MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Ramadan Berduka: Proses Penyelenggaraan Jenazah Muslim di Amerika

Rabu, 30 Mei 2018
Sejak rutin menulis di Blog pribadi, saya memang mencoba mengkhususkan cerita di bulan nan suci dan hari nan fitri dimana pun saya berada. Sehingga labelling 'Ramadhan Kami' & 'Lebaran Kami' saya buat untuk memudahkan saya melacak memori lama kalo-kalo kangen buat membacanya. Belum banyak memang kisah yang terkumpul. Karena memang baru saya mulai di tahun 2016.

Source: pexels

Tahun ini merupakan kisah kedua saya melaksanakan Ramadan di negri rantau. Jika tahun lalu saya bercerita tentang sensasi berpuasa di Amerika yang sebenarnya belumlah terlalu panjang (hanya 16 jam saja), maka di awal Ramadan tahun ini saya hendak berbagi tentang sebuah perjalanan batin saya ketika mengikuti sebuah prosesi pemakaman orang tua salah seorang karib kami disini.

Berita duka itu saya dapatkan tepat di saat sahur Ramadan hari kedua. Meski tak sempat bertemu dengan almarhumah, hubungan pertemanan saya dengan anak dan menantu beliau bisa dikatakan cukup dekat. Mereka adalah pasangan soleh dan solehah yang membantu saya terhubung dengan komunitas muslim Indonesia di awal-awal kedatangan saya di Amerika. Sehingga, mendengar berita duka tersebut cukup membuat saya berduka dan terlarut dalam perjalanan batin yang mengantarkan saya pada sebuah momen zikrul maut.

Kali pertamanya untuk saya dan suami dan juga anak-anak menyaksikan prosesi pemakaman disini. Meskipun tak berkesempatan untuk memandikan jenazah hingga mengkafani, mengikuti prosesi menyhalatkan dan mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya sungguh memberikan sentakan besar buat saya akan sebuah kematian.

Baca juga: Spion Kematian

Padahal pengalaman mengantarkan jenazah ini bukanlah pengalaman pertama bagi saya. Tapi memang pengalaman kemaren merupakan pengalaman pertama saya menyaksikan langsung jenazah diposisikan di liang lahatnya. Dan saya merasakan 'ketakutan' yang luar biasa ketika melihat langsung tubuh yang sudah tak berdaya itu diletakkan di atas tanah, tempat peristirahatan terakhir setiap manusia. Rasa-rasanya saya belum siap. Rasa-rasanya iman saya masih terlalu cetek untuk membayangkan posisi jenazah itu adalah diri saya.

Zikrul maut dengan ta'ziah memang salah satu cara ampuh untuk mengingatkan kita akan hakikat kehidupan di dunia, yaitu untuk mendapat kehidupan akhirat yang layak. Saya yakin setiap manusia yang beriman pasti sangat menginginkan kehidupan bahagia di kehidupan berikutnya. Siapa yang mau mendapat siksa kubur apalagi siksa di hari pembalasan kelak 😣😣😣.

Dan alhamdulillah, di bulan maghfiroh ini, saya diberikan kesempatan olehNya sekedar mentafakuri diri melalui sebuah peristiwa pasti yang akan menjemputi setiap anak cucu Adam. Katakanlah sebuah refleksi diri dari saya yang jangankan memikirkan kematian, memikirkan sebuah perpisahan saja rasa-rasanya jiwa saya langsung lemah πŸ˜”

Semoga apa yang saya tafakuri bisa mengantarkan saya pada sebuah semangat membekali diri menjadi insan yang lebih bertaqwa ... aamiin ...

Baca juga: Berkat Rahmat

Hmmm, agar tulisan ini tak sekedar curhatan dan refleksi diri, saya coba berbagi soalan penyelenggaraan jenazah kemaren ya. Sumbernya hanya dari pengalaman dan pengamatan saja plus tanya-tanya spontan ke salah seorang tetua disini. Soalnya saya agak sungkan kalo harus kroscek ke teman yang berduka tersebut perihal prosedur pengurusan jenazah yang kemaren beliau jalani. Jadi maaf ya kalo ada yang kurang tepat 😊

Bagaimana Proses Penyelenggaraan Jenazah Muslim di Amerika?

Mungkin ada yang bertanya-tanya dan penasaran perihal teknis penyelenggaraan jenazah disini. Saya coba berbagi sedikit pengalaman saya di hari kedua Ramadan kemaren. Semoga ada manfaatnya.

