MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Kontribusi Muslimah dalam Pemenangan Dakwah

Kamis, 26 November 2020

Dakwah dan Muslimah

Siapa yang tidak mengenal Ummul Mukminin Khadijah Radiyallahu'anha? Istri pertama Rasulullah  yang menjadi orang pertama  yang mengimani kerasulan Nabi Muhammad . Tanpa sangkalan, tanpa banyak pertanyaan, Khadijah Radiyallahu'anha justru mengungkapkan sesuatu yang luar biasa saat itu seperti yang diriwayatkan dalam hadits:


أَبْشِرْ يَا ابْنَ عَمِّ وَاثْبُتْ فَوَالَّذِي نَفْسُ خَدِيجَةَ بِيَدِهِ! إنِّي لأَرْجُو أَنْ تَكُونَ نَبِيَّ هَذِهِ الأُمَّةِ

“Berbahagialah wahai putra pamanku dan teguhlah engkau. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya! Sungguh aku berharap engkau menjadi nabinya umat ini.” (Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 1/236).




Sebuah perkataan yang mencerminkan kecerdasan yang berlandaskan sebuah keimanan yang tidak akan keluar dari mulut orang yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang kerasulan. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa Khadijah Radiyallahu'anha memang sudah mengetahui berita kerasulan ini dan mengimaninya.


Dari riwayat Imam Ahmad, Rasulullah ﷺ pernah mengatakan kepada Khadijah:

إِنِّي أَرَى ضَوْءًا، وَأَسْمَعُ صَوْتًا، وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَكُونَ بِي جَنَنٌ”. قَالَتْ: لَمْ يَكُنِ اللهُ لِيَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ يَا ابْنَ عَبْدِ اللهِ. ثُمَّ أَتَتْ ورقة بن نوفل، فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ: إِنْ يَكُ صَادِقًا، فَإِنَّ هَذَا نَامُوسٌ مِثْلُ نَامُوسِ مُوسَى، فَإِنْ بُعِثَ وَأَنَا حَيُّ، فَسَأُعَزِّرُهُ، وَأَنْصُرُهُ، وَأُومِنُ بِهِ

“Sungguh aku melihat suatu cahaya. Aku mendengar suara. Aku takut kalau aku gila.” Khadijah menjawab, “Tidak mungkin Allah akan membuatmu demikian wahai putra Abdullah.” Kemudian Khadijah menemui Waraqah bin Naufal. Ia ceritakan keadaan tersebut padanya. “Jika benar, maka itu adalah Namus seperti Namusnya Musa. Sekiranya saat dia diutus dan aku masih hidup, aku akan melindunginya, menolongnya, dan beriman kepadanya,” kata Waraqah. (HR. Ahmad 2846).


Dalam riwayat lain diceritakan bahwa sebelum bertemu dengan Rasulullah ﷺ, Khadijah Radiyallahu'anha pernah mendengar berita kerasulan ini dari seorang Yahudi. Namun hadits tersebut lemah. Meski demikian, perjalanan Khadijah sehingga akhirnya menawarkan dirinya untuk dinikahi Rasulullah ﷺ sudah bisa menjadi bukti bahwa Khadijah merupakan perempuan spesial yang cerdas dan memiliki keimanan yang lurus. Berbeda dengan kebanyakan perempuan arab pada masa itu yang bersikap acuh terhadap ajaran tauhid yang dibawa para nabi terdahulu. 


Dakwah itu Berat

Dari kisah turunnya wahyu pertama ini, Allah azza wajalla seolah menyiratkan pesan yang bisa dipetik oleh setiap Muslimah bahwa perempuan memiliki peranan penting dalam dakwah Rasulullah ﷺ. Peranan yang sangat personal, yang bisa kita lihat dari kisah Rasul  ﷺ sepulang berdiam diri dari gua hira dan memperoleh wahyu pertama. Diceritakan bagaimana gemetarnya Rasul karena ketakutan setelah memperoleh wahyu pertama.


Gemetaran yang dirasakan Rasul  bukanlah rasa gemetaran biasa. Melainkan gemetaran hebat yang menandakan betapa sulit dan beratnya beban yang dipikul Nabi  saat menerima wahyu. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah:


إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS:Al-Muzzammil | Ayat: 5).


Kata berat dalam ayat ini bukan hanya mengandung pengertian secara maknawiah melainkan harfiah. Berat tersebut adalah dalam arti sebenarnya. Yang dirasakan oleh panca indera.

Hal ini dipertegas lagi oleh pengalaman sahabat Zaid bin Tsabit Radiyallahu'anhu. Ia mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ sedang mendapat wahyu:

لاَيَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah…” (QS:An-Nisaa | Ayat: 95).

Kemudian datang Ibnu Ummi Maktum yang menyebutkan ayat itu padaku. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya aku bisa berjihad, pasti aku akan berjihad’. Ia adalah seorang laki-laki buta. Kemudian Allah Tabaraka wa Ta’ala menambahkan ayat kepada Rasul-Nya ﷺ. Saat itu paha beliau berada di atas pahaku. Aku merasa begitu keberatan. Sampai-sampai aku khawatir pahaku remuk. Setelah itu dilanjutkan kepada beliau, Allah menurunkan:

غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ

“yang tidak mempunyai uzur” (QS:An-Nisaa | Ayat: 95). (HR. al-Bukhary, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, 2677, at-Turmudzi 3033, dan an-Nasa-I 4308).

Hadits ini menjelaskan kepada kita perkataan berat yang dimaksud dalam surat al-Muzammil  mencakup berat dalam arti sebenarnya. Bukan hanya secara maknawi. Sebagaimana yang dirasakan oleh Zaid bin Tsabit Radiyallahu'anhu. Demikian juga Aisyah Radiyallahu'anha meriwayatkan,

إِنْ كَانَ لَيُوحَى إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ، فَتَضْرِبُ بِجِرَانِهَا

“Apabila Rasulullah ﷺ menerima wahyu saat berada di atas tunggangannya (ontanya), maka bagian perut onta itu akan menempel ke tanah.” (HR. Ahmad 24912).

Artinya onta itu tak sanggup menahan beban Rasulullah ﷺ yang sedang menerima wahyu. Sehingga ia terduduk sampai perutnya menempel ke tanah.



Dalam kondisi yang tidaklah biasa ini, Khadijah Radiyallahu'anha mampu bersikap tenang dan memberi ketenangan. Sebuah sikap yang tidak akan ada jika seseorang tidaklah memiliki karakter seperti:


1. Cerdas

Terlihat dari sikap Khadijah Radiyallahu'anha yang tidak mempertanyakan tentang siapa itu Jibril, apa itu utusan Allah dan hal lain terkait cerita Rasulullah ﷺ sesaat setelah menerima wahyu pertama. Karakter cerdas ini pun sudah terlihat ketika Khadijah Radiyallahu'anha menawarkan dirinya untuk dipersunting Rasulullah ﷺ karena mengetahui bahwa Muhammad adalah bukan orang biasa.


2. Berkeyakinan

Tanpa keyakinan yang kuat, tidaklah mungkin Khadijah bisa dengan tenang menghadapi Rasulullah ﷺ yang pulang dalam kondisi gemetaran dan membawa cerita yang tidak masuk akal.


3. Lembut dan penyayang

Seperti yang terdapat dalam sebuah riwayat yang menceritakan bahwa setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah ﷺ kembali ke rumah menemui Khadijah dalam keadaan ketakutan. Beliau duduk di sisi Khadijah lalu semakin merapat padanya. Sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat:

فَجَلَسْتُ إلَى فَخِذِهَا مُضِيفًا إلَيْهَا

“Aku duduk di sisinya kemudian bersandar padanya.”


Riwayat ini menyiratkan bahwa Khadijah Radiyallahu'anha merupakan sosok istri yang lembut dan penyayang yang mampu memberi ketenangan kepada Rasulullah ﷺ. Khadijahlah orang pertama tempat Rasulullah ﷺ menceritakan segala hal yang dialaminya. Bukan sahabat lain seperti Abu Bakar atau pamannya sendiri Abu Thalib.


Bisa kita lihat juga disini bahwa peran Khadijah di masa awal Kenabian benar-benar bersifat personal.


Kemenangan Dakwah

Kapan dakwah dikatakan menang? Dalam pembahasan ini konteks pemenangan dakwah yang dimaksud adalah konteks umum. Sehingga dakwah bisa dikatakan menang ketika Islam sudah hadir ditengah masyarakat sebagai Rahmatan Lil'alamin. Artinya, manusia pembawa risalah dakwah telah menjalani peran-perannya dengan baik. . 


Apa saja peran kita sebagai manusia? Merujuk pada Al-Quran, peran manusia dalam hidup bisa dikelompokkan seperti berikut:


1. Peran sebagai hamba Allah - Qs. Adz-Dzariyat: 56.


Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.



