MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Homeschooling Aja Gitu?

Minggu, 08 Juli 2018
Judul tulisannya kebaca ya kalo yang nulis lagi galau. Padahal ga galau-galau amat sih πŸ˜†

Alhamdulillah 5 Juli kemaren Zaid dan Ziad sudah 5 tahun menghiasi kehidupan saya, suami dan keluarga beserta karib kerabat sekitar. Gimana rasanya punya anak udah 5 tahun? Asli saya sering nangis akhir-akhir ini. Terbukti apa yang dibilang orang-orang, kalo kita bakal merindu anak jaman bayi saat mereka udah masuk usia 5 tahun πŸ˜”. Jadi rasanya ya bikin saya rada melow aja πŸ˜†



Tapi semelow apapun saya, rasanya melihat perkembangan mereka saat ini tak hentinya membuat saya terus berucap syukur. Paling tidak, karena merekalah saya bisa bertumbuh menjadi Ibu yang mampu melihat kelebihan dibalik kekurangan.

Mengikuti tumbuh kembang mereka dari awal lahir hingga berusia 5 tahun full 24 jam 7 hari, cukup membuat saya menjadi semakin sadar hakikat seorang ibu.

Dimulai dari fase-fase drama menyusui tandem, mendapati perkembangan mereka yang selalu saja lebih belakangan dari anak seusia mereka, hingga akhirnya saya menyadari bahwa keterlambatan demi keterlambatan tumbuh kembang mereka terutama dalam hal verbal ternyata memiliki hikmah yang sangat berharga.

Apa?
Bahwa sabar dan ikhlas adalah kunci utama yang harus dimiliki untuk menjadi orang tua. Diluar itu? Hanyalah hadiah dan kemudahan yang diberikan Allah kepada kita orang tua untuk menutupi kelemahan dan keterbatasan yang ada.

Karena jika kita terus meminta sesuatu yang sempurna, tentunya tak bisa kita belajar bagaimana hidup mengharga.

Karena jika kita terus mendamba serba bisa, kapan kita bisa mengenal yang namanya usaha.

Sudah. Allah sudah sangat indah mengatur semua. Dan anak-anak menjadi jalan pembuka mata, hati dan pikiran saya dalam memaknai perjalanan saya sebagai  seorang ibu, sebagai orang tua.

Lalu, setelah mendampingi 2 anak usia dini sekaligus dan sekarang mereka memasuki usia sekolah, saya manusia kembali dilanda galau. Pendidikan seperti apa yang akan saya tempuh untuk anak-anak agar mereka bisa meniti puncak sukses kehidupan mereka, di dunia dan akhirat?

Homeschooling aja gitu? πŸ˜† Nah ini dia sumber galau berikutnya ...

5 tahun membersamai si kembar, sudah lebih dari cukup buat saya mengenal karakter dasar, gaya belajar, dan cara mereka bersosial. Dan semua info terkait anak-anak ini tentunya jadi bahan timbang menimbang yang saya lakukan dengan suami terkait pilihan pendidikan untuk mereka, terutama setelah balik ke Indonesia. Jika mereka bersekolah di sekolah umum gimana, sekolah swasta gimana, sekolah tahfidz gimana, sekolah di rumah gimana? Untuk Ziad seperti apa, untuk Zaid yang bagaimana.

Lho memang mereka akan dibedakan sekolahnya? Bisa iya bisa tidak.

Meskipun kembar, Zaid dan Ziad memiliki karakter dasar yang sangat berbeda. Gaya belajar mereka pun jauh berbeda. Jika Ziad memiliki free style learning, maka Zaid adalah on rules style learning. Jadi, bisa dikatakan Ziad cocok di sekolah sejenis homeschooling, kalo Zaid cocok aja di sekolah umum.

Tapi, aplikasi pembedaan sekolah anak-anak tentu tak semudah itu ya. Perlu dipikirkan masak-masak πŸ˜„ tapi ya jangan sampe gosong juga. Sehingga saya mencoba mencari satu benang merah kesamaan mereka yang bisa saya gunakan dalam menentukan pilihan pendidikan ini. Apakah itu? Brainatorming.

Yup! Si kembar sama-sama suka brainstorming. Mereka suka diskusi. Mereka suka diajak mikir. Meski tetap dengan gaya dan cara respon masing-masing.

Dengan kesamaan ini, paling tidak untuk waktu satu tahun ke depan, sebelum pulang ke Indonesia, saya masih punya waktu membangun diskusi dan kesamaan visi dengan anak-anak terkait pilihan pendidikan untuk mereka kelak. Sembari menikmati kurikulum TK disini, sembari mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan terkait homeschooling mereka andai homeschooling menjadi pilihan, sembari terus mencari informasi perihal pilihan-pilihan pendidikan formal informal di Indonesia.

Semoga saya bisa lebih menikmati proses galau ini, tanpa dirongrong khawatir anak akan tertinggal dari anak lain. Sudah cukup pengalaman 5 tahun ini memberi pelajaran kepada saya bahwa tak ada anak yang lebih baik dari anak lain. Karena setiap anak, setiap manusia, itu unik. Maka sebaiknya saya berfokus menemukan dan mengembangkan keunikan tersebut agar bisa mendampingi mereka menjemput kebermanfaatan mereka untuk umat. Aamiin ...

Segitu aja tulisan galau saya. Temen-temen yang baca boleh donk share pilihan pendidikan yang temen-temen putuska  untuk anak apa?


Columbus, 8 Juli 2018

Sate Padang Homemade

Jumat, 29 Juni 2018
Kemaren, pas video call sama kakak kedua saya yang biasa saya panggil Elok, eh doi lagi diajak Ama (Mama) sama Apa (Papa) makan sate langganan deket rumah. Sate 'Mak Tando' namanya. Saya yang lagi kehilangan nafsu makan selama 4 hari berturut-turut (yang membuat mual muntah kumat lagi) jadi 'tabik salero' alias tergugah selera ketika melihatnya. Akhirnya, setelah cek bahan di dapur, alhamdulillah lengkap semua kecuali daun kunyit yang memang ga akan pernah nemu di Amerika sini πŸ˜†.

www.merisaputri.com

Oke ... eksekusi ...

Pertama-tama, karena saya belum pernah masak sate padang, hanya sering makannya doank πŸ˜‚, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari resep. Googling aja. Buanyaaaaaaaaak banget resep sate Padang berseliweran. Nah pertanyaannya, rasanya cucok ga sama sate Padang yang sesungguhnya???

Baca juga: Resep Tiramisu Halal dan Creamy


Sebelumnya, saya pernah makan sate Padang disini. Buatan tetangga saya yang besar di Bangkinang. Dari dialah saya tau kalo sate Padang tu pake asam kandis. Asli saya baru tau hahaha. Dan memang diresep-resep yang ada, rata-rata pake asam kandis. Hanya beberapa yang tidak pakai asam kandis.

Nah, untuk eksekusi pertama ini, saya mau pake asam kandis aja. Ngikut yang ramai πŸ˜†

Ya udah yuk langsung aja kita tulis resepnya ya ...

Baca juga: Kumpulan resep-resep masakan ala Merisa Putri


Eh disclaimer dulu, saat memasak saya cuma pake bumbu kira-kira ya. Jadi yang diresep ini saya usahakan ada takarannya πŸ˜† Adapun resep yang saya liat hasil googling ga jadi patokan takaran saya ... Ntar link nya saya cantumin di akhir yaks 😊 barangkali butuh referensi lebih terpercaya wkwkwkwk

Bahan Utama:
* Daging 1 kg potong pipih besar (saya disini pake daging 2 pounds atau sekitar sekilo kurang dikit) - kalo liat diresep-resep sih pada pake lidah dan jeroan. Ini mah sesuai selera dan ketersediaan bahan aja 😊. Pokoknya di awal potong rada besar dulu. Jangan langsung potong dadu ya ...
* Air +- 2 apa 3 liter (saya sampe daging kerendem aja sih ... ga di ukur-ukur pake gelas takar πŸ˜†)

Bumbu halus:
1. bawang merah 7 siung (saya pake bawang merah agak besar. Kalo kecil boleh dilebihkan)
2. bawang putih 5 siung (saya pake sedikit saja karena ga suka bawang putih πŸ˜†)
3. cabe merah sesuai selera (karena saya disini pake cabe mexico namanya Jalapeno sebanyak 4 buah. Kalo pake cabe keriting dua ons cukup kali ya bagi yang doyan pedes. Disesuaikan saja yaks 😊. Makin banyak cabe makin pedes dan warna kuahnya jadi makin kemerah-merahan)
4. jahe secukupnya (disini jahe gede-gede. Kalo dikira-kira sih sekitar 1 1/2 jempol orang dewasa lebih kurang)
5. kunyit 5 cm - sangrai (saya ga punya kunyit batangan, jadi pakenya kunyit bubuk sekitar berapa ya πŸ˜… 3 sendok teh kali yaks πŸ˜†. Dan tetep saya sangrai)

Haluskan bahan 1-5. Bisa diblender atau diulek.

