MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Eczema Pada Bayi 2-6 Bulan

Sabtu, 20 April 2019
Gayung pun bersambut. Itulah yang saya rasakan. Allah izinkan saya menenangkan hati lewat cara yang tak bisa saya gambarkan dengan kata-kata.

Sebelum Eczema Menyerang
Pelipis Zaynab sudah berair tapi tidak menggagu aktivitasnya

Eczema Zaynab, Ujian Saya
Beberapa hari terakhir, saya memang kehilangan ketenangan jiwa dalam menghadapi eczema Zaynab. Hampir setiap hari saya menangis yang sedikit banyak berefek pada produksi ASI. Tentunya saya tidak mau kondisi ini terus menerus berlarut.

Zaynab terindikasi eczema di usia 2 bulan. Namun baru memperoleh diagnosa dokter di usia 4 bulan. Dari usia 4 bulan hingga sekarang 16 hari menjelang usia 6 bulan (tulisan ini masuk draft tanggal 12 April 2019), sepuluh hari terakhir adalah hari-hari yang cukup berat untuk saya karena Eczema Zaynab semakin parah.

Awal Mula curiga Eczema
Tapi belum terdiagnosa

Kita pasti akan memperoleh ujian hidup dari Allah. Dan hal utama yang selalu saya damba ketika memperoleh ujian adalah Allah karuniakan saya ketenangan jiwa dalam menghadapinya. Termasuk ketenangan jiwa yang tak perlu merasa permasalahan saya lebih berat dari permasalahan orang lain. Alias saya bisa selow dan let it flow ...

Membuka Mata, Temukan Inspirasi
Perlahan tapi pasti. Allah menggiring saya dalam pikiran melalui penglihatan saya akan sebuah kesyukuran dan keikhlasan dalam menjalani hidup melalui orang-orang disekitar saya. Dan bagi saya, tidak mudah memperoleh inspirasi dari sekitar mengingat saya agak sedikit sulit menerima masukan atau sejenisnya ketika menghadapi masalah.

Belajar dari pengalaman hamil lalu, ketika saya merasa putus asa dalam menjalani kehamilan saya yang cukup berat, Allah tunjukkan secara langsung beberapa orang teman yang diuji sulit memperoleh keturunan. Ya! Di waktu yang berdekatan dengan dirawatnya saya di rumah sakit, 4 orang teman saya mengalami keguguran. Saat itu rasanya saya dipenuhi rasa berdosa dan kebodohan yang teramat sangat karena sempat berfikir yang macam-macam akan kehamilan saya.

Tidak mau menjadi orang bodoh lagi, untuk ujian eczema nya Zaynab ini, saya berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuka mata terus menerus agar bisa memetik hikmah dari orang-orang sekitar saya. Mereka adalah inspirasi saya. Semoga Allah mengirimkan kemudahan bagi mereka atas setiap masalah yang mereka hadapi. Aamiin.

Sebelum insiden berdarah
Pelipis mulai merah karena mulai digesek dan digaruk

You Never Walk Alone!
Alhamdulillah, saya bukanlah satu-satunya orang yang tengah berjuang menjalankan ujian hidup. Setiap manusia pasti memiliki ujian sendiri-sendiri. Dan Allah perlihatkan satu persatu orang-orang yang dengan tegarnya menjalani ujian hidup yang menurut saya jauh lebih berat dari apa yang saya alami saat ini.

Diantara mereka, ada yang sedang bersabar menanti perkembangan pencernaan anaknya, berjuang merawat batitanya yang eczema di saat sedang hamil tua, dan ada yang terkaget mendapati anaknya terkena impetigo. Melihat bagaimana mereka mengelola emosi dalam menghadapi permasalahan ini membuat saya tersentak untuk tidak berputus asa atas rahmat Allah ta'ala.

