MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Berpikir Akan Homeschooling?

Minggu, 21 Februari 2021

Wow! Tidak terasa sudah satu tahun lebih saya menjalani homeschooling (HS) dengan anak-anak. 


Sepulang dari US bulan September 2019 lalu, saya dan suami berdiskusi panjang lebar tentang pilihan sekolah anak-anak. Hingga akhirnya di awal tahun 2020 kami memantapkan HS setelah mengitari seluruh sekolah yang masuk ke dalam daftar pilihan sekolah yang ingin kami tawarkan ke anak-anak. Namun pilihan akhir tetap HS.


Baca Juga: Ketika Harus Memilih Homeschooling


Tak disangka beberapa bulan setelahnya pandemi masuk Indonesia dan berlakulah sistem pembelajaran daring. Sehingga, pilihan kami untuk HS berasa tidak terlalu berat dalam hal adaptasi dengan lingkungan sekitar semacam menghadapi pertanyaan tetangga kenapa anaknya ga ke sekolah hehehe. 


Pexels.com


Dalam tulisan saya kali ini, saya akan mencoba menyampaikan apa yang saya rasakan dalam kurun waktu satu tahun ini. Tujuannya agar teman-teman yang tengah memikirkan HS untuk anak-anaknya bisa merenungkan lebih dalam akan pilihan ini.


Tentu setiap orang memiliki jalan pikiran yang berbeda, jadi teman-teman silahkan disesuaikan saja ya dengan karakter teman-teman tentang pengalaman saya ini.


1. Memilih HS = Memilih Lebih Repot

Ketika kita memilih HS mandiri, tidak menggunakan jasa lembaga HS, artinya kita memilih untuk 'repot' memikirkan arah dan tujuan pendidikan anak-anak kita. Biasanya arah dan tujuan ini ditelurkan berbentuk kurikulum. Dan biasanya lagi, jika kita plek ketiplek mengikuti kurikuluman nasional (kurnas) dari pemerintah, akan ada 'drama kumbara' yang terjadi antara ibu dan anak. 😅 Karena target ketercapaian kurnas mendesak orang tua untuk 'memburu' anaknya mampu memenuhinya.


Makanya biasanya lagi ya, banyak orang tua HS mandiri akan memilih kurikulum mereka sendiri yang disesuaikan dengan keluarga masing-masing. Jikapun akan menggunakan kurnas, biasanya tidak akan menjadi kurikulum utama melainkan hanya agar mengetahui standar negara untuk mempersiapkan anak melewati ujian sekolah per semester agar bisa menerbitkan rapor. 


Lho bedanya apa? Jadi kurnas hanya dipake untuk dilihat aja. Sedangkan dalam keseharian tidak menggunakan metode seperti halnya di sekolah melainkan metode lain. Nah biasanya metode lain ini memiliki cara atau komposisi pelajaran yang berbeda dari kurnas, namun biasanya anak tetap bisa menjawab pertanyaan standar negara di ujian sekolah. Meskipun mungkin bisa jadi anak hanya memenuhi syarat menimal ketercapaian.


Kerasa ga repot nya? 😂😂😂


Jadi intinya, ketika kita memilih HS kitalah yang menjadi otak yang mengarahkan tujuan pendidikan anak-anak kita. Kita yang bisa merasa-rasa kurikulum mana yang cocok dengan karakter kita dan anak-anak kita. Agar apa? Agar proses HS tidak tegang dan penuh drama karena misal anak ga ngerti-ngerti pelajaran yang kita sampaikan.


Saat ini sangat banyak praktisi HS yang membagikan inspirasi aktivitas harian mereka dengan anak-anak mereka. Namun harus tetap diingat, sesuaikan dengan karakter kita dan anak-anak kita.


2. Memilih HS = Memilih Berbeda

Meskipun sangat banyak bermunculan HSer baru (termasuk saya hehehe), memilih HS tetap tergolong jalan hidup yang tidak biasa. Artinya, kita harus siap menerima respon sosial berupa aneka pertanyaan yang mungkin akan mengusik kalbu. Mulai dari respon orang tua kita sendiri, saudara, teman, atau bahkan respon diri kita sendiri. Lho kok bisa?


Ya bisa. Karena saat kita memilih HS perjalanan tentu akan menggiring kita pada sebuah pengalaman yang mempengaruhi mental dan pikiran kita. Baik yang datang dari dalam diri kita maupun dari lingkungan sekitar. Contoh, disaat HS, anak-anak menolak untuk belajar. Padahal sudah kita lakukan aneka cara untuk menarik perhatian mereka. Sehingga kondisi ini membuat kita berpikir ulang dan ragu, 

"Duh, kalo kaya gini terus gimana mereka bisa mengikuti kurikulum?"


Baca Juga: Homeschooling Aja Gitu?


Kasus ini tentu juga kita temukan pada anak sekolah formal. Perbedaannya, di sekolah formal pembelajaran tetap berjalan tak peduli anak kita mau atau tidak untuk belajar. Sedangkan dalam HS, pembelajaran jadi terhenti.


Tapi eits! Jika teman-teman memilih HS, memiliki mata hati yang lebih peka itu penting. Karena kehadiran kita 24/7 membersamai anak-anak ga bisa kita berlakukan sistem yang sama dengan sekolah. Ketika pembelajaran HS terhenti, masih ada pembelajaran lain yang terjadi. Nah di dalam HS, hal ini menjadi sangat berarti untuk membantu kita orang tua lebih jeli melihat kebutuhan anak. Tak hanya sekedar mencapai target kurikulum.


Gimana? Mudah-mudahan kerasa ya bedanya 😁😁


Intinya, saat kita memilih HS kita yang akan menyelesaikan masalah pendidikan anak-anak kita sendiri. Tidak ada bantuan pihak luar seperti halnya di sekolah formal yang mana kita dibantu sekolah dan guru ketika menghadapi masalah dengan belajar anak.


Tentu masih banyak perbedaan yang akan dirasakan seiring berjalannya waktu. Dan perbedaan ini harus kita persiapkan agar tak muncul "duh nanya kesiapa ya, gue lagi bingung nih soal HS anak-anak". Jika pun akan meminta pendapat pihak lain, pastikan untuk penyelesaian masalah bukan untuk mencari dukungan terhadap hipotesis yang sudah kita bentuk hahahaha. Semacam buat mendapat dukungan aja. Sedangkan akar masalahnya ga ditemukan.


3. Memilih HS = Mau Kreatif

Kreatif disini bukan dalam hal kita yang harus menyiapkan segala rupa kebutuhan pembelajaran. Melainkan kita sebagai orang tua harus kreatif memainkan peran keseharian kita bersama anak-anak untuk kemudian dijadikan pembelajaran. 


HS sekaligus mengurus urusan rumah tangga sama halnya membawahi dua departemen sekaligus di kantor. Jika kita tidak mampu berkreasi, yang terjadi tentu depresi 🤦🙈 . Sehingga, kreatifitas kita mengatur semuanya dituntut disini, termasuk di dalamnya mengatur emosi. 


Mengatur jadwal kegiatan kita pribadi sebagai fasilitator HS dan juga kepala bagian domestik rumah tangga juga harus dilakukan. Tidak harus berbentuk jadwal tertulis, yang terpenting segala hal prioritas memang dilaksanakan bukan malah tergantikan dengan aktivitas lain semacam bermain HP atau menonton film hahaha. Pastikan semua berjalan sesuai skala prioritasnya agar kamu ga pusing dan ga ngerasa "duh, HS gue kacau!"


Oke deh, kayanya udah dulu tiga poin aja. Semoga bisa memberi sedikit gambaran untuk teman-teman yang akan memilih HS. Apapun pilihannya, tetap jadi diri sendiri ya! Pastikan setiap pilihanmu datang dari sanubarimu. Bukan karena desakan sikon karena pandemi, atau karena terpengaruh sekitar yang berbondong-bondong HS.


Oh ya, rekomendasi saya bagi teman-teman yang mau HS, baca buku 55 Gagasan HS nya karya Aar Sumardiono ya. Sama Cinta Yang Berpikir karya Ellen Kristi. Dua buku ini ngebuka pikiran kita banget soal HS.


Silahkan komen untuk diskusi ya. Atau boleh email atau main-main ke IG saya. 


Serpong, 21 Februari 2021



Dakwah Digital dan Etika Dalam Menggunakan Media Sosial

Jumat, 19 Februari 2021
Apa yang terbersit di pikiran teman-teman jika mendengar kata dakwah? Mungkin ada yang teringat dengan para ustadz, alim ulama atau khatib pada saat khutbah Jum'at.

Hakikatnya, setiap muslim yang mengaku beriman pasti mengetahui betul apa itu dakwah. Karena dakwah merupakan aplikasi dari peran kita sebagai khalifah yang di amanahkah Allah kepada kita.

Sebelum kita membicarakan tentang dakwah digital, ada baiknya kita melihat pengertian dari dakwah itu sendiri yang terdapat di dalam Al-Quranul karim.

