MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Ada Apa Dengan Blog?

Minggu, 28 Oktober 2018
Setelah kemaren pemanasan nulis tentang Blog sebagai sosial media pilihan saya. Hari ini, dipenghujung tanggal 27 Oktober 2018 yang dicanangkan sebagai hari Blogger Nasional saya berniat menulis lagi tentang Blog. Tapi bingung mau nulis tentang apa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Baca Juga: Apa Sosial Media Pilihanmu?

Sebagai anak kemaren sore yang baru punya Blog tahun 2015, rasa-rasanya ga banyak hal yang bisa saya bagi soalan blog dan ngeblog. Aslinya saya pertama kali bikin blog tahun 2008 kalo ga salah, buat salah satu tugas kuliah. Trus tahun 2009 bikin lagi karena yang buat tugas kuliah lupa email dan passwordnya. Bikin blog lagi karena pengen giat nulis. Eh blog kedua yang isinya baru sekupret juga lupa password dan pake email plasa.com kalo ga salah. Barulah tahun 2015 setelah benar-benar paham soalan dunia smartphone saya rada-rada ngerti dunia blog.

Setelah 3 tahun ngeblog, saya baru aktif di komunitas Blogger sekitar satu tahun terakhir. Nama komunitasnya 1 minggu 1 cerita yang sering disingkat 1m1c. Tahun awal ngeblog, sekitar tahun 2016an awal atau 2015 ya (saya lupa lagi), saya sebenarnya sudah bergabung dengan komunitas blogger yang bernama Blogger Muslimah. Namun karena masih belum nemu ritme berkomunitas, saya pun jadi kurang aktif terutama setelah saya off dari dunia Facebook πŸ˜†.


Geliat para blogger dalam memanfaatkan media Blog menjadi tak sekedar catatan harian digital ternyata sudah berlangsung lama. Melihat geliat inilah makanya Mentri Komunikasi dan Informasi era SBY, yaitu Bapak Muhammah Nuh meresmikan hari khusus buat para Blogger pada tahun 2007. Yaitu jatuh pada tanggal 27 Oktober. Ruhnya sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pemanfaatan media digital sebagai sarana pengembangan diri dan lapangan pekerjaan antimainstream (begitulah lebih kurang yang saya tangkap dengan bahasa versi sayanyaπŸ˜…)

Artinya, sudah 11 tahun yaaaaa hari Blogger Nasional ini diperingati. Dan saya baru pertama kali donk memperingatinya πŸ˜‚πŸ˜‚.

Jadi, ada apa dengan Blog?

Jawabannya ... Ada hari Blogger Nasional πŸ˜†

SELAMAT HARI BLOGGER NASIONAL

Buat teman-teman Blogger seluruh Indonesia πŸ€—. Mulai dari blogger suka-suka kaya saya, sampe ke Blogger Profesional kelas dunia. Semoga ngeblog makin hari makin jadi aktivitas berbagi dengan positive vibes yang terus dan terus bertambah ya 😊

Demikian tulisan ringan bin sedikit dari saya yang tengah menanti gelombang cinta dari calon bayi meningkat. Doakan saya yaaaaa ... kontraksi dan bukaannya nambah πŸ˜…πŸ˜†πŸ˜†

Columbus, 27 Oktober 2018


Apa Sosial Media Pilihanmu?

Jumat, 26 Oktober 2018


Media sosial-sosial media. Pokoknya itulah. Aplikasi yang ada di HP atau gadget kamu, yang kamu gunain buat bersosial di dunia maya. Banyak banget kan ya jaman sekarang mah. Mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, Snapchat, tumblr, LinkEd, google+, skype, apalagi? Blog masuk ga? Masuk lah ya ... 😁

Nah pilihan kamu yang mana?

Saya?

Brainstorming dikit πŸ˜†

Sebelum masuk ke sebuah siklus hidup di era digital, saya memang sudah terkategorikan manusia doyan ngomong, doyan diskusi, dan doyan beropini. Tanpa memaksakan diri paham atas sebuah topik pembicaraan yang terbentuk, saya bisa larut bersama info-info menarik, baik yang baru saja saya ketahui ataupun yang sebenernya saya udah tau. Dan secara tidak sadar ternyata mempengaruhi pembentukan pola dan arah berfikir saya.

Beranjak ke era digital, keterbatasan interaksi sosial di sekitar saya membuat saya memenuhi kebutuhan sosial melalui sebuah media sosial. Sebut saja Facebook, Instagram, twitter dan lain sebagainya. 

Pada awalnya saya bersosial media memang untuk sebuah pemenuhan cengkrama sosial yang kurang saya dapati dalam keseharian saya. Sebut saja faktor ruang gerak. Dimana saya yang memiliki ruang gerak terbatas karena harus menjalani peran baru sebagai seorang ibu, sehingga kawan yang 'sekufu' agak susah ditemui. Ditambah faktor kesibukan yang memiliki aneka peran di lingkaran pertemanan. 

