MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Setiap Kali Kematian Itu Datang

Jumat, 21 Februari 2020
Semua kita tentu tahu, bahwa kematian tak dapat ditolak kehadirannya. Bahkan tak bisa direschedule kedatangannya. Namun entah mengapa, setiap kali berita kematian itu terdengar, telinga seolah hanya menggelegar sebentar. Biasa! Setiap yang bernyawa pasti kan menemukan kapan masanya berpisah raga dengan jiwa. Begitulah.

Pertanyaannya, apakah kita benar sudah siap menjemput masa itu? Kematian seperti apa yang telah kita minta kepadaNya? Amalan apa yang bisa kita bawa? Berapa kalikah taubatan nasuha sudah kita lakukan? Kebiasaan baik apa yang sudah kita tanam sehingga bisa menyisakan kebaikan demi kebaikan?

Benarlah apa yang pernah dinasehatkan seorang guru kepada saya, bahwa semakin lama hidup di dunia, semakin beratlah godaan untuk tertawan hati padanya. Hati semakin cinta dunia, dan kemudian merasa takut akan kematian. Perpisahan dengan orang terkasih karena kematian pun menjadi hal yang tak diinginkan. Sehingga tak jarang, kita lupa untuk mempersiapkan.

Sebentar! Tampaknya kita lupa, bahwa hidup adalah untuk mati. Karena sesungguhnya, kematian itu adalah awalan menjemput kehidupan yang hakiki. Oh ilahi Rabbi ... Bantulah kembali hati ini agar bisa menata cinta pada hari yang dinanti. Dimana kehidupan kekal abadi, penuh kebahagiaan sejati.

Hilangkanlah rasa takut akan bersua dengannya. Kuatkanlah tekad untuk mempersiapkan diri berjumpa dalam amalan terbaik diri ini. Istiqomahkanlah tanpa harus melihat untuk manusia mana kita beramal melainkan untuk tujuan akhirat apa kita beribadah. Tidak! Bukan karena dia melainkan untuk dan karena Dia! Terus! Dan terus demikian hingga masa yang pasti itu datang menyapa. Anugrahkanlah senyuman dan ketenangan, begitupun untuk yang ditinggalkan. Kuat! Kuatkanlah mereka. Dan berikanlah manusia-manusia dunia petunjuk kehidupan indah di akhirat kelak. Agar semangat terus memghambakan diri, tanpa pamrih dan lelah diri.

Rabb! Istirahatkanlah kami dalam keadaan terbaik bersama amalan terbaik kami.





Menemukan Gairah Belajar

Kamis, 20 Februari 2020
Ga afdol rasanya kalo udah lama ga ngeblog langsung bercuap-cuap ke tema tulisan. Jadi kudu harus ada pemberitahuan kenapa ga nulis blog lagi πŸ˜….

Masa Penyesuaian (Lagi dan Lagi)
Setelah 1 bulan lebih menetap di Bandung dengan sedikit kerempongan pindahan yang ga kelar-kelar, akhirnya saya agak bisa bernafas lega karena bisa menepati rumah sendiri yang ga pernah dihuni sejak awal dibeli tahun 2015. Meski perlahan menata rumah mungil ini menjadi rumah yang ramah anak, satu persatu bisa terwujud dan anak-anak mulai bisa ngatur aktivitas karena ga ada lagi alasan nunggu barang kargo datang πŸ˜‚.

Bagi yang baru baca atau ngikutin blog saya, FYI aja, saya sekeluarga itu baru pulang merantau dari benua seberang. Pulangnya sih sejak bulan September 2019 lalu. Tapi baru kumpul lagi kumplit baru bulan Januari ini. Jadi bisa dikatakan dari bulan September saya dan anak-anak-anak terus beradaptasi, mulai dari adaptasi tempat tinggal, aktivitas belajar dan juga bahasa. Maklum, dari bulan September kami ga langsung ke Bandung, tapi diem dulu di Payakumbuh, di rumah orang tua saya.

Baca Juga: Babak Baru Pendidikan Anak

Jadi, lebih kurang 5 bulan ini, anak kembar saya tidak ke sekolah formal lagi. Tapi bukan berarti mereka ga belajar ya hehehe.

Nah, tulisan blog kali ini, atau mungkin tulisan-tulisan saya kedepan bakal lebih banyak mengulas tentang belajarnya Zaid dan Ziad (ZaZi). Karena kedepan kayanya blog ini bakal saya jadiin media dokumentasi belajar ZaZi. Kaya jaman awal-awal ngeblog dulu gitu, yang mana isi blog tentang curhatan saya ketika membesarkan ZaZi πŸ˜….

Jadi mau nulis apa nih? Hmmm, bisa dikatakan ini prolog yang bakal jadi pijakan atau landasan berfikir saya kenapa memilih Homeschooling (HS) untuk si kembar. Yup! Bismillahirrahmanirrahim ... Officially saya pengumuman Zaid dan Ziad fiks HS!

Tapi saya ga akan pengumuman di medsos, karena terlalu ramai dan hectic. Sedangkan di blog, cukup orang-orang yang terdampar nemu tulisan ini aja yang diskusi kan  😁. Dan disclaimer dulu deh, saya masih terus belajar ya. Makanya judul tulisannya juga "Menemukan Gairah Belajar" πŸ˜…πŸ˜. Jadi plis, jangan terlalu menyoroti konten apalagi pasca saya ga ngeblog, saya akui bahasa tulisan saya yang tadinya pas-pas an ini jadi memburuk.

Ga Sekolah Bukan Berarti Ga Belajar
Meminjam judul yang sering dilontarkan praktisi homeschooling dari Rumah Inspirasi, pikiran saya memang menjadi terbuka ketika mendengar kalimat di atas. Karena selama ini mindset saya, ketika anak tidak sekolah, artinya mereka ga ngapa-ngapain alias ga belajar. Padahal???