Meskipun berat dan sudah saya coba terus menerus mengingat esensi dari sebuah ujian adalah keikhlasan dan kesabaran. Namun tetap pada prakteknya sungguh sangatlah berat. Yang awalnya saya optimis bisa berlapang dada dan tegar menjalani kehidupan ke depan setelah mengetahui Zaynab terkena eczema, baru 1 bulan berjalan saya berasa ambruk. Astaghfirullah.

Naik turunnya rasa optimis ini memang manusiawi. Hanya saja saya khawatir, sikap yang saya ciptakan dalam menghadapi masalah ini menggiring saya jadi pribadi yang menolak informasi, nasehat ataupun interogasi dan intervensi. Kenapa bisa begitu? Karena saya sepertinya masih berjuang untuk bisa menerima kondisi yang sedang saya hadapi sekarang. Alias belum 'acceptance'.

Pasca insiden berdarah
Kondisi masih ramah mata seolah tidak kena eczema
Perhatikan tangan Zaynab. Itu eczema

Saya pun mencoba melihat kembali pengalaman pribadi saya menjalani amanah bersama anak-anak yang speech delay. Saya yang saat itu lebih sering berputus asanya ketimbang optimisnya tidak ingin masuk ke dalam situasi serupa untuk saat ini. Saya sangat menginginkan diri ini memiliki sikap optimistik dalam menjalankan amanah baru ini. Karena berputus asa dari rahmat Allah tentulah tidak baik. Dan saya masih terus belajar.

Agar tidak berlarut dalam masalah dan merutuki kegelapan, saya pun memberanikan diri untuk berbagi secuil tentang eczema dari sudut pandang saya. Entahlah akan bermanfaat entahlah tidak. Saya niatkan tulisan ini untuk menghibur para orang tua lain yang barangkali sedang berjuang merawat bayi eczema.

Fakta-fakta Eczema Pada Bayi
Ketika eczema menimpa orang dewasa, kesadaran untuk menggaruk dan konsekuensi setelahnya tentu sudah ada. Berbeda dengan bayi, yang belum mengerti apa-apa melainkan hanya menggaruk dan menggaruk.

Saat tummy time masih bertahan tanpa menggaruk

Uniknya, eczema menstimulus kemampuan menggaruk Zaynab lebih cepat dari bayi-bayi yang lain ๐Ÿ˜…. Usia 2 bulan Zaynab sudah bisa menggaruk dengan nikmat dan khusyu. Sehingga, sejak hasil garukannya memperparah kondisi kulitnya, pembendongan terhadap Zaynab lebih digiatkan.

Fakta lainnya eczema pada bayi yaitu, terbatasinya kebebasan eksplorasi bayi terhadap sekitar. Kenapa? Karena distraksi rasa gatal yang disebabkan oleh eczema. Dan salah satu cara yang bisa kita lakukan agar anak tetap bisa eksplor untuk melancarkan stimulusnya, dengan mengikuti ritme tubuh dan ketertarikan yang anak tunjuki. Untuk Zaynab, sejak usia 4 bulan dia sudah sangat senang eksplor dengan di tatah ๐Ÿ˜…. Ga usah ngomong tahap perkembangan ya ... pliiiis!

Fakta dibalik pemotretan Zaynab
Ruk garuuuuuk

Nah, karena hal ini lah akhirnya ibu dengan anak eczema harus sangat sadar diri bahwa dirinya kekurangan waktu untuk melakukan aktivitas rumah tangga lainnya. So, jangan tanyakan kapan me time ya ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜…. Jawabannya, nyaris ga ada. Jadi ya harus legowo dan lapang dada meskipun tentunya itu sulit ๐Ÿ˜ฅ.

Penyebab Eczema
Berdasarkan penjelasan dokter yang menangani Zaynab, eczema hingga saat ini belum diketahui apa penyebabnya. Tapi eczema muncul karena faktor alergi yang dimiliki oleh seseorang. Dan hal ini berdampak pada pengobatan untuk penderita eczema ini. Sehingga seringnya obat penderita satu dengan yang lainnya bisa jadi berbeda.