2. Peran sebagai wali Allah (khalifah) - Qs. Al-Baqarah: 30


Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".


Sehingga dalam pemenangan dakwah, optimalisasi dua peran ini tentu sangat penting. Bagaimana kita sebagai Muslimah senantiasa membekali diri dengan ilmu agama (Islam, Iman dan Ihsan)9 agar bisa mengetahui instrumen penghambaan yang lurus. Implikasinya, tatkala kita hendak mengoptimalkan peran kekhalifahan, akan tercermin dari sikap kita yang terjaga karena peran penghambaan mempengaruhi karakter diri.


Ibarat dua sisi mata uang, dua peranan ini harus dilakukan seiring sejalan. Kita tidak bisa hanya memilih menjadi hamba yang taat, namun abai terhadap hak tubuh sendiri, tidak peduli terhadap keluarga, dan tidak peka dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. 


Begitu juga sebaliknya. Kita tidak bisa memilih menjadi manusia yang sibuk mengurus berbagai macam lini hidup, namun abai pada tugas-tugas penghambaan. Yang ada, kita hanya akan terkuras energi baik fisik maupun psikis. Karena hakikatnya, diri kita berada dalam genggaman Allah Ta'ala. Jika bukan Allah yang memudahkan segala urusan kita,tidak akan terurus segala macam hal yang kita targetkan. Jika pun kita dimampukanNya, tentu apa yang kita lakukan tersebut tidak memiliki jiwa, sehingga tidak mampu menyentuh jiwa, tidak membawa rahmat bagi sekitar.


Kontribusi


Tentunya banyak hal yang bisa dilakukan muslimah untuk berkontribusi dalam pemenangan dakwah.  Jika merujuk pada pengoptimalan peran seperti di atas, dan juga dari peran Khadijah Radiyallahu'anha di masa awal kenabian yang sifatnya sangat personal, maka kontribusi muslimah dalam pemenangan dakwah yaitu dengan terus memperbaiki diri sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah. Adapun wilayah aktualisasinya bisa mencakup beberapa ranah:


1. Ranah pribadi

Yaitu dengan menjadi pribadi yang menawan, berakhlakul kharimah. Dimanapun dia berada akan memberi inspirasi, motivasi dan juga solusi bagi sekitar. 


2. Ranah keluarga

Yaitu dengan menjadi anak yang taat kepada orang tua dan memahami dengan betul adab terhadap orang tua dan hak dan kewajiban sebagai anak.

Bagi yang sudah menikah, tentunya dengan menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Istri yang menenangkan untuk suaminya. Kehadirannya menjadi pelita, bukan sebaliknya. Tindak tanduknya adalah teladan.


3. Ranah sosial masyarakat

Yaitu dengan berperan aktif bersosial di tengah lingkungannya. Menjadi pribadi yang menyenangkan bagi tetangganya. Tempat bertanya dan mencari solusi bagi masyarakat awam sekitarnya. Inisiator kegiatan-kegiatan bermanfaat dan penggerak aktivitas qur'ani.


Belajar dari kisah Rasul  ﷺ, ada tahapan demi tahapan yang diberikan Allah ta'ala terhadap perjalanan kerasulan Nabiﷺ. Perjalanan sebelum akhirnya Nabi  dibebankan amanah dakwah. Dimulai dari kisah pembedahan dada Nabi oleh malaikat, mimpi-mimpi Nabi yang terasa sangat nyata, suara yang datang dari langit. Sebuah cara dari Allah ta'ala mempersiapkan Nabi ﷺ sebelum akhirnya wahyu pertama turun. 


Artinya, ketika sudah sampai pengetahuan tentang kewajiban amar ma'ruf nahyi mungkar kepada kita, tentu kita pun perlu mempersiapkan diri secara bertahap agar aktivitas dakwah bisa berpengaruh positif baik untuk diri kita sendiri, keluarga dan juga masyarakat dan lingkungan sekitar.


Sumber: kisahmuslim.com


Serpong, 26 November 2020






Metode Charlotte Mason Mengancam Aqidah Muslim

Kamis, 29 Oktober 2020

Bismillah


Asli bingung mulai dari mana hahaha


Jadi ceritanya saya memperoleh pertanyaan dari seorang teman terkait judul di atas. Melalui media sosial saya seusai saya berbagi info terkait metode Charlotte Mason (CM), yaitu seorang tokoh pendidikan berkebangsaan Inggris yang hidup di akhir tahun 1800an. Pertanyaannya awalnya begini,

Uni, ada yang bilang metode CM itu bersumber dari Injil, katanya CM sendiri yang bilang. Apa betul begitu? Lalu bagaimana kita sebagai Muslim menyikapinya? Sedangkan penyempurna semua kitab itu adalah Al-Qur'an.

Lalu saya sedikit meminta teman saya ini untuk mempertanyakan hal lebih detail kepada yang memberi info kepadanya, sehingga munculah pertanyaan lanjutan dari rekanan teman saya tadi. Bunyinya begini,

Siapa ahli pakar agama yang jadi rujukan komunitas CM Muslim untuk menyatakan CM aman bagi aqidah Muslim?

Jujur saja, saya merasa perlu membahas hal ini karena kaitannya dengan aqidah. Tadinya saya pikir ga usahlah dibahas karena kan masing-masing orang punya cara pandang sendiri. Tapi setelah saya pikir ulang, bisa saja kan ada yang ga kepikiran tentang hal ini dan ternyata memang benar aqidahnya terancam pasca mempelajari CM. Sehingga anggap saja tulisan ini sebagai jalan saya menyampaikan apa yang saya pahami dan peroleh. Lalu silahkan teman-teman nilai sendiri dari sudut pandang agama Islam yang teman-teman yakini.


Sekilas tentang Charlotte Mason

Memang benar adanya bahwa Bibel menjadi pegangan Miss Mason dalam berpikir. Setiap pemikiran yang dia sampaikan dalam buku-bukunya sangat kental nuansa religi versi Kristian. Makanya saya bilang dia seorang Kristian yang taat. Tapi ternyata, dalam pandangan orang Kristen sendiri di era sekarang, Miss Mason bukanlah seorang yang berpikir based on Christ. Ada yang memandang CM sebagai seorang liberal. Fakta ini saya peroleh dari website komunitas Charlotte Mason di US yang suka saya jadikan referensi dalam mempelajari CM. Berikut saya cantumkan Screenshot nya.



Tapi, menurut Art Middlekauff, seorang praktisi CM di US yang mengkaji tulisan CM, memaparkan bahwa apa yang CM sampaikan itu merupakan ajaran Kristus. Dia mencoba melakukan analisa kata yang kemudian dia temukan konten nya dalam kitab Matthew.



Saya tentu tidak tahu isi Bible, namun berdasarkan dua pandangan di atas, terlihat bahwa apapun agama atau golongannya, yang namanya perbedaan sudut pandang tentu selalu ada. Banyak komponen yang mempengaruhi sudut pandang kita. Mulai dari pengalaman, preferensi, dan lingkungan.


Ada banyak asumsi lain mengenai pemikiran Miss Mason ini yang tentu saya kurang mampu menjabarkan secara terperinci mengenai agamanya, kitab Bibel apa yang dia gunakan, dan bagaimana kondisi keberagamaan pada jaman dia menelurkan metode pendidikan yang sangat mendalam dan terperinci ini. Jika ada diantara teman-teman yang paham sejarah, saya sangat terbuka jika kita saling memperkaya informasi.


Yang pasti, teman-teman kristiani yang menggunakan metode ini pun memiliki sudut pandang yang beraneka ragam. Ada yang menekankan pada ajaran kristusnya dan ada yang menekankan pada pemikiran CM yang universal dan holistik (yang mungkin karena ini dia di cap liberal).

Jadi apakah metode Charlotte Mason bersumber dari Bibel langsung? Menurut saya perlu diteliti lebih lanjut.


Lalu kenapa saya tetep mempelajarinya?

Silahkan teman-teman baca kelenjutan tulisan ini ya.


Jika teman-teman masih tertarik. Jika tidak nyaman, tentu itu hak teman-teman untuk berhenti membacanya hingga disini.


Berikut info tambahan yang mungkin bisa teman-teman gunakan sebelum memulai mempelajari metode CM ini. 


Buku-buku Charlotte Mason

Ada 6 volum buku yang dihasilkan CM sepanjang hidupnya di dunia pendidikan. Saya kurang tau apakah 6 volum ini dia selesaikan per judul atau dia klasifikasikan setelah selesai atau justru diklasifikasikan oleh para pengikutnya. Yang pasti, 6 judul buku CM yang menjadi rujukan para praktisi adalah:


Volume 1: Home Education
Volume 2: Parents and Children
Volume 3: School Education
Volume 4: Ourselves
Volume 5: Formation of Character
Volume 6: A Philosophy of Education




Dari ke 6 buku ini, saya baru mengintip volum 1 dan 6 dan belum membacanya secara keseluruhan. Sedangkan volum yang lainnya belum pernah saya buka. Seperti yang saya sampaikan di snapgram saya, perjalanan saya mengenal Miss Mason ini masih panjang.

