MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Menelisik Makna Pendidikan: Sebuah Narasi dari Materi Workshop Charlotte Mason untuk Keluarga Muslim

Kamis, 10 September 2020
Pada tanggal 6 September lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah workshop yang diadakan oleh (sebutlah) komunitas Menyemai Hikmah. Nah tulisan di blog kali ini berisi apa yang saya peroleh dari pertemuan sesi 1 workshop ini yang menjadi landasan awal sebelum melangkah ketataran teknis berupa kurikulum.



Charlotte Mason dan Filosofinya
Langkah pertama yang perlu diperhatikan ketika kita ingin mengadopsi metode Charlotte Mason (CM) ini dalam pendidikan keluarga kita yaitu filosofi. Bersepakat dengan filosofi yang diusung CM yang terangkum dalam 20 prinsip CM. Tujuannya apa? Agar keutuhan pemahaman kita terhadap apa yang jadi alasan dibalik kita menerapkan metode ini memiliki akar yang kuat. 

Nah hal yang sangat menarik yang saya peroleh dari materi sesi 1 workshop hari minggu lalu yaitu bagaimana mba Qonita, seorang homeschooler praktisi metode CM memaparkan prinsip tersebut dalam sudut pandang kita seorang muslim. Pekerjaan saya terasa dibantu beribu langkah dalam memahami metode CM sebagai seorang Muslim.

Memang, dari sedikit yang saya baca mengenai pemikiran CM ini, nyaris semuanya ada dalam ajaran agama kita. Mulai dari cara CM memandang anak sebagai manusia utuh yang dalam parenting islam kita ketahui anak terlahir bersama fitrahnya, tidaklah seperti kertas kosong yang siap ditulis, atau playdough yang siap dibentuk.

Apa dan Mengapa
Mengadopsi sebuah metode pendidikan tak sekadar mengadopsi teknis aplikasinya. Dalam CM kita benar-benar diminta merumuskan sendiri apa yang kita butuhkan. Sehingga pekerjaan utama kita ketika ingin mengadopsi metode CM dalam pendidikan keluarga kita adalah dengan menemukan jawaban atas apa dan mengapa kita melakukan sesuatu.

Dalam sesi 1 yang memang dikuras abis selama 2 jam untuk menyamakan persepsi tentang hakikat pendidikan bagi kita sebagai seorang muslim, diperinci begitu mendalam oleh mba Qonita. Beliau menamakannya timeline. Bagaimana kita diminta untuk merumuskan visi misi keluarga berdasarkan timeline kita sebagai seorang Muslim. Masya Allah.

Jika kita sudah mampu melihat timeline tersebut, maka terjawablah hakikat kita sebagai manusia. Setelahnya kita urai lagi komponen yang terdapat di dalam diri kita, yang diumpamakan dengan perumpamaan yang menarik oleh mba Qonita.

1. Nurani yang diumpakan sebagai mahkamah agung
2. Nalar sebagai hakim
3. Kehendak sebagai (duh maaf saya lupa๐Ÿ˜…)

Beranjak ke bagian lain dari tubuh kita, mba Qonita mengajak kita membayangkan bahwa tubuh kita terdiri dari departemen-departemen yang membantu terlaksananya sesuatu dari diri kita. Saya coba ingat-ingat ya. 

1. Departemen pikiran
2. Departemen hati
3. Departemen tubuh
4. Departemen jiwa

Nah masing-masing departemen ini diuraikan lagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Departemen pikiran terdiri dari pejabat dan hasrat
2. Departemen hati terdiri dari cinta dan keadilan
3. Departemen tubuh terdiri dari hasrat atau selera dan dayang
4. Departemen jiwa ga ada di slidenya dan saya agak mulai riweuh pas bagian ini๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜…๐Ÿคฆ

Yang saya tangkap dari pemaparan analogi ini yaitu bagaimana kita manusia selalu memiliki dua sisi yang saling mengontrol. Nurani, nalar dan kehendak tadilah yang berkolaborasi membentuk sebuah keputusan terhadap apa yang menggerakkan diri kita melakukan sesuatu.

Kita ambil contoh dari departemen tubuh yang masih saya ingat. Ada hasrat atau selera dan juga dayang. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kita manusia memiliki hasrat untuk makan (rasa lapar), dayang yang memenuhi hal ini yaitu si indera pengecap kita. Jika kita memenuhi kebutuhan hasrat tadi sesuai dengan kebutuhan, artinya kita tidak diperbudak dayang kita. Namun jika kita terus saja makan sedangkan kita tahu bahwa kita sudah kenyang, namun karena terasa enak dan kita lanjut makan, maka artinya yang jadi pengontrol kita yaitu dayang kita.

Mencoba Merelasikan
Dari secuplik materi yang saya coba narasikan di atas, luar biasa memang mba Qonita meramu analogi-analogi tersebut. Dan setelah saya coba relasikan dengan apa yang saya ketahui sedikit tentang CM dan juga tentang Islam, memang seharusnya seperti inilah yang harus kita lakukan. 

Memahami hakikat manusia, seperti yang kita tahu bahwa di dalam Islam ada hadist nabi yang berbunyi:

Man 'arofa nafsahu faqod 'arofa rabbanu
Kenalilah dirimu maka kamu akan mengenal Tuhanmu

Penjabaran analogi departemen inilah yang saya lihat sebagai langkah awal kita mengenal diri kita, mulai dari tubuh kita (fisiologis, psikologis), lalu pikiran kita, hati dan jiwa kita. Sehingga kita tidak akan bertindak atas nama katanya-katanya. Masya Allah.


Menurut CM, yang saya baca melalui buku mba Ellen Kristy, Cinta Yang Berpikir, memang pengetahuan minimal yang harua dikuasai orang tua adalah pengetahuan tentang fisiologi dan psikologi. Dua pengetahuan yang mengantarkan kita mengenali diri kita. Dan mba Qonita juga memaparkan dalam sesi 1 ini.

Penutup
Banyak sekali relasi-relasi yang dikutip oleh mba Qonita antara pemikiran CM dengan konsep-konsep hidup dalam Islam. Saya akan coba ulas di blogpost terpisah. Semoga narasi ini bisa menjadi jalan saya belajar lebih mendalam lagi.

Batujajar, 10 September 2020

Nb: narasi ini saya buat semampu saya dan berdasarkan apa yang saya olah dari yang saya dengar saja. Jika terdapat kekeliruan mohon koreksinya. Saat materi berlangsung saya tidak berkesempatan mencatat dan juga belum berkesempatan mendengar kembali rekaman zoom nya. Terimakasih ๐Ÿ™.

Cinta Yang Berpikir: Langkah Awal Mengenal Sebuah Filosofi Pendidikan Dari Charlotte Mason

Sabtu, 05 September 2020

Apa yang terpikir ketika mendengar kata filosofi? Tampaknya ga semua orang ya menyukai bidang ilmu ini, saya salah satunya. Namun, tidak menyukai bukan berarti anti atau tidak mau menyentuhnya sama sekali. Maka kali ini, saya beranikan diri mengulas sebuah buku sederhana namun syarat makna, yang berjudul "Cinta Yang Berpikir".




Yuk Review!

Buku yang berjumlah dua ratus empat puluh dua halaman di luar lampiran dan daftar pustaka ini di tulis oleh seorang homeschooler bernama mba Ellen Kristy. Sebagaimana yang tercantum di sampul bukunya, buku ini dikatakan sebagai manual book atau buku panduan untuk mengenal pendidikan karakter yang diusung oleh tokoh pendidikan lawas berkebangsaan Inggris bernama Charlotte Mason.


Buku ini dibagi menjadi tiga bagian yang dibuka dengan prolog sebagai perkenalan awal  tentang pemikiran sang tokoh pendidikan. Lalu ditutup dengan epilog khas filsuf yang mengajak para pembacanya untuk berpikir 'what's next?'. Nah tiga bagian yang terdapat dalam buku ini, menurut saya sangat membantu para pembaca yang tertarik melakukan pendidikan rumah atau homeschooling, terutama yang ingin mengadopsi pemikiran Miss Mason ini. Yuk kita coba review lebih dalam (semoga ga spoiler ya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜…)


Sekilas Filosofi

Di bagian awal, Mba Ellen Kristy pada buku ini membawa para pembaca untuk mengenal, memahami, dan meresapi filosofi pendidikan yang diusung Miss Mason. Filosofi ini bisa dikatakan sebagai rangkuman dari buku-buku yang ditulis Miss Mason kala itu, terutama terkait landasan filosofis metode Miss Mason.

Tentu dengan membaca buku "Cinta Yang Berpikir" ini akan sangat mempermudah proses perkenalan awal kita para pembaca dengan konsep Miss Mason. Mengingat bahasa Inggris sejaman Miss Mason tentu challenging alias susah ๐Ÿ˜….

