diri minimal ZaZi belajar formal 2 jam dalan sehari. Sehingga matematika, membaca dan menulis menjadi aktivitas utama.

Waktu berjalan, evaluasi terus dilakukan sembari berjalan. Muncul dilema tentang sekolah mengaji ZaZi yang tak kunjung ketemu. Akhirnya aktivitas prioritas beralih dari aktivitas akademis formal ke spiritual yang meliputi baca Iqro dan praktek shalat.

Memasuki minggu ketiga, minggu dimana perpisahan dengan Abinya terjadi. Sayapun agak sedikit longgar sembari menilik-nilik kembali apa yang harus saya lakukan agar tak jalan di tempat.

Akhirnya saya putuskan untuk membaca-baca kembali referensi HS dan tergiringlah otak ini membuka kembali website rumahinspirasi.com yang sudah lama tak saya singgahi. Tak lama berselang, saya pun memperoleh pinjaman buku karangan founder rumah inspirasi. Dan dari buku itulah kemudian saya tergerak menuliskan babak baru pendidikan ZaZi ini.

Selain itu, setelah membaca buku tersebut, saya menjadi semakin yakin dan percaya diri dalam mengkreasikan aktivitas HS ZaZi.

Tantangan
Tak ada gading yang tak retak, tak tak hidup tanpa tantangan. Begitu juga dengan babak baru ini. Dengan segala keterbatasan, dimulai dari sarana prasarana hingga mobilitas, HS ZaZi agak sedikit terkendala dualisme kepemimpinan antara Umi dan OmaπŸ˜….


Mengingat HS ini dieksekusi di lokasi sementara, dengan anggota keluarga yang tidak lengkap, tak bisa dipungkiri bahwa keteraturan dan juga rutinitas agak sulit diterapkan. Sehingga saya lebih bersifat fleksibel terhadap aktivitas HS ZaZi. Kondisi ini tak jarang membuat ZaZi kehilangan momen belajar materi akademis dan juga spiritual. Yang tersisa hanya materi lain berupa komunikasi sebagai jalan terakhir agar tetap terhubung dengan ZaZi.


Penutup
Bagaimanapun kondisinya, waktu terus berjalan dan usahapun harus terus disempurnakan. Dalam segenap keabstrakkan tulisan ini, yang mana saya sadar tak banyak informasi yang bisa teman-teman pembaca peroleh, saya mohon maaf. Maklum udah lama ga nulis πŸ˜…πŸ˜‚. Dan tulisan ini dalam rangka memecut diri ditengah kendala teknis yang saya temui ketika ngeblog dari HP baru ini #cieeeeeehpbaru

Ya udah sih ... Segitu dulu aja ya ... Mohon maaf kalo tulisannya ga dimengerti. Gaya nulis saya jadi kebawa-bawa serius abis baca buku HS πŸ˜‚πŸ˜‚.

Columbus eh udah di Payakumbuh denk,
5 November 2019

Ziad Munif Alfatih

Jumat, 01 November 2019
I miss you Abi. I want to see you again.


Warna Warni Hidup Di Amerika

Jumat, 18 Oktober 2019
Memulai hidup di perantauan, tentunya butuh waktu untuk penyesuaian diri dan adaptasi. Dari sekian banyak hal baru yang ditemukan di Amerika, bergulat dengan stereotype negatif tentang Amerika menjadi tantangan yang lumayan berat. Terlebih ketika stereotype tersebut benar-benar terjadi, tak sekedar anggapan belaka.

Apa sajakah itu?

1. Sering terjadinya penembakan di Amerika


2. Islamophobia dimana-mana



3. Seks dan pergaulan bebas terpampang di depan mata


4. Trumpmania


5. Stereotype Lainnya??? πŸ‘‡

Berdasarkan kompasiana.com, Orang Amerika diberi ciri sifat-sifat ’angkuh’ (arrogant), terbuka (open-minded), suka yang praktis dan efisien (efficient and practical), cuma tahu negaranya saja dan buta sama sekali dengan negara-negara lain (US-centered), egois, suka blak-blakan (straight-forward), tukang makan fast foods, tukang perang kayak koboi (war-monger) dan hobi mengucapkan God is with us.

Bagaimana Faktanya? 

1. Kasus Penembakan
Juli 2016 datang ke Columbus, Agustus disambut tragedi penembakan di wilayah kampus OSU


2. Islamophobia di Columbus
Pasca kejadian penembakan yang tersangkanya (kebetulan) seorang muslim, Islamophobia meningkat di wilayah Columbus dan negara bagian Amerika lainnya beberapa bulan setelahnya


3. Kehidupan muda mudi kampus
Memasuki semester fall di bulan Agustus akhir, pemandangan di kampus OSU tak lepas dari pakaian super minim dengan muda mudi yang bercengkrama tanpa batas




4.
Negara bagian Ohio termasuk wilayah merah. Namun kota Columbus, ibukota negara bagian Ohio masuk wilayah biru


5. Hal lainnya terkait adaptasi awal kedatangan

πŸ’¬ Konversi nilai mata uang


πŸ’¬ Lajur jalan dan aturan lalu lintas


πŸ’¬ Bahasa


πŸ’¬ Sistem belanja 


πŸ’¬ Perbedaan waktu


πŸ’¬ Makanan


πŸ’¬ Tempat ibadah


πŸ’¬ Standar sopan santun

Gimana???

Hidup dimana pun, pada dasarnya pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Begitu pula hidup di Amerika. Dari beberapa hal 'menyeramkan' di atas berdasarkan stereotype negatif yang ada terhadap Amerika, tinggal di Amerika tentunya masih ada hal positifnya. Apa sajakah?

1. Individual dan Menghargai Privasi
Sifat individualitas orang Amerika memberikan keuntungan tersendiri bagi kita pendatang. Berbeda dengan budaya di beberapa negara Asia dimana tingkat rasa ingin tau (kepo) cukup tinggi, di Amerika tidak. Butuh waktu hingga akhirnya seseorang berani menanyakan hal-hal pribadi seperti agama, usia, dan pilihan politik. Jika sudah benar-benar akrab dan membuka diri, barulah mereka berani menanyakan hal-hal pribadi, seperti menanyakan tentang kenapa perempuan muslim berhijab.


Sehingga sikap menghargai privasi ini mempermudah kita untuk menjalankan ibadah dan keyakinan pribadi kita dimanapun bahkan di tempat umum sekalipun. 

2. Sistem Belanja Islami?
Beberapa barang didesain bisa dicoba sebelum membeli. Seperti mainan yang bisa dicek apakah mainannya masih berfungsi baik atau tidak dengan fitur 'Try on Me!" Sedangkan untuk barang lain yang tidak bisa dicoba, layanan return dan refund membantu kita konsumen jika setelah pembelian ternyata barangnya cacat.

3. Tersebar aneka makanan berbahan dasar tumbuhan (vegan friendly)
Jika mau sedikit mempelajari kandungan bahan makanan yang muslim friendly, ternyata di Amerika sangat banyak makanan jajanan yang bisa dikonsumsi oleh Muslim. Salah satu caranya dengan melihat tanda tanda dietary yang terdapat di kemasan makanan tersebut.