Sedikit keisengan saya mengecek penggunaan terminologi di dua buku CM volum 1 dan 2, dari tiga ratus lebih halaman lebih kurang, tak lebih dari 50 pengulangan dari kata-kata seperti Christ, Bible, dan Christiani. Yang saat saya cek konteksnya, lebih semacam aplikatif misal saat dia menjelaskan pembelajaran Bibel karena memang dia seorang Kristiani.

Jadi yang terbayang oleh saya adalah, dia seorang pemikir, pendidik dan penggerak di bidang pendidikan yang mencoba mendobrak pemikiran sekuler dari kaum agamis pada masa itu.


Di bawah ini sedikit pengalaman pribadi saya bertemu dengan metode CM.


4 Bulan Bersama Charlotte Mason

Saya mengenal CM di bulan April secara tidak sengaja karena celetukan seorang teman di DM IG yang berkomentar tentang caption yang saya paparkan di snapgram. Begini katanya:


Apa isi snapgram saya:



Berawal dari sinilah saya merasa tertarik mempelajari CM karena memang saya butuh landasan berpikir yang sistematis yang membantu saya mengurai ketidakmampuan saya mendefinisikan metode pendidikan seperti apa yang hendak saya paparkan untuk HS anak-anak.


Ibaratkan pertemuan dengan orang baru, sehabis pertemuan tak selalu diikuti dengan pengakraban. Butuh waktu tentunya hingga kita memutuskan, "oke, saya hendak kenalan lebih lanjut dengan dia". Itulah yang saya lakukan dengan metode ini.


Namun sembari menunggu hati memutuskan hal tersebut, saya melakukan profiling disana sini berbekal mesin Google. Sehingga baru bulan Juli lah saya memutuskan untuk mempelajari CM dengan sungguh-sungguh sembari memraktekkannya. Jadi, baru 4 bulan saya bersama Miss Mason ini 😁.


Sebelum Bulan Juli

Lalu apa yang saya lakukan sebelum bulan Juli? Saya menjalankan apa yang saya yakini, yaitu bergerak, bergerak, dan bergerak. Apakah dengan cara membaca, mendengarkan, mengamati, mendiskusikan, dan lain-lain. Karena penyakit utama dalam membersamai anak yang saya rasakan adalah, terhenti saat mendapati anak tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan (berharap kepada makhluk). Atau galau saat anak tidak memiliki aktivitas bermakna karena tidak terstrukturnya diri, padahal Allah dengan sangat jelas meminta kita untuk banyak membaca. Yang mana membaca akan membantu kita menjadi lebih terstruktur.


Bulan April hingga Juni 2020, saya mempelajari CM hanya berdua dengan suami. Banyak hal yang menjadi pertanyaan di benak kami. Namun saat itu kami berpikir bahwa tidak terlalu penting metode apa yang kita gunakan dalam HS. Yang penting anak-anak terperhatikan dengan baik. Daripada waktu terbuang untuk hal yang teoritis yang seringnya membuat saya berharap pada pemikiran manusia, mending kami fokus pada pembelajaran apa yang anak-anak berikan. Sehingga kami sering observasi untuk membuat pembelajaran bermakna buat anak-anak. (Yang saat saya baca CM ternyata inilah dia prinsip Children are born person)


Saya dan suami meyakini bahwa anak-anak adalah pembelajar sejati. Tanpa perlu kita rekayasa, kehidupan sehari-hari bisa menjadi sumber belajar yang paling baik buat anak-anak. Pemikiran seperti ini muncul karena sepanjang pengalaman kami membersamai anak-anak, belum ada satu suguhan stimulus pun yang diterima baik oleh anak-anak. (Yang saat ini melalui pemikiran CM saya jadi tau apa penyebabnya, yaitu karena mindset yang kurang tepat tentang hakikat anak yang mempengaruhi harapan kita terhadap anak. Dan juga ada tahap tumbuh kembang mereka yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Serta tidak terstrukturnya tindakan saya karena ketidakmampuan saya tadi dalam mengelola rasa dan pikiran tadi)


Bagaimana Metode Charlotte Mason dalam Pandangan Saya

Tidak ada yang sempurna di dunia melainkan hanyalah Allah. Ini sudah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.


Dan Maha Sempurna Allah memberikan tahapan lembut bagi saya dalam mengenal metode CM yang membuat pemikiran saya jadi lebih terbuka dan kehidupan saya jadi lebih bermakna. Bukan! Ini bukan testimoni kulit manggis 😅😅 Tapi ya mirip-miriplah. Karena saya merasakan perbedaan pola pikir setelah bertemu CM. Lebih kurang gini:


1. Dulu saya ragu dengan pola pendidikan yang saya berikan untuk anak-anak. Setelah mengenal CM, pemikirannya melengkapi puzzle yang belum saya miliki.


2. Dulu, apa yang saya yakini belum sepenuhnya saya yakini. Saya bilang saya meyakini namun dalam prakteknya saya goyah. Metode CM menjembatani keyakinan ini sehingga menjadi lebih kokoh. Saya jadi bisa mengetahui kekeliruan saya, kelemahan anak-anak dan kebutuhan keluarga dalam konteks pendidikan. 


3. Dulu, saya hanya bisa menerka apa yang saya lakukan bisa benar atau salah. Melalui metode CM, saya mulai memahami konsep benar-baik, hendak-ingin melalui filosofinya.


Dan masih banyak lagi yang belum sempat saya tuliskan. Namun melalui 3 poin ini saya hanya menyampaikan inilah jalan saya menemukan AHA Moment saya dalam pengasuhan khususnya, dan dalam hidup umumnya. Dengan bantuan metode CM. Dan ini saya! Belum tentu berlaku untuk teman-teman 😁.


Berarti saya tidak tersentuh dengan metode Islamic Parenting?

Metode yang dihadirkan para pakar pengasuhan Islam bukan tidak menyentuh saya. Melainkan kurang membantu saya berpikir tersistematis sehingga saya kurang bisa merelasikannya pada pengasuhan.


Selain itu, CM menyajikan suguhan kurikulum, bahan ajar dan juga teknis aplikasi yang cukup lengkap. Sedangkan dalam metode lain yang dipaparkan pakar Islam, sebut saja Ust. budi Ashari, metodenya belum menyeluruh menyentuh bidang pelajaran (kurang holistik). 


Ini menurut saya ya. 


Kemudian, beranjak dari sebuah ruh pemikiran yang senada yang saya temukan dalam butir pertama dari ringkasan filosofi CM yang tadi sempat saya singgung, yaitu:

Children are born person

Saya semakin tertarik untuk mengenal metode ini. 


Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Beberapa saat setelah saya bergabung di Perhimpunan Homeschooler Indonesia (PHI), ternyata para member PHI Bandung ada yang sedang mempelajari metode ini. Dan komunitas wilayah Bandung belum ada. Jadilah saya masuk ke grup tersebut untuk berkenalan lebih lanjut dengan CM.


Melalui aktivitas ikonik CM, narasi, saya 'nyemplung' dalam pemikiran CM yang disampaikan praktisi CM senior di Indonesia, mba Ellen Kristi namanya dalam bukunya yang berjudul "Berpikir Dengan Cinta". 


Baca juga: Review Buku Cinta Yang Berpikir


Meski beliau menyampaikan kembali pemikiran CM dalam bahasa yang cukup universal, saya tetap belum merasa terkoneksi dalam konteks Muslim (secara teknis). Justru yang membantu saya mengoneksikan pemikiran CM secara teknis dengan ajaran agama kita adalah suami saya yang memang pemikirannya jauh lebih terbuka dari saya.


Namun dalam perjalanannya, saya tetap tidak menerima sepenuhnya karena ada hal yang mengganjal dalam hati saya yang selalu saya pertanyakan dan jawaban suami saya kurang memuaskan saya 🙈. Pertanyaan saya begini:

Kenapa harus belajar CM dulu baru menyambungkannya dengan agama kita? Kenapa tidak sebaliknya?


Maksud saya, kegundahan saya karena saya merasa begitu getol mempelajari pemikiran manusia, namun masih terseok-seok mempelajari tauhid dan kajian aqidah lainnya. Dengan CM kenapa seolah-olah saya seperti mencari pembenaran pemikiran CM dengan menghubungkannya dengan ajaran Islam?


