MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Zaynab Mikayla Alkhansa

Selasa, 12 Mei 2020
Baru beberapa kali saya menuliskan kisah tentang Zaynab di blog ini. Sudah saatnya kita menuliskan kembali cerita tentang Zaynab. Diusianya yang sudah satu tahun setengah.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Dulu impian saya ingin mendokumentasikan setiap tahap tumbuh kembang Zaynab mulai dari usia 0 bulan. Tapi ternyata itu hanya wacana 😅. Saya terlalu sibuk dengan urusan pindahan, jastip dan juga eczema Zaynab. Bahkan tulisan tentang kelanjutan eczema Zaynab saja saya masih hutang dua judul 🤭. 

Zaynab Mikayla Alkhansa

Tapi ga papa lah ya kalo pada tulisan kali ini saya ga ngebahas eczema ataupun alerginya Zaynab. Malam ini saya ingin bercerita sedikit tentang karakter Zaynab hingga menginjak usia 18 bulan ini. Tentu saja tulisan ini bukan untuk meningkatkan viewer. Tapi untuk rekam jejak digital seperti halnya Zaid dan Ziad. Yang mana kalo kita googling nama mereka, maka foto-foto mereka pun akan muncul. Semoga Zaynab juga ya 😂.

Tracking Milestone
Beberapa hari  yang lalu, saya sempat melakukan checklist milestone Zaynab menggunakan panduan yang saya peroleh jaman di US dulu. Alhamdulillah 90% Zaynab udah mencapai milestonenya sesuai usianya. Dan PR nya Zaynab agak mirip dengan Zaid Ziad seumuran Zaynab. Yaitu capaian bahasa.

Zaynab Mikayla Alkhansa


Normalnya, lejitan bahasa pada anak biasa terjadi diusia 18 bulan ke atas. Anak akan dengan spontan mengikuti kata yang kerap mereka dengarkan. Bagaimana dengan Zaynab?

Masih tergolong normal alhamdulillah. Sejak usia 16 atau 17 bulan Zaynab sebenarnya menunjukkan peningkatan capaian bahasa melalui kosakata yang dia peroleh. Namun, memasuki usia 18 bulan, beberapa kata mulai hilang. Namun dia masih mengerti apa yang dimaksud dari kata tersebut namun tidak mau lagi memproduksi kata tersebut. Nah ini yang bikin khawatir 🙈

Zaynab Mikayla Alkhansa

Saya coba list kata-kata yang sudah/pernah/lumayan sering muncul dari ucapan Zaynab dan memiliki makna yang konsisten terhadap benda atau sesuatu.

Mpah 👉 tumpah, sampah
Mamam 👉 makan, bobo, dan nenen. Dan sekarang kucing pun jadi mamam, bukan lagi memeng 🤧
Tata 👉 mata dan hanya diucap kalo saya lagi ngulek sambel karena dia pernah keperihan mata gara-gara bau bawang
Det 👉 kaget. Hanya akan diucap jika kita kaget dan dia jadi inget cerita saat dia kaget lagi main hp tiba-tiba kepencet Youtube yang videonya suaranya keras
Aaa 👉 manggil semua orang sekarang kaya gitu terus 🤧. Padahal sebelumnya sudah bisa panggil Ta untuk Abinya, Ba untuk Abangnya, dan Da untuk Udanya. Dan Aaa ini juga untuk meminta hal yang dia mau 🙄
Pau 👉 untuk apapun jenis cerita yang memiliki suara yang entah apa lalu dia endingkan dengan pau 🙄
Wow 👉 untuk segala hal yang menakjubkan buat dia
Dakda 👉 tidak ada
Papapa 👉 ga papa atau itu apa atau itu siapa
Dan suara-suara aneh yang dia dengar seperti sendawa, kentut, auman, teriakan dll yang spontan terjadi saat kita tengah bercengkrama.

Banyaknya ekspresi ya 😅. Bukan kata benda 😂.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Adapun kata atau  kalimat yang dia mengerti tapi belum mau mengucapkannya adalah:

1. Semua anggota tubuh seperti mata, telinga, rambut, hidung, mulut, lidah, gigi, pipi, jidat, tangan, kaki, belly, pipis, pantat.
2. Kalimat perintah seperti tutup atau buka pintu, tolong ambilin bla bla, ajakan terhadap aktivitas tertentu seperti makan, main, pergi, doa, mengaji. Dan kalimat perintah lainnya yang cukup banyak sehingga membuat saya merasa dia sudah sangat dewasa untuk disuruh-suruh 🤭
3. Menggeleng dan mengangguk dengan sangat tepat ketika ditanya sesuatu.
4. Menunjukkan semua anggota keluarga sesuai dengan namanya.
5. Mengadu jika terjadi sesuatu padanya dengan bahasa bayi yang panjang tapi belum mengeluarkan kata bermakna hanya menunjuk-nunjuk suatu tempat atau lokasi peristiwa terjadi 😅.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Kemampuan lain selain capaian bahasa yaitu kemampuan bermain dengan kakak-kakaknya. Seperti bermain petak umpet, baca buku bareng, kuda-kudaan, dan lain-lain. Yang mana saya memandang hal ini sebagai capaian sosial interaksi dia.

Sedangkan untuk kognitif bisa dilihat dari kemampuan dia menunjuk semua anggota tubuh yang kita tanya secara tepat. Selain itu Zaynab juga bisa mengoperasikan benda sesuai fungsinya seperti sikat gigi, sisir rambut, bantal, selimut, buku, kursi, dan lain-lain. Dan Zaynab juga menyukai pretending play dengan boneka-bonekanya. Seperti menyuapinya, mengaja bicara, menggendong, dan lain-lain.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Bagaimana motoriknya? Memang anak laki-laki dan perempuan akan signifikan perbedaan terlihat di kemampuan motorik ya. Jika dulu ZaZi motorik kasar majunya pesat, Zaynab justru di motorik halus. Hal ini semacam natural aja ya tanpa stimulus. Sehingga saya harus fokus pada motorik kasar Zaynab justru. 

Kayanya segini dulu deh bahasan tentang Zaynab. Semoga ada lanjutannya biar keliatan juga nih anak perkembangannya gimana 😁.