Selain itu, juga ada aplikasi scan halal yang lebih praktis namun daftar makanannya masih sangat terbatas.



4. Pendidikan gratis hingga SMA dengan fasilitas yang lengkap
- playground
- ruang makan
- gym
- ruang seni
- perpustakaan
- ruang terbuka hijau

5. Fasilitas kesehatan tak pandang status ekonomi dan ras

6. Komunitas muslim yang menghimpun seluruh Muslim di Amerika
Terdapat ICNA (Islamic Circle Of North America) dan ISNA (The Islamic Society of North America)
Selain itu juga ada sister halaqoh yang terdapat di masjid-masjid sekitar

7. Komunitas muslim Indonesia yang sudah sangat besar
IMSA (Indonesia Muslim Society in America)
Ada juga pengajian lokaliti

8. Berbagai macam bantuan peningkatan kesejahteraan mulai dari bantuan berupa makanan hingga uang
- WIC
- Food assistance
- Santunan kesehatan

Ada di Indonesia, Ada juga di Amerika
1. Pengemis
2. Sales
3. Penipuan
4. Razia
5. Pasar tumpah
6. Warung dan kaki lima
7. Gerobak penjual makanan

Diskusi Yuk!


Payakumbuh, 18 Oktober 2019

Tulisan ini pointers buat berbagi dengan teman-teman di acara Ngobrol Seru 😁. 


Jastip Buatku Terlena Ga Ngeblog!

Jumat, 06 September 2019
Berapa lama ga ngeblog? Wow sekali rasanya. Banyak draft menanti tapi diri ini belum bisa fokus menuangkan ide tulisan dalam draft tersebut. Sibuk apa sih?

Pasca HP J7 saya rusak, aktivitas ngeblog langsung ga stabil. Proses Pergantian HPnya lumayan memakan waktu. Yang tadinya ngeblog masih menjadi 'kebutuhan' pelan-pelan berubah jadi kebiasaan kalo ga ngeblog. Pun saat HP sudah kembali ada (red. HP baru πŸ˜‚), eh ada beberapa gangguan cemet yang bikin aktivitas nulis blog di HP ga senyaman HP J7 ku 😭.


Dan pada akhirnya, saya ga ngeblog lagi. Sedih. 😩

Tapi eh tapi, ada hal lain memang yang membuat aktivitas ngeblog jadi anak tiri. Apa aja tuh?

1. Prioritas nuntasin eczema Zaynab yang bikin saya kurang bisa begadang seperti jaman dahulu 😁
2. Efek samping begadang yang mempengaruhi kuantitas ASI sehingga saya susah alokasi waktu untuk menulis karena prime time menulis saya ya di malam hari πŸ˜…
3. Saya mendadak buka jasa titip beli dan bawa  barang dari Amerika.

Nah, poin yang ketiga ini nih yang bikin saya terbuai dalam lamunan cinta 🎀

Sekitar akhir Juni kemaren, saya pengumuman buka jastip di akun medsos saya. Tak kira yang nitip paling banter cuma 5 orang dan itu pun cuma nitip buku. Ternyatah????

Masya Allah tabarakallah ... Semoga selalu dalam keberkahan Allah ... Alhamdulillah yang nitip ada 48 orang dan mostly nitip barang bermerk😭😭

Saya yang awam dan polos ini ga nyangka bakal sampe serame itu. Padahal awalnya cuma 'iseng' aja. Iseng dalam artian, posting aja. Ada atau ga ada yang beli ya ga papa. Yang penting ada aktivitas sebelum back for good. Begitu lah lebih kurang bisikan nurani akoh.

Ternyata banyak yang nanggepin. Terus 'bodohnya' saya mau aja ya direpotin buat ngecekin ini dan dan itu. Akhirnya ngerasa bodoh dan lelah, saya pun bikin aturan khusus untuk jastip dadakan bin karbitan ini.

Singkat cerita, dari akhir Juni sampe kemaren awal September, saya blas 'sok sibuk' ngurus jastip. Apanya sih yang diurus sampe ga sempet ngeblog??

1. Transaksi sama customer (teman-teman di Indonesia yang mau sesuatu barang dari Amrik)
2. Transaksi sama produsen (maksute beliin barang konsumen dari sini, online atau offline)
3. Ngotak ngatik keuangan biar ga bablas kehabisan dolar.
4. Ngurus beberapa masalah teknis mulai dari barang yang di cancel sepihak sama suatu web online sampe ke miskomunikasi dengan customer.
5. Packing repacking barang-barang orang
6. Packing barang-barang sendiri (bukan jastip donk ini tapi oyeh oyehπŸ˜‚)
7. Beresin rumah (biar enak ngepacking2)
8. Yang pasti mah sibuk belanja dah berasa sosialita aja akoh πŸ™ˆ

Saya manusia riweuh bin hectic ini tentu sangat tersiksa menjalani kehidupan serba mendadak ini. Jastip mendadak pun pulang mendadak. Tapi meskipun de mi ki an ... Tetap saja saya suka yang mendadak ini πŸ˜…. In sya allah tetap well prepare 😁 yang ga akan bisa dibayangin sama kamuh preparasi versi saya tu kaya gimana. Preparasi orang perfeksionis 😌😌.

Hmmm, nulis apalagi ya πŸ€”πŸ€”

Dah ah ... Semoga ga dikick dari 1m1c aja πŸ˜‚πŸ˜…

Columbus, 6 September 2019




Berteman Dengan Eczema

Senin, 22 Juli 2019
Halo semua. Setelah sekian lama ga nulis, semoga apa yang saya tulis sekarang kelar dan published ya πŸ˜…

Semenjak Zaynab terkena eczema, saya memang tidak memaksakan diri memenuhi target menulis di blog yang tadinya satu kali kali dalam satu minggu. Seminggu berlalu, dua minggu dan akhirnya dua bulan. πŸ˜… Tak terasa kebiasaan menulis memudar dan dan masuklah saya dalam zona nyaman yang berkepanjangan. Nyaman kagak ngeblog πŸ™ˆ.

Sekarang? Alhamdulillah perlahan saya mulai mengerti bagaimana eczema itu dan cara mengontrolnya. Jadilah saya pengen aktif nulis lagi di blog. Kangen kaaaaaan akutu πŸ€—πŸ€—πŸ€—

Baca Juga: Alergi dan Eczema

Eczema atau Dermatitis?
Sesungguhnya ku tak tak ingin membahas istilah. Selain lelah bolak balik nge-googling. Ku juga takut salah paham dan jadi sok tau. Tapi eh tapi, ga papalah ya tak tulis saja disini. Kalo-kalo misal ada yang keliru kan bisa dikoreksi sama kamu😁.

Eczema atau dermatitis merupakan dua istilah untuk sebuah kondisi serupa. Namun ternyata, ada perbedaan dalam dua istilah ini.


Eczema sendiri, merupakan istilah yang digunakan untuk sebuah kondisi kulit yang mengalami peradangan. Sedangkan dermatitis , istilah umum yang digunakan untuk seseorang yang memiliki gejala gangguan kulit seperti merah-merah, gatal, kering dan lain-lain yang salah satunya adalah eczema.