Padahal kalo mau lebih jeli dan detil sedikit saja, anak-anak itu ternyata pembelajar sejati. Bahkan tanpa kita suruh pun mereka belajar. Sayangnya kita sering ga ngeh. Akhirnya anak-anak pun semakin besar semakin melempem semangat belajarnya.

Saya pun mencoba untuk bertenang diri dan sedikit menambah kesabaran dalam menjalani hari-hari bersama anak-anak. Berharap, saya mampu menangkap pancingan yang sudah anak-anak berikan. Sehingga bisa saya olah menjadi aktivitas belajar yang menyenangkan. Bagaimana hasilnya? Ternyata anak-anak lebih menikmati proses belajar dibandingkan biasanya. Dan mereka justru lebih memiliki keinginan untuk eksplorasi lagi dan lagi. Less drama kalo kata ibu-ibu urban 😁.

Mengubah Mindset
Sebagai pendatang baru di dunia Homeschooling, banyak mindset baru yang harus saya simpan baik-baik agar semangat belajar terus menyala. Salah satu mindset yang saat ini sedang saya doktrin ke diri sendiri adalah "homeschooling bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. Bukan juga menjadikan diri sendiri sebagai guru bagi anak sendiri. Homeschooling adalah sebuah program dari keluarga, untuk keluarga dan oleh keluarga agar saling menyalurkan semangat belajar sepanjang hayat."

Dengan mindset seperti itu, tidak ada alasan bagi saya untuk kemudian merasa 'tidak pantas' menjalankan homeschooling ini. Yang harusnya muncul adalah, harus semakin semangat mengingat banyak sekali pahala dan amalan yang bisa diambil dengan melakukan homeschooling ini. Karena dalam pandangan saya, homeschooling bukan sekedar solusi kegalauan dan kekhawatiran akan sistem pendidikan yang ada, melainkan lebih dari itu. Yaitu untuk menjalankan pendidikan paripurna di dalam keluarga dengan kesadaran bersama dalam memperoleh tujuan dan cita-citanya, sehingga kekhawatiran dan kegalauan bisa berganti menjadi perhatian utuh menyeluruh.

Bersama, Melatih Lebih Peka
Ibaratkan bayi, saya itu masih merah tak berdaya. Masih perlu terus menyesuiakan diri, dan tak jarang terdampak sakit. Salah satu hal yang sebenarnya sudah cukup lama ada namun tak pernah terlalu dirasa keberadaannya yaitu kepekaan. Yang jika selalu bersama, dengan kemauan utuh, bisa semakin diasah sehingga mampu melihat apa yang selama ini tak nampak. Seperti potensi dan keunikan anak.

Selain itu, jika bersama, saya pun akan lebih peka terhadap kelemahan anak. Tak perlu menerka atau meraba-raba lagi seperti jaman mereka sekolah saat di US dulu. Setiap teacher-parents conference, saya hanya bisa menerka dan meraba bagaimana anak-anak saya selama di sekolah berdasarkan laporan dari guru saat itu.

Tipikal anak-anak, mereka tergolong anak pertengahan. Tidak terlalu menonjol dalam hal akademis, pun tidak menonjol dalam hal lain yang kurang baik. Jadi bisa dikatakan mereka kalo di sekolah ga ada hal yang perlu dikhawatirkan. Namun justru hal ini membuat saya merasa terhalang untuk menemukan potensi anak-anak yang terlihat kecil. Sehingga, dengan selalu bersama menjelang mereka baligh, saya berharap bisa membantu mereka menemukan jati diri dengan melihat potensi meski potensi itu terkesan kecil dan tidak menarik.

Belajar lagi, Belajar Terus
Dengan sedikit tulisan pemikiran saya yang kurang terstruktur ditambah bumbu ngantuk, saya berharap kedepan bisa terus belajar bersama anak-anak dengan rasa saling. Sehingga kami selalu belajar lagi dan belajar terus. Seperti hari ini, yang berjalan cukup mindful. Dimana anak-anak memancing cukup banyak aktivitas produktif, mulai dari bermain angka dengan mengenal konsep angka, menggambar figur favorit mereka, dan muraja'ah hafalan baru mereka. Masya Allah Tabarakallah.

Batujajar, 20 Februari 2020

Tanggal cantik geuning saya nulis teh 🀭

Catatan Akhir Tahun, Selesai di Awal Tahun

Minggu, 08 Desember 2019
Barusan iseng buka blog sendiri di chrome. Kemudian ku tersadar bahwa tahun 2019 akan segera berakhir. Dan saat ku melihat jumlah tulisan di blog pada tahun 2019 anjlok, disitu ku sedih kenapa ku berhenti ngeblog 😭.

Terkadang kita memang butuh berhenti dari sesuatu yang tadinya rutin kita jalani. Namun berhenti terlalu lama tentu juga tidak baik. Yang ada malah keenakan seperti halnya saya yang berhenti ngeblog 😒.


Tahun 2019 memang tahun hectic saya. Selain hectic karena bertambah anggota keluarga, saya juga hectic karena menghadapi masa-masa akhir perkuliahan suami. Lebih tepatnya masa akhir kami menerima dana bantuan beasiswa LPDP. Artinya, ketika suami tidak lulus akhir tahun ini, maka kami harus bersiap membiayai uang kuliah semester depan.