6. ketumbar kasar 2 sdt - sangrai - haluskan (saya pake ketumbar bubuk 1 sdm)
7. Jintan bubuk 2 sdt - sangrai
8. Merica 1 sdt (sesuai selera)
9. Asam kandis 2 saja / sesuai selera (asam kandis yang saya punya asam nya mantap. Jadi tadi saya masukkan 4 yang ukuran sedang, jadinya rada agak asam. Jadi kayanya next saya pake 2 aja hehehe. Seinget saya dulu masak di Payakumbuh, pake asam kandis buat asam padeh ikan tu bisa sampe 5. Dan asam nya pas. Ga pahamlah saya, yang pasti asam nya sate padang ga dominan, cuma semriwing selewat doank - semoga ingatan saya ga salah πŸ˜…)

Bahan tambahan:
1. Daun kunyit 1 lembar yang besar atau 2 lembar yang kecil (saya ga pake karena disini ga ada)
2. Daun jeruk 4 lembar
3. Serai 1 batang (memarkan)
4. Lengkuas secukupnya (geprek)

Cara membuat:
1. Didihkan 3 liter air
2. Setelah mendidih, masukkan daging (jika pake lidah dan jeroan masukkan secara bersamaan)
3. Setelah air kembali mendidih, kecilkan api hingga api sedang. Masak hingga empuk (saya belum pernah masak lidah, jadi ga tau lidah cepet empuk apa ngga hehehe. Kalo jeroan kayanya lebih lama empuknya ketimbang daging ga sih? #baliknanya)

4. Di wajan terpisah, panaskan minyak goreng secukupnya untuk menumis bahan tambahan (daun kunyit, daun jeruk, serai, dan lengkuas) dan bahan bumbu halus nomor 1-5 (ada yang ga ditumis jadi langsung cemplung semua bahan halus dan dedaunan ke air rebusan daging kaya masak gulai Padang. Saya adopsi cara masaknya 'Masak TV' di You Tube. 😊)
5. Setelah daun-daun wangi, masukkan bahan bumbu halus 1-5. Tumis sampe wangi.
6. Lalu masukan bumbu halus 6-9. Aduk hingga rata dengan api kecil
7. Tambahkan garam secukupnya. Sesuai selera.

Ini daging yang sudah dimasukkan
Ke tumisan bumbu halus
Ini potongan dagingnya kurang pipih ya ...
bagusnya lebih pipih lagi

Kemudian ...

8. Masukkan daging yang tadinya direbus, ke dalam tumisan bumbu. Aduk rata dan setelah merata biarkan sekitar 30 menit  atau hingga bumbu matang dan meresap dengan aduk sesekali biar ga gosong aja (apinya masih api kecil ya)
9. Setelah bumbu matang dan meresap ke daging, angkat daging untuk dipotong-potong dadu.
10. Tusuk daging yang sudah berbentuk dadu (besar kecil sesuai selera saja) untuk kemudian dibakar (bakarnya ga usah lama-lama. Cuma biar dapat sensasi bakar aja, bukan untuk mematangkan seperti sate Jawa karena dagingnya kan sudah matang 😊)
11. Sebelum dibakar olesi dengan minyak goreng kaya Uda-uda sate Padang itu lho. Kalo garem nya rada kurang, bisa tambahkan garam di minyak pengoles sate ini.
12. Bakar sesuai selera (saya pake oven. Di oven dengan api 350°F - sekitar 180°C selama 10 menit. Kalo ada bakaran, lebih mantap pake bakaran πŸ‘πŸ‘πŸ‘)

Maap potonya potrait
Ini daging yang telah di potong dadu.
Aslinya warnanya agak kuning kemerahan

Untuk kuah:
13. Bumbu tumis yang tersisa masukkan ke dalam air rebusan daging untuk membuat kuah sate. Aduk sesekali hingga mendidih.
14. Sisihkan sekitar 200ml air kuah sate, tambahkan tepung beras sekitar 1/2 cup dan tepung sagu sekitar 2-3 sdm
15. Aduk hingga tercampur rata dan tidak berbongkah
16. Masukkan ke dalam air kuah sate sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga menemukan kekentalan yang pas dan sesuai selera.
17. Cek rasa
18. Sate siap disajikan πŸ’

Penampakan dekat πŸ˜†

Saran penyajian:
1. Siapkan potongan lontong atau ketupat di atas piring yang sudah di alas daun pisang.
2. Tambahkan sate yang sudah dibakar.
3. Siram dengan kuah sate Padang yang telah matang.
4. Taburi bawang goreng di atasnya.
5. Makin lezat jika ditambah dengan kerupuk singkong balado πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹ atau kami sering menyebut ya karupuak merah 😁
6. Sate Padang pun siap untuk disantap πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹

Nah, lebih kurang begitulah resep dan cara membuat sate Padang yang saya eksekusi. Semoga tidak ada instruksi dan info bahan-bahan yang membingungkan ya ...

Oh ya, ketika cek rasa, saya sempat bingung karena saya baru sadar saya lupa rasa sate Padang itu seperti apa πŸ™. Baru ngeh kalo saya selama ini tidak pernah menyicipi detail bumbu-bumbu apa saja yang terpadu dalam sate Padang yang sangat sering saya makan ketika di kampung halaman. Taunya pokoknya makan enak aja πŸ˜‚.

Wajah sumringah pelanggan pertama πŸ˜†

Nah, saat sate sudah disajikan layaknya yang dijual uni uda Padang, baru deh ... saya bisa bergumam 'ooooh mirip sih rasanya sama yang sering saya beli'. Tapi rada keaseman aja. Tapi asem nya masih wajar sih .. ga sampe yang merusak rasa.

Ya udah ... udah dulu yaks ... selamat mencobaaaa...

Columbus, 28 Juni 2018

LINK referensi saya:
1. Cara membuat sate padang ala Yuda Bastura πŸ‘‰ saya suka hasil akhirnya yang kuahnya kuning. Tapi daging sate sebelum dibakarnya jadi botak alias tidak berdedak karena daging hanya direbus bukan ditumis sehingga bumbu larut dengan air. (Paham kan ya? πŸ˜…)

2. Cara membuat sate padang ala Masak TV πŸ‘‰ karena saya pernah liat langsung bentuk daging sate padang itu berdedak, jadi cara masak ala Masak TV ini saya modifikasi. Jadi bumbu yang ditumis tidak saya siram air, tapi justru saya masukkan daging yang direbus ke dalam nya. Sehingga ada bumbu yang nempel dan itulah yang membuat daging jadi berdedak. Dan ini lebih mirip dengan apa yang pernah saya lihat di hasil daging satenya. Yaitu berdedak kuning kemerahan. Bukan basah seperti di dua cara link yang saya temukan ini.

NB: saya tipe yang malas liat banyak referensi hehehe. Jadi cuma liat 2 link you tube dan 1 link web selerasa.com (karena saya visual, baca di web ini awalnya agak belum terbayang karena web nya ga pake poto), sambil ngebayang-bayangin plus berbekal pengalaman saat memakan, saya pun langsung eksekusi dengan versi saya dan cara saya 😁. Jadi jika ada koreksi bagi teman-teman yang sudah berpengalaman, mohon tinggalkan komentar di kolom komentar ya. Trus kalo ada masukan atau apapun, feel free yaaaa buat kasih masukan di kolom komentar. Terimakasih banyak πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ€—πŸ€—

Ramadhan Bersama: Merajut Kebersamaan di Tanah Rantau

Kamis, 07 Juni 2018
Kemaren, seusai tarawehan di rumah dengan beberapa orang teman Indonesia (selama Ramadhan kita open house rumah buat dijadiin mushalla, karena diriku ga sanggup ke masjid-takut mual muntah), saya dan suami sempat berbincang-bincang sebelum tidur. Sejenis dongeng sebelum tidur gitoh 😁.

Cerita bermula sesaat suara kereta api lewat terdengar. Saya pun nyeletuk:

"Suara kereta api disini jadi pengingat memori sendu lho buat aku"

"Kenapa?" tanya suami (pura-pura) penasaran.

"Karena awal nyampe sini, disaat masih jetlag dan aku selalu bangun di malam hari, kereta apinya sering lewat nemenin hatiku yang lagi lara ingat Indonesia", jawab saya berima.