Tapi, kayanya ini mah ya. Eczema ataupun dermatitis merupakan dua istilah untuk kondisi serupa. Kalo kata saya sih, eczema itu istilah terkenalnya, dermatitis itu istilah medisnya. Yang intinya si dua istilah ini kerap digunakan untuk sebuah kondisi kulit yang tidak wajar dan bersifat genetis atau turun temurun.

Istilah Lainnya
Saya kurang paham memang kenapa ada berbagai macam istilah yang digunakan untuk sebuah kondisi kulit meradang ini. Selain eczema dan dermatitis, penggunaan istilah eksim atopik juga kerap ditemukan atau dermatitis atopik. Nah eksim atau dermatitis atopik inilah yang disebut sebagai istilah lain dari eczema.

Nah dikalangan masyarakat awam, selain istilah eksim, kondisi kulit dengan gangguan berupa rasa gatal, kering, merah-merah, mengeras, bintik-bintik terkadang muncul dengan istilah amis darah atau manis darah. Saya pribadi sih ga tau apakah istilah tersebut sama atau tidak. Yang pasti istilah dermatitis memang digunakan untuk menggambarkan sebuah gangguan kulit. Jenisnya atopik atau tidak, perlu diagnosa lebih lanjut. Sedangkan amis darah, kalo kulit kita gampang borokan.

Yaaaa kalo udah eczema ya bakal borokan πŸ™ˆ. Jadi sama apa tidak?

Appointment 25 April masih ke dokter anak

Kondisi bulan Mei memburuk lagi pasca 25 April
Akhirnya minta rujukan ke deematologis

Cing lah pokona mah kitu. Intinya, kalo denger istilah-istilah di atas, berarti kamu harus siap-siap sama 5 hal berikut.

5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Eczema
Dari secuil ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dari berbagai macam sumber, saya pun berniat untuk menuliskan treatment eczema Zaynab. Mana tau ada yang bisa diadopsi atau diadaptasi.

Namun sebelum saya menuliskan tentang treatment eczemanya Zaynab, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan jika anak didiagnosis dermatitis atopik atau eczema.

1. Kenali Eczemamu
Apa itu eczema. Siapa yang bisa terkena eczema. Apakah eczema sama dengan alergi. Dan lain sebagainya. Observasi dan pelajari terus menerus hingga menemukan klik terhadap eczema yang diderita (untuk kasus saya, diderita anak saya).

Berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya pada mulanya menyerahkan sepenuhnya penanganan eczema kepada ahlinya (dokter). Saya berfikir bahwa dokter lebih paham tentunya. Namun ternyata, karena Zaynab tidak langsung dirujuk ke dermatologis. Jadilah Zaynab setiap kali berobat diresepkan obat baru sesuai mazhab dokter jaga saat itu. Maklum, disini kami tidak punya dokter keluarga. Jadi dokternya beda-beda terus 😁.

21 Mei, nyaris satu bulan dari appointment sebelumnya
Ke dermatologis baru tanggal 10 Juni

Dengan mengenali eczema kita, menjalani
apa yang dokter nasehatkan dan obat yang diresepkan cukup membantu mengurangi kebingungan saat eczema tak kunjung mereda padahal kita merasa sudah melakukan semua yang dikatakan dokter dan menggunakan obat yang diresepkan dokter.

Baca Juga: Eczema Pada Bayi Usia 2-6 Bulan

Berhubung eczema berbeda dari penyakit lainnya yang memiliki pemicu yang jelas. Jadi eczema tidak serta merta hilang atau sembuh seperti halnya sakit demam, flu atau penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus. Sehingga jika kita tidak memahami apa itu eczema, maka kita bisa dengan mudahnya berpindah dari satu dokter ke dokter lain atau dari satu obat ke obat lainnya karena panik kok kulitnya ga sembuh-sembuh (pengalaman pribadi ini mah hehehe).

Kondisi paling baik ya begini
Merah terang tanpa cairan

Ya meskipun pada perjalanannya memang eczema itu bikin kita melakukan trial and error sampe akhirnya  nemu yang pas. Baik itu dokter yang cocok atau obat yang adem di hati. Harapannya trial and error bisa diminimalisir dengan kita benar-benar mengenal eczema yang diderita.

2. Tingkatan dan Jenis Eczema
Eczema pada setiap orang itu berbeda-beda. Ada 3 tingkatan jika mau dibagi berdasarkan tingkat keparahannya.
- eczema ringan (mild)
- eczema sedang (accute)
- eczema berat (chronic)

Selain itu, setiap orang  bisa  jadi  memiliki jenis eczema yang berbeda. Yang mana setiap jenisnya memiliki ciri fisik yang berbeda. Ada 7 jenis eczema yang pernah saya baca. Salah satunya ya dermatitis atopik yang lagi diderita Zaynab ini. Untuk jenis lainnya silahkan pelajari sendiri ya. Saya kurang ahli merangkum hal-hal diluar kapabilitas saya. Uhuk. Alias males.

10 Juni saat pemeriksaan di dermatologis

3. Faktor pemicu
Aneka ragam faktor pemicu munculnya eczema bergantung pada respon tubuh masing-masing. Secara garis besar eczema kambuh  karena dipicu oleh lingkungan sekitar. Bisa karena debu, polusi, asap rokok, dan lain-lain. Bisa juga karena makanan tertentu seperti turunan susu sapi, kacang-kacangan, berry-berryan dan lain-lain.

Nah yang perlu kita ingat, respon tubuh setiap orang akan berbeda reaksinya. Waktu kambuh eczema setelah terpapar faktor pemicu pun bisa berbeda. Jadi coba diperhatikan dengan seksama. Dan hindari membanding-bandingkan satu individu dengan individu yang lain ya. Misal:

"Anak temen saya eczema juga karena makan ayam suntik. Kamu kebanyakan makan ayam suntik kali!"
Padahal keluarga kita ga punya riwayat alergi ayam suntik.

Langkah awal mengenali faktor pemicu menurut saya, cari tau riwayat kesehatan keluarga kita. Jangan keluarga orang lain hehehe. Karena biasanya ini mah ya, faktor pemicunya suka sama.

Baca Juga: Eczema Zaynab dan Dermatologis

4. Treatment
Selain respon tubuh yang berbeda, jenis peradangan yang berbeda, hingga faktor pemicu dan lamanya eczema menyerang seseorang yang juga bisa berbeda, ternyata treatment masing-masing orang pun berbeda.

Memang secara umum, prosedurnya sama, namun dalam perjalanannya akan ada perbedaan treatment yang dilakukan bergantung pada:
- Lamanya eczema meradang
- Obat yang sudah diberikan
- Riwayat kesehatan dan alergi di dalam keluarga
- Tingkat keparahan kulit yang mengalami peradangan

19 Juni sisa warna gelap di titik eczema nya

5. Imunitas dan Steroid
Bisa dikatakan, penyakit eczema merupakan penyakit yang terkait dengan sistem kekebalan tubuh. Tidak ada penyebab yang pasti dan pengobatan yang jelas.

