MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Jalan Menuju Surga atau Jalan Menuju Allah?

Kamis, 06 Desember 2018

Siapa sih yang ga mau masuk surga? Kalo ditanya setiap manusia, pasti semua menjawab ingin masuk surga. Tak peduli dia seorang muslim atau non muslim, orang baik atau tersesat, anak kecil atau dewasa, semua pasti mau masuk surga. Atau mungkin beda istilah lah ya untuk beberapa golongan yang meyakini sejenis kehidupan setelah kematian. Prinsipnya sih, setiap manusia mengidamkan kehidupan yang jauuuuuuh lebih baik dan indah dibanding kehidupannya sekarang setelah kematiannya.

Konteksnya bagi saya dan teman-teman muslim, kehidupan indah lagi baik setelah kematian ya adanya di surga. Jadi pastilah setiap kita mau mengusahakan jalan menuju kesana.

Disclaimer dulu ya sebelum membaca lebih jauh ... bahwa tulisan ini tidak akan berbicara dalil ataupun hal yang bereferensi. Karena ini adalah tulisan pribadi sebagai refleksi diri. Yang mau lanjut baca mangga ... yang tersesat karena berharap ada referensi disini, mangga Googling lagi bener-bener hehehe.

Bukan ga mau cantumin dalil, cuma belum siap aja kalo ada yang ngajak diskusi karena bukan kapasitas saya bahas beginian hehehe. Saya hanyalah manusia yang tengah menikmati renungan dan meresapi hidup biar jadi insan yang lebih baik. πŸ˜†

Balik lagi soalan jalan menuju surga. Kenapa saya tiba-tiba pengen nulis tentang ini. Padahal sadar bukan kapasitas diri untuk menuliskan kajian kejiwaan kaya gini. Tapi ya tapi ... saya hanya ingin berbagi sisi pandang saya, atau katakanlah curahan hati saya yang mungkin juga sedang dirasakan oleh orang lain. Dimana saya sangat sangat sangat mendamba kehidupan yang indah setelah kematian.

Disela perenungan soal diri yang masih sering lalai ini ... ditengah diskusi nurani yang masih sering mengkomolain diri, tetiba suami membuka ruang dialog semacam muhasabah dipenghujung hari dengan saya tadi malam. Soalan apa? Soalan bagaimana caranya menggapai jalan menuju Allah. Ya menuju Allah! Bukan menuju surga.

Hmmmm saya pun memilih mengikuti bahasan suami dan terdiam lalu terdiam dan terhenti nulis tulisan yang tadinya mau saya posting di Instagram story. Bisa bayangin ga reka adegannya? Saya tercengo dengan HP di tangan dan lagi asik ketik-ketik trus tertohok setelah mendengar hal yang bikin tersindir. Untungnya ga pake adegan HP terjatuh dari genggaman πŸ˜‚

Drama banget sih πŸ˜…. Tapi memang aslinya begitu. Gimana ga berhenti nulis coba. Karena tanpa sengaja dan saya yakin ini adalah skenario Allah, poin pertama tentang jalan menuju Allah yang dibahas suami adalah dengan ikhlas melakukan amalan ibadah.

Trus lidah saya spontan bertanya dan tentunya Allah yang gerakin kan ...

"Tau ikhlas nya darimana?"

"Macem-macem. Kalo dari buku yang tadi dibahas di halaqohan bisa dari perasaan takut akan popularitas".

Saya pun 'deg!!!' dan nyengir kikuk πŸ˜….

Di jaman media sosial dimana aneka pekerjaan baru bermunculan dengan memanfaatkan media tersebut, popularitas adalah sebuah hal yang dicari dan diincar, termasuk oleh saya, seorang blogger yang masih mencari jati diri πŸ˜†

Bagi teman-teman yang mengikuti perjalanan blog saya (tapi kayanya saya belum punya pelanggan setia deh hahaha), tentunya tau gimana blog ini bermula dan akhirnya ingin dibawa kemana. Ya! Saya ingin menjadikan blog ini sebagai side job saya. Dan salah satu caranya ya dengan terus eksis di dunia maya. Semakin eksis makin popular kan?

Hmmmm ...

Memang tidak salah dengan popularitas yang di dapat, yang salah kan perihal niat ya. Nah iya ngomongnya enak, prakteknya??? πŸ˜…

Ada beberapa tulisan saya sebenernya yang kalo dibaca bakal kelihatan kegalauan saya tentang pemanfaatan media sosial ini. Banyak faktor yang membuat saya maju mundur buat eksis di setiap akun media sosial saya. Makanya saya sempat hengkang dari Facebook dan cuma aktif di satu akun yaitu Instagram. Eh di Instagram beda lagi cobaannya.

Baca juga: Apa Sosial Media Pilihanmu?

Sebut saja salah satu faktor kegalauan tersebut ketika saya masih bergulat resah tentang aktivitas like, comment dan share yang bahkan sampe ada yang beli like atau beli follower (ini kasus di Instagram ya). Jujur, sungguh patokan pabanyak-pabanyak like, comment dan share ini mengganggu nurani saya hahaha. Bisa dikatakan saya jadi suka salah niat buat sekedar posting doank. Mau hengkang dari IG juga gitu?

Yaaah dimana-mana, ibarat kehidupan lah, dunia maya juga punya aneka sisi baik positif atau negatif. Jadi ya gimana kitanya kan ya ... mau ambil sisi positifnya atau sibuk musingin sisi negatifnya? Lha hama mah ada aja. Mau fokus ke hamanya doank trus malah jadi lupa ke ladangnya? Ga juga kaaaan ...

Alhamdulillah setelah berkali-kali menempa diri agar tidak terpengaruh hal-hal negatif dari media sosial apapun itu jenis aplikasinya, saya pun terjun kembali ke Facebook (baru berapa hari sih hahaha)

Sekarang alhamdulillah ibaratnya media sosial sudah saya genggam di tangan bukan di hati. Biar apa? Biar apapun tanggapan netizen ga dimasukin hati dan bisa lebih bernilai positif karena kita nerimanya dengan positif juga.

Jadi dulu media sosial kamu genggam di hati? Hmmm bisa jadi iya sih. Makanya mungkin baperan wkwkwkwk (untuk satu atau dua topik doank sih saya baperannya #ngeles)

Kenapa saya bisa sampe segitunya sih? Lha posting mah ya posting aja. Kenapa harus mikirin soal like, comment dan share sih??? Atau soalan jumlah follower misalnya kalo di Instagram.

Ini dia! Kenapa pas suami bilang salah satu cara menempuh jalan menuju Allah dengan mengikhlaskan diri dalam melakukan amalan ibadah indikasinya takut popularitas saya terdiam, ya karena untuk menjadi blogger 'berbayar' at least saya harus konsisten eksis dan popular. Kalo ga? Gimana saya mau dibidik sebagai blogger worker untuk sebuah product review dan lain-lain? Jadilah saya kalo nulis bener-bener pengennya di apresiasi dengan viewer yang bikin hati gembira. Atau dengan statistik blog yang bagus.

Niat lurus mana niat lurus ... hehehe

Popularitas jaman media sosial ini memang ga harus sepopular artis ya. Cukup dengan tulisan kita banyak pembacanya, blog kita tampil di laman pertama mesin pencari sejenis Google, konsisten nulis konten positif dan informatif, biasanya reviewer seeker bakal nawarin job. Masalahnya, biar blog dikenal ya kita kudu promo kan. Nah sebagai awam yang tadinya nulis buat pribadi dan sekarang nulis ada tujuan lain, adalah saya berada di titik adaptasi.

Kaya orang miskin mendadak kaya, titik adaptasinya biasanya kan malah jadi boros. Nah kalo saya dari blog yang pembaca nya cuma satu dua biji pembaca jadi ratusan bahkan ribuan pembaca untuk satu blog post, saya mendadak jadi disorientasi kalo nulis. Tadinya nulis ya nulis aja ga peduli statistik blog, sekarang tiap habis nulis sibuuuuuk aja ngecek statistik πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜…πŸ˜†

Tulisan mendadak banyak yang baca aja bisa bikin saya pongah. Trus kalo tulisan sepi pengunjung bisa bikin jadi males nulis. Sedangkan dalam bekerja dan berkarya, niat juga harus tetep dijaga kan ya. Jadi jangan ujug-ujug pengen popular nya doank malah jadi lupa menghargai proses. (Tunjuk diri sendiri!!!)

Konsepnya ...

Janganlah mengejar popularitas, tapi jika popularitas menghampiri, janganlah lupa diri  dan tetaplah takut akannya

Artinya, ketika saya ingin blog ini suatu saat popular dan saya jadi ketiban banyak job karena menulis blog, tetaplah merendah dan takut dengan popularitas yang ada. Agar kita ga lupa diri dan ga lupa siapa sih dibalik semua ini melainkan Allah???

Jadi? Tetaplah menulis apapun itu asalkan bermuatan positif dan informatif. Baik berupa pengalaman, pengetahuan atau bahkan sekedar opini atau curhatan pribadi. (Tunjuk diri sendiri lagi!!! πŸ˜†πŸ˜†)

Ini baru satu poin dari 13 poin gimana menempuh jalan menuju Allah yang diambil dari bukunya Yusuf Al Qaradawi. Pengen bahas semuanya biar blog ini ada ruh spiritualitasnya. Hehehe ... Jadi kalo suatu saat saya rada lupa, bisa diingetin lagi sama tulisan sendiri.

Curiganya kalo bahas 12 poin sisanya, bakal bikin diri ini semakin pengen menjerit "Ya allah ..." lalu istighfar ... πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”

Udah sih itu aja renungan saya sebagai blogger amatir yang masih bermimpi punya side job lewat ngeblog. Semoga Allah sampaikan dan ijabah. Jikapun tidak lewat ngeblog, barangkali ada cara lain dari Allah untuk menjadikan saya berdaya dan berkarya agar jadi manusia yang bermanfaat. In sya Allah aamiin ...


Columbus, 5 Desember 2018

Hujan Politik

Senin, 03 Desember 2018
INDONESIAKU
Akhir tahun 2018 mendekati 2019. Setelah berselancar kembali di Facebook, wow! Lagi hujan politik di Indonesia. Tapi tenang! Saya tidak akan berbicara pilihan politik saya. Saya hanya ingin berbincang dengan pikiran sendiri perihal politik ini.

