MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Suka Duka Menulis

Saturday, February 17, 2018

Menulis tapi tak membaca itu namanya
tong kosong. Baca tapi tak menulis itu namanya tak manfaat.

Itu karang-karangan saya aja sih. Buat renungi nasib diri yang memang lagi jadi tong kosong 😣😣😣.

Saya memang sedang melatih diri untuk terus menulis menulis dan menulis. Makanya postingan saya akhir-akhir ini 'sapanjang tali baruak'. Yakin banget kalo para pembaca yang 'nyasar' ke blog ini akan jenuh dan lelah baca tulisan saya yang ... tong kosong 😩

Mau lanjut atau berhenti menulis? Mau lanjut in sya Allah. Meski sadar banget masih jauh dari kata 'berkualitas' atau 'bernas' atau 'kece' atau lainnya, saya akan terus latihan. Salah satunya dengan meningkatkan jumlah bacaan πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

Setiap memulai hal baru pasti ada tantangannya ya. Salah satunya ya mengatasi semangat kendur ketika kemampuan tak kunjung menunjukkan perbaikan ke arah yang lebih baik πŸ˜…. Ya begitulah, apapun pasti ada suka dukanya.

Manusiawi kan ya kalo semangat kita fluktuatif. Keimanan aja yazid wayankus hehehe. Udah sunatullah nya kata orang mah. Yang terpenting cara mengatasinya. Begitu bijaknya πŸ˜†

Di era sosial media seperti sekarang, setiap orang bisa menuliskan apapun di media sosialnya. Mau panjang atau pendek, berisi curhatan atau opini, tema politik atau rumah tangga, aneka ragam dan bebas. Meskipun demikian, menjadi penulis 'berbobot' tak lantas semudah menjadi penulis lepas di media sosial.

Berbobot dalam artian, yang kita tuliskan itu 'daging' semua atau penuh hikmah. Selain itu, menulis tentunya tak sekedar menuang pemikiran berbentuk kata, tapi bagaimana menata pikiran sehingga tulisan lebih terarah dan bermakna. Jadi, pembaca ga pusing baca tulisan yang terlalu banyak 'main idea'. Dan inilah kesulitan saya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Seringkali saya terjebak dengan alur pemikiran sendiri yang ketika dibaca ulang, lho? Kok setiap paragraf  dan kalo dikembangkan lagi bisa jadi satu judul tulisan lagi πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ untuk setiap paragraf itu.

Jujur, saya akui saya kurang baca. Jadi wajar saja jika tulisan saya banyak yang ngatung tidak komprehensif. Dari sinilah saya merenung, bahwa budaya literasi itu penting.

Bagi saya, menulis adalah sebuah aktifitas dan keahlian yang tak akan lekang oleh waktu. Meski nanti teknologi makin berkembang menggantikan setiap peran manusia, keahlian menulis tetap akan dibutuhkan. Sehingga, kebutuhan untuk membaca pun harus kita jaga.

Ya ... mohon doanya ya teman-teman semoga saya makin rajin baca hehehehe.

Kan kalo rajin baca, paling tidak memberikan ulasan tentang buku yang saya baca bisa jadi memperkukuh pengetahuan saya tentang ilmu yang terdapat di buku itu. Jika ingin dikembangkan, tinggal tambahkan opini di dalamnya.

Tapi itulah dukanya saya. Butuh waktu lama sehingga saya mampu untuk mengulas sebuah buku, film ataupun ulasan informasi lainnya. Terlalu 'maruk' untuk mau ini dan itu membuat saya tidak memenej kemampuan menulis yang mana dulu yang hendak dikembangkan. Mengingat jenis tulisan itu sangatlah banyak.

Kok saya ribet? Menulis mah ya menulis aja. Kan gampang.

Hmmm ... ibarat orang yang haus, ketika dia diberi minum teh ternyata hausnya belumlah hilang. Minum lagi coke, malah makin haus, minum sirop tetap belum hilang dahaga. Bahkan ketika sudah meminum air putih pun, tak jarang kita masih sering merasakan haus.

Begitulah lebih kurang analoginya. Saya ingin memiliki skill. Seperti halnya orang-orang yang memiliki keahlian menjahit, merajut, menari, olahraga, fotografi, dan lain-lain, saya ingin bisa menulis. Syukur-syukur jadi penulis.

Untuk itulah saya terus-terusan berlatih dan memulai dengan cara membaca diri dan mengejawantahkannya dalam tulisan.

Sulit ya? Begitulah suka dukanya. Setiap keahlian itu memang dituntut kegigihan dan keuletan. Jika tidak, ya siap-siap saja jalan ditempat atau malah mundur. (duh beuraaaaat euy ... semoga ga omdo πŸ™„)

Bagaimana jika apa yang kita lakukan diledek atau tidak mendapat penerimaan yang baik dari khalayak? Entahlah ya, yang pasti saya pun sedang terus menerus menempa diri untuk bisa memilah mana masukan mana yang bukan.

Tak jarang kan, terkadang kita mendapati 'ejekan' dari sekitar terhadap apa yang sedang kita usahakan. Prinsipnya, selagi yang kita usahakan itu positif, maka 'let it go'. Tak usah didengar. Tetaplah pada penempaan diri kita sembari terus meluruskan niat.

Jadi, buat teman-teman yang sedang semangat menulis, tetaplah semangat ya meski banyak suka dukanya. Tulislah kebaikan dan ilmu. In sya Allah tidak akan ada yang sia-sia. Daripada waktu luang kita pakai untuk scroll up-down timeline media sosial, mending isi dengan menuliskan ya ... Pahalanya dapet eksisnya dapet #eh

Ya udah, segitu dulu ulasan suka duka menulis dari saya, Semoga ada manfaat yang bisa dipetik πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Columbus, 17 Februari 2018



Surat untuk Februari

Friday, February 16, 2018
Entah kapan ku terakhir menoreh kata dalam bait rima. Sesaat membaca semua surat yang tertuju pada semua diri disebuah kompetisi, aku pun bertanya. Rindu?

Ya! Aku rindu bermain kata yang makna tak lantas tertangkap mata saat membacanya. Ah hatiku bergemuruh tatkala menuliskan surat ini. Teringat tentang sebuah kebiasaan yang dahulu sering kulakukan dengan seorang sahabat, bertulis surat.

Hingga saat ini, ku yakin dia masih memiliki permainan kata yang membuatku butuh waktu untuk menangkapnya. Lalu bangga menghampiri ketika dia bilang "hanya kamu yang mampu membaca hati dan pikiranku sobat!".