Namun diri ini tetap merasa butuh sebuah pemikiran tersistematis seperti yang CM suguhkan. Jadilah saya teruskan saja bersama CM dengan mengambil hal-hal aplikatifnya saja. Adapun filosofinya, kebanyakan berasal dari relasi berpikir hasil dari pertemuan pengetahuan-pengetahuan yang pernah saya peroleh. Termasuk di dalamnya hasil diskusi dengan teman-teman praktisi CM yang sudah terlebih dahulu membaca buku dan mendiskusikannya.


Melalui pemikiran CM saya memperoleh sudut pandang lain seperti bagaimana CM menyentuh sisi natural seorang perempuan yang diberikan amanah berharga oleh Tuhan, Allah ta'ala berupa seorang anak, yang membuat saya tidak bisa menolak apa yang dia sampaikan. Bukan karena lebih percaya kata CM, tapi merasa tertampar saja betapa mendalam nya dia memaknai amanah ini dari saya seorang Muslim.


Pengalaman ini senada dengan pengalaman saya memaknai perihal makanan halalan thoyyiban. Justru setelah merantau ke negara minoritas muslim lah saya baru mampu berelasi dengan apa yang Allah maksud. Bukan berarti sebelum merantau saya tidak meyakini apa yang Allah sampaikan. Hanya saja kurang merasakan saja. Mungkin karena inilah Allah menyuguhkan pembelajaran kepada saya melalui orang-orang di luar orang Islam.


Saya yang mendapati pemikiran CM yang menurut saya sangat 'Islami' dan membuat saya tertampar sebagai seorang Muslim yang masih saja mengkaji peran orang tua dari sudut pandang waktu, saya dulu dan saya sekarang. Yang menjadikan inner child sebagai pembenaran dalam setiap 'keteledoran' kita sebagai seorang ibu. Sehingga membuat saya merasa dimenangkan dan mewajarkan kebobrokan saya. Bukan karena ajaran Islam. Namun inilah kekurangan diri saya. Yang merasa 'jengah' dan Allah tampar melalui pemikiran orang dari agama lain yang jauh lebih religius dari saya 


Pemikiran CM mampu 'memanjakan' saya sebagai seorang ibu yang memiliki latar pengalaman pengasuhan kurang baik terhadap anak-anak. Melalui prinsip "a born person" yang sangat memanusiakan orang tua sebagai manusia kecil yang sudah dewasa. Namun pemikirannya ini mampu merangkul sisi dewasa kita yang matang ketimbang sisi anak-anak yang cenderung ingin selalu dimenangkan. Tanpa memaksa saya menjadi manusia dewasa, namun menitah saya perlahan mendefinisikan dewasa saya seutuhnya.


Jika bisa saya simpulkan, CM membantu scaffolding saya dalam pengasuhan. CM memecah kegaringan metode pengasuhan yang cenderung menyuguhkan kekacauan zaman yang membuat saya ketakutan dan pesimis tentang generasi mendatang. CM tidak mendikte melainkan membuat kita berpikir tentang apa dan mengapa nya kita dalam hidup, keluarga dan pendidikan anak kita. 


Metode ini menggiring saya untuk kembali melihat visi dan misi saya sebagai seorang Muslim. Kenapa? Karena CM meyakini bahwa  tujuan akhir yang menjadi pijakan kita mendidik anak adalah tujuan holistik, yaitu tujuan hidup, kenapa kita diciptakan. Lebih kurang seperti itu alur pemikirannya. Sangat jauh dari filosofi sesat yang pada akhirnya meniadakan Tuhan.


Komunitas CM Muslim

Sembari saya galau dan terus mencari jawaban atas pertanyaan saya di atas, saya tetap aktif bergabung di kelas narasi dan mencari praktisi CM Muslim tak hanya di Indonesia. Sayangnya, belum ada yang mampu menjawab kegelisahan saya.


Memasuki kelas narasi ketiga di komunitas CM Bandung, kami difasiltasi oleh Mba Qonita. Kebetulan saat itu bahasannya mengenai filosofi keluarga. Mba Qonita sering sekali menyinggung visi misi yang bernunasa Islami. Sehingga tanpa basa basi, seusai kelas narasi saya bertanya langsung ke beliau tentang maksud dan tujuan saya. Dan begini jawabannya:




Tak berapa lama (yang saat itu bagi saya kerasa lama 😅😂), munculah workshop yang dimaksud yang komunitasnya diberi nama 'Menyemai Hikmah'. Yang saat ini menjadi komunitas baru yang berisi para praktisi dan pembelajar metode Charlotte Mason Muslim. Yang penasaran ini link Instagram Menyemai Hikmah. Melalui workshop inilah saya tercerahkan. 

Selengkapnya bisa dibaca ditautan di bawah ini.


Baca juga: Workshop Menyemai Hikmah


Setiap orang pasti memiliki pengalaman berbeda dalam mempelajari metode CM ini. Hal di atas merupakan pengalaman saya. Yang saya rasa tidak mengusik keimanan atau aqidah saya sama sekali melainkan hanya terbentur pada teknis pembelajaran, seperti:


1. Bagaimana melakukan narasi?

2. Adakah salah benar dalam bernarasi?

3. Apa itu living book?

4. Dimana mendapatkan living book?

5. Bagaimana membuat kurikulum based on CM method?

6. Bolehkah membuat kurikulum sendiri biar bisa customised agama?


Dan ternyata dengan mempelajari terus menerus bersama komunitas, membantu mempercepat pemahaman dan mulai merasakan betapa fleksibelnya metode ini dengan nilai-nilai yang kuat yang bersifat universal.


Jika ada manfaat berlimpah yang bisa kita peroleh untuk menuai hasil berupa generasi Muslim yang berkualitas, kenapa tidak untuk mengadopsi metodenya. Betul ga?


Prinsip yang berjumlah 20 butir itu sangat mungkin kita serap dalam nilai-nilai Islam. Praktek pembelajaran Quran dan Islam pun sangat bisa diterapkan menggunakan metode ini. Pun jika kita meyakini metode lain dalam mempelajari Al-Quran, tidak lah salah selama tujuannya untuk menjembatani anak menemukan jalan Islamnya, bukan sekedar doktrinasi lemah yang bisa saja goyah saat anak tak lagi bersama kita.


Ada 3 instrumen yang menurut saya kita sudah ketahui, dan Islam sudah sampaikan melalui teladan nabi kita Muhammad salallahu'alaihiwassalam. Namun, bahasa CM membantu saya berelasi lebih dalam dari sebelumnya. Apa itu?


1. Atmosfer. Yang dalam agama kita berupa keteladanan. Tak hanya dari orang tua semata, tapi lebih luas lagi yaitu lingkungan. Tak hanya orang-orang nya namun juga benda-benda sekitar anak-anak. Sehingga ketika kita mengidamkan anak yang melek literasi, maka membentuk atmosfer yang baik untuk mewujudkannya tak sebatas memberi contoh rajin membaca atau menyuguhkan buku-buku kepada anak. Namun dengan meyakini bahwa apa yang kita usung itu adalah jalan mencapai tujuan akhir hidup kita.


2. Life. Yang dalam agama Islam kita ketahui bahwa Al-Quran turun berupa kisah. Nabi pun suka berkisah. Yang mana dua sumber belajar utama kita sebagai seorang muslim yaitu Alquran dan Assunnah menggunakan metode yang memantik ide hidup. Ide yang tidak sebatas fakta melainkan suguhan yang bisa berelasi satu sama lain yang membantu kita lebih meaningful menjalani hidup.


3. Disiplin. Tanpa perlu ditanya, Islam sudah sangat jelas memiliki instrumen ini dalam setiap ibadah kita. Ada aturan waktu yang mengikat dan melatih disiplin kita. Ada adab yang harus kita jaga disetiap gerak gerik kita. Yang tentu hanya bisa kita terapkan dengan kedisiplinan.


Tidak salah jika kita menggunakan pemikiran orang lain untuk mengukuhkan iman melalui pengetahuan yang kaya. Yang salah adalah ketika kita merasa puas dengan apa yang kita lakukan saat ini sedangkan Allah menyuguhkan ilmu yang sangat luas untuk menjadi bekal akhirat kita. 


Penutup

Tidak akan cukup 1 postingan untuk menyampaikan manfaat positif dari metode ini. Jika penasaran, sangat bisa kita pelajari mandiri. Jika tidak nyaman, tentu hak kita untuk tidak menggunakannya. Prinsipnya, tidak ada kesempurnaan di dunia ini selain kesempurnaan Allah. CM hanyalah salah satu dari sekian banyak metode.