Yah begitulah. Saya memang senduuuuuuuu banget awal-awal napakin kaki di tanah Amerika ini. Dan kesenduan serupa selalu saya alami di setiap saya menapaki kaki di tanah rantau yang baru. Seperti hal nya dulu awal-awal merantau ke Bandung. Yang jadi pengingat memori sendu itu embun paginya negri Bandung. Karena memang saya sering bermenung di lantai atas asrama putri Minang, kosan kakak saya di Bandung-yang ternyata juga jadi kosan saya setelah lulus SPMB di kampus yang sama, di masa-masa awal merantau.  Jadi kalo hirup embun pagi, inget momen sendu Bandung. Kalo denger suara kereta api disini yang masih gujes gujes tut tut tut tut, saya inget momen sendu awal hidup disini. Begitulah ...

Ada yang punya pengalaman yang sama?

Saya ga ngerti ya, apakah perasaan sendu seperti ini hanya orang-orang seperti saya saja yang mengalami atau orang tipe lain juga? Yang pasti, memori sendu seperti ini-berdasarkan pengalaman-akan terkikis seiring berjalannya waktu yang mencipta memori-memori baru. Terlebih jika memori barunya dominan memori seru 😊.

Nah, di tulisan blog kali ini, ada beberapa memori seru yang saya dapati selama hidup merantau di kota kecil bernama Columbus ini. Memori yang mungkin hanya akan tercipta disini, di Amerika. Jikapun nanti atau dulu saya memiliki memori serupa, tetap saja memori disini memiliki cita rasa berbeda. Sebut saja namanya memori kebersamaaan semasa di Amerika.

Bagi saya-orang yang sangat doyan ber-gahol- hidup tanpa bersosialisasi (bukan bersosialita ya πŸ˜…) itu ibarat makan tanpa garam alias ga sedap. Dan jujur, awal merantau kesini, ketakutan terbesar saya adalah, tak punya kawan dan tak berkawan #hiks 😣. Artinya, saya bakal kehilangan hidup bersosial saya 😭😭😭

Dan ketakutan itu menjadi-jadi efek dari saya yang selama masa pernikahan memang rada kurang gahol-efek hamil lahiran dan urus anak sehingga saya banyaknya di rumah saja- ditambah sekalinya mau gahol ketemunya lingkungan akademisi (red: mahasiswa). Alamaaaaaaak ...

Saya langsung kebayang orang-orang pada hebat semua, kalo ngobrol saya takut ga nyambung. Kalo pake istilah apa misalnya, saya takut salah. Belum lagi saya memang paling trauma di bully soal kecerdasan kognitif wkwkwkwk. Karena saya merasa bukanlah pribadi nan hebat lagi pintar. Ditambah saya bukanlah anak yang doyan membaca meskipun setiap kali ngisi biodata, di kolom hobby selalu tulis "reading". Sungguh!!! Saya minder tingkat akut keblinger kesewer-sewer!!!

Jadi???? Ya gimana mau gahol dan hidup bersosial????!!!!! Udah minder aja yang gede. Ada acara ini, saya udah overthinking, ada acara itu, saya udah ngacir bikin suami pening.

Terdengar ga mungkin? Yang kenal saya pasti ga percaya sama cerita ini. Masa iyyaaaaa Putri seperti itu???

Ya whatever lah ya, yang pasti cerita di atas yang saya bawakan sembari berguyon adalah sebuah fakta dan realita dari yang namanya perjalanan hati seorang Merisa.

Sampe akhirnya saya menemukan sebuah pola dan fakta baru yang terpampang nyata. Bahwa manusia memang tak ada yang sempurna. Terlalu melebihkan posisi orang lain sehingga membuat saya menjadi rendah diri bukanlah sebuah karakter baik. Setelah merenung dan menemukan titik balik pasca kehilangan identitas diri, alhamdulillah, renda-renda kebersamaan yang terajut secara perlahan dan natural, membantu saya kembali merasa lebih hidup dan kembali bersosial.

Apa saja sih renda-renda kebersamaan yang saya lewati itu? Ga penting sih buat di penasarin sama kamu ... tapi aku mau nulisin aja ... biar kalo rindu kelak, aku ga terlalu berat (duh saya nulis apa sih-maapkan ya pembaca 😘😘😘).

BUKA BERSAMA
Berhubung tulisan ini ditulis di bulan Ramadhan, dan tema untuk #1m1c adalah 'Kebersamaan', jadi renda atau momen kebersamaan pertama yang akan saya tuliskam adalah BUKA BERSAMA. Karena ada kata 'Bersama'-nya #plak-ga penting!

Cuma ada foto ini πŸ˜”

Iya tau! Momen buka bersama ga hanya ada di Amerika kok. Di Indonesia juga kita bisa dapetin momen suka seperti ini bahkan full di 30 hari Ramadhan πŸ˜‚. Tapi seperti yang sudah saya sampaikan di atas (udah gaya pejabat ngomong aja saya), memori kebersamaan di rantau Amerika ini citarasanya berbeda.

Apa bedanya?

Bedanya paling ga kerasa oleh saya pribadi ya. Yaitu, buka bersama yang mana makanan buka puasanya bukanlah beli atau makan di di restaurant melainkan perpaduan sempurna dari dapur-dapur ibu-ibu Indonesia disini. Alias masak sendiri.

Asli baru ngeh ga punya foto
Menu2 buka bareng 😭

Alhamdulillah merasakan dua kali lebaran disini, saya sangat bahagia karena tetap bisa bersantap dengan menu Indonesia, terutama saat momen buka bersama tiba. Rasanya? Ga kalah dengan cita rasa masakan yang ditemui di pedagang-pedagang makanan di Indonesia. Bahkan ada yang lebih enak.

Tahun lalu, tahun ini minim dokumentasi hiks

Salah satu Bukber tahun ini

Sebut saja menu soto ayam andalan Mba Lusi, atau Batagor siomay andalan keluarga Ardiyanto (istrinya member #1m1c juga, Anisa namanya), atau pempek Palembang asli wong kito galo Ayuk Tanti, tongsengnya keluarga Vivi (Vidi-Vinta), dan yang tak kalah bikin kangen kampuang nan jauah dimato lepas dengan menu andalannya Uni Ruri, mie goreng khas Minang 😍😍😍😍. Masya Allah ... baru beres sahur udah bikin saya ngacai nulis beginian πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

NO PICT = HOAX?

Bukber di rumah saya, foto dari kamera suami πŸ˜…

Semoga ga ada yang ngomong begini πŸ˜“ ... Yang ngikutin instastory pasti pernah liat lah momen kebersamaan saya disini yang dikelilingi masakan khas Indonesia. Kalo pun pada penasaran, semoga saya bisa lampirkan foto-foto makanan nya kalo ada πŸ˜…

Okeh lanjuuuuuuut ...

Halal bi Halal
In sya Allah seminggu lagi lebaran. Dan ini lebaran Idul Fitri kedua saya disini. Dan alhamdulillah wa in sya Allah, dua lebaran ini ada momen halal bi halal nya orang Indonesia. Apalagi yang ditunggu-tunggu untuk melepas rindu selain kehadiran makanan khas Indonesia nya πŸ˜‚. Yang tentunya ga lengkap kalo ga pake cengkrama dengan keluarga besar Indonesia lainnya 😊.

Ga sengaja kembaran sama anak2nya Bu Fera
Di halal bi halal tahun lalu

Nah tahun lalu, menu lontong sayur, opor ayam dan rendang jadi menu utama. Bangganya, saya salah satu volunteer penyedia opor ayam kala itu 😎😎😎 (ga sombong, cuma bangga ajaπŸ˜†). Nah, tahun ini, hasil 'curi baca' dari grup ibu-ibu pengajian Columbus, menu utama lebaran kali ini adalaaaaaaaaah 'SOTO MALANG' Yeeeeeeeeee. Dan tetep, Rendang ga boleh ketinggalan (meski bukan saya yang masak wkwkwkwkwk)

Mudah-mudahan pasca lebaran tulisan ini bisa di edit buat ngelampirin foto-foto menu lebarannya ya πŸ€—πŸ€—πŸ€—

TARAWEHAN
Dari tahun lalu, saya dan suami dan beberapa orang teman sebenernya sudah meniatkan mengadakan tarling alias taraweh keliling. Tapi karena berbagai macam hal, niatan hanya tercatat sebagai niatan baik. Untuk realisasi masih belum bisa terlaksana.

Taraweh tahun ini

Tapi, meskipun ga ada tarling, bukan berarti kami ga taraweh ya πŸ˜‚.

Alhamdulillah dua Ramadhan, ada saja momen kebersamaan yang tercipta dikala menunaikan ibadah khas Ramadhan ini. Seperti halnya tahun lalu, taraweh bareng di masjid Omar, yang lokasinya ga terlalu jauh dari apartment, mempertemukan saya dengan beberapa orang Indonesia lainnya. Selain kebersamaan dengan sesama Indonesia, taraweh memberikan memori kebersamaan lain yang tentunya belum tentu akan saya dapatkan di Indonesia. Yaitu momen taraweh bareng dengan Muslim dari berbagai macam negara.