Karena eczema terkait kekebalan tubuh, maka tak heran setiap individu memeliki reaksi yang berbeda terhadap faktor pemicu ataupun treatment yang diberikan. Karena semua bergantung imunitas tubuh masing-masing.

Lalu apa hubungannya imunitas dengan steroid?

Jadi katanya, setiap penyakit yang belum ada obatnya, steroid merupakan obat yang digunakan untuk mengurangi keluhan terhadap sebuah penyakit. Seperti eczema yang jika dibiarkan maka rasa gatalnya akan membuat kita ingin menggaruk berkepanjangan. Dan efek sampingnya membuat kulit mengalami peradangan terus menerus. Jika kulit terus meradang, virus dan bakteri dengan sangat mudah masuk dan menyerang.

Baca juga referensi di Milis Sehat biar kamu makin oke pahamnya. Karena bahasa saya mah belibet bahasa orang awam πŸ˜‚.

Mulai provokasi Zaynab dengan lingkungan baru
Biar terbentuk imun tubuhnya
Abis dari sini? Ya eczemanya meradang lagi hehehe

Nah, jika sudah memperhatikan 5 poin di atas, harapannya ketika membaca treatment eczema yang dijalani Zaynab, kita bisa mengambil langkah-langkah pengobatan dengan bijak. Alias tidak mengikuti plek ketiplek seperti apa yang saya lakukan.

Karena apa? Karena masing-masing individu itu berbeda.πŸ˜‰

Saya ulang-ulang terus soal ini ya, bahwa tiap individu itu berbeda. Resep dokter aja belum tentu cocok, apalagi rekomendasi orang lain. Tapi ya memang harus siap-siap rajin observasi sih sampe nemu yang cocok πŸ™ˆ.

Bayi yang suka bersin bisa jadi indikasi awal bayi sensitif
Bisa juga karena reaksi alergi dari paparan lingkungan

Apa saja treatment eczema Zaynab?
Bagi yang pernah membaca tulisan saya sebelumnya tentang eczema Zaynab, pasti tau donk gimana ketar ketirnya saya menghadapi eczema Zaynab yang tak kunjung membaik. Padahal nasehat dan resep dokter saya jalankan sesuai panduan. Meski sempat krisis kepercayaan terhadap dokter, saya tetap menjalani apa yang disarankan dokter.

Memang setelah peristiwa salah resep, saya jadi termotivasi untuk membaca lebih lanjut tentang eczema. Selain itu, saya juga jadi dipaksa memahami alur cerita meradangnya eczema Zaynab.

Yang membuat saya:

1. Meyakini bahwa tak ada penyakit yang tak ada obatnya, sehingga terus lakukan ikhtiar dan petik pelajaran dari pengalaman orang-orang
2. Selalu observasi lingkungan sehingga ngeh setelah terpapar apa eczema Zaynab kembali meradang
3. Meyakini kandungan ASI itu rasanya percis apa yang kita makan
4. Jadi tau bahwa setelah makan makanan alergen, rasa ASI tidak disenangi Zaynab
5. Kita yang paling tau, dokter hanya menyarankan berdasarkan keilmuannya.
6. Second, third, forth bahkan fifth opinion itu perlu agar tak gegabah memberikan obat

Provokasi makanan buat liat reaksi tubuh Zaynab
Seberapa toleran Zaynab dengan ASI setelah Uminya konsumsi makanan alergen

Saya  berharap semoga teman-teman pembaca yang nyangkut di blog saya ini tidak mengalami kebingungan seperti saya atau bahkan kasus salah resep.

Oke oke ... Berikut treatment nya Zaynab.

Treatment Saat Meradang Akut
Meradang akut versi saya untuk kasus Zaynab:
πŸ‘‰ Kulit merah gelap, mengeluarkan cairan bening, rasa gatal parah.

Treatmentnya yaitu: (aplikasikan berurutan)
1. Antibakteri oles
2. Corticosteroid (hydrocortisone 1%)
3. Ceramide atau pelembab

Treatment Saat Meradang Biasa
Dengan ciriπŸ‘‰ kulit merah terang, tidak mengeluarkan cairan, gatal ringan.

Treatmentnya yaitu: (aplikasikan berurutan)
1. Fluocinolon 0.05 %
2. Ceramide atau pelembab
3. Petrolleum jika kulit masih kering setelah diberi ceramide untuk mengikat kelembaban kulit

Kalo tidur, tangannya diikat untuk mengurangi garukan
Saya masih menghindari pemberian antihistamin

Berteman dengan Eczema
Eczema bukan penyakit berbahaya. Namun jika dibiarkan, bisa membahayakan. Kenapa? Karena bisa memudahkan bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh kita yang bisa menjadi penyebab munculnya penyakit lain.

Meskipun bukan penyakit berbahaya, eczema bisa mengundang kepanikan dan mengganggu psikis. Karena eczema penyakit yang terlihat dan bisa menimbulkan reaksi sosial yang jika kita menolak memiliki penyakit tersebut, hanya akan menambah beban mental kita yang juga bisa berefek pada eczema itu sendiri. Sehingga, berteman dengan eczema merupakan langkah awal dalam mengobati eczema.

Meski belum tiap hari, Alhamdulillah Zaynab makin bisa dibiarin tidur dengan tangan bebas ikatan

Semoga buat teman-teman yang memiliki eczema atau anaknya terkena eczema bisa menemukan treatment yang adem di hati ya.

Kalo keluarga kamu punya riwayat atopik (alergi, asma, dan rhinitis), 50% kemungkinan kamu bakal punya anak atopik juga. Jadi be ready aja. Jinakkan eczema dengan berteman dengannya. Biar ga pake panik kaya saya di awal πŸ™ˆ.

Yang pasti, kemunculan eczema memang tidak bisa dihilangkan 100%. Namun bisa di manage sehingga dia tidak meradang parah.

Kondisi saat ini
Setelah melalui perjalanan yang ga sepanjang Kirana Retno Hening (saya ga mau ya Allah 😭), alhamdulillah meski masih sering meradang. Paling tidak saya bisa melewatinya dengan agak sedikit tenang bertemankan steroid. Tapi, berteman dengan steroid bukan berarti memberikan steroid tanpa panduan ya.

Columbus, 22 Juli 2019

Jalan-jalan ke Dermatologis

Tulisan ini lagi diperbaiki

Maaf atas ketidaknyamanannya ya πŸ™πŸ€—

Alergi dan Eczema

Mohon maaf, tulisan di artikel ini lagi diedit 😁


Kuantitas ASI: Cukupkah ASI ku?

Kamis, 02 Mei 2019
ASI (Air Susu Ibu) tentunya menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan bayi. Kampanye menyusui bayi secara ekslusif pun kerap digalakkan untuk memotivasi para ibu memberikan ASI sebagai makanan pertama bayi. Selain diyakini sebagai makanan terbaik untuk bayi, ASI juga dipandang mudah dan murah dalam hal penyajiannya jika dibandingkan dengan susu formula. Tapi apakah memang demikian?