Batujajar, 12 Mei 2020
Nb: bagi yang ingin dikirim pdf milestonenya, silahkan tinggalkan komen ya 🤗

Ketika Harus Memilih Homeschooling

Minggu, 10 Mei 2020

Homeschooling sebagai salah satu alternatif pilihan pendidikan untuk anak semakin hari semakin dilirik para orang tua. Beragam faktor tentunya, yang membuat para orang tua menjadikan homeschooling sebagai pilihan jalur pendidikan. Seperti faktor eksternal dengan adanya rasa kurang puas dengan sistem pendidikan yang ada, kurang terfasilitasinya kebutuhan anak, atau mungkin juga faktor internal karena tidak ingin melewatkan kesempatan memiliki amal jariyah terbesar.



Selain faktor yang beraneka ragam, persepsi terhadap homeschooling ini sendiri pun beragam. Dalam pembahasan kali ini, homeschooling yang kami maksud adalah homeschooling berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 129 tahun 2014. Dalam peraturan ini disebutkan bahwa sekolah rumah atau homeschooling adalah proses layanan pendidikan secara sadar dan terencana dilakukan oleh orang tua/keluarga di rumah atau tempat dengan suasana kondusif.


Jadi dari Peraturan Menteri tersebut, dalam tulisan ini kita akan membahas tentang homeschooling yang dilaksanakan langsung oleh para orang tua. Bukan homeschooling yang dialihtangankan ke pihak atau lembaga tertentu yang melabeli dirinya sebagai lembaga homeschooling. Karena dua hal ini memiliki konsep yang berbeda.


Banyak dari para praktisi homeschooling menyarankan pelurusan persepsi terhadap konsep homeschooling yang akan diterapkan. Karena jika persepsinya sudah lurus, akan mudah bagi kita untuk mengatasi berbagai macam sandungan di kemudian hari.


Pelurusan persepsi disini lebih kepada mengembalikan konsep homeschooling pada filosofi awalnya, yaitu pendidikan berbasis keluarga. Bukan pendidikan berbasis lembaga alias mengalihkan pendidikan dari pendidikan formal di sekolah ke pendidikan nonformal atau informal lewat lembaga pendidikan.


Nah, selain persepsi tentang homeschooling itu sendiri, sedikitnya ada lima hal penting lainnya yang harus kita ketahui sebelum memutuskan untuk memilih homeschooling.


1. Visi misi keluarga

Dalam menjalankan homeschooling, artinya keluarga menjadi basis utama pendidikan anak sebelum memperluas diri ke ranah yang lain. Menentukan visi misi keluarga menjadi sangat penting agar tujuan pendidikan berbasis keluarga ini bisa terlihat. Dari visi misi keluarga inilah kemudian kita telurkan visi misi dalam mendidik anak.


2. Visi misi pendidikan anak

Setiap keluarga tentu memiliki ruh yang berbeda dalam memberikan pendidikan terhadap anaknya. Ada keluarga yang ingin memperkaya anak dengan ruh religi, sporti, naturalistik, atau ruh keilmuwan.

Merunut dari visi misi keluarga, maka visi misi pendidikan anak membantu kita melihat lebih terperinci apa yang menjadi visi misi dalam pendidikan anak. Seperti halnya menciptakan ruh tadi. Ada keluarga yang mampu menelurkannya sejak awal, namun tak jarang ada keluarga yang terus menerus merevisi visi misi pendidikan anak ini karena karena hendak menyesuaikan dengan perkembangan sang anak.


3. Karakteristik keluarga

Merumuskan visi misi keluarga dan juga pendidikan anak bukanlah hal yang mudah. Selain menuntut proses panjang, perumusan visi misi ini pun meminta kita untuk terus menerus mengenal karakteristik keluarga. Karena pengejawantahan visi misi ke ranah teknis akan sangat menantang jika kita kurang memahami karakteristik keluarga.

Ada keluarga yang mampu menyibukkan diri dengan aneka aktivitas di dalam rumah. Ada keluarga petualang yang tidak mampu melejitkan potensi jika hanya monoton di rumah saja. Dan ada juga keluarga yang mampu beradaptasi cepat dengan perubahan situasi, kondisi dan lingkungan.


4. Metode homeschooling

Setelah mengetahui karakteristik keluarga, barulah kita bisa beranjak untuk menemukan metode homeschooling yang cocok untuk keluarga. Ada banyak metode pendidikan yang bisa kita terapkan dalam homeschooling. Seperti metode Montessori, Charlotte Mason, metode Unschoolingnya John holt atau pun metode campuran dari semua metode yang dirasa cocok dengan keluarga kita.


5. Prinsip-prinsip dalam homeschooling

Ada banyak hal prinsip yang tak kalah penting dari empat poin penting di atas yang harus sudah ajeg dimiliki oleh keluarga homeschooler. Prinsip-prinsip inilah yang nantinya diharapkan sebagai pengokoh keluarga ketika ada kerikil atau batu sandungan. Sehingga kita para orang tua sebagai pelaksana homeschooling tidak mudah goyah dalam menjalankan pilihan pendidikan ini.

Jadi jika diumpakan, empat poin sebelum ini adalah sebagai pondasi, maka poin ke lima ini adalah tiang yang siap menyangga bangunannya. Sehingga ada beberapa prinsip yang perlu kita ketahui agar miliki tiang penyangga yang kuat.


Apa sajakah prinsip-prinsip tersebut:

1. Setiap manusia adalah berbeda, maka hargailah perbedaan sekecil apapun itu. Baik perbedaan antar anggota keluarga, maupun perbedaan antar keluarga homeschooling. Lebih luas lagi, perbedaan antar orang tua dalam memilihkan jalur pendidikan untuk anak-anaknya.


2. Karena kita berbeda, maka tak ada gunanya kita saling membandingkan. Karena prinsipnya perbandingan hanya akan memunculkan pelemahan atau kesombongan. Dan hal ini akan menggoyahkan pondasi keluarga, yaitu jiwa. Ketika jiwa goyah, maka tak matanglah visi misi yang seharusnya bisa dimatangkan. Ketika jiwa goncang, maka tak kuatlah karakteristik keluarga yang melekat. Karena lebih terpengaruh arus luar akibat seringnya membandingkan.