Sumber: Pexels.com


Di dalam Al-Qur'an makna dakwah memiliki arti sebagai berikut:

Pertama, at-thalabu (اَلطَّلَبُ)meminta, menuntut, atau mengharapkan. Makna seperti ini disebutkan dalam ayat:

لَا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا وَادْعُوا ثُبُورًا كَثِيرًا

(Akan dikatakan kepada mereka): “Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak” (QS. Al-Furqan, 25:14)

Kedua, an-Nida (اَلنِّدَاءُ), menyeru atau memanggil. Makna seperti ini disebutkan dalam ayat:

وَيَوْمَ يَقُولُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ مَوْبِقًا

“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman: ‘Serulah olehmu sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kamu katakan itu’. Mereka lalu memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka).” (QS. Al-Kahfi, 18:52)

Ketiga, as-Su-alu (اَلسُّؤَالَ), bertanya, memohon, atau meminta. Makna seperti ini disebutkan dalam ayat:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ

“Mereka berkata: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya’. Musa menjawab: ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya’” (QS. Al-Baqarah, 2:69)

Keempat, al-hatsa wat tahridhu ‘ala fi’lis syai’ (اَلْحَثُّ وَالتَّحْرِيْضُ عَلَى فِعْلِ شَيْءٍ), mendorong untuk melakukan sesuatu. Makna seperti ini disebutkan dalam ayat:

وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ

“Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka?” (QS. Al-Mu’min, 40:41)

Kelima, al-Istighatsatu (اِلاِسْتِغَاثَةُ), meminta pertolongan. Makna seperti ini disebutkan dalam ayat:

قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!’” (QS. Al-An’am, 6:40)

Keenam, al-Amru (اَلأَمْرُ), memerintahkan. Makna seperti ini disebutkan dalam ayat:

وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۙ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ أَخَذَ مِيثَاقَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hadid, 57:8)

Ketujuh, ad-du’a (اَلدُّعَاءُ), doa. Makna seperti ini disebutkan dalam ayat:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf, 7:55)



Makna Dakwah Secara Istilah

Dakwah adalah:

دَعْوَةُ النَّاسِ إِلَى اللهِ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ حَتَّى يَكْفُرُوْا بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنُوْا بِاللهِ وَ يَخْرُجُوْا مِنْ ظُلُمَاتِ الْجَاهِلِيَّةِ إِلَى نُوْرِ الإِسْلاَمِ

“Menyeru manusia kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, sehingga mereka mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah serta keluar dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam.”

Definisi dakwah di atas disandarkan kepada tiga ayat berikut ini:

1. An-Nahl: 125

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl, 16: 125)

bil-hikmah wal mauidhatil hasanah (dengan hikmah dan pelajaran yang baik) dalam QS. An-Nahl ayat 125.

  1. Dengan cara bijakasana yang telah Allah wahyukan kepadamu di dalam al-qur’an dan -sunnah. Dan bicaralah kepada manusia dengan metode yang sesuai dengan mereka, dan nasihati mereka dengan baik-baik yang akan mendorong mereka menyukai kebaikan dan menjauhkan mereka dari keburukan (Tafsir Al-Muyassar, Kementrian Agama Saudi Arabia).
  2. Dengan cara yang sesuai dengan keadaan objek dakwah, pemahaman dan ketundukannya, melalui nasihat yang mengandung motivasi dan peringatan (Tafsir Al-Mukhtashar, Markaz Tafsir Riyadh).
  3. Dengan ucapan yang benar dan mengandung hikmah. Pendapat lain mengatakan, yakni dengan bukti-bukti yang menimbulkan keyakinan. Wal mauidhatil hasanah, yakni ucapan yang baik dan indah bagi pendengarnya yang meresap ke dalam hati sehingga dapat meyakinkannya dan menjadikannya mau untuk mengamalkannya (Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar).
  4. Dengan perkataan yang penuh hikmah yang menjelaskan tentang kebenaran, yaitu dengan dalil nyata dan tidak samar, dengan pelajaran yang bermanfaat serta ucapan yang baik dan lemah lembut tanpa menyakiti. (Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili).
  5. Dengan Al-Qur’an dan perkataan yang bijak dan benar, berdasarkan dalil yang menjelaskan kebenaran. Wal mauidhatil hasanah, yaitu pelajaran-pelajaran dari Al-Qur’an, dan perkataan lembut dan baik (Aisarut Tafsir, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi)
  6. Hikmah artinya tepat sasaran; yakni dengan memposisikan sesuatu pada tempatnya. Termasuk ke dalam hikmah adalah berdakwah dengan ilmu, berdakwah dengan mendahulukan yang terpenting, berdakwah memperhatikan keadaan mad’u (orang yang didakwahi), berbicara sesuai tingkat pemahaman dan kemampuan mereka, berdakwah dengan kata-kata yang mudah dipahami mereka, berdakwah dengan membuat permisalan, berdakwah dengan lembut dan halus. Adapula yang menafsirkan hikmah di sini dengan Al Qur’an. Wal mauidhatil hasanah, yakni nasehat yang baik dan perkataan yang menyentuh. Termasuk pula memerintah dan melarang dengan targhib (dorongan) dan tarhib (menakut-nakuti). Misanya menerangkan maslahat dan pahala dari mengerjakan perintah dan menerangkan madharrat dan azab apabila mengerjakan larangan (Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an, Marwan Hadidi bin Musa).
  7. Dengan hikmah, yaitu tegas, benar, serta bijak, dan dengan pengajaran yang baik (Tafsir Ringkas, Kementrian Agama RI).
2. Al-Baqarah: 256

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 256)

Yakfuru bi-thaghuti wa yu’min billah dalam QS. Al-Baqarah ayat 256.

  1. Kafir pada semua sesembahan selain Allah dan beriman kepada Allah (Tafsir Al-Muyassar, Kementrian Agama Saudi Arabia)
  2. Ingkar kepada segala sesuatu yang disembah selain Allah dan berlepas diri darinya, kemudian beriman kepada Allah semata (Tafsir Al-Mukhtashar, Markaz Tafsir Riyadh).
  3. Mengingkari thaghut yakni dukun, syaithan, berhala, dan seluruh pemimpin kesesatan (Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar)
  4. Kafir kepada taghut yaitu segala hal yang meniadakan keimanan kepada Allah dari kesyirikan dan lainya (Tafsir As-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di).
  5. Ingkar kepada thagut, yaitu setan dan apa saja yang dipertuhankan selain Allah, dan beriman kepada Allah (Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI)
3. Al-Baqarah: 257

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah, 2: 257)

yukhrijunahum minan nuri iladz dzulumat dalam QS. Al-Baqarah ayat 257.
  1. Mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kekafiran menuju cahaya iman (Tafsir Muyassar, Kementrian Agama Saudi Arabia)
  2. Dia membimbing, menolong dan mengeluarkan mereka dari gelapnya kekafiran dan kebodohan menuju terangnya iman dan ilmu (Tafsir Al-Mukhtashar, Markaz Tafsir Riyadh)
  3. Dia mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran, kebingungan dan kebodohan menuju cahaya hidayah, keimanan dan ilmu pengetahuan (Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili).
  4. Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kejahilan, kekufuran, kemaksiatan, kelalaian, kepada ketaatan, dan penerimaan yang total terhadap RabbNya, dan Allah menerangi hati mereka dengan apa yang dipancarkaNya ke dalamnya dari cahaya wahyu dan keimanan, memudahkan mereka kepada kemudahan, dan menjauhkan mereka dari perkara yang sulit (Tafsir As-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di)
  5. Dia memelihara, mengangkat derajat, dan menolong mereka. Salah satu bentuk pertolongan-Nya adalah dia selalu terus menerus mengeluarkan dan menyelamatkan mereka dari kegelapan kekufuran, kemunafikan, keraguan, dorongan mengikuti setan, dan hawa nafsu, kepada cahaya keimanan dan kebenaran. Cahaya iman apabila telah meresap ke dalam kalbu seseorang akan menerangi jalannya, dan dengannya ia akan mampu menangkal kegelapan dan menjangkau sekian banyak hakikat dalam kehidupan (Tafsir Ringkas, Kementrian Agama RI).
Di dalam dakwah, ada istilahnya tsawabit dan mutaghoyyiron. Tsawabit maksudnya hal-hal prinsip yang terdapat dalam dakwah yang sifatnya tetap dan tidak bisa berubah. Yaitu esensi dari dakwah itu sendiri yang terdapat dalam surat At-Taubat ayat 71.

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Sedangkan mutaghayyiron adalah hal-hal yang sifatnya fleksibel dan mengikuti perkembangan zaman, salah satunnya wasilah dakwah itu sendiri. Yaitu media atau sarana yang digunakan para pendakwah  dalam menyampaikan pesan dakwah itu sendiri. Dan saat ini pemanfaatan kemajuan teknologi atau dunia digital dalam dakwah menjadi fenomena yang bisa kita rasakan sendiri sehingga munculah istilah dakwah digital.

Kemudahan yang ditawarkan dunia digital dalam berinteraksi dan menyampaikan pesan tentu mempermudah kita dalam berdakwah. Pemanfaatan media sosial misalnya, sebut saja Facebook, Instagram, Youtube bahkwan aplikasi semacam TikTok pun bisa kita manfaatkan untuk sarana dakwah. Selain itu aplikasi personal seperti Whatsapp, telegram, signal, Line dan masih banyak lagi yang memungkinkan kita berkomunitas dan menjadikannya pelulang dakwah kita.