Dalam hidup saya, bertemu dengan metode CM sangat membantu. Bagi teman-teman tentu bisa berbeda. Yang terpenting, selama kita menjaga fitrah seorang anak yang dikirimkan Allah sangat sempurna untuk kita (bukan dalam konteks fisik ya melainkan sempurna ruh dan pikirannya), tentu apapun metodenya akan menjadi wasilah keberhasilan kita sebagai orang tua, melahirkan generasi Rabbani. Keberhasilan yang baru akan terlihat hasilnya di akhirat kelak. Apakah akan menjadi timbangan baik kita, atau sebaliknya.


Ini yang bisa saya sampaikan. Tanpa bermaksud membenarkan pemikiran pribadi. Pengalaman saya mungkin tidak bisa menjawab pertanyaan di atas. Namun mungkin bisa membantu teman-teman meraba-raba, apakah benar metode CM mengancam aqidah kita sebagai seorang Muslim?


Batujajar, 29 Oktober 2020


Menelisik Makna Pendidikan: Sebuah Narasi dari Materi Workshop Charlotte Mason untuk Keluarga Muslim

Kamis, 10 September 2020
Pada tanggal 6 September lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah workshop yang diadakan oleh (sebutlah) komunitas Menyemai Hikmah. Nah tulisan di blog kali ini berisi apa yang saya peroleh dari pertemuan sesi 1 workshop ini yang menjadi landasan awal sebelum melangkah ketataran teknis berupa kurikulum.



Charlotte Mason dan Filosofinya
Langkah pertama yang perlu diperhatikan ketika kita ingin mengadopsi metode Charlotte Mason (CM) ini dalam pendidikan keluarga kita yaitu filosofi. Bersepakat dengan filosofi yang diusung CM yang terangkum dalam 20 prinsip CM. Tujuannya apa? Agar keutuhan pemahaman kita terhadap apa yang jadi alasan dibalik kita menerapkan metode ini memiliki akar yang kuat. 

Nah hal yang sangat menarik yang saya peroleh dari materi sesi 1 workshop hari minggu lalu yaitu bagaimana mba Qonita, seorang homeschooler praktisi metode CM memaparkan prinsip tersebut dalam sudut pandang kita seorang muslim. Pekerjaan saya terasa dibantu beribu langkah dalam memahami metode CM sebagai seorang Muslim.

Memang, dari sedikit yang saya baca mengenai pemikiran CM ini, nyaris semuanya ada dalam ajaran agama kita. Mulai dari cara CM memandang anak sebagai manusia utuh yang dalam parenting islam kita ketahui anak terlahir bersama fitrahnya, tidaklah seperti kertas kosong yang siap ditulis, atau playdough yang siap dibentuk.

Apa dan Mengapa
Mengadopsi sebuah metode pendidikan tak sekadar mengadopsi teknis aplikasinya. Dalam CM kita benar-benar diminta merumuskan sendiri apa yang kita butuhkan. Sehingga pekerjaan utama kita ketika ingin mengadopsi metode CM dalam pendidikan keluarga kita adalah dengan menemukan jawaban atas apa dan mengapa kita melakukan sesuatu.

Dalam sesi 1 yang memang dikuras abis selama 2 jam untuk menyamakan persepsi tentang hakikat pendidikan bagi kita sebagai seorang muslim, diperinci begitu mendalam oleh mba Qonita. Beliau menamakannya timeline. Bagaimana kita diminta untuk merumuskan visi misi keluarga berdasarkan timeline kita sebagai seorang Muslim. Masya Allah.

Jika kita sudah mampu melihat timeline tersebut, maka terjawablah hakikat kita sebagai manusia. Setelahnya kita urai lagi komponen yang terdapat di dalam diri kita, yang diumpamakan dengan perumpamaan yang menarik oleh mba Qonita.

1. Nurani yang diumpakan sebagai mahkamah agung
2. Nalar sebagai hakim
3. Kehendak sebagai (duh maaf saya lupa😅)

Beranjak ke bagian lain dari tubuh kita, mba Qonita mengajak kita membayangkan bahwa tubuh kita terdiri dari departemen-departemen yang membantu terlaksananya sesuatu dari diri kita. Saya coba ingat-ingat ya. 

1. Departemen pikiran
2. Departemen hati
3. Departemen tubuh
4. Departemen jiwa

Nah masing-masing departemen ini diuraikan lagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Departemen pikiran terdiri dari pejabat dan hasrat
2. Departemen hati terdiri dari cinta dan keadilan
3. Departemen tubuh terdiri dari hasrat atau selera dan dayang
4. Departemen jiwa ga ada di slidenya dan saya agak mulai riweuh pas bagian ini😢😅🤦

Yang saya tangkap dari pemaparan analogi ini yaitu bagaimana kita manusia selalu memiliki dua sisi yang saling mengontrol. Nurani, nalar dan kehendak tadilah yang berkolaborasi membentuk sebuah keputusan terhadap apa yang menggerakkan diri kita melakukan sesuatu.

Kita ambil contoh dari departemen tubuh yang masih saya ingat. Ada hasrat atau selera dan juga dayang. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kita manusia memiliki hasrat untuk makan (rasa lapar), dayang yang memenuhi hal ini yaitu si indera pengecap kita. Jika kita memenuhi kebutuhan hasrat tadi sesuai dengan kebutuhan, artinya kita tidak diperbudak dayang kita. Namun jika kita terus saja makan sedangkan kita tahu bahwa kita sudah kenyang, namun karena terasa enak dan kita lanjut makan, maka artinya yang jadi pengontrol kita yaitu dayang kita.

Mencoba Merelasikan
Dari secuplik materi yang saya coba narasikan di atas, luar biasa memang mba Qonita meramu analogi-analogi tersebut. Dan setelah saya coba relasikan dengan apa yang saya ketahui sedikit tentang CM dan juga tentang Islam, memang seharusnya seperti inilah yang harus kita lakukan. 

Memahami hakikat manusia, seperti yang kita tahu bahwa di dalam Islam ada hadist nabi yang berbunyi:

Man 'arofa nafsahu faqod 'arofa rabbanu
Kenalilah dirimu maka kamu akan mengenal Tuhanmu

Penjabaran analogi departemen inilah yang saya lihat sebagai langkah awal kita mengenal diri kita, mulai dari tubuh kita (fisiologis, psikologis), lalu pikiran kita, hati dan jiwa kita. Sehingga kita tidak akan bertindak atas nama katanya-katanya. Masya Allah.


Menurut CM, yang saya baca melalui buku mba Ellen Kristy, Cinta Yang Berpikir, memang pengetahuan minimal yang harua dikuasai orang tua adalah pengetahuan tentang fisiologi dan psikologi. Dua pengetahuan yang mengantarkan kita mengenali diri kita. Dan mba Qonita juga memaparkan dalam sesi 1 ini.

Penutup
Banyak sekali relasi-relasi yang dikutip oleh mba Qonita antara pemikiran CM dengan konsep-konsep hidup dalam Islam. Saya akan coba ulas di blogpost terpisah. Semoga narasi ini bisa menjadi jalan saya belajar lebih mendalam lagi.

Batujajar, 10 September 2020

Nb: narasi ini saya buat semampu saya dan berdasarkan apa yang saya olah dari yang saya dengar saja. Jika terdapat kekeliruan mohon koreksinya. Saat materi berlangsung saya tidak berkesempatan mencatat dan juga belum berkesempatan mendengar kembali rekaman zoom nya. Terimakasih 🙏.

Cinta Yang Berpikir: Langkah Awal Mengenal Sebuah Filosofi Pendidikan Dari Charlotte Mason

Sabtu, 05 September 2020

Apa yang terpikir ketika mendengar kata filosofi? Tampaknya ga semua orang ya menyukai bidang ilmu ini, saya salah satunya. Namun, tidak menyukai bukan berarti anti atau tidak mau menyentuhnya sama sekali. Maka kali ini, saya beranikan diri mengulas sebuah buku sederhana namun syarat makna, yang berjudul "Cinta Yang Berpikir".




Yuk Review!

Buku yang berjumlah dua ratus empat puluh dua halaman di luar lampiran dan daftar pustaka ini di tulis oleh seorang homeschooler bernama mba Ellen Kristy. Sebagaimana yang tercantum di sampul bukunya, buku ini dikatakan sebagai manual book atau buku panduan untuk mengenal pendidikan karakter yang diusung oleh tokoh pendidikan lawas berkebangsaan Inggris bernama Charlotte Mason.


Buku ini dibagi menjadi tiga bagian yang dibuka dengan prolog sebagai perkenalan awal  tentang pemikiran sang tokoh pendidikan. Lalu ditutup dengan epilog khas filsuf yang mengajak para pembacanya untuk berpikir 'what's next?'. Nah tiga bagian yang terdapat dalam buku ini, menurut saya sangat membantu para pembaca yang tertarik melakukan pendidikan rumah atau homeschooling, terutama yang ingin mengadopsi pemikiran Miss Mason ini. Yuk kita coba review lebih dalam (semoga ga spoiler ya😂😅)


Sekilas Filosofi

Di bagian awal, Mba Ellen Kristy pada buku ini membawa para pembaca untuk mengenal, memahami, dan meresapi filosofi pendidikan yang diusung Miss Mason. Filosofi ini bisa dikatakan sebagai rangkuman dari buku-buku yang ditulis Miss Mason kala itu, terutama terkait landasan filosofis metode Miss Mason.

