MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Menelisik Makna Pendidikan: Sebuah Narasi dari Materi Workshop Charlotte Mason untuk Keluarga Muslim

Kamis, 10 September 2020
Pada tanggal 6 September lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah workshop yang diadakan oleh (sebutlah) komunitas Menyemai Hikmah. Nah tulisan di blog kali ini berisi apa yang saya peroleh dari pertemuan sesi 1 workshop ini yang menjadi landasan awal sebelum melangkah ketataran teknis berupa kurikulum.



Charlotte Mason dan Filosofinya
Langkah pertama yang perlu diperhatikan ketika kita ingin mengadopsi metode Charlotte Mason (CM) ini dalam pendidikan keluarga kita yaitu filosofi. Bersepakat dengan filosofi yang diusung CM yang terangkum dalam 20 prinsip CM. Tujuannya apa? Agar keutuhan pemahaman kita terhadap apa yang jadi alasan dibalik kita menerapkan metode ini memiliki akar yang kuat. 

Nah hal yang sangat menarik yang saya peroleh dari materi sesi 1 workshop hari minggu lalu yaitu bagaimana mba Qonita, seorang homeschooler praktisi metode CM memaparkan prinsip tersebut dalam sudut pandang kita seorang muslim. Pekerjaan saya terasa dibantu beribu langkah dalam memahami metode CM sebagai seorang Muslim.

Memang, dari sedikit yang saya baca mengenai pemikiran CM ini, nyaris semuanya ada dalam ajaran agama kita. Mulai dari cara CM memandang anak sebagai manusia utuh yang dalam parenting islam kita ketahui anak terlahir bersama fitrahnya, tidaklah seperti kertas kosong yang siap ditulis, atau playdough yang siap dibentuk.

Apa dan Mengapa
Mengadopsi sebuah metode pendidikan tak sekadar mengadopsi teknis aplikasinya. Dalam CM kita benar-benar diminta merumuskan sendiri apa yang kita butuhkan. Sehingga pekerjaan utama kita ketika ingin mengadopsi metode CM dalam pendidikan keluarga kita adalah dengan menemukan jawaban atas apa dan mengapa kita melakukan sesuatu.

Dalam sesi 1 yang memang dikuras abis selama 2 jam untuk menyamakan persepsi tentang hakikat pendidikan bagi kita sebagai seorang muslim, diperinci begitu mendalam oleh mba Qonita. Beliau menamakannya timeline. Bagaimana kita diminta untuk merumuskan visi misi keluarga berdasarkan timeline kita sebagai seorang Muslim. Masya Allah.

Jika kita sudah mampu melihat timeline tersebut, maka terjawablah hakikat kita sebagai manusia. Setelahnya kita urai lagi komponen yang terdapat di dalam diri kita, yang diumpamakan dengan perumpamaan yang menarik oleh mba Qonita.

1. Nurani yang diumpakan sebagai mahkamah agung
2. Nalar sebagai hakim
3. Kehendak sebagai (duh maaf saya lupa๐Ÿ˜…)

Beranjak ke bagian lain dari tubuh kita, mba Qonita mengajak kita membayangkan bahwa tubuh kita terdiri dari departemen-departemen yang membantu terlaksananya sesuatu dari diri kita. Saya coba ingat-ingat ya. 

1. Departemen pikiran
2. Departemen hati
3. Departemen tubuh
4. Departemen jiwa

Nah masing-masing departemen ini diuraikan lagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Departemen pikiran terdiri dari pejabat dan hasrat
2. Departemen hati terdiri dari cinta dan keadilan
3. Departemen tubuh terdiri dari hasrat atau selera dan dayang
4. Departemen jiwa ga ada di slidenya dan saya agak mulai riweuh pas bagian ini๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜…๐Ÿคฆ

Yang saya tangkap dari pemaparan analogi ini yaitu bagaimana kita manusia selalu memiliki dua sisi yang saling mengontrol. Nurani, nalar dan kehendak tadilah yang berkolaborasi membentuk sebuah keputusan terhadap apa yang menggerakkan diri kita melakukan sesuatu.

Kita ambil contoh dari departemen tubuh yang masih saya ingat. Ada hasrat atau selera dan juga dayang. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kita manusia memiliki hasrat untuk makan (rasa lapar), dayang yang memenuhi hal ini yaitu si indera pengecap kita. Jika kita memenuhi kebutuhan hasrat tadi sesuai dengan kebutuhan, artinya kita tidak diperbudak dayang kita. Namun jika kita terus saja makan sedangkan kita tahu bahwa kita sudah kenyang, namun karena terasa enak dan kita lanjut makan, maka artinya yang jadi pengontrol kita yaitu dayang kita.

Mencoba Merelasikan
Dari secuplik materi yang saya coba narasikan di atas, luar biasa memang mba Qonita meramu analogi-analogi tersebut. Dan setelah saya coba relasikan dengan apa yang saya ketahui sedikit tentang CM dan juga tentang Islam, memang seharusnya seperti inilah yang harus kita lakukan. 

Memahami hakikat manusia, seperti yang kita tahu bahwa di dalam Islam ada hadist nabi yang berbunyi:

Man 'arofa nafsahu faqod 'arofa rabbanu
Kenalilah dirimu maka kamu akan mengenal Tuhanmu

Penjabaran analogi departemen inilah yang saya lihat sebagai langkah awal kita mengenal diri kita, mulai dari tubuh kita (fisiologis, psikologis), lalu pikiran kita, hati dan jiwa kita. Sehingga kita tidak akan bertindak atas nama katanya-katanya. Masya Allah.


Menurut CM, yang saya baca melalui buku mba Ellen Kristy, Cinta Yang Berpikir, memang pengetahuan minimal yang harua dikuasai orang tua adalah pengetahuan tentang fisiologi dan psikologi. Dua pengetahuan yang mengantarkan kita mengenali diri kita. Dan mba Qonita juga memaparkan dalam sesi 1 ini.