Beberapa tahun silam, seorang teman yang saat itu terlibat bincang ringan dengan saya mengungkapkan bahwa dia adalah tipe orang yang menjadikan pilihan politik masuk ke ranah privasi dia. Artinya, dia tidak akan membahasnya dalam keseharian dengan orang-orang asing, seperti mendiskusikannya di media sosial. Sedangkan saya? Kala itu saya adalah tipe yang senang mengkampanyekan pilihan politik saya, termasuk di media sosial. Meskipun saya tetap menjaga dan menghormati pilihan politik teman saya.

Seiring berjalannya waktu. Media sosial kemudian menjelma jadi sebuah ruang sosial baru di era digital. Hal ini membuat saya perlahan menarik diri dan memilih bersikap seperti halnya teman saya tadi. Bukan karena saya menjadikan politik sebagai ranah privasi saya, tapi semata-mata untuk menjaga sebuah hubungan baik yang pernah ada di lingkaran pertemanan saya.

Tentunya teman-teman pembaca sudah sangat paham dengan menjaga hubungan yang saya maksud. Ya! Saat ini perbedaan politik bisa jadi bumerang untuk hancurnya sebuah kekerabatan atau persaudaraan yang pernah terjalin. Padahal dari jaman dahulu kala, kita sudah sangat terbiasa kan dengan perbedaan yang ada. 

Tapi memang perbedaan pilihan politik tampaknya menjadi hal baru di Indonesia mengingat lebih dari 30 tahun pilihan politik masyarakat diarahkan sedemikian rupa oleh penguasa yang bertahta. Jadi ya barangkali geliat perpolitikan di Indonesia tengah memasuki babak menikmati kebebasan yang sesungguhnya. Sehingga yang dulunya pada bungkam, sekarang berteriak lantang. 😁

Bahasa Sundanya 'Pakekeuh kekeuh' kali ya πŸ˜… ... alias ngotot-ngototan kalo pilihan dia yang paling bagus. 

Dua kubu saat ini sudah terbentuk. Berbagai macam cara dilakukan untuk mengunggulkan pilihan masing-masing. Ada beberapa yang pakekeuh kekeuh tea ... Dan tentu, saya sebagai penonton sangat menghargai segala upaya dari setiap kubu. Dan mencoba lapang hati jika ada yang kekeuh maksa pilihannya yang paling oke ke saya. Hehehe

Saya merasa agak aneh dengan cara kampanye jaman sekarang yang terkesan rada kurang elite dengan memunculkan gebrakan semacam qkampret dan kecebong. Atuh apa ga ada gebrakan lain yang lebih positif? Apa sekarang politik itu tidak lagi elite? Hehehe (semoga ini hanya karena keterbatasan informasi saya saja. Mudah-mudahan kedua belah kubu punya gebrakan positif)

Tantangan era digital memang bikin nambah PR kita-kita. Eh tapi tantanganya agak sama sih. Dulu, kita hanya bergulat di ranah offline. Media berbicara sebagaimana penguasa yang saat itu bertahta. Tantangannya ya gimana menghadirkan informasi terpercaya ketika bersebrangan dengan penguasa. 

Sekarang? Keterampilan bermedia sosial dan memanfaatkan aplikasi gratis dari play store dan sejenisnya bener-bener dituntut agar ga nelen hoax mentah-mentah. Jadilah kita harus tumbuh dan mengasah diri menjadi pribadi yang lebih rajin, cerdas dan bijaksana. Biar apa? Biar ga kemakan tipu muslihat dari oknum-oknum timses ilegal (ini hanya istilah saya saja ya). Ya semisal kaya para buzzer penyebar konten negatif. 

Jadi dulu mah ngelawan pelintiran media mainstream, sekarang mah nambah kudu ngelawan buzzer. Makin pusing lah kita rakyat awam ini yak πŸ˜…πŸ˜†

Tim sukses atau juru kampanye, pastilah akan menjalankan peran sesuai aturan. Namun di era digital, memelintir informasi sangat mudah dilakukan. Sedangkan orang rantau kaya saya, yang tidak paham kondisi real tentunya menggantungkan diri pada berita yang ada, baik di media mainstream ataupun melalui media sosial.

Pertanyaannya, seberapa valid info yang beredar dari media mainstream? Seberapa aktual kah info yang beredar di lingkaran pertemanan media sosial saya?

Nah nah nah ... benerkan kalo kita (saya aja lah mungkin ya) harus cerdas dan bijaksana. Dan satu lagi, tau diri πŸ˜…. Jangan terlalu banyak bicara (menulis status) jika tidak terlalu banyak membaca. 

Mengungkapkan pilihan dan preferensi pribadi tentulah tidak dilarang. Namun ketika merasa pilihan kita adalah yang terbaik, disitulah letak masalahnya. Jadi, sekarang saya masuk ke barisan penonton aja deh. Saya memilih menjadikan media sosial sebagai sarana untuk menjalin silaturahim aja biar meminimalisir nulis yang kira-kira mendatangkan syak prasangka yang bisa berefek pada putusnya silaturahim.

Beda cerita kalo ntar saya jadi timses atau jurkam atau apalah ya di dunia politik. Tentu memanfaatkan media sosial sebagai sarana kampanye dan pencerdasan perlu dilakukan. Hehehe

Tapi sampai saat ini, saya masih memilih jadi ibu rumah tangga yang sedang membangun usaha hehehe ... (usaha apa? Rahasia!πŸ˜‚)

Soalnya saya masih suka lieur ngomongin politik mah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Sebagai penutup
Ya ... layaknya hujan ... kehadirannya akan dinanti tatkala kering ... dan dibenci saat terlalu sering. Hujan politik pun demikian ... disaat kita terlalu sering ngompol (ngobrol politik), ya bete juga. Tapi kalo ga, ya rindu juga. Kalo bukan dengan politik, bagaimana caranya kita bisa mewujudkan tatanan negara Indonesia yang baik, adil, damai dan sentosa? 

Karena politik adalah jalan. Tak ada yang salah dengan nya. Seperti halnya hujan yang menjadi jalan kehidupan. Politik pun menjadi jalan kebaikan jika yang memperjuangkannya adalah orang-orang yang merindu kebaikan.

Jadi ya ... sesekali ngobrol ringan soal politik kaya gini di Blog ini ga papa lah yaaaa ...

Mau kamu di kubu 1 atau 2 ... selagi niat hati untuk kebaikan Indonesia, maka teruslah berjuang! Dengan cara yang baik, elegan, cerdas, dan penuh nilai positif. Agar politik bisa menghasilkan elite politik yang bermartabat. Karena timses dan jurkam nya elite dan bermartabat juga 😊 (aku berasa penasehat gini πŸ˜† ... padahal ga ada yang minta nasehat yak ... ya ga papa lah ... kan ini harapan saya sebagai mamah muda😎)

Demikian saja dari saya yang penuh alfa dan tak tau apa-apa ini. Salam damai untuk Indonesiaku!

Columbus, 2 Desember 2018

Tentang Perhatian

Minggu, 02 Desember 2018

Hai teman-teman ... kali ini saya mau nulis barbar (lagi) setelah beberapa bulan lalu sempet nulis barbar juga.

Sejujurnya kemampuan saya curhat di blog sudah memudar dan hanya menyisakan secuil persen saja yang biasanya suka muncul dipostingan saya yang ceritanya (sok) informatif. Nah sekarang, saya 100% curhat ya (entahlah akan jadi curhat atau ga). Pokoknya tulisan ini ketika ditulis, ga punya tujuan yang jelas selain hanya sekedar ngungkapin isi hati.

Okeh. Mulai ya ...

Teman-teman pernah ga sih merasa risih dengan 'perhatian' yang diberikan kerabat, rekan  sejawat? Baik perhatian dalam bentuk nasehat, saran ataupun masukan. Ternyata perhatian ini ada banyak jenis nya ya. Dan tak jarang aneka jenis perhatian ini malah bikin kita kesel bin ngedumel hehehe

Kamu perhatian apa ikut campur???
Ada jenis perhatian yang mana orang yang yang berada di luar masalah lebih gatel buat nyelesein masalah dari orang yang bermasalah (belibet dah). Nah saya pernah jadi manusia kaya gini nih πŸ˜… Sampe sekarang masih belajar meminimilisir. Manusia macam apa emang?

Manusia yang tingkat kepeduliannya tinggi sehingga dia merasa amat sangat perlu menyelesaikan sebuah permasalahan yang menimpa kenalannya. Apakah itu keluarganya, temannya atau tetangganya meskipun permasalahan itu tidak ada kaitannya dengan dirinya. Bahasa kerennya overlapping.

Saya dulu berfikir bahwasanya kepribadian yang demikian itu ga masalah. Lha wong itu wujud sayang saya. Semisal nih ya. Ada 2 orang teman yang saya kenal berselisih dan sudah berbulan-bulan tidak saling tegur sapa. Saya sontak "wah ini ga bisa dibiarin. Lebih dari 3 hari ga teguran aja amalan kita jd ditolak. Ini udah sebulan. Apaaaah!!!!???". Seketika itu juga saya langsung bertindak untuk mempersatukan 2 insan yang bertikai ini. Dengan maksud agar mereka tidak terjerat dosa (mulia sekali kaaaaaan ... πŸ™„)

Trus gimana? Bersatu ga yang bertikai tadi? Ya karena waktu itu saya senior di asrama jaman ngampus, ya alhamdulillah bersatu dengan perang dingin sih hahaha.

Ditilik-tilik dan dievaluasi, seharusnya saya hadirkan kenyamanan sebagai jembatan pemersatu 2 insan yang bertikai ini. Alih-alih menggunakan cara-cara yang mengutamakan kenyamanan, sayanya malah overreactive dan jatuh pada titik overlapping tadi. Boro-boro masalah selesai yang ada malah bikin ga nyaman πŸ˜… (jadi masalah mereka selesai hanya karena segan ke saya. Tapi aslinya mereka masih perang dingin tadiπŸ˜…πŸ˜‚)

Itu contoh satu.