Source: www.medela.com

Tantangan Meng-ASI-hi
Sebagai makanan yang melekat ditubuh ibu, kuantitas ASI tentunya sangat bergantung pada pola hidup sang ibu. Mulai dari pola tidur, pola makan dan juga manajemen waktu ibu. Dan setiap ibu tentunya memiliki tantangan masing-masing dalam usaha pemenuhan gizi bayi melalui ASI ekslusif (ASIX) di 6 bulan pertamanya ini.

Bagi saya pribadi, perjalanan memberikan ASIX untuk anak-anak-anak selalu berliku alias penuh drama. Saat ASIX si kembar, tantangan yang saya hadapi yaitu seputar hubungan pernikahan jarak jauh (LDM), drama menyusui tandem dan drama minimnya support keluarga baik secara psikis maupun fisik. Alhasil si kembar Zaid dan Ziad tidak memperoleh ASIX di 6 bulan pertama mereka.

Perjalanan ASIX Zaynab pun tak semulus yang diharapkan. Meskipun hanya satu bayi, ASIX Zaynab terancam gagal. Bukan karena LDR, tandem ataupun tak ada support. Melainkan karena faktor hidup dirantau yang menuntut saya harus mampu mengelola waktu agar memiliki gizi dan istirahat cukup. Jujur, saya agak pesimis.

Berdamai Dengan Idealisme
Melirik pada pengalaman terdahulu saat meng-ASI-hi si kembar, kondisi di perantauan tanpa bantuan siapapun (hanya saya, suami dan si kembar) membuat saya tidak begitu ngoyo untuk sukses ASIX Zaynab. Terlebih setelah Zaynab lahir tak semulus yang saya harapkan membuat saya lebih memilih berdamai dengan kondisi ideal yang diinginkan. Bukan tidak mau mengusahakan, hanya tidak terlalu ngoyo seperti jaman si kembar biar tidak stres juga. Begitu pikir saya.

Baca juga: Zaynab's Birth Story


Tapi tak disangka, apa yang tak terlalu diharapkan justru terwujud. Zaynab ternyata tidak mau minum susu formula. 11 hari di NICU tabungan ASI saya ternyata berlebih. Artinya, selama di NICU Zaynab 100% ASI. Meskipun demikian, saya masih tetap tidak mau ngoyo Zaynab harus ASIX. Kenapa? Karena saya tau diri kondisi tubuh yang kurang istirahat tentunya berpengaruh pada produksi ASI.

Sehingga, saya memutuskan untuk memberi susu formula kepada Zaynab ketika saya merasa produksi ASI menurun. Terlebih sepulang Zaynab dari NICU, saya tidak bisa pumping terjadwal lagi karena sang bayi sudah disisi. Artinya 24 jam akan saya lalui untuk menjaga dan merawat Zaynab plus menjalankan peran lain bagi si kembar dan suami. Tau sendiri kan gimana habits nya bayi baru lahir??? Dipadukan dengan urusan domestik rumah tangga di negara orang yang apa-apa semuanya sendiri.

Tapi apa yang terjadi? Zaynab menolak mentah-mentah susu formula yang dibekali pihak rumah sakit sepulang dari NICU. Tak hanya sekali dua kali saya suguhkan Zaynab susu formula. Bahkan saya membeli dot baru (sebelumnya saya pakai dot dari rumah sakit) berharap Zaynab mau mengisap susu formula dari dot baru tersebut.

Asumsi pun muncul. Oh mungkin Zaynab menolak susu formula, bukan dotnya. Akhirnya saya pun pumping lagi alakadarnya untuk melihat apakah Zaynab mau bottlefeeding. Hasilnya? Nihil. Zaynab ternyata tidak hanya menolak susu formula tetapi juga menolak dot.

Harusnya ini menjadi berita bahagia buat saya karena Zaynab cerdas memilih hanya direct breastfeeding. Artinya saya bisa terbebas dari resiko bingung puting dan gagal ASIX. Tapi untuk kondisi saat ini, pilihan Zaynab itu adalah ujian tersendiri buat saya.

6 Bulan Yang Menantang
Menyadari Zaynab memilih dengan sangat cerdas jenis makanan dan cara penyajiannya, membuat saya harus sadar gizi dan istirahat. Akhirnya, saya pun mulai membekali diri dengan makanan-makanan yang bisa menambah kuantitas ASI. Dan tentunya makanan-makanan tersebut adalah makanan yang saya suka dan membuat saya bahagia ketika memakannya.

Tak dinyana, memasuki usia 4 bulan Zaynab terkena eczema. Gejalanya sudah muncul sejak Zaynab usia 2 bulan. Saat itu saya langsung menghindari makanan-makanan pemicu alergi (alergen). Awalnya saya hanya menghindari seafood karena beranggapan Zaynab sensitif seafood faktor genetis dari saya karena saya alergi seafood juga. Namun ternyata, tak hanya seafood, Zaynab juga intoleran terhadap produk-produk turunan susu.

Jadilah usia 2 menjelang 3 bulan, saya menghindari makanan-makanan alergen tersebut yang notabene saya suka semua. Mulai dari ikan-ikanan, udang, susu, keju, coklat, kacang-kacangan, dan roti-rotian. Alhasil, pilihan makanan untuk milk booster saya berkurang donk kaaaaan.

Saya pun mengalihkan diri dengan pola makan sehat. Buah-buahan dan sayuran hijau. Dan memang cukup membantu menambah produksi ASI. Namun sayang, buah dan sayuran merupakan makanan tak tahan lama. Artinya, per 3 atau 4 hari sekali saya harus memperbarui bahan makanan tersebut.

Disinilah tantangannya. Butuh waktu khusus bagi suami saya untuk bisa menemani belanja kebutuhan tersebut (saya sangat menyesal tidak mengasah kemahiran mengendarai mobil saya). Dalam menunggu waktu senggangnya suami, bahan makanan tersebut terlanjut kosong. Dan saya hanya bergantung pada karbo dan protein saja. Sehingga di waktu-waktu inilah saya merasa produksi ASI seperti kejar tayang. Mau makan dan minum sebanyak apapun, saya tidak merasakan ASI yang berlimpah.

Itulah tantangan 6 bulan pertama yang saya rasakan.

Baca juga: Eczema Pada Bayi Usia 2-6 Bulan


ASI Berlimpah vs ASI Secukupnya
Melewati berbagai macan uji coba pola makan dan pola tidur, saya sedikit banyaknya belajar perihal ASI di tubuh saya sendiri. Kapan dia berproduksi dan kapan dia benar-benar kosong.

Awalnya saya berfikir payudara (PD) tidak tender (keras) artinya ASI sudah habis. Dan baru akan produksi setelah sudah habis. Sehingga ketika hendak menyusui Zaynab, saya kerap tidak percaya diri karena payudara saya sangat jarang terasa tender.

Namun Zaynab yang hanya ingin direct breasfeeding seolah memaksa saya untuk tetap menyodorkan PD tak peduli tender ataupun tidak. Dari berkali-kali pengamatan, akhirnya saya mulai bisa meyakini bahwa ASI ditubuh saya akan berproduksi ketika Zaynab mulai menghisap. Saat itu juga ada sensasi ngilu seperti air mengalir di PD yang saya rasakan saat Zaynab mulai menghisap PD.