Penutup
Banyak sekali relasi-relasi yang dikutip oleh mba Qonita antara pemikiran CM dengan konsep-konsep hidup dalam Islam. Saya akan coba ulas di blogpost terpisah. Semoga narasi ini bisa menjadi jalan saya belajar lebih mendalam lagi.

Batujajar, 10 September 2020

Nb: narasi ini saya buat semampu saya dan berdasarkan apa yang saya olah dari yang saya dengar saja. Jika terdapat kekeliruan mohon koreksinya. Saat materi berlangsung saya tidak berkesempatan mencatat dan juga belum berkesempatan mendengar kembali rekaman zoom nya. Terimakasih ๐Ÿ™.

Cinta Yang Berpikir: Langkah Awal Mengenal Sebuah Filosofi Pendidikan Dari Charlotte Mason

Sabtu, 05 September 2020

Apa yang terpikir ketika mendengar kata filosofi? Tampaknya ga semua orang ya menyukai bidang ilmu ini, saya salah satunya. Namun, tidak menyukai bukan berarti anti atau tidak mau menyentuhnya sama sekali. Maka kali ini, saya beranikan diri mengulas sebuah buku sederhana namun syarat makna, yang berjudul "Cinta Yang Berpikir".




Yuk Review!

Buku yang berjumlah dua ratus empat puluh dua halaman di luar lampiran dan daftar pustaka ini di tulis oleh seorang homeschooler bernama mba Ellen Kristy. Sebagaimana yang tercantum di sampul bukunya, buku ini dikatakan sebagai manual book atau buku panduan untuk mengenal pendidikan karakter yang diusung oleh tokoh pendidikan lawas berkebangsaan Inggris bernama Charlotte Mason.


Buku ini dibagi menjadi tiga bagian yang dibuka dengan prolog sebagai perkenalan awal  tentang pemikiran sang tokoh pendidikan. Lalu ditutup dengan epilog khas filsuf yang mengajak para pembacanya untuk berpikir 'what's next?'. Nah tiga bagian yang terdapat dalam buku ini, menurut saya sangat membantu para pembaca yang tertarik melakukan pendidikan rumah atau homeschooling, terutama yang ingin mengadopsi pemikiran Miss Mason ini. Yuk kita coba review lebih dalam (semoga ga spoiler ya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜…)


Sekilas Filosofi

Di bagian awal, Mba Ellen Kristy pada buku ini membawa para pembaca untuk mengenal, memahami, dan meresapi filosofi pendidikan yang diusung Miss Mason. Filosofi ini bisa dikatakan sebagai rangkuman dari buku-buku yang ditulis Miss Mason kala itu, terutama terkait landasan filosofis metode Miss Mason.

Tentu dengan membaca buku "Cinta Yang Berpikir" ini akan sangat mempermudah proses perkenalan awal kita para pembaca dengan konsep Miss Mason. Mengingat bahasa Inggris sejaman Miss Mason tentu challenging alias susah ๐Ÿ˜….

Sedikit bocoran tentang filosofi Miss Mason, bisa kita lihat dari dua puluh prinsip yang dijadikan pakem pelaksanaan metode Charlotte Mason ini. Apa aja sih? Berikut lima dari dua puluh prinsipnya:

1. Anak terlahir sebagai pribadi yang utuh, bukan lembaran kosong atau embrio yang berpotensi sebagai pribadi utuh.

2. Anak menyimpan potensi menjadi baik atau buruk.

3. Prinsip otoritas untuk hidup teratur dan harmonis

4. Prinsip otoritas berprikemanusiaan namun tegas dan jelas.

5. Tiga instrumen pendidikan yaitu atmosfer, disiplin dan kehidupan.


Masih banyak hal yang diulas dalam bagian ini. Menurut saya, bagian pertama ini benar-benar ngebentuk mindset dan dibacanya ga bisa sekali atau dua kali (ini saya sih ๐Ÿคฆ๐Ÿ˜‚). Karena memang bahasanya itu mempermainkan pikiran ala filsuf, tapi bukan filsud aliran berkelit ya. Yang suka muter2 ga jelas. Mba Ellen dalam bagian awal ini mencoba memantik benak kita untuk berpikir, berpikir dan berpikir. Makanya judul bukunya "Cinta Yang Berpikir" ๐Ÿ˜๐Ÿคซ


Sekilas Kurikulum

Beranjak ke bagian kedua, mba Ellen Kristy mulai memperkenalkan apa saja yang menjadi menu kurikulum dalam pendidikan Miss Mason. Salah satu menu yang paling menarik bagi saya yaitu menu narasi yang memang menjadi ciri khas atau ikon dari metode Miss Mason ini. 


Sekilas menu narasi ini terdengar biasa, yaitu menceritakan ulang apa yang sudah dibacakan. Tapi ada satu teknik yang digunakan Miss Mason yang menjadi aturan main dari aktivitas narasi ini, yang lagi-lagi menurut saya membuat si narasi ini ga jadi biasa, yaitu single reading alias sekali baca. Jadi ga ada tuh istilahnya pas narasi kita minta dibacakan ulang karena alasan ga fokus atau kurang terdengar atau lupa๐Ÿคญ. Narasikan setelah kita dengar teks dibaca sekali baca, narasikan apa yang ada dibenak kita.


Semoga saya ga spoiler ya ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜ฌ


Satu lagi menu menarik dan masih terkait narasi yaitu Living Books. Kalo dibahasa Indonesiakan apa ya ๐Ÿ˜…. 


Namun setelah saya coba resapi semampu saya dari semua pemaparan para praktisi yang saya dengar dan baca. Dan juga hasil merenungi sekaligus merasa-rasai apa sih bedanya living book ini dengan buku-buku lain, bisa saya simpulkan bahwa living book itu adalah sebuah buku yang bisa membangkitkan dan merangsang akal budi kita untuk membuat ide hidup. Ide yang ketika kita selesai membacanya pun akan terus terngiang di benak kita. Ada rasa ingin membahas dan mencari tau lagi dan lagi terhadap apa yang didapat dan diolah oleh pikiran kita setelah membaca buku itu. Sebuah ide yang bisa membentuk sikap kita tentang hidup yang akan kita bawa kemana.