Berdasarkan info lain yang bertebaran di rumah nya Om Google, eczema disebabkan oleh faktor alergi. Namun karena alergi itu sendiri tidak diketahui penyebabnya apa, maka eczema pun tidak diketahui apa penyebab pastinya. Dokter hanya menyampaikan bahwa eczema adalah faktor lucky atau unlucky nya kita ๐Ÿ™„. Oke baiklah ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚ Zaynab lagi kurang beruntung nih ๐Ÿ˜

Ciri-ciri Eczema Muncul
Untuk kasus Zaynab, sensitifitas kulit Zaynab sudah terlihat pasca Zaynab keluar dari NICU. Terutama setelah rambutnya dicukur. Kulit Zaynab langsung berubah berkerak terutama bagian kepala dan pelipis dekat telinga. Khusus pelipis juga disertai cairan bening yang terkadang mengering terkadang basah.

Setelah kami konfirmasi, dokter menyatakan bahwa hal di atas bukanlah gejala dari eczema. Namun dengan gejala di atas, eczema yang memang sudah ada di tubuh Zaynab ke trigger. Dan kondisi diperparah setelah Zaynab mulai bisa menggaruk.

Penanganan Yang Dilakukan
Saya berfikir permasalahan kulit Zaynab tadinya hanyalah permasalahan kulit bayi yang biasa terjadi. Sehingga saya hanya mengoles-oles mineral oil (baby oil) setiap kali Zaynab beres mandi. Hal ini saya lakukan sudah atas saran dokter saat appointment 1 bulan. Appointment 2 bulan, kulit kepala Zaynab terlihat perubahan. Tapi tidak untuk wajah sehingga Zaynab dianjurkan petrolleum jelly untuk wajah dan badannya. Selain itu, dokter memberikan resep moisturiser cream tambahan.

Menjelang usia 3 bulan, wajah Zaynab jadi sering memerah terutama setelah terpapar udara luar yang memang sedang dingin. Saya sudah curiga kalau Zaynab alergi dingin seperti saya. Sempat terlintas eczema tapi saya coba tepis dan saya pun sebenarnya tidak terlalu paham apa itu eczema. Saya berfikir wajah Zaynab hanya akan memerah seperti halnya reaksi kulit saya terhadap udara dingin.

Masih ramah dilihat ya fotonya

Jadwal appointment selanjutnya masih 1 bulan lagi, yaitu appointment 4 bulan. Sehingga saya menyabar-nyabarkan diri untuk menindaklanjuti kondisi kulit wajah Zaynab ini. Tapi qadarullah, 1 minggu menjelang appointment, wrap Zaynab berhasil dia lepas saat saya sedang tertidur pulas. Dan saat saya bangun, setengah wajah Zaynab sudah dipenuhi darah ๐Ÿ˜ญ.

Kondisi inilah awal mula memburuknya eczema Zaynab. Kondisi saat itu tidak memungkinkan saya membawa Zaynab walk in appointment. Sehingga sekitar kurang dari 1 minggu kulit Zaynab hanya saya treatment biasa. Sempat berfikir mau kasih Betadine sebagai antiseptik tapi saya khawatir. Jadilah hanya di kompres dan memastikan tangan Zaynab tidak menggaruk lagi.

Zoom out 1
(Bagian ini sekarang melebar ๐Ÿ˜ข)

Akhirnya, saat appointment 4 bulan, dokter bilang memang benar Zaynab terkena eczema dan kulitnya sudah infeksi. Jangan tanya gimana perasaan saya. Rasanya udah kebal ngadepin kaya ginian sepanjang hamil, lahiran hingga sekarang ngerawat Zaynab lucu ini ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜. Cuma bisa bilang la hawla walakuwwata illabillah ..