Lambat laun, ternyata, media sosial berubah fungsi begitu saja sebagai media pencitraan diri. Eits jangan langsung mendefinisikan negatif dulu ya. Pencitraan diri yang saya maksud adalah sejenis pemberitahuan tak langsung atau sebut saja self profilling. Buat apa? Agar orang-orang mengetahui siapa kita sebagai salah satu faktor utama apakah kita 'layak' dijadikan teman. 

Sayangnya, media sosial sebagai sarana citra diri ini tak langsung tertangkap oleh saya pribadi. Media sosial masih saja saya gunakan sebagai media bersosial saya dengan teman-teman lama. Kehadiran teman maya sebagai teman baru tak lantas merubah pola komunikasi saya di media sosial. Bahkan tanpa pikir panjang dan tanpa tau tujuan, manfaat dan konsekuensinya, saya dengan sangat mudahnya menerima pertemanan baru dan mengikuti akun baru di sosial media yang saya punya. 

Ya! Memang dulunya saya tidak pernah berfikir macam-macam tentang manfaat dan tujuan munculnya sosial media ini. Plek hanya satu hal yang saya tau, yaitu menjalin kembali koneksi dan komunikasi dengan keluarga, kerabat, dan teman yang pernah bersama-sama dengan kita di masa lalu dan masa sekarang. Lagi-lagi saya tak berhasil menangkap perkembangan fungsi media sosial ini, selain untuk citra diri pun juga untuk membangun relasi. 

Dalam ketidaksadaran sebagai pengguna media sosial inilah, saya umpama manusia tanpa tau tujuan hidup. Sehingga tak salah lah jika saya akhirnya 'sedikit' terjerumus pada pilihan jalan hidup yang kurang bermakna dan bernilai. Hiks sedihnya.

Tapi tak ada kata terlambat bukan. Pemanfaatan semua fasilitas kehidupan untuk bisa lebih bernilai manfaat masih bisa saya lakukan. Salah satunya melalui konsistensi diri dalam menuang ide meski sekedar opini receh atau curhatan ala emak-emak. Karena ternyata prinsipnya, sekecil apapun itu pasti akan selalu ada harganya. Maka tak salah jika Allah memastikan bahwa kebaikan yang terhitung sekecil biji zarah pun akan memperoleh imbalan. Wow 😍😍😍 Subhanallah.

Beranjak dari semangat berbagi dari hal terkecil inilah, saya melihat geliat-geliat berlomba dalam kebaikan baik di lingkungan sekitar saya seperti halnya pelaksanaan pengajian rutin maupun di dunia maya melalui akun sosial media seperti berbagi nasehat kebaikan atau ilmu sungguh luar biasa. Rasa-rasanya nyaris seluruh akun media sosial yang saya ikuti seperti berlomba memberikan info, tips, ilmu, motivasi, pengalaman, inovasi dan lain sebagainya. 

Dari aneka ragam jenis manfaat kebaikan yang bertebaran, ada beragam jenis media sosial juga yang bisa kita manfaatkan sebagai media penyebarnya. Tinggal pilih sesuai kenyamanan kita masing-masing. Apakah Facebook, Instagram, Twitter, Blog Google + atau sejenis LinkEd. 


Nah saya pribadi, memilih Blog sebagai salah satu media sosial yang saya manfaatkan untuk berbagi nilai-nilai positif. Baik berupa tulisan, foto, infografi, informasi, tips, dan juga pengalaman. Kenapa?

Berikut alasan mengapa saya memilih Blog.

1. Alasan Kenyamanan
Berbagi sesuatu hal di akun media sosial milik kita pribadi tentunya hak kita donk ya. Tapi ketika lingkaran pertemanan maya begitu sangat variatif bahkan cukup banyak yang tidak kita kenal secara personal cukup memberi rasa tidak nyaman. Kenapa? Karena bisa jadi kekurangtauan mereka tentang personaliti kita membuat mereka mudah ngejudge kita. Dan saya tidak siap. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….
Nah, nge BLOG, kita bisa meminimalisir judgement yang bikin keder layaknya di medsos lain sejenis Facebook. Misal kalo saya beropini panjang lebar soal politik Indonesia, ga akan adalah ya yang namanya perang komen di lapak saya kaya halnya di Facebook. Karena di Blog rada butuh usaha kalo mau komen dan baca balik komen orang. Ga segampang facebook, twitter atau Instagram yang bales-balesan komen bisa cepet πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