Suasana di masjid Omar

Memang masjid Omar bukanlah masjid yang luas dan megah. Namun, melaksanakan taraweh di masjid Omar membantu saya merasakan cita rasa suka cita khas Ramadhan yang saya lakukan di Indonesia. Kalo ga ke masjid rasanya Ramadhan ga berasa. Begitu dulu ungkap saya ke suami. Meski memang tidak full 30 hari kami bertaraweh ke masjid karena berbagai macam faktor.

Bukan tarling, tapi lagi tarawehan
abis bukber pengajian columbus

Tahun ini, faktor kehamilan (yang sangat berat untuk diucapkan karena ga mau mengkambing congekan kehamilan😣😣😣) membuat saya menghabiskan malam-malam ramadhan di rumah. Bersyukur ajakan untuk taraweh di rumah saya disambut baik teman-teman Indonesia. Sehingga, meski tak berkesempatan taraweh ke masjid Omar lagi, paling tidak masih ada momen taraweh berjama'ah bareng temen-temen lain (ga hanya saya sekeluarga) sebagai penghias Ramadhan kali ini. Dan semoga malam 23, 25, dan 27 saya sekeluarga diberi kekuatan dan kesehatan untuk bisa menyicip i'tikaf di masjid Omar seperti halnya tahun lalu ... aamiin.

KE BANDARA
Momen yang satu ini memang agak rada-rada aneh πŸ˜…. Tapi sungguh, 'Ke Bandara' merupakan salah satu renda kebersamaan yang terajut sejak awal tinggal disini. Terutama ke Bandara untuk mengantar kepulangan rekanan yang beres masa studi. Kalo ke bandara buat jemput mahasiswa yang datang sih biasanya cukup para driver aja yang datang. Nah, untuk kepulangan for good, itu yang anter bisa kaya pengantaran romongan jama'ah haji πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Yang pulang satu orang, yang nganter 10 orang (tergantung jadwal juga sih, kalo pada free pasti pada nganter).

Yang for good cuma 1 orang yang anter banyak πŸ˜…

PENGAJIAN
Untuk momen yang satu ini sudah pernah saya tulis kheseus di "Romantisme Pengajian Columbus"

NOBAR - NONTON BARENG
Sebenernya kebiasaan nobar ini bermula dari kepengurusan baru PERMIAS yang saat itu dipimpin oleh teman kami mahasiswa graduate, Ahmad Chairul Anwar atau yang akrab disapa Aan. Karena untuk pertama kalinya (kalo saya ga salah) PERMIAS Columbus dipimpin mahasiswa graduate (biasanya dipegang sama anak-anak Undergraduate), jadilah nyaris semua mahasiswa graduate yang masih muda belia, termasuk suami saya doooonk πŸ˜…πŸ˜†, masuk membantu dalam kepengurusan PERMIAS tahun 2017-2018 ini. Karena sering bertemu inilah, apa-apa kumpul, makan trus Nobaaaaar. Sampe akhirnya rumah saya pun secara ga resmi dinobatkan jadi basecamp πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Ga punya foto nobar, lebkur kaya gini kondisinya πŸ˜†

Karena suami sok bantu-bantu di Permias, mau tidak mau saya pun kecemplung. Jadilah beberapa agenda Permias menghiasi hari-hari saya yang menambah lengkap momen kebersamaan saya dengan suka dan citanya. Ya mau dikhususkan PERMIAS jadi poin momen kebersamaan kok ya saya merasa ga cocok. Lha wong saya bukan mahasiswa. Hanya istri mahasiswa sajah 😁.

Bersama pemuda Permias
Pemuda Permias, ini foto ga tau jepretan siapaπŸ˜…
Ada di google photo saya pokonya
Ikut berpartisipasi di acara kampus
Mewakili PERMIAS 😍

Lagi ngitung tiket penjualan makanan PERMIAS
Di acara Taste of OSU

Ya demikianlah beberapa momen kebersamaan yang terajut semasa saya disini. Dirasa ga dirasa, semua momen baik yang dituliskan disini ataupun tidak, baik berbekas suka ataupun tidak, sedikit banyaknya memberikan saya sudut pandang lain tentang sebuah kehidupan sosial yang terbingkai dalam kebersamaan.

Seperti yang tadi saya tuliskan di atas, manusia itu tak sempurna, sehingga dalan bersama pastilah ada luka yang tak sengaja dicipta. Tapi luka itu justru yang menjadi warna. Kadang mengundang kedongkolan, kadang gemes, kadang kesel, tapi semua berpadu dalam canda tawa sehingga berubahlah menjadi bianglala ... oooooh indahnya ...

Semoga momen kebersamaan yang ada sayanya, jika saya sempat menoreh duka dihati yang membaca (karena pernah berkelakar dengan saya misalnya πŸ˜†) ...mohon dimaafkan ya. Saya ga yakin sih tulisan ini dibaca oleh sejawat yang ada di Amerika. Tapi kalo misalkan adaaaa, sungguh, kehadiran kamu, iya kamuuuu, memberi berjuta warna dalam hidup saya. Saya bahagia bisa bersama orang-orang yang pernah saya temui.

Ya udah ... dadah bye bye ... Assalamu'alaikum πŸ€—

Columbus, 7 Juni 2018

Ramadan Berduka: Proses Penyelenggaraan Jenazah Muslim di Amerika

Rabu, 30 Mei 2018
Sejak rutin menulis di Blog pribadi, saya memang mencoba mengkhususkan cerita di bulan nan suci dan hari nan fitri dimana pun saya berada. Sehingga labelling 'Ramadhan Kami' & 'Lebaran Kami' saya buat untuk memudahkan saya melacak memori lama kalo-kalo kangen buat membacanya. Belum banyak memang kisah yang terkumpul. Karena memang baru saya mulai di tahun 2016.

Source: pexels

Tahun ini merupakan kisah kedua saya melaksanakan Ramadan di negri rantau. Jika tahun lalu saya bercerita tentang sensasi berpuasa di Amerika yang sebenarnya belumlah terlalu panjang (hanya 16 jam saja), maka di awal Ramadan tahun ini saya hendak berbagi tentang sebuah perjalanan batin saya ketika mengikuti sebuah prosesi pemakaman orang tua salah seorang karib kami disini.

Berita duka itu saya dapatkan tepat di saat sahur Ramadan hari kedua. Meski tak sempat bertemu dengan almarhumah, hubungan pertemanan saya dengan anak dan menantu beliau bisa dikatakan cukup dekat. Mereka adalah pasangan soleh dan solehah yang membantu saya terhubung dengan komunitas muslim Indonesia di awal-awal kedatangan saya di Amerika. Sehingga, mendengar berita duka tersebut cukup membuat saya berduka dan terlarut dalam perjalanan batin yang mengantarkan saya pada sebuah momen zikrul maut.

Kali pertamanya untuk saya dan suami dan juga anak-anak menyaksikan prosesi pemakaman disini. Meskipun tak berkesempatan untuk memandikan jenazah hingga mengkafani, mengikuti prosesi menyhalatkan dan mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya sungguh memberikan sentakan besar buat saya akan sebuah kematian.

Baca juga: Spion Kematian

Padahal pengalaman mengantarkan jenazah ini bukanlah pengalaman pertama bagi saya. Tapi memang pengalaman kemaren merupakan pengalaman pertama saya menyaksikan langsung jenazah diposisikan di liang lahatnya. Dan saya merasakan 'ketakutan' yang luar biasa ketika melihat langsung tubuh yang sudah tak berdaya itu diletakkan di atas tanah, tempat peristirahatan terakhir setiap manusia. Rasa-rasanya saya belum siap. Rasa-rasanya iman saya masih terlalu cetek untuk membayangkan posisi jenazah itu adalah diri saya.

Zikrul maut dengan ta'ziah memang salah satu cara ampuh untuk mengingatkan kita akan hakikat kehidupan di dunia, yaitu untuk mendapat kehidupan akhirat yang layak. Saya yakin setiap manusia yang beriman pasti sangat menginginkan kehidupan bahagia di kehidupan berikutnya. Siapa yang mau mendapat siksa kubur apalagi siksa di hari pembalasan kelak 😣😣😣.

Dan alhamdulillah, di bulan maghfiroh ini, saya diberikan kesempatan olehNya sekedar mentafakuri diri melalui sebuah peristiwa pasti yang akan menjemputi setiap anak cucu Adam. Katakanlah sebuah refleksi diri dari saya yang jangankan memikirkan kematian, memikirkan sebuah perpisahan saja rasa-rasanya jiwa saya langsung lemah πŸ˜”

Semoga apa yang saya tafakuri bisa mengantarkan saya pada sebuah semangat membekali diri menjadi insan yang lebih bertaqwa ... aamiin ...