Jadilah Zaynab diresepkan hal berikut ini:
1. Antibiotik oles 1%
2. Antibiotik minum untuk 10 hari
3. Cerave sebagai moisturiser creamnya

Zoom out 2
Bagian ini warnanya selalu merah pekat
(2 aja zoom out nya ... ga tega saya ๐Ÿ˜ญ)

Lalu ...
Seharusnya, Zaynab diminta kembali ke dokter minggu depannya. Tapi karena Abinya sedang ke Indonesia dan ZaZi sekolah, jadilah baru 2 minggu setelahnya kita kembali untuk pantau eczema Zaynab.

Di appointment ini, Zaynab diberi treatment baru lagi.

1. Antibiotik oles 1%
2. Hydrocortisone max strength 1% untuk pemakaian 5 hari.

Alhamdulillah di hari ke 5 kondisinya membaik. Tidak merah lagi. Tapi dihari ke 6 kembali berair dan hari ke 7 kegaruk dan kembali memerah, merah dan merah.

Tampak depan
Gabungkan 2 gambar sebelum ini
Itulah penampakan Zaynab sejak 10 hari terakhir

Akhirnya saya buat appointment lagi dan dapet tanggal 12 April. FYI, setiap kali appointment, dokternya selalu berbeda. Entah mereja baca entah tidak riwayat pasien. Saya berhusnudzon saja. Dan di appointment yang ini, Zaynab diberi resep baru lagi.

1. Antibiotik oles 2% (sebelumnya 1%)
2. Antifungus 1%
3. Steroid oil yang hingga tulisan ini dibuat, obat ini belum di approve pihak asuransi.

Sehingga, dari tanggal 12 April lalu, hingga hari ini 19 April (seminggu), Zaynab masih menjalankan treatment yang belumlah ideal.

Kondisi Saat Ini
9 hari menjelang Zaynab berusia 6 bulan. Kondisi eczema belum membaik malah semakin melebar. Ketika menuliskan ini sesak didada masih sangat terasa. Tapi saya harus mampu mendokumentasikan perjalanan eczema Zaynab ini agar saya tidak lupa treatment apa saja yang sudah ditempuh. Dan tentunya saya berharap Zaynab segera menemukan penanganan dan pengobatan yang cocok.

Tangan diikat
Pelipis merah berair

Ingin mengeksekusi pengobatan ala Dr. Aron yang dituliskan reviewnya oleh teman saya. Tapi kondisi saat ini belum memungkinkan menempuh ikhtiar tersebut karena alasan yang tidak bisa saya sebutkan disini.

Cara membahagiakan diri

Curhat boleh ya ...
Dengan kondisi tangan yang sering diikat atau di wrap, kesempatan Zaynab untuk tengkurap menjadi sangat sedikit. Dan juga, saat Zaynab sedang asik bermain, tiba-tiba rasa gatal mengganggu dan mengalihkan semuanya.

Jujur, kondisi tersebut membuat iba rasanya hati ini. Tapi beginilah amanah yang saat ini Allah ta'ala percayakan kepada keluarga kami.

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon ketulusan dan keridhoan teman-teman untuk mendoakan kesembuhan Zaynab. Semoga Allah segera angkat rasa gatalnya. Pulihkan kondisi kulitnya. Sungguh, rindu rasanya menciumi wajah Zaynab tanpa takut menyakiti dia.

Saya tau, cobaan ini mungkin belumlah seberapa dan tak patut dicurhati apalagi dikeluhkan. Doakan saya kuat dan ikhlas menjalani semua ini seperti halnya orang-orang terdahulu yang ikhlas dan tetap bersyukur atas rahmat Allah ta'ala.

Columbus, 19 April 2019

NB:
Sejak keluar usia 2 minggu hingga 2 bulan, Zaynab wajahnya memang sudah memerah dan berair tapi mereda sendiri. Menjelang 3 bulan bagian pelipis yang berair mulai memerah.

Sebelum tragedi berdarah, Zaynab rutin saya pakaikan minyak kelapa di kepala dan wajah yang memerah. Kulit yang kering saya balur cream pelembab khusus. Wajah yang berair saya oles cream dari dokter. Saya tidak terlalu memperhatikan apa saja yang saya gunakan. Mungkin disitulah letak kesalahan saya.