2. Bebas Berekspresi
Pernah ga sih merasa 'bosen' ngeliat postingan orang yang itu lagi itu lagi. Apa saya aja kali yes πŸ˜‚. Jadi kalo saya nemu akun yang postingannya rada monoton, saya suka bosen. Monotonnya gimana? Misal foto selfie lagi selfie lagi. Atau foto anak lagi foto anak lagi. Sedangkan ga menafikkan kalo saya pribadi juga doyan posting hal yang sama kalo emang lagi masanya mah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Kalo lagi euforia punya bayi ya posting foto bayi. Euforia ke luar negeri, posting foto luar negeri.
Nah, saya ngetreat orang lain kaya hal nya saya mgetreat diri sendiri. Padahal orang lain ga bosenan kaya saya juga yak. Tapi ya udah, daripada nebak-nebak kok ya lebih manfaat ya kalo poto-poto bayi lucu atau jalan-jalan luar nagrek nya saya dipajang di Blog yang disertai dengan tulisan informatif. Kok ya kaya lebih berfaedah gitu lho πŸ˜‚πŸ˜‚. Trus kalo pun sekedar cuma pajang poto doank di sebuah blogpost tanpa ada informasi yang informatif juga ga merasa bersalah amat karena blog kan dikunjungi sama pengunjung yang butuh info yang ada di blog kita kan. Jadi kalo dia nyasar ke postingan ga berfaedah kita, ya itu namanya dapet bonus πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‚πŸ˜‚. Bebas kan!!?? Bebas berekspresi πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

3. Niat Lebih Terjaga
Tepatnya tahun lalu saya mulai melek soal like, share dan comment. Eh apa akhir tahun 2016 yak. Pokoknya setelah tau bahwa setiap postingan dengan like, komen dan share yang banyak mencerminkan kualitas sebuah akun, saya jadi mikir buat 'pabanyak-banyak' like komen. Sampe lama-lama keganggu sendiri sama hal ini πŸ˜…πŸ˜…
Masa iya, ada temen yang nyimpulin keelokan pribadi seseorang bisa diliat dari berapa banyak pertemanannya di medsos trus liat berapa like dan komen yang dia dapet kalo ngepost. Hiks. Kejam amat yak kalo kata saya. Padahal kan medsos ada itung-itungan keaktifannya yang bisa mempengaruhi algoritma performa akun kita.
Yowes lah ... ngeblog beeeh. Niat lebih terjaga. Karena aku menulis karena aku mau!!! Begitu kata seorang teman di komunitas 1m1c. Terserah mau ada yang baca apa ga kek ... mau ada atau ga ada yang komen kek. Ngeblog cuma butuh ruh positif untuk berbagi hal yang bermanfaat kok. Just it! πŸ˜‰ Jadi ga sekedar pemenuhan eksistensi melainkan lebih! Kalo kata saya mah, ngeblog lebih valuable 😍😍😍 #uhuy


4. Komunitasnya Kece-kece
Blogger itu ibarat malaikat. Eaaaaa lebay. Kebermanfaatannya seolah tak terlihat tapi nyata bisa dirasa (malaikat gitu ga sih? πŸ€”πŸ€”πŸ€”). Saya sih belum termasuk blogger berfaedah yang bisa berbagi manfaat dengan istiqomah kaya halnya temen-temen blogger kece.
Ada kualitas ya ada harga donk. Dan blogger berfaedah ini banyak banget yang menjadikan blog sebagai karir antimainstream mereka. Nah mereka-mereka inilah yang membentuk komunitas-komunitas kece sebagai wadah saling berbagi dan memotivasi. Mau tau komunitasnya apa aja? Scroll down blog saya dan liat aja banner komunitas yang udah saya tempel πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†
Meski tergolong ga aktif, tapi saya bangga donk nemepelin banner ini karena itu bukti kalo saya dah daftar member hehehe. Soal keaktifan menyusul wkwkwkwk. Yang penting jadi banyak temen aja sih yang sehobi. Semoga entar-entar bisa meet up ma mereka semua kalo saya dah balik dari rantau 😊. Mana tau bisa jadi ladang karir juga 😘 aamiin ...

5. Melatih Skill Menulis
Awal ngeblog sih memang suka-suka. Nulis ala-ala diary dan disingkat-singkat kaya nulis status Facebook. Lama kelamaan ngerasa butuh juga buat melek EYD meski saya sering nakal dan malas πŸ˜†✌ terutama untuk ejaan baku plus huruf besar kecil πŸ˜…πŸ˜†.
Tapi memang kerasa banget soal 'kelihaian' merangkai cerita yang tentunya butuh skill donk ya. Dulu ya ... boro-boro ciptain 500 kata. 200 kata aja udah mentok. Sekarang? 2000 kata juga hajar bleh. EYD mah nyusul. Yang penting asik dulu aja πŸ˜‚πŸ˜‚✌. Terserah orang mau baca full apa di skip-skip. Selagi masih ada yang mau ditulis, tulis aja ga usah pake ragu. Setujuh!!!?