Sedikit bocoran tentang filosofi Miss Mason, bisa kita lihat dari dua puluh prinsip yang dijadikan pakem pelaksanaan metode Charlotte Mason ini. Apa aja sih? Berikut lima dari dua puluh prinsipnya:

1. Anak terlahir sebagai pribadi yang utuh, bukan lembaran kosong atau embrio yang berpotensi sebagai pribadi utuh.

2. Anak menyimpan potensi menjadi baik atau buruk.

3. Prinsip otoritas untuk hidup teratur dan harmonis

4. Prinsip otoritas berprikemanusiaan namun tegas dan jelas.

5. Tiga instrumen pendidikan yaitu atmosfer, disiplin dan kehidupan.


Masih banyak hal yang diulas dalam bagian ini. Menurut saya, bagian pertama ini benar-benar ngebentuk mindset dan dibacanya ga bisa sekali atau dua kali (ini saya sih ๐Ÿคฆ๐Ÿ˜‚). Karena memang bahasanya itu mempermainkan pikiran ala filsuf, tapi bukan filsud aliran berkelit ya. Yang suka muter2 ga jelas. Mba Ellen dalam bagian awal ini mencoba memantik benak kita untuk berpikir, berpikir dan berpikir. Makanya judul bukunya "Cinta Yang Berpikir" ๐Ÿ˜๐Ÿคซ


Sekilas Kurikulum

Beranjak ke bagian kedua, mba Ellen Kristy mulai memperkenalkan apa saja yang menjadi menu kurikulum dalam pendidikan Miss Mason. Salah satu menu yang paling menarik bagi saya yaitu menu narasi yang memang menjadi ciri khas atau ikon dari metode Miss Mason ini. 


Sekilas menu narasi ini terdengar biasa, yaitu menceritakan ulang apa yang sudah dibacakan. Tapi ada satu teknik yang digunakan Miss Mason yang menjadi aturan main dari aktivitas narasi ini, yang lagi-lagi menurut saya membuat si narasi ini ga jadi biasa, yaitu single reading alias sekali baca. Jadi ga ada tuh istilahnya pas narasi kita minta dibacakan ulang karena alasan ga fokus atau kurang terdengar atau lupa๐Ÿคญ. Narasikan setelah kita dengar teks dibaca sekali baca, narasikan apa yang ada dibenak kita.


Semoga saya ga spoiler ya ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜ฌ


Satu lagi menu menarik dan masih terkait narasi yaitu Living Books. Kalo dibahasa Indonesiakan apa ya ๐Ÿ˜…. 


Namun setelah saya coba resapi semampu saya dari semua pemaparan para praktisi yang saya dengar dan baca. Dan juga hasil merenungi sekaligus merasa-rasai apa sih bedanya living book ini dengan buku-buku lain, bisa saya simpulkan bahwa living book itu adalah sebuah buku yang bisa membangkitkan dan merangsang akal budi kita untuk membuat ide hidup. Ide yang ketika kita selesai membacanya pun akan terus terngiang di benak kita. Ada rasa ingin membahas dan mencari tau lagi dan lagi terhadap apa yang didapat dan diolah oleh pikiran kita setelah membaca buku itu. Sebuah ide yang bisa membentuk sikap kita tentang hidup yang akan kita bawa kemana.


Okeh itu aja ya tentang kurikulum. Yang pasti dibagian ini juga dibahas tentang pelajaran lain dengan metode Miss Mason ini, seperti pelajaran Matematika, IPA, seni dan Bahasa.


Sekilas Komparasi

Bagian ketiga dari buku "Cinta Yang Berpikir ini, mba Ellen menyuguhkan sebuah perbandingan metode pendidikan yang kerap digunakan para homeschooler. Sebuah bahasan menarik yang bakal menjawab tebak-tebakan para pemula seperti saya yang biasanya sudah mengenal terlebih dahulu metode lain seperti Montessori. Ayo siapa yang ga kenal Montessori. Paling ga ibu Montes ini cukup terkenal dikalangan ibu-ibu muda di Indonesia.


Selain Montessori, ada empat metode lain yang disandingkan mba Ellen untuk komparasi, diantaranya:

1. Unit studies

2. Unschooling

3. Classical Education

4. Waldorf


Nah bagi teman-teman yang penasaran dengan metode pendidikan Miss Mason ini, bisa membaca buku mba Ellen ini sebagai perkenalan awal yang cukup intim menurut saya. 


Oh ya, jika teman-teman tertarik mengadopsi metodenya, maka kita harus bersiap membaca buku asli pemikiran Miss Mason yang berjumlah enam buah. Apa aja?

1. Home Education

2. Parents and Children

3. School Education

4. Ourselves

5. Formation of Habits

6. A Philosophy of Education


Gimana? Semoga ulasan ini ga spoiler ya dan menambah rasa ingin tahu. Jikapun tidak homeschooling, menurut saya buku ini sangat membantu kita membentuk kembali filosofi pendidikan yang kita punya. Atau paling tidak menumbuhkan sikap penuh prinsip dalam pendidikan. Tidak hanya bisa diaplikasikan ke anak, metode Charlotte Mason ini bisa juga kita terapkan ke diri kita.


Udah ya reviewnya. Selamat berburu buku dan membacanya!


Batujajar, 5 September 2020


Tulisan ini ditulis untuk aktivitas komunitas 1 Bulan 1 Buku


Jangan Mau Menjadi Ibu

Jumat, 07 Agustus 2020
Entah apa yang melatarbelakangi seorang wanita sehingga termotivasi untuk menjadi ibu. Bagaikan sebuah robot yang didesain untuk tujuan tertentu, seperti itulah wanita yang berkeinginan menjadi seorang ibu. Katanya, jika sudah menjadi ibu maka lengkap sudah rasanya peran sosial yang diperoleh. Jika sudah menjadi seorang ibu maka terbebaslah kita dari tatapan penuh tanya dari lingkungan sekitar. Jika jadi seorang ibu maka sempurnalah kehidupan.


Benarkah?

Sebuah Pola Yang Berulang
Sebagai makhluk yang dikenal dengan rasa tidak cepat puas, mudah iri hati, dan memiliki rasa penasaran yang tinggi, manusia acapkali melihat sesuatu dari sudut pandang terjauh mereka. Kita sering lupa menoleh ke arah terdekat kita dalam menggapai sesuatu.

Hal yang paling sering kita temui dan agaknya setiap manusia melewatinya yaitu ketika ada rasa ingin segera menjadi besar ketika kita masih kecil. Seperti, saat TK, kita ingin segera SD. Ketika sudah SD, kita ingin segera SMP. Saat SMP, kita ingin segera SMA. Ketika SMA, kita ingin segera kuliah. Dan disaat kuliah, tak sedikit yang ingin segera menikah dan seterusnya.

Sebuah pola yang berulang ini bisa dikatakan sebagai wujud karakter bawaan manusia yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi yang disertai dengan rasa tidak cepat puas dengan apa yang sedang dijalani saat itu. Dalam bahasan agama kita sering mendengar dengan "manusia sering khilaf, lupa bersyukur dan seringnya kufur".

Mari Kita Berpikir
Jika kita perhatikan, di dalam Al-Qur'an banyak sekali ayat yang mengisyaratkan kita untuk berpikir. Lebih kurang seratus ayat meminta manusia untuk berpikir dan menghayati sesuatu hal. Artinya, jika kita sudah menyadari pentingnya meneliti sesuatu hal sebelum melakukannya, maka kita tentu akan terhindar dari kesia-siaan apalagi rasa penyesalan.

Merupakan hal yang tabu pada masyarakat kita memberikan bekal pendidikan menjadi ibu bagi anak perempuan kita. Ketabuan ini hasil dari ketidakmampuan membahasakan peran yang begitu kompleks dalam sebuah kalimat sederhana. Sehingga yang terjadi hanyalah sebuah pola berulang yang didapat orang tua dari orang tuanya dengan polesan berbekal rasa trauma atau pengalaman.

Maka tak  jarang yang muncul adalah letupan pikiran bahwa ketika menjadi seorang ibu maka saya akan seperti ini dan tidak akan seperti itu. Tanpa mencari dan meneliti mengapa sikap seperti itu bisa muncul di dalam diri kita. Akibatnya, ketika benar-benar sudah menjadi ibu maka kita akan bersikap 'gagap' dan cenderung 'spontan' ketika menghadapi permasalahan dalam pengasuhan anak. Maka muncullah yang sering disebut pakar psikologi dengan istilah Inner Child.

Ada yang menyadari pola ini dengan cepat, ada yang berlalu begitu saja tanpa sebuah solusi dan sangat 'menikmati' lika likunya. Ada pula yang tidak menyadarinya sama sekali. 