Tentu dengan membaca buku "Cinta Yang Berpikir" ini akan sangat mempermudah proses perkenalan awal kita para pembaca dengan konsep Miss Mason. Mengingat bahasa Inggris sejaman Miss Mason tentu challenging alias susah 😅.

Sedikit bocoran tentang filosofi Miss Mason, bisa kita lihat dari dua puluh prinsip yang dijadikan pakem pelaksanaan metode Charlotte Mason ini. Apa aja sih? Berikut lima dari dua puluh prinsipnya:

1. Anak terlahir sebagai pribadi yang utuh, bukan lembaran kosong atau embrio yang berpotensi sebagai pribadi utuh.

2. Anak menyimpan potensi menjadi baik atau buruk.

3. Prinsip otoritas untuk hidup teratur dan harmonis

4. Prinsip otoritas berprikemanusiaan namun tegas dan jelas.

5. Tiga instrumen pendidikan yaitu atmosfer, disiplin dan kehidupan.


Masih banyak hal yang diulas dalam bagian ini. Menurut saya, bagian pertama ini benar-benar ngebentuk mindset dan dibacanya ga bisa sekali atau dua kali (ini saya sih 🤦😂). Karena memang bahasanya itu mempermainkan pikiran ala filsuf, tapi bukan filsud aliran berkelit ya. Yang suka muter2 ga jelas. Mba Ellen dalam bagian awal ini mencoba memantik benak kita untuk berpikir, berpikir dan berpikir. Makanya judul bukunya "Cinta Yang Berpikir" 😁🤫


Sekilas Kurikulum

Beranjak ke bagian kedua, mba Ellen Kristy mulai memperkenalkan apa saja yang menjadi menu kurikulum dalam pendidikan Miss Mason. Salah satu menu yang paling menarik bagi saya yaitu menu narasi yang memang menjadi ciri khas atau ikon dari metode Miss Mason ini. 


Sekilas menu narasi ini terdengar biasa, yaitu menceritakan ulang apa yang sudah dibacakan. Tapi ada satu teknik yang digunakan Miss Mason yang menjadi aturan main dari aktivitas narasi ini, yang lagi-lagi menurut saya membuat si narasi ini ga jadi biasa, yaitu single reading alias sekali baca. Jadi ga ada tuh istilahnya pas narasi kita minta dibacakan ulang karena alasan ga fokus atau kurang terdengar atau lupa🤭. Narasikan setelah kita dengar teks dibaca sekali baca, narasikan apa yang ada dibenak kita.


Semoga saya ga spoiler ya 😅😬


Satu lagi menu menarik dan masih terkait narasi yaitu Living Books. Kalo dibahasa Indonesiakan apa ya 😅. 


Namun setelah saya coba resapi semampu saya dari semua pemaparan para praktisi yang saya dengar dan baca. Dan juga hasil merenungi sekaligus merasa-rasai apa sih bedanya living book ini dengan buku-buku lain, bisa saya simpulkan bahwa living book itu adalah sebuah buku yang bisa membangkitkan dan merangsang akal budi kita untuk membuat ide hidup. Ide yang ketika kita selesai membacanya pun akan terus terngiang di benak kita. Ada rasa ingin membahas dan mencari tau lagi dan lagi terhadap apa yang didapat dan diolah oleh pikiran kita setelah membaca buku itu. Sebuah ide yang bisa membentuk sikap kita tentang hidup yang akan kita bawa kemana.


Okeh itu aja ya tentang kurikulum. Yang pasti dibagian ini juga dibahas tentang pelajaran lain dengan metode Miss Mason ini, seperti pelajaran Matematika, IPA, seni dan Bahasa.


Sekilas Komparasi

Bagian ketiga dari buku "Cinta Yang Berpikir ini, mba Ellen menyuguhkan sebuah perbandingan metode pendidikan yang kerap digunakan para homeschooler. Sebuah bahasan menarik yang bakal menjawab tebak-tebakan para pemula seperti saya yang biasanya sudah mengenal terlebih dahulu metode lain seperti Montessori. Ayo siapa yang ga kenal Montessori. Paling ga ibu Montes ini cukup terkenal dikalangan ibu-ibu muda di Indonesia.


Selain Montessori, ada empat metode lain yang disandingkan mba Ellen untuk komparasi, diantaranya:

1. Unit studies

2. Unschooling

3. Classical Education

4. Waldorf


Nah bagi teman-teman yang penasaran dengan metode pendidikan Miss Mason ini, bisa membaca buku mba Ellen ini sebagai perkenalan awal yang cukup intim menurut saya. 


Oh ya, jika teman-teman tertarik mengadopsi metodenya, maka kita harus bersiap membaca buku asli pemikiran Miss Mason yang berjumlah enam buah. Apa aja?

1. Home Education

2. Parents and Children

3. School Education

4. Ourselves

5. Formation of Habits

6. A Philosophy of Education


Gimana? Semoga ulasan ini ga spoiler ya dan menambah rasa ingin tahu. Jikapun tidak homeschooling, menurut saya buku ini sangat membantu kita membentuk kembali filosofi pendidikan yang kita punya. Atau paling tidak menumbuhkan sikap penuh prinsip dalam pendidikan. Tidak hanya bisa diaplikasikan ke anak, metode Charlotte Mason ini bisa juga kita terapkan ke diri kita.


Udah ya reviewnya. Selamat berburu buku dan membacanya!


Batujajar, 5 September 2020


Tulisan ini ditulis untuk aktivitas komunitas 1 Bulan 1 Buku


Jangan Mau Menjadi Ibu

Jumat, 07 Agustus 2020
Entah apa yang melatarbelakangi seorang wanita sehingga termotivasi untuk menjadi ibu. Bagaikan sebuah robot yang didesain untuk tujuan tertentu, seperti itulah wanita yang berkeinginan menjadi seorang ibu. Katanya, jika sudah menjadi ibu maka lengkap sudah rasanya peran sosial yang diperoleh. Jika sudah menjadi seorang ibu maka terbebaslah kita dari tatapan penuh tanya dari lingkungan sekitar. Jika jadi seorang ibu maka sempurnalah kehidupan.


Benarkah?

Sebuah Pola Yang Berulang
Sebagai makhluk yang dikenal dengan rasa tidak cepat puas, mudah iri hati, dan memiliki rasa penasaran yang tinggi, manusia acapkali melihat sesuatu dari sudut pandang terjauh mereka. Kita sering lupa menoleh ke arah terdekat kita dalam menggapai sesuatu.

Hal yang paling sering kita temui dan agaknya setiap manusia melewatinya yaitu ketika ada rasa ingin segera menjadi besar ketika kita masih kecil. Seperti, saat TK, kita ingin segera SD. Ketika sudah SD, kita ingin segera SMP. Saat SMP, kita ingin segera SMA. Ketika SMA, kita ingin segera kuliah. Dan disaat kuliah, tak sedikit yang ingin segera menikah dan seterusnya.

Sebuah pola yang berulang ini bisa dikatakan sebagai wujud karakter bawaan manusia yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi yang disertai dengan rasa tidak cepat puas dengan apa yang sedang dijalani saat itu. Dalam bahasan agama kita sering mendengar dengan "manusia sering khilaf, lupa bersyukur dan seringnya kufur".

Mari Kita Berpikir
Jika kita perhatikan, di dalam Al-Qur'an banyak sekali ayat yang mengisyaratkan kita untuk berpikir. Lebih kurang seratus ayat meminta manusia untuk berpikir dan menghayati sesuatu hal. Artinya, jika kita sudah menyadari pentingnya meneliti sesuatu hal sebelum melakukannya, maka kita tentu akan terhindar dari kesia-siaan apalagi rasa penyesalan.

Merupakan hal yang tabu pada masyarakat kita memberikan bekal pendidikan menjadi ibu bagi anak perempuan kita. Ketabuan ini hasil dari ketidakmampuan membahasakan peran yang begitu kompleks dalam sebuah kalimat sederhana. Sehingga yang terjadi hanyalah sebuah pola berulang yang didapat orang tua dari orang tuanya dengan polesan berbekal rasa trauma atau pengalaman.

Maka tak  jarang yang muncul adalah letupan pikiran bahwa ketika menjadi seorang ibu maka saya akan seperti ini dan tidak akan seperti itu. Tanpa mencari dan meneliti mengapa sikap seperti itu bisa muncul di dalam diri kita. Akibatnya, ketika benar-benar sudah menjadi ibu maka kita akan bersikap 'gagap' dan cenderung 'spontan' ketika menghadapi permasalahan dalam pengasuhan anak. Maka muncullah yang sering disebut pakar psikologi dengan istilah Inner Child.