23 Februari 2019 tragedi berdarah
5 Maret appointment 4 bulan Zaynab plus konsul kondisi kulit
21 Maret cek eczema Zaynab
12 April cek eczema juga
25 April saya akhirnya bikin appointment lagi karena kondisi makin tak terarah. Sedangkan obat belum juga di acc insurance hingga saat ini

Semoga perjalanan ini segera menemu titik terangnya. Aamiin ...


3 Alasan Ibu Si Kembar Boleh Marah

Selasa, 02 April 2019
Siapa yang ga pernah marah? Tampaknya semua manusia pernah marah ya. Bahkan anak kecilpun bisa marah dengan cara mereka sendiri. Ada yang marah dengan menangis, marah karena ga dikasih benda kesayangannya misalnya. Ada juga yang marah dengan ngambek karena ga jadi di bawa ke taman bermain favoritnya. Hihihi, macem-macem deh kalo anak kecil. Nah, gimana nih marahnya kita orang dewasa?


Marah sebagai reaksi alami dari dalam tubuh manusia atas sesuatu yang membuat hati gelisah dan bergemuruh memang merupakan suatu hal (emosi) yang biasa. Namanya juga reaksi alami, jadi ya wajar kan ada karena udah bawaan manusia alias sunatullahnya kalo manusia itu punya rasa marah.

Menurut orang-orang di dunia psikologi, marah itu  
"reaksi emosional akut yang ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang, semisal ancaman, agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan, atau frustrasi, dan dicirikan oleh reaksi kuat pada sistem syaraf otonomik, khususnya oleh reaksi darurat pada bagian simpatetik; dan secara implisit disebabkan oleh reaksi serangan lahiriah, baik yang bersifat somatis atau jasmaniah maupun yang verbal atau lisan". (Sumber disini). 

Ngerti ga? Ga! Hahahaha. Saya juga ๐Ÿ˜†. Gegara ngeliat banyak istilah. 

Tapi ya intinya marah itu ada rangsangan sebelum akhirnya ada serangan hihihihi. Rangsangannya bisa berupa ancaman, pengekangan diri, serangan lisan, kecewa, frustrasi. Sedangkan serangannya bisa berupa serangan lahiriah seperti memukul ataupun secara verbal lewat ucapan. Kebayang kan ya. Ya harus. Lha wong pada pernah marah semua wkwkwkwkwk ✌๐Ÿ˜†

Marah dalam konteks hubungan antara orang tua dan anak, tampaknya seperti sebuah lingkaran setan. Jika si A dibesarkan oleh orang tua yang pemarah, maka 90% si A akan tumbuh menjadi anak yang pemarah juga. Seperti yang dilansir media Republika tentang pewarisan sifat marah dari orang tua ke anak berdasarkan riset terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Development and Psychopathology, di Amerika Serikat. 

Jadi seperti ada mata rantai yang siap menurunkan marah sebagai sebuah tabiat, kebiasaan atau bahkan tradisi. Maka tak heran kalo banyak yang bilang marah itu genetis. 


Hmmm ... berdasarkan hasil riset di atas, marah genetis namun faktor lingkungan jauh memiliki andil lebih besar ketimbang faktor genetis itu sendiri. Tak peduli orang tua yang membesarkannya adalah orang tua kandung atau tidak, sifat pemarah akan bisa diturunkan.


Berhubung saya bukan pakarnya, tak usahlah kita terlalu membahas secara teoritis apakah marah itu genetis atau tidak. Sini sini sini ... Kita bahas saja apa yang kita rasakan (kita? Gue aja kali ... :P)

Polemik buat saya memang tentang marah ini. Nyaris sepanjang tahun 2014 hingga 2016 saya habiskan waktu untuk menggali apa penyebab saya marah. Memang 2 tahun bukanlah waktu yang spektakuler lamanya. Namun akan jadi spektakuler jika dalam 5 tahun masa keemasan anak-anak, hampir 50% nya saya 'nodai' dengan ma ma ma rah marah ... kata trio kwek kwek ... :'( hiks. 