Kompleksitas Manusia
Sekian juta manusia di dunia Allah ciptakan dengan perbedaan segala macam rupanya. Tak hanya fisik, perbedaan karakter dan watak menjadi pembentuk utama kompleksitas kehidupan manusia. Yang dengannya, muncullah budaya dan stereotype yang tercipta. 

Namun dalam pembentukan sebuah keluarga, kompleksitas ini menjadi sangat detail dan dan
Sangat bercabang. Ada faktor-faktor khusus yang melatarbelakangi pembentukan karakter seseorang. Tak hanya sekedar pengaruh lingkungan sosial melainkan hal kecil yang mengiringi kehidupan manusia setiap detiknya. Yang mana hal tersebut tersimpan di dalam memori bawah sadar manusia yang mempengaruhi segala sesuatu terkait manusia itu.

Maka, kemunculan standar sosial berdasarkan standar wajar yang disepakati mayoritas manusia, itulah yang akan memimpin. Maka sudah menjadi suatu hal yang lumrah ketika manusia ingin menjadi ini dan itu selagi hal itu masih dipandang wajar. Namun sayang, manusia lupa untuk mempertanyakan 'mengapa' atas setiap keinginan mereka.

Mengapa Mau Menjadi Ibu?
Kembali ke pembahasan awal, tentang menjadi ibu. Jika kita berani mempertanyakan alasan dibalik mengapa kita, wanita, mau menjadi ibu, apakah jawaban yang kira-kira akan kita kita lontarkan?

Pastinya aneka jawaban akan bermunculan, tergantung pada landasan berpikir masing-masing kita. Ada yang membawa motivasi agama, ada yang mengungkap motivasi sosial, atau ada juga yang sekedar menjalaninya tanpa alasan. 

Tidak ada jawaban mutlak untuk pertanyaan ini. Bahkan Allah pun tidak pernah memaksa kita untuk menjadi seorang ibu. Dan tentunya Allah lah Dzat yang paling berhak untuk menentukan siapa saja diantara wanita di dunia ini yang akan dititipkan tanggungjawab pembentuk peran ibu ini.

Lalu untuk apa kita 'memaksa diri kita' menjadi seorang ibu?

Memaknai kembali tujuan mengapa kita diciptakan, maka disitulah kita bisa memperoleh jawaban atas pertanyaan di atas, yaitu:

ูˆَู…َุง ุฎَู„َู‚ْุชُ ุงู„ْุฌِู†َّ ูˆَุงู„ْุฅِู†ْุณَ ุฅِู„َّุง ู„ِูŠَุนْุจُุฏُูˆู†ِ


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku". (QS. adz Dzariyat: 56)

Jangan Mau Menjadi Ibu
Menjadi ibu, memang sangatlah mudah. Bahkan banyak wanita yang tidak sadar melakukan perbuatan tercela yang mengantarkannya pada peran baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Layaknya anak TK yang tidak mengetahui betapa tidak mengenakkannya SD karena tidak bisa bermain sepuasnya layaknya di TK. 

Namun dengan menjadi ibu, ternyata itulah cara Allah menolong kita para wanita. Menolong untuk tersadar dari kekhilafan dan dan kebodohan kita. Yang menganggap bahwa ibu hanyalah sebuah perubahan peran sosial karena sebuah hubungan biologis. Dengan menjadi ibu, kita menjadi mau berpikir melebihi sebelumnya. Berpikir atas problematika kehidupan yang kita hadapi dengan hadirnya seorang anak.

Maka janganlah sesekali mau menjadi seorang ibu jika cara kita memandang hidup hanyalah sebuah kesenangan belaka. Maka janganlah mau menjadi ibu, jika dunia adalah tujuan yang membuat kita lupa konsep menghamba. 

Batujajar, 7 Agustus 2020

Mengelola Informasi, Mengolah Emosi

Minggu, 12 Juli 2020
Memperoleh informasi di zaman sekarang tidak lagi hanya mengandalkan televisi atau surat kabar saja. Saat ini, dalam satu genggaman sebuah alat berukuran mini kita bisa mengakses berbagai macam informasi tanpa harus menunggu jam berita. Tak hanya berita, bahkan membaca buku atau tulisan-tulisan menarik pun bisa kita peroleh tanpa harus ke toko buku. Dan perkembangan ini menggiring media cetak seperti surat kabar dan majalah untuk menyesuaikan diri dan bertransformasi menjadi media cetak elektronik.


Perkembangan teknologi ini tentunya membawa angin kemudahan bagi kita untuk memperoleh informasi. Dilain sisi, kemudahan ini membuat arus informasi menjadi sangat deras. Ditambah dengan hadirnya media sosial sebagai platform favorit setiap kalangan untuk memperoleh informasi aktual. Selain karena fiturnya yang menarik, juga karena media sosial menyuguhkan variasi informasi yang jauh lebih beragam dari media elektronik seperti televisi.

Informasi dan Orang tua
Sebagai orang tua, kemudahan memperoleh informasi ini tentunya surga dunia bagi kita. Aneka macam informasi terkait anak dan pengasuhan bisa kita peroleh dengan sangat mudah. Seminar, kuliah, workshop dan berbagai macam kelas online untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai orang tua pun bisa dengan mudah kita dapatkan tanpa harus keluar rumah dan meninggalkan anak dalam waktu yang lama.

Semua fasilitas hasil dari kemajuan teknologi ini tentu harus kita sikapi dengan bijak. Ibaratkan tubuh yang kita beri makan, jika terlalu banyak tubuh kita alih-alih menjadi sehat melainkan sakit. Begitu pula informasi, jika terlalu berlebihan bisa menyebabkan informasi memberikan dampak buruk bagi diri kita. Sehingga, pengelolaan informasi dibutuhkan seperti halnya pengelolaan menu untuk asupan makanan ke tubuh kita.

Emosi dan Pikiran
Emosi dan pikiran seperti dua sisi mata uang. Mereka tidak dapat dipisahkan. Pikiran, bisa memberi perubahan pada emosi, dan emosi pun bisa memberikan pengaruh pada pikiran. 

Dalam mengelola informasi, dibutuhkan sumber referensi yang menjadi pijakan atau landasan bagi kita untuk berpikir. Apakah informasi tersebut cocok bagi kita, bermanfaat dan kita butuhkan. Jika memang dirasa dibutuhkan, apakah informasi tersebut akurat dan berasal dari sumber terpercaya.

Lantas apa landasan yang bisa kita jadikan referensi pijakan? Tentunya referensi yang bersifat ideologis  yang menjadi landasan keyakinan kita, bisa berupa kita suci atau sejenisnya.

Contoh Kasus
Ada sepasang suami istri yang baru saja dianugrahkan keturunan. Sebagai pasangan yang baru mengemban amanah sebagai orang tua, mereka mencoba mencari tahu berbagai macam informasi terkait pengasuhan. Mulai dari tahap perkembangan anak hingga hal-hal teknis yang mereka temukan kendalanya disaat mendampingi anak.

Suatu waktu, sang ibu tidak sengaja membaca sebuah tulisan di akun media sosialnya. Tulisan tersebut membahas tentang pentingnya perkembangan bahasa bagi anak usia dini. Dalam tulisan tersebut si Ibu memperoleh informasi bahwa perkembangan bahasa menjadi salah satu faktor yang bisa mengindikasikan kecerdasan otak anak. 

Sesaat setelah membaca tulisan tersebut tanpa melakukan kroscek sumber tulisan, sang ibu pun langsung dilanda kepanikan. Pasalnya anaknya yang berusia 20 bulan belum mengalami lonjakan kosakata seperti di tulisan yang dia baca. Sehingga pikiran sang ibu pun menjadi panik mengkhawatirkan anaknya akan tumbuh tidak cerdas dan normal.

Di tempat yang terpisah, sang suami membeli sebuah buku tentang tahapan perkembangan anak karya seorang dokter tumbuh kembang anak. Sang suami menyadari ada keterlambatan yang dia lihat dari tumbuh kembang anaknya. Namun dia tahu bahwa hal tersebut masih dibatas wajar. Sehingga dia memutuskan membeli buku tersebut agar bisa menstimulus sesuai dengan ilmunya untuk mengatasi rasa khawatirnya.

Apa Yang Dilihat Dari Contoh Kasus di atas?
Ada perbedaan sikap yang mempengaruhi perbedaan prilaku. Pengelolaan informasi dengan melibatkan pikiran yang berlandasan, akan berbeda penyikapannya. Sehingga emosi yang muncul pun bisa terlihat beda.

Pengelolaan informasi seperti apa yang bisa kita lakukan agar bisa mengolah emosi dengan baik? 

1. Menyadari bahwa informasi bukanlah landasan hidup melainkan sumber pengetahuan yang datang dari seseorang. Bisa salah dan bisa juga betul.

2. Melalukan kroscek terhadap setiap informasi yang diperoleh dari berbagai macam sumber. Utamakan sumber-sumber terpercaya.