Namun, dibalik kemudahan yang ditawarkan dunia digital untuk dakwah digital kita, ada tantangan tersendiri yang jika tidak kita perhatikan dengan baik bisa menjadi mata pisau yang siap membahayakan dakwah kita sendiri. Apakah itu? Yaitu etika dalam berdakwah.

Sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari dimana Islam sudah mengatur sedemikian rupa adab atau etika seorang Muslim mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, bermedia sosial tentu termasuk ke dalam keseharian yang harus kita perhatikan adab dan etikanya. Namun tak jarang banyak individu yang mendikotomikan kehidupan maya ini sehingga terdapat perbedaan sikap dalam dunia maya dan dunia nyata mereka. Dan tentu fenomena ini kita lihat atau rasakan sendiri.

Dalam dakwah digital, pemanfaatan media sosial baik secara eksplisit ataupun implisit sebagai sarana dakwah harus memperhatikan etika berikut:

1.Muraqabah

Etika pertama yakni merasa selalu diawasi oleh Allah. Apapun yang kita posting, termasuk niat dibalik postingan tersebut, sadarilah selalu bahwa semua itu diketahui oleh Sang Maha Tahu. Dengan selalu merasa diawasi Allah, maka pastilah kita takut melanggar batasan-batasan agama dalam memanfaatkan medsos.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Jika kamu menampakkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 54).

2.Hisab

Ingatlah selalu bahwa ada hisab atau perhitungan atas setiap apa yang kita lakukan, meski seberat dzarrah. Setiap kalimat, foto, video yang kita unggah, akan dipertanyakan kelak di akhirat. Allah berfirman, “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat Dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar Dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

3.Istifadah

Yakni menggunakan sarana yang ada untuk diambil manfaatnya. Jika media sosial bermanfaat bagi kehidupan kita, maka tak ada salahnya untuk memanfaatkannya. Namun jika medsos justru membawa lebih banyak kerugian daripada manfaatnya, maka etika seorang muslim pastilah menghentikan aktivitas tersebut.

Rasulullah bersabda, “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At Tirmidzi).

4.Bertanggung jawab

Menggunakan medsos berarti kita bertanggung jawab atas semua yang diposting ke publik, termasuk saat follow, share, Iike, retweet, repost, comment dan lain sebagainya. Seorang muslim beretika baik akan berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu atau menanggapi sesuatu. “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati akan diminta pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

5.Menjaga batasan pergaulan

Batasan ini terkhusus pada hubungan antara pria dan wanita. Meski tidak bertatapan langsung, medsos mampu membawa jerat-jerat penyakit hati di setiap interaksi lawan jenis. Maka batasilah interaksi dengan lawan jenis yang bukan mahram dan yang tak ada keperluan penting dengannya.

6.Memperhatikan pertemanan

Berteman di medsos mestilah mempertimbangkan kebaikan dengan timbangan ilmu syar’i. Jangan Bermudah-mudahan mengikuti status seseorang yang tak jelas kebaikannya. Ibnu Mas’ud pernah memberikan nasihat, “Jika engkau sekedar menjadi pengikut kebaikan, maka itu lebih baik daripada engkau menjadi panutan dalam kejelekan.” (Kitab Al Ibanah).

7.Wasilah

Etika muslim berikutnya yakni menjadikan medsos sebagai penghantar atau sarana atau wasilah kepada kebaikan. Artinya, manfaatkanlah medsos untuk menebar kebaikan. Sebagai contoh, memposting ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, kata mutiara para shahabat Rasulullah, permasalahan agama dan lain sebagainya.

8.Tidak lalai

Inilah yang sering luput jika sudah asyik bermain medsos. Kita mudah terlalaikan hingga waktu yang berhaga terbuang begitu saja.

9.Mengumpulkan kebaikan

Etika muslim dalam bermedia sosial dengan menjadikannya sebagai sarana pengumpul ilmu dan kebaikan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang memberi teladan dalam agama ini suatu kebaikan, maka baginya pahala setiap orang yang mengamalkannya hingga hari Kiamat tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.”

10.Ikhlas

Selalu menjaga keikhlasan menjadi salah satu etika yang harus dilakukan muslimin saat bermedia sosial. Termasuk didalamnya agar tidak memposting sesuatu dengan maksud ria. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mampu merahasiakan amal salehnya, maka hendaknya ia lakukan.” (HR. Al Khatib)

Ibnu Rajab pernah berkata, “Tidaklah seseorang yang ingin dilihat itu mencari perhatian makhluk. Akan tetapi mereka melakukannya akibat kejahilan (kebodohan) diri akan keagungan Sang Khalik.”

Dengan melaksanakan 10 etika ini, maka media sosial yang sejatinya berbahaya dapat menjadi sebuah anugerah bagi manusia. Kemajuan teknologi tentu bersifat memudahkan kehidupan manusia. Namun kemajuan tersebut harus dibarengi dengan ilmu syar’i dan akhlakul karimah. Mari beretika muslim saat memanfaatkan media sosial.

Sumber: “10 Tips Seputar Gadget Sesuai Syariat”; buletin Syiar Tauhid edisi 09.

https://muslimahdaily.com/khazanah/muslim-digest/item/978-10-etika-bermedia-sosial-dalam-islam.html

Lalu seperti apakah pemanfaatan media sosial untuk dakwah bagi masing-masing kita?

Mari kita lihat aneka geliat dakwah digital yang menyorot perhatian publik tentang penyebaran dakwah Islam di Indonesia.

1.  Aneka Kajian Online
2. Komunitas Barisan Bangun Negeri
3. Komunitas Musawarah
4. Komunitas Pemuda Hijrah

Setelah melihat geliat dakwah digital di atas, dakwah seperti apa yang bisa kita lakukan di era digital ini?
Akankah dakwah digital termanfaatkan dengan baik bagi perkembangan dakwah?
Seperti apa dakwah di masa depan?

Kita tidak bisa menutup mata dari perkembangan zaman. Pilihannya, akankan kita manfaatkan untuk kebaikan atau membiarkannya diwarnai aneka keburukan?

Mungkin kedepan kita bisa bahas tantangan dakwah di era digital kali ya ...

Serpong, 19 Februari 2021

Dibuat sebagai tugas pribadi di kelompok mengaji.

Kenapa Anakku Belum Bicara Ya?

Selasa, 16 Februari 2021

"Tenang aja, nanti bisa ngomong sendiri kok!"

"Ah jangan khawatir berlebihan, anaknya kan belum dua tahun!"

Berbagai tanggapan senada, dulu hadir dalam benak saya ketika Zaid dan Ziad berusia 18 bulan. Saya menyadari bahwa anak kembar saya belum terlihat perkembangan bahasanya. Namun saya juga menepis kemungkinan anak saya mengalami keterlambatan bicara dengan berlindung dalam alibi "mereka kan lahir prematur".


Sumber: Pexel.com


Alhasil, usia 2.5 tahun si kembar benar-benar belum memproduksi kata bermakna melainkan kurang dari 10 kata. Belum ada kalimat sederhana. Dan dengan pengucapan yang tidak betul. 

Pengalaman keterlambatan bicara si kembar ini sudah pernah saya tuliskan disini dan disini.


Nah pada tulisan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman saya membersamai Zaid dan Ziad dan juga Zaynab dalam memantau perkembangan verbal mereka ini.


Sebelumnya, teman-teman bisa membaca tulisan saya tentang perkembangan Zaynab disini.


Ada sebuah kesamaan yang saya lihat dari perkembangan Zaid Ziad dan Zaynab, yaitu diusia 18 bulan perkembangan verbal mereka mengalami kemunduran.


Flashback Dikit

Merencanakan hamil kedua tentu saya tidak mau mengulang kesalahan yang sama, salah satunya dalam perkembangan verbal anak. Sehingga, sejak dari dalam kandungan saya melakukan upaya lebih agar Zaynab bisa memiliki kemampuan verbal yang normal.


Diawal kelahiran, Zaynab pun selalu saya ajak komunikasi aktif hingga tahapan verbalnya terlihat berjalan lancar. Namun diusia 4 bulan Zaynab silent 😰. Alhamdulillah karena cepat saya sadari, diusia 5 bulan Zaynab mulai bersuara lagi sebagaimana mestinya.


Tidak ada hal yang spesial dari perkembangan bahasa Zaynab melainkan nyaris seperti perkembangan abang-abangnya. Dan untuk Zaynab, ga ada alibi prematuritas lagi. Alibi eczema? Lha anaknya Retno Hening ngomongnya lancar banget gitu dua-duanya. Sehingga, dari pengalaman Zaynab inilah saya benar-benar mengakui (seikhlas-ikhlasnya) bahwa dulu itu, Zaid dan Ziad telat bicara karena saya, tidak memiliki hubungan erat dengan mereka.