6. Bisa ikut macem-macem lomba
Selagi rajin cari events perlombaan blog mah in sya allah bakal ada aja yang bisa diikutin. Saya sih ngaku baru sekali submit buat lomba. Alhamdulillah ga menang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Pengen banget rajin submit lomba ini itu ... in sya Allah ke depan bakal lebih dirajinin. Sekarang latih rajin nulis lagi dulu. 😁😁😁

Wow udah 6 poin aja yak. Kalo gitu kita udahin dulu ya. Enaknya sih poinnya ganjil. Tapi saya udah kehabisan ide πŸ˜…πŸ˜‚.

Nah temen-temen yang baca boleh donk share preferensi sosial medianya apa berikut alasannya.

Apapun itu pilihan sosial media kita, yang penting silaturahim terjaga ya ... begitu juga dengan preferensi soal presiden pilihan untuk 2019. Siapapun itu, yang penting silaturahim terjaga tanpa ada perdebatan tak berarti apalagi diikuti permusuhan ... no no no ... 🀐🀐🀐 #pesan ini tanpa sponsor πŸ˜‚

Salam dari Columbus πŸ€—
26 Oktober 2018


Menempuh Doktoral Bersama Bayi

Minggu, 21 Oktober 2018
Seperti yang sudah saya niatkan di tulisan sebelumnya, saya akan rutin menuliskan kisah inspiratif versi saya, baik yang berasal dari seorang tokoh ataupun dari sebuah peristiwa atau kejadian. Kenapa menambah menu dengan rubrik Inspirasi Hari ini? Tak lain dan tak bukan hanya karena saya sedang tak terinspirasi apapun dengan apa yang sedang saya alami saat ini di kehidupan saya hehehe. Tingkat narsisme saya agak sedikit menurun sedangkan saya merasa tetap butuh memotivasi diri agar terus berkarya, meski karya kecil sejenis menulis blog seperti ini.


Selain itu, saya berharap dengan adanya kisah singkat inspirasi hidup versi saya ini bisa membuat saya khususnya, dan teman-teman pembaca umumnya untuk lebih bisa membuka mata hati menerima insipirasi dari sekitar kita.

Kenapa?
Ya barangkali ini hanya menimpa diri saya terutama semenjak kehadiran media sosial, dimana saya terlalu berfokus pada kehidupan saya sendiri dan inginnya semua atensi tertuju hanya pada saya atau keluarga. Bahkan tak jarang ketika memperoleh sebuah masalah, saya sering merasa menjadi orang yang paling menderita sedunia hahaha. Hingga saya pun sempat terperangkap pada sebuah capaian semu atas nama like, comment dan share ala-ala media sosial wkwkwkwk. Seolah hanya gue gitu loh yang bisa menginspirasi hufft #capedehya

Apakah itu salah? Bagi saya? Iya! Karena tujuan awal saya membuka akun sosial media tak lain dan tak bukan adalah sebagai media penghubung kehidupan bersosial baik dengan rekanan lama ataupun baru, baik yang sudah kenal lama dan sering bertatap muka atau sekedar kenalan baru di dunia maya. Bukan malah mengharap apresiasi dan pengakuan dari khalayak dunia maya yang sekarang dikenal dengan sebutan netizen belaka huhuhuhiks.

Dan ketika kabar berkabar itu sudah terpenuhi melalui saling sapa lewat update status atau posting foto terbaru dari aktivitas kita, kebiasaan sosial baru di lingkup media sosial berupa apresiasi berupa like, share dan comment itu menggantikan esensi dari kabar berkabar itu sendiri ... dan saya pun agak sedih menerima kenyataan ini. Sehingga prilaku baru yang terbentuk di dunia sosial media ini seolah menghakimi para pengguna media sosial yang 'pelit' like, share dan comment sebagai manusia sombong yang tidak menjaga hubungan baik. Tak sedikit lho yang rusak hubungan pertemanan dan kekerabatan  karena hal ini yang berawal dari prasangka-prasangka.

Atas dasar kegelisahan inilah, yang memang mungkin hanya menimpa saya karena kerdilnya jiwa saya, saya memilih mundur teratur dari hiruk pikuk sosial media terutama Facebook. hehehe. Kenapa hanya facebook? Karena pertemanan facebook saya sudah kadung beragam. Berita yang masuk timeline tak lagi info dan kabar dari teman-teman terdekat saya melainkan dari orang-orang asing atau orang yang tak terlalu saya kenal secara personal sebelumnya. Hiks. Yang ternyata menyumbang sedikit banyaknya hal-hal negatif pada diri saya.

Sehingga, di masa-masa redefinisi penggunaan media sosial versi saya ini, saya memilih berfokus

Saya akan memulai menuliskan kisah inspiratif yang datang dari seorang mahasiswi doktoral di sebuah universitas di Amerika Serikat. Tepatnya mahasiswa doktoral jurusan Health Behaviour di Universitas Indiana, Bloomington.