3. Memiliki landasan berpikir. Apa yang paling mempengaruhi kehidupan kita. Agama kah atau apa? Lalu pelajarilah hal-hal yang membentuk pola pikir kita itu berdasarkan landasan berpikir tadi.

4. Menyadari bahwa informasi bersumber dari anekaragam pemikiran, latar belakang dan tujuan. 

Refleksi Pribadi
Kencangnya arus informasi membuat kita suka lupa menilik diri sendiri terkait cara kita menyikapi sesuatu, termasuk informasi. Apakah kita termasuk yang reaktif atau kalem. Seringnya kita hanyut membaca, baik teks atau sekedar foto dari akun-akun yang kita ikuti. Kemudian secara tidak sadar, akun yang paling kita ikuti akan mendominasi cara pikir kita. Dan tidak menutup kemungkinan kita akan menjadikannya sebagai referensi dan landasan berpikir kita.

Untuk saya pribadi, melakukan sesuatu termasuk dalam mencari sebuah informasi diperlukan ketenangan berpikir. Memastikan diri tidak sekedar ikut-ikutan yang sering membuat kita rapuh dalam bersikap. Dan tentu, sebagai manusia beragama saya menjadikan kitab suci sebagai landasan berpikir, agar ketika hadir sebuah informasi saya bisa bersikap sewajarnya. 

Jika kita contohkan aplikasinya berdasarkan contoh kasus di atas, bisa jadi begini.

Kepanikan sang ibu tadi bisa jadi bersumber dari berbagai macam faktor, bisa dari ketidaktahuan atau obsesi pribadi. Ketidaktahuan akan tahapan tumbuh kembang anak membuat informasi sepintas lewat menjadi sumber yang dia yakini keakuratannya. Atau sikap obsesif sehingga sang ibu menginginkan anaknya tumbuh normal bahkan melejit. Dua hal yang tidak imbang inilah yang menjadikan informasi sebagai bumerang tersendiri bagi orang tua.

Sehingga informasi tak lagi membawa kebermanfaatan, melainkan membawa gejolak emosi yang tentu bisa mengganggu stabilitas keluarga.

Baleendah, 12 Juli 2020

Zaynab Mikayla Alkhansa

Selasa, 12 Mei 2020
Baru beberapa kali saya menuliskan kisah tentang Zaynab di blog ini. Sudah saatnya kita menuliskan kembali cerita tentang Zaynab. Diusianya yang sudah satu tahun setengah.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Dulu impian saya ingin mendokumentasikan setiap tahap tumbuh kembang Zaynab mulai dari usia 0 bulan. Tapi ternyata itu hanya wacana ๐Ÿ˜…. Saya terlalu sibuk dengan urusan pindahan, jastip dan juga eczema Zaynab. Bahkan tulisan tentang kelanjutan eczema Zaynab saja saya masih hutang dua judul ๐Ÿคญ. 

Zaynab Mikayla Alkhansa

Tapi ga papa lah ya kalo pada tulisan kali ini saya ga ngebahas eczema ataupun alerginya Zaynab. Malam ini saya ingin bercerita sedikit tentang karakter Zaynab hingga menginjak usia 18 bulan ini. Tentu saja tulisan ini bukan untuk meningkatkan viewer. Tapi untuk rekam jejak digital seperti halnya Zaid dan Ziad. Yang mana kalo kita googling nama mereka, maka foto-foto mereka pun akan muncul. Semoga Zaynab juga ya ๐Ÿ˜‚.

Tracking Milestone
Beberapa hari  yang lalu, saya sempat melakukan checklist milestone Zaynab menggunakan panduan yang saya peroleh jaman di US dulu. Alhamdulillah 90% Zaynab udah mencapai milestonenya sesuai usianya. Dan PR nya Zaynab agak mirip dengan Zaid Ziad seumuran Zaynab. Yaitu capaian bahasa.

Zaynab Mikayla Alkhansa


Normalnya, lejitan bahasa pada anak biasa terjadi diusia 18 bulan ke atas. Anak akan dengan spontan mengikuti kata yang kerap mereka dengarkan. Bagaimana dengan Zaynab?

Masih tergolong normal alhamdulillah. Sejak usia 16 atau 17 bulan Zaynab sebenarnya menunjukkan peningkatan capaian bahasa melalui kosakata yang dia peroleh. Namun, memasuki usia 18 bulan, beberapa kata mulai hilang. Namun dia masih mengerti apa yang dimaksud dari kata tersebut namun tidak mau lagi memproduksi kata tersebut. Nah ini yang bikin khawatir ๐Ÿ™ˆ

Zaynab Mikayla Alkhansa

Saya coba list kata-kata yang sudah/pernah/lumayan sering muncul dari ucapan Zaynab dan memiliki makna yang konsisten terhadap benda atau sesuatu.

Mpah ๐Ÿ‘‰ tumpah, sampah
Mamam ๐Ÿ‘‰ makan, bobo, dan nenen. Dan sekarang kucing pun jadi mamam, bukan lagi memeng ๐Ÿคง
Tata ๐Ÿ‘‰ mata dan hanya diucap kalo saya lagi ngulek sambel karena dia pernah keperihan mata gara-gara bau bawang
Det ๐Ÿ‘‰ kaget. Hanya akan diucap jika kita kaget dan dia jadi inget cerita saat dia kaget lagi main hp tiba-tiba kepencet Youtube yang videonya suaranya keras
Aaa ๐Ÿ‘‰ manggil semua orang sekarang kaya gitu terus ๐Ÿคง. Padahal sebelumnya sudah bisa panggil Ta untuk Abinya, Ba untuk Abangnya, dan Da untuk Udanya. Dan Aaa ini juga untuk meminta hal yang dia mau ๐Ÿ™„
Pau ๐Ÿ‘‰ untuk apapun jenis cerita yang memiliki suara yang entah apa lalu dia endingkan dengan pau ๐Ÿ™„
Wow ๐Ÿ‘‰ untuk segala hal yang menakjubkan buat dia
Dakda ๐Ÿ‘‰ tidak ada
Papapa ๐Ÿ‘‰ ga papa atau itu apa atau itu siapa
Dan suara-suara aneh yang dia dengar seperti sendawa, kentut, auman, teriakan dll yang spontan terjadi saat kita tengah bercengkrama.

Banyaknya ekspresi ya ๐Ÿ˜…. Bukan kata benda ๐Ÿ˜‚.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Adapun kata atau  kalimat yang dia mengerti tapi belum mau mengucapkannya adalah:

1. Semua anggota tubuh seperti mata, telinga, rambut, hidung, mulut, lidah, gigi, pipi, jidat, tangan, kaki, belly, pipis, pantat.
2. Kalimat perintah seperti tutup atau buka pintu, tolong ambilin bla bla, ajakan terhadap aktivitas tertentu seperti makan, main, pergi, doa, mengaji. Dan kalimat perintah lainnya yang cukup banyak sehingga membuat saya merasa dia sudah sangat dewasa untuk disuruh-suruh ๐Ÿคญ
3. Menggeleng dan mengangguk dengan sangat tepat ketika ditanya sesuatu.
4. Menunjukkan semua anggota keluarga sesuai dengan namanya.
5. Mengadu jika terjadi sesuatu padanya dengan bahasa bayi yang panjang tapi belum mengeluarkan kata bermakna hanya menunjuk-nunjuk suatu tempat atau lokasi peristiwa terjadi ๐Ÿ˜….

Zaynab Mikayla Alkhansa

Kemampuan lain selain capaian bahasa yaitu kemampuan bermain dengan kakak-kakaknya. Seperti bermain petak umpet, baca buku bareng, kuda-kudaan, dan lain-lain. Yang mana saya memandang hal ini sebagai capaian sosial interaksi dia.

Sedangkan untuk kognitif bisa dilihat dari kemampuan dia menunjuk semua anggota tubuh yang kita tanya secara tepat. Selain itu Zaynab juga bisa mengoperasikan benda sesuai fungsinya seperti sikat gigi, sisir rambut, bantal, selimut, buku, kursi, dan lain-lain. Dan Zaynab juga menyukai pretending play dengan boneka-bonekanya. Seperti menyuapinya, mengaja bicara, menggendong, dan lain-lain.

Zaynab Mikayla Alkhansa

Bagaimana motoriknya? Memang anak laki-laki dan perempuan akan signifikan perbedaan terlihat di kemampuan motorik ya. Jika dulu ZaZi motorik kasar majunya pesat, Zaynab justru di motorik halus. Hal ini semacam natural aja ya tanpa stimulus. Sehingga saya harus fokus pada motorik kasar Zaynab justru. 

Kayanya segini dulu deh bahasan tentang Zaynab. Semoga ada lanjutannya biar keliatan juga nih anak perkembangannya gimana ๐Ÿ˜.