Kembali ke Masa Sekarang

Alhamdulillah Zaynab tanggal 28 Februari nanti berusia 28 bulan. Perkembangannya masya Allah. Dan Zaid Ziad berusia 7 tahun 7 bulan. Perkembangan mereka juga masya Allah walhamdulillah.


Baca Juga: Kilas Balik Satu Tahun 


Saya yakin, teman-teman yang saat ini sedang membaca tulisan ini sudah membaca beraneka ragam teori perkembangan bahasa anak. Mulai dari faktor-faktornya hingga cara mengatasinya. Saya pun begitu. Tapi jika teman-teman merasakan hal yang sama dengan saya, yaitu semacam keputusasaan kenapa anak-anak ngomongnya belum aja sesuai harapan. Sini saya bisikin sesuatu ... 


Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan nikmat-Ku kepadamu


Syukuri setiap respon anak. Syukuri setiap satu bunyi yang keluar dari mulut anak. Syukuri setiap sabar yang Allah berikan saat membersamai anak dengan segala kerumitan dalam memahami mereka. Syukuri ... Syukuri ... Syukuri ... (Bukan brand susu kurma ya genks 😂)


Baca juga: Agar Anak Tak Speech Delay


Sedikit Berbagi Pengalaman

Saya pikir, Zaynab akan bisa ngomong lebih cepat. Sepulang ke Indonesia, bertemu dengan anak tetangga yang sudah ngomong jelas padahal satu bulan kelahiran dengan Zaynab, bikin saya terpacu* 


*Keder, baper, dan sejenisnya 😂


Ditambah saya semacam dejavu ke jaman ZaZi dimana ibu Suri (emak aye) mulai warning dan ya gitulah ya ... Meski untuk Zaynab ibu Suri masih yang kaya gini, "Bentar lagi Zaynab bisa tu ngomong". 


Tiga bulan lamanya saya di rumah orang tua saya, sejak Zaynab usia 11 bulan hingga 14 bulan. Dan ibu Suri tak melihat gelagat kemajuan dari Zaynab, dan doi mulai worry. Saya? Hanya mencoba lebih komunikatif dengan Zaynab. Saya mencoba menahan diri dari luapan emosi seperti masa ZaZi dulu. Yang mana, ketika ibu saya menyampaikan kekhawatirannya, saya merasa tertekan dan berdampak pada stabilitas emosi ke anak-anak. 😰


Alhamdulillah, dejavu ga terulang. Allah masih kasih saya ijin untuk bisa lebih bersabar dan membuka mata saya untuk segala hal. Dan, saya juga ga terlalu lama di rumah ibu saya sih wkwkwkwk. Setelah di Bandung, kehidupan mulai terasa mandiri tanpa intervensi hihihi. Meski hati masih worry, Zaynab udah 18 bulan tapi kok kosakata ga nambah malah berkurang 😭😭😭.


Disini saya menyadari, "Put! Berhenti mencari kambing hitam!" Zaman ZaZi, selain alibi prematuritas saya juga mengkambing hitamkan ibu saya yang saat itu menurut saya memiliki intervensi negatif pada saya. Astaghfirullah maapin ayeee maaak. Ternyata, meski tak ada intervensi lagi, anak aye tetep aja macam telat ngomong lagi.


Buru-buru saya perbaiki niat. Kemudian ganti kacamata. Yang tadinya saya pake kacamata buat liat anak orang, saya ganti pake kacamata buat ngeliat anak sendiri. Hehehe. Saya mulai melakukan intesintas komunikasi yang baik dengan Zaynab seperti masa terapinya ZaZi. Tidak ada kata isyarat, tidak boleh pake rengekan, dan tentu Uminya juga ga boleh labil.


18, 19, dan alhamdulillah ... Usia 20 bulan mulai terlihat perkembangan bahasa Zaynab yang sangat pesat. Yang bikin saya gini, "oooh ini yang orang bilang anak bisa ngomong sendiri tu, yang kaya gini toooh". 


Iya anak bisa ngomong sendiri dan melejit. Tapi dengan upaya dari emaknya. Khusus buat emak-emak macam saya, yang polos ga jelas, plis ya. Tanggapan-tanggapan motipasi dari sekitar jangan polos banget dimaknainya 😂. Entahlah, saya kadang memang polos entah b**o 🙈🙈.


Intinya adalah, membersamai anak itu harus dengan kesadaran penuh bahwa anak kita itu unik. Boleh liat anak orang lain, tapi untuk dipelajari hal baik dari mereka. Bukan untuk melihat perkembangan anaknya dan parahnya untuk kita bandingkan dengan anak-anak kita. 


Sejujurnya, Zaid dan Ziad untuk anak seusia mereka, perkembangan bahasa mereka masih belum terlalu baik jika saya bandingkan dengan anak seusia mereka. Tapi sangat cukup baik jika dilihat dari proses yang mereka lalui alhamdulillah.


So teman-teman, selain mempelajari aneka teori, melihat anak kita dengan dekat, menjalin hubungan yang baik dan komunikasi yang lancar adalah kunci. Saya ga heran Retno Hening anaknya kaya gitu, karena emang dia sadar banget saat jadi ibu. Sedangkan saya, butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari diri bahwa saya adalah seorang ibu. 


Jangan berkecil hati dengan apa yang ga sempurna di mata kita ini. Karena sesungguhnya itu wujud kasih sayang Allah kepada kita. Dan setiap orang pasti beda-beda treatment nya 🤭🤭. Semoga ada manfaatnya. Terimakasih sudah membaca ❤️❤️❤️


Serpong, 16 Februari 2021



Akhir Tahun Penuh Agenda

Sabtu, 12 Desember 2020

Benar kata orang bahwa waktu akhir-akhir ini cepat berlalu. Rencananya saya akan menyetorkan tulisan terakhir saya untuk setoran minggu lalu di komunitas 1m1c. Dan saya lupa. Padahal feeling udah ga bagus. Kayanya udah bolos banyak. Dan inget-inget lagi barusan banget. Langsung cek status di web member dan yey, 5 bolos berturut-turut yang artinya kalo ga setor minggu ini minggu depan bakal terdepak (lagi) ogut😌😌.



Akhir-akhir ini ngeblog memang bukan lagi menjadi agenda utama yang harus saya selesaikan seperti halnya dulu. Dulu, untuk menuliskan satu jenis tulisan saja, saya bisa seharian ngulik tulisan. Tak jarang pekerjaan domestik saya kesampingkan. Maklum, kemampuan menulis ini memang belumlah 'like a pro'. Menulis sebagai bagian dari hobi pelepas penat (dulunya) saat ini kalah saing dengan aktivitas-aktivitas baru saya yang menyedot dan menyita tenaga.


Bisa saja saya meluangkan waktu khusus untuk konten 1 tulisan dalam 1 minggu. Tapi memang prioritas ga bisa bohong. Sejak pindah ke Tangerang, kelalaian saya mengerjakan pekerjaan domestik bakal berdampak langsung pada keuangan keluarga. Ga hanya karena ga masak lalu misal jadi nge Go-Food. Ga nyuci baju juga jadi boros berlipat ganda karena pasti jadi nge-Laundry.


Rumah sewaan yang kami tempati ini memang ga ada instalator mesin cuci. Rumahnya murni bawaan perumahan. Jadilah mesin cuci hanya bisa saya siasati agar bisa berfungsi pengeringnya. Sedangkan mencuci dan membilas, saya lakukan secara manual.


Tidak hanya mencuci, kebiasaan saya yang selama di US ga pernah nyetrika baju lalu disambut Corona sehingga suami ga perlu pake baju rapi (karena memang kerjaannya waktu itu belum jelas juga😅) tiba-tiba berubah drastis. Suami yang rutin kerja kantoran otomatis menuntut saya harus rutin nyetrika baju-baju kantornya. 


Selain perubahan pada pekerjaan domestik rumah tangga, prioritas aktivitas yang harus saya selesaikan berubah semenjak kehadiran si bungsu. Tidak mau mengulang kesalahan yang sama saat membesarkan kakak kembarnya, saya memang bertekad membatasi waktu bergawai. Alhasil, blog jarang banget kepegang 😁.


Memasuki tahun 2020 disaat si bungsu mulai bisa main sendiri dan main dengan abang kembarnya, anak-anak sekolahnya di rumah. Bukan karena pandemi tapi karena mereka milih untuk homeschooling. Jadilah fokus saya makin jauh dari ngeblog. Mempelajari hal-hal terkait homeschooling dan juga persiapan cimelekete homeschooling makin menyita waktu saya. 


Banyak hal yang hendak saya bagikan melalui blog seperti misalnya hal-hal terkait homeschooling. Sayang, tulisan saya mandeg di draft karena pikiran terkuras pada aktivitas pemberdayaan diri saya sebagi orang tua homeschooler. Mulai dari workshop sana sini dan juga kegiatan belajar bersama komunitas homeschooler.


Lucunya, disaat aktivitas mulai padat seperti ini, saya memutuskan untuk membuka kembalu usaha jasa titip barang yang dulu pernah saya lakukan. Tepatnya pada tahun 2019. Bisnis tinggi resiko ini tentu ga main-main saya lakukan. Alhasil? Sudah bisa ditebak otak saya makin ga mikirin blog 🙄.