Faktor X nya kenapa saya begitu? Karena saya terbiasa problem solving jenis begitu di asrama tempat saya tinggal jaman kuliah dulu. Nyelesein masalah pake kekuasaan (dalam hal ini senioritas).

Kalo dibawa ke lingkungan saya yang sekarang? Sungguh cara anak asrama itu sangat tidak cocok πŸ˜‚

Perhatian apa pengen gue pusing???
Trus jenis perhatian berikutnya. Minta tolong orang ketiga buat nyampein. Dan saya pernah punya cerita agak ... katakanlah menarik.

Jadi saat hamil, saya dan seorang teman yang hamil juga mengkonsumsi obat antimual yang (ternyata) masih kontroversi pemakaiannya untuk ibu hamil. Disaat saya masih mengkonsumsi obat tersebut dengan dosis yang lebih tinggi dari teman saya ini, ada seorang teman yang minta tolong bilangin ke teman saya yang hamil untuk tidak meminum obat itu karena bla bla bla yang bikin saya ngeri πŸ˜₯

Trus saya jadi bingung kan ya. Lha saya aja masih minum. Dan kebetulan memang, saat itu teman saya yang hamil ini, janinnya didiagnosa sebuah penyakit. Tapi dokter bilang penyakit ini belum ditemukan faktor penyebabnya. Trus saya harus bilang apa ke teman saya ini? Karena ada hati yang harus dijaga. Dan saya juga harus gimana ke diri sendiri yang kalo berhenti minum obat itu saya bisa pingsan menggigil. Trus siapa donk yang urus urusan domestik rumah tangga saya...??? Bismillah ... Allah yang ngatur semua ...

Dari pengalaman inilah saya belajar pentingnya membangun kedekatan personal dengan orang yang ingin kita berikan perhatian. Sehingga perhatian yang kita maksudkan baik, tidak malah menambah beban masalah orang yang kita berikan perhatian.

Kadang kita suka merasa paling benar dan serba tau karena pengalaman yang kita punya. Tapi kita juga sering lupa bahwa perjalanan hidup seseorang itu sudah diatur sedemikian rupa oleh Yang Maha Kuasa. Karena ketidaktahuan pun (anggaplah benar penyakit anak teman saya ini akibat dari efek samping si obat), akan menjadi sebuah amalan pemberat timbangan kebaikan kita untuk menuju surgaNya. Esensi hidup kita kan untuk akhirat kan??

Tau atau tidak tau terhadap sesuatu juga kan gimana Allah yang menggerakkan. Tugas kita ya meminta yang terbaik semoga Allah selalu lindungi kita dan kasih jalan keluar atas ujian yang menimpa. Sepanjang hidup kita.

Jika memang ingin memberikan perhatian karena wujud sayang, coba tanyakan apa  hal yang benar-benar dibutuhkannya selain informasi terkait efek samping obat tersebut. Jika memang obat itu tidak baik, hal apa kira-kira yang bisa kita berikan agar teman kita ini tidak mengkonsumsi lagi obat tersebut. Itu misal.

Yah begitulah. Kadang saya suka bingung menyikapi perhatian macam begini. Menyarankan untuk tidak ini itu tapi tidak memberikan solusi konkrit. Dan juga tak menanyakan atau melihat langsung ketika si obat tak diminum saya atau teman saya ini akan kaya gimana πŸ˜…

Dan masih banyak contoh lain yang jadi perenungan juga buat saya. Apakah perhatian jenis ini mengganggu atau justru perlu?

Jujur, saya merasa jadi mayat hidup ketika hamil dan tidak di dopping obat tersebut. Kelam (duh bahasanya puitus). Hanya dikasur dan kamar mandi. Anak-anak dan suami ga keurus. Rumah kacau. Dapur tak berasap. Keuangan jadi cekak karena selalu beli makanan jadi di luar.

Andai saja mereka tau, rasa-rasanya perhatian yang saya butuhkan bukan saran atau larangan, tapi berupa kiriman makanan.

Nah itu kan pemikiran saya. Gimana saya pengen diperlakukan. Dan memang kita pada akhirnya hanya bisa memperlakukan orang lain sebagaimana yang kita paham aja. Dan bentuk perhatian teman saya yang melarang minum obat tadi ya juga ga salah. Hanya saja untuk kasus ini karena saya jadi pihak ketiga yang tau info terhadap apa yang teman saya alami dan juga saya juga mengalaminya, benar-benar bikin saya bingung.

Mau dikasih tau juga efek sampingnya, lha waktu itu teman saya janinnya sudah didiagnosa. Trus gimana? Malah bukannya bikin dia jadi down ya kalo tau si obat adalah penyebab bayinya sakit?

Dan saya pribadi juga akhirnya dibayang-bayangi info tersebut tanpa memperoleh bantuan yang berarti. Bahkan ketika dirawat di rumah sakit pun saya ga dibesuk hahahaha (karena mungkin dianggap sakit hamil biasa πŸ˜†). Atau ga usah besuk lah ya ... kirimin makanan atau apa kek wkwkwk (ngarep) πŸ‘‰ curhat tingkat tinggi wkwkwkwkwk

Ga denk saya becanda. Ya ini kan curhatan. Saya juga menyadari seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Bahwa setiap orang punya caranya sendiri dalam memberikan perhatian. Barangkali ada doa-doa terucap yang tak pernah kita ketahui. Dan tentunya ini lebih kita butuhkan kan dari sekedar kiriman makanan πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜‚πŸ˜‚

Yang penting selama itu adalah perhatian, maka hargailah. Karena pada dasarnya, awal mula seseorang perhatian itu ya karena peduli dan sayang. Ga mau kita ketimpa derita ... dan hal buruk lainnya. Meskipun kadang bikin kita jadi ga enak hati dan pikiran. Husnudzonin aja ... (pesan untuk diri sendiri). Karena apa-apa yang kita dengar dan alami, semua nya ... terjadi atas kehendak Allah ta'ala. Dan pasti ada tujuan atau sesuatu dibalik itu semua. Apakah karena Allah ingin kita lebih tegar, hati-hati atau lebih rajin belajar misalnya karena aneka jenis perhatian yang kita peroleh dari orang-orang sekitar.

Ayo kita belajar berbaik sangka πŸ˜‰

Sebarkan hal positif!!! 😎😎😎

Dan saya lagi belajar πŸ˜†

Mohon maaf untuk semua pihak yang pernah saya suudzonin ... ku lagi perbaiki diri ... di bengkel pribadi hehehe

Columbus, 2 Desember 2018

Zaynab's Birth Story

Minggu, 04 November 2018
Okeh! Mengisi waktu pasca lahiran saya mau nulis blog ajah! Lho? Kan biasanya baru punya baby malah jadi sibuks ya?

Jawabannya ada di blogpost ini in Sya Allah ... πŸ˜†


Kelahiran, kematian, rezeki, jodoh. Satu persatu saya mulai memahami hakikatnya. Mulai lebiiiih mendalami maknanya. Tak sekedar sebuah catatan takdir yang sudah tertulis di lauhul mahfudz, tapi lebih. Yang saya belum bisa membahasakannya dengan baik dan benar. Hmmm ... seperti ada rasa-rasa yang muncul di relung hati saya dan menyibukkan pikiran untuk berpikir sebuah hikmah yang dirasa.

Baca Juga: Spion Kematian

Hmmm ... beginilah kalo hati sedang banyak merenung. Mau ngomong apa suka pabaletot dan cerita yang hendak dibagi seakan berebut minta didahulukan untuk diceritakan. Duh bahasanya jadi baku gini yak saya πŸ˜…

Jadi, di negeri rantau bernama Columbus ini, ada dua orang istri mahasiswa Indonesia lainnya yang sama kaya saya, yaitu hamil dan lahiran  disini. Dan masing-masing kami, qadarullah diberi ujian olehNya ... Hal inilah yang membuat saya berpikir keras akan sebuah takdir yang secara kasat mata manusia tentu tidak ada satupun dari kita ingin diuji melalui kondisi kesehatan bayi yang kurang baik. Tapi rangkaian cerita demi cerita yang saya dan 2 orang teman saya ini menggiring saya pada sebuah pemaknaan hidup. Dimana kita hanyalah seorang hamba, yang bertugas menjalankan amanah takdir dariNya.

Baca Juga: Hyperthyroid dan Low Potassium Saat Hamil

Baik. Kita mulai saja bercerita tentang Birth Story dari seorang insan bernama Zaynab Mikayla Alkhansa. Anak ketiga saya dan suami, amanah baru dari Allah dan adik baru dari kakak kembar, Abang Zaid dan Uda Ziad.


Kehadiran Zaynab memang ditunggu-tunggu. Cukup berbeda dengan kehadiran Zaid dan Ziad yang notabene 'terkesan mendadak'. Setelah setahun lebih menyampaikan keinginan untuk menambah momongan kepada suami, akhirnya awal tahun 2018 suami pun sepakat untuk tambah momongan.

Belajar dari penglaman kehamilan dan kelahiran ZaZi, saya dan suami memang sepakat, jika ingin menambah momongan harus benar-benar dalam kondisi 'sadar'. Sadar dalam artian, memiliki kesiapan pribadi tanpa intervensi pihak luar, semisal karena 'termotivasi' teman-teman yang sudah pada nambah momongan dan sejenisnya.

Baca Juga: Birth story si Kembar!

Selain itu, kami juga sepakat bahwa program hamil tak hanya urusan wanita yang akan mengandung dan melahirkan saja melainkan urusan berdua. Suami dan istri. Biar apa? Biar tanggungjawab ketika menjalani prosesnya lebih berasa sehingga saling support pun terbina. (Duh bahasa akoh kok jadi resmi begeneh πŸ€’).

Singkat cerita yang bakal panjang iniπŸ˜†, kami pun memogramkan kehamilan kedua untuk anak ketiga kami. Dan alhamdulillah rencana pemograman ini diijabah dan direstui Allah ta'ala.

Baca Juga: Berencana Hamil Kedua? Barangkali ini Yang Akan Kamu rasakan

Perjalanan pun dimulai dengan cukup berliku rupanya. Kehamilan kedua yang sudah terlihat hamil tunggal (bukan hamil kembar lagi) di pekan ke 12 ini ternyata lebih berat dari hamil ZaZi. Alhamdulillah layanan kesehatan membantu saya untuk bisa beraktifitas normal dengan bantuan obat-obatan yang diresepkan dokter. Bismillah. Hanya itu cara saya menangkis kekhawatiran demi kekhawatiran dalam mengkonsumsi lebih dari 5 jenis obat ini.