Batujajar, 12 Mei 2020
Nb: bagi yang ingin dikirim pdf milestonenya, silahkan tinggalkan komen ya ๐Ÿค—

Ketika Harus Memilih Homeschooling

Minggu, 10 Mei 2020

Homeschooling sebagai salah satu alternatif pilihan pendidikan untuk anak semakin hari semakin dilirik para orang tua. Beragam faktor tentunya, yang membuat para orang tua menjadikan homeschooling sebagai pilihan jalur pendidikan. Seperti faktor eksternal dengan adanya rasa kurang puas dengan sistem pendidikan yang ada, kurang terfasilitasinya kebutuhan anak, atau mungkin juga faktor internal karena tidak ingin melewatkan kesempatan memiliki amal jariyah terbesar.



Selain faktor yang beraneka ragam, persepsi terhadap homeschooling ini sendiri pun beragam. Dalam pembahasan kali ini, homeschooling yang kami maksud adalah homeschooling berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 129 tahun 2014. Dalam peraturan ini disebutkan bahwa sekolah rumah atau homeschooling adalah proses layanan pendidikan secara sadar dan terencana dilakukan oleh orang tua/keluarga di rumah atau tempat dengan suasana kondusif.


Jadi dari Peraturan Menteri tersebut, dalam tulisan ini kita akan membahas tentang homeschooling yang dilaksanakan langsung oleh para orang tua. Bukan homeschooling yang dialihtangankan ke pihak atau lembaga tertentu yang melabeli dirinya sebagai lembaga homeschooling. Karena dua hal ini memiliki konsep yang berbeda.


Banyak dari para praktisi homeschooling menyarankan pelurusan persepsi terhadap konsep homeschooling yang akan diterapkan. Karena jika persepsinya sudah lurus, akan mudah bagi kita untuk mengatasi berbagai macam sandungan di kemudian hari.


Pelurusan persepsi disini lebih kepada mengembalikan konsep homeschooling pada filosofi awalnya, yaitu pendidikan berbasis keluarga. Bukan pendidikan berbasis lembaga alias mengalihkan pendidikan dari pendidikan formal di sekolah ke pendidikan nonformal atau informal lewat lembaga pendidikan.


Nah, selain persepsi tentang homeschooling itu sendiri, sedikitnya ada lima hal penting lainnya yang harus kita ketahui sebelum memutuskan untuk memilih homeschooling.


1. Visi misi keluarga

Dalam menjalankan homeschooling, artinya keluarga menjadi basis utama pendidikan anak sebelum memperluas diri ke ranah yang lain. Menentukan visi misi keluarga menjadi sangat penting agar tujuan pendidikan berbasis keluarga ini bisa terlihat. Dari visi misi keluarga inilah kemudian kita telurkan visi misi dalam mendidik anak.


2. Visi misi pendidikan anak

Setiap keluarga tentu memiliki ruh yang berbeda dalam memberikan pendidikan terhadap anaknya. Ada keluarga yang ingin memperkaya anak dengan ruh religi, sporti, naturalistik, atau ruh keilmuwan.

Merunut dari visi misi keluarga, maka visi misi pendidikan anak membantu kita melihat lebih terperinci apa yang menjadi visi misi dalam pendidikan anak. Seperti halnya menciptakan ruh tadi. Ada keluarga yang mampu menelurkannya sejak awal, namun tak jarang ada keluarga yang terus menerus merevisi visi misi pendidikan anak ini karena karena hendak menyesuaikan dengan perkembangan sang anak.


3. Karakteristik keluarga

Merumuskan visi misi keluarga dan juga pendidikan anak bukanlah hal yang mudah. Selain menuntut proses panjang, perumusan visi misi ini pun meminta kita untuk terus menerus mengenal karakteristik keluarga. Karena pengejawantahan visi misi ke ranah teknis akan sangat menantang jika kita kurang memahami karakteristik keluarga.

Ada keluarga yang mampu menyibukkan diri dengan aneka aktivitas di dalam rumah. Ada keluarga petualang yang tidak mampu melejitkan potensi jika hanya monoton di rumah saja. Dan ada juga keluarga yang mampu beradaptasi cepat dengan perubahan situasi, kondisi dan lingkungan.


4. Metode homeschooling

Setelah mengetahui karakteristik keluarga, barulah kita bisa beranjak untuk menemukan metode homeschooling yang cocok untuk keluarga. Ada banyak metode pendidikan yang bisa kita terapkan dalam homeschooling. Seperti metode Montessori, Charlotte Mason, metode Unschoolingnya John holt atau pun metode campuran dari semua metode yang dirasa cocok dengan keluarga kita.


5. Prinsip-prinsip dalam homeschooling

Ada banyak hal prinsip yang tak kalah penting dari empat poin penting di atas yang harus sudah ajeg dimiliki oleh keluarga homeschooler. Prinsip-prinsip inilah yang nantinya diharapkan sebagai pengokoh keluarga ketika ada kerikil atau batu sandungan. Sehingga kita para orang tua sebagai pelaksana homeschooling tidak mudah goyah dalam menjalankan pilihan pendidikan ini.

Jadi jika diumpakan, empat poin sebelum ini adalah sebagai pondasi, maka poin ke lima ini adalah tiang yang siap menyangga bangunannya. Sehingga ada beberapa prinsip yang perlu kita ketahui agar miliki tiang penyangga yang kuat.


Apa sajakah prinsip-prinsip tersebut:

1. Setiap manusia adalah berbeda, maka hargailah perbedaan sekecil apapun itu. Baik perbedaan antar anggota keluarga, maupun perbedaan antar keluarga homeschooling. Lebih luas lagi, perbedaan antar orang tua dalam memilihkan jalur pendidikan untuk anak-anaknya.


2. Karena kita berbeda, maka tak ada gunanya kita saling membandingkan. Karena prinsipnya perbandingan hanya akan memunculkan pelemahan atau kesombongan. Dan hal ini akan menggoyahkan pondasi keluarga, yaitu jiwa. Ketika jiwa goyah, maka tak matanglah visi misi yang seharusnya bisa dimatangkan. Ketika jiwa goncang, maka tak kuatlah karakteristik keluarga yang melekat. Karena lebih terpengaruh arus luar akibat seringnya membandingkan.


3. Setiap keluarga itu unik, maka ambillah kebaikan dari keluarga lain dan modifikasi penerapannya untuk keluarga kita. Lalui hargailah setiap keunikan yang beragam itu untuk membuka mata lebih lebar bahwa pendidikan anak tak melulu menyoal keluarga kita. Ingat! Ada pendidikan sosial dan moral serta agama yang harus melibatkan elemen horizontal kita sebagai manusia.


4. Sukses dan gagalnya sebuah homeschooling tidak dapat dilihat dalam waktu yang singkat. Karenanya, berhentilah menilai keluarga lain dan fokuslah pada proses keluarga sendiri dengan menentukan sukses seperti apa yang hendak kita jemput.


5. Orang tua adalah cerminan anak, maka pastikan kita sebagai orang tua selesai dengan diri sendiri. Sehingga tidak ada bias yang terjadi ketika kita menanamkan nilai kepada anak. Bukankah Allah tidak menyukai manusia yang tidak melaksanakan apa yang dia katakan?


Semoga dengan 5 poin penting ini, para orang tua yang masih merasa bimbang akan pilihan pendidikan anak-anaknya bisa menjadi lebih mantap dalam melangkah. Pilihan pendidikan apapun itu, semua tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Hanya kita yang tahu pilihan pendidikan apa yang siap kita terima kekurangannya dan puas hati mendapatkan kelebihannya.


Batujajar, 1 Mei 2020


Nb: Tulisan ini dimuat di The Real Ummi dengan judul "5 Hal Penting Sebelum Memulai Homeschooling" dengan editan yang disesuaikan tanpa mengubah isi artikel

Jurnal Ramadan: Percobaan Liquefaksi

Sabtu, 09 Mei 2020
Jujur saja, saya adalah orang tua yang baru saja belajar. Belajar tentang diri sendiri, pasangan, anak dan lingkungan. Sehingga tantangan berat memang buat saya ketika harus belajar sembari membersamai anak-anak belajar. Terutama ketika saya dan suami memutuskan untuk Homeschooling.


Seperti yang pernah saya tuliskan di sebuah artikel (saat tulisan ini dibuat tulisan tersebut belum publish di website komunitas yang saya ikut), saya meyakini bahwa tak hanya anak yang unik, masing-masing keluarga pun unik. Sehingga dari hal inilah saya mulai menipiskan berbagai macam perasaan tak mampu membersamai anak belajar. Karena hakikatnya sudah sangat jelas. Keunikan keluarga kitalah wadah utama tempat belajar kita.

Ya! Kita! Semua anggota keluarga. Tak hanya anak melainkan juga orang tua. Kita semua sedang dan akan terus belajar.