Okeh itu aja ya tentang kurikulum. Yang pasti dibagian ini juga dibahas tentang pelajaran lain dengan metode Miss Mason ini, seperti pelajaran Matematika, IPA, seni dan Bahasa.


Sekilas Komparasi

Bagian ketiga dari buku "Cinta Yang Berpikir ini, mba Ellen menyuguhkan sebuah perbandingan metode pendidikan yang kerap digunakan para homeschooler. Sebuah bahasan menarik yang bakal menjawab tebak-tebakan para pemula seperti saya yang biasanya sudah mengenal terlebih dahulu metode lain seperti Montessori. Ayo siapa yang ga kenal Montessori. Paling ga ibu Montes ini cukup terkenal dikalangan ibu-ibu muda di Indonesia.


Selain Montessori, ada empat metode lain yang disandingkan mba Ellen untuk komparasi, diantaranya:

1. Unit studies

2. Unschooling

3. Classical Education

4. Waldorf


Nah bagi teman-teman yang penasaran dengan metode pendidikan Miss Mason ini, bisa membaca buku mba Ellen ini sebagai perkenalan awal yang cukup intim menurut saya. 


Oh ya, jika teman-teman tertarik mengadopsi metodenya, maka kita harus bersiap membaca buku asli pemikiran Miss Mason yang berjumlah enam buah. Apa aja?

1. Home Education

2. Parents and Children

3. School Education

4. Ourselves

5. Formation of Habits

6. A Philosophy of Education


Gimana? Semoga ulasan ini ga spoiler ya dan menambah rasa ingin tahu. Jikapun tidak homeschooling, menurut saya buku ini sangat membantu kita membentuk kembali filosofi pendidikan yang kita punya. Atau paling tidak menumbuhkan sikap penuh prinsip dalam pendidikan. Tidak hanya bisa diaplikasikan ke anak, metode Charlotte Mason ini bisa juga kita terapkan ke diri kita.


Udah ya reviewnya. Selamat berburu buku dan membacanya!


Batujajar, 5 September 2020


Tulisan ini ditulis untuk aktivitas komunitas 1 Bulan 1 Buku


Jangan Mau Menjadi Ibu

Jumat, 07 Agustus 2020
Entah apa yang melatarbelakangi seorang wanita sehingga termotivasi untuk menjadi ibu. Bagaikan sebuah robot yang didesain untuk tujuan tertentu, seperti itulah wanita yang berkeinginan menjadi seorang ibu. Katanya, jika sudah menjadi ibu maka lengkap sudah rasanya peran sosial yang diperoleh. Jika sudah menjadi seorang ibu maka terbebaslah kita dari tatapan penuh tanya dari lingkungan sekitar. Jika jadi seorang ibu maka sempurnalah kehidupan.


Benarkah?

Sebuah Pola Yang Berulang
Sebagai makhluk yang dikenal dengan rasa tidak cepat puas, mudah iri hati, dan memiliki rasa penasaran yang tinggi, manusia acapkali melihat sesuatu dari sudut pandang terjauh mereka. Kita sering lupa menoleh ke arah terdekat kita dalam menggapai sesuatu.

Hal yang paling sering kita temui dan agaknya setiap manusia melewatinya yaitu ketika ada rasa ingin segera menjadi besar ketika kita masih kecil. Seperti, saat TK, kita ingin segera SD. Ketika sudah SD, kita ingin segera SMP. Saat SMP, kita ingin segera SMA. Ketika SMA, kita ingin segera kuliah. Dan disaat kuliah, tak sedikit yang ingin segera menikah dan seterusnya.

Sebuah pola yang berulang ini bisa dikatakan sebagai wujud karakter bawaan manusia yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi yang disertai dengan rasa tidak cepat puas dengan apa yang sedang dijalani saat itu. Dalam bahasan agama kita sering mendengar dengan "manusia sering khilaf, lupa bersyukur dan seringnya kufur".

Mari Kita Berpikir
Jika kita perhatikan, di dalam Al-Qur'an banyak sekali ayat yang mengisyaratkan kita untuk berpikir. Lebih kurang seratus ayat meminta manusia untuk berpikir dan menghayati sesuatu hal. Artinya, jika kita sudah menyadari pentingnya meneliti sesuatu hal sebelum melakukannya, maka kita tentu akan terhindar dari kesia-siaan apalagi rasa penyesalan.

Merupakan hal yang tabu pada masyarakat kita memberikan bekal pendidikan menjadi ibu bagi anak perempuan kita. Ketabuan ini hasil dari ketidakmampuan membahasakan peran yang begitu kompleks dalam sebuah kalimat sederhana. Sehingga yang terjadi hanyalah sebuah pola berulang yang didapat orang tua dari orang tuanya dengan polesan berbekal rasa trauma atau pengalaman.

Maka tak  jarang yang muncul adalah letupan pikiran bahwa ketika menjadi seorang ibu maka saya akan seperti ini dan tidak akan seperti itu. Tanpa mencari dan meneliti mengapa sikap seperti itu bisa muncul di dalam diri kita. Akibatnya, ketika benar-benar sudah menjadi ibu maka kita akan bersikap 'gagap' dan cenderung 'spontan' ketika menghadapi permasalahan dalam pengasuhan anak. Maka muncullah yang sering disebut pakar psikologi dengan istilah Inner Child.

Ada yang menyadari pola ini dengan cepat, ada yang berlalu begitu saja tanpa sebuah solusi dan sangat 'menikmati' lika likunya. Ada pula yang tidak menyadarinya sama sekali. 

Kompleksitas Manusia
Sekian juta manusia di dunia Allah ciptakan dengan perbedaan segala macam rupanya. Tak hanya fisik, perbedaan karakter dan watak menjadi pembentuk utama kompleksitas kehidupan manusia. Yang dengannya, muncullah budaya dan stereotype yang tercipta. 