Baca juga: Berkat Rahmat

Hmmm, agar tulisan ini tak sekedar curhatan dan refleksi diri, saya coba berbagi soalan penyelenggaraan jenazah kemaren ya. Sumbernya hanya dari pengalaman dan pengamatan saja plus tanya-tanya spontan ke salah seorang tetua disini. Soalnya saya agak sungkan kalo harus kroscek ke teman yang berduka tersebut perihal prosedur pengurusan jenazah yang kemaren beliau jalani. Jadi maaf ya kalo ada yang kurang tepat 😊

Bagaimana Proses Penyelenggaraan Jenazah Muslim di Amerika?

Mungkin ada yang bertanya-tanya dan penasaran perihal teknis penyelenggaraan jenazah disini. Saya coba berbagi sedikit pengalaman saya di hari kedua Ramadan kemaren. Semoga ada manfaatnya.

Pada dasarnya tahapan-tahapannya tentunya sama, karena memang sudah ada standar berdasarkan syari'at. Mulai dari memandikan-mengkafani-menyhalatkan-menguburkan. Perbedaannya hanya terletak pada prosedur penyelenggaraan jenazah yang melibatkan pihak ketiga, yaitu pihak rumah pemakaman (funeral home).

Di Amerika, ketika ada yang meninggal, pengurusan jenazah dilakukan di sebuah rumah pemakaman (funeral home). Kenapa? Karena memang demikian ketentuan dari pemerintahnya. Nah karena di Columbus belum memiliki funeral home khusus muslim, maka kemaren itu pengurusan jenazah dibantu oleh teman-teman dari Islamic Center setempat. Jadi pihak funeral home hanya menyediakan tempat untuk memandikan dan mengkafani jenazah dan juga mobil untuk mengangkut jenazah.

Jadi, setelah jenazah selesai 'didandani' sesuai agama (Islam tentunya dimandikam dan dikafani), jenazah dibawa ke lokasi yang diinginkan keluarga. Karena Muslim, sehingga proses setelah jenazah dikafani adalah dishalatkan. Proses untuk menyhalatkan jenazah dilakukan di masjid terdekat seperti halnya di Indonesia.

Setelah dishalatkan di masjid setelah usai waktu shalat wajib, jenazah pun dibawa ke lokasi pemakaman. Di pemakaman, sudah menunggu petugas yang bertanggung jawab atas pengadaan kuburan. Lubang kuburan pun sudah digali. Hal yang berbeda yang saya temukan, disini tidak dibuatkan liang lahat khusus, jenazah hanya dimiringkan ke arah kiblat dan kemudian ditutup oleh kayu seperti tripleks yang berbentuk kotak persegi panjang (lebih seperti peti). Sedangkan di Indonesia kita menggunakan papan kecil untuk menyangga tubuh jenazah di liang lahatnya dan menghalangi tanah menimpa langsung tubuh jenazah.

Oh ya, untuk penggalian kubur, disini tidak menggunakan tenaga manusia. Penggalian tanah dilakukan menggunakan traktor mini berhubung tanah disini sangat keras tidak seperti di Indonesia. Selain itu memang tenaga manusia sangat mahal dan SDM yang mau bekerja kasar memang terbatas. Berbeda sekali dengan Indonesia yang memiliki SDM pekerja kasar yang sangat banyak 😊.

Selanjutnya, setelah kuburan ditimbun kembali, ada prosesi berdoa untuk jenazah. Yang hadir di pemakaman hanya keluarga inti saja, anak mantu dan cucu almarhumah. Tapi, berhubung anak menantu almarhumah aktif di komunitas Indonesia, jadi cukup banyak teman-teman Indonesia yang datang untuk mensupport pengurusan jenazah. Termasuk menjadi volunteer memandikan dan mengkafani. Meskipun pada akhirnya beberapa orang teman yang sudah datang ke funeral home harus berikhlas hati tidak berkesempatan memandikan dan mengkafani karena jumlah orang yang dibatasi pihak pengurus funeral home, yaitu hanya 5 orang saja.

Demikian sedikit pengalaman saya dan secuil refleksi diri tentang sebuah kematian. Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Dan mohon maaf saya tidak menyertakan foto-foto karena sungkan juga kalo harus jeprat jepret disaat orang lain berduka.

Columbus, 29 Mei 2018

Hyperthyroid dan Low Potassium Saat Hamil?

Selasa, 15 Mei 2018
Kehamilan merupakan momen bahagia yang ditunggu-tunggu pasangan suami istri, terutama pasangan yang baru saja menikah. Namun, siapa sangka momen bahagia ini menyimpan berjuta tantangan yang tidak pernah dibayangkan sama sekali oleh para calon ibu atau pun ayah. Yang terbersit hanyalah bahagia tatkala momen garis dua itu menghiasi hari-hari setelah masa penantian.

picture from pexels

Tantangan dalam kehamilan memang akan berbeda di setiap wanita hamil. Nyaris setiap wanita hamil memiliki kisah yang berbeda bahkan kehamilan anak pertama dengan anak berikutnya pun akan memiliki kisah tersendiri dengan tantangannya masing-masing.

Baca juga: Gimana Rasanya Hamil

Sebut saja saya, saya bukanlah Mawar πŸ˜…. Di kehamilan kedua ini, saya menderita Hyperthyroid dan Low Potasium yang mengharuskan saya mendapatkan tindakan medis secara intens selama tiga hari berturut-turut di rumah sakit dan masih dibawah kontrol dokter hingga saat ini.

Sebagai orang awam yang tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang 2 jenis diagnosa ini (saya kurang tau istilah yang tepat untuk menamai 2 hal ini. Penyakitkah?), saya tidak memiliki kekhawatiran apapun selain khawatir saya akan merepotkan suami dan anak-anak.

Sebelum rawat inap diputuskan, seminggu sebelumnya saya sudah sempat melewati pemeriksaan di Emergency Department (ED). Bukan karena saya kondisinya kritis, bukan. Saya ke Emergency Department karena memang satu-satunya cara untuk bisa bertemu dokter tanpa appointment ya dengan cara ini. Karena memang prosedur berobat ke dokter disini cukup berbeda jika dibandingkan di negara kita. Di Indonesia kita bisa dengan bebas datang memeriksakan diri ke dokter praktek, baik ke klinik 24 jam atau langsung ke rumah dokter yang buka praktek sendiri.

Saat kunjungan pertama ke ED ini, saya memang hanya menderita hyperemesis gravidarum yang menyebabkan tubuh saya mengalami dehidrasi ringan. Hanya 1 labu cairan infus saja yang saya butuhkan saat itu. Setelah diresepkan multivitamin kehamilan, saya pun diperbolehkan pulang.

Keesokan hari setelah dari ED ini, kondisi saya tidak mengalami perubahan yang berarti. Hyperemesis makin menjadi-jadi setiap harinya. Hingga 10 hari dari ED yang pertama, akhirnya suami saya memutuskan membawa saya kembali ke ED. Kenapa? Karena kondisi saya yang semakin hari semakin memburuk meskipun sudah memaksakan diri untuk makan dan minum dan sempat jatuh pingsan sekali dengan badan yang gemetaran.

Baca juga: Berencana Hamil Kedua?

Tadinya saya mau mencoba bertahan sekuat tenaga (berasa lirik lagu yaks πŸ˜…πŸ˜‚) menunggu appoitment dengan OB/GYN yang hanya tinggal 3 hari saja. Tapi memang tak bisa dibohongi, selain rasa haus yang luar biasa, tubuh saya memang terasa sangat lemah hanya sekedar untuk ke kamar mandi. Jadilah kami siang hari itu menuju ED untuk yang kedua kalinya.

Memilih memeriksakan diri ke ED artinya bersiap menunggu berjam-jam lamanya. Rangkaian pemeriksaan hanya sekitar 3 jam, sedangkan waktu menunggu dari satu ruang pemeriksaan ke ruang pemeriksaan lain bisa mencapai 5-7 jam. Tergantung jumlah pasien dan tenaga medis yang bertugas saat itu.

Nah, disinilah cerita bermula. Setelah menunggu 5 jam, barulah saya dipanggil untuk menjalani pemeriksaan di emergency room. Saya pikir saya hanya akan diperiksa dengan stetoskop lalu ditanya-tanya gejala-gejala yang saya rasakan. Ternyata, pemeriksaan bukan sekedar menggunakan stetoskop saja. Namun lebih dari apa yang saya bayangkan.

Setelah mengganti atasan dengan atasan khusus pasien rumah sakit (saat ED yang pertama saya tidak diminta menggunakan pakaian pasien), nurse yang bertugas menempelkan lebih kurang 20 sticker di sekujur badan bagian atas saya, di perut, dada atas, bahu, dan dada kiri dibawah payudara. Disinilah saya merasa sepertinya ada yang salah dengan sistem tubuh saya. Masalahnya kok ya sebegini amat diperiksanya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Tapi segera saya tepis pemikiran itu. Saya beranggapan pihak rumah sakit hanya berlebihan saja.