3. Setiap keluarga itu unik, maka ambillah kebaikan dari keluarga lain dan modifikasi penerapannya untuk keluarga kita. Lalui hargailah setiap keunikan yang beragam itu untuk membuka mata lebih lebar bahwa pendidikan anak tak melulu menyoal keluarga kita. Ingat! Ada pendidikan sosial dan moral serta agama yang harus melibatkan elemen horizontal kita sebagai manusia.


4. Sukses dan gagalnya sebuah homeschooling tidak dapat dilihat dalam waktu yang singkat. Karenanya, berhentilah menilai keluarga lain dan fokuslah pada proses keluarga sendiri dengan menentukan sukses seperti apa yang hendak kita jemput.


5. Orang tua adalah cerminan anak, maka pastikan kita sebagai orang tua selesai dengan diri sendiri. Sehingga tidak ada bias yang terjadi ketika kita menanamkan nilai kepada anak. Bukankah Allah tidak menyukai manusia yang tidak melaksanakan apa yang dia katakan?


Semoga dengan 5 poin penting ini, para orang tua yang masih merasa bimbang akan pilihan pendidikan anak-anaknya bisa menjadi lebih mantap dalam melangkah. Pilihan pendidikan apapun itu, semua tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Hanya kita yang tahu pilihan pendidikan apa yang siap kita terima kekurangannya dan puas hati mendapatkan kelebihannya.


Batujajar, 1 Mei 2020


Nb: Tulisan ini dimuat di The Real Ummi dengan judul "5 Hal Penting Sebelum Memulai Homeschooling" dengan editan yang disesuaikan tanpa mengubah isi artikel

Jurnal Ramadan: Percobaan Liquefaksi

Sabtu, 09 Mei 2020
Jujur saja, saya adalah orang tua yang baru saja belajar. Belajar tentang diri sendiri, pasangan, anak dan lingkungan. Sehingga tantangan berat memang buat saya ketika harus belajar sembari membersamai anak-anak belajar. Terutama ketika saya dan suami memutuskan untuk Homeschooling.


Seperti yang pernah saya tuliskan di sebuah artikel (saat tulisan ini dibuat tulisan tersebut belum publish di website komunitas yang saya ikut), saya meyakini bahwa tak hanya anak yang unik, masing-masing keluarga pun unik. Sehingga dari hal inilah saya mulai menipiskan berbagai macam perasaan tak mampu membersamai anak belajar. Karena hakikatnya sudah sangat jelas. Keunikan keluarga kitalah wadah utama tempat belajar kita.

Ya! Kita! Semua anggota keluarga. Tak hanya anak melainkan juga orang tua. Kita semua sedang dan akan terus belajar.

Dari hal inilah saya coba melihat dan masuk dengan sangat perlahan tentang cara yang bisa saya gunakan agar tujuan pendidikan anak yang saya impikan tercapai. Apakah itu? Saya berharap anak-anak bisa menjadi pembelajar mandiri yang selalu bersemangat mencari ilmu. Dan tentu kuncinya ada pada diri kita orang tua. Dengan cara terus menerus belajar. Tak peduli anak-anak ngeh atau tidak.


Nah pagi ini, anak-anak yang memang tipe random learner memergoki saya tengah menonton video liquefaksi yang terjadi di Sulawesi. Sengaja tidak saya stop videonya seperti biasanya, karena video ini adalah pengetahuan. Dan benar saja, mereka bertanya panjang lebar tentang peristiwa tersebut tak ada habisnya. Karena saya harus berbagi perhatian dengan Zaynab, saya pun menawarkan aktivitas outing untuk melakukan mini experiment tentang peristiwa liquefaksi ini.

Berbekal informasi singkat dari sebuah video yang kami temukan di google, saya mulai kebayang percobaan seperti apa yang bisa kita lakukan. Padahal tadinya saya ragu apakah anak-anak akan tertarik atau tidak. Dan alhamdulillah memang mereka anak-anak alam yang paling seneng kalo diajak keluar memperhatikan alam sekitar.


Terkadang kita suka terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa oh kita tidak mampu atau anak tidak mau. Padahal mungkin kita hanya butuh waktu untuk melihat sesuatu lebih mindfull. Karena sesungguhnya dibalik ketidaknormalan kondisi tetap ada pembelajaran di dalamnya. Makanya jangan langsung patah semangat dulu jika pancingan yang kita berikan untuk anak agak kurang mempan. 

Perlahan meski tidak terlihat, tapi satu persatu aktivitas sederhana dalam keluarga kami yang sangatlah baru di dunia homeschooling ini memperlihatkan polanya. Jika berbicara hasil agaknya terlalu dini. Sehingga saya memang berfokus pada pola yang bisa dibentuk dalam keluarga kami untuk membawa anak-anak menjadi pembelajar mandiri.

Oh iya, bagi teman-teman yang ingin melakukan percobaan liquefaksi ini, alat dan bahannya sangatlah mudah. Ga perlu beli-beli atau preparasi lama. Saya coba catatkan semoga bermanfaat.

1. Siapkan satu wadah untuk media yang akan diisi kerikil dan tanah
2. Siapkan sendok atau sekop kecil untuk memudahkan memindahkan tanah
3. Sediakan air secukupnya untuk memberikan efek becek pada tanah
4. Siapkan benda yang ingin dicobakan terkena dampak liquefaksi, seperti mobil-mobilan atau mainan lainnya.

Caranya:
Perkenalkan kepada anak bahwa struktur tanah yang selama ini kita injak terdiri dari beberapa lapisan. Untuk percobaan kita buat dua lapisan saja. Lapisan bebatuan sebagai dasar, dan lapisan tanah di atasnya. Di dalam tanah juga terdapat air. Disini kita juga bisa menjelaskan dari mana air yang selama ini mereka pergunakan untuk mandi dan lain-lain. Jika perlu buatkan sketsa sederhana mengenai struktur tanah ini.