Namun dalam pembentukan sebuah keluarga, kompleksitas ini menjadi sangat detail dan dan
Sangat bercabang. Ada faktor-faktor khusus yang melatarbelakangi pembentukan karakter seseorang. Tak hanya sekedar pengaruh lingkungan sosial melainkan hal kecil yang mengiringi kehidupan manusia setiap detiknya. Yang mana hal tersebut tersimpan di dalam memori bawah sadar manusia yang mempengaruhi segala sesuatu terkait manusia itu.

Maka, kemunculan standar sosial berdasarkan standar wajar yang disepakati mayoritas manusia, itulah yang akan memimpin. Maka sudah menjadi suatu hal yang lumrah ketika manusia ingin menjadi ini dan itu selagi hal itu masih dipandang wajar. Namun sayang, manusia lupa untuk mempertanyakan 'mengapa' atas setiap keinginan mereka.

Mengapa Mau Menjadi Ibu?
Kembali ke pembahasan awal, tentang menjadi ibu. Jika kita berani mempertanyakan alasan dibalik mengapa kita, wanita, mau menjadi ibu, apakah jawaban yang kira-kira akan kita kita lontarkan?

Pastinya aneka jawaban akan bermunculan, tergantung pada landasan berpikir masing-masing kita. Ada yang membawa motivasi agama, ada yang mengungkap motivasi sosial, atau ada juga yang sekedar menjalaninya tanpa alasan. 

Tidak ada jawaban mutlak untuk pertanyaan ini. Bahkan Allah pun tidak pernah memaksa kita untuk menjadi seorang ibu. Dan tentunya Allah lah Dzat yang paling berhak untuk menentukan siapa saja diantara wanita di dunia ini yang akan dititipkan tanggungjawab pembentuk peran ibu ini.

Lalu untuk apa kita 'memaksa diri kita' menjadi seorang ibu?

Memaknai kembali tujuan mengapa kita diciptakan, maka disitulah kita bisa memperoleh jawaban atas pertanyaan di atas, yaitu:

ูˆَู…َุง ุฎَู„َู‚ْุชُ ุงู„ْุฌِู†َّ ูˆَุงู„ْุฅِู†ْุณَ ุฅِู„َّุง ู„ِูŠَุนْุจُุฏُูˆู†ِ


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku". (QS. adz Dzariyat: 56)

Jangan Mau Menjadi Ibu
Menjadi ibu, memang sangatlah mudah. Bahkan banyak wanita yang tidak sadar melakukan perbuatan tercela yang mengantarkannya pada peran baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Layaknya anak TK yang tidak mengetahui betapa tidak mengenakkannya SD karena tidak bisa bermain sepuasnya layaknya di TK. 

Namun dengan menjadi ibu, ternyata itulah cara Allah menolong kita para wanita. Menolong untuk tersadar dari kekhilafan dan dan kebodohan kita. Yang menganggap bahwa ibu hanyalah sebuah perubahan peran sosial karena sebuah hubungan biologis. Dengan menjadi ibu, kita menjadi mau berpikir melebihi sebelumnya. Berpikir atas problematika kehidupan yang kita hadapi dengan hadirnya seorang anak.

Maka janganlah sesekali mau menjadi seorang ibu jika cara kita memandang hidup hanyalah sebuah kesenangan belaka. Maka janganlah mau menjadi ibu, jika dunia adalah tujuan yang membuat kita lupa konsep menghamba. 

Batujajar, 7 Agustus 2020

Mengelola Informasi, Mengolah Emosi

Minggu, 12 Juli 2020
Memperoleh informasi di zaman sekarang tidak lagi hanya mengandalkan televisi atau surat kabar saja. Saat ini, dalam satu genggaman sebuah alat berukuran mini kita bisa mengakses berbagai macam informasi tanpa harus menunggu jam berita. Tak hanya berita, bahkan membaca buku atau tulisan-tulisan menarik pun bisa kita peroleh tanpa harus ke toko buku. Dan perkembangan ini menggiring media cetak seperti surat kabar dan majalah untuk menyesuaikan diri dan bertransformasi menjadi media cetak elektronik.


Perkembangan teknologi ini tentunya membawa angin kemudahan bagi kita untuk memperoleh informasi. Dilain sisi, kemudahan ini membuat arus informasi menjadi sangat deras. Ditambah dengan hadirnya media sosial sebagai platform favorit setiap kalangan untuk memperoleh informasi aktual. Selain karena fiturnya yang menarik, juga karena media sosial menyuguhkan variasi informasi yang jauh lebih beragam dari media elektronik seperti televisi.

Informasi dan Orang tua
Sebagai orang tua, kemudahan memperoleh informasi ini tentunya surga dunia bagi kita. Aneka macam informasi terkait anak dan pengasuhan bisa kita peroleh dengan sangat mudah. Seminar, kuliah, workshop dan berbagai macam kelas online untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai orang tua pun bisa dengan mudah kita dapatkan tanpa harus keluar rumah dan meninggalkan anak dalam waktu yang lama.

Semua fasilitas hasil dari kemajuan teknologi ini tentu harus kita sikapi dengan bijak. Ibaratkan tubuh yang kita beri makan, jika terlalu banyak tubuh kita alih-alih menjadi sehat melainkan sakit. Begitu pula informasi, jika terlalu berlebihan bisa menyebabkan informasi memberikan dampak buruk bagi diri kita. Sehingga, pengelolaan informasi dibutuhkan seperti halnya pengelolaan menu untuk asupan makanan ke tubuh kita.

Emosi dan Pikiran
Emosi dan pikiran seperti dua sisi mata uang. Mereka tidak dapat dipisahkan. Pikiran, bisa memberi perubahan pada emosi, dan emosi pun bisa memberikan pengaruh pada pikiran. 

Dalam mengelola informasi, dibutuhkan sumber referensi yang menjadi pijakan atau landasan bagi kita untuk berpikir. Apakah informasi tersebut cocok bagi kita, bermanfaat dan kita butuhkan. Jika memang dirasa dibutuhkan, apakah informasi tersebut akurat dan berasal dari sumber terpercaya.

Lantas apa landasan yang bisa kita jadikan referensi pijakan? Tentunya referensi yang bersifat ideologis  yang menjadi landasan keyakinan kita, bisa berupa kita suci atau sejenisnya.