Baca Juga: Serba Serbi Hamil Kembar

Memasuki trimester ketiga, perjalanan menuju kelahiran makin dekat. Pertemuan dengan health provider saya pada week 38 5 hari ini membuat saya agak sedikit deg-degan. Kenapa? Karena belum ada ciri-ciri serviks terbuka. Dan jika tidak ada perkembangan hingga week 40, maka saya dijadwalkan untuk diinduksi.

Trus kenapa deg-degan? Induksi kan biasa. Entahlah. Saat itu saya hanya ingin mengusahakan induksi alami karena saat lahiran ZaZi saya diinduksi setelah bedrest satu minggu pasca ketuban pecah dini (KPD).

Akhirnya saya pun melakukan berbagai macam usaha yang terkesan mepet ini. Kenapa mepet? Karena seharusnya usaha ini sudah bisa dilakukan  sejak pekan ke 32 atau bahkan 28. Tapi karena saya memiliki riwayat lahiran prematur, sehingga health provider tidak menyarankan hingga memasuki week 36.

Masuk week 36 saya masih nyantai dan malesan, jadinya saya cuma jalan pagi satu kali doank. Nah, di week 37 hari ke 5, saya mual muntah hebat. Padahal masih minum obat. Setelahnya saya kontraksi ringan. Rasa sakitnya sama kaya kontraksi saat mau lahiran ZaZi pasca KPD, dua hari merasakan hal kaya gini dan kondisi ngedrop, saya hubungi health provider saya  untuk minta saran. Dan sarannya, jika saya masih merasakan hal yang sama, segera ke Labor and Delivery Rumah Sakit kampus.

Tapi saya memutuskan untuk menangani sendiri dulu. Kalo bener-bener KO, baru deh ke Rumah Sakit. Alhamdulillah saya bertahan dengan optimis bahwa sudah ada ciri-ciri bukaan saat jadwal appointment di UK 38w 5d, yang jatuh pada hari Selasa tanggal 23 Oktober 2018.

Baca Juga: Gimana Sih Rasanya Hamil

Sesampai di klinik OB/GYN, ternyata saya belum ada bukaan sama sekali πŸ˜…. Ada sih. Tapi keciiiiiiiiiil banget katanya. Yowes saya pulang dengan membawa kesimpulan bahwa kontraksi teratur kemaren termasuk jenis Braxton Hicks alias kontraksi palsu.

Satu-satunya foto di ruang periksa
Klinik OB/GYN kampus OSU UK 38w 5d

Tau di PHP in, saya pun membulatkan tekad buat menyempurnakan ikhtiar πŸ’ͺπŸ’ͺ. Sehingga saya melakukan berbagai macam usaha. Apa aja usaha untuk memperoleh induksi alami yang saya lakukan?

1. Jalan pagi. Yang biasanya cuma 20 menit saya tingkatkan ekstrim jadi 1 jam.
2. Main gym atau birth ball dengan gerakan lompat-lompat duduk (duh apa ya namanya) dan goyang inul πŸ˜†πŸ˜…
3. Butterfly style yoga dan squad position sesering, selama dan sekuat yang saya bisa. Kadang sambil jalan belanja juga saya lakuin gerakan squad πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
4. Makan nanas
5. Kunjungan dinas πŸ˜…πŸ˜… (ngerti kan???)

5 usaha ini saya lakukan satu persatu sesuai urutan pasca balik dari klinik yang hari Selasa itu. Jadi tadinya kirain jalan pagi doank cukup. Eh engga. Yowes pinjem gymball temen deh, biar bisa lompat ma goyang inul. Masih aja belum ada progres. Tambah deh ma gerakan yoga. Masih berasa ga ada kemajuan, akhirnya makan nanas. Masih belum? Yowes saya mintak kunjungan dinas sama si bapak πŸ™ˆπŸ˜†

Jalan Pagi sambil belanja di farmer market

Dan cerita dimulai. (Udah sepanjang ini dan cerita baru dimulai πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚). Usaha yang saya lakukan dari hari Rabu membuahkan hasil. Tiga hari berselang, yaitu di hari Jum'at, saya flek. Ya Allah girangnya saya melihat tu darah πŸ˜‚πŸ˜… yang padahal cuma kaya seutas benang. Artinya ciri-ciri lahiran semakin terpampang nyata.

Tapiiii ... meskipun demikian saya ga langsung ke RS. Saya coba pastiin lagi, masih ada darah atau ga. Eh masih ada. Dan ga banyak. Nah tapi karena saya ga memperoleh Maternity Tour, sejenis latihan teknik saat mau lahiran kemana dan ngapain aja kita di RS, dan saat itu hari Jum'at dan jam kerja sudah mau beres, saya dan suami memutuskan ke RS aja biar sekalian latihan kalo-kalo mau lahiran beneran. Jadi biar ga nyasar gitu di RS.

Sesampai di RS, setelah dipantau lebih kurang satu jam dengan alat deteksi kontraksi, kesimpulannya saya bukaan 1. Wow!!! Baru 1. πŸ˜‚. Dan pernyataan dokter menggelikan saat itu, yang bikin saya malu pas dokter bilang flek itu gegara kunjungan dinas πŸ™ˆ. Tapi ga papa. Yang penting udah ada bukaan. Lebih malu lagi ga ada bukaan, ngeflek doank trus ketahuan kunjungan dinas pula kan πŸ˜†πŸ˜…

Exam Room dan masih bukaan 1 πŸ˜πŸ˜…

Karena masih bukaan 1, yowes kita pulang. Sabtu keesokan harinya, saya lanjut lagi usaha-usaha tadi. Kecuali kunjungan dinas ga boleh lagi. Karena udah flek kaaaan. Artinya udah ciri lahiran. Dan saya resmi masuk fase nifas dan ga shalat lagi.

Hari Sabtu, 27 Oktober itu saya sebenernya udah pasrah. Jalan pagi ga bisa karena gerimis. Yowes saya ngegymball aja 30 menit. Abis tu saya masak rada banyak. Sop sama burcang. Eh burcangnya kebanyakan akhirnya bagi-bagi tetangga orang Indo ada 4 rumah. Tetep aja tu burcang masih nyisa coba πŸ˜‚. Saya sendiri ga makan burcangnya sampe akhirnya beres lahiran baru deh saya makan. Alhamdulillah ga basi-cerita penting ini πŸ˜‚πŸ˜‚. Karena saya penganut anti mubazir πŸ˜† (kok malah cerita burcang siiiiiih πŸ˜‚πŸ˜†πŸ˜…)

Masak udah ... beres-beres udah ... nyuci udah ... Pokoknya semua udah dah. Sampe kecapean dan jam 9 malam saya dah tidur.

Jam 1 malam saya mulai ngerasa kontraksi meningkat. Tahan sampe jam 3 dini hari baru bangunin suami. "Siap-siap!"saya bilang. Saya pun ngontak temen yang bakal direpotin buat nitipin ZaZi. Alhamdulillah rumah kita belahan tembok doank πŸ˜…, jadi bisa langsung ketok pintu cuma 5 langkah. Saya siap-siap. Suami sempet-sempetnya ngerjain deadline dulu (masya Allah Pak Topik ... lope lope gueh 😍😍😍).

Setelah yakin ready, tanpa mandi hanya sikat gigi karena saya takut jatoh pas mandi πŸ˜… ... sehabis suami shalat subuh, anak-anak dibangunin dan masya Allah mereka responsif dan cekatan banget. Langsung bangun dan dianter Abinya ke sebelah. Tak lupa mereka cium tangan ma perut saya dulu sebagai rutinitas hari-hari kita kalo mau pisah. 😍😍😍 Alhamdulillah soleh terus ya nak nak umiiii ...

Bismillah ... ke rumah sakit. Agak deg-degan karena takut bukaan ga nambah trus disuruh pulang lagi. Tapi ya sudah. Coba saja. Toh sakitnya udah dahsyat dengan interval 3 menit. Kalo disuruh pulang lagi ... hmmmm ... saya berencana mau gerakan squad aja di lobby rumah sakit πŸ˜‚πŸ˜‚ biar kalo bukaan nambah bisa langsung ke bagian labor and delivery πŸ˜†

Labor and Delivery Room

Sesuai prosedur disini. Jika bukaan masih diangka 4 kebawah, maka kita disarankan di rumah saja. Dan sesampai di RS, di examination room, kontraksi saya dan kondisi janin pun dipantau. Ahad, 28 Oktober 2018, jam 7.30 pagi masuk exam room. Jam 8.30 fiks bukaan 3 dengan level sakit di angka 8. Disuruh pulang lagi ga? Alhamdulillah engga. Karena konsistensi dan level sakitnya sudah menunjukkan ciri lahiran. Ditambah darah dan ketuban yang sudah bercampur rembes keluar. (Tapi kata suaki sebelum saya keliar exam room bukaan naik jadi bukaan 4. Saya ga ngeh nurse nya pas ngomong kayanya πŸ˜…)

Saya pun dipastikan lahiran hari ini oleh health provider. Sehingga ruangan dipindah dari exam room ke labor and delivery room. Hawa optimis pun tercium. Saya senyum-senyum ke suami. Dari dalam diri berucap syukur dan berharap semoga orang tua tau-taunya pas udah lahir aja. Biar ga khawatir dan cemas. Karena saya tau betul gimana orang tua saya, rasa khawatir dan cemas nya itu bikin saya .... jadi kurang tegar πŸ˜†πŸ˜†. Makanya saya hanya kontak intens dengan kakak-kakak saya untuk lapor perkembangan.

Sesampai di labor and delivery room, saya diurus oleh seorang nurse. Namanya Laura. Orangnya lucu. Dan dia adalah salah satu orang yang berjasa dalam birth story ini. Jadi makanya saya sebutkan di awal cerita 😊.