Lalu, siramkan air ke dalam wadah karena tanah memiliki air di dalamnya. Nah peristiwa liquefaksi terjadi ketika adanya perubahan kepadatan tanah akibat sebuah peristiwa seperti peristiwa gempa bumi. Yang menggeser struktur tanah bagian dalam, seperti kerikil tadi yang menyebabkan air tanah naik ke permukaan dan membuat tanah kehilangan kepadatan dan kekuatannya. Disaat inilah tanah seolah bersifat seperti air. Bisa memiliki gelombang sepertu air laut dan mampu menghanyutkan atau menenggelamkan benda yang ada di atasnya.

Mudah-mudahan bermanfaat ya dan anak-anak jadi terpancing daya berfikir kritisnya. Semakin banyak mereka bertanya, semakin bermakna pembelajaran yang kita suguhkan.

Batujajar, 6 Mei 2020

Jurnal Ramadan: Kesedihan Pertama Selama Pandemi

Rabu, 06 Mei 2020
Hari ini berjalan agak sedikit drama. Pertama kalinya Zaid curhat kalo dia sedih cuma di rumah aja. Ga bisa main ke taman, ga bisa ngaji ke masjid lagi dan ga bisa jalan-jalan. Saya? Nyesek donk dengernya. Mana memang kebetulan saya juga lagi merasakan hal yang sama.


Memang kami alhamdulillah masih dalam batas normal. Hanya butuh refreshing dikit aja sekedar jalan pagi atau belanja kemana. Tapi karena khawatir ga bisa ngontrol gerak anak-anak jadilah saya batasi diri untuk benar-benar ga berpergian 🙄.

Situasi ini untungnya bikin saya rada mikir untuk menyampaikan ke Zaid bahwa kita tetap harus bersyukur karena masih bisa sesekali keliling-keliling pake mobil. Sedangkan orang lain yang harusnya kerja jadi ga bisa kerja. Boro-boro mikirin kesenangan, mikiran makanan yang akan dimakan aja mereka udah susah.

Meski mencoba sedikit untuk mencerna, Zaid agak sedikit tenang. Ditambah ketika saya minta dia untuk memperbanyak doa apalagi lagi bulan Ramadan dan dia pun puasa. Langsung dia tengadahkan tangan sambil komat kamit. Meski mungkin dia sendiri ga terlalu paham dengan situasi sekarang, paling ga dia bisa tenang sementara. Tinggal saya yang harus mencari cara agar anak-anak bisa menikmati masa karantina ini dengan minim rasa sedih.

Berhubung sepuluh hari kedua adalah masanya pengampunan, jadilah saya agak mengurangi intensitas bergadget. Jadilah target 1 jurnal 1 hari agak mandeg dan memendek hehehe.

Semoga Allah segera angkat virus Corona dari muka bumi dan melimpahkan kembali hidup yang normal tanpa wabah untuk kita umat manusia.

Batujajar, 6 Mei 2020

Jurnal Ramadan: Good Deeds Calendar ZaZi

Memasuki hari ke 13 Ramadan, mari kita liat pelaksaanaan Good Deeds ZaZi selama 12 hari puasa 😁. Tadinya mau dievaluasi per 10 hari. Tapi karena ada evaluasi besar, jadilah untuk good deeds diundur saja.


FYI, selama Ramadan kita mempersiapkan 5 perbuatan baik yang ditawarkan untuk ZaZi, yaitu:
1. Nyuci piring
2. Nyuci baju
3. Bersihin meja belajar
4. Ngasuh Zaynab
5. Nambah hafalan AlQuran


Gimana pelaksanaannya?

Mereka masih belajar kecuali hafalan dan beresin meja. Untuk mencuci piring mereka cenderung gampang tapi untuk beberapa piring saya bantu karena takut pecah. Sedangkan nyuci baju kan cuma pencet-pencet tombol doank. Dan aslinya mereka kecewa karena mereka ngirain nyuci pake sikat 😅. Tapi saya ga kasih karena malah nambahin kerja saya 🙈. Untuk ngasuh Zaynab makin hari mereka makin dewasa cara ngasuhnya. Terutama Zaid. Kalo Ziad memang suka gelut sama Zaynab 😅😅.


Kenapa sih cuma 5 good deeds nya? Karena kita targetnya adalah pembiasaan. Karena anak-anak tipe yang ga terlalu perhatian untuk hal baru. Jadi kalo terlalu variatif malah ga nempel ke mereka. Jadilah kita menyesuaikan saja dengan karakter anaknya.


Trus rewardnya apa? Aslinya kita kasih reward snacking untuk setiap deed yang dilakukan. Tapi kesini-kesini mereka ngerjainnya malah ga inget reward itu. Mereka malah fokus ke stickernya udah nempel apa belum 😅. Jadi si cemilan kita makan bareng-bareng deh tanpa batas 🙈😂.

Alhamdulillah meski ga terlalu smooth tapi penerapan good deeds selama Ramadan ini paling ga bikin mereka jadi bertanggungjawab terhadap beberapa pekerjaan rumah. Mereka juga jadi lebih peduli terhadap rutinitas keluarga. Jadi meski good deeds nya gampang-gampang, dengan mereka inget apa job mereka hari ini aja itu sudah capaian bagi saya. Tinggal pembiasaan terus menerus hingga akhirnya mereka inisiatif terlibat tanpa harus ada jadwal gooddeeds.

Batujajar 5 Mei 2020


Jurnal Ramadan: Kebaikan Itu Menular

Senin, 04 Mei 2020
Ga hanya Covid-19 aja yang menular. Kebaikan juga bisa menular.

Brownies Dari Tetangga Misterius 🤭

Dua hari begadang karena demi demi ikut wisuda virtual suami membuat tubuh saya agak sedikit eror. Baru saja kemaren menuliskan evaluasi 10 hari pertama yang bisa dikatakan lancar. Hari ini kontan ujiannya meningkat 🙈.

Tapi saya tidak akan bercerita tentang ujian hari ke-11 Ramadan saya. Justru saya mau bercerita tentang kebaikan yang menular. 