Contoh Kasus
Ada sepasang suami istri yang baru saja dianugrahkan keturunan. Sebagai pasangan yang baru mengemban amanah sebagai orang tua, mereka mencoba mencari tahu berbagai macam informasi terkait pengasuhan. Mulai dari tahap perkembangan anak hingga hal-hal teknis yang mereka temukan kendalanya disaat mendampingi anak.

Suatu waktu, sang ibu tidak sengaja membaca sebuah tulisan di akun media sosialnya. Tulisan tersebut membahas tentang pentingnya perkembangan bahasa bagi anak usia dini. Dalam tulisan tersebut si Ibu memperoleh informasi bahwa perkembangan bahasa menjadi salah satu faktor yang bisa mengindikasikan kecerdasan otak anak. 

Sesaat setelah membaca tulisan tersebut tanpa melakukan kroscek sumber tulisan, sang ibu pun langsung dilanda kepanikan. Pasalnya anaknya yang berusia 20 bulan belum mengalami lonjakan kosakata seperti di tulisan yang dia baca. Sehingga pikiran sang ibu pun menjadi panik mengkhawatirkan anaknya akan tumbuh tidak cerdas dan normal.

Di tempat yang terpisah, sang suami membeli sebuah buku tentang tahapan perkembangan anak karya seorang dokter tumbuh kembang anak. Sang suami menyadari ada keterlambatan yang dia lihat dari tumbuh kembang anaknya. Namun dia tahu bahwa hal tersebut masih dibatas wajar. Sehingga dia memutuskan membeli buku tersebut agar bisa menstimulus sesuai dengan ilmunya untuk mengatasi rasa khawatirnya.

Apa Yang Dilihat Dari Contoh Kasus di atas?
Ada perbedaan sikap yang mempengaruhi perbedaan prilaku. Pengelolaan informasi dengan melibatkan pikiran yang berlandasan, akan berbeda penyikapannya. Sehingga emosi yang muncul pun bisa terlihat beda.

Pengelolaan informasi seperti apa yang bisa kita lakukan agar bisa mengolah emosi dengan baik? 

1. Menyadari bahwa informasi bukanlah landasan hidup melainkan sumber pengetahuan yang datang dari seseorang. Bisa salah dan bisa juga betul.

2. Melalukan kroscek terhadap setiap informasi yang diperoleh dari berbagai macam sumber. Utamakan sumber-sumber terpercaya.

3. Memiliki landasan berpikir. Apa yang paling mempengaruhi kehidupan kita. Agama kah atau apa? Lalu pelajarilah hal-hal yang membentuk pola pikir kita itu berdasarkan landasan berpikir tadi.

4. Menyadari bahwa informasi bersumber dari anekaragam pemikiran, latar belakang dan tujuan. 

Refleksi Pribadi
Kencangnya arus informasi membuat kita suka lupa menilik diri sendiri terkait cara kita menyikapi sesuatu, termasuk informasi. Apakah kita termasuk yang reaktif atau kalem. Seringnya kita hanyut membaca, baik teks atau sekedar foto dari akun-akun yang kita ikuti. Kemudian secara tidak sadar, akun yang paling kita ikuti akan mendominasi cara pikir kita. Dan tidak menutup kemungkinan kita akan menjadikannya sebagai referensi dan landasan berpikir kita.

Untuk saya pribadi, melakukan sesuatu termasuk dalam mencari sebuah informasi diperlukan ketenangan berpikir. Memastikan diri tidak sekedar ikut-ikutan yang sering membuat kita rapuh dalam bersikap. Dan tentu, sebagai manusia beragama saya menjadikan kitab suci sebagai landasan berpikir, agar ketika hadir sebuah informasi saya bisa bersikap sewajarnya. 

Jika kita contohkan aplikasinya berdasarkan contoh kasus di atas, bisa jadi begini.

Kepanikan sang ibu tadi bisa jadi bersumber dari berbagai macam faktor, bisa dari ketidaktahuan atau obsesi pribadi. Ketidaktahuan akan tahapan tumbuh kembang anak membuat informasi sepintas lewat menjadi sumber yang dia yakini keakuratannya. Atau sikap obsesif sehingga sang ibu menginginkan anaknya tumbuh normal bahkan melejit. Dua hal yang tidak imbang inilah yang menjadikan informasi sebagai bumerang tersendiri bagi orang tua.

Sehingga informasi tak lagi membawa kebermanfaatan, melainkan membawa gejolak emosi yang tentu bisa mengganggu stabilitas keluarga.

Baleendah, 12 Juli 2020

Zaynab Mikayla Alkhansa

Selasa, 12 Mei 2020
Baru beberapa kali saya menuliskan kisah tentang Zaynab di blog ini. Sudah saatnya kita menuliskan kembali cerita tentang Zaynab. Diusianya yang sudah satu tahun setengah.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Dulu impian saya ingin mendokumentasikan setiap tahap tumbuh kembang Zaynab mulai dari usia 0 bulan. Tapi ternyata itu hanya wacana ๐Ÿ˜…. Saya terlalu sibuk dengan urusan pindahan, jastip dan juga eczema Zaynab. Bahkan tulisan tentang kelanjutan eczema Zaynab saja saya masih hutang dua judul ๐Ÿคญ. 

Zaynab Mikayla Alkhansa

Tapi ga papa lah ya kalo pada tulisan kali ini saya ga ngebahas eczema ataupun alerginya Zaynab. Malam ini saya ingin bercerita sedikit tentang karakter Zaynab hingga menginjak usia 18 bulan ini. Tentu saja tulisan ini bukan untuk meningkatkan viewer. Tapi untuk rekam jejak digital seperti halnya Zaid dan Ziad. Yang mana kalo kita googling nama mereka, maka foto-foto mereka pun akan muncul. Semoga Zaynab juga ya ๐Ÿ˜‚.