Dunia dewasa membuat lunaknya hati lembutnya jiwa memudar rasa. Mungkin karena kencang udara yang meniup jiwa. Lalu bagaimana aku bisa kembali memanggilnya agar relung hati berisi kata-kata cinta?

Anggap saja surat ini sebagai pembuka untuk memulainya. Kembali mengetuk pintu yang terkunci dalam kata tak berima. Panggil dia. Duduk disini. Temani untuk menikmati nyanyian nurani. Dimana disitulah sering kutemukan Tuhan.

Februari memang bulan cinta. Dan surat ini kualamatkan padanya ... Semoga cintanya bisa mewarnai bulan-bulan seterusnya hingga kembali membersamainya.

Columbus, 16 Februari 2018

Bangkit Dari Alam Mimpi

Wednesday, February 14, 2018

Eaaaaaa ... judulnya kaya pilem Suzana ye πŸ˜…. Bukan dan sungguh bukan. Ini bukan tulisan review film nya nenek Suzana. Ini adalah judul refleksi diri minggu ini. Sek asek ... Refleksi kehidupan di Amerika ceritanyah.

Memasuki satu tahun keberadaan saya di Amerika, saya dan suami kerap kali berdiskusi tentang kehidupan pasca studi disini. Dan diskusi itu masih berlanjut hingga sekarang disela obrolan-obrolan kami. Diskusi tentang apa? Tentang adaptasi anak-anak, adaptasi kami. Adaptasi akan perubahan lingkungan, kultur dan kebiasaan.

Ya! Disini, alhamdulillah kami memperoleh standar kesejahteraan hidup di atas kesejahteraan kami waktu masih di Indonesia. Sebut saja tiga kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, papan, semua terpenuhi lebih dari kata cukup. Bukan karena standar kemewahan meningkat, tapi karena standar keterjangkauan bertambah πŸ˜…

Lalu kemudian beberapa hari ini eh bukan, beberapa minggu belakangan, saya mulai berfikir dalam pikiran sendiri tentang kehidupan disini yang ibarat fatamorgana ini. Salah seorang teman disini mengatakan

"kuliah disini tu kaya mimpi mba, pulang-pulang ke Indonesia, itu kita baru bangun dari mimpi itu"

Begitu lebih kurang katanya. Dan saya pun mengiyakan.

Jujur saja, bersekolah ke luar negeri memang meningkatkan strata sosial kita di masyarakat. Meski saat ini bersekolah ke luar negeri bukan lagi 'barang langka', namun masih menyimpan prestise yang cukup bisa meningkatkan kebanggaan jiwa. Makanya banyak generasi muda yang berbondong-bondong hendak keluar negeri dengan aneka ragam motivasi kayanya ya ...

Prestise hidup ini tentunya juga menimpali saya donk. Manusiawi bukan? Makanya di awal-awal kedatangan di Amerika semua spot deket apartment dan kampus saya sambangi hanya demi sebuah photoshotπŸ˜… dan update di media sosial πŸ™ˆ. Mumpung masih liburan dan emang lagi euforia. MaapkeunπŸ™

Dan ketika menulis blog pun, saya lagi-lagi membidik Amerika sebagai salah satu tema tulisan yang menurut saya bisa mengundang rasa penasaran pembaca. Maklum, blog saya kan masih blog amatiran yang pembacanya masihlah teman dan rekanan di media sosial, belum pembaca setia πŸ˜…

Apakah taktik saya berhasil? Yups! Tema-tema terkait kehidupan disini jauh lebih menarik perhatian pembaca ketimbang tulisan lain πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Dan saya harus menerima kenyataan itu dengan lapang dada πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Fenomena ini cukup membuat saya terhenyak #eitdah, bahwa sesungguhnya yang menarik itu adalah kehidupan saya di Amerika, bukan tulisan saya πŸ˜‚πŸ˜‚. Artinya, tatkala Amerika tak lagi membersamai saya, habislah karir saya sebagai blogger #eaaaaa

Akhir tahun 2017 lalu saya bertekad konsisten menulis konten 'rada bener' di blog. Rada bener dalam artian tak lagi menulis curhatan dan 'pamer amerika' tok. Kalaupun menulis curhatan, dikemas sedemikian rupa biar ga bener-bener bahasa curhat. Begitu juga kalo mau 'pamer'. Buat apa? Biar orang betah baca blog saya dan ga sebel kalo ada konten pamernya πŸ˜„

Jadi memang keseriusan menekuni dunia blogger ini membuat saya harus menyadari kapasitas diri dan bagaimana cara meningkatkannya. Sehingga, dimana pun saya berada, apapun kondisi saya, tetap, tulisan yang saya produksi bermanfaat untuk dibaca dan menarik pembaca tentunya.

Bagaimana caranya? Entahlah. Yang ada dalam pikiran saya saat ini hanya satu, yaitu bangkit dari alam mimpi lebih awal. Tanpa harus menunggu pulang ke Indonesia. Caranya? Dengan menulis konten-konten di luar Amerika raya. Jikapun ada, sebatas konten perbandingan untuk diadopsi nilai positifnya.

Selain itu, menyalurkan hobi fotografi ke genre yang tidak mengandalkan keindahan alam Amerika saja, tapi dengan belajar genre fotografi yang ilmunya bisa diterapkan ketika pulang ke Indonesia. Bukan berarti ga bakal motret alam Amerika lagi ya. Kalo motret sih ga perlu dibatasin. Lha wong mumpung disini πŸ˜…. Kalo nulis? Nah perlu dilatih biar ga ngejual Amerika mulu. πŸ™ˆ

Demikian refleksi hari ini. Satu pelajaran yang saua dapatkan, jadi blogger tu ga semudah menulis suka-suka saja. Tapi harus menulis suka-suka dengan tujuan tentunya πŸ˜….

Columbus, 14 Februari 2018

Ibu, Bahagiakan Dirimu, Sejahteralah Anak-anakmu

Friday, February 9, 2018
Ibu ... Indah ya panggilan itu. Didengarnya aja syahdu ... menyejukkan kalbu. Siapapun wanita pasti menginginkan menjadi seorang ibu. Karena memang itulah fitrahnya. Seorang wanita diberi anugerah oleh Allah Subhanawata'ala berupa Rahim yang berarti 'sayang'. Di dalam rahim inilah kemudian akan muncul benih dari kasih sayang antara dua hamba yang bernama anak. Indah ya ... Masya Allah 😍😍😍



Tulisan berikut ini, saya dedikasikan untuk para orang tua, terutama para wanita muslimah ... yang tengah berjuang sepenuh hati untuk menjalankan amanah sebagai seorang atau calon ibu.