FYI, uang kuliah mahasiswa disertasi di kampus suami ku (The Ohio State University) adalah sebesar $8000. Sangat mustahil kami bisa membayar ini semua. Pun dari pihak kampus terutama pihak jurusan suami, tidak bisa menjanjikan bantuan biaya kuliah. Sehingga satu-satunya solusi hanyalah SEGERALAH LULUS 😁😁

Setelah melewati lika liku yang cukup panjang, menantang dan bikin tegang, alhamdulillah suami ku lulus dan resmi jadi bapak Doktor tanggal 3 Desember kemaren. Trus aku otomatis jadi ibu Doktor kan ya ... ✌️✌️🀭🀭

Perjalanan studi suamiku bisa dibilang cukup epic. Dari awal memulai studi hingga detik-detik mau ujian sidang disertasi, ada aja hal-hal yang bikin semua tak sesuai rencana awal. Tentunya hal ini bikin ketar ketir donk. Karena seolah dibayang-bayangi ga jadi lulus tepat waktu.

Doyan Mempercepat
Entahlah ini baik atau tidak. Tapi memang 2 kata di atas gambaran keluarga kami. Entah mengapa segala sesuatu dikeluarga kami diuji dengan waktu. Bahwa apa yang kami jalani serba dipercepat. Termasuk kuliah suami.

S2 yang harusnya membutuhkan waktu 2 tahun, bisa diselesaikan dalam waktu 13 bulan oleh suami. Katanya motivasinya hanya 1, ingin segera berkumpul dengan keluarga. Padahal, awal perkuliahan suamiku ngeluh kewalahan mengikuti perkuliahan. Terlebih mata kuliah yang dia ambil ternyata mata kuliah anak S3. Biidznillah, ternyata terlewati semua. Tanpa ku tau bagaimana perjuangannya.

Dipercepat lulus kenapa bilang diuji? Karena bagi kami segala sesuatu itu adalah ujian. Paling tidak ujian niat bagi kami atau ujian hati biar tidak sombong. Dan ujian untuk suami yang ga terlalu lama menikmati US 🀭

Timeline Sekedar Timeline
Bagi kami, berbagi dan mendiskusikan jadwal dan targetan diri satu sama lain bisa dikatakan jadi rutinitas. Jadi misal suami bilang akan ada magang bulan sekian tanggal sekian. Saya pun demikian, harus kesini dan dan kesini untuk pemenuhan kebutuhan hari ini minggu sekian bulan sekian.

Namun ternyata dalam perjalanannya, timeline hanya sekedar timeline. Sangat banyak jadwal yang berganti tidak sesuai timeline, termasuk jadwal perjalanan studi suami. Kalo timeline aku kalo berubah cuma ngefek kekondisi perut πŸ˜‚. Kalo timeline studi suami???

Normalnya, akhir tahun 2018 suami sudah harus menjalani ujian candidacy, semacam komprehensi. Namun ternyata harus diundur karena saya baru saja melahirkan anak ketiga. Kemunduran ini tentu berimbas pada timeline yang lain. Sehingga kami merasa perlu melirik hal lain yang bisa membantu kami mengembalikan timeline menjadi normal. Terutama timeline kelulusan 😁

Mempercepat Kepulangan Saya dan Anak-anak adalah bagian dari Solusi
Tak banyak keluarga yang memilih berpisah ketika menjalani studi. Dan mungkin sangat jarang sekali keluarga mahasiswa yang mempercepat kepulangan mereka. Jikapun ada bukan untuk konteks mempercepat, namun melepas rindu dengan mudik.

Berbeda dengan keluarga kami yang memilih mempercepat kepulangan saya dan anak-anak sebagai salah satu usaha normalisasi kondisi. Selain itu, deadline lulus  suami yang bersamaan dengan musim dingin, membuat kami semakin membulatkan tekad untuk kembali menjalani hubungan jarak jauh (LDM/Long Distance Marriage).

Tentunya kepulangan ini sudah mengalami pertimbangan yang matang. Bahkan sudah kami persiapkan sejak tahun 2018. Namun secara teknis memang terkesan mendadak.

Realistis
Sebagai keluarga yang memiliki anak cukup banyak, kami mencoba realistis dalam mengambil keputusan. Apakah sebuah keputusan diambil benar-benar murni untuk memperoleh kebaikan bersama atau hanya ego sesaat.

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan real kami adalah perihal uang. Manakah yang lebih hemat ketika kami hidup bersama hingga kelulusan atau hidup berjarak. Setelah dihitung-hitung, sebenarnya sama aja. Cuma beda tipis πŸ˜‚.

Tiba-tiba Banyak Drama
Dimasa-masa penuh pertimbangan ini, entah kenapa tiba-tiba kami merasa memperoleh begitu banyak skenario drama kehidupan πŸ˜…. Mulai dari drama kompor ga bisa mati saat suami sedang di Kanada, drama lupa matiin kompor sampe rumah nyaris kebakaran, drama Zaynab eczema, drama zazi gores mobil tetangga dan kami ganti rugi sebesar $600, hingga drama keluarga dekat (pamannya suami) kami meninggal 2 orang.

Drama yang terakhir inilah yang akhirnya membuat saya memutuskan memantapkan diri berkata:

"Kayanya ini pertanda kita disuruh pulang ke Indonesia deh!"

Bukan karena saya merasa dipaksa, tapi benar-benar lebih ke 'perenungan' gitu lho. Kondisi dimana kita merasa kok ya banyak kejadian yang ngegiring kita untuk selalu mikirin satu hal. Dalam kasus kami, satu hal nya adalah pulang ke tanah air.

Mama Mertua
Tinggal di daerah rawan banjir seorang diri, merupakan faktor pendorong mempercepat kepulangan ke Indonesia.

Sebenarnya orang-orang sekitar mertua ada. Tetangga alhamdulillah baik2. Pun sebelah rumah mertua masih rumah adik dan kakak dari mama mertua.

Namun, karena kerabat yang meninggal merupakan suaminya bibi. Yang mana beliaulah selama ini satu-satunya laki-laki yang masih kuat untuk melakukan ini itu untuk keluarga di Baleendah, terutama ketika banjir datang. Jadilah membuat kami semakin galau. Artinya hanya tersisa Uwa yang sudah renta laki-lakinya. Kalo terjadi apa-apa? Amerika itu jauh. Ga bisa pulang mendadak dan butuh waktu 2 hari baru sampe ke Indonesia.