Pada dasarnya tahapan-tahapannya tentunya sama, karena memang sudah ada standar berdasarkan syari'at. Mulai dari memandikan-mengkafani-menyhalatkan-menguburkan. Perbedaannya hanya terletak pada prosedur penyelenggaraan jenazah yang melibatkan pihak ketiga, yaitu pihak rumah pemakaman (funeral home).

Di Amerika, ketika ada yang meninggal, pengurusan jenazah dilakukan di sebuah rumah pemakaman (funeral home). Kenapa? Karena memang demikian ketentuan dari pemerintahnya. Nah karena di Columbus belum memiliki funeral home khusus muslim, maka kemaren itu pengurusan jenazah dibantu oleh teman-teman dari Islamic Center setempat. Jadi pihak funeral home hanya menyediakan tempat untuk memandikan dan mengkafani jenazah dan juga mobil untuk mengangkut jenazah.

Jadi, setelah jenazah selesai 'didandani' sesuai agama (Islam tentunya dimandikam dan dikafani), jenazah dibawa ke lokasi yang diinginkan keluarga. Karena Muslim, sehingga proses setelah jenazah dikafani adalah dishalatkan. Proses untuk menyhalatkan jenazah dilakukan di masjid terdekat seperti halnya di Indonesia.

Setelah dishalatkan di masjid setelah usai waktu shalat wajib, jenazah pun dibawa ke lokasi pemakaman. Di pemakaman, sudah menunggu petugas yang bertanggung jawab atas pengadaan kuburan. Lubang kuburan pun sudah digali. Hal yang berbeda yang saya temukan, disini tidak dibuatkan liang lahat khusus, jenazah hanya dimiringkan ke arah kiblat dan kemudian ditutup oleh kayu seperti tripleks yang berbentuk kotak persegi panjang (lebih seperti peti). Sedangkan di Indonesia kita menggunakan papan kecil untuk menyangga tubuh jenazah di liang lahatnya dan menghalangi tanah menimpa langsung tubuh jenazah.

Oh ya, untuk penggalian kubur, disini tidak menggunakan tenaga manusia. Penggalian tanah dilakukan menggunakan traktor mini berhubung tanah disini sangat keras tidak seperti di Indonesia. Selain itu memang tenaga manusia sangat mahal dan SDM yang mau bekerja kasar memang terbatas. Berbeda sekali dengan Indonesia yang memiliki SDM pekerja kasar yang sangat banyak 😊.

Selanjutnya, setelah kuburan ditimbun kembali, ada prosesi berdoa untuk jenazah. Yang hadir di pemakaman hanya keluarga inti saja, anak mantu dan cucu almarhumah. Tapi, berhubung anak menantu almarhumah aktif di komunitas Indonesia, jadi cukup banyak teman-teman Indonesia yang datang untuk mensupport pengurusan jenazah. Termasuk menjadi volunteer memandikan dan mengkafani. Meskipun pada akhirnya beberapa orang teman yang sudah datang ke funeral home harus berikhlas hati tidak berkesempatan memandikan dan mengkafani karena jumlah orang yang dibatasi pihak pengurus funeral home, yaitu hanya 5 orang saja.

Demikian sedikit pengalaman saya dan secuil refleksi diri tentang sebuah kematian. Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Dan mohon maaf saya tidak menyertakan foto-foto karena sungkan juga kalo harus jeprat jepret disaat orang lain berduka.

Columbus, 29 Mei 2018

Hyperthyroid dan Low Potassium Saat Hamil?

Selasa, 15 Mei 2018
Kehamilan merupakan momen bahagia yang ditunggu-tunggu pasangan suami istri, terutama pasangan yang baru saja menikah. Namun, siapa sangka momen bahagia ini menyimpan berjuta tantangan yang tidak pernah dibayangkan sama sekali oleh para calon ibu atau pun ayah. Yang terbersit hanyalah bahagia tatkala momen garis dua itu menghiasi hari-hari setelah masa penantian.

picture from pexels

Tantangan dalam kehamilan memang akan berbeda di setiap wanita hamil. Nyaris setiap wanita hamil memiliki kisah yang berbeda bahkan kehamilan anak pertama dengan anak berikutnya pun akan memiliki kisah tersendiri dengan tantangannya masing-masing.

Baca juga: Gimana Rasanya Hamil

Sebut saja saya, saya bukanlah Mawar πŸ˜…. Di kehamilan kedua ini, saya menderita Hyperthyroid dan Low Potasium yang mengharuskan saya mendapatkan tindakan medis secara intens selama tiga hari berturut-turut di rumah sakit dan masih dibawah kontrol dokter hingga saat ini.