Mundur Dikit ke tahun 2016
Pada tahun tersebut, saya baru saja merantau ke US sekitar bulan Juni akhir. Ceritanya, saya dan keluarga beserta teman suami dan juga keluarganya mengagendakan silaturahim ke salah satu rumah senior di kota lain. Saya yang saat itu pemain baru dengan aneka adaptasi tidak terlalu mempersiapkan apa-apa. Baik itu bekal perjalanan. Maupun menu makanan untuk teman suami yang menginap di rumah.

Labu kuningnya saya olah jadi talam

Memang saya masih adaptasi dengan bahan makanan di US. Sehingga saya hanya menyiapkan mie ayam ala-ala saya tanpa contek resep 😅 plus kalo ga salah salah rendang yang juga ala-ala saya. 

Nah setiba saya di rumah senior tadi, betapa malunya saya mendapati beliau menjamu kami dengan sungguh luar biasa. Padahal kedatangan kami bisa dikatakan mendadak karena memang tanpa rencana. Sedangkan kedatangan teman suami saya untuk menginap di rumah sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Belajar dari pengalaman tersebut, saya pun bertekad ingin seperti beliau yang memuliakan tamu dengan sungguh luar biasanya.

Menjadi Baik Itu Berat
Tekad kuat seiring dengan ujian yang berat. Ternyata memiliki niatan mulia itu tak semudah yang saya bayangkan. Ada saja kendalanya. Mulai dari waktu, keuangan, dan juga tenaga. Sehingga untuk menjadi baik dengan salah satunya memuliakan setiap tamu yang datang ke rumah menjadi perjalanan panjang untuk saya hingga akhirnya benar-benar menikmatinya. Tanpa merasakan sebuah beban berarti yang berasal dari bisikan syaitoni 🙈.

Baju dan Kerudung semua pemberian
Tanpa ada sebuah momen


Kembali ke Hari ini
Dan hari ini, saya mendapati kembali kebaikan yang menular itu. Tiba-tiba saya mendapat kiriman labu dari tetangga yang baru saja beres panen kebun depan rumah kita yang memang masih rumah kosong. Tak selang berapa lama, tiba-tiba ada yang mengantarkan brownies yang ternyata berasal dari tetangga saya semasa ngontrak sebulan di blok sebelah. Masya Allah. Selain itu, kemaren malam seorang adik kelas semasa SMA berkirim baju untuk Zaynab for free.

Jujur, mereka datang bertubi membuat saya speechless dan "woi Put! Lho udah ngasih apa???"

Begitu ringannya orang-orang untuk berbagi ditengah kesempitan. Dan tentu saja hal ini membuat saya yang masih belajar untuk ringan langkah dalam berbagi hal-hal kecil semakin bergelora. 

Tak jarang kan ketika kita hendak berbagi, muncul saja keraguan akan kekhawatiran ini dan itu. Khawatir orang yang kita beri tidak suka, khawatir tidak terpakai, khawatir terbuang, dan khawatir lainnya yang hanya datang dari dugaan-dugaan tanpa landasan. Sehingga membuat kita jadi urung untuk berbagi.

Kebaikan dalam berbagi, terutama dalam kondisi sempit merupakan kebaikan yang bisa mengasah keikhlasan kita. Mungkin tidak akan kita rasa, namun perlahan akan semakin lembut hati yang memupuk asa akan semangat menebar kebaikan. 

Jadi bener kan ya kalo kebaikan itu menular. Karena jika kita memiliki orientasi persaingan akhirat, dijamin kita tidak akan tenang jika tak pernah berbagi sama sekali terutama dalam kondisi sempit.

Semoga Ramadan mengasah kebaikan yang kita punya dan Allah menambah amalan kebaikan baru untuk kita. Selamat menikmati prosesnya!

Batujajar, 4 Mei 2020

Jurnal Ramadan: Evaluasi 10 Hari Pertama

Minggu, 03 Mei 2020
Memasuki hari ke sepuluh Ramadan, saatnya kita evaluasi!!! 🤧🤧🤧


Sebagai ibu tiga anak dengan status ibu menyusui, jujur saja saya agak deg-degan menyambut bulan Ramadan. Tadinya saya mau menyampaikan ini di tulisan jurnal Ramadan yang pertama. Tapi saya urungkan karena ingin melihat setelah sepuluh hari pertama apakah saya masih merasa deg-degan atau tidak.

Kenapa sih deg-degan? Karena saya adalah tipe busui (ibu menyusui) yang memiliki air susu pas-pasan. Jadi ga ada tuh yang namanya air susu meluber dalam sejarah per-breastfeedingan saya 😅.

Flashback Dikit
Tahun 2019 saya blas tidak puasa Ramadan sama sekali. Selain faktor merasa ASI pas-pasan, Zaynab saat itu masih eczema. Tidurnya tidak nyenyak berefek ke jam tidur saya yang juga tidak berkualitas. Sedangkan ASI saya sangat bergantung pada kualitas istirahat saya (instead of food). Jadi saya ambil keringanan saja. Terlebih tahun lalu saya masih di US yang mana jam puasanya 2 jam lebih lama dari di Indonesia.

Berkaca dari pengalaman tahun lalu itulah saya deg-degan. Tapi eh tapi. Tahun sekarang kan banyak faktor yang tidak ada. 
1. Zaynab alhamdulillah sudah tidak eczema
2. Pola tidur Zaynab bagus
3. Sudah komunikatif
4. Jam puasa tidak selama di US
5. Makanan mudah didapat 😁

Tapi lagi, saya tetep deg-degan. Hahaha. Karena saya khawatir saya ga sanggup puasa dan itu akan mengganggu puasanya ZaZi. Saya khawatir Zaynab lemes seperti halnya saat saya mencoba latihan puasa sebelum Ramadan. Saya khawatir Zaynab rewel dan stabilitas aktivitas jadi terganggu. Stabilitas keluarga pun terganggu

Bismillah!
Alhamdulillah saya teringat perkataan seorang teman. Rasa khawatir itu datangnya dari syaitan. Mintalah kepada Allah agar diberi kemampuan. Karena sesungguhnya apa yang kita lakukan di dunia ini semua terjadi atas kehendak Allah!

Jleb! 