Singkat cerita, saya mengalami Hyperthyroid dan kadar potasium yang sangat rendah plus hypersaliva. Penyebabnya?

HYPERTHYROID & HYPERSALIVA
Berdasarkan dari penjelasan dokter saat saya dirawat, produksi tiroid saya menunjukkan angka yang tidak normal, yaitu di atas angka yang seharusnya. Tadinya saya berfikir mungkin inilah yang menyebabkan saya hypersaliva (liur berlebih). Namun setelah konfirmasi ke dokter bukan inilah penyebabnya.

Hyperthyroid sendiri terjadi karena tubuh saya membaca hormon yang dihasilkan janin (hormon HCG) di dalam tubuh saya sebagai benda asing yang membahayakan. Sehingga autoimun bereaksi bekerja untuk 'melawan' benda asing ini, dalam hal ini kelenjer tiroid lah yang reaktif. Sehingga dia memproduksi hormon tiroid lebih banyak dari yang seharusnya.

Saat itu dokter mengatakan bahwa hormon HCG dan hormon tiroid saya berjumlah imbang dengan perbandingan 50:50. Mereka 'balap-balapan' dalam memproduksi hormon. Dan inilah yang dicurigai sebagai penyebab saya mengalami mual dan muntah hebat karena 2 hormon ini memicu peningkatan asam lambung. Begitu yang saya tangkap πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Lalu kenapa produksi liur saya juga banyak? Dokter menduga karena reaksi dari asam lambung yang merangsang liur diproduksi lebih banyak terutama setelah saya muntah. Dan memang tampaknya demikian. Karena setelah mual muntah berkurang, liur pun kembali normal kecuali disaat saya mengalami muntah lagi. (dan alhamdulillah sudah 1 bulan saya bisa beraktivitas normal meski tetap harus membatasi diri agar tidak terlalu kecapean ... aduuuuuuuuh ... berasa gimanaaaaaa gitu. πŸ˜‚)

Singkat cerita yang memang udah panjang ini, untuk menormalkan produksi hormon tiroid ini, saya harus menjalani cek darah rutin dan bedrest yang tentunya ditemani obat-obatan πŸ˜†.

LOW POTASIUM
Jujur, ketika dokter bilang potasium saya rendah, saya ga ngerti potasium itu apa hahaha. Saya cuma tau magnesium wkwkwk. Jadilah saat itu saya dan suami googling donk. Dan okeh, ngerti. Kemudian baru saya nyambung dengan apa yang dokter jelaskan.

Kenapa potasium saya rendah? Ya karena hyperemesis. Mual dan muntah parah menyebabkan tubuh menyerap sedikit sekali zat-zat penting. Karena memang belum sedetik saya makan atau minum, langsung keluar seketika itu juga. Alih-alih menyerap zat penting, yang ada zat yang tadinya sudah ada di dalam tubuh ikutan keluar bersama cairan lambung.

Sehingga, untuk meningkatkan jumlah potasium ke kadar normal, cairan potasium pun di suplai melewati cairan infus. Dan, rasanya ga enak 😒. Tangan kerasa terbakar terutama kalo cairan infus sudah habis. Ya Allah ... baru kerasa nikmat nya sehat 😒😒😒

HYPERTHYROID & LOW POTASIUM SAAT HAMIL
Lalu apakah 2 gejala ini berefek buruk terhadap janin?

Jujur lagi, dokter sama sekali tidak menginfokan tentang hal ini. Dokter hanya menjelaskan bahwa kondisi seperti ini bukanlah kondisi yang baik. Jangankan untuk ibu hamil, buat yang tidak hamil pun kondisi seperti ini harus segera ditangani. Dan orang awam seperti saya ya ngangguk-ngangguk saja. Saya benar-benar lempeng. Yang terpikir saat itu hanyalah bagaimana caranya sepulang dari rumah sakit pola makan dan pola tidur kembali normal biar saya bugar dan bisa kembali menjalankan peran sebagai istri dan juga ibu.

Kenapa? Karena memang saya sempat beralih menjadi pecinta minuman soda selama 1 minggu sebelum akhirnya masuk ED yang pertama. Setelah keluar dari ED yang pertama, saya beralih ke sirop marjan (satu-satunya sirop Indonesia yang bisa ditemukan disiniπŸ˜†) untuk sekedar memenuhi kebutuhan minum saya yang saat meminum air putih (dingin, anget ataupun biasa)  selalu ditolak tubuh. Dan tentunya saya sadar hal ini tidaklah baik, baik untuk tubuh saya ataupun bagi janin.

Alhamdulillah, setelah menjalani perawatan intens selama 3 hari di rumah sakit, hingga saat saya menuliskan blog ini saya sudah kembali ke kehidupan normal. Normal ala ibu hamil. Yang masih suka kehilangan nafsu makan tapi lapar. Yang masih merasa mual dengan muntah dalam jumlah yang wajar. Dan mudah kelelahan tapi tetap bisa beraktivitas sekedar menemani anak-anak bermain atau bercengkrama dengan keluarga dan tetangga. Dan yang terpenting, saya kembali bisa ngeblog meski masih belum rutin 😍😍😍 #pentingini, buat me time 😁

Demikianlah secuil pengalaman saya yang entahlah berfaedah atau tidak. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa mengabadikan pengalaman ini dalam blog tercinta ini. Meski tidak detail, paling tidak bisa mengikat memori dalam menjalani proses kehamilan kedua ini.

Terimakasih buat teman-teman dan terutama keluarga yang selalu setia mendoakan. Terlebih buat suami dan anak-anak saya tercinta yang dengan sabar merawat saya dengan penuh perhatian dan pengertian.

Rasa-rasanya ingin memuji-muji mereka dalam tulisan ini ... terutama anak-anak yang diumur mereka yang belum 5 tahun ini sangat mengerti bahwa Umi mereka dalam kondisi yang tidak baik.

Ada hal lucu tatkala saya hanya bertiga dengan anak-anak dan salah satu diantara mereka kebelet pup. Dengan wajah memelas dia bilang ke saya:

"Umi, Abang mau ee. Be strong pliiiiis. Buat ombehin Abang..." πŸ˜…πŸ˜‚

ombehin alias cebokin. Karena mereka tau saya suka mual kalo masuk kamar mandi.

Yah begitulah ... kalo dilanjut bisa panjang πŸ˜‚

Columbus, 12 Mei 2018

Kembali ...

Jumat, 11 Mei 2018
Suasana rumah kembali tenang, setelah melewati ketidaknyamanan malam dan kehampaan menelan makanan. Ya, akhirnya Allah mengizinkan kami sekeluarga kembali mereguk nikmatnya hari 'tanpa kepayahan'. Ya, akhirnya Allah memberikan kesempatan bagi kami melewati badai yang kemaren terasa tak akan usai.


Menemui kesusahan dalam kehidupan artinya mendapati perhatian dari sang Kuasa. Ya! Kita tengah diberi perhatian. Tapi, kerap kali dalam menghadapinya, kesah seringkali tak tersampaikan padaNya, melainkan pada makhlukNya. Entah kenapa makhluk lebih kita pilih ketimbang Dia. Dan sampai akhirnya kesadaran yang terlambat pun masih dinantiNya dalam kesah kita yang gelisah.

Ini! Kukirimkan seteguk air kemudahan untukmu wahai hambaKu. Minumlah ... dan kembalilah membawa gairah perjuanganmu!

Begitulah mungkin sang Kuasa dengan keMaha PenyayanganNya merangkul kami, para hamba.

Saya makhluk yang payah mencerna pesan alam. Untungnya masih diberi kesempatan mengetuk pikiran. Berharap diri ini tak lagi gentar dalam menghadapi ujian. Karena hakikatnya, dunia memanglah perpindahan dari ujian satu menuju ujian kesekian.

Hingga detik ini saya memang belum bisa memberikan gambaran betapa suramnya minggu-minggu awal kehamilan. Malu rasanya jika mengingat masa kelam itu. Sebegitu rapuhnya ternyata diri ini. Sebegitu lemahnya iman yang tertancap dihati πŸ˜”

Dan saat ini, lanjutan goresan kisah saya coba goreskan kembali. Bukan untuk berbagi cerita yang lalu, tapi ingin berbagi cerita yang sekarang. Karena yang lalu terasa begitu memilukan dan memalukan. Sedangkan yang sekarang, terasa lebih benderang ... Alhamdulillah ...

Memang, nikmat tak selamanya bisa dinikmati. Tanpa keberkahan dariNya, nikmat bisa berubah menjadi laknat 😒. Seperti halnya nikmat kehamilan yang diamanahkanNya untuk saya sekeluarga.