Lagi nahan kontraksi
Foto diambil inisiatif Pak suami πŸ˜…

Pada awalnya Laura ini membuat saya tidak nyaman. Selain banyak ngomong, orangnya kaya lieur-an. Saya menyimpulkan diawal kayanya dia lagi ada problem. Saya ga terlalu ambil pusing. Meski tangan saya berhasil diciderai karena dia gagal nemuin vena saya buat infus. Lumayan sakitnya kaya berasa ada infusan nempel. Dipengambilan vena yang kedua, darah saya berceceran kemana-mana saat dia memasukan jarum infus ke tangan saya. Saya berusaha husnudzon ... in syaAllah semua akan baik-baik saja.

Memang setiap mau lahiran, momen zikrul maut paling tinggi. Saat ZaZi saya dulu sampe ninggalin pesan ke suami andai saja umur saya hanya sampe disini, tolong kaga anak-anak dan saya ridho suami nikah lagi πŸ˜…πŸ™ˆ. Lahiran yang sekarang saya coba lebih tenang. Lebih banyak diam ketimbang saat lahiran ZaZi. Kecemasan saya ga saya sampaikan ke suami. Kalaupun kontraksi lagi mereda, saya hanya cerita-cerita ringan dengan suami. Sesekali saya turun kasur untuk main gymball.

Gyn Ball yang terdapat di Labor and Deliver Room

Setelah menunggu lebih kurang 5 jam. Dan saat itu jarum menunjukkan pukul 2 kurang, rasa sakit kontraksi semakin ga bisa saya tolerir. Gymball pun hanya tergeletak indah. Posisi butterfly pun ga memberikan efek apa-apa. Level sakit yang saya rasakan sudah mencapai angka 10 dan saya hanya bisa meremas apapun yang bisa saya jangkau saat itu. Rasa sakitnya melebihi rasa sakit bukaan kumplit saat lahiran ZaZi. Dan saat dicek, bukaan berada di angka 5.

5 jam menunggu untuk 2 bukaan? Saya hanya pasrah. Berbeda dengan lahiran ZaZi disaat bidan bilang bukaan baru akan lengkap 4 jam paling cepat katanya. Terakhir diperiksa saya baru bukaan 4. Sedangkan saat itu saya merasa sudah sangat sangat sangat kesakitan dan rasa ingin mengeden muncul. Benar saja, sejam berselang bukaan sudah kumplit.

KEPASRAHAN TINGKAT TINGGI 

Kenapa lahiran Zaynab ini saya cuma pasrah? Karena saya terkalahkan oleh kecanggihan teknologi. Jika dulu saat ZaZi bidan dan dokter hanya menerka entah berdasarkan apa, sekarang alat lah yang berbicara. Lalu saya bisa apa selain pasrah? Belum lagi selang infus dan alat deteksi yang ditempel diperut membuat saya terbatas bergerak ketika ingin mengalihkan kontraksi dengan aneka gerakan yoga yang sudah diapalkan πŸ˜….

Ditambah prosedur saat mau lahiran disini, kita tidak boleh lagi makan setelah berada di labor and delivery room. Dan saya hanya makan 1 suap nasi dengan sop saat di exam room pukul 8 pagi. Sedangkan energi sudah sangat terkuras setiap kali kontraksi datang. Minum cukup membantu menambah energi. Namun jika harus pipis terus menerus? Artinya saya harus bolak balik kamar mandi. Dan saya pun akhirnya membatasi air yang saya minum.

Health provider bergantian masuk silih berganti yang membuat saya agak sedikit terganggu. Saya hanya bisa merespon omongan mereka dengan anggukan, gelengan dan senyum atau wajah bingung. Mulai dari mahasiswa KOAS, OB/GYN yang  bertugas yang entah ada berapa orang trus orangnya beda-beda gitu, hingga ahli anastesi, satu-satunya health provider laki-laki.

AKHIRNYA EPIDURAL

Tawaran epidural pun terus menerus didengungkan, dimulai oleh Laura sang nurse, OB/GYN dan terkahir oleh si ahli anastesinya. Dan mereka saat itu menghargai keputusan saya untuk tidak epidural terutama karena melihat riwayat lahiran si kembar. Dan saya pun mengatakan akan mempertimbangkan epidural saat saya merasa butuh. Saat ini saya masih mau mencoba merasakan gelombang alami ini.

Bukan mau sok-sokan kuat. Pengalaman memperoleh kontraksi tanpa induksi ini membuat saya penasaran ingin melewatinya dengan alami. Saya penasaran ingin menikmati getaran cinta itu. Seperti apa sih gelombang yang dikaruniakan Allah bagi setiap ibu dalam detik-detik penantian pertemuan dengan buah hatinya itu. Sakit yang ditunggu-tunggu kalo kata saya.

Tapi ternyata pertahanan saya roboh. Disinilah saya merasa berada di titik terlemah dan terlemah saya. Meski telah mencoba untuk bertahan (berasa lirik lagu yaks πŸ˜…), tetap, saya kehabisan tenaga. Lantunan Al-Quran suaranya Al-Junaid mulai terdengar samar (apa dikecilin volumenya sama suami kali yakπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚) Saya berasa mau pingsan setiap kali kontraksi datang yang intervalnya per 3 menit sekali. Saya mau epidural!

Akhirnya sekitar pukul 2.30an saya di epidural. Alhamdulillah sudah cari tau dulu apa itu epidural dan kita bakal digimanain. Jadi saya ga terlalu kaget. Karena epidural lumayan juga sakitnya pas punggung di tojos jarum atau apalah yang berasa sangat besar. Ngiluuuuuuuuu masya Allah. Jadi sakit saat proses epidural + sakit saat kontraksi datang berkolaborasi. Mantaaaaaaaaaaps syekaleeeeee masya Allah ... 😭😭😭😭.

Bagi yang belum tau epidural, bahasa sayanya, itu jenis tindakan anastesi alias biusan. Yang dimatikan organ bagian bawah saja. Mangga dicari tau lewat mbah Google aja yah. Saya cuma bisa kasih gambarannya demikian πŸ˜†.

Pasca epidural, alat deteksi kontraksi dan janin pun dicabut dan diganti dengan alat baru yang dimasukkan ke vagina. Tak lama berselang badan saya menggigil hebat. Padahal ketika diraba tubuh saya terasa hangat. Epidural yang tadinya saya harapkan bisa membantu saya menghemat energi dan beristirahat sebelum bukaan komplit, tergantikan dengan rasa menggigil dan tentunya itu sangat menguras energi.

Energi pun teralihkan. Boro-boro bisa beristirahat. Rasa sakit kontraksi memang berkurang seperti sakit saat saya bukaan 1. Tapi badan menggigil membuat otot-otot saya bekerja ekstra. Tau kan kalo kita menggigil gemeterannya itu bikin otot kaya menegang gitu lho. Dan health provider hanya bilang kalo ini efek perubahan hormon. Dan saya ga tau apa faktor pemicu hormon saya jadi berubah. Si epidural kah? Atau si alat pendeteksi kontraksi dan kondisi janin yang masuk ke vaginakah?

Saya hanya pasrah dan sebenarnya sudah mulai melemah.

ZAYNAB SEMPET 'HILANG' πŸ˜”

Entah jam berapa saat itu. Bukaan maju menjadi 8. Tiba semua provider masuk. Ruangan mendadak ramai. Saya pikir saat itu saya sudah bisa melahirkan. Ternyata bukan. Baby Zaynab ternyata ngedrop. Denyut jantungnya turun drastis dan saat itu saya tidak tau. Posisi saya pun diubah telungkup. Kebayang kan perut belendung dan saya telungkup alias tengkurep? Tapi karena bagian tubuh bawah saya sudah mati rasa, hanya bisa digerakkan sedikit saja, saya pun cuma bisa pasrah digelinding muter pake sejenis changing pads gitu. Berasa mayat hidup 😭😭

Setelah tengkurep, saya diminta nonggeng alias menahan badan dengan lutut. Coba dibayangkan pemirsah. Kaki mati rasa, badan gemeteran, trus kita disuruh nonggeng. Tanganlah titik tumpuan. Dibantu kepala yang pasrah miring ke kiri. Melirik sesekali ke atas namun tak mampu bertanya ke suami, apakah yang terjadi?

Pasrah ... benar-benar pasrah. Di hati hanya berdoa yang terbaik. Di hati saya hanya berusaha meyakinkan diri bahwa waktu terus berjalan dan semua ini in sya Allah akan berakhir indah.

Tak lama berselang, posisi saya kembali diubah normal, miring ke kiri atau senyaman saya. Para health provider yang tadi ramai tiba-tiba menghilang. Menyisakan kebingungan yang akhirnya terjawab dengan sendirinya saat suami bilang kalau tadi denyut jantung baby sempat  ngedrop. Hati pun langsung istighfar. Ya Allah ...

ALHAMDULILLAH BUKAAN 10

Sekitar pukul 3.30, pemeriksaan servik untuk kesekian kalinya dilakukan. Bukaan lengkap! Alhamdulillah ... girang saya ucap syukur. One step ahead. Bismillah.

Proses lahiran pun dimulai. Saya diizinkan mengedan setiap kontraksi datang. Dengan segenap semangat dan keyakinan saya pun mengedan berbekal ilmu yang telah dibekal. Lahir?

Belum. πŸ˜₯

Satu jam setengah berlalu. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Health provider meminta saya untuk beristirahat. Cairan (atau apa ya saya kurang tau namanya) epidural entah berapa kali ditambah (bukan ditingkatin dosis ya). Badan pun masih menggigil tapi sudah tidak terlalu dahsyat. Saya cukup bisa tidur sekitar 5 menit. Nah ketika tubuh mulai berdamai, health provider datang silih berganti. Sehingga saya gagal istirahat.

SESAR??????

Tiba-tiba salah satu provider menghampiri saya. Menyampaikan bahwa jika tidak ada kemajuan saat mengedan, maka pilihan berikutnya adalah sesar. Deg! Allah ... saya hanya bisa pasrah. Saya pun menandatangani surat kesepakatan operasi. Tapi mereka tetap memberikan suntikan optimisme kepada saya bahwa kita akan coba satu kali lagi.

Kesempatan terakhir yang diberikan ini dibantu dengan alat tambahan, vakum.