Selamat membaca πŸ€—

***

Hidup adalah ujian
Pernah mendengarkan sebuah hadits Rasulullah Solallahu'alaihiwassalam yang berbunyi:

"Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan" (HR. Muslim no 91)

Dari hadits ini, makna kata Maha Indah (Al-Jamil) menunjukkan kesempurnaan keindahan Allah Azza wa Jalla pada semua nama, sifat, dzat dan perbuatannya. Pembahasan lebih lengkapnya bisa dibaca disini. Artinya bahwa apa-apa yang datang dari sisi Allah pastilah indah, tanpa cela.

Selama kita menjalani kehidupan ini dalam koridor yang telah ditetapkan Allah Azza wa jalla, yaitu sesuai tuntunan Al Quran dan sunnah, meskipun hal tersebut berupa masalah sekalipun, tetap saja apa yang menjadi ketentuan Allah itu akan tetap indah dalam pandangan kita.

Misalkan, kita tengah tertimpa kemalangan berupa kehilangan sepeda motor, kemudian dalam menyikapi musibah tersebut, kita mengembalikan semuanya kepada ketentuan Allah. Lalu ternyata tiba-tiba pasca kehilangan tersebut, kita dihadiahi mobil oleh seorang kerabat kita karena dia ingin balas jasa atas kebaikan kita. (Ini contohnya sinetron amat ya, eh tapi jangan salah, ada pasti di kehidupan nyata nya ini πŸ˜†)

Ya iyalah indah, kehilangan motornya diganti mobil πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Hmmm ... iya sih, tapi esensinya ada pada penyikapan yang kita lakukan atas musibah atau kemalangan yang menimpa kita.

Seperti apa penyikapan terbaik dalam menyikapi musibah yang datang seperti contoh kasus di atas?

Yang pertama, beristighfar sebagai wujud taubat kita kepada Allah ta'ala atas kelalaian yang kita lakukan. Yang kedua, melakukan ikhtiar fisik berupa melaporkan kehilangan tersebut kepada Polisi atau pihak yang berwajib, misalnya. Yang ketiga, instrospeksi diri barangkali ada hak harta yang belum kita keluarkan. Yang keempat, berpasrah kepada Allah atas apa yang terjadi dan mengikhlaskannya.

Wait! Kaya yang gampang ya πŸ˜†. Padahal prakteknya sulit. Apalagi misalkan kesulitan yang menimpa kita ini berbarengan dengan kesulitan-kesulitan lain seperti kehilangan sepeda motor ketika anak sedang sakit parah dan suami lagi diluar kota sedangkan kita jauh di rantau orang. Wah yakin deh semua orang yang mengalami pasti langsung lemes seolah hidup terasa mau diakhirkan saja ... Astaghfirullah 😐

Keindahan hidup dalam naungan Islam
Lalu dimana letak indahnya apa-apa yang diberikan Allah itu?

Indahnya terletak di dalam proses pelaksanaannya. Dimana ada nurani yang berbisik dan iman yang menelisik. Sehingga, dengan jalan yang tak diduga dan tak disangka, Allah Subhanawata'ala mengganti apa yang telah kita pasrahkan tadi dengan hal yang jauh lebih dari apa yang kita harapkan. Dan tentunya tanpa bisa kita rekayasa ya 😊

Selama hayat masih dikandung badan, selama itu pulalah kita akan menjalani ujian demi ujian silih berganti. Sunatullahnya begitu. Termasuk urusan membesarkan dan mendidik anak. Dimana ujiannya memberikan sensasi nano-nano yang mampu membuat kita kaum ibu-ibu berteriak "Tidaaaak!!!" atas ujian yang dirasakan hehehehe #sinetronamatyak

Baca juga: "Muslimah Solehah Zaman Now"

Oke! Maaf kalo lebay. Tapi jujur, memiliki anak, membesarkan dan kemudian mendidik mereka merupakan sebuah aktivitas maha dahsyat melelahkan lahir batin buat orang tua, terutama ibu. Iya atau iya? πŸ˜†

Artinya, kedahsyatan aktivitas ini tentunya kata lain dari 'anak adalah ujian'. Dan pastinya kita pernah mendengar donk tentang hal ini di dalam Al-Quran yang berbunyi:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan RasulNya, dan juga janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu padahal kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar." (QS. Al Anfal:27-28)

Dari ayat di atas, kita jadi tahu bahwa anak adalah cobaan. Semenjak anak kita ketahui sebagai ujian atau cobaan dalam kehidupan kita, semenjak itu pulalah seharusnya kita menempatkan penyikapan terbaik dalam menjalaninya. Ketika ada ujian yang dirasakan datang mendera dalam membesarkan buah hati kita, ketika itu pulalah kita kembalikan pada cara yang telah disyariatkan Allah pada kita, diantaranya:

Memperbaiki diri terus menerus Qs. 2:235
Semakin mendekatkan diri kepada Allah Qs. 5:35 
Memperkaya ilmu keislaman Qs. 20: 114
Menjadi contoh atau tauladan untuk anak Qs. 61:2 
Menambah ilmu pengetahuan tentang pendidikan anak Qs. 66:6
Memperbarui niat terus menerus Qs. 98:5
Nikmati prosesnya Qs. 94:5-6
Serahkan hasilnya kepada Allah ta'ala Qs.11:123  

Dari Umar bin Khaththan radhiyallahu 'anhu berkata, bahwa Nabi Solallahu'alaihiwasallam bersabda, "Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi)

Sehingga, jika kita mengembalikan semua urusan kepadaNya, akan jadi indahlah kehidupan kita Insya allah.

Tantangan Era Cyber
Tantangan di era cyber seperti sekarang, mendidik dan membesarkan anak tak sekedar menutup mata dan telinga dari 'hiruk pikuk' omongan tetangga seperti yang dialami oleh orang tua kita terdahulu. Zaman sekarang, kita sebagai ibu dan orang tua harus benar-benar kuat menahan pandangan dan menjaga pendengaran dari 'hiruk pikuk' tak hanya tetangga tetapi juga dunia maya. Sehingga kita mampu menjadi orang tua yang objektif tanpa terintervensi oleh sekitar.