Selain itu, kondisi kesehatan mama mertua juga agak kurang stabil. Semakin membuat kami tidak terlalu menikmati kehidupan di rantau seperti tahun sebelumnya. Ya inilah mungkin yang dinamakan cara Allah ngasih petunjuk ya. Karena kan yang menghadirkan pemikiran untuk pulang, tentunya Allah. Dan alhamdulillahnya udah di tahun akhir kuliah. Kalo tahun awal? Ga kebayang bakal kaya gimana ☹️.

Meluruskan Niat
Meskipun niat awal pulang dipercepat karena karena ingin berbirrul walidain, kami tetap harus meluruskan niat. Khawatirnya kalo niat salah, malah bikin kecewa dan jadi ga ikhlas dengan keputusan yang sudah diambil. Salah satu caranya biar lurus niat, dengan melihat berbagai macam konsekuensi logis yang akan kami hadapi sesampai di Indonesia. Apa sajakah itu?

1. Sekolah anak-anak
Mempercepat kepulangan artinya memberhentikan sekolah ZaZi sebelum waktu liburan tiba. Ada rasa sedih bercampur kasihan. Karena ZaZi tengah menikmati sekali bersekolah disini. Terlebih mereka sudah kelas 1 SD. Ya Allah ... Sedih kalo harus mengingat-ingat ini. Semoga ZaZi bisa memperoleh pengalaman belajar lebih baik di Indonesia.

Hingga saat ini saya belum bisa bercerita banyak tentang pilihan pendidikan ZaZi. Opsi homeschooling masih menduduki peringkat pertama πŸ˜…. Dan kegalauan hati karena karena sekolah ZaZi ini sudah saya persiapkan agar kuat mental hiks. Doakan ya ...

2. Adaptasi anak-anak, jiwa dan raga
Perubahan cuaca dan iklim dari negara 4 musim ke negara tropis, anak-anak tentu butuh waktu adaptasi fisik. Perubahan iklim sosial pun membuat anak-anak cukup terkaget melihat perbedaan yang ada antara Amerika dan Indonesia. Dan tentunya kami harus bersiap untuk hal ini.

Benar saja, minggu awal di Indonesia, anak-anak-anak bergantian diare dan demam. Memasuki musim penghujan, mereka mengalami batuk kering disertai demam juga secara bergantian. Drama anak sakit di rantau vs saat LDM itu beda sensasinya πŸ˜…

3. Domisili
Mempercepat kepulangan saya dan anak-anak artinya, suami belum selesai kuliah. Belum Ph.D. artinya, setelah ke Indonesia, suami harus kembali ke US. Artinya lagi, kami harus memikirkan pilihan domisili saat LDM.

Disinilah niat mulia birrulwalidain diuji. Setelah 1 minggu bersama mertua, kami pun bertolak ke Payakumbuh (rumah orang tua saya). Rumah mertua yang langganan banjir, di musim panas jadi kekeringan. Dampaknya, anak-anak diare karena kekurangan air bersih dan mungkin karena adaptasi cuaca dan dan lingkungan juga.

Alhamdulillah kondisi mertua stabil dan support kuliah anaknya kelar cepat. Sehingga segala macam bentuk keputusan kami beliau dukung. Paling tidak jika terjadi apa-apa, saya sudah di Indonesia dan bisa dengan cepat ke Bandung ketimbang kalo saya masih di US . Ya kan?

4. Disertasi
Konsekuensi pulang cepat yang harus dihadapi berikutnya yaitu, pengerjaan disertasi suami yang dilakukan selama perjalanan dan di Indonesia. FYI, suami mengerjakan disertasi di Payakumbuh selama 3 minggu. Kenapa di Payakumbuh? Karena syarat pulang cepat yang saya ajukan yaitu, LDM jangan terlalu lama. Dan solusinya dengan memastikan sebelum pulang ke Indonesia apakah komite mengizinkan suami mengerjakan disertasi di Indonesia dengan meeting jarak jauh.

Dan alhamdulillah diizinkan πŸ˜ƒ

September Ceria, September ke Indonesia!
Meski sudah memutuskan pulang dipercepat, kami saat itu belum memutuskan akan pulang bulan apa. Di akhir tahun 2018 kami sempat mewacanakan pulang di bulan Mei 2019 dengan harapan ZaZi bisa sekolah SD di bulan Juli. Namun rencana itu tidak bisa terlaksana karena suami tidak memungkinkan perjalanan jauh di bulan tersebut.

Selain itu, bulan Mei merupakan bulan dimana eczema Zaynab masih meradang parah. Fokus kami saat itu hanya ke penyembuhan Zaynab. Sehingga hilanglah wacana pulang bulan Mei.

Memasuki akhir Juni, tiba-tiba suami menginfokan bahwa dia bisa ke Indonesia bulan November untuk menghadiri conference. Sehingga kami wacanakan pulang bulan November 2019. Saya pun tidak keberatan karena hanya beda 1 bulan dari kelulusan.

Tak lama berselang, ternyata paper suami juga diterima panitia conference di Jakarta. Dan bulan pelaksanaan conferencenya adalah bulan September. Saya pun keberatan jika pulang bulan September. Karena terlalu lama dari bulan kelulusan. Ditambah saat itu suami masih belum seminar proposal. Sehingga susah untuk saya optimis suami bisa lulus bulan Desember.

Disaat kami masih belum memutuskan kapan akan pulang, bulan Juni atau Juli dalam 2 minggu berturut-turut kami memperoleh berita duka seperti yang saya ceritakan di atas. Disaat itulah saya berfikir bahwa, oh mungkin ini momen yang Allah kasih. Bismillah, dengan segala macam kemungkinan, kami pun memutuskan pulang di bulan September.