Tadinya, kami, terutama saya pribadi, berfikir bahwa kehamilan semata-mata adalah nikmat. Dan tentunya layaknya sebuah nikmat, pasti akan disambut dengan suka cita penuh bahagia tanpa berfikir sedikitpun tentang hal buruk akannya. Namun Allah memiliki cara yang berbeda dalam menyampaikannya. Bahasa Sang Maha Karya ini sungguh luar biasa, hingga akhirnya kami, saya, tersadar bahwa nikmat tak melulu soalan yang menyenangkan pun membahagiakan.

Dari kesulitan dan kepayahan kehamilan inilah kemudian saya menjadi tersadar dan kembali digiring dalam nilai hidup yang pernah dipunya di masa lalu. Dimana Allah akan terus membersamai hambaNya yang terus meminta dalam papa. Tak peduli status sosialnya, tak peduli jabatannya, rupanya ataupun masa lalunya. Kepapaan dalam keimanan yang melemah dan meminta pengayomanlah hingga akhirnya rangkulan cintaNya menenangkan jiwa melapangkan dada.

Manusia itu tempatnya lupa. Dan dengan cara inilah Allah kembali atau kami sebagai hamba yang baru tersadar bahwa apa yang ada di dunia ini hanyalah fana. Termasuk keturunan. Jika bukan untuk menabung pahala, rasa-rasanya keturunan bukanlah cara yang tepat dalam menempuh bahagia. Namun jalan fitrah dariNya, itulah letak bahagia jika memang kita mengikuti petunjukNya, bukan nafsu belaka. Ya begitulah jalan Tuhan, yang tak pernah mau membiarkan hambaNya tersesat dalam laknat.

Sering saya tak sadar, bahwa kebanggaan akan keturunan yang banyak pun memiliki ujian yang berbanding lurus. Tak lantas kemudian kita bebas meneriakkan kebanggaan padahal keturunan dalam kehancuran zaman. Na'udzubillah ...

Ya, sampailah saya pada sebuah sikap dimana hidup bukanlah siapa yang lebih dari siapa, siapa yang lebih dari apa. Karena hakikatnya, timbangan penentu ke surga itu nanti ketetapannya. Bukan oleh kita ataupun dia. Tapi olehNya. Semoga kita selalu menempuh jalan taqwa agar bisa bertemu di surga. Aamiin ...

Columbus, 11 Mei 2018

Baca juga: Negri 1000 Mimpi

Amerika Negeri 1000 Mimpi

Seperti yang pernah saya tuliskan dalam tulisan saya sebelumnya. Amerika membuat kami (saya, suami dan beberapa teman) disini seperti berada di dunia mimpi dan dikelilingi fatamorgana. Dan tampaknya hal ini juga dirasakan oleh teman-teman lain yang merantau ke negara-negara maju lain seperti di Eropa atau mungkin Jepang.

joinnow:[https://cloud.securew2.com/public/98908/osuwireless/android/SecureW2.cloudconfig]

Entah karena kemajuan teknologinya, ketertiban peradabannya atau karena keramahan penduduknya membuat kami para perantau di benuanya negara-negara maju seolah sedang berada di negeri dongeng, negeri mimpi yang penuh fatamorgana.

Tidak hanya itu, suplai dana yang bukan berasal dari kantong sendiri tampaknya juga cukup membuat kami 'terbuai' makin dalam di negeri mimpi ini. Hidup seolah tak nyata karena biaya selalu tersedia. Tidak seperti di Indonesia, dimana kami perlu bekerja sekuat tenaga demi biaya hidup sekeluarga.

Ada perbedaan yang pada hakikatnya adalah kesamaan. Katakanlah biaya beasiswa yang hakikatnya adalah gaji. Terlihat berbeda tapi pada dasarnya sama. Sama-sama biaya untuk menghargai jerih payah kita dalam mengabdi untuk negara. Perbedaannya mungkin terletak pada jenis jasanya. Dimana memang tingginya pendidikan bisa mempengaruhi tingginya 'penghargaan' yang diberikan pada seseorang.

Meskipuuuuun ... ketika para 'buruh ilmu' ini kembali  mengabdi dan kemudian  menjadi pegawai dan sejenisnya, nilai penghargaan yang didapat belum tentu akan sebanyak ketika mereka sedang menempuh studi. Dan plis jangan tanya  ke saya kenapa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Jujur, saya dan juga suami menilai untuk bagian pembiayaan beasiswa yang diberikan negara melalui LPDP sebenarnya tidak bisa juga dikatakan lebih. Apalagi bagi kami yang belum memiliki gaji tetap di tanah air (belum memiliki homebase) sendiri. Jika tidak berfikir kedepan, ya bisa-bisa saja kami 'berfoya', tapi siap-siap, pulang kampung tanpa membawa tabungan.

Jadi jika fatamorgana yang saya sebutkan terkait soal funding beasiswa, jawaban saya tergantung kondisi penerima beasiswa itu sendiri. Untuk kami sekeluarga, beasiswa bukanlah fatamorgana. Beasiswa tak memberi begitu banyak harapan untuk kemudian menggunakannya agar bisa melancong keliling Amerika. Nei nei nei big nei πŸ˜‚

Lalu fatamorgana apa yang sebenarnya membuat saya mengkhawatirkan adaptasi diri terhadap kehidupan disini yang ketika dibawa ke Indonesia bisa jadi bikin saya culture shock? Hmmmm Apa ya? πŸ˜†

Pemikiran akan fatamorgana yang sifatnya melenakan ini muncul setelah saya membaca sebuah treat di akun Instagramnya Jouska yang berkisah tentang si Broodie selebgram. Pada tau ga kisahnya? Eh tapi saya ga akan mengulas apa yang Jouska ulas ya hehehe. Saya hanya kepikiran soal standar keterjangkauan.

STANDAR KETERJANGKAUAN
Maksudnya apa?

Di Amerika, perbandingan keterjangkauan terhadap suatu barang (daya beli) meningkat dibanding ketika di Indonesia. Dan pun ketika standar keterjangkauan ini saya bawa ke Indonesia namtinya, saya hanya akan khawatir kalo-kalo saya berubah menjadi borjuis dan konsumtif ... Astaghfirullah ...

Kok bisa?
Belanja produk-produk branded disini bisa didapatkan dengan harga yang sangat terjangkau. Meski ketika di konversi ke rupiah masih sangat mahal untuk sekedar membeli sepatu atau baju. Lha wong di Indonesia saya paling mahal beli  sepatu seharga 150 ribu. Sedangkan disini beli sepatu 30 dolaran alias 400 ribu terasa murah, nah lho? Ribet kan? πŸ˜…

Ribet kalo standar belanjanya kebawa-kebawa sampe kampung halaman.  Padahal saya bukan tipe pembeli barang-barang branded. Tapi karena disini 'terjangkau', siapa yang ga mau melewatkan kesempatan langka ini.

Contoh lain misalkan produk skincare πŸ™ˆ. Membeli satu jenis produk skincare harga $20-an untuk dipakai selama 6 bulan lebih kurang terasa sangat terjangkau. Coba dikonversi ke rupiah, 300 ribuan untuk sebuah skincare bagi saya adalah pemborosan meskipun produk tersebut bisa dipakai dalam jangka waktu yang cukup panjang. Kenapa? Karena harga segitu baru untuk satu jenis produk. Belum produk lainnya yang bisa-bisa untuk 1 step standar skincare saja bisa menghabiskan kocek satu juta lebih sekali belanja. NOoooooo!!! (Sehingga untuk skincare saya pun agak sedikit menutup mata dalam meng'upgrade' kebutuhan kulit. Pake yang terjangkau aja deh πŸ˜‚)

"Hidup dalam fatamorgana". Dimana bukan standar kemewahan yang meningkat, tapi standar keterjangkauan yang bertambah. Kenapa? Karena daya beli terhadap sebuah benda yang jika di konversi ke rupiah dijamin tidak akan pernah kami untuk membelinya. Makanya, bagi saya Amerika adalah negri 1000 mimpi. Bukan sekedar mimpi dalam mencapai cita, namun mimpi dalam menatap benda #aliasbelanja πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi, fatamorgana hidup di Amerika sesungguhnya tidak hanya sebatas hitung-hitungan uang. Banyak hal sehingga mungkin hal ini tidak akan pernah atau belum tentu kami dapatkan ketika hidup di Indonesia nanti.

Nah berikut ini, fakta dari sebuah fatamorgana hidup khusus wilayah Columbus, negara bagian Ohio yang tampaknya akan membuat saya rindu untuk kembali ke negri 1000 mimpi ini.