3 orang OBGYN yang menindak saya menggunakan alat ini
Source: Google

Disinilah Laura berjasa sekali untuk saya. Saat provider menghilang dari ruangan, Laura bilang "Let's try without them. Pretend that we are doing exercise". Benar saja, mengedan yang hanya saya, suami, Laura dan satu mahasiswa KOAS ini jadi proses latihan yang paling bagus. Cara dan teknik mengedan yang saya lakukan lebih bagus dari yang sebelumnya. Bahkan Laura sudah melihat rambut tebal Zaynab.

Sayang. Saya memang benar-benar kehabisan tenaga. Dan sedikit ada rasa tidak percaya dengan pernyataan Laura. Masa iya anak saya berambut lebat. Ga ada deh riwayat di keluarga saya saat lahir berambut lebat. Kayanya dia menghibur saya deh biar semangat kaya halnya yang dulu dilakukan bidan saat saya lahiran ZaZi. Tapi ternyata Zaynab rambutnya memang lebat πŸ˜…

Maafin aku suudzon sama kamu Laura...

DRAMA PUN MEMASUKI KLIMAKS

Dan seolah membaca keraguan saya tentangnya. Laura mendadak bilang dan meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja dan saya akan segera bertemu dengan baby saya. Entah bagaimana urutannya. Yang pasti saat jam menunjukkan pukul 5 lebih, saya menangis sejadi-jadinya. Sesegukan. Dan membuat suami dan Laura khawatir.

Setelah memaksa saya untuk memberikan alasan atas tangisan saya, Laura pun meminta saya nelpon mama atau papa. Disinilah mulai release alias antiklimaks. Meski tadinya ingin memberikan kejutan ke mama dan papa berupa foto bayi, ternyata sang bayi menginginkan saya dan mama untuk saling berkomunikasi sebelum dia lahir ke dunia. Semacam tali kasih gitu lah πŸ˜‚πŸ˜…

Dan benar saja. Saya seperti batere HP yang baru dicas. Sumber energi seolah datang bertubi-tubi. Rasa ragu terhadap para health care team terutama Laura perlahan hilang. Ditambah kemunculan Dokter Lisa, leader dari health provider saya dan OB/GYN yang pernah periksa saya saat dulu cek bulanan (saya lupa namanya). Spontan saya langsung berucap "Nice to see you again" dan tersenyum tipis karena saking lemahnya saya (asli drama sinetron banget) sambil menggenggam erat tangannya. Entah kenapa dalam pandangan saya, dokter Lisa kaya jadi mirip mama πŸ˜†.

AKHIRNYA ...

Entah jam berapa saat itu. Ruangan kembali ramai. Semua bersiap. Dua orang OB/GYN muda dibawah pengawasan dokter Lisa berkostum serasa mau main paintball. Mereka menggunakan helmet bening pelindung wajah. Semua alat standby. Bukan! Bukan alat operasi. Tapi alat vakum.

Ada dua jenis vakum yang ditawarkan kepada saya. Saya hanya jawab gunakan yang terbaik menurut mereka saja. Saya kurang paham.

Setelah menunggu waktu kontraksi datang, semua standby. Saya pun bismillah meminta energi kepada yang Kuasa. Berbagai doa terucap di dalam hati penuh pasrah. Meski di depan sana meja operasi menunggu, ketenangan yang saya dambakan alhamdulillah Allah berikan. Muthmainah. Satu kata yang selalu saya panjatkan agar dikaruniakan kepada saya sejak UK 32. Masa dimana saya dirundung khawatir yang berlebihan terhadap rasa sakit saat melahirkan. Alhamdulillah saat persalinan Allah karuniakan rasa itu.

Kontraksi datang. Dalam hitungan ketiga saya diminta mengedan dalam 10 hitungan. Putus. Lalu mengedan lagi dalam sepuluh hitungan. Dan mengedan yang ketiga hati ini berteriak takbir. Ya! Mulut tak mampu lagi mengeluarkan kata sepatah pun, berbeda halnya saat lahiran ZaZi. Saya masih mampu bertakbir kencang di ruang persalinan.

Alhamdulillah, kolaborasi ikhtiar fisik, doa dan harapan yang mengangkasa dari orang-orang tercinta membuahkan hasil yang berujung tangis bahagia. Tak henti-hentinya saya memuja Allah dan menangis sejadi-jadinya. Bayi mungil itu tepat berada di dada saya. Masya Allah Masya Allah ... Allah ... Alhamdulillah.

Semua yang ada diruangan sahut menyahut mengucapkan selamat. Saya pun membalas dengan ucapan terimakasih yang bertubi-tubi. Laura datang mendekat. Saya pun memeluknya sambil menangis. Asli! Birth story Zaynab menjadi cerita hidup paling terdrama yang pernah saya alami. Dimana saya tak hanya menaruh rasa terhadap orang-orang terdekat namun juga terhadap orang asing yang baru saja saya temui.

Dokter Lisa? Ah dia memang misterius. Justru karena kemisteriusannya inilah saya terpesona. Saat cek kehamilan di klinik dokter Lisa hanya sekali saya temui. Itupun saat kondisi kehamilan saya memiliki indikasi di luar hal normal. Dan beliau masuk menemui saya sebagai kepala atau leader yang menangani saya sepanjang kehamilan hingga lahiran. Meyakinkan saya bahwa semua baik-baik saja.

Zaynab Mikayla Alkhansa. Perempuan soleh shahabiyah terbaik nabi, ibu dari 4 mujahid yang syahid, manusia yang menjadi utusan Allah dan menjalankan peran kekhalifahan.


Sungguh ... kehadiranmu ke dunia adalah rangkaian perjuangan demi perjuangan. Menyematkan banyak rangkaian hikmah yang barangkali tak diharap manusia. Namun bukankah tugas kita adalah menghamba. Menjalankan amanah tadir dariNya.

Dan proses kelahiranmu menjelaskan bahwa dirimu hadir ke dunia adalah untuk berjuang. Untuk menjemput takdir baik dari Allah, menuju jalan ke surga.

Semoga nama yang melekat padamu me jadi harapan dan doa yang terus terlantun hingga Allah mengijabahnya.

Selamat datang Zaynab ... saat tulisan ini di tulis ... Ya! Perjuangan kita masih berlanjut 😊. Semoga Allah mengizinkan kita merajut asa dan bahagia bersama ya nak ... Lekas sembuh ... dan pulang ke rumah. Berkumpul bersama Abang dan Uda. Kami sudah sangat rindu.

Columbus, 2 November 2018


Next Blogpost:

πŸ‘‰ Zaynab, Aspirasi mekonium dan Manajemen ASIP

On next story

Ada Apa Dengan Blog?

Minggu, 28 Oktober 2018
Setelah kemaren pemanasan nulis tentang Blog sebagai sosial media pilihan saya. Hari ini, dipenghujung tanggal 27 Oktober 2018 yang dicanangkan sebagai hari Blogger Nasional saya berniat menulis lagi tentang Blog. Tapi bingung mau nulis tentang apa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Baca Juga: Apa Sosial Media Pilihanmu?

Sebagai anak kemaren sore yang baru punya Blog tahun 2015, rasa-rasanya ga banyak hal yang bisa saya bagi soalan blog dan ngeblog. Aslinya saya pertama kali bikin blog tahun 2008 kalo ga salah, buat salah satu tugas kuliah. Trus tahun 2009 bikin lagi karena yang buat tugas kuliah lupa email dan passwordnya. Bikin blog lagi karena pengen giat nulis. Eh blog kedua yang isinya baru sekupret juga lupa password dan pake email plasa.com kalo ga salah. Barulah tahun 2015 setelah benar-benar paham soalan dunia smartphone saya rada-rada ngerti dunia blog.

Setelah 3 tahun ngeblog, saya baru aktif di komunitas Blogger sekitar satu tahun terakhir. Nama komunitasnya 1 minggu 1 cerita yang sering disingkat 1m1c. Tahun awal ngeblog, sekitar tahun 2016an awal atau 2015 ya (saya lupa lagi), saya sebenarnya sudah bergabung dengan komunitas blogger yang bernama Blogger Muslimah. Namun karena masih belum nemu ritme berkomunitas, saya pun jadi kurang aktif terutama setelah saya off dari dunia Facebook πŸ˜†.


Geliat para blogger dalam memanfaatkan media Blog menjadi tak sekedar catatan harian digital ternyata sudah berlangsung lama. Melihat geliat inilah makanya Mentri Komunikasi dan Informasi era SBY, yaitu Bapak Muhammah Nuh meresmikan hari khusus buat para Blogger pada tahun 2007. Yaitu jatuh pada tanggal 27 Oktober. Ruhnya sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pemanfaatan media digital sebagai sarana pengembangan diri dan lapangan pekerjaan antimainstream (begitulah lebih kurang yang saya tangkap dengan bahasa versi sayanyaπŸ˜…)

Artinya, sudah 11 tahun yaaaaa hari Blogger Nasional ini diperingati. Dan saya baru pertama kali donk memperingatinya πŸ˜‚πŸ˜‚.

Jadi, ada apa dengan Blog?

Jawabannya ... Ada hari Blogger Nasional πŸ˜†

SELAMAT HARI BLOGGER NASIONAL

Buat teman-teman Blogger seluruh Indonesia πŸ€—. Mulai dari blogger suka-suka kaya saya, sampe ke Blogger Profesional kelas dunia. Semoga ngeblog makin hari makin jadi aktivitas berbagi dengan positive vibes yang terus dan terus bertambah ya 😊

Demikian tulisan ringan bin sedikit dari saya yang tengah menanti gelombang cinta dari calon bayi meningkat. Doakan saya yaaaaa ... kontraksi dan bukaannya nambah πŸ˜…πŸ˜†πŸ˜†

Columbus, 27 Oktober 2018


Apa Sosial Media Pilihanmu?

Jumat, 26 Oktober 2018


Media sosial-sosial media. Pokoknya itulah. Aplikasi yang ada di HP atau gadget kamu, yang kamu gunain buat bersosial di dunia maya. Banyak banget kan ya jaman sekarang mah. Mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, Snapchat, tumblr, LinkEd, google+, skype, apalagi? Blog masuk ga? Masuk lah ya ... 😁

Nah pilihan kamu yang mana?

Saya?