Tapi, kehadiran komunitas 1m1c sungguh sudah menjadi bagian dari 'kebutuhan' saya. Suatu saat saya akan dan harus kembali menempa diri melalui menulis. Sehingga malam ini saya sempatkan menulis untuk disetorkan dan apesnya ternyata minggu ini minggu tema. Untung temanya rada nyambung dengan hari-hari saya yang sok sibuk😅🤭.


Ya begitulah akhir tahun penuh agenda ini. Masih ada beberapa agenda yang sifatnya rahasia wkwkwwkwk. Bukan. Bukan sibuk belanja harbolnas kok. 😆😆😆 Yoweslah itu aja. 🤭🤭🤭


Serpong, 12 Desember 2020



Kontribusi Muslimah dalam Pemenangan Dakwah

Kamis, 26 November 2020

Dakwah dan Muslimah

Siapa yang tidak mengenal Ummul Mukminin Khadijah Radiyallahu'anha? Istri pertama Rasulullah  yang menjadi orang pertama  yang mengimani kerasulan Nabi Muhammad . Tanpa sangkalan, tanpa banyak pertanyaan, Khadijah Radiyallahu'anha justru mengungkapkan sesuatu yang luar biasa saat itu seperti yang diriwayatkan dalam hadits:


أَبْشِرْ يَا ابْنَ عَمِّ وَاثْبُتْ فَوَالَّذِي نَفْسُ خَدِيجَةَ بِيَدِهِ! إنِّي لأَرْجُو أَنْ تَكُونَ نَبِيَّ هَذِهِ الأُمَّةِ

“Berbahagialah wahai putra pamanku dan teguhlah engkau. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya! Sungguh aku berharap engkau menjadi nabinya umat ini.” (Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 1/236).




Sebuah perkataan yang mencerminkan kecerdasan yang berlandaskan sebuah keimanan yang tidak akan keluar dari mulut orang yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang kerasulan. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa Khadijah Radiyallahu'anha memang sudah mengetahui berita kerasulan ini dan mengimaninya.


Dari riwayat Imam Ahmad, Rasulullah ﷺ pernah mengatakan kepada Khadijah:

إِنِّي أَرَى ضَوْءًا، وَأَسْمَعُ صَوْتًا، وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَكُونَ بِي جَنَنٌ”. قَالَتْ: لَمْ يَكُنِ اللهُ لِيَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ يَا ابْنَ عَبْدِ اللهِ. ثُمَّ أَتَتْ ورقة بن نوفل، فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ: إِنْ يَكُ صَادِقًا، فَإِنَّ هَذَا نَامُوسٌ مِثْلُ نَامُوسِ مُوسَى، فَإِنْ بُعِثَ وَأَنَا حَيُّ، فَسَأُعَزِّرُهُ، وَأَنْصُرُهُ، وَأُومِنُ بِهِ

“Sungguh aku melihat suatu cahaya. Aku mendengar suara. Aku takut kalau aku gila.” Khadijah menjawab, “Tidak mungkin Allah akan membuatmu demikian wahai putra Abdullah.” Kemudian Khadijah menemui Waraqah bin Naufal. Ia ceritakan keadaan tersebut padanya. “Jika benar, maka itu adalah Namus seperti Namusnya Musa. Sekiranya saat dia diutus dan aku masih hidup, aku akan melindunginya, menolongnya, dan beriman kepadanya,” kata Waraqah. (HR. Ahmad 2846).


Dalam riwayat lain diceritakan bahwa sebelum bertemu dengan Rasulullah ﷺ, Khadijah Radiyallahu'anha pernah mendengar berita kerasulan ini dari seorang Yahudi. Namun hadits tersebut lemah. Meski demikian, perjalanan Khadijah sehingga akhirnya menawarkan dirinya untuk dinikahi Rasulullah ﷺ sudah bisa menjadi bukti bahwa Khadijah merupakan perempuan spesial yang cerdas dan memiliki keimanan yang lurus. Berbeda dengan kebanyakan perempuan arab pada masa itu yang bersikap acuh terhadap ajaran tauhid yang dibawa para nabi terdahulu. 


Dakwah itu Berat

Dari kisah turunnya wahyu pertama ini, Allah azza wajalla seolah menyiratkan pesan yang bisa dipetik oleh setiap Muslimah bahwa perempuan memiliki peranan penting dalam dakwah Rasulullah ﷺ. Peranan yang sangat personal, yang bisa kita lihat dari kisah Rasul  ﷺ sepulang berdiam diri dari gua hira dan memperoleh wahyu pertama. Diceritakan bagaimana gemetarnya Rasul karena ketakutan setelah memperoleh wahyu pertama.


Gemetaran yang dirasakan Rasul  bukanlah rasa gemetaran biasa. Melainkan gemetaran hebat yang menandakan betapa sulit dan beratnya beban yang dipikul Nabi  saat menerima wahyu. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah:


إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS:Al-Muzzammil | Ayat: 5).


Kata berat dalam ayat ini bukan hanya mengandung pengertian secara maknawiah melainkan harfiah. Berat tersebut adalah dalam arti sebenarnya. Yang dirasakan oleh panca indera.

Hal ini dipertegas lagi oleh pengalaman sahabat Zaid bin Tsabit Radiyallahu'anhu. Ia mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ sedang mendapat wahyu:

لاَيَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah…” (QS:An-Nisaa | Ayat: 95).

Kemudian datang Ibnu Ummi Maktum yang menyebutkan ayat itu padaku. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya aku bisa berjihad, pasti aku akan berjihad’. Ia adalah seorang laki-laki buta. Kemudian Allah Tabaraka wa Ta’ala menambahkan ayat kepada Rasul-Nya ﷺ. Saat itu paha beliau berada di atas pahaku. Aku merasa begitu keberatan. Sampai-sampai aku khawatir pahaku remuk. Setelah itu dilanjutkan kepada beliau, Allah menurunkan:

غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ

“yang tidak mempunyai uzur” (QS:An-Nisaa | Ayat: 95). (HR. al-Bukhary, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, 2677, at-Turmudzi 3033, dan an-Nasa-I 4308).

Hadits ini menjelaskan kepada kita perkataan berat yang dimaksud dalam surat al-Muzammil  mencakup berat dalam arti sebenarnya. Bukan hanya secara maknawi. Sebagaimana yang dirasakan oleh Zaid bin Tsabit Radiyallahu'anhu. Demikian juga Aisyah Radiyallahu'anha meriwayatkan,

إِنْ كَانَ لَيُوحَى إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ، فَتَضْرِبُ بِجِرَانِهَا

“Apabila Rasulullah ﷺ menerima wahyu saat berada di atas tunggangannya (ontanya), maka bagian perut onta itu akan menempel ke tanah.” (HR. Ahmad 24912).

Artinya onta itu tak sanggup menahan beban Rasulullah ﷺ yang sedang menerima wahyu. Sehingga ia terduduk sampai perutnya menempel ke tanah.



Dalam kondisi yang tidaklah biasa ini, Khadijah Radiyallahu'anha mampu bersikap tenang dan memberi ketenangan. Sebuah sikap yang tidak akan ada jika seseorang tidaklah memiliki karakter seperti:


1. Cerdas

Terlihat dari sikap Khadijah Radiyallahu'anha yang tidak mempertanyakan tentang siapa itu Jibril, apa itu utusan Allah dan hal lain terkait cerita Rasulullah ﷺ sesaat setelah menerima wahyu pertama. Karakter cerdas ini pun sudah terlihat ketika Khadijah Radiyallahu'anha menawarkan dirinya untuk dipersunting Rasulullah ﷺ karena mengetahui bahwa Muhammad adalah bukan orang biasa.


2. Berkeyakinan

Tanpa keyakinan yang kuat, tidaklah mungkin Khadijah bisa dengan tenang menghadapi Rasulullah ﷺ yang pulang dalam kondisi gemetaran dan membawa cerita yang tidak masuk akal.


3. Lembut dan penyayang

Seperti yang terdapat dalam sebuah riwayat yang menceritakan bahwa setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah ﷺ kembali ke rumah menemui Khadijah dalam keadaan ketakutan. Beliau duduk di sisi Khadijah lalu semakin merapat padanya. Sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat:

فَجَلَسْتُ إلَى فَخِذِهَا مُضِيفًا إلَيْهَا

“Aku duduk di sisinya kemudian bersandar padanya.”


Riwayat ini menyiratkan bahwa Khadijah Radiyallahu'anha merupakan sosok istri yang lembut dan penyayang yang mampu memberi ketenangan kepada Rasulullah ﷺ. Khadijahlah orang pertama tempat Rasulullah ﷺ menceritakan segala hal yang dialaminya. Bukan sahabat lain seperti Abu Bakar atau pamannya sendiri Abu Thalib.


Bisa kita lihat juga disini bahwa peran Khadijah di masa awal Kenabian benar-benar bersifat personal.