Bagi saya hal ini merupakan pengalaman baru yang mematahkan mindset bahwa PD lunak artinya ASI habis. Selama bayi masih mau menghisap, artinya tubuh akan selalu mengirimkan sinyal ke otak untuk menginstruksikan ASI diproduksi oleh kelenjar ASI. Maka bisa dikatakan tidak ada istilahnya ASI habis selama kita masih makan dan minum dan anak mau menghisap.

Dari pengalaman inilah, saya bandingkan dengan pengalaman ibu-ibu lain yang menyusui juga, saya menyimpulkan ada tipe ASI berlimpah, ada yang tipe ASI cukup. Faktor yang mempengaruhi berlimpah atau tidaknya ASI tersebut juga beraneka ragam. Yang pasti, jangan langsung berkesimpulan PD tidak ada ASI hanya karena PD kita lunak, atau ketika dipencet tidak mengeluarkan ASI. Tetaplah percaya diri dan yakin bahwa ASI akan selalu diproduksi ketika ada permintaan, apakah lewat hisapan anak atau lewat pumping.

The Power of Pumping
Saya menyadari, tipe ASI cukup alias tidak berlimpah seperti saya sebenarnya cukup beresiko tekor ASI. Kenapa? Karena ada kalanya bayi tidak sabar menunggu aliran ASI naik dan deras yang menyebabkan bayi tantrum duluan sebelum ASI diproduksi. Disinilah letak pentingnya pumping.

Tadinya saya berharap bisa pumping terjadwal lagi terutama di malam hari. Namun kondisinya tidak semudah yang saya bayangkan. Pumping malah menambah beban kerja saya, mulai dari preparasi alat pumping, pumpingnya sendiri dan terakhir pembersihan alat pumpingnya. Sedangkan saya tidak bisa pumping saat Zaynab menyusu. Sehingga pumping bukanlah pilihan tepat untuk kondisi saya daat ini dalam meningkatkan kuantitas ASI. Karena yang terjadi ASI tetap saja pas-pasan dan hasil pumping pun tidak diminum oleh Zaynab meski menggunakan cupfeeder sekalipun.

Namun, saya sangat sepakat andaikan kondisi memungkinkan, saya ingin kembali memiliki pumping terjadwal agar produksi ASI saya tak lagi secukupnya melainkan berlimpah. Sehingga tidak perlu ada drama tangisan saat harus menunggu aliran ASI naik dan keluar dari PD.

GERD Mempengaruhi Produksi ASI
Memasuki usia 3 bulan, bayi mulai meningkat kemampuan hisapnya. Sehingga yang tadinya butuh 30-60 menit untuk menyusu bisa terpenuhi dalam 5-15 menit saja. Namun tidak semua bayi menyusu hingga mereka benar-benar kenyang. Ada tipe bayi yang menyusu dengan pola menyicil seperti halnya Zaynab.

Zaynab, memiliki asam lambung yang cukup tinggi. Sehingga di bulan pertama kelahirannya, Zaynab mengalami GERD. Yaitu gumoh yang berlebih bahkan lebih terlihat seperti muntah namun bukan muntah.

Baca juga: Aspirasi Mekonium


Kondisi inilah yang melatarbelakangi Zaynab hanya bisa menyusu sedikit demi sedikit dan harus berjeda. Dan pola ini sedikit banyaknya menyumbang drama naik turunnya produksi ASI saya. Kenapa? Karena ASI tidak pernah benar-benar dalam kondisi kosong. Sehingga produksi ASI selanjutnya tentunya sejumlah yang keluar tadi. Sedangkan tak lama berselang Zaynab sudah haus lagi. Makanya, PD saya tidak pernah tender karena ASI tidak pernah benar-benar kosong.

Hal ini pula yang melatarbelakangi saya memberikan dot untuk Zaynab agar saya bisa beraktivitas lain dan Zaynab bisa bottlefeeding dibantu si kembar atau abinya. Dan saya bisa melakukan pumping agar produksi ASI kembali normal. Namun harapan hanya tinggal harapan. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengikuti ritme Zaynab.

Alhamdulillahnya, memasuki usia 5 bulan GERD Zaynab mereda meski masih muncul sesekali. Dan tentunya pola menyusu Zaynab pun berubah lebih baik dan sekarang Zaynab mampu menyusu hingga sangat kenyang.

Perjalanan Belum Berakhir
Hakikatnya, kemudahan dan terjangkaunya 'harga' ASI sebanding dengan kesungguhan dan ketulusan seorang ibu dalam mengusahakannya. Bagaimana optimis disetiap tantangannya. Tidak mudah memang dan penuh liku. Apapun hasil akhirnya, ekslusif ataupun tidak. Dibantu formula atau pun tidak, tentu tak mengurangi rasa sayang dan cinta kasih kita.

6 bulan pertama bagi saya dan Zaynab. Alhamdulillah akhirnya terlewati sudah. 28 April kemaren Zaynab genap 6 bulan. Tak disangka Zaynab ASIX tanpa bantuan formula tentu semua kuasa dan takdir dari Allah ta'ala. Kita manusisa hanya berusaha. Allah jua yang menentukannya.

Tentunya perjalanan ini belum berakhir. Masih ada 18 bulan ke depan perjalanan meng-ASI-hi ini akan terjadi. Semoga happy ending ya Zaynab. Aamiin ya Allah ...

Columbus, 1 Mei 2019

Eczema Pada Bayi 2-6 Bulan

Sabtu, 20 April 2019
Gayung pun bersambut. Itulah yang saya rasakan. Allah izinkan saya menenangkan hati lewat cara yang tak bisa saya gambarkan dengan kata-kata.

Sebelum Eczema Menyerang
Pelipis Zaynab sudah berair tapi tidak menggagu aktivitasnya

Eczema Zaynab, Ujian Saya
Beberapa hari terakhir, saya memang kehilangan ketenangan jiwa dalam menghadapi eczema Zaynab. Hampir setiap hari saya menangis yang sedikit banyak berefek pada produksi ASI. Tentunya saya tidak mau kondisi ini terus menerus berlarut.

Zaynab terindikasi eczema di usia 2 bulan. Namun baru memperoleh diagnosa dokter di usia 4 bulan. Dari usia 4 bulan hingga sekarang 16 hari menjelang usia 6 bulan (tulisan ini masuk draft tanggal 12 April 2019), sepuluh hari terakhir adalah hari-hari yang cukup berat untuk saya karena Eczema Zaynab semakin parah.

Awal Mula curiga Eczema
Tapi belum terdiagnosa

Kita pasti akan memperoleh ujian hidup dari Allah. Dan hal utama yang selalu saya damba ketika memperoleh ujian adalah Allah karuniakan saya ketenangan jiwa dalam menghadapinya. Termasuk ketenangan jiwa yang tak perlu merasa permasalahan saya lebih berat dari permasalahan orang lain. Alias saya bisa selow dan let it flow ...

Membuka Mata, Temukan Inspirasi
Perlahan tapi pasti. Allah menggiring saya dalam pikiran melalui penglihatan saya akan sebuah kesyukuran dan keikhlasan dalam menjalani hidup melalui orang-orang disekitar saya. Dan bagi saya, tidak mudah memperoleh inspirasi dari sekitar mengingat saya agak sedikit sulit menerima masukan atau sejenisnya ketika menghadapi masalah.