Tracking Milestone
Beberapa hari  yang lalu, saya sempat melakukan checklist milestone Zaynab menggunakan panduan yang saya peroleh jaman di US dulu. Alhamdulillah 90% Zaynab udah mencapai milestonenya sesuai usianya. Dan PR nya Zaynab agak mirip dengan Zaid Ziad seumuran Zaynab. Yaitu capaian bahasa.

Zaynab Mikayla Alkhansa


Normalnya, lejitan bahasa pada anak biasa terjadi diusia 18 bulan ke atas. Anak akan dengan spontan mengikuti kata yang kerap mereka dengarkan. Bagaimana dengan Zaynab?

Masih tergolong normal alhamdulillah. Sejak usia 16 atau 17 bulan Zaynab sebenarnya menunjukkan peningkatan capaian bahasa melalui kosakata yang dia peroleh. Namun, memasuki usia 18 bulan, beberapa kata mulai hilang. Namun dia masih mengerti apa yang dimaksud dari kata tersebut namun tidak mau lagi memproduksi kata tersebut. Nah ini yang bikin khawatir ๐Ÿ™ˆ

Zaynab Mikayla Alkhansa

Saya coba list kata-kata yang sudah/pernah/lumayan sering muncul dari ucapan Zaynab dan memiliki makna yang konsisten terhadap benda atau sesuatu.

Mpah ๐Ÿ‘‰ tumpah, sampah
Mamam ๐Ÿ‘‰ makan, bobo, dan nenen. Dan sekarang kucing pun jadi mamam, bukan lagi memeng ๐Ÿคง
Tata ๐Ÿ‘‰ mata dan hanya diucap kalo saya lagi ngulek sambel karena dia pernah keperihan mata gara-gara bau bawang
Det ๐Ÿ‘‰ kaget. Hanya akan diucap jika kita kaget dan dia jadi inget cerita saat dia kaget lagi main hp tiba-tiba kepencet Youtube yang videonya suaranya keras
Aaa ๐Ÿ‘‰ manggil semua orang sekarang kaya gitu terus ๐Ÿคง. Padahal sebelumnya sudah bisa panggil Ta untuk Abinya, Ba untuk Abangnya, dan Da untuk Udanya. Dan Aaa ini juga untuk meminta hal yang dia mau ๐Ÿ™„
Pau ๐Ÿ‘‰ untuk apapun jenis cerita yang memiliki suara yang entah apa lalu dia endingkan dengan pau ๐Ÿ™„
Wow ๐Ÿ‘‰ untuk segala hal yang menakjubkan buat dia
Dakda ๐Ÿ‘‰ tidak ada
Papapa ๐Ÿ‘‰ ga papa atau itu apa atau itu siapa
Dan suara-suara aneh yang dia dengar seperti sendawa, kentut, auman, teriakan dll yang spontan terjadi saat kita tengah bercengkrama.

Banyaknya ekspresi ya ๐Ÿ˜…. Bukan kata benda ๐Ÿ˜‚.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Adapun kata atau  kalimat yang dia mengerti tapi belum mau mengucapkannya adalah:

1. Semua anggota tubuh seperti mata, telinga, rambut, hidung, mulut, lidah, gigi, pipi, jidat, tangan, kaki, belly, pipis, pantat.
2. Kalimat perintah seperti tutup atau buka pintu, tolong ambilin bla bla, ajakan terhadap aktivitas tertentu seperti makan, main, pergi, doa, mengaji. Dan kalimat perintah lainnya yang cukup banyak sehingga membuat saya merasa dia sudah sangat dewasa untuk disuruh-suruh ๐Ÿคญ
3. Menggeleng dan mengangguk dengan sangat tepat ketika ditanya sesuatu.
4. Menunjukkan semua anggota keluarga sesuai dengan namanya.
5. Mengadu jika terjadi sesuatu padanya dengan bahasa bayi yang panjang tapi belum mengeluarkan kata bermakna hanya menunjuk-nunjuk suatu tempat atau lokasi peristiwa terjadi ๐Ÿ˜….

Zaynab Mikayla Alkhansa

Kemampuan lain selain capaian bahasa yaitu kemampuan bermain dengan kakak-kakaknya. Seperti bermain petak umpet, baca buku bareng, kuda-kudaan, dan lain-lain. Yang mana saya memandang hal ini sebagai capaian sosial interaksi dia.

Sedangkan untuk kognitif bisa dilihat dari kemampuan dia menunjuk semua anggota tubuh yang kita tanya secara tepat. Selain itu Zaynab juga bisa mengoperasikan benda sesuai fungsinya seperti sikat gigi, sisir rambut, bantal, selimut, buku, kursi, dan lain-lain. Dan Zaynab juga menyukai pretending play dengan boneka-bonekanya. Seperti menyuapinya, mengaja bicara, menggendong, dan lain-lain.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Bagaimana motoriknya? Memang anak laki-laki dan perempuan akan signifikan perbedaan terlihat di kemampuan motorik ya. Jika dulu ZaZi motorik kasar majunya pesat, Zaynab justru di motorik halus. Hal ini semacam natural aja ya tanpa stimulus. Sehingga saya harus fokus pada motorik kasar Zaynab justru. 

Kayanya segini dulu deh bahasan tentang Zaynab. Semoga ada lanjutannya biar keliatan juga nih anak perkembangannya gimana ๐Ÿ˜.

Batujajar, 12 Mei 2020
Nb: bagi yang ingin dikirim pdf milestonenya, silahkan tinggalkan komen ya ๐Ÿค—

Ketika Harus Memilih Homeschooling

Minggu, 10 Mei 2020

Homeschooling sebagai salah satu alternatif pilihan pendidikan untuk anak semakin hari semakin dilirik para orang tua. Beragam faktor tentunya, yang membuat para orang tua menjadikan homeschooling sebagai pilihan jalur pendidikan. Seperti faktor eksternal dengan adanya rasa kurang puas dengan sistem pendidikan yang ada, kurang terfasilitasinya kebutuhan anak, atau mungkin juga faktor internal karena tidak ingin melewatkan kesempatan memiliki amal jariyah terbesar.