Akhirnya, dengan kekuatan keyakinan saya mencoba untuk memperkuat diri akan hal itu. Jika pun akhirnya saya tidak sanggup, semoga diberi Allah jalan keluar terbaik. #edisisolihah 🙈

Mari Evaluasi!
Dan inilah dia evaluasi 10 hari pertama. I made it!!! 😭😭😭😭 Tanpa halangan dan rintangan yang berarti. Dan tentunya semua ini terjadi atas izin Allah dengan kolaborasi manis manja dengan suami dan ZaZi hihihi. Eh ada peran Zaynab juga dalam keberhasilan puasa 10 hari ini 😘😘.

Biar lebih enak dibaca, saya coba bikin per poin tantangan yang saya hadapi dan solusi yang saya coba lakukan sebagai bentuk evaluasinya yaks 😁

1. Manajemen waktu
Selama Ramadan tentunya kita memiliki pola keseharian yang berbeda dari hari biasanya. Meskipun di hari biasa saya terkadang memulai memasak sebelum subuh seperti saat Ramadan. Namun saat Ramadan mau tidak mau harus setiap hari. Sedangkan kalo diluar bulan Ramadan bisa semaunya saya aja hehehe. Disesuaikan dengan kondisi tubuh, kurang tidur atau cukup tidur.

Ramadan, meski kurang tidur, mau tidak mau saya harus tetap bangun untuk preparasi sahur. Ada dua bocah yang sedang semangat-semangatnya belajar puasa. Jika saya ngikutin rasa malas, hmmm gagal donk suri tauladan yang baiknya. Wkwkwkwk.

Tapi saya juga tidak mau membohongi diri. Jika saya kurang istirahat, kuantitas ASI menurun. Jika saya kurang istirahat, tubuh bisa drop dan bakal gampang kumat bersin-bersinnya. Sehingga, untuk mengatasi situasi seperti ini jika terjadi, saya komunikasikan dengan partner hidup alias suami. Tujuannya agar suami bersiap diri menggantikan posisi saya untuk preparasi sahur, mendampingi ZaZi belajar atau sekadar membantu menyicil pekerjaan rumah yang bisa dihandle oleh suami.

Selain itu, saya juga mengkomunikasikan ke ZaZi bahwa kondisi ibu menyusui itu akan merasakan lapar setelah bayi menyusu. Sehingga in case saya ga kuat dan harus buka puasa, saya harap ZaZi paham. Dan alhamdulillah hal ini belum kejadian dan jangan sampe kejadian 🥺🥺🥺.

Hal lain yang saya lakukan agar waktu bisa berjalan efisien yaitu dengan membuat schedule keluarga yang sudah saya bahas di tulisan jurnal Ramadan hari pertama. Tujuan pembuatan schedule ini lebih untuk membantu saya dan suami bisa tektok berbagi tugas. Yang mana intinya adalah, agar stabilitas keluarga terjaga. 

Apa indikator keluarga stabil versi keluarga kami?
* ZaZi produktif
* Zaynab kooperatif
* Urusan dapur selesai
* Urusan pendidikan anak kepegang
* Urusan hidup lainnya juga tidak terbengkalai seperti pemenuhan kebutuhan ruhani 

2. Manajemen ASI
Tidak hanya waktu yang menjadi isu utama kekhawatiran saya. Tapi juga ASI. Meski Zaynab sudah 18 bulan, tapi Zaynab belum menemukan minuman lain pendamping ASI seperti halnya ZaZi dulu. Kenapa? Karena Zaynab alergi susu sapi. Sehingga saya tidak bisa memberlakukan hal seperti halnya ZaZi dulu. 

Sebagai bentuk usaha, saya memperkenalkan Zaynab susu kedelai buat membantu saya mengalihkan Zaynab dari mengASI. Tadinya saya pesimis anaknya mau. Karena Zaynab termasuk anak yang picky. Ternyata alhamdulillah anaknya suka. Namun memang satu kotak kecil susu kedelai untuk dua hari 😅. Beda banget kalo dikasi ultramimi. Satu hari bisa dua kotak 😅. Tapi sehabis minum ultramimi, bibirnya jontos. Malamnya sibuk ngegaruk 🤧.

Nah selain mengalihkan ASI ke minuman pengganti, saya juga mengalihkan jadwal ASI Zaynab dengan kesibukan bermain. Bukan permainannya dia yang saya siapkan melainkan aktivitas untuk ZaZi. Karena Zaynab anaknya nempel banget ke ZaZi. Semua hal yang dilakukan ZaZi dia ikutin 😅.  Jadi kalo ZaZi sibuk dan dikondisikan sejak awal agar bantu Umi ajak Zaynab main, maka Zaynab bisa lupa dengan keinginannya untuk breastfeed.

3. Manajemen Dapur
Urusan masak memasak selama Ramadan bagi saya juga masuk isu yang bikin khawatir. Lagi-lagi karena ada dua bocah yang tengah semangat belajar puasa. Sehingga sebagai seorang ibu yang lembut hatinya 🤪 dan ingin anaknya bahagia dan bersemangat, jadilah saya berfikir untuk membuat makanan sesuai dengan apa yang mereka mau. Dan tentu ini menantang😅. Karena ZaZi itu sukanya makanan yang ga ada bahannya di kulkas. Jadilah sebelum Ramadan saya persiapkan menu yang ga banyak dan susah, tapi itu bisa bikin ZaZi semangat. Yaitu pizza!!

Beruntungnya, kakak pertama saya lagi gandrung praktek di dapur dengan kondisi dapur 11 12 dengan dapur saya alias ga punya kecukupan alat masak karena kami sama-sama anak baru pindah 😂. Tapi kondisi saya lebih tragis sih (mau dikasihani donk qaqaaaa). Jadi saya tinggal contek di IG story kakak saya resep dan cara membuat pizza teflon. Dan yey! Anak-anak suka.

Selain itu, roti dan donat adalah menu lain yang alhamdulillah gampang dapetinnya 🤭. Roti tinggal beli yang lewat depan rumah. Donat tinggal bikin karena udah latihan sebelum Ramadan 😁😎.  Tinggal mikirin modifikasinya. Maklumin ya, anaknya anak Amerika 🤧. Meski perlahan mereka mulai suka masakan Indonesia seperti pical alias gado-gado alias lotek atau apalah namanya saya ga bisa bedain 😂✌🏼.