Saya mengenal beliau dari sebuah komunitas muslim Indonesia di Amerika bernama IMSA. Salah satu program yang dilakukan IMSA ini adalah memfasilitasi seluruh warga muslim Indonesia yang hendak melanjutkan halaqoh rutin mereka di perantauan negeri Paman Sam ini. Di Indonesia kita kenal dengan istilah halaqoh atau liqo. Melalui program inilah saya dan mba X (beliau ingin identitasnya disamarkan, masha Allah) berkenalan meski hanya melalui media teleconference.

Pada masa awal perkenalan, saya mengetahui bahwa mba X ini lanjut studi PhD atau doktoralnya dalam kondisi hamil trimester pertama (kalo saya tidak salah ingat πŸ˜†). Sedangkan suaminya belum bisa langsung mendampingi karena tengah menempuh studi juga di salah satu universitas negri di Indonesia.

Tadinya saya berfikir ya memang sudah konsekuensi atas pilihannya mba X dengan kondisi seperti ini. Jika kondisi itu terjadi pada saya, jujur saja saya tidak akan ragu untuk memilih zona nyaman alias menunda untuk lanjut studi terlebih dahulu. hehehe. Memang daya juang saya kurang sih wkwkwk, terbukti dengan berhentinya saya melanjutkan studi S2 saya pasca hamil si kembar #nyengir.

Sebagai individu yang susah tergugah dan terinspirasi, saya melihat perjuangan mba X ini sebatas perjuangan biasa yang wajar. Ya mungkin karena saya belum bertemu langsung dengan orangnya juga kali ya. Dan saat itu saya beranggapan bahwa pasca lahiran mba X akan segera ditemani sang suami. Karena saya dengar, suami dan Ibu beliau datang ke Amerika saat mba X detik-detik mau lahiran. Nah disitu saya pikir tadinya bakal ditemenin terus sampe beres studi.  Tapi ternyata anggapan saya ini salah besar.

Alhamdulillah bulan September yang lalu saya akhirnya bisa silaturahim dan bertemu langsung dengan mba X ini. Dan terkagetlah saya mengetahui bahwa mba Ummu ternyata hanya berdua dengan si kecil di negeri rantau negaranya Paman Sam ini. APAAAAAAAH????!

Iya. Jadi suami mba X dan Ibunya balik ke Indonesia lagi setelah beberapa waktu menemani mba X di fase awal peran baru menjadi Ibu. Karena harus menunaikan amanah sebagai mahasiswa juga, suami mba X harus kembali bertolak ke Indonesia. Begitu juga dengan Ibu mba Ummu yang tentunya tak bisa berlama-lama menemani (beberapa waktu lalu ibu mba X sudah kembali ke haribaan Allah ta'ala. Innalillahi wainnailaihi raji'un) Masya Allah ... fase yang sangat berat dalam pandangan saya.

Soalnya saya aja ditinggal belajar sama suami, kerasa berat banget. Lha ini? Ditinggal belajar sama suami, untuk belajar dan menjadi ibu juga plus cobaan hidup setelahnya atas kepergian Ibunda mba X. Masya Allah tabarakallah mba ...

Dengan segenap keterbatasan waktu karena saya hanya sebentar di Bloomington nya, kami pun bercerita sedikit. Dari sedikit cerita inilah saya memperoleh informasi yang menginspirasi tentang tantangan yang dihadapi mba X dalam berbagi peran sebagai seorang mahasiswa doktoral dan sebagai seorang ibu.

Jangankan mahasiswa doktoral ya ... sarjana atau master di Indonesia aja dalam keadaan beranak rasa rasanya beraaaaaaaat banget. Ini doktoral!!!

Sebagai istri dari seorang mahasiswa doktoral, saya merasa berhak untuk pahaaaaaaaaam betul seberapa beratnya amanah sebagai mahasiswa doktoral ini. Terlebih mba X ini adalah mahasiswa sains gitu. Bukan anak sosial kaya suami saya. Yang biasanya anak sains ada tambahan aktivitas nge-lab, jadi ga cuma kelas biasa kaya anak sosial. Dan biasanya juga, nge-lab suka ngambil waktu-waktu ga normal alias diluar jam kerja. Seperti weekend atau di atas jam 5.

Saya memang belum sempat cerita soal rutinitas mba X dalam keseharian sih. Tapi saat kami berjanjian ketemu, mba X sempet bilang sebelum ke apartemen tempat saya nebeng nginep, dia mau ngelaundry dulu. Terus malam hari sebelumnya, teman suami yang rumahnya kami tebengi juga sempet cerita, kalo mba X kemana-mana nyetir sendiri. Mulai dari belanja-belanja kebutuhan harian hingga ke rumah sakit jika si kecil sakit. Dan kata bu Y (saya belum izin ke beliau, jadi namanya juga disamarkan saja ya), temen suami saya, mba X ini tipe yang ga mau ngerepotin dan selagi bisa kerjain sendiri ya kerjain sendiri. Huwooooooo saya pun jadi mikir keras andai kondisi mba X saya yang alami πŸ˜₯πŸ˜₯

Lanjut ngebahas soalan perannya sebagai mahasiswa doktoral. Bagi temen-temen yang udah pernah ngerasain jadi mahasiswa doktoral pasti kebayanglah ya hebohnya kaya gimana tugas-tugasnya. Saya kurang paham sih kalo doktoral di Indonesia kaya gimana. Tapi berkaca dari suami sendiri, tugas kuliah untuk satu mata kuliah dalam satu pertemuan saja sudah sangat menguras waktu dan pikiran.