Sebagai orang awam yang tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang 2 jenis diagnosa ini (saya kurang tau istilah yang tepat untuk menamai 2 hal ini. Penyakitkah?), saya tidak memiliki kekhawatiran apapun selain khawatir saya akan merepotkan suami dan anak-anak.

Sebelum rawat inap diputuskan, seminggu sebelumnya saya sudah sempat melewati pemeriksaan di Emergency Department (ED). Bukan karena saya kondisinya kritis, bukan. Saya ke Emergency Department karena memang satu-satunya cara untuk bisa bertemu dokter tanpa appointment ya dengan cara ini. Karena memang prosedur berobat ke dokter disini cukup berbeda jika dibandingkan di negara kita. Di Indonesia kita bisa dengan bebas datang memeriksakan diri ke dokter praktek, baik ke klinik 24 jam atau langsung ke rumah dokter yang buka praktek sendiri.

Saat kunjungan pertama ke ED ini, saya memang hanya menderita hyperemesis gravidarum yang menyebabkan tubuh saya mengalami dehidrasi ringan. Hanya 1 labu cairan infus saja yang saya butuhkan saat itu. Setelah diresepkan multivitamin kehamilan, saya pun diperbolehkan pulang.

Keesokan hari setelah dari ED ini, kondisi saya tidak mengalami perubahan yang berarti. Hyperemesis makin menjadi-jadi setiap harinya. Hingga 10 hari dari ED yang pertama, akhirnya suami saya memutuskan membawa saya kembali ke ED. Kenapa? Karena kondisi saya yang semakin hari semakin memburuk meskipun sudah memaksakan diri untuk makan dan minum dan sempat jatuh pingsan sekali dengan badan yang gemetaran.

Baca juga: Berencana Hamil Kedua?

Tadinya saya mau mencoba bertahan sekuat tenaga (berasa lirik lagu yaks πŸ˜…πŸ˜‚) menunggu appoitment dengan OB/GYN yang hanya tinggal 3 hari saja. Tapi memang tak bisa dibohongi, selain rasa haus yang luar biasa, tubuh saya memang terasa sangat lemah hanya sekedar untuk ke kamar mandi. Jadilah kami siang hari itu menuju ED untuk yang kedua kalinya.

Memilih memeriksakan diri ke ED artinya bersiap menunggu berjam-jam lamanya. Rangkaian pemeriksaan hanya sekitar 3 jam, sedangkan waktu menunggu dari satu ruang pemeriksaan ke ruang pemeriksaan lain bisa mencapai 5-7 jam. Tergantung jumlah pasien dan tenaga medis yang bertugas saat itu.

Nah, disinilah cerita bermula. Setelah menunggu 5 jam, barulah saya dipanggil untuk menjalani pemeriksaan di emergency room. Saya pikir saya hanya akan diperiksa dengan stetoskop lalu ditanya-tanya gejala-gejala yang saya rasakan. Ternyata, pemeriksaan bukan sekedar menggunakan stetoskop saja. Namun lebih dari apa yang saya bayangkan.

Setelah mengganti atasan dengan atasan khusus pasien rumah sakit (saat ED yang pertama saya tidak diminta menggunakan pakaian pasien), nurse yang bertugas menempelkan lebih kurang 20 sticker di sekujur badan bagian atas saya, di perut, dada atas, bahu, dan dada kiri dibawah payudara. Disinilah saya merasa sepertinya ada yang salah dengan sistem tubuh saya. Masalahnya kok ya sebegini amat diperiksanya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Tapi segera saya tepis pemikiran itu. Saya beranggapan pihak rumah sakit hanya berlebihan saja.

Singkat cerita, saya mengalami Hyperthyroid dan kadar potasium yang sangat rendah plus hypersaliva. Penyebabnya?

HYPERTHYROID & HYPERSALIVA
Berdasarkan dari penjelasan dokter saat saya dirawat, produksi tiroid saya menunjukkan angka yang tidak normal, yaitu di atas angka yang seharusnya. Tadinya saya berfikir mungkin inilah yang menyebabkan saya hypersaliva (liur berlebih). Namun setelah konfirmasi ke dokter bukan inilah penyebabnya.

Hyperthyroid sendiri terjadi karena tubuh saya membaca hormon yang dihasilkan janin (hormon HCG) di dalam tubuh saya sebagai benda asing yang membahayakan. Sehingga autoimun bereaksi bekerja untuk 'melawan' benda asing ini, dalam hal ini kelenjer tiroid lah yang reaktif. Sehingga dia memproduksi hormon tiroid lebih banyak dari yang seharusnya.