Selain faktor yang beraneka ragam, persepsi terhadap homeschooling ini sendiri pun beragam. Dalam pembahasan kali ini, homeschooling yang kami maksud adalah homeschooling berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 129 tahun 2014. Dalam peraturan ini disebutkan bahwa sekolah rumah atau homeschooling adalah proses layanan pendidikan secara sadar dan terencana dilakukan oleh orang tua/keluarga di rumah atau tempat dengan suasana kondusif.


Jadi dari Peraturan Menteri tersebut, dalam tulisan ini kita akan membahas tentang homeschooling yang dilaksanakan langsung oleh para orang tua. Bukan homeschooling yang dialihtangankan ke pihak atau lembaga tertentu yang melabeli dirinya sebagai lembaga homeschooling. Karena dua hal ini memiliki konsep yang berbeda.


Banyak dari para praktisi homeschooling menyarankan pelurusan persepsi terhadap konsep homeschooling yang akan diterapkan. Karena jika persepsinya sudah lurus, akan mudah bagi kita untuk mengatasi berbagai macam sandungan di kemudian hari.


Pelurusan persepsi disini lebih kepada mengembalikan konsep homeschooling pada filosofi awalnya, yaitu pendidikan berbasis keluarga. Bukan pendidikan berbasis lembaga alias mengalihkan pendidikan dari pendidikan formal di sekolah ke pendidikan nonformal atau informal lewat lembaga pendidikan.


Nah, selain persepsi tentang homeschooling itu sendiri, sedikitnya ada lima hal penting lainnya yang harus kita ketahui sebelum memutuskan untuk memilih homeschooling.


1. Visi misi keluarga

Dalam menjalankan homeschooling, artinya keluarga menjadi basis utama pendidikan anak sebelum memperluas diri ke ranah yang lain. Menentukan visi misi keluarga menjadi sangat penting agar tujuan pendidikan berbasis keluarga ini bisa terlihat. Dari visi misi keluarga inilah kemudian kita telurkan visi misi dalam mendidik anak.


2. Visi misi pendidikan anak

Setiap keluarga tentu memiliki ruh yang berbeda dalam memberikan pendidikan terhadap anaknya. Ada keluarga yang ingin memperkaya anak dengan ruh religi, sporti, naturalistik, atau ruh keilmuwan.

Merunut dari visi misi keluarga, maka visi misi pendidikan anak membantu kita melihat lebih terperinci apa yang menjadi visi misi dalam pendidikan anak. Seperti halnya menciptakan ruh tadi. Ada keluarga yang mampu menelurkannya sejak awal, namun tak jarang ada keluarga yang terus menerus merevisi visi misi pendidikan anak ini karena karena hendak menyesuaikan dengan perkembangan sang anak.


3. Karakteristik keluarga

Merumuskan visi misi keluarga dan juga pendidikan anak bukanlah hal yang mudah. Selain menuntut proses panjang, perumusan visi misi ini pun meminta kita untuk terus menerus mengenal karakteristik keluarga. Karena pengejawantahan visi misi ke ranah teknis akan sangat menantang jika kita kurang memahami karakteristik keluarga.

Ada keluarga yang mampu menyibukkan diri dengan aneka aktivitas di dalam rumah. Ada keluarga petualang yang tidak mampu melejitkan potensi jika hanya monoton di rumah saja. Dan ada juga keluarga yang mampu beradaptasi cepat dengan perubahan situasi, kondisi dan lingkungan.


4. Metode homeschooling

Setelah mengetahui karakteristik keluarga, barulah kita bisa beranjak untuk menemukan metode homeschooling yang cocok untuk keluarga. Ada banyak metode pendidikan yang bisa kita terapkan dalam homeschooling. Seperti metode Montessori, Charlotte Mason, metode Unschoolingnya John holt atau pun metode campuran dari semua metode yang dirasa cocok dengan keluarga kita.


5. Prinsip-prinsip dalam homeschooling

Ada banyak hal prinsip yang tak kalah penting dari empat poin penting di atas yang harus sudah ajeg dimiliki oleh keluarga homeschooler. Prinsip-prinsip inilah yang nantinya diharapkan sebagai pengokoh keluarga ketika ada kerikil atau batu sandungan. Sehingga kita para orang tua sebagai pelaksana homeschooling tidak mudah goyah dalam menjalankan pilihan pendidikan ini.

Jadi jika diumpakan, empat poin sebelum ini adalah sebagai pondasi, maka poin ke lima ini adalah tiang yang siap menyangga bangunannya. Sehingga ada beberapa prinsip yang perlu kita ketahui agar miliki tiang penyangga yang kuat.


Apa sajakah prinsip-prinsip tersebut:

1. Setiap manusia adalah berbeda, maka hargailah perbedaan sekecil apapun itu. Baik perbedaan antar anggota keluarga, maupun perbedaan antar keluarga homeschooling. Lebih luas lagi, perbedaan antar orang tua dalam memilihkan jalur pendidikan untuk anak-anaknya.


2. Karena kita berbeda, maka tak ada gunanya kita saling membandingkan. Karena prinsipnya perbandingan hanya akan memunculkan pelemahan atau kesombongan. Dan hal ini akan menggoyahkan pondasi keluarga, yaitu jiwa. Ketika jiwa goyah, maka tak matanglah visi misi yang seharusnya bisa dimatangkan. Ketika jiwa goncang, maka tak kuatlah karakteristik keluarga yang melekat. Karena lebih terpengaruh arus luar akibat seringnya membandingkan.


3. Setiap keluarga itu unik, maka ambillah kebaikan dari keluarga lain dan modifikasi penerapannya untuk keluarga kita. Lalui hargailah setiap keunikan yang beragam itu untuk membuka mata lebih lebar bahwa pendidikan anak tak melulu menyoal keluarga kita. Ingat! Ada pendidikan sosial dan moral serta agama yang harus melibatkan elemen horizontal kita sebagai manusia.


4. Sukses dan gagalnya sebuah homeschooling tidak dapat dilihat dalam waktu yang singkat. Karenanya, berhentilah menilai keluarga lain dan fokuslah pada proses keluarga sendiri dengan menentukan sukses seperti apa yang hendak kita jemput.