Apa cing namanya?

4. Manajemen tidur
Nah ayo! Yang biasa tidur lagi sehabis shalat subuh??? Di Ramadan kali ini, saya bertekad untuk tidak melakukan hal tersebut. Kenapa? Karena saya ga pengen ZaZi punya habits seperti itu. Tapi eh tapi, tantangannya adalah sang Princess bernama Zaynab. 

Tapi dalam pelaksanaannya, alhamdulillah ZaZi memang tipe anak yang kalo udah bangun, ga akan tidur lagi. Bahkan untuk nyuruh mereka tidur siang aja susah 😅. Jadi alhamdulillah bada subuh mereka langsung produktif menggambar. Sempat selama Ramadan kedua, ketiga dan keempat kami mengalihkan aktivitas menggambar dengan menonton siaran langsung khutbah untuk anak dari Noor kids yang pernah saya review di jurnal Ramadan hari ketiga. Tapi ternyata agak kurang bagus untuk ZaZi terpapar screen di pagi hari. Sehingga kami alih jadwalkan acara noor kids ke bada Ashar dan bada subuh tetap dengan menggambar atau eksplorasi buku.

Untuk saya sendiri, tidur sehabis subuh hanya bila Zaynab menolak bangun 😅. Ya mau ga mau saya bablas tidur bareng Zaynab wkwkwkwk. 

5. Manajemen aktivitas
Karena ZaZi tidak sekolah formal plus memang masih pandemi juga, ada kekhawatiran bahwa ZaZi bakal ga beraktivitas bermakna. Sehingga, selain membuat schedule keluarga, saya juga menyiapkan 3 aktivitas dalam satu hari yang bisa mereka laksanakan dengan atau tanpa saya atau abinya. 

Dalam pelaksanaannya, ZaZi lebih memilih menciptakan aktivitas mereka sendiri 😅. Jika kami berhasil memberikan pancingan menarik, barulah mereka tertarik melakukan aktivitas yang sudah saya list. Dan sejauh ini, ZaZi memang masih menyukai aktivitas fisik ketimbang otak. Jikapun ada aktivitas kognitif yang mereka mau, butuh waktu cukup lama untuk membawa mereka 'in' . 

Nah itu 5 hal yang membuat saya deg-degan apakah bisa berpuasa dengan baik, aktif produktif ataukah tidak. Dan alhamdulillah 10 hari pertama begitulah hasil evaluasinya. Bisa dilihat dari 5 poin di atas.

Nah sebagai tambahan, kekuatan keyakinan seperti yang saya singgung di atas memang berefek ya ke anak. Zaynab alhamdulillah tidak terlihat lemes. Bahkan anaknya cenderung kooperatif. Jika pun ada kendala, alhamdulillah bisa terlewati. Semua ini terjadi atas izin Allah. Yang membantu saya memiliki pemikiran untuk mengkomunikasikan segala sesuatunya kepada seluruh anggota keluarga. Termasuk Zaynab. 

Jadi bener ya ternyata kata orang-orang. Anak itu meski belum bisa ngomong, tapi ngerti kita ngomong apa. Dan saya dulu ga ngerasain hal itu di jaman ZaZi ✌🏼🙈🙈. Kayanya dulu saya tu belum sepenuh hati jadi ibu 😭. Tapi alhamdulillah ZaZinya bertumbuh menjadi anak penuh pengertian. 

Semoga usaha-usaha kecil untuk memberikan pendidikan terbaik buat anak selalu di ridhoi Allah ya.

Jurnal ini ditulis sebagai catatan pribadi. Jika ada yang nyasar (saya promote di IG sih😅), mudah-mudahan ada manfaatnya ya. Ga ada gading ya ga retak. Asal jangan gigi aja retak duluan 🙈. Udah ah!  jurnal Lumayan panjang kali ini. 

Batujajar, 3 Mei 2020


Jurnal Ramadan: Yang Terbaik Wisuda Virtual

Sabtu, 02 Mei 2020
Aslinya saya malam ini lagi dijangkiti virus malas nulis. Rencananya mau nulis besok pagi aja karena malam ini udah ngantuk. Tapi udah dibawa tidur kok ga tidur-tidur. Mungkin karena saya takut Pak Topik (suami saya) ketiduran. Sedangkan jam 12 malam ini akan ada wisuda virtual di jurusannya.



Kehadiran Covid-19 ini tentunya diluar dugaan kami. Saya dan suami yang tadinya merencanakan LDM hingga bulan Mei, membatalkan rencana tersebut. Kenapa? Hanya karena alasan saya ga sanggup melihat anak-anak terbengkalai terlalu lama, terutama untuk urusan pendidikan mereka. Padahal di lain sisi saya sangat menginginkan suami mengikuti wisuda doktoralnya. Bukan karena gengsi, tapi karena lagi-lagi alasan keluarga yang membuat beliau tidak pula merasakan wisuda masternya.

Namun bulan November 2019, detik-detik menjelang suami ujian disertasinya, saya semakin tidak tenang. Merengeklah saya seusai suami ujian disertasi agar beliau pulang saja secepatnya setelah menyelesaikan segala sesuatu terkait kelulusan. Dan akhirnya pulanglah beliau di akhir tahun 2019, tepatnya tanggal 25 Desember 2019.

Saya, sebagai (lagi-lagi) faktor penyebab beliau tidak merasakan dua wisudanya berkali-kali meminta maaf sembari berdoa di dalam hati agar kami diberikan kelapangan rezeki sehingga suami bisa kembali ke US untuk menghadiri wisudanya. Meski kondisi ril nya, saya tidak tau akan menggunakan uang apa untuk kembali ke US.

Saat itu ternyata wabah Corona mulai menghantui dunia. Namun baru saya sadari di bulan Januari 2020. Saat itu hati hanya menerka-nerka. Tak berani bersuara melainkan hanya gumam hati saja. Dan saya juga tak berani berfikir rentang waktunya. Berapa lamakah dan akankah sampai ke Indonesia dan Amerika?