Saat itu dokter mengatakan bahwa hormon HCG dan hormon tiroid saya berjumlah imbang dengan perbandingan 50:50. Mereka 'balap-balapan' dalam memproduksi hormon. Dan inilah yang dicurigai sebagai penyebab saya mengalami mual dan muntah hebat karena 2 hormon ini memicu peningkatan asam lambung. Begitu yang saya tangkap πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Lalu kenapa produksi liur saya juga banyak? Dokter menduga karena reaksi dari asam lambung yang merangsang liur diproduksi lebih banyak terutama setelah saya muntah. Dan memang tampaknya demikian. Karena setelah mual muntah berkurang, liur pun kembali normal kecuali disaat saya mengalami muntah lagi. (dan alhamdulillah sudah 1 bulan saya bisa beraktivitas normal meski tetap harus membatasi diri agar tidak terlalu kecapean ... aduuuuuuuuh ... berasa gimanaaaaaa gitu. πŸ˜‚)

Singkat cerita yang memang udah panjang ini, untuk menormalkan produksi hormon tiroid ini, saya harus menjalani cek darah rutin dan bedrest yang tentunya ditemani obat-obatan πŸ˜†.

LOW POTASIUM
Jujur, ketika dokter bilang potasium saya rendah, saya ga ngerti potasium itu apa hahaha. Saya cuma tau magnesium wkwkwk. Jadilah saat itu saya dan suami googling donk. Dan okeh, ngerti. Kemudian baru saya nyambung dengan apa yang dokter jelaskan.

Kenapa potasium saya rendah? Ya karena hyperemesis. Mual dan muntah parah menyebabkan tubuh menyerap sedikit sekali zat-zat penting. Karena memang belum sedetik saya makan atau minum, langsung keluar seketika itu juga. Alih-alih menyerap zat penting, yang ada zat yang tadinya sudah ada di dalam tubuh ikutan keluar bersama cairan lambung.

Sehingga, untuk meningkatkan jumlah potasium ke kadar normal, cairan potasium pun di suplai melewati cairan infus. Dan, rasanya ga enak 😒. Tangan kerasa terbakar terutama kalo cairan infus sudah habis. Ya Allah ... baru kerasa nikmat nya sehat 😒😒😒

HYPERTHYROID & LOW POTASIUM SAAT HAMIL
Lalu apakah 2 gejala ini berefek buruk terhadap janin?

Jujur lagi, dokter sama sekali tidak menginfokan tentang hal ini. Dokter hanya menjelaskan bahwa kondisi seperti ini bukanlah kondisi yang baik. Jangankan untuk ibu hamil, buat yang tidak hamil pun kondisi seperti ini harus segera ditangani. Dan orang awam seperti saya ya ngangguk-ngangguk saja. Saya benar-benar lempeng. Yang terpikir saat itu hanyalah bagaimana caranya sepulang dari rumah sakit pola makan dan pola tidur kembali normal biar saya bugar dan bisa kembali menjalankan peran sebagai istri dan juga ibu.

Kenapa? Karena memang saya sempat beralih menjadi pecinta minuman soda selama 1 minggu sebelum akhirnya masuk ED yang pertama. Setelah keluar dari ED yang pertama, saya beralih ke sirop marjan (satu-satunya sirop Indonesia yang bisa ditemukan disiniπŸ˜†) untuk sekedar memenuhi kebutuhan minum saya yang saat meminum air putih (dingin, anget ataupun biasa)  selalu ditolak tubuh. Dan tentunya saya sadar hal ini tidaklah baik, baik untuk tubuh saya ataupun bagi janin.

Alhamdulillah, setelah menjalani perawatan intens selama 3 hari di rumah sakit, hingga saat saya menuliskan blog ini saya sudah kembali ke kehidupan normal. Normal ala ibu hamil. Yang masih suka kehilangan nafsu makan tapi lapar. Yang masih merasa mual dengan muntah dalam jumlah yang wajar. Dan mudah kelelahan tapi tetap bisa beraktivitas sekedar menemani anak-anak bermain atau bercengkrama dengan keluarga dan tetangga. Dan yang terpenting, saya kembali bisa ngeblog meski masih belum rutin 😍😍😍 #pentingini, buat me time 😁

Demikianlah secuil pengalaman saya yang entahlah berfaedah atau tidak. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa mengabadikan pengalaman ini dalam blog tercinta ini. Meski tidak detail, paling tidak bisa mengikat memori dalam menjalani proses kehamilan kedua ini.

Terimakasih buat teman-teman dan terutama keluarga yang selalu setia mendoakan. Terlebih buat suami dan anak-anak saya tercinta yang dengan sabar merawat saya dengan penuh perhatian dan pengertian.