Pada kenyataannya, ternyata intervensi tak hanya datang dari omongan atau tulisan yang negatif saja. Inspirasi dan motivasi yang menyebar luas di dunia maya pun, yang notabenenya merupakan hal positif, bisa memberikan intervensi yang mempengaruhi objektifitas kita sebagai orang tua. Bukan karena kesalahan dari tokoh inspiratifnya, tapi karena jiwa kita yang masih sangat kerdil menerima apa yang menjadi kelebihan orang-orang diluar kita.

Di era digital dimana berita dan informasi dengan sangat mudah kita peroleh, kisah inspiratif dari orang-orang yang berhasil melewati ujian hidupnya tentunya sering kita temui. Banyak diantara tokoh inspiratif ini bahkan mampu memberikan inspirasi bahwa ujian membawa mereka untuk semakin dekat dengan Allah Subhanahuwata'ala.

Termasuk kisah-kisah inspiratif yang datang dari dunia parenting. Geliat menyebar manfaat luar biasa merebak di tengah masyarakat kita terutama dikalangan para orang tua. Yang tentunya bertujuan untuk memberikan inspirasi berharga bagi orang tua lainnya yang bisa saja tengah menghadapi ujian atau masalah serupa.

Namun memang, praktek tak semudah teori yang dibaca atau kata yang diucap. Inspirasi yang didapat pun tak jarang bukannya menguatkan, malah berbalik melemahkan kita dalam menjalani ujian demi ujian membesarkan dan mendidik anak-anak kita.

Ya begitulah. Ketika menjalani kehidupan dengan sekelumit dinamikanya, rasa-rasanya teori sehebat apapun, inspirasi terkeren sekalipun, akan terpatahkan dan terpental jauh-jauh oleh kerumitan hidup kita. Alih-alih solusi yang didapat, yang ada masalah malah dirasa semakin bertambah.

Tatkala kita membaca kisah inspiratif atau membaca sebuah teori parenting dengan maksud memotivasi diri, yang ada kita malah semakin terbanting dan mengkerdilkan diri sendiri. Sehingga tak jarang pada akhirnya banyak para orang tua terutama kaum ibu yang secara tidak sadar memendam kepanikan. Efeknya? Anak menjadi pelampiasan emosi atas kekurangmampuan kita dalam mengelola emosi, terutama dalam mendidik anak.

Sehingga, dalam membesarkan anak, dan menemukan batu sandungan dalam membersamai mereka, bisa berupa terganggunya tumbuh kembang mereka, atau mendapati anak yang suka membangkang. Emosi kita meluap seakan kepala mendidih. Bawaannya ingin marah, antara ingin menyalahkan diri sendiri atas kelalaian yang kita lakukan dan merutuki perangai anak dengan mengomeli mereka. Padahal, semua terjadi bisa saja karena  buah dari kelalaian kita. Semoga Allah Azza wa Jalla mengampuni kita.

Ya, semua bentuk kepanikan itu pasti akan muncul jika kita tidak bertawakal padaNya ...

Berbahagia dengan caraNya
Harapan dan cita sudah barang tentu mengiringi anak-anak kita ketika kita menyematkan nama kepada mereka. Si Fulan yang bernama Amanah, tentunya diharapkan menjadi anak yang amanah, menjaga kepercayaan, bukan sebaliknya.

Baca juga: Bahagianya Memiliki Anak

Namun, pemberian nama tak semudah menjaga harapan dan cita dari nama tersebut. Tak sekedar ucapan dalam doa atau harapan dalam cita, tentunya butuh ikhtiar raga berupa pendidikan dan pengajaran terhadap nilai-nilai agama dan norma-norma. 

Tak jarang, menggantungkan harap dan cita inilah yang kemudian perlahan merampas bahagia kita sebagai orang tua dikarenakan bertindak dan berfikir mendahului apa yang ditakdirkan Sang Kuasa. Secara tidak sadar, nilai-nilai ketauhidan memudar seiring pembandingan demi pembandingan yang kita lakukan.

Oh anak si fulan sudah pintar bicaranya di umur 1 tahun sedangkan anak saya belum bisa bicara di usia 3 tahun. Atau anak si fulan lulus di universitas terbaik Amerika sedangkan anak saya tidak mau kuliah cuma mau bekerja.

Lalu dimana letak bahagianya kita ketika kita disibukkan memperhatikan indahnya rumput tetangga, memperhatikan indahnya hidup orang lain. Dimana letak bahagianya ketika kita sibuk melakukan hal-hal yang membuat hati dan otak kita panas.  Bawaannya baper dan merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung di dunia ini. Merasa apa-apa yang kita lakukan tidak membuahkan hasil dan tidak dihargai.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216)

Maka, berbahagialah dengan cara yang telah ditetapkan Allah Azza wa Jalla. Berbahagialah tanpa ada embel-embel karena manusianya. Karena apa-apa yang kita lakukan di dunia ini semua akan ada perhitungannya dan kembali padaNya.

Berbahagia yang seperti apa? Seperti yang terdapat di dalam firmanNya:

Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali Imran:14].

Motivasi surga sebagai tempat kembali kita adalah motivasi terkeren bebas baper. Jikapun baper kita bisa mencurhatkannya sama Allah ... Sehingga Allah lah yang langsung menurunkan solusi atas kesulitan kita. Sehingga, bahagialah hidup kita In sya allah. 

Akhir kata ...

"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak." (QS. Al Hadid: 20)

Berbangga atas jumlah anak itu kefanaan. Yang hakiki adalah ketentuan Allah atas garis keturunan kita. Sehingga tak ada manfaat yang bisa kita petik dalam sikap membanggakan jumlah keturunan melainkan keturunan itu akan tetap menjadi bagian dari ujian. Maka, bukan jumlah anak yang menentukan kebahagiaan kita sebagai orang tua, melainkan akhlak dan keimanan mereka. Agar setiap doa yang mereka lantunkan untuk kita, menjadi amal jariyah kita.

"Dan orang-orang yang berkata "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. Al Furqon: 74)

Sungguh, indahnya kehidupan ini akan mampu kita rangkai jika kita menjalaninya sesuai dengan tuntunan syariat.

Ada ilmu sebelum datangnya iman, maka pelajarilah Al Quran. Ada adab sebelum masuknya ilmu, maka didiklah akhlak.

Bukan menanti masa dimana sesal  mendatangi kita buah dari menunda-nunda nya kita. Lakukanlah saat ini juga, disaat ilmu telah sampai kepada kita. Tak peduli seberapapun terlambatnya kita. Karena sesungguhnya Allah yang mengatur segalanya, bukan kita. Karena tugas kita hanyalah belajar dan kemudian menerapkannya, untuk diri kita, untuk anak-anak kita. Agar kita menjadi manusia yang bahagia.