5. Orang tua adalah cerminan anak, maka pastikan kita sebagai orang tua selesai dengan diri sendiri. Sehingga tidak ada bias yang terjadi ketika kita menanamkan nilai kepada anak. Bukankah Allah tidak menyukai manusia yang tidak melaksanakan apa yang dia katakan?


Semoga dengan 5 poin penting ini, para orang tua yang masih merasa bimbang akan pilihan pendidikan anak-anaknya bisa menjadi lebih mantap dalam melangkah. Pilihan pendidikan apapun itu, semua tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Hanya kita yang tahu pilihan pendidikan apa yang siap kita terima kekurangannya dan puas hati mendapatkan kelebihannya.


Batujajar, 1 Mei 2020


Nb: Tulisan ini dimuat di The Real Ummi dengan judul "5 Hal Penting Sebelum Memulai Homeschooling" dengan editan yang disesuaikan tanpa mengubah isi artikel

Jurnal Ramadan: Percobaan Liquefaksi

Sabtu, 09 Mei 2020
Jujur saja, saya adalah orang tua yang baru saja belajar. Belajar tentang diri sendiri, pasangan, anak dan lingkungan. Sehingga tantangan berat memang buat saya ketika harus belajar sembari membersamai anak-anak belajar. Terutama ketika saya dan suami memutuskan untuk Homeschooling.


Seperti yang pernah saya tuliskan di sebuah artikel (saat tulisan ini dibuat tulisan tersebut belum publish di website komunitas yang saya ikut), saya meyakini bahwa tak hanya anak yang unik, masing-masing keluarga pun unik. Sehingga dari hal inilah saya mulai menipiskan berbagai macam perasaan tak mampu membersamai anak belajar. Karena hakikatnya sudah sangat jelas. Keunikan keluarga kitalah wadah utama tempat belajar kita.

Ya! Kita! Semua anggota keluarga. Tak hanya anak melainkan juga orang tua. Kita semua sedang dan akan terus belajar.

Dari hal inilah saya coba melihat dan masuk dengan sangat perlahan tentang cara yang bisa saya gunakan agar tujuan pendidikan anak yang saya impikan tercapai. Apakah itu? Saya berharap anak-anak bisa menjadi pembelajar mandiri yang selalu bersemangat mencari ilmu. Dan tentu kuncinya ada pada diri kita orang tua. Dengan cara terus menerus belajar. Tak peduli anak-anak ngeh atau tidak.


Nah pagi ini, anak-anak yang memang tipe random learner memergoki saya tengah menonton video liquefaksi yang terjadi di Sulawesi. Sengaja tidak saya stop videonya seperti biasanya, karena video ini adalah pengetahuan. Dan benar saja, mereka bertanya panjang lebar tentang peristiwa tersebut tak ada habisnya. Karena saya harus berbagi perhatian dengan Zaynab, saya pun menawarkan aktivitas outing untuk melakukan mini experiment tentang peristiwa liquefaksi ini.

Berbekal informasi singkat dari sebuah video yang kami temukan di google, saya mulai kebayang percobaan seperti apa yang bisa kita lakukan. Padahal tadinya saya ragu apakah anak-anak akan tertarik atau tidak. Dan alhamdulillah memang mereka anak-anak alam yang paling seneng kalo diajak keluar memperhatikan alam sekitar.


Terkadang kita suka terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa oh kita tidak mampu atau anak tidak mau. Padahal mungkin kita hanya butuh waktu untuk melihat sesuatu lebih mindfull. Karena sesungguhnya dibalik ketidaknormalan kondisi tetap ada pembelajaran di dalamnya. Makanya jangan langsung patah semangat dulu jika pancingan yang kita berikan untuk anak agak kurang mempan. 

Perlahan meski tidak terlihat, tapi satu persatu aktivitas sederhana dalam keluarga kami yang sangatlah baru di dunia homeschooling ini memperlihatkan polanya. Jika berbicara hasil agaknya terlalu dini. Sehingga saya memang berfokus pada pola yang bisa dibentuk dalam keluarga kami untuk membawa anak-anak menjadi pembelajar mandiri.

Oh iya, bagi teman-teman yang ingin melakukan percobaan liquefaksi ini, alat dan bahannya sangatlah mudah. Ga perlu beli-beli atau preparasi lama. Saya coba catatkan semoga bermanfaat.

1. Siapkan satu wadah untuk media yang akan diisi kerikil dan tanah
2. Siapkan sendok atau sekop kecil untuk memudahkan memindahkan tanah
3. Sediakan air secukupnya untuk memberikan efek becek pada tanah
4. Siapkan benda yang ingin dicobakan terkena dampak liquefaksi, seperti mobil-mobilan atau mainan lainnya.

Caranya:
Perkenalkan kepada anak bahwa struktur tanah yang selama ini kita injak terdiri dari beberapa lapisan. Untuk percobaan kita buat dua lapisan saja. Lapisan bebatuan sebagai dasar, dan lapisan tanah di atasnya. Di dalam tanah juga terdapat air. Disini kita juga bisa menjelaskan dari mana air yang selama ini mereka pergunakan untuk mandi dan lain-lain. Jika perlu buatkan sketsa sederhana mengenai struktur tanah ini.

Lalu, siramkan air ke dalam wadah karena tanah memiliki air di dalamnya. Nah peristiwa liquefaksi terjadi ketika adanya perubahan kepadatan tanah akibat sebuah peristiwa seperti peristiwa gempa bumi. Yang menggeser struktur tanah bagian dalam, seperti kerikil tadi yang menyebabkan air tanah naik ke permukaan dan membuat tanah kehilangan kepadatan dan kekuatannya. Disaat inilah tanah seolah bersifat seperti air. Bisa memiliki gelombang sepertu air laut dan mampu menghanyutkan atau menenggelamkan benda yang ada di atasnya.

Mudah-mudahan bermanfaat ya dan anak-anak jadi terpancing daya berfikir kritisnya. Semakin banyak mereka bertanya, semakin bermakna pembelajaran yang kita suguhkan.

Batujajar, 6 Mei 2020