Waktu bergulir, satu persatu apa yang jadi terkaan seolah jadi kenyataan. Apa yang diguman hati seolah terjadi. Tapi lagi-lagi saya tak berani berfikir terlalu jauh. Tentu saja saya menginginkan situasi normal dalam segala hal. Namun saya berkeyakinan, seburuk apapun situasi, Allah tidak akan pernah zolimi hambaNya.

Corona dan Wisuda
Salah satu hikmah yang saya dan suami bisa peroleh melalui pandemi ini adalah, bahwa dibalik beratnya hati saya meminta suami untuk mempercepat kepulangan dengan konsekuensi tanpa wisuda yaitu Allah masih mengizinkan kami melewati pandemi dalam situasi terbaik. Untuk kasus keluarga kami, Allah kumpulkan kami di Bandung. Ga kebayang sama saya jika suami masih di US dalam situasi seperti sekarang 😭

Selain itu, karena pandemi ini suami berkesempatan menghadiri wisuda meski hanya virtual bersama dengan para wisudawan lainnya. Tidak. Saya tidak sedang berbahagia di atas penderitaan orang lain 🙏. Saya hanya sedang memetik hikmah yang dialami keluarga saya. Dan saya meyakini, di setiap kita tentu ada hikmah dan pelajaran yang ingin Allah sampaikan kepada kita yang sifatnya lebih personal.

Semoga kita bisa membuka mata hati kita lebih lebar lagi untuk melihat apa yang tadinya tak terlihat.  Jika belum terlihat, barangkali belumlah sekarang melainkan nanti. Karena yakinlah, Allah tidak akan pernah menzolimi kita. Yakinlah bahwa Allah paling mengetahui apa yang terbaik untuk kita.

Demikian perenungan saya malam ini sembari menunggu jam 12 malam yang ternyata masih 1 jam lagi 😅🙄. Semoga kita diberikan kemudahan, kelapangan dan ketenangan dalam menghadapi segala cobaan dariNya. Aamiin ya Rabb.

Dan untuk teman-teman yang sedang mengurus kepulangan ke Indonesia, semoga Allah mudahkan dan dilancarkan. Aamiin ya Rabb ...

Batujajar, 2 Mei 2020
Selamat hari Pendidikan!!!

Jurnal Ramadan: Ramadan Bulan Latihan

Jumat, 01 Mei 2020
Saya meyakini bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat bagi kita untuk menciptakan momen. Salah satunya yaitu momen latihan. Sebagaimana kita melatih diri menahan hawa nafsu, di bulan Ramadan kita juga bisa melatih diri untuk lebih produktif.


Banyak diantara kita kaum muslimin yang membuat agenda dan target di bulan Ramadan. Kenapa? Karena ketika kita mampu melatih diri melakukan target harian di bulan Ramadan, maka kita akan sangat terbantu untuk menjadi konsisten melakukan kebiasaan baik yang sudah menjadi target di bulan Ramadan.

Jikapun tidak mampu melebihi target di bulan Ramadan, paling tidak bertahan dengan standar yang kita lakukan di bulan Ramadan sudah sangat membantu diri kita untuk menjadi lebih baik.

Lalu bagaimana caranya agar produktifitas meningkat di bulan Ramadan? Salah satu cara paling mudah yaitu dengan mengalihkan aktivitas konsumtif menjadi aktivitas produktis. Misalnya, konsumsi gadget kita kita dalam satu hari adalah lima jam. Maka alokasikan tujuh puluh persen aktivitas gadget dengan hal yang produktif. Seperti menulis, mengedit video, membaca artikel (bukan membaca status orang ya 😅) dan hal lain yang mengasah indera untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Saya pribadi, mencoba menjadikan Ramadan sebagai momen melatih kembali diri ini untuk produktif menulis. Ketika aktivitas menulis meningkat, mau tidak mau aktivitas membaca saya pun meningkat. Dan tentu akan berefek pada aktivitas gadget yang tadinya hanya sekedar scroll timeline menjadi ketak ketik di keypad.

Dalam melatih kebiasaan baik tentu tidak mudah. Banyak halangan dan rintangan tentunya. Dan halangan yang paling berat yaitu rasa malas. Sehingga, salah satu cara agar halangan terberat ini tidak menghadang, maka pilihlah aktivitas produktif yang paling minim rasa malas. Artinya aktivitas yang benar-benar kita suka.

Selain itu, bagi ibu rumah tangga seperti saya, memiliki rutinitas kerumahtanggaan tentunya sudah menjadi sebuah produktivitas otomatis saya. Namun, bagi saya bukan produktivitas seperti inilah yang ingin saya latih. Karena saya pribadi sudah melatih diri melakukan aktivitas kerumahtanggaan di saat merantau kemaren. Jadi agak kurang menantang rasanya jika masih fokus pada urusan rumah tangga 🙈🙈.

Bisa dikatakan saya sudah harus beralih, karena tujuh tahun berumah tangga dengan 3 tahun setengah hidup mandiri jauh dari keluarga sudah lebih dari cukup. Sekarang saatnya menantang produktivitas diri yang sifatnya non rumah tangga, yaitu menulis.

Harapannya, semoga dengan momen latihan di bulan Ramadan ini saya bisa menulis satu artikel bermutu (bukan tulisan lepas seperti ini) yang memiliki pelajaran dan manfaat di dalamnya.

Nah, semoga teman-teman menemukan tantangan melatih produktivitas diri ya. Mumpung Ramadan dan di rumah aja. 

Semoga bermanfaat!

Batujajar, 1 Mei 2020

Nb: berikut contoh konsumtif to produktif
1. Hobi nonton👉 tulis review film yang ditonton
2. Hobi main game👉 review plus minus game dalam kacamata kamu
3. Hobi makan👉 masaklah resep kesayangan kamu
4. Suka pernak pernik👉 praktekan satu tutorial pernak pernik favoritmu


Berhubung tulisan ini ga diedit-edit karena kaya masih belum menemukan permasalahan keypad saya yang suka mengetik otomatis ulang kata yang sebelumnya, dan menghapus kata dibelakang cursor ketika kita pencet tombol enter, jadilah saya sisipkan contoh aktivitas produktif.