Rasa-rasanya ingin memuji-muji mereka dalam tulisan ini ... terutama anak-anak yang diumur mereka yang belum 5 tahun ini sangat mengerti bahwa Umi mereka dalam kondisi yang tidak baik.

Ada hal lucu tatkala saya hanya bertiga dengan anak-anak dan salah satu diantara mereka kebelet pup. Dengan wajah memelas dia bilang ke saya:

"Umi, Abang mau ee. Be strong pliiiiis. Buat ombehin Abang..." πŸ˜…πŸ˜‚

ombehin alias cebokin. Karena mereka tau saya suka mual kalo masuk kamar mandi.

Yah begitulah ... kalo dilanjut bisa panjang πŸ˜‚

Columbus, 12 Mei 2018

Kembali ...

Jumat, 11 Mei 2018
Suasana rumah kembali tenang, setelah melewati ketidaknyamanan malam dan kehampaan menelan makanan. Ya, akhirnya Allah mengizinkan kami sekeluarga kembali mereguk nikmatnya hari 'tanpa kepayahan'. Ya, akhirnya Allah memberikan kesempatan bagi kami melewati badai yang kemaren terasa tak akan usai.


Menemui kesusahan dalam kehidupan artinya mendapati perhatian dari sang Kuasa. Ya! Kita tengah diberi perhatian. Tapi, kerap kali dalam menghadapinya, kesah seringkali tak tersampaikan padaNya, melainkan pada makhlukNya. Entah kenapa makhluk lebih kita pilih ketimbang Dia. Dan sampai akhirnya kesadaran yang terlambat pun masih dinantiNya dalam kesah kita yang gelisah.

Ini! Kukirimkan seteguk air kemudahan untukmu wahai hambaKu. Minumlah ... dan kembalilah membawa gairah perjuanganmu!

Begitulah mungkin sang Kuasa dengan keMaha PenyayanganNya merangkul kami, para hamba.

Saya makhluk yang payah mencerna pesan alam. Untungnya masih diberi kesempatan mengetuk pikiran. Berharap diri ini tak lagi gentar dalam menghadapi ujian. Karena hakikatnya, dunia memanglah perpindahan dari ujian satu menuju ujian kesekian.

Hingga detik ini saya memang belum bisa memberikan gambaran betapa suramnya minggu-minggu awal kehamilan. Malu rasanya jika mengingat masa kelam itu. Sebegitu rapuhnya ternyata diri ini. Sebegitu lemahnya iman yang tertancap dihati πŸ˜”

Dan saat ini, lanjutan goresan kisah saya coba goreskan kembali. Bukan untuk berbagi cerita yang lalu, tapi ingin berbagi cerita yang sekarang. Karena yang lalu terasa begitu memilukan dan memalukan. Sedangkan yang sekarang, terasa lebih benderang ... Alhamdulillah ...

Memang, nikmat tak selamanya bisa dinikmati. Tanpa keberkahan dariNya, nikmat bisa berubah menjadi laknat 😒. Seperti halnya nikmat kehamilan yang diamanahkanNya untuk saya sekeluarga.

Tadinya, kami, terutama saya pribadi, berfikir bahwa kehamilan semata-mata adalah nikmat. Dan tentunya layaknya sebuah nikmat, pasti akan disambut dengan suka cita penuh bahagia tanpa berfikir sedikitpun tentang hal buruk akannya. Namun Allah memiliki cara yang berbeda dalam menyampaikannya. Bahasa Sang Maha Karya ini sungguh luar biasa, hingga akhirnya kami, saya, tersadar bahwa nikmat tak melulu soalan yang menyenangkan pun membahagiakan.

Dari kesulitan dan kepayahan kehamilan inilah kemudian saya menjadi tersadar dan kembali digiring dalam nilai hidup yang pernah dipunya di masa lalu. Dimana Allah akan terus membersamai hambaNya yang terus meminta dalam papa. Tak peduli status sosialnya, tak peduli jabatannya, rupanya ataupun masa lalunya. Kepapaan dalam keimanan yang melemah dan meminta pengayomanlah hingga akhirnya rangkulan cintaNya menenangkan jiwa melapangkan dada.

Manusia itu tempatnya lupa. Dan dengan cara inilah Allah kembali atau kami sebagai hamba yang baru tersadar bahwa apa yang ada di dunia ini hanyalah fana. Termasuk keturunan. Jika bukan untuk menabung pahala, rasa-rasanya keturunan bukanlah cara yang tepat dalam menempuh bahagia. Namun jalan fitrah dariNya, itulah letak bahagia jika memang kita mengikuti petunjukNya, bukan nafsu belaka. Ya begitulah jalan Tuhan, yang tak pernah mau membiarkan hambaNya tersesat dalam laknat.