Ada yang menyadari pola ini dengan cepat, ada yang berlalu begitu saja tanpa sebuah solusi dan sangat 'menikmati' lika likunya. Ada pula yang tidak menyadarinya sama sekali. 

Kompleksitas Manusia
Sekian juta manusia di dunia Allah ciptakan dengan perbedaan segala macam rupanya. Tak hanya fisik, perbedaan karakter dan watak menjadi pembentuk utama kompleksitas kehidupan manusia. Yang dengannya, muncullah budaya dan stereotype yang tercipta. 

Namun dalam pembentukan sebuah keluarga, kompleksitas ini menjadi sangat detail dan dan
Sangat bercabang. Ada faktor-faktor khusus yang melatarbelakangi pembentukan karakter seseorang. Tak hanya sekedar pengaruh lingkungan sosial melainkan hal kecil yang mengiringi kehidupan manusia setiap detiknya. Yang mana hal tersebut tersimpan di dalam memori bawah sadar manusia yang mempengaruhi segala sesuatu terkait manusia itu.

Maka, kemunculan standar sosial berdasarkan standar wajar yang disepakati mayoritas manusia, itulah yang akan memimpin. Maka sudah menjadi suatu hal yang lumrah ketika manusia ingin menjadi ini dan itu selagi hal itu masih dipandang wajar. Namun sayang, manusia lupa untuk mempertanyakan 'mengapa' atas setiap keinginan mereka.

Mengapa Mau Menjadi Ibu?
Kembali ke pembahasan awal, tentang menjadi ibu. Jika kita berani mempertanyakan alasan dibalik mengapa kita, wanita, mau menjadi ibu, apakah jawaban yang kira-kira akan kita kita lontarkan?

Pastinya aneka jawaban akan bermunculan, tergantung pada landasan berpikir masing-masing kita. Ada yang membawa motivasi agama, ada yang mengungkap motivasi sosial, atau ada juga yang sekedar menjalaninya tanpa alasan. 

Tidak ada jawaban mutlak untuk pertanyaan ini. Bahkan Allah pun tidak pernah memaksa kita untuk menjadi seorang ibu. Dan tentunya Allah lah Dzat yang paling berhak untuk menentukan siapa saja diantara wanita di dunia ini yang akan dititipkan tanggungjawab pembentuk peran ibu ini.

Lalu untuk apa kita 'memaksa diri kita' menjadi seorang ibu?

Memaknai kembali tujuan mengapa kita diciptakan, maka disitulah kita bisa memperoleh jawaban atas pertanyaan di atas, yaitu:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku". (QS. adz Dzariyat: 56)

Jangan Mau Menjadi Ibu
Menjadi ibu, memang sangatlah mudah. Bahkan banyak wanita yang tidak sadar melakukan perbuatan tercela yang mengantarkannya pada peran baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Layaknya anak TK yang tidak mengetahui betapa tidak mengenakkannya SD karena tidak bisa bermain sepuasnya layaknya di TK. 

Namun dengan menjadi ibu, ternyata itulah cara Allah menolong kita para wanita. Menolong untuk tersadar dari kekhilafan dan dan kebodohan kita. Yang menganggap bahwa ibu hanyalah sebuah perubahan peran sosial karena sebuah hubungan biologis. Dengan menjadi ibu, kita menjadi mau berpikir melebihi sebelumnya. Berpikir atas problematika kehidupan yang kita hadapi dengan hadirnya seorang anak.

Maka janganlah sesekali mau menjadi seorang ibu jika cara kita memandang hidup hanyalah sebuah kesenangan belaka. Maka janganlah mau menjadi ibu, jika dunia adalah tujuan yang membuat kita lupa konsep menghamba. 

Batujajar, 7 Agustus 2020

Mengelola Informasi, Mengolah Emosi

Minggu, 12 Juli 2020
Memperoleh informasi di zaman sekarang tidak lagi hanya mengandalkan televisi atau surat kabar saja. Saat ini, dalam satu genggaman sebuah alat berukuran mini kita bisa mengakses berbagai macam informasi tanpa harus menunggu jam berita. Tak hanya berita, bahkan membaca buku atau tulisan-tulisan menarik pun bisa kita peroleh tanpa harus ke toko buku. Dan perkembangan ini menggiring media cetak seperti surat kabar dan majalah untuk menyesuaikan diri dan bertransformasi menjadi media cetak elektronik.


Perkembangan teknologi ini tentunya membawa angin kemudahan bagi kita untuk memperoleh informasi. Dilain sisi, kemudahan ini membuat arus informasi menjadi sangat deras. Ditambah dengan hadirnya media sosial sebagai platform favorit setiap kalangan untuk memperoleh informasi aktual. Selain karena fiturnya yang menarik, juga karena media sosial menyuguhkan variasi informasi yang jauh lebih beragam dari media elektronik seperti televisi.

Informasi dan Orang tua
Sebagai orang tua, kemudahan memperoleh informasi ini tentunya surga dunia bagi kita. Aneka macam informasi terkait anak dan pengasuhan bisa kita peroleh dengan sangat mudah. Seminar, kuliah, workshop dan berbagai macam kelas online untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai orang tua pun bisa dengan mudah kita dapatkan tanpa harus keluar rumah dan meninggalkan anak dalam waktu yang lama.

Semua fasilitas hasil dari kemajuan teknologi ini tentu harus kita sikapi dengan bijak. Ibaratkan tubuh yang kita beri makan, jika terlalu banyak tubuh kita alih-alih menjadi sehat melainkan sakit. Begitu pula informasi, jika terlalu berlebihan bisa menyebabkan informasi memberikan dampak buruk bagi diri kita. Sehingga, pengelolaan informasi dibutuhkan seperti halnya pengelolaan menu untuk asupan makanan ke tubuh kita.

Emosi dan Pikiran
Emosi dan pikiran seperti dua sisi mata uang. Mereka tidak dapat dipisahkan. Pikiran, bisa memberi perubahan pada emosi, dan emosi pun bisa memberikan pengaruh pada pikiran. 

Dalam mengelola informasi, dibutuhkan sumber referensi yang menjadi pijakan atau landasan bagi kita untuk berpikir. Apakah informasi tersebut cocok bagi kita, bermanfaat dan kita butuhkan. Jika memang dirasa dibutuhkan, apakah informasi tersebut akurat dan berasal dari sumber terpercaya.

Lantas apa landasan yang bisa kita jadikan referensi pijakan? Tentunya referensi yang bersifat ideologis  yang menjadi landasan keyakinan kita, bisa berupa kita suci atau sejenisnya.

Contoh Kasus
Ada sepasang suami istri yang baru saja dianugrahkan keturunan. Sebagai pasangan yang baru mengemban amanah sebagai orang tua, mereka mencoba mencari tahu berbagai macam informasi terkait pengasuhan. Mulai dari tahap perkembangan anak hingga hal-hal teknis yang mereka temukan kendalanya disaat mendampingi anak.

Suatu waktu, sang ibu tidak sengaja membaca sebuah tulisan di akun media sosialnya. Tulisan tersebut membahas tentang pentingnya perkembangan bahasa bagi anak usia dini. Dalam tulisan tersebut si Ibu memperoleh informasi bahwa perkembangan bahasa menjadi salah satu faktor yang bisa mengindikasikan kecerdasan otak anak. 

Sesaat setelah membaca tulisan tersebut tanpa melakukan kroscek sumber tulisan, sang ibu pun langsung dilanda kepanikan. Pasalnya anaknya yang berusia 20 bulan belum mengalami lonjakan kosakata seperti di tulisan yang dia baca. Sehingga pikiran sang ibu pun menjadi panik mengkhawatirkan anaknya akan tumbuh tidak cerdas dan normal.

Di tempat yang terpisah, sang suami membeli sebuah buku tentang tahapan perkembangan anak karya seorang dokter tumbuh kembang anak. Sang suami menyadari ada keterlambatan yang dia lihat dari tumbuh kembang anaknya. Namun dia tahu bahwa hal tersebut masih dibatas wajar. Sehingga dia memutuskan membeli buku tersebut agar bisa menstimulus sesuai dengan ilmunya untuk mengatasi rasa khawatirnya.

Apa Yang Dilihat Dari Contoh Kasus di atas?
Ada perbedaan sikap yang mempengaruhi perbedaan prilaku. Pengelolaan informasi dengan melibatkan pikiran yang berlandasan, akan berbeda penyikapannya. Sehingga emosi yang muncul pun bisa terlihat beda.

Pengelolaan informasi seperti apa yang bisa kita lakukan agar bisa mengolah emosi dengan baik? 