Dari hal inilah saya coba melihat dan masuk dengan sangat perlahan tentang cara yang bisa saya gunakan agar tujuan pendidikan anak yang saya impikan tercapai. Apakah itu? Saya berharap anak-anak bisa menjadi pembelajar mandiri yang selalu bersemangat mencari ilmu. Dan tentu kuncinya ada pada diri kita orang tua. Dengan cara terus menerus belajar. Tak peduli anak-anak ngeh atau tidak.


Nah pagi ini, anak-anak yang memang tipe random learner memergoki saya tengah menonton video liquefaksi yang terjadi di Sulawesi. Sengaja tidak saya stop videonya seperti biasanya, karena video ini adalah pengetahuan. Dan benar saja, mereka bertanya panjang lebar tentang peristiwa tersebut tak ada habisnya. Karena saya harus berbagi perhatian dengan Zaynab, saya pun menawarkan aktivitas outing untuk melakukan mini experiment tentang peristiwa liquefaksi ini.

Berbekal informasi singkat dari sebuah video yang kami temukan di google, saya mulai kebayang percobaan seperti apa yang bisa kita lakukan. Padahal tadinya saya ragu apakah anak-anak akan tertarik atau tidak. Dan alhamdulillah memang mereka anak-anak alam yang paling seneng kalo diajak keluar memperhatikan alam sekitar.


Terkadang kita suka terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa oh kita tidak mampu atau anak tidak mau. Padahal mungkin kita hanya butuh waktu untuk melihat sesuatu lebih mindfull. Karena sesungguhnya dibalik ketidaknormalan kondisi tetap ada pembelajaran di dalamnya. Makanya jangan langsung patah semangat dulu jika pancingan yang kita berikan untuk anak agak kurang mempan. 

Perlahan meski tidak terlihat, tapi satu persatu aktivitas sederhana dalam keluarga kami yang sangatlah baru di dunia homeschooling ini memperlihatkan polanya. Jika berbicara hasil agaknya terlalu dini. Sehingga saya memang berfokus pada pola yang bisa dibentuk dalam keluarga kami untuk membawa anak-anak menjadi pembelajar mandiri.

Oh iya, bagi teman-teman yang ingin melakukan percobaan liquefaksi ini, alat dan bahannya sangatlah mudah. Ga perlu beli-beli atau preparasi lama. Saya coba catatkan semoga bermanfaat.

1. Siapkan satu wadah untuk media yang akan diisi kerikil dan tanah
2. Siapkan sendok atau sekop kecil untuk memudahkan memindahkan tanah
3. Sediakan air secukupnya untuk memberikan efek becek pada tanah
4. Siapkan benda yang ingin dicobakan terkena dampak liquefaksi, seperti mobil-mobilan atau mainan lainnya.

Caranya:
Perkenalkan kepada anak bahwa struktur tanah yang selama ini kita injak terdiri dari beberapa lapisan. Untuk percobaan kita buat dua lapisan saja. Lapisan bebatuan sebagai dasar, dan lapisan tanah di atasnya. Di dalam tanah juga terdapat air. Disini kita juga bisa menjelaskan dari mana air yang selama ini mereka pergunakan untuk mandi dan lain-lain. Jika perlu buatkan sketsa sederhana mengenai struktur tanah ini.

Lalu, siramkan air ke dalam wadah karena tanah memiliki air di dalamnya. Nah peristiwa liquefaksi terjadi ketika adanya perubahan kepadatan tanah akibat sebuah peristiwa seperti peristiwa gempa bumi. Yang menggeser struktur tanah bagian dalam, seperti kerikil tadi yang menyebabkan air tanah naik ke permukaan dan membuat tanah kehilangan kepadatan dan kekuatannya. Disaat inilah tanah seolah bersifat seperti air. Bisa memiliki gelombang sepertu air laut dan mampu menghanyutkan atau menenggelamkan benda yang ada di atasnya.

Mudah-mudahan bermanfaat ya dan anak-anak jadi terpancing daya berfikir kritisnya. Semakin banyak mereka bertanya, semakin bermakna pembelajaran yang kita suguhkan.

Batujajar, 6 Mei 2020

Jurnal Ramadan: Kesedihan Pertama Selama Pandemi

Rabu, 06 Mei 2020
Hari ini berjalan agak sedikit drama. Pertama kalinya Zaid curhat kalo dia sedih cuma di rumah aja. Ga bisa main ke taman, ga bisa ngaji ke masjid lagi dan ga bisa jalan-jalan. Saya? Nyesek donk dengernya. Mana memang kebetulan saya juga lagi merasakan hal yang sama.


Memang kami alhamdulillah masih dalam batas normal. Hanya butuh refreshing dikit aja sekedar jalan pagi atau belanja kemana. Tapi karena khawatir ga bisa ngontrol gerak anak-anak jadilah saya batasi diri untuk benar-benar ga berpergian ๐Ÿ™„.

Situasi ini untungnya bikin saya rada mikir untuk menyampaikan ke Zaid bahwa kita tetap harus bersyukur karena masih bisa sesekali keliling-keliling pake mobil. Sedangkan orang lain yang harusnya kerja jadi ga bisa kerja. Boro-boro mikirin kesenangan, mikiran makanan yang akan dimakan aja mereka udah susah.

Meski mencoba sedikit untuk mencerna, Zaid agak sedikit tenang. Ditambah ketika saya minta dia untuk memperbanyak doa apalagi lagi bulan Ramadan dan dia pun puasa. Langsung dia tengadahkan tangan sambil komat kamit. Meski mungkin dia sendiri ga terlalu paham dengan situasi sekarang, paling ga dia bisa tenang sementara. Tinggal saya yang harus mencari cara agar anak-anak bisa menikmati masa karantina ini dengan minim rasa sedih.

Berhubung sepuluh hari kedua adalah masanya pengampunan, jadilah saya agak mengurangi intensitas bergadget. Jadilah target 1 jurnal 1 hari agak mandeg dan memendek hehehe.

Semoga Allah segera angkat virus Corona dari muka bumi dan melimpahkan kembali hidup yang normal tanpa wabah untuk kita umat manusia.

Batujajar, 6 Mei 2020

Jurnal Ramadan: Good Deeds Calendar ZaZi

Memasuki hari ke 13 Ramadan, mari kita liat pelaksaanaan Good Deeds ZaZi selama 12 hari puasa ๐Ÿ˜. Tadinya mau dievaluasi per 10 hari. Tapi karena ada evaluasi besar, jadilah untuk good deeds diundur saja.


FYI, selama Ramadan kita mempersiapkan 5 perbuatan baik yang ditawarkan untuk ZaZi, yaitu:
1. Nyuci piring
2. Nyuci baju
3. Bersihin meja belajar
4. Ngasuh Zaynab
5. Nambah hafalan AlQuran


Gimana pelaksanaannya?

Mereka masih belajar kecuali hafalan dan beresin meja. Untuk mencuci piring mereka cenderung gampang tapi untuk beberapa piring saya bantu karena takut pecah. Sedangkan nyuci baju kan cuma pencet-pencet tombol doank. Dan aslinya mereka kecewa karena mereka ngirain nyuci pake sikat ๐Ÿ˜…. Tapi saya ga kasih karena malah nambahin kerja saya ๐Ÿ™ˆ. Untuk ngasuh Zaynab makin hari mereka makin dewasa cara ngasuhnya. Terutama Zaid. Kalo Ziad memang suka gelut sama Zaynab ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜….


Kenapa sih cuma 5 good deeds nya? Karena kita targetnya adalah pembiasaan. Karena anak-anak tipe yang ga terlalu perhatian untuk hal baru. Jadi kalo terlalu variatif malah ga nempel ke mereka. Jadilah kita menyesuaikan saja dengan karakter anaknya.


Trus rewardnya apa? Aslinya kita kasih reward snacking untuk setiap deed yang dilakukan. Tapi kesini-kesini mereka ngerjainnya malah ga inget reward itu. Mereka malah fokus ke stickernya udah nempel apa belum ๐Ÿ˜…. Jadi si cemilan kita makan bareng-bareng deh tanpa batas ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ˜‚.

Alhamdulillah meski ga terlalu smooth tapi penerapan good deeds selama Ramadan ini paling ga bikin mereka jadi bertanggungjawab terhadap beberapa pekerjaan rumah. Mereka juga jadi lebih peduli terhadap rutinitas keluarga. Jadi meski good deeds nya gampang-gampang, dengan mereka inget apa job mereka hari ini aja itu sudah capaian bagi saya. Tinggal pembiasaan terus menerus hingga akhirnya mereka inisiatif terlibat tanpa harus ada jadwal gooddeeds.

Batujajar 5 Mei 2020


Jurnal Ramadan: Kebaikan Itu Menular

Senin, 04 Mei 2020
Ga hanya Covid-19 aja yang menular. Kebaikan juga bisa menular.