Belajar dari pengalaman hamil lalu, ketika saya merasa putus asa dalam menjalani kehamilan saya yang cukup berat, Allah tunjukkan secara langsung beberapa orang teman yang diuji sulit memperoleh keturunan. Ya! Di waktu yang berdekatan dengan dirawatnya saya di rumah sakit, 4 orang teman saya mengalami keguguran. Saat itu rasanya saya dipenuhi rasa berdosa dan kebodohan yang teramat sangat karena sempat berfikir yang macam-macam akan kehamilan saya.

Tidak mau menjadi orang bodoh lagi, untuk ujian eczema nya Zaynab ini, saya berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuka mata terus menerus agar bisa memetik hikmah dari orang-orang sekitar saya. Mereka adalah inspirasi saya. Semoga Allah mengirimkan kemudahan bagi mereka atas setiap masalah yang mereka hadapi. Aamiin.

Sebelum insiden berdarah
Pelipis mulai merah karena mulai digesek dan digaruk

You Never Walk Alone!
Alhamdulillah, saya bukanlah satu-satunya orang yang tengah berjuang menjalankan ujian hidup. Setiap manusia pasti memiliki ujian sendiri-sendiri. Dan Allah perlihatkan satu persatu orang-orang yang dengan tegarnya menjalani ujian hidup yang menurut saya jauh lebih berat dari apa yang saya alami saat ini.

Diantara mereka, ada yang sedang bersabar menanti perkembangan pencernaan anaknya, berjuang merawat batitanya yang eczema di saat sedang hamil tua, dan ada yang terkaget mendapati anaknya terkena impetigo. Melihat bagaimana mereka mengelola emosi dalam menghadapi permasalahan ini membuat saya tersentak untuk tidak berputus asa atas rahmat Allah ta'ala.

Meskipun berat dan sudah saya coba terus menerus mengingat esensi dari sebuah ujian adalah keikhlasan dan kesabaran. Namun tetap pada prakteknya sungguh sangatlah berat. Yang awalnya saya optimis bisa berlapang dada dan tegar menjalani kehidupan ke depan setelah mengetahui Zaynab terkena eczema, baru 1 bulan berjalan saya berasa ambruk. Astaghfirullah.

Naik turunnya rasa optimis ini memang manusiawi. Hanya saja saya khawatir, sikap yang saya ciptakan dalam menghadapi masalah ini menggiring saya jadi pribadi yang menolak informasi, nasehat ataupun interogasi dan intervensi. Kenapa bisa begitu? Karena saya sepertinya masih berjuang untuk bisa menerima kondisi yang sedang saya hadapi sekarang. Alias belum 'acceptance'.

Pasca insiden berdarah
Kondisi masih ramah mata seolah tidak kena eczema
Perhatikan tangan Zaynab. Itu eczema

Saya pun mencoba melihat kembali pengalaman pribadi saya menjalani amanah bersama anak-anak yang speech delay. Saya yang saat itu lebih sering berputus asanya ketimbang optimisnya tidak ingin masuk ke dalam situasi serupa untuk saat ini. Saya sangat menginginkan diri ini memiliki sikap optimistik dalam menjalankan amanah baru ini. Karena berputus asa dari rahmat Allah tentulah tidak baik. Dan saya masih terus belajar.

Agar tidak berlarut dalam masalah dan merutuki kegelapan, saya pun memberanikan diri untuk berbagi secuil tentang eczema dari sudut pandang saya. Entahlah akan bermanfaat entahlah tidak. Saya niatkan tulisan ini untuk menghibur para orang tua lain yang barangkali sedang berjuang merawat bayi eczema.

Fakta-fakta Eczema Pada Bayi
Ketika eczema menimpa orang dewasa, kesadaran untuk menggaruk dan konsekuensi setelahnya tentu sudah ada. Berbeda dengan bayi, yang belum mengerti apa-apa melainkan hanya menggaruk dan menggaruk.

Saat tummy time masih bertahan tanpa menggaruk

Uniknya, eczema menstimulus kemampuan menggaruk Zaynab lebih cepat dari bayi-bayi yang lain πŸ˜…. Usia 2 bulan Zaynab sudah bisa menggaruk dengan nikmat dan khusyu. Sehingga, sejak hasil garukannya memperparah kondisi kulitnya, pembendongan terhadap Zaynab lebih digiatkan.

Fakta lainnya eczema pada bayi yaitu, terbatasinya kebebasan eksplorasi bayi terhadap sekitar. Kenapa? Karena distraksi rasa gatal yang disebabkan oleh eczema. Dan salah satu cara yang bisa kita lakukan agar anak tetap bisa eksplor untuk melancarkan stimulusnya, dengan mengikuti ritme tubuh dan ketertarikan yang anak tunjuki. Untuk Zaynab, sejak usia 4 bulan dia sudah sangat senang eksplor dengan di tatah πŸ˜…. Ga usah ngomong tahap perkembangan ya ... pliiiis!

Fakta dibalik pemotretan Zaynab
Ruk garuuuuuk

Nah, karena hal ini lah akhirnya ibu dengan anak eczema harus sangat sadar diri bahwa dirinya kekurangan waktu untuk melakukan aktivitas rumah tangga lainnya. So, jangan tanyakan kapan me time ya πŸ˜†πŸ˜…. Jawabannya, nyaris ga ada. Jadi ya harus legowo dan lapang dada meskipun tentunya itu sulit πŸ˜₯.

Penyebab Eczema
Berdasarkan penjelasan dokter yang menangani Zaynab, eczema hingga saat ini belum diketahui apa penyebabnya. Tapi eczema muncul karena faktor alergi yang dimiliki oleh seseorang. Dan hal ini berdampak pada pengobatan untuk penderita eczema ini. Sehingga seringnya obat penderita satu dengan yang lainnya bisa jadi berbeda.

Berdasarkan info lain yang bertebaran di rumah nya Om Google, eczema disebabkan oleh faktor alergi. Namun karena alergi itu sendiri tidak diketahui penyebabnya apa, maka eczema pun tidak diketahui apa penyebab pastinya. Dokter hanya menyampaikan bahwa eczema adalah faktor lucky atau unlucky nya kita πŸ™„. Oke baiklah πŸ˜…πŸ˜‚ Zaynab lagi kurang beruntung nih 😁

Ciri-ciri Eczema Muncul
Untuk kasus Zaynab, sensitifitas kulit Zaynab sudah terlihat pasca Zaynab keluar dari NICU. Terutama setelah rambutnya dicukur. Kulit Zaynab langsung berubah berkerak terutama bagian kepala dan pelipis dekat telinga. Khusus pelipis juga disertai cairan bening yang terkadang mengering terkadang basah.

Setelah kami konfirmasi, dokter menyatakan bahwa hal di atas bukanlah gejala dari eczema. Namun dengan gejala di atas, eczema yang memang sudah ada di tubuh Zaynab ke trigger. Dan kondisi diperparah setelah Zaynab mulai bisa menggaruk.