Perlahan Melihat Cercah Harapan
Semua berlalu begitu cepat. Saya tidak bisa menggambarkan rincinya bagaimana. Seingat saya, justru pasca kami memutustkan pulang bulan September, satu persatu timeline studi suami terlaksana.

Target seminar proposal yang tadinya bulan Agustus sempat sirna, melihat secercah harapan. Bagaimana ga pesimis. Suami baru candidacy bulan Mei 2019. Agak mustahil jika seminar proposal dilakukan 3 bulan setelahnya. Melihat dari pengalaman teman-teman mahasiswa Indonesia lain, paling cepat jarak antara candidacy dengan seminar proposal yaitu 6 bulan. Bahkan ada yang 1 tahun atau lebih.

Alhamdulillah, sebelum akhirnya pulang, suami memperoleh jadwal seminar di bulan September awal. Tadinya kami sempat deg-degan. Jika sebelum pulang suami belum seminar, maka kemungkinan lulus Desember yang tadinya 80% bisa merosot jadi 1%. Yangmana 1% itu adalah takdir. Artinya, akan ada kemungkinan kami LDM cukup lama ☹️.

Saya deg-degan takut LDM. Suami deg-degan nya banyak. Takut LDM iya, takut bayar uang kuliah sendiri pun iya πŸ˜….


Itulah mungkin hadiah dari Allah karena niat mau birrulwalidain hehehe. Jadinya dilancarin studi 😍. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah.


LDM Babak 3
Ya! Pasca saya dianter pulang ke Indonesia bulan September, bulan Oktober kami pun memasuki babak ketiga LDM. Doyan amat ya LDM πŸ˜…. Itulah tadi yang saya katakan berhenti sesaat.

Berhenti sesaat dari rutinitas bersama. Hidup terpisah. Asal jangan terlalu lama. Karena khawatir keenakan kaya saya keenakan ga ngeblog πŸ˜‚πŸ˜‚. Kan bahayaaaa

Ya begitulah. Live must go on kalo kata orang. Suami harus lulus tepat waktu kalo ga mau LDM lama-lama. Artinya, disertasi harus kelar. Riak-riaknya bikin banyak berdoa. Ya itulah tujuan Allah ngasih kita riak kehidupan.

Sebelum balik ke US, disertasi suami sempat diobrak-abrik lagi pasca hasil revisi seminar dikembalikan komite ke suami. Saya aja stres. Apalagi suami. Raga suami di Payakumbuh. Tapi jiwanya sama disertasi πŸ˜‚πŸ˜‚. Sampai akhirnya balik US, diperjalanan pun laptop jadi kekasihnya πŸ™ˆ. Demi submit ontime ke komite agar memperoleh kejelasan apakah bisa final exam atau ...

Alhamdulillah, minggu awal November kami sudah memperoleh kejelasan timeline. Kapan pre exam, kapan final exam. Tapi, potensi gagal itu ada. Jika pre exam gagal. Final exam ga akan jadi 😭. Alhamdulillah semua terlewati. Yaitu resmi Ph.D atau doktor per tanggal 3 Desember 2019.

S2 dan S3 Tak Wisuda
Karena wisuda itu tak selamanya pas sama timeline kita πŸ˜….

Jaman S2, di Ohio University jadwal wisuda hanya 2 kali dalam 1 tahun, yaitu bulan Mei dan Desember. Sedangkan suami lulus bulan Agustus. Bisa sih dikondisikan lulus Desember untuk wisuda. Toh masih ada hak dari beasiswa. Tapi, family is numero uno πŸ™ˆ. Alias udah kangen keluarga. Apalagi dari nikah bisa dikatakan kami hanya bersama 8 bulan doank. Ya pasti kangenlah 😒

Begitu juga dengan S3. Ujiannya luar biasa.

Bisa. Bisa banget kalo suami mau wisuda. Peluang besar banget bahkan bisa bantu kita nambah pundi-pundi tabungan. Namun ternyata kami ga bisa bohong. Family is numero uno πŸ˜…. Terutama anak-anak udah besar kaya sekarang. Rapuh kami sekeluarga di LDM babak 3 ini. Hingga akhirnya, lagi-lagi pak Topik ga wisuda 😒.

Yang sedih saya. Yang merasa bersalah saya. πŸ˜”πŸ˜Ÿ Suami? Alhamdulillah santai kaya di pantai. Saya hanya berdoa semoga Allah kasih pengganti kisah yang lebih indah. Aamiin.

Demikian
Ya begitulah catatan akhir tahun saya. Meski sudah di Indonesia dari bulan September, tapi karena suami baru pulang dari US tanggal 24 Desember kemaren, jadi saya pun merasa baru pulang πŸ˜‚. Lebih tepatnya baru akan bersiap menghadapi kehidupan pasca rantau yang sebenarnya. Karena 3 bulan kemaren hanyalah masa transisi dimana kami belumlah bertransformasi secara utuh sebagai 1 keluarga.

Semoga cerita panjang ini ada hikmahnya πŸ˜….

Setiap keputusan yang diambil secara sadar, in sya allah bikin kita jadi bisa melihat lebih dalam hikmahnya. Dan bikin bersyukur banyak. Ya meski tetap sih saya masih rindu Columbus. Ga boong kalo saya reverse culture shock πŸ™ˆ sampe sekarang πŸ˜‚πŸ˜‚.