Kemenangan Dakwah

Kapan dakwah dikatakan menang? Dalam pembahasan ini konteks pemenangan dakwah yang dimaksud adalah konteks umum. Sehingga dakwah bisa dikatakan menang ketika Islam sudah hadir ditengah masyarakat sebagai Rahmatan Lil'alamin. Artinya, manusia pembawa risalah dakwah telah menjalani peran-perannya dengan baik. . 


Apa saja peran kita sebagai manusia? Merujuk pada Al-Quran, peran manusia dalam hidup bisa dikelompokkan seperti berikut:


1. Peran sebagai hamba Allah - Qs. Adz-Dzariyat: 56.


Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.



2. Peran sebagai wali Allah (khalifah) - Qs. Al-Baqarah: 30


Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".


Sehingga dalam pemenangan dakwah, optimalisasi dua peran ini tentu sangat penting. Bagaimana kita sebagai Muslimah senantiasa membekali diri dengan ilmu agama (Islam, Iman dan Ihsan)9 agar bisa mengetahui instrumen penghambaan yang lurus. Implikasinya, tatkala kita hendak mengoptimalkan peran kekhalifahan, akan tercermin dari sikap kita yang terjaga karena peran penghambaan mempengaruhi karakter diri.


Ibarat dua sisi mata uang, dua peranan ini harus dilakukan seiring sejalan. Kita tidak bisa hanya memilih menjadi hamba yang taat, namun abai terhadap hak tubuh sendiri, tidak peduli terhadap keluarga, dan tidak peka dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. 


Begitu juga sebaliknya. Kita tidak bisa memilih menjadi manusia yang sibuk mengurus berbagai macam lini hidup, namun abai pada tugas-tugas penghambaan. Yang ada, kita hanya akan terkuras energi baik fisik maupun psikis. Karena hakikatnya, diri kita berada dalam genggaman Allah Ta'ala. Jika bukan Allah yang memudahkan segala urusan kita,tidak akan terurus segala macam hal yang kita targetkan. Jika pun kita dimampukanNya, tentu apa yang kita lakukan tersebut tidak memiliki jiwa, sehingga tidak mampu menyentuh jiwa, tidak membawa rahmat bagi sekitar.


Kontribusi


Tentunya banyak hal yang bisa dilakukan muslimah untuk berkontribusi dalam pemenangan dakwah.  Jika merujuk pada pengoptimalan peran seperti di atas, dan juga dari peran Khadijah Radiyallahu'anha di masa awal kenabian yang sifatnya sangat personal, maka kontribusi muslimah dalam pemenangan dakwah yaitu dengan terus memperbaiki diri sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah. Adapun wilayah aktualisasinya bisa mencakup beberapa ranah:


1. Ranah pribadi

Yaitu dengan menjadi pribadi yang menawan, berakhlakul kharimah. Dimanapun dia berada akan memberi inspirasi, motivasi dan juga solusi bagi sekitar. 


2. Ranah keluarga

Yaitu dengan menjadi anak yang taat kepada orang tua dan memahami dengan betul adab terhadap orang tua dan hak dan kewajiban sebagai anak.

Bagi yang sudah menikah, tentunya dengan menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Istri yang menenangkan untuk suaminya. Kehadirannya menjadi pelita, bukan sebaliknya. Tindak tanduknya adalah teladan.


3. Ranah sosial masyarakat

Yaitu dengan berperan aktif bersosial di tengah lingkungannya. Menjadi pribadi yang menyenangkan bagi tetangganya. Tempat bertanya dan mencari solusi bagi masyarakat awam sekitarnya. Inisiator kegiatan-kegiatan bermanfaat dan penggerak aktivitas qur'ani.


Belajar dari kisah Rasul  ﷺ, ada tahapan demi tahapan yang diberikan Allah ta'ala terhadap perjalanan kerasulan Nabiﷺ. Perjalanan sebelum akhirnya Nabi  dibebankan amanah dakwah. Dimulai dari kisah pembedahan dada Nabi oleh malaikat, mimpi-mimpi Nabi yang terasa sangat nyata, suara yang datang dari langit. Sebuah cara dari Allah ta'ala mempersiapkan Nabi ﷺ sebelum akhirnya wahyu pertama turun. 


Artinya, ketika sudah sampai pengetahuan tentang kewajiban amar ma'ruf nahyi mungkar kepada kita, tentu kita pun perlu mempersiapkan diri secara bertahap agar aktivitas dakwah bisa berpengaruh positif baik untuk diri kita sendiri, keluarga dan juga masyarakat dan lingkungan sekitar.


Sumber: kisahmuslim.com


Serpong, 26 November 2020






Metode Charlotte Mason Mengancam Aqidah Muslim

Kamis, 29 Oktober 2020

Bismillah


Asli bingung mulai dari mana hahaha


Jadi ceritanya saya memperoleh pertanyaan dari seorang teman terkait judul di atas. Melalui media sosial saya seusai saya berbagi info terkait metode Charlotte Mason (CM), yaitu seorang tokoh pendidikan berkebangsaan Inggris yang hidup di akhir tahun 1800an. Pertanyaannya awalnya begini,

Uni, ada yang bilang metode CM itu bersumber dari Injil, katanya CM sendiri yang bilang. Apa betul begitu? Lalu bagaimana kita sebagai Muslim menyikapinya? Sedangkan penyempurna semua kitab itu adalah Al-Qur'an.

Lalu saya sedikit meminta teman saya ini untuk mempertanyakan hal lebih detail kepada yang memberi info kepadanya, sehingga munculah pertanyaan lanjutan dari rekanan teman saya tadi. Bunyinya begini,

Siapa ahli pakar agama yang jadi rujukan komunitas CM Muslim untuk menyatakan CM aman bagi aqidah Muslim?

Jujur saja, saya merasa perlu membahas hal ini karena kaitannya dengan aqidah. Tadinya saya pikir ga usahlah dibahas karena kan masing-masing orang punya cara pandang sendiri. Tapi setelah saya pikir ulang, bisa saja kan ada yang ga kepikiran tentang hal ini dan ternyata memang benar aqidahnya terancam pasca mempelajari CM. Sehingga anggap saja tulisan ini sebagai jalan saya menyampaikan apa yang saya pahami dan peroleh. Lalu silahkan teman-teman nilai sendiri dari sudut pandang agama Islam yang teman-teman yakini.


Sekilas tentang Charlotte Mason

Memang benar adanya bahwa Bibel menjadi pegangan Miss Mason dalam berpikir. Setiap pemikiran yang dia sampaikan dalam buku-bukunya sangat kental nuansa religi versi Kristian. Makanya saya bilang dia seorang Kristian yang taat. Tapi ternyata, dalam pandangan orang Kristen sendiri di era sekarang, Miss Mason bukanlah seorang yang berpikir based on Christ. Ada yang memandang CM sebagai seorang liberal. Fakta ini saya peroleh dari website komunitas Charlotte Mason di US yang suka saya jadikan referensi dalam mempelajari CM. Berikut saya cantumkan Screenshot nya.



Tapi, menurut Art Middlekauff, seorang praktisi CM di US yang mengkaji tulisan CM, memaparkan bahwa apa yang CM sampaikan itu merupakan ajaran Kristus. Dia mencoba melakukan analisa kata yang kemudian dia temukan konten nya dalam kitab Matthew.



Saya tentu tidak tahu isi Bible, namun berdasarkan dua pandangan di atas, terlihat bahwa apapun agama atau golongannya, yang namanya perbedaan sudut pandang tentu selalu ada. Banyak komponen yang mempengaruhi sudut pandang kita. Mulai dari pengalaman, preferensi, dan lingkungan.


Ada banyak asumsi lain mengenai pemikiran Miss Mason ini yang tentu saya kurang mampu menjabarkan secara terperinci mengenai agamanya, kitab Bibel apa yang dia gunakan, dan bagaimana kondisi keberagamaan pada jaman dia menelurkan metode pendidikan yang sangat mendalam dan terperinci ini. Jika ada diantara teman-teman yang paham sejarah, saya sangat terbuka jika kita saling memperkaya informasi.


Yang pasti, teman-teman kristiani yang menggunakan metode ini pun memiliki sudut pandang yang beraneka ragam. Ada yang menekankan pada ajaran kristusnya dan ada yang menekankan pada pemikiran CM yang universal dan holistik (yang mungkin karena ini dia di cap liberal).

Jadi apakah metode Charlotte Mason bersumber dari Bibel langsung? Menurut saya perlu diteliti lebih lanjut.


Lalu kenapa saya tetep mempelajarinya?

Silahkan teman-teman baca kelenjutan tulisan ini ya.


Jika teman-teman masih tertarik. Jika tidak nyaman, tentu itu hak teman-teman untuk berhenti membacanya hingga disini.


Berikut info tambahan yang mungkin bisa teman-teman gunakan sebelum memulai mempelajari metode CM ini. 