Sering saya tak sadar, bahwa kebanggaan akan keturunan yang banyak pun memiliki ujian yang berbanding lurus. Tak lantas kemudian kita bebas meneriakkan kebanggaan padahal keturunan dalam kehancuran zaman. Na'udzubillah ...

Ya, sampailah saya pada sebuah sikap dimana hidup bukanlah siapa yang lebih dari siapa, siapa yang lebih dari apa. Karena hakikatnya, timbangan penentu ke surga itu nanti ketetapannya. Bukan oleh kita ataupun dia. Tapi olehNya. Semoga kita selalu menempuh jalan taqwa agar bisa bertemu di surga. Aamiin ...

Columbus, 11 Mei 2018

Baca juga: Negri 1000 Mimpi

Amerika Negeri 1000 Mimpi

Seperti yang pernah saya tuliskan dalam tulisan saya sebelumnya. Amerika membuat kami (saya, suami dan beberapa teman) disini seperti berada di dunia mimpi dan dikelilingi fatamorgana. Dan tampaknya hal ini juga dirasakan oleh teman-teman lain yang merantau ke negara-negara maju lain seperti di Eropa atau mungkin Jepang.

joinnow:[https://cloud.securew2.com/public/98908/osuwireless/android/SecureW2.cloudconfig]

Entah karena kemajuan teknologinya, ketertiban peradabannya atau karena keramahan penduduknya membuat kami para perantau di benuanya negara-negara maju seolah sedang berada di negeri dongeng, negeri mimpi yang penuh fatamorgana.

Tidak hanya itu, suplai dana yang bukan berasal dari kantong sendiri tampaknya juga cukup membuat kami 'terbuai' makin dalam di negeri mimpi ini. Hidup seolah tak nyata karena biaya selalu tersedia. Tidak seperti di Indonesia, dimana kami perlu bekerja sekuat tenaga demi biaya hidup sekeluarga.

Ada perbedaan yang pada hakikatnya adalah kesamaan. Katakanlah biaya beasiswa yang hakikatnya adalah gaji. Terlihat berbeda tapi pada dasarnya sama. Sama-sama biaya untuk menghargai jerih payah kita dalam mengabdi untuk negara. Perbedaannya mungkin terletak pada jenis jasanya. Dimana memang tingginya pendidikan bisa mempengaruhi tingginya 'penghargaan' yang diberikan pada seseorang.

Meskipuuuuun ... ketika para 'buruh ilmu' ini kembali  mengabdi dan kemudian  menjadi pegawai dan sejenisnya, nilai penghargaan yang didapat belum tentu akan sebanyak ketika mereka sedang menempuh studi. Dan plis jangan tanya  ke saya kenapa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Jujur, saya dan juga suami menilai untuk bagian pembiayaan beasiswa yang diberikan negara melalui LPDP sebenarnya tidak bisa juga dikatakan lebih. Apalagi bagi kami yang belum memiliki gaji tetap di tanah air (belum memiliki homebase) sendiri. Jika tidak berfikir kedepan, ya bisa-bisa saja kami 'berfoya', tapi siap-siap, pulang kampung tanpa membawa tabungan.

Jadi jika fatamorgana yang saya sebutkan terkait soal funding beasiswa, jawaban saya tergantung kondisi penerima beasiswa itu sendiri. Untuk kami sekeluarga, beasiswa bukanlah fatamorgana. Beasiswa tak memberi begitu banyak harapan untuk kemudian menggunakannya agar bisa melancong keliling Amerika. Nei nei nei big nei πŸ˜‚

Lalu fatamorgana apa yang sebenarnya membuat saya mengkhawatirkan adaptasi diri terhadap kehidupan disini yang ketika dibawa ke Indonesia bisa jadi bikin saya culture shock? Hmmmm Apa ya? πŸ˜†

Pemikiran akan fatamorgana yang sifatnya melenakan ini muncul setelah saya membaca sebuah treat di akun Instagramnya Jouska yang berkisah tentang si Broodie selebgram. Pada tau ga kisahnya? Eh tapi saya ga akan mengulas apa yang Jouska ulas ya hehehe. Saya hanya kepikiran soal standar keterjangkauan.

STANDAR KETERJANGKAUAN
Maksudnya apa?

Di Amerika, perbandingan keterjangkauan terhadap suatu barang (daya beli) meningkat dibanding ketika di Indonesia. Dan pun ketika standar keterjangkauan ini saya bawa ke Indonesia namtinya, saya hanya akan khawatir kalo-kalo saya berubah menjadi borjuis dan konsumtif ... Astaghfirullah ...