Payakumbuh, 1 Januari 2020

Babak Baru Pendidikan Anak

Rabu, 06 November 2019
Satu bulan lebih satu minggu saya dan anak-anak di Indonesia. Hal penting yang selalu dipikirkan dan direncanakan sejak dari jauh hari hingga sekarang adalah tentang hak pendidikan anak-anak terutama Zaid dan Ziad (ZaZi). Aneka kemungkinan dengan segala alternatifnya sudah saya dan suami perkirakan sebelum balik ke Indonesia. Sekarang tiba masanya untuk menjalankannya.

https://thebestschools.org/magazine/homeschool-style-right/

Jika boleh berkata jujur (kalo bohong kan dosa πŸ˜…), salah satu pertimbangan saya memulangkan diri sendiri dan anak-anak tanpa menunggu kuliah suami selesai yaitu karena pertimbangan hak pendidikan anak-anak. Memang tidak terlalu signifikan antara pulang September atau Desember tahun ini jika dikaitkan dengan periode tahun ajaran. Karena tetap ZaZi akan masuk SD di tahun ajaran 2020/2021.

Namun, rentang waktu 3 bulan itu cukup signifikan untuk saya pribadi agar bisa beradaptasi dalam mempersiapkan segala sesuatu terkait hak pendidikan ZaZi. Dalan hal ini terkait pilihan jalur pendidikan, formal atau informal.


Banyak faktor yang selalu menjadi bahasan ketika saya dan suami berbicara tentang pilihan jalur pendidikan untuk anak-anak kami. Pilihan untuk melakukan homeschooling (HS) pun masuk daftar kemungkinan. Bahkan sejak ZaZi berusia bayi kami sudah mengangkat wacana HS ini.

Babak Awal Pendidikan ZaZi
Meskipun wacana untuk melakukan HS sudah muncul sejak ZaZi bayi, gambaran pelaksanaannya justru baru muncul sekarang-sekarang ini. Kenapa? Karena kondisi baru bisa dikatakan cukup stabil saat ini, terutama kondisi saya sebagai pelaku utama yang akan mengeksekusi HS ini.


Sehingga, tercatatlah bahwa ZaZi menyicip pendidikan di lembaga formal untuk tahapan pendidikan anak usia dini di usia 2,5 tahun. Hingga usia 6 tahun bulan Juli lalu, ZaZi masih menjalani pendidikan formal di tanah rantau kami, negeri Paman Sam.

Meskipun babak awal pendidikan ZaZi adalah jalur formal, tetap saja bahasan kemungkinan untuk melakukan HS menjadi topik utama dalam pembahasan hak pendidikan untuk ZaZi. Terlebih mengingat kami yang sudah merantau 3 tahun lebih di negara yang sistem pendidikannya sangat memanjakan kami. Keluar dari zona nyaman, jujur kami pun agak sedikit gamang.

Babak Baru kah?
Berawal dari kegamangan saya sebagai seorang ibu yang memiliki kepekaan rasa, akhirnya kami mencoba untuk mengalokasikan waktu lebih untuk proses adaptasi saya dalam mempersiapkan pendidikan untuk ZaZi. Dan tentunya juga proses proses adaptasi untuk ZaZi di tanah kelahirannya yang memiliki kultur dan suasana yang berbeda dengan Amerika.


Dan inilah dia, katakanlah babak baru jalur pendidikan ZaZi. Meskipun belum resmi dan bisa dikatakan sebagai babak percobaan sebelum memasuki tahun ajaran baru, apa yang ZaZi lakukan saat ini tentunya menjadi bagian dari periode perjalanan pendidikan mereka.

Rekam Jejak Babak Baru
Tercatat sejak tanggal 14 Oktober 2019, saya berpositif diri untuk mengeksekusi aktivitas belajar ala HS versi saya. Saya mencoba meyakinkan diri bahwa memiliki bayi bukanlah penghalang. Bahwa menikmati proses terkadang menjadi jalan terang terbukanya jalan menuju tujuan.


Tak perlu jauh-jauh saya melihat contoh untuk bisa menyemangati diri. Perjalanan blog ini justru berawal dari ketidakyakinan dan kurangnya rasa percaya diri saya. Namun dengan segala gejolak yang muncul saya tetap berusaha menghasilkan satu demi satu tulisan yang tak pernah saya alamatkan diperuntukkan kepada siapa. Hingga akhirnya blog ini bisa menjadi sumber referensi untuk beberapa tulisan yang belumlah banyak ini.

Begitu pula untuk HS ZaZi, saya berharap meski belum memiliki persiapan yang bisa dikatakan matang, menjalani satu persatu proses menuju HS ini bisa mengantarkan saya pada sebuah keyakinan hati untuk pilihan jalur pendidikan ZaZi, formal atau informalkah.

Aktivitas Kami Satu Bulan Ini
Tidak banyak tentunya aktivitas yang kami jalani dalam satu bulan penuh liku ini. Tapi selama makna belajar itu tak melulu sebatas belajar dengan mendengarkan guru menjelaskan dan dan kemudian mengerjakan tugas, maka bisa dikatakan ZaZi sudah melalui puluhan aktivitas dalam satu bulan terakhir.


Berawal dari aktivitas pagi yang belum terlalu teratur, saat itu saya masih menargetkan diri minimal ZaZi belajar formal 2 jam dalan sehari. Sehingga matematika, membaca dan menulis menjadi aktivitas utama.

Waktu berjalan, evaluasi terus dilakukan sembari berjalan. Muncul dilema tentang sekolah mengaji ZaZi yang tak kunjung ketemu. Akhirnya aktivitas prioritas beralih dari aktivitas akademis formal ke spiritual yang meliputi baca Iqro dan praktek shalat.

Memasuki minggu ketiga, minggu dimana perpisahan dengan Abinya terjadi. Sayapun agak sedikit longgar sembari menilik-nilik kembali apa yang harus saya lakukan agar tak jalan di tempat.

Akhirnya saya putuskan untuk membaca-baca kembali referensi HS dan tergiringlah otak ini membuka kembali website rumahinspirasi.com yang sudah lama tak saya singgahi. Tak lama berselang, saya pun memperoleh pinjaman buku karangan founder rumah inspirasi. Dan dari buku itulah kemudian saya tergerak menuliskan babak baru pendidikan ZaZi ini.