Buku-buku Charlotte Mason

Ada 6 volum buku yang dihasilkan CM sepanjang hidupnya di dunia pendidikan. Saya kurang tau apakah 6 volum ini dia selesaikan per judul atau dia klasifikasikan setelah selesai atau justru diklasifikasikan oleh para pengikutnya. Yang pasti, 6 judul buku CM yang menjadi rujukan para praktisi adalah:


Volume 1: Home Education
Volume 2: Parents and Children
Volume 3: School Education
Volume 4: Ourselves
Volume 5: Formation of Character
Volume 6: A Philosophy of Education




Dari ke 6 buku ini, saya baru mengintip volum 1 dan 6 dan belum membacanya secara keseluruhan. Sedangkan volum yang lainnya belum pernah saya buka. Seperti yang saya sampaikan di snapgram saya, perjalanan saya mengenal Miss Mason ini masih panjang.

Sedikit keisengan saya mengecek penggunaan terminologi di dua buku CM volum 1 dan 2, dari tiga ratus lebih halaman lebih kurang, tak lebih dari 50 pengulangan dari kata-kata seperti Christ, Bible, dan Christiani. Yang saat saya cek konteksnya, lebih semacam aplikatif misal saat dia menjelaskan pembelajaran Bibel karena memang dia seorang Kristiani.

Jadi yang terbayang oleh saya adalah, dia seorang pemikir, pendidik dan penggerak di bidang pendidikan yang mencoba mendobrak pemikiran sekuler dari kaum agamis pada masa itu.


Di bawah ini sedikit pengalaman pribadi saya bertemu dengan metode CM.


4 Bulan Bersama Charlotte Mason

Saya mengenal CM di bulan April secara tidak sengaja karena celetukan seorang teman di DM IG yang berkomentar tentang caption yang saya paparkan di snapgram. Begini katanya:


Apa isi snapgram saya:



Berawal dari sinilah saya merasa tertarik mempelajari CM karena memang saya butuh landasan berpikir yang sistematis yang membantu saya mengurai ketidakmampuan saya mendefinisikan metode pendidikan seperti apa yang hendak saya paparkan untuk HS anak-anak.


Ibaratkan pertemuan dengan orang baru, sehabis pertemuan tak selalu diikuti dengan pengakraban. Butuh waktu tentunya hingga kita memutuskan, "oke, saya hendak kenalan lebih lanjut dengan dia". Itulah yang saya lakukan dengan metode ini.


Namun sembari menunggu hati memutuskan hal tersebut, saya melakukan profiling disana sini berbekal mesin Google. Sehingga baru bulan Juli lah saya memutuskan untuk mempelajari CM dengan sungguh-sungguh sembari memraktekkannya. Jadi, baru 4 bulan saya bersama Miss Mason ini 😁.


Sebelum Bulan Juli

Lalu apa yang saya lakukan sebelum bulan Juli? Saya menjalankan apa yang saya yakini, yaitu bergerak, bergerak, dan bergerak. Apakah dengan cara membaca, mendengarkan, mengamati, mendiskusikan, dan lain-lain. Karena penyakit utama dalam membersamai anak yang saya rasakan adalah, terhenti saat mendapati anak tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan (berharap kepada makhluk). Atau galau saat anak tidak memiliki aktivitas bermakna karena tidak terstrukturnya diri, padahal Allah dengan sangat jelas meminta kita untuk banyak membaca. Yang mana membaca akan membantu kita menjadi lebih terstruktur.


Bulan April hingga Juni 2020, saya mempelajari CM hanya berdua dengan suami. Banyak hal yang menjadi pertanyaan di benak kami. Namun saat itu kami berpikir bahwa tidak terlalu penting metode apa yang kita gunakan dalam HS. Yang penting anak-anak terperhatikan dengan baik. Daripada waktu terbuang untuk hal yang teoritis yang seringnya membuat saya berharap pada pemikiran manusia, mending kami fokus pada pembelajaran apa yang anak-anak berikan. Sehingga kami sering observasi untuk membuat pembelajaran bermakna buat anak-anak. (Yang saat saya baca CM ternyata inilah dia prinsip Children are born person)


Saya dan suami meyakini bahwa anak-anak adalah pembelajar sejati. Tanpa perlu kita rekayasa, kehidupan sehari-hari bisa menjadi sumber belajar yang paling baik buat anak-anak. Pemikiran seperti ini muncul karena sepanjang pengalaman kami membersamai anak-anak, belum ada satu suguhan stimulus pun yang diterima baik oleh anak-anak. (Yang saat ini melalui pemikiran CM saya jadi tau apa penyebabnya, yaitu karena mindset yang kurang tepat tentang hakikat anak yang mempengaruhi harapan kita terhadap anak. Dan juga ada tahap tumbuh kembang mereka yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Serta tidak terstrukturnya tindakan saya karena ketidakmampuan saya tadi dalam mengelola rasa dan pikiran tadi)


Bagaimana Metode Charlotte Mason dalam Pandangan Saya

Tidak ada yang sempurna di dunia melainkan hanyalah Allah. Ini sudah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.


Dan Maha Sempurna Allah memberikan tahapan lembut bagi saya dalam mengenal metode CM yang membuat pemikiran saya jadi lebih terbuka dan kehidupan saya jadi lebih bermakna. Bukan! Ini bukan testimoni kulit manggis 😅😅 Tapi ya mirip-miriplah. Karena saya merasakan perbedaan pola pikir setelah bertemu CM. Lebih kurang gini:


1. Dulu saya ragu dengan pola pendidikan yang saya berikan untuk anak-anak. Setelah mengenal CM, pemikirannya melengkapi puzzle yang belum saya miliki.


2. Dulu, apa yang saya yakini belum sepenuhnya saya yakini. Saya bilang saya meyakini namun dalam prakteknya saya goyah. Metode CM menjembatani keyakinan ini sehingga menjadi lebih kokoh. Saya jadi bisa mengetahui kekeliruan saya, kelemahan anak-anak dan kebutuhan keluarga dalam konteks pendidikan. 


3. Dulu, saya hanya bisa menerka apa yang saya lakukan bisa benar atau salah. Melalui metode CM, saya mulai memahami konsep benar-baik, hendak-ingin melalui filosofinya.


Dan masih banyak lagi yang belum sempat saya tuliskan. Namun melalui 3 poin ini saya hanya menyampaikan inilah jalan saya menemukan AHA Moment saya dalam pengasuhan khususnya, dan dalam hidup umumnya. Dengan bantuan metode CM. Dan ini saya! Belum tentu berlaku untuk teman-teman 😁.


Berarti saya tidak tersentuh dengan metode Islamic Parenting?

Metode yang dihadirkan para pakar pengasuhan Islam bukan tidak menyentuh saya. Melainkan kurang membantu saya berpikir tersistematis sehingga saya kurang bisa merelasikannya pada pengasuhan.


Selain itu, CM menyajikan suguhan kurikulum, bahan ajar dan juga teknis aplikasi yang cukup lengkap. Sedangkan dalam metode lain yang dipaparkan pakar Islam, sebut saja Ust. budi Ashari, metodenya belum menyeluruh menyentuh bidang pelajaran (kurang holistik). 


Ini menurut saya ya. 


Kemudian, beranjak dari sebuah ruh pemikiran yang senada yang saya temukan dalam butir pertama dari ringkasan filosofi CM yang tadi sempat saya singgung, yaitu:

Children are born person

Saya semakin tertarik untuk mengenal metode ini. 


Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Beberapa saat setelah saya bergabung di Perhimpunan Homeschooler Indonesia (PHI), ternyata para member PHI Bandung ada yang sedang mempelajari metode ini. Dan komunitas wilayah Bandung belum ada. Jadilah saya masuk ke grup tersebut untuk berkenalan lebih lanjut dengan CM.


Melalui aktivitas ikonik CM, narasi, saya 'nyemplung' dalam pemikiran CM yang disampaikan praktisi CM senior di Indonesia, mba Ellen Kristi namanya dalam bukunya yang berjudul "Berpikir Dengan Cinta". 


Baca juga: Review Buku Cinta Yang Berpikir


Meski beliau menyampaikan kembali pemikiran CM dalam bahasa yang cukup universal, saya tetap belum merasa terkoneksi dalam konteks Muslim (secara teknis). Justru yang membantu saya mengoneksikan pemikiran CM secara teknis dengan ajaran agama kita adalah suami saya yang memang pemikirannya jauh lebih terbuka dari saya.


Namun dalam perjalanannya, saya tetap tidak menerima sepenuhnya karena ada hal yang mengganjal dalam hati saya yang selalu saya pertanyakan dan jawaban suami saya kurang memuaskan saya 🙈. Pertanyaan saya begini:

Kenapa harus belajar CM dulu baru menyambungkannya dengan agama kita? Kenapa tidak sebaliknya?


Maksud saya, kegundahan saya karena saya merasa begitu getol mempelajari pemikiran manusia, namun masih terseok-seok mempelajari tauhid dan kajian aqidah lainnya. Dengan CM kenapa seolah-olah saya seperti mencari pembenaran pemikiran CM dengan menghubungkannya dengan ajaran Islam?


Namun diri ini tetap merasa butuh sebuah pemikiran tersistematis seperti yang CM suguhkan. Jadilah saya teruskan saja bersama CM dengan mengambil hal-hal aplikatifnya saja. Adapun filosofinya, kebanyakan berasal dari relasi berpikir hasil dari pertemuan pengetahuan-pengetahuan yang pernah saya peroleh. Termasuk di dalamnya hasil diskusi dengan teman-teman praktisi CM yang sudah terlebih dahulu membaca buku dan mendiskusikannya.