Brownies Dari Tetangga Misterius ๐Ÿคญ

Dua hari begadang karena demi demi ikut wisuda virtual suami membuat tubuh saya agak sedikit eror. Baru saja kemaren menuliskan evaluasi 10 hari pertama yang bisa dikatakan lancar. Hari ini kontan ujiannya meningkat ๐Ÿ™ˆ.

Tapi saya tidak akan bercerita tentang ujian hari ke-11 Ramadan saya. Justru saya mau bercerita tentang kebaikan yang menular. 

Mundur Dikit ke tahun 2016
Pada tahun tersebut, saya baru saja merantau ke US sekitar bulan Juni akhir. Ceritanya, saya dan keluarga beserta teman suami dan juga keluarganya mengagendakan silaturahim ke salah satu rumah senior di kota lain. Saya yang saat itu pemain baru dengan aneka adaptasi tidak terlalu mempersiapkan apa-apa. Baik itu bekal perjalanan. Maupun menu makanan untuk teman suami yang menginap di rumah.

Labu kuningnya saya olah jadi talam

Memang saya masih adaptasi dengan bahan makanan di US. Sehingga saya hanya menyiapkan mie ayam ala-ala saya tanpa contek resep ๐Ÿ˜… plus kalo ga salah salah rendang yang juga ala-ala saya. 

Nah setiba saya di rumah senior tadi, betapa malunya saya mendapati beliau menjamu kami dengan sungguh luar biasa. Padahal kedatangan kami bisa dikatakan mendadak karena memang tanpa rencana. Sedangkan kedatangan teman suami saya untuk menginap di rumah sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Belajar dari pengalaman tersebut, saya pun bertekad ingin seperti beliau yang memuliakan tamu dengan sungguh luar biasanya.

Menjadi Baik Itu Berat
Tekad kuat seiring dengan ujian yang berat. Ternyata memiliki niatan mulia itu tak semudah yang saya bayangkan. Ada saja kendalanya. Mulai dari waktu, keuangan, dan juga tenaga. Sehingga untuk menjadi baik dengan salah satunya memuliakan setiap tamu yang datang ke rumah menjadi perjalanan panjang untuk saya hingga akhirnya benar-benar menikmatinya. Tanpa merasakan sebuah beban berarti yang berasal dari bisikan syaitoni ๐Ÿ™ˆ.

Baju dan Kerudung semua pemberian
Tanpa ada sebuah momen


Kembali ke Hari ini
Dan hari ini, saya mendapati kembali kebaikan yang menular itu. Tiba-tiba saya mendapat kiriman labu dari tetangga yang baru saja beres panen kebun depan rumah kita yang memang masih rumah kosong. Tak selang berapa lama, tiba-tiba ada yang mengantarkan brownies yang ternyata berasal dari tetangga saya semasa ngontrak sebulan di blok sebelah. Masya Allah. Selain itu, kemaren malam seorang adik kelas semasa SMA berkirim baju untuk Zaynab for free.

Jujur, mereka datang bertubi membuat saya speechless dan "woi Put! Lho udah ngasih apa???"

Begitu ringannya orang-orang untuk berbagi ditengah kesempitan. Dan tentu saja hal ini membuat saya yang masih belajar untuk ringan langkah dalam berbagi hal-hal kecil semakin bergelora. 

Tak jarang kan ketika kita hendak berbagi, muncul saja keraguan akan kekhawatiran ini dan itu. Khawatir orang yang kita beri tidak suka, khawatir tidak terpakai, khawatir terbuang, dan khawatir lainnya yang hanya datang dari dugaan-dugaan tanpa landasan. Sehingga membuat kita jadi urung untuk berbagi.

Kebaikan dalam berbagi, terutama dalam kondisi sempit merupakan kebaikan yang bisa mengasah keikhlasan kita. Mungkin tidak akan kita rasa, namun perlahan akan semakin lembut hati yang memupuk asa akan semangat menebar kebaikan. 

Jadi bener kan ya kalo kebaikan itu menular. Karena jika kita memiliki orientasi persaingan akhirat, dijamin kita tidak akan tenang jika tak pernah berbagi sama sekali terutama dalam kondisi sempit.

Semoga Ramadan mengasah kebaikan yang kita punya dan Allah menambah amalan kebaikan baru untuk kita. Selamat menikmati prosesnya!

Batujajar, 4 Mei 2020

Jurnal Ramadan: Evaluasi 10 Hari Pertama

Minggu, 03 Mei 2020
Memasuki hari ke sepuluh Ramadan, saatnya kita evaluasi!!! ๐Ÿคง๐Ÿคง๐Ÿคง


Sebagai ibu tiga anak dengan status ibu menyusui, jujur saja saya agak deg-degan menyambut bulan Ramadan. Tadinya saya mau menyampaikan ini di tulisan jurnal Ramadan yang pertama. Tapi saya urungkan karena ingin melihat setelah sepuluh hari pertama apakah saya masih merasa deg-degan atau tidak.

Kenapa sih deg-degan? Karena saya adalah tipe busui (ibu menyusui) yang memiliki air susu pas-pasan. Jadi ga ada tuh yang namanya air susu meluber dalam sejarah per-breastfeedingan saya ๐Ÿ˜….

Flashback Dikit
Tahun 2019 saya blas tidak puasa Ramadan sama sekali. Selain faktor merasa ASI pas-pasan, Zaynab saat itu masih eczema. Tidurnya tidak nyenyak berefek ke jam tidur saya yang juga tidak berkualitas. Sedangkan ASI saya sangat bergantung pada kualitas istirahat saya (instead of food). Jadi saya ambil keringanan saja. Terlebih tahun lalu saya masih di US yang mana jam puasanya 2 jam lebih lama dari di Indonesia.

Berkaca dari pengalaman tahun lalu itulah saya deg-degan. Tapi eh tapi. Tahun sekarang kan banyak faktor yang tidak ada. 
1. Zaynab alhamdulillah sudah tidak eczema
2. Pola tidur Zaynab bagus
3. Sudah komunikatif
4. Jam puasa tidak selama di US
5. Makanan mudah didapat ๐Ÿ˜

Tapi lagi, saya tetep deg-degan. Hahaha. Karena saya khawatir saya ga sanggup puasa dan itu akan mengganggu puasanya ZaZi. Saya khawatir Zaynab lemes seperti halnya saat saya mencoba latihan puasa sebelum Ramadan. Saya khawatir Zaynab rewel dan stabilitas aktivitas jadi terganggu. Stabilitas keluarga pun terganggu

Bismillah!
Alhamdulillah saya teringat perkataan seorang teman. Rasa khawatir itu datangnya dari syaitan. Mintalah kepada Allah agar diberi kemampuan. Karena sesungguhnya apa yang kita lakukan di dunia ini semua terjadi atas kehendak Allah!

Jleb! 

Akhirnya, dengan kekuatan keyakinan saya mencoba untuk memperkuat diri akan hal itu. Jika pun akhirnya saya tidak sanggup, semoga diberi Allah jalan keluar terbaik. #edisisolihah ๐Ÿ™ˆ

Mari Evaluasi!
Dan inilah dia evaluasi 10 hari pertama. I made it!!! ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ Tanpa halangan dan rintangan yang berarti. Dan tentunya semua ini terjadi atas izin Allah dengan kolaborasi manis manja dengan suami dan ZaZi hihihi. Eh ada peran Zaynab juga dalam keberhasilan puasa 10 hari ini ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜.

Biar lebih enak dibaca, saya coba bikin per poin tantangan yang saya hadapi dan solusi yang saya coba lakukan sebagai bentuk evaluasinya yaks ๐Ÿ˜

1. Manajemen waktu
Selama Ramadan tentunya kita memiliki pola keseharian yang berbeda dari hari biasanya. Meskipun di hari biasa saya terkadang memulai memasak sebelum subuh seperti saat Ramadan. Namun saat Ramadan mau tidak mau harus setiap hari. Sedangkan kalo diluar bulan Ramadan bisa semaunya saya aja hehehe. Disesuaikan dengan kondisi tubuh, kurang tidur atau cukup tidur.

Ramadan, meski kurang tidur, mau tidak mau saya harus tetap bangun untuk preparasi sahur. Ada dua bocah yang sedang semangat-semangatnya belajar puasa. Jika saya ngikutin rasa malas, hmmm gagal donk suri tauladan yang baiknya. Wkwkwkwk.

Tapi saya juga tidak mau membohongi diri. Jika saya kurang istirahat, kuantitas ASI menurun. Jika saya kurang istirahat, tubuh bisa drop dan bakal gampang kumat bersin-bersinnya. Sehingga, untuk mengatasi situasi seperti ini jika terjadi, saya komunikasikan dengan partner hidup alias suami. Tujuannya agar suami bersiap diri menggantikan posisi saya untuk preparasi sahur, mendampingi ZaZi belajar atau sekadar membantu menyicil pekerjaan rumah yang bisa dihandle oleh suami.