Selain itu, setelah membaca buku tersebut, saya menjadi semakin yakin dan percaya diri dalam mengkreasikan aktivitas HS ZaZi.

Tantangan
Tak ada gading yang tak retak, tak tak hidup tanpa tantangan. Begitu juga dengan babak baru ini. Dengan segala keterbatasan, dimulai dari sarana prasarana hingga mobilitas, HS ZaZi agak sedikit terkendala dualisme kepemimpinan antara Umi dan OmaπŸ˜….


Mengingat HS ini dieksekusi di lokasi sementara, dengan anggota keluarga yang tidak lengkap, tak bisa dipungkiri bahwa keteraturan dan juga rutinitas agak sulit diterapkan. Sehingga saya lebih bersifat fleksibel terhadap aktivitas HS ZaZi. Kondisi ini tak jarang membuat ZaZi kehilangan momen belajar materi akademis dan juga spiritual. Yang tersisa hanya materi lain berupa komunikasi sebagai jalan terakhir agar tetap terhubung dengan ZaZi.


Penutup
Bagaimanapun kondisinya, waktu terus berjalan dan usahapun harus terus disempurnakan. Dalam segenap keabstrakkan tulisan ini, yang mana saya sadar tak banyak informasi yang bisa teman-teman pembaca peroleh, saya mohon maaf. Maklum udah lama ga nulis πŸ˜…πŸ˜‚. Dan tulisan ini dalam rangka memecut diri ditengah kendala teknis yang saya temui ketika ngeblog dari HP baru ini #cieeeeeehpbaru

Ya udah sih ... Segitu dulu aja ya ... Mohon maaf kalo tulisannya ga dimengerti. Gaya nulis saya jadi kebawa-bawa serius abis baca buku HS πŸ˜‚πŸ˜‚.

Columbus eh udah di Payakumbuh denk,
5 November 2019

Ziad Munif Alfatih

Jumat, 01 November 2019
I miss you Abi. I want to see you again.


Warna Warni Hidup Di Amerika

Jumat, 18 Oktober 2019
Memulai hidup di perantauan, tentunya butuh waktu untuk penyesuaian diri dan adaptasi. Dari sekian banyak hal baru yang ditemukan di Amerika, bergulat dengan stereotype negatif tentang Amerika menjadi tantangan yang lumayan berat. Terlebih ketika stereotype tersebut benar-benar terjadi, tak sekedar anggapan belaka.

Apa sajakah itu?

1. Sering terjadinya penembakan di Amerika


2. Islamophobia dimana-mana



3. Seks dan pergaulan bebas terpampang di depan mata


4. Trumpmania


5. Stereotype Lainnya??? πŸ‘‡

Berdasarkan kompasiana.com, Orang Amerika diberi ciri sifat-sifat ’angkuh’ (arrogant), terbuka (open-minded), suka yang praktis dan efisien (efficient and practical), cuma tahu negaranya saja dan buta sama sekali dengan negara-negara lain (US-centered), egois, suka blak-blakan (straight-forward), tukang makan fast foods, tukang perang kayak koboi (war-monger) dan hobi mengucapkan God is with us.

Bagaimana Faktanya? 

1. Kasus Penembakan
Juli 2016 datang ke Columbus, Agustus disambut tragedi penembakan di wilayah kampus OSU


2. Islamophobia di Columbus
Pasca kejadian penembakan yang tersangkanya (kebetulan) seorang muslim, Islamophobia meningkat di wilayah Columbus dan negara bagian Amerika lainnya beberapa bulan setelahnya


3. Kehidupan muda mudi kampus
Memasuki semester fall di bulan Agustus akhir, pemandangan di kampus OSU tak lepas dari pakaian super minim dengan muda mudi yang bercengkrama tanpa batas




4.
Negara bagian Ohio termasuk wilayah merah. Namun kota Columbus, ibukota negara bagian Ohio masuk wilayah biru


5. Hal lainnya terkait adaptasi awal kedatangan

πŸ’¬ Konversi nilai mata uang


πŸ’¬ Lajur jalan dan aturan lalu lintas


πŸ’¬ Bahasa


πŸ’¬ Sistem belanja 


πŸ’¬ Perbedaan waktu


πŸ’¬ Makanan


πŸ’¬ Tempat ibadah


πŸ’¬ Standar sopan santun

Gimana???

Hidup dimana pun, pada dasarnya pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Begitu pula hidup di Amerika. Dari beberapa hal 'menyeramkan' di atas berdasarkan stereotype negatif yang ada terhadap Amerika, tinggal di Amerika tentunya masih ada hal positifnya. Apa sajakah?

1. Individual dan Menghargai Privasi
Sifat individualitas orang Amerika memberikan keuntungan tersendiri bagi kita pendatang. Berbeda dengan budaya di beberapa negara Asia dimana tingkat rasa ingin tau (kepo) cukup tinggi, di Amerika tidak. Butuh waktu hingga akhirnya seseorang berani menanyakan hal-hal pribadi seperti agama, usia, dan pilihan politik. Jika sudah benar-benar akrab dan membuka diri, barulah mereka berani menanyakan hal-hal pribadi, seperti menanyakan tentang kenapa perempuan muslim berhijab.


Sehingga sikap menghargai privasi ini mempermudah kita untuk menjalankan ibadah dan keyakinan pribadi kita dimanapun bahkan di tempat umum sekalipun. 

2. Sistem Belanja Islami?
Beberapa barang didesain bisa dicoba sebelum membeli. Seperti mainan yang bisa dicek apakah mainannya masih berfungsi baik atau tidak dengan fitur 'Try on Me!" Sedangkan untuk barang lain yang tidak bisa dicoba, layanan return dan refund membantu kita konsumen jika setelah pembelian ternyata barangnya cacat.