Ibu! Bahagiakan dirimu dengan tuntunanNya ... sejahteralah anak-anakmu atas ketetapanNya ...

Yuk berusaha dan bertawakal menjadi ibu dan orang tua yang baik dalam pandangan Allah! 😊

Columbus, 9 Februari 2018

Berikut Alasan Pengguna Instagram Berbagi Foto di Akun Instagramnya

Wednesday, February 7, 2018

Barusan saya habis berbagi foto di akun Instagram (IG) milik saya. Ya iyalah, masa milik orang lain πŸ˜…. Rutinitas berbagi foto di IG ini sudah saya tekuni (bahasanya hahaha) sejak akhir tahun 2012.

Pada tahun 2012, IG merupakan mainan baru buat para pengguna smartphone. Dan di tahun itu pula saya baru mengenal istilah smartphone. Maklum, sebelum dihibahkan HP samsung android oleh Ayah saya, HP saya masih Nokia yang entah seri berapa saya lupa πŸ˜…. Ketika dihibahkan saya ga tau kalo tu HP adalah HP android dan smartphone. Saya hanya tau itu HP bisa nonton You Tube asal ada pulsa dan saya waktu itu belum mengenal istilah kuotaπŸ˜….

Jadi jaman 2012 itu saya banyak ga taunya. Termasuk ga tau apa itu playstore dan download dan aplikasi. Facebook pun kala itu hanya saya namakan Facebook. Tanpa tau si facebook ini kenapa ada di HP saya. Otak saya hanya berfikir bahwa semua itu hanyalah takdir bukan inovasi πŸ˜†

Perlahan, akhirnya saya yang tidak tahu ini pun menjadi tahu. Berawal dari seorang temen yang nyeletuk

"wuiiiih Uni HP nya android. Sini cobain You Tube nya"

Dan menontonlah si teman yang bernama Etong ini (silahkan follow INSTAGRAMNYA, karena doi fotografer handal). Sembari tak henti memuji-muji sinyalnya yang bagus tanpa buffering. Saya hanya mesem-mesem bangga.

Tiba-tiba

"Eh kok dia buffering Un?"

Etong pun mencet-mencet yang kemudian saya ketahui dia mencet *887# (kalo ga salah buat cek pulsa Telkomsel #saya lupaπŸ˜…).

"Un, tadi pulsa nya berapa?"

"Habis diisi Bokap gue Rp.50.000,-. Kenapa?"

"Hehehe ... pulsa lu abis sama gue Un ...." katanya sambil merengek ...

Ya begitulah. Singkat cerita, Etong ini yang bikin saya tau tentang Android dan yang bikin akun IG buat saya serta ngajarin motret, edit, aplot menggunakan smartphone saya kala itu. Cek IG saya postingan pertama ... maka akan keluarlah foto ini πŸ‘‡


Foto hasil karya Etong disaat kami tengah menunggu pesanan steak di sebuah warung steak pinggir jalan.

Itulah sejarah awal saya berbagi foto di IG πŸ˜…. Dimana IG belumlah ramai digandrungi seperti sekarang. Dimana foto yang saya posting saya anggap sebagai jalan saya agar cinta fotografi seperti halnya Etong. Etong pecinta fotografi meski dia adalah mahasiswa tata boga. Tapi dia cinta foto, bukan boga. Dan Etong beruntung, dia punya kamera DSLR. Saya? Punya kamera HP. Tapi memang saat itu saya belum ada ketertarikan soal kamera selain hanya tertarik jadi objek foto nya Etong saja. Yang sering kali bikin Etong males motret gegara saya terlalu banci kamera πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Kenapa? Ga ada yang minta penjelasan soal ini semua ya? Ya udah. Ga papa ... saya cuma mau cerita aja πŸ™„

Dan sekarang, berbagi foto di akun IG seperti yang kita ketahui sudah dimana-mana. Berbagai macam kalangan mulai dari pejabat negara hingga pedagang kaki lima menggandrunginya. Sebut saja pejabat negara yang akun IG nya ngehits yaitu Kang Emil alias Pak Ridwan Kamil walikota nya orang Bandung. Beliau termasuk salah satu atau mungkin satu-satunya pejabat negara yang ngikutin tren kekinian melalui akun IG nya. Rajin posting dan balesin komen. Tak jarang ngadain obral FolBack buat para followernya 😁.

Selain kang Emil ada jutaan orang yang menggunakan IG sebagai media upload foto gratis #ehpakekuotadenk. Nah, tau kah teman-teman apa yang memotivasi orang-orang dalam memposting foto-foto mereka di Instagram? Ga ada kalimat tanya seperti halnya facebook yang bertanya "What's on your mind" sehingga kita akhirnya terstimulus buat nulis kan? Hehehe

Berdasarkan hasil pengamatan saya, ada beberapa alasan yang memotivasi orang-orang untuk memposting foto-fotonya di IG. Apa aja tuuuuuh ...

Kita golongkan alasan-alasan ini ke dalam 7 jenis gallery ya ...

1. Gallery Pribadi

Alasan pertama, orang akan memposting foto-fotonya karena menjadikan IG sebagai gallery pribadi yang memuat foto pribadi. Jadi bisa dikatakan album digital ... yang penikmatnya bisa diatur melalui settingan privasi.

2. Gallery Dagangan

Alasan kedua, orang-orang memposting foto mereka di IG buat promo barang dagangan.

Saya kurang tau sejak kapan IG dimanfaatkan sebagai akun mempromosikan dagangan secara gratis. Berbekal networking follower dan hashtag, banyak akhirnya orang-orang menjadikan IG sebagai akun jualan. Sayang, saya agak ketinggalan gegara sempat mati suri mainin IG dan keasikan FB an ... balik-balik ke IG eh udah rame aja yang jualan hehehe

3. Gallery Ilmu
Alasan ketiga, foto-foto yang diposting buat share ilmu dan info.

Lagi-lagi ga tau ngehype nya kapan. Tapi banyak saya temukan akun-akun yang fokusnya berbagi ilmu dalam bentuk tulisan-tulisan dengan background foto-foto ciamik. Baik hasil jepretan dan editan sendiri maupun nyomot dari GOOGLE. Dan tentunya orang yang memiliki akun jenis begini sepertinya bermaksud mau berbagi ilmu atau info yang dia sendiri senangi. Bisa ilmu agama, info pendidikan, ilmu pengetahuan dan lain-lain.