Kok bisa?
Belanja produk-produk branded disini bisa didapatkan dengan harga yang sangat terjangkau. Meski ketika di konversi ke rupiah masih sangat mahal untuk sekedar membeli sepatu atau baju. Lha wong di Indonesia saya paling mahal beli  sepatu seharga 150 ribu. Sedangkan disini beli sepatu 30 dolaran alias 400 ribu terasa murah, nah lho? Ribet kan? πŸ˜…

Ribet kalo standar belanjanya kebawa-kebawa sampe kampung halaman.  Padahal saya bukan tipe pembeli barang-barang branded. Tapi karena disini 'terjangkau', siapa yang ga mau melewatkan kesempatan langka ini.

Contoh lain misalkan produk skincare πŸ™ˆ. Membeli satu jenis produk skincare harga $20-an untuk dipakai selama 6 bulan lebih kurang terasa sangat terjangkau. Coba dikonversi ke rupiah, 300 ribuan untuk sebuah skincare bagi saya adalah pemborosan meskipun produk tersebut bisa dipakai dalam jangka waktu yang cukup panjang. Kenapa? Karena harga segitu baru untuk satu jenis produk. Belum produk lainnya yang bisa-bisa untuk 1 step standar skincare saja bisa menghabiskan kocek satu juta lebih sekali belanja. NOoooooo!!! (Sehingga untuk skincare saya pun agak sedikit menutup mata dalam meng'upgrade' kebutuhan kulit. Pake yang terjangkau aja deh πŸ˜‚)

"Hidup dalam fatamorgana". Dimana bukan standar kemewahan yang meningkat, tapi standar keterjangkauan yang bertambah. Kenapa? Karena daya beli terhadap sebuah benda yang jika di konversi ke rupiah dijamin tidak akan pernah kami untuk membelinya. Makanya, bagi saya Amerika adalah negri 1000 mimpi. Bukan sekedar mimpi dalam mencapai cita, namun mimpi dalam menatap benda #aliasbelanja πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi, fatamorgana hidup di Amerika sesungguhnya tidak hanya sebatas hitung-hitungan uang. Banyak hal sehingga mungkin hal ini tidak akan pernah atau belum tentu kami dapatkan ketika hidup di Indonesia nanti.

Nah berikut ini, fakta dari sebuah fatamorgana hidup khusus wilayah Columbus, negara bagian Ohio yang tampaknya akan membuat saya rindu untuk kembali ke negri 1000 mimpi ini.

TERTIB LALU LINTAS
Kota Columbus meskipun menurut pandangan beberapa orang teman tidaklah demikian, tapi menurut saya termasuk surganya pengendara. Surga dalam artian, kendaraan lalu lalangnya bikin adem. Selain jumlah kendaraan yang tidak banyak, pengguna jalan rayanya juga tertib. Mulai dari pejalan kaki, pesepeda, pengendara motor sampai pengendara mobil. Sampai-sampai, kalo kita melakukan sebuah pelanggaran lalu lintas kok ya kayanya bakal maluuuuuuu banget. Plus dendanya ga kuat brooooo πŸ˜….

ini jalanan Columbus .... Sepi πŸ˜…

Dan perihal tertib lalu lintas ini memang berbeda-beda di setiap kota dan negara bagian Amerika ya. Makanya saya hanya mengulas kota kecil Columbus aja. Hehehe.

ALAM HIJAUNYA YANG MENAWAN

http://www.merisaputri.com/?m=1
Kesan pertama saya ketika mendarat di Columbus, "Wow, hijau bangeeeeet". Saking masih banyaknya wilayah hijau di kota ini. Dan saya suka!!! Tidak perlu repot memikirkan destinasi wisata alam layaknya orang perkotaan yang jenuh dengan hiruk pikuk kota dan butuh melipir ke desa. Disini, hanya dengan berjalan kaki sedikit, saya sudah bisa memperoleh ketenangan desa. Bahkan, halaman belakang rumah pun sudah sangat menenangkan dan menentramkan (kecuali jika halaman di serbu rombongan angsa yang migrasi, pup nya dimana-manaπŸ˜‚).