Jurnal satu judul rata-rata berjumlah lebih dari 30 halaman. Nah untuk satu mata kuliah biasanya bisa sampe 10 jurnal untuk satu kali pertemuan. Artinya ada sekitar 300 halaman jurnal yang harus dibaca berikut resumenya. Itu baru satu matakuliah dan baru jurnal, beluk lagi textbook. Rata-rata satu semester di awal studi PhD, mahasiswa doktoral di Amerika harus mengambil sekitar 3-4 matakuliah.

Belum lagi minipaper sebagai tugas mingguan atau bulanan. Tentunya butuh waktu tak sedikit kan agar bisa menuntaskan amanah akademik ini. Hal-hal terkait akademik seperti ini, yang mungkin hanya dalam pandangan saya kali ya, yang kok rasanya udah habis aja ya waktu 24 jam cuma buat akademik. Gimana mau urus anaaaaak #sayayangmewek.

Jadilah saya bertanya disela obrolan kami karena saking penasarannya.

"Mba X, belajarnya kapaaaaan??"

Tanya saya penuh khawatir dan dengan wajah masih shock gitu.

"Ya di kampus sama kalo (mba X menyebutkan nama anaknya) lagi bobo aja mba Put", jawab mba X sambil nyengir kecil.

"Itu juga kalo lagi di depan laptop maksain ngerjain tugas tapi kalo anak belum bobo, ya dia ikut ngerecokin", tambah mba X lebih kurang begitu (seinget saya hehehe).

"Masya Allah....", gumam saya sambil geleng-geleng bengong mata melotot dan hidung kembang kempis lagi inhale exhale ceritanya (maap saya lebay πŸ˜†)

Berlanjut ke percakapan kecil kami, jujur saya ga berhenti terkagum-kagum atas keputusan yang diambil mba X ini. Sebuah keputusan yang cukup sulit tapi memang harus dijalani. Bersama si kecil, bayi mungil solehah yang kalo saya ga salah inget sekarang berusia 20 bulan. Tabarakallah naaaaak kamu usia dini jadi saksi hidup perjuangan mamah mu ... 😒😒😒 #haru

Dari kisah mba X ini saya makin tersentak akan sebuah keputusan 'ga logis' yang ternyata jadi harga mahal, katakanlah demikian, untuk menjemput sebuah kesuksesan. Kenapa harga mahal? Karena pengorbanannya menurut saya cukup menguras energi, pikiran, dan tentunya juga materi. In sya Allah semua akan berbuah manis, saya yakin itu.

Bertemu langsung dengan sosok mba X, saya seperti dihadirkan langsung potret calon orang terkenal bumi pertiwi beberapa tahun ke depan kelak. Entahlah ini berlebihan atau tidak. Dalam pandangan saya, menyaksikan sebuah perjuangan yang langka seperti ini menjadi pembuka jalan kesuksesan bagi sosok seorang mba X. Paling tidak beliau bisa menjadi role model bagi para wanita Indonesia yang ingin melanjutkan studi namun masih bimbang kendala keluarga.

Memang kesuksesan tidak melulu di akademik saja. Tapi jika teman-teman tengah ada yang gundah gulana ingin studi tapi kok ya ga mungkin karena mungkin salah satunya soal anak, bisa jadi kisah mba X ini menginspirasi.

Karena kita tak bisa mengatur ritme hidup kita melainkan Allah lah yang memainkannya. Seperti halnya mba X yang tak pernah menduga akan diamanahi keturunan secepat itu disaat dia sudah memperoleh kesempatan kedua lanjut studi di Amerika melalui jalur beasiswa. Rezeki seolah datang berbarengan. Dimana amanah keturunan dan amanah jihad ilmu diberikan dalam waktu yang bersamaan.

Oh ya, kabar gembiranya, in sya Allah suami mba Ummu akan datang menemani bulan Desember ini. Semoga segera berkumpul kumplit ya mba ... πŸ€—πŸ€—πŸ€—

Dari saya segini dulu saja.
Semangat baruuuuuu!!!!

Okeh! Ga ada alasan lagi ya Puuuut buat mempertanyakan ke Allah "Ya Allaaaah ko saya ga maju maju yaaaaa ... gini gini ajaaaaa. Pinter engga, males iya bla bla bla" dan lain sebagainya.