1. Menyadari bahwa informasi bukanlah landasan hidup melainkan sumber pengetahuan yang datang dari seseorang. Bisa salah dan bisa juga betul.

2. Melalukan kroscek terhadap setiap informasi yang diperoleh dari berbagai macam sumber. Utamakan sumber-sumber terpercaya.

3. Memiliki landasan berpikir. Apa yang paling mempengaruhi kehidupan kita. Agama kah atau apa? Lalu pelajarilah hal-hal yang membentuk pola pikir kita itu berdasarkan landasan berpikir tadi.

4. Menyadari bahwa informasi bersumber dari anekaragam pemikiran, latar belakang dan tujuan. 

Refleksi Pribadi
Kencangnya arus informasi membuat kita suka lupa menilik diri sendiri terkait cara kita menyikapi sesuatu, termasuk informasi. Apakah kita termasuk yang reaktif atau kalem. Seringnya kita hanyut membaca, baik teks atau sekedar foto dari akun-akun yang kita ikuti. Kemudian secara tidak sadar, akun yang paling kita ikuti akan mendominasi cara pikir kita. Dan tidak menutup kemungkinan kita akan menjadikannya sebagai referensi dan landasan berpikir kita.

Untuk saya pribadi, melakukan sesuatu termasuk dalam mencari sebuah informasi diperlukan ketenangan berpikir. Memastikan diri tidak sekedar ikut-ikutan yang sering membuat kita rapuh dalam bersikap. Dan tentu, sebagai manusia beragama saya menjadikan kitab suci sebagai landasan berpikir, agar ketika hadir sebuah informasi saya bisa bersikap sewajarnya. 

Jika kita contohkan aplikasinya berdasarkan contoh kasus di atas, bisa jadi begini.

Kepanikan sang ibu tadi bisa jadi bersumber dari berbagai macam faktor, bisa dari ketidaktahuan atau obsesi pribadi. Ketidaktahuan akan tahapan tumbuh kembang anak membuat informasi sepintas lewat menjadi sumber yang dia yakini keakuratannya. Atau sikap obsesif sehingga sang ibu menginginkan anaknya tumbuh normal bahkan melejit. Dua hal yang tidak imbang inilah yang menjadikan informasi sebagai bumerang tersendiri bagi orang tua.

Sehingga informasi tak lagi membawa kebermanfaatan, melainkan membawa gejolak emosi yang tentu bisa mengganggu stabilitas keluarga.

Baleendah, 12 Juli 2020

Zaynab Mikayla Alkhansa

Selasa, 12 Mei 2020
Baru beberapa kali saya menuliskan kisah tentang Zaynab di blog ini. Sudah saatnya kita menuliskan kembali cerita tentang Zaynab. Diusianya yang sudah satu tahun setengah.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Dulu impian saya ingin mendokumentasikan setiap tahap tumbuh kembang Zaynab mulai dari usia 0 bulan. Tapi ternyata itu hanya wacana 😅. Saya terlalu sibuk dengan urusan pindahan, jastip dan juga eczema Zaynab. Bahkan tulisan tentang kelanjutan eczema Zaynab saja saya masih hutang dua judul 🤭. 

Zaynab Mikayla Alkhansa

Tapi ga papa lah ya kalo pada tulisan kali ini saya ga ngebahas eczema ataupun alerginya Zaynab. Malam ini saya ingin bercerita sedikit tentang karakter Zaynab hingga menginjak usia 18 bulan ini. Tentu saja tulisan ini bukan untuk meningkatkan viewer. Tapi untuk rekam jejak digital seperti halnya Zaid dan Ziad. Yang mana kalo kita googling nama mereka, maka foto-foto mereka pun akan muncul. Semoga Zaynab juga ya 😂.

Tracking Milestone
Beberapa hari  yang lalu, saya sempat melakukan checklist milestone Zaynab menggunakan panduan yang saya peroleh jaman di US dulu. Alhamdulillah 90% Zaynab udah mencapai milestonenya sesuai usianya. Dan PR nya Zaynab agak mirip dengan Zaid Ziad seumuran Zaynab. Yaitu capaian bahasa.

Zaynab Mikayla Alkhansa


Normalnya, lejitan bahasa pada anak biasa terjadi diusia 18 bulan ke atas. Anak akan dengan spontan mengikuti kata yang kerap mereka dengarkan. Bagaimana dengan Zaynab?

Masih tergolong normal alhamdulillah. Sejak usia 16 atau 17 bulan Zaynab sebenarnya menunjukkan peningkatan capaian bahasa melalui kosakata yang dia peroleh. Namun, memasuki usia 18 bulan, beberapa kata mulai hilang. Namun dia masih mengerti apa yang dimaksud dari kata tersebut namun tidak mau lagi memproduksi kata tersebut. Nah ini yang bikin khawatir 🙈

Zaynab Mikayla Alkhansa

Saya coba list kata-kata yang sudah/pernah/lumayan sering muncul dari ucapan Zaynab dan memiliki makna yang konsisten terhadap benda atau sesuatu.

Mpah 👉 tumpah, sampah
Mamam 👉 makan, bobo, dan nenen. Dan sekarang kucing pun jadi mamam, bukan lagi memeng 🤧
Tata 👉 mata dan hanya diucap kalo saya lagi ngulek sambel karena dia pernah keperihan mata gara-gara bau bawang
Det 👉 kaget. Hanya akan diucap jika kita kaget dan dia jadi inget cerita saat dia kaget lagi main hp tiba-tiba kepencet Youtube yang videonya suaranya keras
Aaa 👉 manggil semua orang sekarang kaya gitu terus 🤧. Padahal sebelumnya sudah bisa panggil Ta untuk Abinya, Ba untuk Abangnya, dan Da untuk Udanya. Dan Aaa ini juga untuk meminta hal yang dia mau 🙄
Pau 👉 untuk apapun jenis cerita yang memiliki suara yang entah apa lalu dia endingkan dengan pau 🙄
Wow 👉 untuk segala hal yang menakjubkan buat dia
Dakda 👉 tidak ada
Papapa 👉 ga papa atau itu apa atau itu siapa
Dan suara-suara aneh yang dia dengar seperti sendawa, kentut, auman, teriakan dll yang spontan terjadi saat kita tengah bercengkrama.

Banyaknya ekspresi ya 😅. Bukan kata benda 😂.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Adapun kata atau  kalimat yang dia mengerti tapi belum mau mengucapkannya adalah:

1. Semua anggota tubuh seperti mata, telinga, rambut, hidung, mulut, lidah, gigi, pipi, jidat, tangan, kaki, belly, pipis, pantat.
2. Kalimat perintah seperti tutup atau buka pintu, tolong ambilin bla bla, ajakan terhadap aktivitas tertentu seperti makan, main, pergi, doa, mengaji. Dan kalimat perintah lainnya yang cukup banyak sehingga membuat saya merasa dia sudah sangat dewasa untuk disuruh-suruh 🤭
3. Menggeleng dan mengangguk dengan sangat tepat ketika ditanya sesuatu.
4. Menunjukkan semua anggota keluarga sesuai dengan namanya.
5. Mengadu jika terjadi sesuatu padanya dengan bahasa bayi yang panjang tapi belum mengeluarkan kata bermakna hanya menunjuk-nunjuk suatu tempat atau lokasi peristiwa terjadi 😅.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Kemampuan lain selain capaian bahasa yaitu kemampuan bermain dengan kakak-kakaknya. Seperti bermain petak umpet, baca buku bareng, kuda-kudaan, dan lain-lain. Yang mana saya memandang hal ini sebagai capaian sosial interaksi dia.

Sedangkan untuk kognitif bisa dilihat dari kemampuan dia menunjuk semua anggota tubuh yang kita tanya secara tepat. Selain itu Zaynab juga bisa mengoperasikan benda sesuai fungsinya seperti sikat gigi, sisir rambut, bantal, selimut, buku, kursi, dan lain-lain. Dan Zaynab juga menyukai pretending play dengan boneka-bonekanya. Seperti menyuapinya, mengaja bicara, menggendong, dan lain-lain.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Bagaimana motoriknya? Memang anak laki-laki dan perempuan akan signifikan perbedaan terlihat di kemampuan motorik ya. Jika dulu ZaZi motorik kasar majunya pesat, Zaynab justru di motorik halus. Hal ini semacam natural aja ya tanpa stimulus. Sehingga saya harus fokus pada motorik kasar Zaynab justru. 

Kayanya segini dulu deh bahasan tentang Zaynab. Semoga ada lanjutannya biar keliatan juga nih anak perkembangannya gimana 😁.

Batujajar, 12 Mei 2020
Nb: bagi yang ingin dikirim pdf milestonenya, silahkan tinggalkan komen ya 🤗