Nah, keelokan alamnya ini cukup membantu saya juga dalam memuaskan jiwa turis saya hahaha.

http://www.merisaputri.com/?m=1
backyard apartment

Mau foto-foto ala winter dengan latar belakang pohon cemara? Atau foto di warna warni dedaunan musim gugur? Bisa bangeeeeeet. Mau menikmati gemercik aliran air sungai??? Cherry blossom??? Tulip? Semua adaaaaaa masya Allah ... Begitulah pesona kota Columbus yang bukanlah kota destinasi wisata ini πŸ˜‚. Meskipun semua pesona alam yang dimiliki kota ini hanya secuil jika dibandingkan dengan kota-kota wisata, tapi bagi saya pesona hijaunya sudah sangat lebih dari cukup bakal bikin rindu karena hijaunya mengalahi hijaunya kota Payakumbuh πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

RAMAH STROLLER
Sesedikit pengalaman saya jalan-jalan di kota Columbus, bangunan-bangunan yang saya kunjungi baik di lingkungan kampus maupun luar kampus nyaris semua ramah stroller. Sebenernya sih ramah untuk temen-temen difable (disini lebih menggunakan kata difable ketimbang disable karena dianggap lebih berkonotasi positif), mulai dari tombol pintu otomatis hingga pengadaan ruangan khusus untuk akses ke ruangan yang lebih tinggi (bukan beda lantai juga sih), sejenis mini lift gitu. Sehingga memudahkan saya yang awal-awal tinggal disini anak-anak masih sangat kecil untuk diajak berjalan kaki cukup jauh.

NO DESKRIMINASI
Alhamdulillah selama beraktivitas di Columbus, saya belum menemukan perlakuan yang deskriminatif. Apakah karena faktor penampilan atau karena status ekonomi. Contohnya saja saat saya dirawat di rumah sakit sebulan yang lalu. Jumlah beasiswa dari LPDP termasuk ke dalam kelas ekonomi rendah wkwkwkwk, tapi dalam pelayanan dan perlakuan, saya merasa jadi orang gedongan karena menikmati fasilitas rumah sakit layaknya fasilitas orang kaya kalo Indonesia πŸ˜†πŸ˜….

Ruangan ber AC (disini kayanya AC bukan barang mewah deh πŸ˜…), tempat tidur ramah pasien yang dilengkapi tombol 'help' itu lhooo yang pake remote #norakye. Alat medis lengkap dan movable. Kamar mandi pasien plus wastafel dengan standar kelas VIP (kalo kata saya mah di Indonesia hehehehe). Belum lagi pelayanan yang penuh selama 24 jam dengan nurse dan PCA (Patient Care Association) yang sangat ramah dan perhatian. Kebutuhan makanan dilayani layaknya di hotel-hotel dengan pegawai restoran khusus kumplit dengan buku menunya.

http://www.merisaputri.com/?m=1

Dan perlakuan tanpa deskriminasi inilah yang membuat saya sebagai minoritas merasa nyaman. Sehingga cukup membuat saya jadi refleksi karena kalo di Indonesia saya akan kembali menjadi mayoritas. Ya sebenernya mayoritas minoritas, dua-duanya ada aja sih yang suka zolim #nooffense πŸ˜†

HARGA MOBIL
Kendaraan roda 4 kami sekeluarga pertama kali ya belinya disini, di Amerika. Hebat ya, mahasiswa bisa beli mobil πŸ˜…

Inilah dia Amerika. Harga mobil sangat-sangatlah terjangkau. Dengan living allowance $1500 + $1500 family allowance, membeli mobil seharga $2500 (lebih kurang 40 juta) wajarkan? 😁. Jika saving perbulan bisa dilakukan sebesar $500, artinya 1 semester sudah lebih dari cukup untuk mampu membeli mobil minivan keluaran tahun 2003 πŸ˜„πŸ˜….

Ekspresi pertama punya mobil sendiri
Norak ada tipinya πŸ˜‚πŸ˜…

Coba dibawa ke hitung-hitungan gaji di Indonesia. Untuk kelas gaji 10 juta saja, jika bisa saving 5 juta/bulan, beli mobil jenis yang sama, Toyota 2003 cing berapa harganya? Hitung sendiri aja ya hehehe.

Memang, mobil disini bukanlah barang mewah. Sehingga harga mobil di Amerika memang murah-murah jika dibandingkan di Indonesia. Jika saya di Indonesia bawa duit sebesar 40 juta untuk beli mobil, mungkin paling banter hanya dapat suzuki Espass (bener ga sih)

Ya intinya mah, rasa-rasa pengen paketin mobil dari sini wkwkwkwkwk. Andai bisa ya mobilnya diselundupkan ✌πŸ˜…

Segitu dulu ya tulisan tentang negri 1000 mimpinya. Harusnya masih banyak lagi poinnya, tapi saya lupa dan saat mgedraft ga diketik dulu poin-poinnya. Jadilah pas draft dilanjut poin-poin fatamorgananya jadi lupa.

Makasi yang udah bacaaaa πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

Columbus, 11 Mei 2018
draft bulan April 2018