TERTIB LALU LINTAS
Kota Columbus meskipun menurut pandangan beberapa orang teman tidaklah demikian, tapi menurut saya termasuk surganya pengendara. Surga dalam artian, kendaraan lalu lalangnya bikin adem. Selain jumlah kendaraan yang tidak banyak, pengguna jalan rayanya juga tertib. Mulai dari pejalan kaki, pesepeda, pengendara motor sampai pengendara mobil. Sampai-sampai, kalo kita melakukan sebuah pelanggaran lalu lintas kok ya kayanya bakal maluuuuuuu banget. Plus dendanya ga kuat brooooo πŸ˜….

ini jalanan Columbus .... Sepi πŸ˜…

Dan perihal tertib lalu lintas ini memang berbeda-beda di setiap kota dan negara bagian Amerika ya. Makanya saya hanya mengulas kota kecil Columbus aja. Hehehe.

ALAM HIJAUNYA YANG MENAWAN

http://www.merisaputri.com/?m=1
Kesan pertama saya ketika mendarat di Columbus, "Wow, hijau bangeeeeet". Saking masih banyaknya wilayah hijau di kota ini. Dan saya suka!!! Tidak perlu repot memikirkan destinasi wisata alam layaknya orang perkotaan yang jenuh dengan hiruk pikuk kota dan butuh melipir ke desa. Disini, hanya dengan berjalan kaki sedikit, saya sudah bisa memperoleh ketenangan desa. Bahkan, halaman belakang rumah pun sudah sangat menenangkan dan menentramkan (kecuali jika halaman di serbu rombongan angsa yang migrasi, pup nya dimana-manaπŸ˜‚).

Nah, keelokan alamnya ini cukup membantu saya juga dalam memuaskan jiwa turis saya hahaha.

http://www.merisaputri.com/?m=1
backyard apartment

Mau foto-foto ala winter dengan latar belakang pohon cemara? Atau foto di warna warni dedaunan musim gugur? Bisa bangeeeeeet. Mau menikmati gemercik aliran air sungai??? Cherry blossom??? Tulip? Semua adaaaaaa masya Allah ... Begitulah pesona kota Columbus yang bukanlah kota destinasi wisata ini πŸ˜‚. Meskipun semua pesona alam yang dimiliki kota ini hanya secuil jika dibandingkan dengan kota-kota wisata, tapi bagi saya pesona hijaunya sudah sangat lebih dari cukup bakal bikin rindu karena hijaunya mengalahi hijaunya kota Payakumbuh πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

RAMAH STROLLER
Sesedikit pengalaman saya jalan-jalan di kota Columbus, bangunan-bangunan yang saya kunjungi baik di lingkungan kampus maupun luar kampus nyaris semua ramah stroller. Sebenernya sih ramah untuk temen-temen difable (disini lebih menggunakan kata difable ketimbang disable karena dianggap lebih berkonotasi positif), mulai dari tombol pintu otomatis hingga pengadaan ruangan khusus untuk akses ke ruangan yang lebih tinggi (bukan beda lantai juga sih), sejenis mini lift gitu. Sehingga memudahkan saya yang awal-awal tinggal disini anak-anak masih sangat kecil untuk diajak berjalan kaki cukup jauh.

NO DESKRIMINASI
Alhamdulillah selama beraktivitas di Columbus, saya belum menemukan perlakuan yang deskriminatif. Apakah karena faktor penampilan atau karena status ekonomi. Contohnya saja saat saya dirawat di rumah sakit sebulan yang lalu. Jumlah beasiswa dari LPDP termasuk ke dalam kelas ekonomi rendah wkwkwkwk, tapi dalam pelayanan dan perlakuan, saya merasa jadi orang gedongan karena menikmati fasilitas rumah sakit layaknya fasilitas orang kaya kalo Indonesia πŸ˜†πŸ˜….

Ruangan ber AC (disini kayanya AC bukan barang mewah deh πŸ˜…), tempat tidur ramah pasien yang dilengkapi tombol 'help' itu lhooo yang pake remote #norakye. Alat medis lengkap dan movable. Kamar mandi pasien plus wastafel dengan standar kelas VIP (kalo kata saya mah di Indonesia hehehehe). Belum lagi pelayanan yang penuh selama 24 jam dengan nurse dan PCA (Patient Care Association) yang sangat ramah dan perhatian. Kebutuhan makanan dilayani layaknya di hotel-hotel dengan pegawai restoran khusus kumplit dengan buku menunya.

http://www.merisaputri.com/?m=1

Dan perlakuan tanpa deskriminasi inilah yang membuat saya sebagai minoritas merasa nyaman. Sehingga cukup membuat saya jadi refleksi karena kalo di Indonesia saya akan kembali menjadi mayoritas. Ya sebenernya mayoritas minoritas, dua-duanya ada aja sih yang suka zolim #nooffense πŸ˜†

HARGA MOBIL
Kendaraan roda 4 kami sekeluarga pertama kali ya belinya disini, di Amerika. Hebat ya, mahasiswa bisa beli mobil πŸ˜…

Inilah dia Amerika. Harga mobil sangat-sangatlah terjangkau. Dengan living allowance $1500 + $1500 family allowance, membeli mobil seharga $2500 (lebih kurang 40 juta) wajarkan? 😁. Jika saving perbulan bisa dilakukan sebesar $500, artinya 1 semester sudah lebih dari cukup untuk mampu membeli mobil minivan keluaran tahun 2003 πŸ˜„πŸ˜….

Ekspresi pertama punya mobil sendiri
Norak ada tipinya πŸ˜‚πŸ˜…

Coba dibawa ke hitung-hitungan gaji di Indonesia. Untuk kelas gaji 10 juta saja, jika bisa saving 5 juta/bulan, beli mobil jenis yang sama, Toyota 2003 cing berapa harganya? Hitung sendiri aja ya hehehe.

Memang, mobil disini bukanlah barang mewah. Sehingga harga mobil di Amerika memang murah-murah jika dibandingkan di Indonesia. Jika saya di Indonesia bawa duit sebesar 40 juta untuk beli mobil, mungkin paling banter hanya dapat suzuki Espass (bener ga sih)

Ya intinya mah, rasa-rasa pengen paketin mobil dari sini wkwkwkwkwk. Andai bisa ya mobilnya diselundupkan ✌πŸ˜…

Segitu dulu ya tulisan tentang negri 1000 mimpinya. Harusnya masih banyak lagi poinnya, tapi saya lupa dan saat mgedraft ga diketik dulu poin-poinnya. Jadilah pas draft dilanjut poin-poin fatamorgananya jadi lupa.

Makasi yang udah bacaaaa πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

Columbus, 11 Mei 2018
draft bulan April 2018

Hi Blog!

Minggu, 15 April 2018
Hi blog! Tepat banget hari ini tanggal 14 April, tepat 1 bulan kamu ga dijejaki tulisan. Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu saya sudah membuat beberapa draft tulisan, tapi sayang, moodnya belum dapet. Kemudian saya putuskan membuat tulisan ini sebagai pembuka mood. Mudah-mudahan aja bener-bener kebuka moodnya πŸ˜….

Hi blog! Mau menulis apa kita? πŸ˜… Rasa pening dikepala ini memang sedikit mengganggu produktifitas. Jika 4 minggu lalu yang mengganggu adalah mual muntah yang tak kunjung berhenti, seminggu kebelakang pening dan pusing karena efek obatlah faktor penghambatnya. Lalu mau menulis apa kita blog?!

Hi blog! Banyak kisah yang hendak dibagi, mulai dari pengalaman menggunakan fasilitas kesehatan di kota kecil Columbus ini hingga pengalaman menderita Hyperemesis Gravidarum. Namun sayang, aliran tulisan agak menghilang sehingga saya merasa kehilangan jati diri dalam menulis πŸ˜†

Hi blog! Saya berharap tulisan yang diketik saat ini publish ya. Tak peduli ada yang baca atau tidak, menarik atau tidak, yang saya peduli hanyalah produktifitas! Tak peduli kondisi fisik lemah sekalipun, sesekali saya pun ingin menjadi pejuang😎. Ya ... meskipun pejuang ala ala ... Saya hanya tidak ingin setelah masa ini berlalu kemudian jadi penyesalan ...

"kenapa ga kamu paksa dirimu menulis?!",
atau
"kenapa ga kamu paksa dirimu berkarya?!".

Ala ala drama sinetron.πŸ˜†

Duh blog! Ini tulisan apa sihπŸ˜‚ ... GJ amat. Berasa lagi nulis diary jaman remajahπŸ˜….

Ya beginilah pemirsa, sebulan ga nulis jadi tumpul lagi otaknya. Kudu banyak-banyak baca at least blog walking. Semoga kondisi dibawah pengaruh obat ini segera berakhir dan ku kembali normal ... aamiin.

Mohon doanya mentemen 😊😊😊

Columbus, 14 April 2018