4. Gallery Penghasilan
Alasan keempat, foto di posting biar jadi selebgram dan berpenghasilan.

Semenjak jumlah follower menjadi patokan terhadap sebuah keberadaan profesi baru bernama selebgram (Seleb Instagram), standardisasi pun diberlakukan. Dulu katanya minimal 1K udah bisa nge endorse. Trus meningkat jadi 5K. Dan terkhir 10K sebagai jumlah minimal follower yang dimiliki biar bisa ngendorse dan jadi selebgram πŸ˜…. Jadi ga perlu dagang barang, cukup perbanyak follower dengan rajin dan share foto-foto cakep, jadi deh ada penghasilan ... (sssst, dan inilah yang membuat bisnis jual beli follower meningkat dan laris manisπŸ˜…)

5. Gallery Inspirasi
Alasan kelima, untuk berbagi kisah dan pengalaman hidup. Karena kisah dan pengalaman dengan disertai foto lebih menarik daripada yang tanpa foto kali ya ...
Bisa juga sih memanfaatkan Blog. Tapi caption IG yang ga sepanjang blog tampaknya lebih menarik buat netizen Indonesia ketimbang blog yang tampilannya dominan tulisan. Berkebalikan dengan IG, dimana foto jadi menu utamanya. Kalo kepo, baru baca captionnya πŸ˜…

Terus bisa juga inspirasi disini inspirasi ide foto, desain rumah, interior, makanan, dan lain-lain.

6. Gallery Review
Alasan keenam, buat ngereview produk atau jasa.

Review produk atau jasa baik oleh selebgram ataupun yang belum jadi selebgram, juga menjadi salah satu alasan orang-orang berbagi fotonya. Baik untuk kepentingan komersil, atau memang senang berbagi review aja karena dirasa manfaatnya juga, misalnya. Seperti review produk-produk skincare, review kamera HP dan bisa juga sebuah jasa seperti salon.

7. Gallery Hobi
Alasan ketujuh, untuk memposting foto-foto yang terkait dengan hobi seseorang. Tak jarang juga melalui postingan yang memperlihatkan hobi seseorang ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk self branding juga.

Jadi misal jika seseorang punya kesenangan dengan dunia fotografi, desain grafis dan lain-lain, memajang hasil karya di akun IG bisa jadi salah satu jalan promosi gratis terhadap bakat kita. Tentunya jadi jalan juga untuk menjalin relasi di dunia nyata jika memang apa yang kita promosikan menarik perhatian investor atau lainnya.

Terus, kamu yang mana? Kalo saya sih gallerynya mix suka-suka πŸ˜† Hmmm ... kalo dirunut dari awal mula IG ini ada ... alasan saya berbagi foto di IG tu jadi bakal 7 poin ini.

1. Berbagi editan hasil jepretan sendiri


contoh poto editan
tapi ga diposting di IG πŸ™ˆ

Karena saya pikir IG itu sejenis komunitas pecinta foto gitu. Dan memang awalnya saya follow-followan sama beberapa akun yang foto-fotonya oke punya. Eh tapi saat itu saya ga paham sistemnya IG. Karena mungkin penggunanya masih sedikit, jadi yang si akun foto yang kece itu dulu sering banget like foto-foto saya πŸ˜… Dan itu bikin saya bangga.
Sekarang, masih sama alasanya terutama setelah saya gabung komunitas @Uploadkompakan. Dimana saya bisa berbagi foto jepretan sendiri plus bisa juga dapet inspirasi dari temen-temen komunitas.

Alasan pertama ini sempet menghilang ketelen alasan dibawah ini πŸ‘‡

2. Berbagi kenarsisan


kejadian hari ini πŸ˜†

Jujur amat ya πŸ˜…. Tapi basically, saya memang narsis. Doyan di foto πŸ™ˆ. Jadi saya tak jarang posting foto diri sendiri yang saya suka. Entah karena backgroundnya atau karena objeknya lagi (tumben) cantik πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Dan alasan yang ini masih berlangsung hingga sekarang. Bedanya, dulu mah foto diri sendiri, sekarang mah udah bareng suami dan anak-anak. Semoga ga pada eneg ya liat foto yang narsis ini. πŸ™„πŸ™ˆ

3. Berbagi Ide


maksain moto padahal kisruh
 jadilah ngeblurπŸ˜†

Maraknya foto-foto ide bermain anak sempet membuat saya bercita-cita pengen jadi ibu-ibu inspiratif yang aktif menciptakan kreasi aktivitas bersama anaknya. Tapi saya nyerah. Alasan yang satu ini membuat diri saya tidak stabil dan mengurangi kualitas kebersamaan saya dengan anak-anak. Sudah bisa beraktivitas dengan anak-anak saja sudah syukur. Kalo ditambah dengan aktivitas sembari motretin anak, saya ga sanggup πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…. Hasil foto yang tidak sesuai harapan sering membuat situasi bermain malah jadi ga karuan #sayamanusiaperfeksionisπŸ˜₯. Jadi malah tujuan utama main sama anaknya tenggelam sama tujuan sampingan yang motret-motret πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

4. Berbagi Cerita
Kadang saya sering juga posting foto di IG sembari berbagi cerita. Macem-macem ... bahkan sekedar cerita BTS nya foto tersebut. Atau pernah juga cerita sebuah pengalaman atau berbagi pengamatan yang kadang caption dan foto malah jadi ga nyambung πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Pokonya suka-suka deh πŸ˜†

5. Berbagi Foto aja
Karena memang IG itu tempat berbagi foto. Ya udah ... kadang alasan saya cuma buat posting aja. Tanpa alasan apa-apa kecuali mungkin karena senang dengan fotonya. Atau kangen momennya. Atau hanya karena lupa belum posting aja πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Pokonya saya mau posting. Udah. πŸ˜†

6. Biar Nambah follower
Ini juga poin kejujuran. Terutama sejak saya aktif ngeblog. Kenapa ngebet pengen punya banyak follower? Buat jadi indikator kebermanfaatan saya. Pengennya alami. Orang follow bukan karena terpaksa karena kenal saya atau alasan non organik πŸ˜… ... tapi karena misal ... foto-foto saya bagus. Atau caption saya inspiratif. Atau lain lain ... Tapi ... ternyata susah ya ... wkwkwkwk. Lha wong memang saya ga punya 'kehebatan' apa-apa yang bikin orang tertarik ngefollow πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Yowes ... organik saja alias natural ... ada yang follow syukur ... ga ada yang follow ya sudah ... di unfollow ya pasrah lah πŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺ

7. Buat promosiin tulisan terbaru
Ngebantu banget sih media sosial buat mempromosikan tulisan terbaru saya. Meski sadar diri sih kadang konten yang saya tulis ga menarik wkwkwkwk. Tapi niatan saya jaga baik baik buat belajar. Menjadi bermanfaat itu urusan belakangan ... ketika ikhlas ... maka manfaatnya kita itu akan menyebar begitu saja tanpa diminta bahkan bisa melebihi usia hidup kita di dunia. Begitu kata orang bijak #aseeeeeek

Jadi, alasan kamu posting foto di IG apa?