Sebelum mempertanyakan ke yang Kuasa, fokus dulu deh Put dalam menggenapkan ikhtiar-ikhtiar fisikmu .... (ngomong ke diri sendiri πŸ˜†)

Terakhir, saya berdoa semoga bisa bertemu sosok dan kisah inspiratif lain secara langsung alias ga dari sosial media hehehehe πŸ˜†✌

Columbus, 20 Oktober 2018

Nb: Tulisan ini pernah dipublikasikan pada tanggal 20 Oktober 2018  dengan menyebutkan identitas mba X. Atas permintaan mba X, artikel ini sempat saya unpublished untuk menyamarkan nama mba X. Dan tulisan kembali diterbitkan pada tanggal 3 Februari 2019.

Rubrik Baru: Inspirasi Hari Ini

Jumat, 05 Oktober 2018
Suasana fall atau autumn ini sumpah bikin melow. Jadi kebawa-bawa deh sama 'ruh' tulisan yang ingin saya buat di blog yang sudah sekian lama tercueki ini. Alhasil, tulisan yang sudah panjaaaaaaaang, tak hapus lagi. Kenapa? Karena ruh melownya agak beraura negatif. Less motivation, more depression πŸ˜…πŸ˜‚


Saya memang sudah lama tak rutin lagi menulis. Bukan karena ga ada ide. Tapi karena kehabisan tenaga duluan setelah menyelesaikan tugas negara sebagai Ratu dan Permaisuri kerajaan πŸ˜₯πŸ˜₯

Tak bisa dipungkiri energi saat hamil itu memang terbatas. Salam takzim saya buat para ibu hamil yang tetap produktif dan berkarya dalam hal apapun πŸ™

Jadi dulu sebelum hamil, kebiasaan menulis blog rutin biasanya saya lakukan di jam malam dengan konsekuensi begadang, atau di pagi hari dengan konsekuensi harus masak sore hari sebelumnya. Itu idealnya. 

Kondisi tak idealnya, saya tak jarang kebablasan 'keasikan' ngurusin rumah maya dan melupakan sejenak rumah beneran saya πŸ˜†. Konsekuensinya, ada perut-perut kelaparan yang berujung makan diluar dan rumah berantakan mengundang kesetresan. Pengeluaran meningkat, stress tambah berat πŸ˜‚

Itu dulu.

Sekarang? Menulis blog menjadi prioritas paling akhir. Padahal dulu menulis blog sudah saya jadikan rutinitas kerja. Tapi kan kondisi berubah ya ... dan kita harus membuat pilihan di setiap perubahan keadaan.

Ada konsekuensi di setiap pilihan tentunya. Jadilah di penghujung masa kehamilan ini saya memilih berdamai dalam kehidupan nyata. Dan membiarkan sejenak rumah maya saya yang bernama blog ini sedikit 'teracuhkan'.

Namun, tak dipungkiri blog sesungguhnya bagian dari ruh penyemangat saya. Satu-satunya hobi yang terkait eksistensi yang tak lagi berorientasi pada orang lain (pembaca), tapi lebih ke kepuasan diri sendiri. Sehingga saya sangat menikmati setiap proses menulis yang saya lakukan. Tanpa membebani diri dengan sebuah target atau capaian. Cukup fokus berbagi kebaikan, sudah sangat cukup untuk membuat saya terjaga stabilitas menulisnya.

Lalu kenapa saya jadikan blog prioritas paling akhir? Karena ada penyemangat baru yang hadir di kondisi saya saat ini. Yang untuk sementara bisa menggantikan blog sebagai mood booster saya. Apa itu???

Berpetualang mencari dan mengamati inspirasi dari orang-orang sekitar. Ciileeeee gaya amat πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Dan hasrat menulis hari ini muncul salah satunya karena hasil mengamati πŸ˜†.

Tak ada tema khusus yang akan dibahas dalam tulisan ini. Saya hanya ingin melatih jemari saja agar tak kaku memencet keypad. Melatih otak agar tak buntu menyalurkan ide dan katakanlah melatih diri menulis sesuai waktu yang ditentukan. 

Dan alhamdulillah hari ini, ada sedikit waktu yang bisa saya gunakan untuk menoreh kembali blog nya. Katakanlah buat menyapa teman-teman yang masih suka terdampar di blog ini. Meski hanya satu atau dua orang, sungguh penghargaan sekali untuk saya yang sudah tak rutin lagi menulis dan blogwalking 😒. Seolah semangat berbagi informasi atau sekedar opini kembali terbakar.

Untuk memfasilitasi diri yang semangatnya sedang membara ini, jika tidak ada halangan yang berarti, saya meniatkan diri untuk membuat rubrik baru di blog saya yang berjudul 'Inspirasi Hari Ini'.

Kenapa 'Inspirasi Hari Ini'? Karena setiap hari kita adalah inspirasi. Kadang kita ngeh kadang engga. 