Penanganan Yang Dilakukan
Saya berfikir permasalahan kulit Zaynab tadinya hanyalah permasalahan kulit bayi yang biasa terjadi. Sehingga saya hanya mengoles-oles mineral oil (baby oil) setiap kali Zaynab beres mandi. Hal ini saya lakukan sudah atas saran dokter saat appointment 1 bulan. Appointment 2 bulan, kulit kepala Zaynab terlihat perubahan. Tapi tidak untuk wajah sehingga Zaynab dianjurkan petrolleum jelly untuk wajah dan badannya. Selain itu, dokter memberikan resep moisturiser cream tambahan.

Menjelang usia 3 bulan, wajah Zaynab jadi sering memerah terutama setelah terpapar udara luar yang memang sedang dingin. Saya sudah curiga kalau Zaynab alergi dingin seperti saya. Sempat terlintas eczema tapi saya coba tepis dan saya pun sebenarnya tidak terlalu paham apa itu eczema. Saya berfikir wajah Zaynab hanya akan memerah seperti halnya reaksi kulit saya terhadap udara dingin.

Masih ramah dilihat ya fotonya

Jadwal appointment selanjutnya masih 1 bulan lagi, yaitu appointment 4 bulan. Sehingga saya menyabar-nyabarkan diri untuk menindaklanjuti kondisi kulit wajah Zaynab ini. Tapi qadarullah, 1 minggu menjelang appointment, wrap Zaynab berhasil dia lepas saat saya sedang tertidur pulas. Dan saat saya bangun, setengah wajah Zaynab sudah dipenuhi darah 😭.

Kondisi inilah awal mula memburuknya eczema Zaynab. Kondisi saat itu tidak memungkinkan saya membawa Zaynab walk in appointment. Sehingga sekitar kurang dari 1 minggu kulit Zaynab hanya saya treatment biasa. Sempat berfikir mau kasih Betadine sebagai antiseptik tapi saya khawatir. Jadilah hanya di kompres dan memastikan tangan Zaynab tidak menggaruk lagi.

Zoom out 1
(Bagian ini sekarang melebar 😒)

Akhirnya, saat appointment 4 bulan, dokter bilang memang benar Zaynab terkena eczema dan kulitnya sudah infeksi. Jangan tanya gimana perasaan saya. Rasanya udah kebal ngadepin kaya ginian sepanjang hamil, lahiran hingga sekarang ngerawat Zaynab lucu ini 😘😘😘. Cuma bisa bilang la hawla walakuwwata illabillah ..

Jadilah Zaynab diresepkan hal berikut ini:
1. Antibiotik oles 1%
2. Antibiotik minum untuk 10 hari
3. Cerave sebagai moisturiser creamnya

Zoom out 2
Bagian ini warnanya selalu merah pekat
(2 aja zoom out nya ... ga tega saya 😭)

Lalu ...
Seharusnya, Zaynab diminta kembali ke dokter minggu depannya. Tapi karena Abinya sedang ke Indonesia dan ZaZi sekolah, jadilah baru 2 minggu setelahnya kita kembali untuk pantau eczema Zaynab.

Di appointment ini, Zaynab diberi treatment baru lagi.

1. Antibiotik oles 1%
2. Hydrocortisone max strength 1% untuk pemakaian 5 hari.

Alhamdulillah di hari ke 5 kondisinya membaik. Tidak merah lagi. Tapi dihari ke 6 kembali berair dan hari ke 7 kegaruk dan kembali memerah, merah dan merah.

Tampak depan
Gabungkan 2 gambar sebelum ini
Itulah penampakan Zaynab sejak 10 hari terakhir

Akhirnya saya buat appointment lagi dan dapet tanggal 12 April. FYI, setiap kali appointment, dokternya selalu berbeda. Entah mereja baca entah tidak riwayat pasien. Saya berhusnudzon saja. Dan di appointment yang ini, Zaynab diberi resep baru lagi.

1. Antibiotik oles 2% (sebelumnya 1%)
2. Antifungus 1%
3. Steroid oil yang hingga tulisan ini dibuat, obat ini belum di approve pihak asuransi.

Sehingga, dari tanggal 12 April lalu, hingga hari ini 19 April (seminggu), Zaynab masih menjalankan treatment yang belumlah ideal.

Kondisi Saat Ini
9 hari menjelang Zaynab berusia 6 bulan. Kondisi eczema belum membaik malah semakin melebar. Ketika menuliskan ini sesak didada masih sangat terasa. Tapi saya harus mampu mendokumentasikan perjalanan eczema Zaynab ini agar saya tidak lupa treatment apa saja yang sudah ditempuh. Dan tentunya saya berharap Zaynab segera menemukan penanganan dan pengobatan yang cocok.

Tangan diikat
Pelipis merah berair

Ingin mengeksekusi pengobatan ala Dr. Aron yang dituliskan reviewnya oleh teman saya. Tapi kondisi saat ini belum memungkinkan menempuh ikhtiar tersebut karena alasan yang tidak bisa saya sebutkan disini.

Cara membahagiakan diri

Curhat boleh ya ...
Dengan kondisi tangan yang sering diikat atau di wrap, kesempatan Zaynab untuk tengkurap menjadi sangat sedikit. Dan juga, saat Zaynab sedang asik bermain, tiba-tiba rasa gatal mengganggu dan mengalihkan semuanya.

Jujur, kondisi tersebut membuat iba rasanya hati ini. Tapi beginilah amanah yang saat ini Allah ta'ala percayakan kepada keluarga kami.

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon ketulusan dan keridhoan teman-teman untuk mendoakan kesembuhan Zaynab. Semoga Allah segera angkat rasa gatalnya. Pulihkan kondisi kulitnya. Sungguh, rindu rasanya menciumi wajah Zaynab tanpa takut menyakiti dia.

Saya tau, cobaan ini mungkin belumlah seberapa dan tak patut dicurhati apalagi dikeluhkan. Doakan saya kuat dan ikhlas menjalani semua ini seperti halnya orang-orang terdahulu yang ikhlas dan tetap bersyukur atas rahmat Allah ta'ala.

Columbus, 19 April 2019

NB:
Sejak keluar usia 2 minggu hingga 2 bulan, Zaynab wajahnya memang sudah memerah dan berair tapi mereda sendiri. Menjelang 3 bulan bagian pelipis yang berair mulai memerah.

Sebelum tragedi berdarah, Zaynab rutin saya pakaikan minyak kelapa di kepala dan wajah yang memerah. Kulit yang kering saya balur cream pelembab khusus. Wajah yang berair saya oles cream dari dokter. Saya tidak terlalu memperhatikan apa saja yang saya gunakan. Mungkin disitulah letak kesalahan saya.

23 Februari 2019 tragedi berdarah
5 Maret appointment 4 bulan Zaynab plus konsul kondisi kulit
21 Maret cek eczema Zaynab
12 April cek eczema juga
25 April saya akhirnya bikin appointment lagi karena kondisi makin tak terarah. Sedangkan obat belum juga di acc insurance hingga saat ini

Semoga perjalanan ini segera menemu titik terangnya. Aamiin ...