Brainstorming dikit πŸ˜†

Sebelum masuk ke sebuah siklus hidup di era digital, saya memang sudah terkategorikan manusia doyan ngomong, doyan diskusi, dan doyan beropini. Tanpa memaksakan diri paham atas sebuah topik pembicaraan yang terbentuk, saya bisa larut bersama info-info menarik, baik yang baru saja saya ketahui ataupun yang sebenernya saya udah tau. Dan secara tidak sadar ternyata mempengaruhi pembentukan pola dan arah berfikir saya.

Beranjak ke era digital, keterbatasan interaksi sosial di sekitar saya membuat saya memenuhi kebutuhan sosial melalui sebuah media sosial. Sebut saja Facebook, Instagram, twitter dan lain sebagainya. 

Pada awalnya saya bersosial media memang untuk sebuah pemenuhan cengkrama sosial yang kurang saya dapati dalam keseharian saya. Sebut saja faktor ruang gerak. Dimana saya yang memiliki ruang gerak terbatas karena harus menjalani peran baru sebagai seorang ibu, sehingga kawan yang 'sekufu' agak susah ditemui. Ditambah faktor kesibukan yang memiliki aneka peran di lingkaran pertemanan. 

Lambat laun, ternyata, media sosial berubah fungsi begitu saja sebagai media pencitraan diri. Eits jangan langsung mendefinisikan negatif dulu ya. Pencitraan diri yang saya maksud adalah sejenis pemberitahuan tak langsung atau sebut saja self profilling. Buat apa? Agar orang-orang mengetahui siapa kita sebagai salah satu faktor utama apakah kita 'layak' dijadikan teman. 

Sayangnya, media sosial sebagai sarana citra diri ini tak langsung tertangkap oleh saya pribadi. Media sosial masih saja saya gunakan sebagai media bersosial saya dengan teman-teman lama. Kehadiran teman maya sebagai teman baru tak lantas merubah pola komunikasi saya di media sosial. Bahkan tanpa pikir panjang dan tanpa tau tujuan, manfaat dan konsekuensinya, saya dengan sangat mudahnya menerima pertemanan baru dan mengikuti akun baru di sosial media yang saya punya. 

Ya! Memang dulunya saya tidak pernah berfikir macam-macam tentang manfaat dan tujuan munculnya sosial media ini. Plek hanya satu hal yang saya tau, yaitu menjalin kembali koneksi dan komunikasi dengan keluarga, kerabat, dan teman yang pernah bersama-sama dengan kita di masa lalu dan masa sekarang. Lagi-lagi saya tak berhasil menangkap perkembangan fungsi media sosial ini, selain untuk citra diri pun juga untuk membangun relasi. 

Dalam ketidaksadaran sebagai pengguna media sosial inilah, saya umpama manusia tanpa tau tujuan hidup. Sehingga tak salah lah jika saya akhirnya 'sedikit' terjerumus pada pilihan jalan hidup yang kurang bermakna dan bernilai. Hiks sedihnya.

Tapi tak ada kata terlambat bukan. Pemanfaatan semua fasilitas kehidupan untuk bisa lebih bernilai manfaat masih bisa saya lakukan. Salah satunya melalui konsistensi diri dalam menuang ide meski sekedar opini receh atau curhatan ala emak-emak. Karena ternyata prinsipnya, sekecil apapun itu pasti akan selalu ada harganya. Maka tak salah jika Allah memastikan bahwa kebaikan yang terhitung sekecil biji zarah pun akan memperoleh imbalan. Wow 😍😍😍 Subhanallah.

Beranjak dari semangat berbagi dari hal terkecil inilah, saya melihat geliat-geliat berlomba dalam kebaikan baik di lingkungan sekitar saya seperti halnya pelaksanaan pengajian rutin maupun di dunia maya melalui akun sosial media seperti berbagi nasehat kebaikan atau ilmu sungguh luar biasa. Rasa-rasanya nyaris seluruh akun media sosial yang saya ikuti seperti berlomba memberikan info, tips, ilmu, motivasi, pengalaman, inovasi dan lain sebagainya. 

Dari aneka ragam jenis manfaat kebaikan yang bertebaran, ada beragam jenis media sosial juga yang bisa kita manfaatkan sebagai media penyebarnya. Tinggal pilih sesuai kenyamanan kita masing-masing. Apakah Facebook, Instagram, Twitter, Blog Google + atau sejenis LinkEd. 


Nah saya pribadi, memilih Blog sebagai salah satu media sosial yang saya manfaatkan untuk berbagi nilai-nilai positif. Baik berupa tulisan, foto, infografi, informasi, tips, dan juga pengalaman. Kenapa?

Berikut alasan mengapa saya memilih Blog.

1. Alasan Kenyamanan
Berbagi sesuatu hal di akun media sosial milik kita pribadi tentunya hak kita donk ya. Tapi ketika lingkaran pertemanan maya begitu sangat variatif bahkan cukup banyak yang tidak kita kenal secara personal cukup memberi rasa tidak nyaman. Kenapa? Karena bisa jadi kekurangtauan mereka tentang personaliti kita membuat mereka mudah ngejudge kita. Dan saya tidak siap. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….
Nah, nge BLOG, kita bisa meminimalisir judgement yang bikin keder layaknya di medsos lain sejenis Facebook. Misal kalo saya beropini panjang lebar soal politik Indonesia, ga akan adalah ya yang namanya perang komen di lapak saya kaya halnya di Facebook. Karena di Blog rada butuh usaha kalo mau komen dan baca balik komen orang. Ga segampang facebook, twitter atau Instagram yang bales-balesan komen bisa cepet πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

2. Bebas Berekspresi
Pernah ga sih merasa 'bosen' ngeliat postingan orang yang itu lagi itu lagi. Apa saya aja kali yes πŸ˜‚. Jadi kalo saya nemu akun yang postingannya rada monoton, saya suka bosen. Monotonnya gimana? Misal foto selfie lagi selfie lagi. Atau foto anak lagi foto anak lagi. Sedangkan ga menafikkan kalo saya pribadi juga doyan posting hal yang sama kalo emang lagi masanya mah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Kalo lagi euforia punya bayi ya posting foto bayi. Euforia ke luar negeri, posting foto luar negeri.
Nah, saya ngetreat orang lain kaya hal nya saya mgetreat diri sendiri. Padahal orang lain ga bosenan kaya saya juga yak. Tapi ya udah, daripada nebak-nebak kok ya lebih manfaat ya kalo poto-poto bayi lucu atau jalan-jalan luar nagrek nya saya dipajang di Blog yang disertai dengan tulisan informatif. Kok ya kaya lebih berfaedah gitu lho πŸ˜‚πŸ˜‚. Trus kalo pun sekedar cuma pajang poto doank di sebuah blogpost tanpa ada informasi yang informatif juga ga merasa bersalah amat karena blog kan dikunjungi sama pengunjung yang butuh info yang ada di blog kita kan. Jadi kalo dia nyasar ke postingan ga berfaedah kita, ya itu namanya dapet bonus πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‚πŸ˜‚. Bebas kan!!?? Bebas berekspresi πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

3. Niat Lebih Terjaga
Tepatnya tahun lalu saya mulai melek soal like, share dan comment. Eh apa akhir tahun 2016 yak. Pokoknya setelah tau bahwa setiap postingan dengan like, komen dan share yang banyak mencerminkan kualitas sebuah akun, saya jadi mikir buat 'pabanyak-banyak' like komen. Sampe lama-lama keganggu sendiri sama hal ini πŸ˜…πŸ˜…
Masa iya, ada temen yang nyimpulin keelokan pribadi seseorang bisa diliat dari berapa banyak pertemanannya di medsos trus liat berapa like dan komen yang dia dapet kalo ngepost. Hiks. Kejam amat yak kalo kata saya. Padahal kan medsos ada itung-itungan keaktifannya yang bisa mempengaruhi algoritma performa akun kita.
Yowes lah ... ngeblog beeeh. Niat lebih terjaga. Karena aku menulis karena aku mau!!! Begitu kata seorang teman di komunitas 1m1c. Terserah mau ada yang baca apa ga kek ... mau ada atau ga ada yang komen kek. Ngeblog cuma butuh ruh positif untuk berbagi hal yang bermanfaat kok. Just it! πŸ˜‰ Jadi ga sekedar pemenuhan eksistensi melainkan lebih! Kalo kata saya mah, ngeblog lebih valuable 😍😍😍 #uhuy


4. Komunitasnya Kece-kece
Blogger itu ibarat malaikat. Eaaaaa lebay. Kebermanfaatannya seolah tak terlihat tapi nyata bisa dirasa (malaikat gitu ga sih? πŸ€”πŸ€”πŸ€”). Saya sih belum termasuk blogger berfaedah yang bisa berbagi manfaat dengan istiqomah kaya halnya temen-temen blogger kece.
Ada kualitas ya ada harga donk. Dan blogger berfaedah ini banyak banget yang menjadikan blog sebagai karir antimainstream mereka. Nah mereka-mereka inilah yang membentuk komunitas-komunitas kece sebagai wadah saling berbagi dan memotivasi. Mau tau komunitasnya apa aja? Scroll down blog saya dan liat aja banner komunitas yang udah saya tempel πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†
Meski tergolong ga aktif, tapi saya bangga donk nemepelin banner ini karena itu bukti kalo saya dah daftar member hehehe. Soal keaktifan menyusul wkwkwkwk. Yang penting jadi banyak temen aja sih yang sehobi. Semoga entar-entar bisa meet up ma mereka semua kalo saya dah balik dari rantau 😊. Mana tau bisa jadi ladang karir juga 😘 aamiin ...

5. Melatih Skill Menulis
Awal ngeblog sih memang suka-suka. Nulis ala-ala diary dan disingkat-singkat kaya nulis status Facebook. Lama kelamaan ngerasa butuh juga buat melek EYD meski saya sering nakal dan malas πŸ˜†✌ terutama untuk ejaan baku plus huruf besar kecil πŸ˜…πŸ˜†.
Tapi memang kerasa banget soal 'kelihaian' merangkai cerita yang tentunya butuh skill donk ya. Dulu ya ... boro-boro ciptain 500 kata. 200 kata aja udah mentok. Sekarang? 2000 kata juga hajar bleh. EYD mah nyusul. Yang penting asik dulu aja πŸ˜‚πŸ˜‚✌. Terserah orang mau baca full apa di skip-skip. Selagi masih ada yang mau ditulis, tulis aja ga usah pake ragu. Setujuh!!!?