Boleh donk bagi-bagi di komen dibawah ini ... hihihi ...

Columbus, 6 Februari 2018




"Muslimah Solehah Zaman Now"

Friday, February 2, 2018

Kenapa judul tulisan ini sayang kurung dalam tanda kutip coba? Karena saya tertarik untuk membahas penggunaan istilah kekinian yang tengah menjamur di Indonesia.

Setuju ataupun tidak setuju karena saya ga minta persetujuan teman-teman πŸ˜…, penggunaan istilah kekinian di berbagai kalangan memang sedang marak. Apa-apa yang sedang kekinian, pasti semua jadi latah menggunakannya. Yang terbaru sebut saja tentang penggunaaan kata Dilan.

Tips Menulis Blog untuk Pemula

Thursday, February 1, 2018
https://www.pexels.com/photo/fashion-legs-notebook-working-5279/

Memilih hidup sebagai blogger (-blogeran) tentunya bukan pilihan mudah #eitdah. Pasalnya, saya jadi harus terus berfikir apa sih yang hendak akan mau ditulis. Dan jujur saja, saya baru beberapa bulan terakhir berani mendeklarasikan diri saya sebagai seorang blogger secara terang-terangan di akun media sosial milik saya (kalo ada akun medsos orang lain yang rela dan mau memuat info diri saya sebagai blogger boleh juga huahahaha). Sebelumnya? Nai nai nai. Saya masih malu-malu meong.

Boro-boro mendeklarasikan diri sebagai blogger. Pamer tulisan terbaru saja saya tebang pilih. Pilih-pilih kira-kira mana tulisan yang isinya layak pamer alias layak dibaca khalayak. Karena ga enak juga kalo isinya cuma curhatan trus saya share di media sosial. Kok saya merasa seperti tidak enak ya. Padahal ya ga pa pa juga. Hak kita kan mau share tulisan dimana dan ke siapa aja. Ini mah saya aja yang orangnya ga enakeun kecuali kalo lagi kumat overconfident nya πŸ˜† Saya bisa share tulisan yang isinya padahal cuma 1 kalimat doank. Dan saya pun akan bahagia jika ada yang ngeklik link tulisan singkat tersebut. #isengyaks

Awal ngeblog, sumber dan ide menulis saya memang berasal dari anak-anak. Segala kerumitan otak dan kepusingan saya terhadap dua bocah lucu ini mampu membuat saya menulis rangkaian curhat ala emak-emak. Emak-emak yang sok tegar mengambil hikmah dari apa yang saat itu tengah membuat dia lieur bin pening. Sampai akhirnya saya tergiring untuk terus berfikir menulis meskipun saat itu saya sedang tidak dipusingkan oleh anak-anak.

Menurut saya, secara tidak sadar, ternyata kebiasaan mencari ide menulis (katakanlah menangkap fenomena) dari prilaku anak-anak ini memberikan efek positif kepada diri saya. Paling tidak saya jadi rajin mikir. Meskipun mikirnya ya ga jauh-jauh dari anak ... anak ... dan anak πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…. Nah inilah dia tips yang pertama. Yaitu ...

Bentuk habits
Yups! Kebiasaan-kebiasaan yang awalannya terkesan maksa dan kok ya kaya ga penting buat ditulis itu ternyata cukup penting dalam menumbuhkan kebiasaan menulis kita. Paling tidak kebiasaan untuk mencari sumber ide untuk menulis jadi terbentuk. Intinya kan, menulis kan? Gimana mau nemu ide kalo si menulisnya aja tak kunjung di eksekusi. 😊 Jadi menulislah! Meskipun cuma isi hati atau bersitan pikiran. Ya seperti yang saya lalukan hehehe ..  Bisa dibilang blog saya di awal itu CHSI banget ... Catatan Hati Seorang Ibu πŸ™ˆ

Setelah beberapa bulan menjalani aktivitas sebagai mom blogger (biar kerasa keren gitu sayanya πŸ˜…), yaitu mom alias emak yang kerjaan sampingannya ngeblog, saya merasakan beberapa tulisan yang saya tulis cukup membantu saya untuk mengingat kembali rasa, pemikiran dan juga pandangan saya terhadap masalah yang saya hadapi saat itu. Yang tak jarang masalah itu terkadang sebenarnya suka berulang. Sehingga ketika membaca  kembali tulisan saya di blog, saya cukup terbantu berfikir jernih dalam mencari penyelesaiannya.

Disinilah saya melihat ada kemajuan yang tak sadar terjadi. Menulis yang tadinya menjadi aktivitas 'pembuangan sampah emosi' sudah berubah menjadi aktivitas 'pemilahan sampah' sebagai solusi. Sehingga menuliskan manfaat atau hikmah dari apa yang saya ... hmmm ... katakanlah masalah, menjadi salah satu sumber dan ide menulis saya. Jadi, tips kedua nya yaitu ...

Latih kepekaan
Melatih kepekaan terhadap apa yang kita alami dan membagikannya sebagai salah satu sumber solusi atau mungkin inspirasi dimana kita sudah merasakan manfaatnya.

Salah satunya tulisan ini. Ide datang tatkala saya tengah mengalami kebingungan hendak menulis apa yang tak perlu referensi dan bolak balik halaman Google. Ya apalagi kalau bukan menulis pengalaman sendiri. Pengalaman apa ya yang bisa dibagi tanpa harus mencantumkan foto sehingga ga harus ngobrak ngabrik dokumen Google photo. Ya sudah! Tercetuslah ide menulis 'Tips Menulis' ini. (dan saya mendadak merasa cemerlang wkwkwkwk ... padahal biasa aja yes πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)

Ya contoh lainnya banyak banget. Salah satunya tulisan tentang "Self Healing Inner Child". Ide menuliskan kembali pengalaman saya menuntaskan wounded inner child saya. Dan ternyata tulisan ini disambut ramai oleh khalayak yang entah sumber pemirsanya dari mana. Mungkin karena bahasan tentang inner child berbahasa Indonesia juga masih sedikit, jadilah tulisan ini ke track sama mesin gugel. Entahlah ... πŸ˜…

Memang, menulis itu pekerjaan yang susah susah gampang. Rasa-rasanya kita akan mampu menuliskan aneka macam pengalaman kita dengan mudah. Tapi ketika cursor sudah berkedip di hadapan layar hp/laptop, ide pun buyar. Kalimat pertama pun tak kunjung tercipta. Kalo pun ada, berakhir kembali diujung kedipan cursor yang baru saja membabat habis huruf per hurufnya.