Genetis? Bisa jadi. Karena memang saya memiliki Ayah yang tempramen dalam mendidik anak-anaknya. Ayah saya menurun dari siapa? Konon kata Papa, Kakek saya juga pemarah sehingga gelar beliau pun Dt. Rajo Marah (dan sampe sekarang saya ga tau ini bener apa ga #lol). Jadi?

Hubungan sebab akibat sepertinya menjadi hubungan yang pasti - saling mengaitkan kehidupan manusia. Misal, sebab Allah ciptakan manusia makanya ada kehidupan. Eh terlalu luas ya. Hmmm ... jika dikaitkan dengan hubungan orang tua dan anak seperti ini misalnya, sebab anak rebutan mainan makanya orang tua marah. Artinya yang menjadi penyebab adalah anak, yaitu anak rebutan mainan. Sehingga solusi yang harus kita temukan adalah bagaimana caranya agar anak tidak rebutan mainan?

Mem-break down faktor-faktor penyebab marah ini memang tidak segampang rumus KPK dan PBB di mata pelajaran matematika SD. Perlu tambahan ilmu donk di dalamnya sejenis ilmu psikologi anak. Hahahaha ... yang pada akhirnya memang mengantarkan kita pada rangkaian pembelajaran tiada henti. 

Yup!!! Menjadi orang tua artinya menjadi pembelajar sejati. Pembelajar seumur hidup, tiada henti! Biar kata kita kuliah S3 dibidang komunikasi, atau bidang pertanian, kenegaraan atau bidang lain diluar bidang anak-anak, tetap saja, ketika menjadi orang tua, ilmu wajib yang harus kita gali adalah ilmu terkait pengasuhan atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah Parenting. 


Berdasarkan pengalaman saya yang tentunya masih cetek ini, saya akhirnya memetik pelajaran dari perjalanan marah memarahi anak ini pada sebuah  kesimpulan bahwa saya merupakan ibu dan orang tua yang 'menghalalkan' memarahi anak. Marah yang seperti apa? Marah yang beralasan tapi bukan alasan  yang dibuat-buat.

๐ŸŒทMarah saat anak tidak berhenti berantem

Banyak sekali faktor penyebab marahnya orang tua. Ditambah faktor internal semakin menjadi-jadilah pembenaran terhadap marah yang sudah mulai bergumul di dada. Dan saya termasuk orang tua yang disinilah tantangannya, untuk bisa memilah dimana marahnya kita kepada anak sebagai usaha meluruskan kesalahan, bukan sebagai pelampiasan kekesalan. Jadi alamiahnya, orang tua yang sedang banyak pikiran banyak masalah pasti akan mudah terpancing emosi. 

Alih-alih memikirkan step by step meredam emosi saat anak mulai bertingkah, yang ada kepala semakin terasa panas. Apalagi seperti saya yang harus menghadapi anak kembar #curhat ๐Ÿ˜†. Jadi hal yang paling saya ingat kalo sudah dalam kondisi darurat seperti ini adalah, fokus pada kesalahan anak. Bukan pada kepelikan situasi kondisi. Sekali, dua kali dan tiga kali diberitahu mereka masih belum paham, saya mulai tenangkan diri dengan kalimat penutup "Solve your problem guys!"

๐ŸŒทMarah saat anak melanggar kesepakatan yang dibuat

Sebagai orang tua yang sangat lemah dalam kontrol marah, saya memang membuat kesepakatan dengan anak-anak tentang apa saja yang membolehkan saya marah. Seperti contoh kasus di atas. Saya boleh marah jika mereka berantem sudah keterlaluan dan tidak mengindahkan perkataan saya sebelum pada akhirnya  saya marah. 

Kesepakatan 'kapan boleh marah' ini juga  saya berlakukan untuk mereka kepada saya dan suami. Seperti mereka boleh marah jika saya atau suami becanda keterlaluan sedangkan mereka sebelumnya sudah bilang ga mau becanda. 