6. Bisa ikut macem-macem lomba
Selagi rajin cari events perlombaan blog mah in sya allah bakal ada aja yang bisa diikutin. Saya sih ngaku baru sekali submit buat lomba. Alhamdulillah ga menang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Pengen banget rajin submit lomba ini itu ... in sya Allah ke depan bakal lebih dirajinin. Sekarang latih rajin nulis lagi dulu. 😁😁😁

Wow udah 6 poin aja yak. Kalo gitu kita udahin dulu ya. Enaknya sih poinnya ganjil. Tapi saya udah kehabisan ide πŸ˜…πŸ˜‚.

Nah temen-temen yang baca boleh donk share preferensi sosial medianya apa berikut alasannya.

Apapun itu pilihan sosial media kita, yang penting silaturahim terjaga ya ... begitu juga dengan preferensi soal presiden pilihan untuk 2019. Siapapun itu, yang penting silaturahim terjaga tanpa ada perdebatan tak berarti apalagi diikuti permusuhan ... no no no ... 🀐🀐🀐 #pesan ini tanpa sponsor πŸ˜‚

Salam dari Columbus πŸ€—
26 Oktober 2018


Rubrik Baru (Tulisan Ga Penting)

Jumat, 05 Oktober 2018
Suasana fall atau autumn ini sumpah bikin melow. Jadi kebawa-bawa deh sama 'ruh' tulisan yang ingin saya buat di blog yang sudah sekian lama tercueki ini. Alhasil, tulisan yang sudah panjaaaaaaaang, tak hapus lagi. Kenapa? Karena ruh melownya agak beraura negatif. Less motivation, more depression πŸ˜…πŸ˜‚


Saya memang sudah lama tak rutin lagi menulis. Bukan karena ga ada ide. Tapi karena kehabisan tenaga duluan setelah menyelesaikan tugas negara sebagai Ratu dan Permaisuri kerajaan πŸ˜₯πŸ˜₯

Tak bisa dipungkiri energi saat hamil itu memang terbatas. Salam takzim saya buat para ibu hamil yang tetap produktif dan berkarya dalam hal apapun πŸ™

Jadi dulu sebelum hamil, kebiasaan menulis blog rutin biasanya saya lakukan di jam malam dengan konsekuensi begadang, atau di pagi hari dengan konsekuensi harus masak sore hari sebelumnya. Itu idealnya. 

Kondisi tak idealnya, saya tak jarang kebablasan 'keasikan' ngurusin rumah maya dan melupakan sejenak rumah beneran saya πŸ˜†. Konsekuensinya, ada perut-perut kelaparan yang berujung makan diluar dan rumah berantakan mengundang kesetresan. Pengeluaran meningkat, stress tambah berat πŸ˜‚

Itu dulu.

Sekarang? Menulis blog menjadi prioritas paling akhir. Padahal dulu menulis blog sudah saya jadikan rutinitas kerja. Tapi kan kondisi berubah ya ... dan kita harus membuat pilihan di setiap perubahan keadaan.

Ada konsekuensi di setiap pilihan tentunya. Jadilah di penghujung masa kehamilan ini saya memilih berdamai dalam kehidupan nyata. Dan membiarkan sejenak rumah maya saya yang bernama blog ini sedikit 'teracuhkan'.

Namun, tak dipungkiri blog sesungguhnya bagian dari ruh penyemangat saya. Satu-satunya hobi yang terkait eksistensi yang tak lagi berorientasi pada orang lain (pembaca), tapi lebih ke kepuasan diri sendiri. Sehingga saya sangat menikmati setiap proses menulis yang saya lakukan. Tanpa membebani diri dengan sebuah target atau capaian. Cukup fokus berbagi kebaikan, sudah sangat cukup untuk membuat saya terjaga stabilitas menulisnya.

Lalu kenapa saya jadikan blog prioritas paling akhir? Karena ada penyemangat baru yang hadir di kondisi saya saat ini. Yang untuk sementara bisa menggantikan blog sebagai mood booster saya. Apa itu???

Berpetualang mencari dan mengamati inspirasi dari orang-orang sekitar. Ciileeeee gaya amat πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Dan hasrat menulis hari ini muncul salah satunya karena hasil mengamati πŸ˜†.

Tak ada tema khusus yang akan dibahas dalam tulisan ini. Saya hanya ingin melatih jemari saja agar tak kaku memencet keypad. Melatih otak agar tak buntu menyalurkan ide dan katakanlah melatih diri menulis sesuai waktu yang ditentukan. 

Dan alhamdulillah hari ini, ada sedikit waktu yang bisa saya gunakan untuk menoreh kembali blog nya. Katakanlah buat menyapa teman-teman yang masih suka terdampar di blog ini. Meski hanya satu atau dua orang, sungguh penghargaan sekali untuk saya yang sudah tak rutin lagi menulis dan blogwalking 😒. Seolah semangat berbagi informasi atau sekedar opini kembali terbakar.

Untuk memfasilitasi diri yang semangatnya sedang membara ini, jika tidak ada halangan yang berarti, saya meniatkan diri untuk membuat rubrik baru di blog saya yang berjudul 'Inspirasi Hari Ini'.

Kenapa 'Inspirasi Hari Ini'? Karena setiap hari kita adalah inspirasi. Kadang kita ngeh kadang engga. 

Padahal, menurut saya, setiap manusia terlahir membawa inspirasi, sekecil apapun itu. Alam dan sekitar kita pun adalah inspirasi. Saya pun jadi merasa perlu mendokumentasikan kisah-kisah yang hinggap dalam pikiran saya di blog yang belumlah terkenal ini, semata-mata untuk saya renungi, betapa banyak inspirasi yang terdapat di sekeliling saya yang sering tak saya sadari. Doakeun semoga beneran dieksekusi ya. 

Adapun janji-janji manis saya di media sosial untuk mengulas 'daily routine schedule' Zaid dan Ziad dan juga review gendongan bayi di Amerika masih saya simpan sebagai draft karena belum rampung. Hiks. Maafkan saya πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

Dan janji saya menuliskan postcard dari Amerika untuk teman-teman di 1m1c plus beberapa orang teman saya lainnya in sya Allah akan segera saya tunaikan. Ya Allah ... mampukan hamba 😒

Jeleknya manajemen waktu saya 😭😭😭. Tapi lagi-lagi pilihan untuk beraktivitas sesuai skala prioritas memaksa saya untuk lebih realistis. Terpenuhi target 'eksistensi' tapi terbengkalai urusan domestik. Atau sebaliknya. Dan semoga kedepan saya bisa memenuhi target eksistensi dengan pemenuhan urusan domestik ini ya hehehe ...

Tulisan ini, semacam tulisan-tulisan sebelumnya yang selalu muncul senada ketika saya hiatus dari blog πŸ™ˆ, adalah tulisan motivasi pribadi saya sendiri. Memotivasi diri untuk tetap melakukan aktivitas bermanfaat apapun itu bentuknya. Salah satunya ya menulis blog ini. Karena sesuai nilai yang selalu saya bawa, saat tulisan menjadi saksi kebermanfaatan kita.

Belajar banyak dari para homeschooler atau selebgram berfaedah yang saya ikuti di Instagram, memang akhirnya mereka layak memperoleh atensi karena kedisiplinan dan kefokusan mereka terhadap tujuan yang ingin mereka capai itu sangat luar biasa. Semoga saya bisa mengikuti hal-hal baik yang ada pada tokoh-tokoh media sosial ini. Terutama soal kedisiplinan dan konsistensi mereka.

Ada memang keinginan pribadi saya untuk bisa menginspirasi orang lain lewat media sosial yang saya punya. Tapi pelan-pelan saya sadar diri juga, jika orientasi saya lebih kepada eksitensi dan atensi orang lainnya ketimbang kebermanfaatannya. Jadilah saya merasa perlu mengatur nafas lagi untuk sebuah tujuan utama yang hakiki. 

Tidak menafikkan bahwa menjaga eksistensi di era digital menurut saya lebih menantang. Menyeimbangkan kehidupan bersosial media dengan kehidupan bersosial di dunia nyata tentu sulit. Dan kita tentu tak harus memaksakan diri jika tak mampu memenuhi di keduanya. Akan ada prioritas, dan kita yang menentukannya. Bisa dengan memilih salah satunya, atau mengatur prosentase antara keduanya. Yang terpenting, komposisi eksistensi di dunia nyata haruslah lebih besar daripada dunia maya. Kenapa? Karena aplikasi, realisasi dan eksekusi itu lebih bernilai dibanding sekedar dokumentasi. Menurut saya ya ini 😁

Tak jarang kan kita lebih fokus pada dokumentasi untuk kepentingan media sosial ketimbang keberlangsungan dari sebuah aktivitas itu sendiri. Ya saya! Belajar dari pengalaman saya pribadi πŸ˜†πŸ˜…. Untuk menghindari hal ini terjadi lagi, saya akhirnya harus 'merelakan' diri selangkah mundur di dunia maya dan berharap 1000 langkah lebih maju di dunia nyata. Kenapa? Karena tadi, eksistensi era digital lebih menantang dengan segenap godaannya. Dimana like dan comment menjadi tujuan πŸ˜…. Sehingga perlulah sejenak saya berhenti dari keriuhan semu ini. Dan memilih berbagi sesuatu hal yang positif yang tak melulu perihal saya, pengalaman saya ataupun perjalanan hidup keluarga saya. 

Sudah terlalu banyak. 😁 berat jika harus 'bersaing'. Sedangkan diri sendiri saja belum tertaklukan. 

Ya, demikianlah pemaparan tulisan random hari ini. Semoga ada manfaatnya. Intinya saya cuma mau bilang kalo saya mau share tulisan kisah inspiratif yang saya dapati dari sekitar saya.πŸ˜„πŸ˜„

"Waktu kecil tak pernah saya bermimpi menjadi bintang, terlalu tinggi. Biarlah saya membumi bersama tanah, merekam tapak demi tapak setiap langkah yang menginjaknya, untuk dijadikan inspirasi dan karya."

Columbus, 5 Oktober 2018