Sebagai Blogger yang digolongkan sangat sangat sangat dan teramat baru dan amatiran ini, bagi saya tips di atas segala tips adalah satu hal ini. Apa? Ini dia tips ketiga ...

Belajar Menikmati
Kenikmatan dalam memainkan kata demi kata meski tak mampu berima. Meski tak menarik bagi pembaca, katakanlah demikian. Namun menjadi blogger artinya kita menjadi penulis sekaligus pembaca untuk diri sendiri. Tak ada penilaian, tak ada menang atau kalah, dan juga tak ada persaingan. Semua bebasssss ... lepasssssss ... dan yang terpenting kita sendiri harus puassssss. Sehingga menikmati proses menulis itu sendiri menjadi ruh bagi seseorang yang ingin menisbatkan dirinya sebagai seorang penulis. Ketika sudah menikmati, maka yakinlah ide akan bermunculan tanpa bisa dibendung. Dan saya biasanya suka tepar sendiri ketika selesai menulis satu postingan dan bermaksud berhenti untuk istirahat, ternyata otak tak henti berfikir menemukan ide dan merangkai kata demi kata seolah hp atau laptop sedang dihadapan.

Trus kalo ga ada yang baca blog kita gimana? Itu lain urusan. Bahasannya masuk ke Bab TUJUAN πŸ˜†. Berhubung blog saya berawal dari sebuah tujuan 'mulia' yaitu membuang sampah emosi, sehingga saya tak berharap orang lain membaca blog ini. Jadilah saya tak ada urusan untuk itu. Tapi ... itu dulu. Hehehe. Sekarang? Lain ceritalah. Tak mungkinlah saya tulis 'Tips Menulis' ini tanpa berharap ada orang yang membacanya. Ya paling tidak temen-temen di komunitas bacalah ya agak satu atau seratus orang πŸ˜†. Komunitas? Yups! Dan ini dia tips keempat!

Join komunitas blogger
Jaman sekarang eh Zaman denk yang bakunya. Zaman sekarang ... kalo ga join komunitas kayanya berasa ya ruginya. Karena kan pada hakikatnya kita itu hidup berkomunitas dari zaman doeloe nya. Cuman zaman now, dinyaringin aja penamaannya. Misal, Komunitas Emak Emak Pembelajar. Dulu juga ada komunitas emak-emak pembelajar, belajar menerawang nasib orang, belajar menganalisis hidup orang hehehe ... maap becanda ✌πŸ˜†

Yang artinya, kenapa ga kita join komunitas yang jelas dan memiliki manfaat. Seperti komunitas blogger. Meskipun bekal kemampuan menulis kita belum seperti halnya blogger-blogger senior (duh maap pake istilah senior junior ... #feelinggaenak pake istilah beginian πŸ˜…), tapi yang penting kita punya kelompok buat belajar dulu. Dari pada ngabisin waktu nongkrong ga jelas (buat remaja), atau rumpi ga penting (buat emak-emak), atau juga ngopi ga berkualitas (buat bapak-bapak), mending join komunitas kan ... Join komunitas  bisa membuat kita lebih produktif dan positif.

Ya salah satunya join komunitas blogger #1minggu1cerita.

Nah tips kelima berkaitan dengan tips keempat, yaitu:

Paksa diri menulis rutin dan konsisten
Seperti di komunitas #1minggu1cerita, setiap member 'dipaksa' untuk menulis satu minggu minimal satu tulisan. Terserah tulisannya tentang apa dan seberapa banyak kata. Yang penting, 'menulislah walaupun satu minggu satu cerita'.

Tidak mampu satu minggu satu tulisan? Ga masalah! Semampunya kita aja. Yang penting konsisten. Mau satu tulisan untuk dua minggu atau satu bulan atau per dua bulan, yang penting rutin dan konsisten. Namun memang semakin dekat jarak rutinitasnya, semakin terbangun habits baik untuk menulis. Karena otaknya diajak mikirin ide terus. Jadi jam terbang nya menyesuaikan hehehehe

Masih belum muncul ide menulis apa padahal udah praktekin 5 tips di atas?

Rajin-rajinlah Blogwalking
Meskipun cuma jalan-jalan ke satu atau dua blog dalam seminggu dengan memilih tema random di komunitas #1m1c, saya merasakan ide bermunculan lebih cepat. Paling tidak dengan menggunakan ide yang sama dengan tema blog yang sedang kita kunjungi, cukup ngebantu kita untuk tetap produktif dan rutin menulis. Yang penting jangan plagiat aja. Plagiat cuma bikin blog kamu jadi jelek. Mending tulis dengan bahasa sendiri plus ditaburi pendapat dan pengalaman sendiri. Jadi deh tulisan.

Oke deh. Saya rasa enam tips di atas sudah sangat mewakili tips yang lain.

Jika pun misal sumber ide belumlah muncul-muncul juga, barangkali kamu butuh banyak baca. Bisa dengan membaca buku, membaca berita, majalah, bahkan dengan membaca kehidupan pun akan bisa membantu kita dalam menemukan ide menulis.

Yang terpenting berani memulai dan tak gentar dikomentari.

Karena menulis itu adalah proses diri dalam memahami. Menulis juga mampu mengikat memori menjejak sejarah.

Mudah-mudahan kita bisa terus berproses jadi penulis yang sesungguhnya ya ... siapapun yang membaca tulisan ini. Kamu ... iya kamu ... kelak kamu akan jadi penulis berpengaruh! Siapa? Kamu! Saya? Iya kamu! πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

So, tak usah pikir-pikir jauh-jauh soal ide menulis sehingga membuat kamu harus pergi berwisata atau berkuliner dulu baru menulis. Tapi, menulislah saat ini juga! Merdekaaaaaaah!!!!! Kalo tetep ga nemu ide? Mungkin benar, kamu butuh picnic πŸ˜‚πŸ˜‚✌✌✌✌

Columbus, 1 Februari 2018