3. Tersebar aneka makanan berbahan dasar tumbuhan (vegan friendly)
Jika mau sedikit mempelajari kandungan bahan makanan yang muslim friendly, ternyata di Amerika sangat banyak makanan jajanan yang bisa dikonsumsi oleh Muslim. Salah satu caranya dengan melihat tanda tanda dietary yang terdapat di kemasan makanan tersebut.


Selain itu, juga ada aplikasi scan halal yang lebih praktis namun daftar makanannya masih sangat terbatas.



4. Pendidikan gratis hingga SMA dengan fasilitas yang lengkap
- playground
- ruang makan
- gym
- ruang seni
- perpustakaan
- ruang terbuka hijau

5. Fasilitas kesehatan tak pandang status ekonomi dan ras

6. Komunitas muslim yang menghimpun seluruh Muslim di Amerika
Terdapat ICNA (Islamic Circle Of North America) dan ISNA (The Islamic Society of North America)
Selain itu juga ada sister halaqoh yang terdapat di masjid-masjid sekitar

7. Komunitas muslim Indonesia yang sudah sangat besar
IMSA (Indonesia Muslim Society in America)
Ada juga pengajian lokaliti

8. Berbagai macam bantuan peningkatan kesejahteraan mulai dari bantuan berupa makanan hingga uang
- WIC
- Food assistance
- Santunan kesehatan

Ada di Indonesia, Ada juga di Amerika
1. Pengemis
2. Sales
3. Penipuan
4. Razia
5. Pasar tumpah
6. Warung dan kaki lima
7. Gerobak penjual makanan

Diskusi Yuk!


Payakumbuh, 18 Oktober 2019

Tulisan ini pointers buat berbagi dengan teman-teman di acara Ngobrol Seru 😁. 


Jastip Buatku Terlena Ga Ngeblog!

Jumat, 06 September 2019
Berapa lama ga ngeblog? Wow sekali rasanya. Banyak draft menanti tapi diri ini belum bisa fokus menuangkan ide tulisan dalam draft tersebut. Sibuk apa sih?

Pasca HP J7 saya rusak, aktivitas ngeblog langsung ga stabil. Proses Pergantian HPnya lumayan memakan waktu. Yang tadinya ngeblog masih menjadi 'kebutuhan' pelan-pelan berubah jadi kebiasaan kalo ga ngeblog. Pun saat HP sudah kembali ada (red. HP baru πŸ˜‚), eh ada beberapa gangguan cemet yang bikin aktivitas nulis blog di HP ga senyaman HP J7 ku 😭.


Dan pada akhirnya, saya ga ngeblog lagi. Sedih. 😩

Tapi eh tapi, ada hal lain memang yang membuat aktivitas ngeblog jadi anak tiri. Apa aja tuh?

1. Prioritas nuntasin eczema Zaynab yang bikin saya kurang bisa begadang seperti jaman dahulu 😁
2. Efek samping begadang yang mempengaruhi kuantitas ASI sehingga saya susah alokasi waktu untuk menulis karena prime time menulis saya ya di malam hari πŸ˜…
3. Saya mendadak buka jasa titip beli dan bawa  barang dari Amerika.

Nah, poin yang ketiga ini nih yang bikin saya terbuai dalam lamunan cinta 🎀

Sekitar akhir Juni kemaren, saya pengumuman buka jastip di akun medsos saya. Tak kira yang nitip paling banter cuma 5 orang dan itu pun cuma nitip buku. Ternyatah????

Masya Allah tabarakallah ... Semoga selalu dalam keberkahan Allah ... Alhamdulillah yang nitip ada 48 orang dan mostly nitip barang bermerk😭😭

Saya yang awam dan polos ini ga nyangka bakal sampe serame itu. Padahal awalnya cuma 'iseng' aja. Iseng dalam artian, posting aja. Ada atau ga ada yang beli ya ga papa. Yang penting ada aktivitas sebelum back for good. Begitu lah lebih kurang bisikan nurani akoh.

Ternyata banyak yang nanggepin. Terus 'bodohnya' saya mau aja ya direpotin buat ngecekin ini dan dan itu. Akhirnya ngerasa bodoh dan lelah, saya pun bikin aturan khusus untuk jastip dadakan bin karbitan ini.

Singkat cerita, dari akhir Juni sampe kemaren awal September, saya blas 'sok sibuk' ngurus jastip. Apanya sih yang diurus sampe ga sempet ngeblog??

1. Transaksi sama customer (teman-teman di Indonesia yang mau sesuatu barang dari Amrik)
2. Transaksi sama produsen (maksute beliin barang konsumen dari sini, online atau offline)
3. Ngotak ngatik keuangan biar ga bablas kehabisan dolar.
4. Ngurus beberapa masalah teknis mulai dari barang yang di cancel sepihak sama suatu web online sampe ke miskomunikasi dengan customer.
5. Packing repacking barang-barang orang
6. Packing barang-barang sendiri (bukan jastip donk ini tapi oyeh oyehπŸ˜‚)
7. Beresin rumah (biar enak ngepacking2)
8. Yang pasti mah sibuk belanja dah berasa sosialita aja akoh πŸ™ˆ

Saya manusia riweuh bin hectic ini tentu sangat tersiksa menjalani kehidupan serba mendadak ini. Jastip mendadak pun pulang mendadak. Tapi meskipun de mi ki an ... Tetap saja saya suka yang mendadak ini πŸ˜…. In sya allah tetap well prepare 😁 yang ga akan bisa dibayangin sama kamuh preparasi versi saya tu kaya gimana. Preparasi orang perfeksionis 😌😌.

Hmmm, nulis apalagi ya πŸ€”πŸ€”

Dah ah ... Semoga ga dikick dari 1m1c aja πŸ˜‚πŸ˜…

Columbus, 6 September 2019