Melalui pemikiran CM saya memperoleh sudut pandang lain seperti bagaimana CM menyentuh sisi natural seorang perempuan yang diberikan amanah berharga oleh Tuhan, Allah ta'ala berupa seorang anak, yang membuat saya tidak bisa menolak apa yang dia sampaikan. Bukan karena lebih percaya kata CM, tapi merasa tertampar saja betapa mendalam nya dia memaknai amanah ini dari saya seorang Muslim.


Pengalaman ini senada dengan pengalaman saya memaknai perihal makanan halalan thoyyiban. Justru setelah merantau ke negara minoritas muslim lah saya baru mampu berelasi dengan apa yang Allah maksud. Bukan berarti sebelum merantau saya tidak meyakini apa yang Allah sampaikan. Hanya saja kurang merasakan saja. Mungkin karena inilah Allah menyuguhkan pembelajaran kepada saya melalui orang-orang di luar orang Islam.


Saya yang mendapati pemikiran CM yang menurut saya sangat 'Islami' dan membuat saya tertampar sebagai seorang Muslim yang masih saja mengkaji peran orang tua dari sudut pandang waktu, saya dulu dan saya sekarang. Yang menjadikan inner child sebagai pembenaran dalam setiap 'keteledoran' kita sebagai seorang ibu. Sehingga membuat saya merasa dimenangkan dan mewajarkan kebobrokan saya. Bukan karena ajaran Islam. Namun inilah kekurangan diri saya. Yang merasa 'jengah' dan Allah tampar melalui pemikiran orang dari agama lain yang jauh lebih religius dari saya 


Pemikiran CM mampu 'memanjakan' saya sebagai seorang ibu yang memiliki latar pengalaman pengasuhan kurang baik terhadap anak-anak. Melalui prinsip "a born person" yang sangat memanusiakan orang tua sebagai manusia kecil yang sudah dewasa. Namun pemikirannya ini mampu merangkul sisi dewasa kita yang matang ketimbang sisi anak-anak yang cenderung ingin selalu dimenangkan. Tanpa memaksa saya menjadi manusia dewasa, namun menitah saya perlahan mendefinisikan dewasa saya seutuhnya.


Jika bisa saya simpulkan, CM membantu scaffolding saya dalam pengasuhan. CM memecah kegaringan metode pengasuhan yang cenderung menyuguhkan kekacauan zaman yang membuat saya ketakutan dan pesimis tentang generasi mendatang. CM tidak mendikte melainkan membuat kita berpikir tentang apa dan mengapa nya kita dalam hidup, keluarga dan pendidikan anak kita. 


Metode ini menggiring saya untuk kembali melihat visi dan misi saya sebagai seorang Muslim. Kenapa? Karena CM meyakini bahwa  tujuan akhir yang menjadi pijakan kita mendidik anak adalah tujuan holistik, yaitu tujuan hidup, kenapa kita diciptakan. Lebih kurang seperti itu alur pemikirannya. Sangat jauh dari filosofi sesat yang pada akhirnya meniadakan Tuhan.


Komunitas CM Muslim

Sembari saya galau dan terus mencari jawaban atas pertanyaan saya di atas, saya tetap aktif bergabung di kelas narasi dan mencari praktisi CM Muslim tak hanya di Indonesia. Sayangnya, belum ada yang mampu menjawab kegelisahan saya.


Memasuki kelas narasi ketiga di komunitas CM Bandung, kami difasiltasi oleh Mba Qonita. Kebetulan saat itu bahasannya mengenai filosofi keluarga. Mba Qonita sering sekali menyinggung visi misi yang bernunasa Islami. Sehingga tanpa basa basi, seusai kelas narasi saya bertanya langsung ke beliau tentang maksud dan tujuan saya. Dan begini jawabannya:




Tak berapa lama (yang saat itu bagi saya kerasa lama 😅😂), munculah workshop yang dimaksud yang komunitasnya diberi nama 'Menyemai Hikmah'. Yang saat ini menjadi komunitas baru yang berisi para praktisi dan pembelajar metode Charlotte Mason Muslim. Yang penasaran ini link Instagram Menyemai Hikmah. Melalui workshop inilah saya tercerahkan. 

Selengkapnya bisa dibaca ditautan di bawah ini.


Baca juga: Workshop Menyemai Hikmah


Setiap orang pasti memiliki pengalaman berbeda dalam mempelajari metode CM ini. Hal di atas merupakan pengalaman saya. Yang saya rasa tidak mengusik keimanan atau aqidah saya sama sekali melainkan hanya terbentur pada teknis pembelajaran, seperti:


1. Bagaimana melakukan narasi?

2. Adakah salah benar dalam bernarasi?

3. Apa itu living book?

4. Dimana mendapatkan living book?

5. Bagaimana membuat kurikulum based on CM method?

6. Bolehkah membuat kurikulum sendiri biar bisa customised agama?


Dan ternyata dengan mempelajari terus menerus bersama komunitas, membantu mempercepat pemahaman dan mulai merasakan betapa fleksibelnya metode ini dengan nilai-nilai yang kuat yang bersifat universal.


Jika ada manfaat berlimpah yang bisa kita peroleh untuk menuai hasil berupa generasi Muslim yang berkualitas, kenapa tidak untuk mengadopsi metodenya. Betul ga?


Prinsip yang berjumlah 20 butir itu sangat mungkin kita serap dalam nilai-nilai Islam. Praktek pembelajaran Quran dan Islam pun sangat bisa diterapkan menggunakan metode ini. Pun jika kita meyakini metode lain dalam mempelajari Al-Quran, tidak lah salah selama tujuannya untuk menjembatani anak menemukan jalan Islamnya, bukan sekedar doktrinasi lemah yang bisa saja goyah saat anak tak lagi bersama kita.


Ada 3 instrumen yang menurut saya kita sudah ketahui, dan Islam sudah sampaikan melalui teladan nabi kita Muhammad salallahu'alaihiwassalam. Namun, bahasa CM membantu saya berelasi lebih dalam dari sebelumnya. Apa itu?


1. Atmosfer. Yang dalam agama kita berupa keteladanan. Tak hanya dari orang tua semata, tapi lebih luas lagi yaitu lingkungan. Tak hanya orang-orang nya namun juga benda-benda sekitar anak-anak. Sehingga ketika kita mengidamkan anak yang melek literasi, maka membentuk atmosfer yang baik untuk mewujudkannya tak sebatas memberi contoh rajin membaca atau menyuguhkan buku-buku kepada anak. Namun dengan meyakini bahwa apa yang kita usung itu adalah jalan mencapai tujuan akhir hidup kita.


2. Life. Yang dalam agama Islam kita ketahui bahwa Al-Quran turun berupa kisah. Nabi pun suka berkisah. Yang mana dua sumber belajar utama kita sebagai seorang muslim yaitu Alquran dan Assunnah menggunakan metode yang memantik ide hidup. Ide yang tidak sebatas fakta melainkan suguhan yang bisa berelasi satu sama lain yang membantu kita lebih meaningful menjalani hidup.


3. Disiplin. Tanpa perlu ditanya, Islam sudah sangat jelas memiliki instrumen ini dalam setiap ibadah kita. Ada aturan waktu yang mengikat dan melatih disiplin kita. Ada adab yang harus kita jaga disetiap gerak gerik kita. Yang tentu hanya bisa kita terapkan dengan kedisiplinan.


Tidak salah jika kita menggunakan pemikiran orang lain untuk mengukuhkan iman melalui pengetahuan yang kaya. Yang salah adalah ketika kita merasa puas dengan apa yang kita lakukan saat ini sedangkan Allah menyuguhkan ilmu yang sangat luas untuk menjadi bekal akhirat kita. 


Penutup

Tidak akan cukup 1 postingan untuk menyampaikan manfaat positif dari metode ini. Jika penasaran, sangat bisa kita pelajari mandiri. Jika tidak nyaman, tentu hak kita untuk tidak menggunakannya. Prinsipnya, tidak ada kesempurnaan di dunia ini selain kesempurnaan Allah. CM hanyalah salah satu dari sekian banyak metode.

Dalam hidup saya, bertemu dengan metode CM sangat membantu. Bagi teman-teman tentu bisa berbeda. Yang terpenting, selama kita menjaga fitrah seorang anak yang dikirimkan Allah sangat sempurna untuk kita (bukan dalam konteks fisik ya melainkan sempurna ruh dan pikirannya), tentu apapun metodenya akan menjadi wasilah keberhasilan kita sebagai orang tua, melahirkan generasi Rabbani. Keberhasilan yang baru akan terlihat hasilnya di akhirat kelak. Apakah akan menjadi timbangan baik kita, atau sebaliknya.


Ini yang bisa saya sampaikan. Tanpa bermaksud membenarkan pemikiran pribadi. Pengalaman saya mungkin tidak bisa menjawab pertanyaan di atas. Namun mungkin bisa membantu teman-teman meraba-raba, apakah benar metode CM mengancam aqidah kita sebagai seorang Muslim?


Batujajar, 29 Oktober 2020