Jadi marah disini lebih mengarah pada ketegasan sikap bahwa kita benar-benar serius ditengah becanda yang kadang kita suka berlebihan. Maklum, kami sekeluarga doyan becanda dan doyan iseng. Dan kami juga suka bete sendiri kalo becanda dan iseng keterlaluan apalagi jika terjadi di momen yang kurang tepat.

๐ŸŒท Marah saat anak melanggar batas-batas permainan fisik

Namanya anak laki-laki, aktivitas fisik sudah bagian dari diri mereka. Sehingga seringkali mereka bermain dan becanda terlewat batas dan secara tidak sengaja kehilangan kontrol kekuatan fisik. Seperti tidak sengaja menendang, memukul, atau mencolok.

Dalam hal ini saya berhak marah sebagai efek jera atas aktivitas fisik (becanda) berlebihan yang mereka lakukan. Dalam hal ini saya mencoba memberikan mereka pemahaman atas sebab akibat dari apa yang mereka lakukan dan apa akibatnya. Maklum, anak kembar ini belum percaya kalo belum mengalami sendiri. Meski udah dibilangin "hati-hati mainnya ga ketendang perut, kepala dan pantat ya". Mereka jawab iya kompak dan tak berapa lama ada yang nangis ๐Ÿ˜….

Baca Juga: Ruangan untuk Marah

Dari tiga hal di atas terlihat jelas ya kalau perkembangan ZaZi saat ini memang musingin ala anak TK. Anak TK laki-laki yang terlalu kecil untuk bisa memahami utuh apa yang kita sampaikan, nasehatkan dan maksudkan. Tapi juga terlalu besar untuk dibiarkan dan dimaklumkan.

Saya tidak menafikkan bahwa menjadi orang tua sangat kecil kemungkinannya kita terhindar dari sifat pemarah ini. Yang bisa kita lakukan adalah, meramu sedemikian rupa apa saja yang menjadi tabiat kita sekeluarga terkait sifat marah ini.

Nah, berdasarkan tabiat keluarga saya yang memang 'khas' marah ngomel-ngomel, saya meramu agar marah tak menjadi penyesalan dan anak paham kenapa kita marah.

๐ŸŒธBerani jujur
Sampaikan sejujurnya jika kita keceplosan marah pada anak padahal bukan mereka penyebab marahnya kita.
๐ŸŒธBercerita
Ceritakan kepada anak proses terjadinya marah pada diri kita. Apakah karena rumah berantakan atau karena Abi kurabg perhatin ๐Ÿ˜†✌.
๐ŸŒธDiskusikan
Carilah cara terbaik sehingga marah menjadi problem bersama yang harus diselesaikan secara bergotong royong.
๐ŸŒธBerlapang dada
Terima dengan lapang dada jika salah seorang dari anggota keluarga mengingatkan kita untuk tidak perlu marah untuk hal tertentu.
๐ŸŒธBerangkulan
Berpelukan dan berangkulan menjadi ramuan penetralisir suasana yang kadung mencekam karena kemarahan yang membara.
๐ŸŒธIstighfar
Cara terbaru yang sangat mudah diterima Zaid dan Ziad karena mereka sedang on fire tauhidnya. Masha Allah Tabarakallah

Dengan 6 hal di atas akhirnya saya, Zaid dan Ziad sebagai korban penularan genetis marah di keluarga ini, terus menerus saling mengingatkan akan kesungguhan kami untuk mengontrol diri agar tidak marah yang berlebihan apalagi hingga bermain fisik. Sehingga, kalaupun salah satu diantara kami kehilangan kontrol diri, maka 6 ramuan di atas harus segera diminumkan agar emosinya terselesaikan.

Begitulah sedikit cuap-cuap pengalaman soal marah. Saya berharap kami sekeluarga bisa bertumbuh dalam suasana aman damai sentosa tanpa marah ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜.

Columbus, 1 April 2019