Padahal, menurut saya, setiap manusia terlahir membawa inspirasi, sekecil apapun itu. Alam dan sekitar kita pun adalah inspirasi. Saya pun jadi merasa perlu mendokumentasikan kisah-kisah yang hinggap dalam pikiran saya di blog yang belumlah terkenal ini, semata-mata untuk saya renungi, betapa banyak inspirasi yang terdapat di sekeliling saya yang sering tak saya sadari. Doakeun semoga beneran dieksekusi ya. 

Adapun janji-janji manis saya di media sosial untuk mengulas 'daily routine schedule' Zaid dan Ziad dan juga review gendongan bayi di Amerika masih saya simpan sebagai draft karena belum rampung. Hiks. Maafkan saya πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

Dan janji saya menuliskan postcard dari Amerika untuk teman-teman di 1m1c plus beberapa orang teman saya lainnya in sya Allah akan segera saya tunaikan. Ya Allah ... mampukan hamba 😒

Jeleknya manajemen waktu saya 😭😭😭. Tapi lagi-lagi pilihan untuk beraktivitas sesuai skala prioritas memaksa saya untuk lebih realistis. Terpenuhi target 'eksistensi' tapi terbengkalai urusan domestik. Atau sebaliknya. Dan semoga kedepan saya bisa memenuhi target eksistensi dengan pemenuhan urusan domestik ini ya hehehe ...

Tulisan ini, semacam tulisan-tulisan sebelumnya yang selalu muncul senada ketika saya hiatus dari blog πŸ™ˆ, adalah tulisan motivasi pribadi saya sendiri. Memotivasi diri untuk tetap melakukan aktivitas bermanfaat apapun itu bentuknya. Salah satunya ya menulis blog ini. Karena sesuai nilai yang selalu saya bawa, saat tulisan menjadi saksi kebermanfaatan kita.

Belajar banyak dari para homeschooler atau selebgram berfaedah yang saya ikuti di Instagram, memang akhirnya mereka layak memperoleh atensi karena kedisiplinan dan kefokusan mereka terhadap tujuan yang ingin mereka capai itu sangat luar biasa. Semoga saya bisa mengikuti hal-hal baik yang ada pada tokoh-tokoh media sosial ini. Terutama soal kedisiplinan dan konsistensi mereka.

Ada memang keinginan pribadi saya untuk bisa menginspirasi orang lain lewat media sosial yang saya punya. Tapi pelan-pelan saya sadar diri juga, jika orientasi saya lebih kepada eksitensi dan atensi orang lainnya ketimbang kebermanfaatannya. Jadilah saya merasa perlu mengatur nafas lagi untuk sebuah tujuan utama yang hakiki. 

Tidak menafikkan bahwa menjaga eksistensi di era digital menurut saya lebih menantang. Menyeimbangkan kehidupan bersosial media dengan kehidupan bersosial di dunia nyata tentu sulit. Dan kita tentu tak harus memaksakan diri jika tak mampu memenuhi di keduanya. Akan ada prioritas, dan kita yang menentukannya. Bisa dengan memilih salah satunya, atau mengatur prosentase antara keduanya. Yang terpenting, komposisi eksistensi di dunia nyata haruslah lebih besar daripada dunia maya. Kenapa? Karena aplikasi, realisasi dan eksekusi itu lebih bernilai dibanding sekedar dokumentasi. Menurut saya ya ini 😁

Tak jarang kan kita lebih fokus pada dokumentasi untuk kepentingan media sosial ketimbang keberlangsungan dari sebuah aktivitas itu sendiri. Ya saya! Belajar dari pengalaman saya pribadi πŸ˜†πŸ˜…. Untuk menghindari hal ini terjadi lagi, saya akhirnya harus 'merelakan' diri selangkah mundur di dunia maya dan berharap 1000 langkah lebih maju di dunia nyata. Kenapa? Karena tadi, eksistensi era digital lebih menantang dengan segenap godaannya. Dimana like dan comment menjadi tujuan πŸ˜…. Sehingga perlulah sejenak saya berhenti dari keriuhan semu ini. Dan memilih berbagi sesuatu hal yang positif yang tak melulu perihal saya, pengalaman saya ataupun perjalanan hidup keluarga saya. 

Sudah terlalu banyak. 😁 berat jika harus 'bersaing'. Sedangkan diri sendiri saja belum tertaklukan. 

Ya, demikianlah pemaparan tulisan random hari ini. Semoga ada manfaatnya. Intinya saya cuma mau bilang kalo saya mau share tulisan kisah inspiratif yang saya dapati dari sekitar saya.πŸ˜„πŸ˜„

"Waktu kecil tak pernah saya bermimpi menjadi bintang, terlalu tinggi. Biarlah saya membumi bersama tanah, merekam tapak demi tapak setiap langkah yang menginjaknya, untuk dijadikan inspirasi dan karya."

Columbus, 5 Oktober 2018