Selain itu, saya juga mengkomunikasikan ke ZaZi bahwa kondisi ibu menyusui itu akan merasakan lapar setelah bayi menyusu. Sehingga in case saya ga kuat dan harus buka puasa, saya harap ZaZi paham. Dan alhamdulillah hal ini belum kejadian dan jangan sampe kejadian ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ.

Hal lain yang saya lakukan agar waktu bisa berjalan efisien yaitu dengan membuat schedule keluarga yang sudah saya bahas di tulisan jurnal Ramadan hari pertama. Tujuan pembuatan schedule ini lebih untuk membantu saya dan suami bisa tektok berbagi tugas. Yang mana intinya adalah, agar stabilitas keluarga terjaga. 

Apa indikator keluarga stabil versi keluarga kami?
* ZaZi produktif
* Zaynab kooperatif
* Urusan dapur selesai
* Urusan pendidikan anak kepegang
* Urusan hidup lainnya juga tidak terbengkalai seperti pemenuhan kebutuhan ruhani 

2. Manajemen ASI
Tidak hanya waktu yang menjadi isu utama kekhawatiran saya. Tapi juga ASI. Meski Zaynab sudah 18 bulan, tapi Zaynab belum menemukan minuman lain pendamping ASI seperti halnya ZaZi dulu. Kenapa? Karena Zaynab alergi susu sapi. Sehingga saya tidak bisa memberlakukan hal seperti halnya ZaZi dulu. 

Sebagai bentuk usaha, saya memperkenalkan Zaynab susu kedelai buat membantu saya mengalihkan Zaynab dari mengASI. Tadinya saya pesimis anaknya mau. Karena Zaynab termasuk anak yang picky. Ternyata alhamdulillah anaknya suka. Namun memang satu kotak kecil susu kedelai untuk dua hari ๐Ÿ˜…. Beda banget kalo dikasi ultramimi. Satu hari bisa dua kotak ๐Ÿ˜…. Tapi sehabis minum ultramimi, bibirnya jontos. Malamnya sibuk ngegaruk ๐Ÿคง.

Nah selain mengalihkan ASI ke minuman pengganti, saya juga mengalihkan jadwal ASI Zaynab dengan kesibukan bermain. Bukan permainannya dia yang saya siapkan melainkan aktivitas untuk ZaZi. Karena Zaynab anaknya nempel banget ke ZaZi. Semua hal yang dilakukan ZaZi dia ikutin ๐Ÿ˜….  Jadi kalo ZaZi sibuk dan dikondisikan sejak awal agar bantu Umi ajak Zaynab main, maka Zaynab bisa lupa dengan keinginannya untuk breastfeed.

3. Manajemen Dapur
Urusan masak memasak selama Ramadan bagi saya juga masuk isu yang bikin khawatir. Lagi-lagi karena ada dua bocah yang tengah semangat belajar puasa. Sehingga sebagai seorang ibu yang lembut hatinya ๐Ÿคช dan ingin anaknya bahagia dan bersemangat, jadilah saya berfikir untuk membuat makanan sesuai dengan apa yang mereka mau. Dan tentu ini menantang๐Ÿ˜…. Karena ZaZi itu sukanya makanan yang ga ada bahannya di kulkas. Jadilah sebelum Ramadan saya persiapkan menu yang ga banyak dan susah, tapi itu bisa bikin ZaZi semangat. Yaitu pizza!!

Beruntungnya, kakak pertama saya lagi gandrung praktek di dapur dengan kondisi dapur 11 12 dengan dapur saya alias ga punya kecukupan alat masak karena kami sama-sama anak baru pindah ๐Ÿ˜‚. Tapi kondisi saya lebih tragis sih (mau dikasihani donk qaqaaaa). Jadi saya tinggal contek di IG story kakak saya resep dan cara membuat pizza teflon. Dan yey! Anak-anak suka.

Selain itu, roti dan donat adalah menu lain yang alhamdulillah gampang dapetinnya ๐Ÿคญ. Roti tinggal beli yang lewat depan rumah. Donat tinggal bikin karena udah latihan sebelum Ramadan ๐Ÿ˜๐Ÿ˜Ž.  Tinggal mikirin modifikasinya. Maklumin ya, anaknya anak Amerika ๐Ÿคง. Meski perlahan mereka mulai suka masakan Indonesia seperti pical alias gado-gado alias lotek atau apalah namanya saya ga bisa bedain ๐Ÿ˜‚✌๐Ÿผ.

Apa cing namanya?

4. Manajemen tidur
Nah ayo! Yang biasa tidur lagi sehabis shalat subuh??? Di Ramadan kali ini, saya bertekad untuk tidak melakukan hal tersebut. Kenapa? Karena saya ga pengen ZaZi punya habits seperti itu. Tapi eh tapi, tantangannya adalah sang Princess bernama Zaynab. 

Tapi dalam pelaksanaannya, alhamdulillah ZaZi memang tipe anak yang kalo udah bangun, ga akan tidur lagi. Bahkan untuk nyuruh mereka tidur siang aja susah ๐Ÿ˜…. Jadi alhamdulillah bada subuh mereka langsung produktif menggambar. Sempat selama Ramadan kedua, ketiga dan keempat kami mengalihkan aktivitas menggambar dengan menonton siaran langsung khutbah untuk anak dari Noor kids yang pernah saya review di jurnal Ramadan hari ketiga. Tapi ternyata agak kurang bagus untuk ZaZi terpapar screen di pagi hari. Sehingga kami alih jadwalkan acara noor kids ke bada Ashar dan bada subuh tetap dengan menggambar atau eksplorasi buku.

Untuk saya sendiri, tidur sehabis subuh hanya bila Zaynab menolak bangun ๐Ÿ˜…. Ya mau ga mau saya bablas tidur bareng Zaynab wkwkwkwk. 

5. Manajemen aktivitas
Karena ZaZi tidak sekolah formal plus memang masih pandemi juga, ada kekhawatiran bahwa ZaZi bakal ga beraktivitas bermakna. Sehingga, selain membuat schedule keluarga, saya juga menyiapkan 3 aktivitas dalam satu hari yang bisa mereka laksanakan dengan atau tanpa saya atau abinya. 

Dalam pelaksanaannya, ZaZi lebih memilih menciptakan aktivitas mereka sendiri ๐Ÿ˜…. Jika kami berhasil memberikan pancingan menarik, barulah mereka tertarik melakukan aktivitas yang sudah saya list. Dan sejauh ini, ZaZi memang masih menyukai aktivitas fisik ketimbang otak. Jikapun ada aktivitas kognitif yang mereka mau, butuh waktu cukup lama untuk membawa mereka 'in' . 

Nah itu 5 hal yang membuat saya deg-degan apakah bisa berpuasa dengan baik, aktif produktif ataukah tidak. Dan alhamdulillah 10 hari pertama begitulah hasil evaluasinya. Bisa dilihat dari 5 poin di atas.

Nah sebagai tambahan, kekuatan keyakinan seperti yang saya singgung di atas memang berefek ya ke anak. Zaynab alhamdulillah tidak terlihat lemes. Bahkan anaknya cenderung kooperatif. Jika pun ada kendala, alhamdulillah bisa terlewati. Semua ini terjadi atas izin Allah. Yang membantu saya memiliki pemikiran untuk mengkomunikasikan segala sesuatunya kepada seluruh anggota keluarga. Termasuk Zaynab. 

Jadi bener ya ternyata kata orang-orang. Anak itu meski belum bisa ngomong, tapi ngerti kita ngomong apa. Dan saya dulu ga ngerasain hal itu di jaman ZaZi ✌๐Ÿผ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ. Kayanya dulu saya tu belum sepenuh hati jadi ibu ๐Ÿ˜ญ. Tapi alhamdulillah ZaZinya bertumbuh menjadi anak penuh pengertian. 

Semoga usaha-usaha kecil untuk memberikan pendidikan terbaik buat anak selalu di ridhoi Allah ya.

Jurnal ini ditulis sebagai catatan pribadi. Jika ada yang nyasar (saya promote di IG sih๐Ÿ˜…), mudah-mudahan ada manfaatnya ya. Ga ada gading ya ga retak. Asal jangan gigi aja retak duluan ๐Ÿ™ˆ. Udah ah!  jurnal Lumayan panjang kali ini. 

Batujajar, 3 Mei 2020


Jurnal Ramadan: Yang Terbaik Wisuda Virtual

Sabtu, 02 Mei 2020
Aslinya saya malam ini lagi dijangkiti virus malas nulis. Rencananya mau nulis besok pagi aja karena malam ini udah ngantuk. Tapi udah dibawa tidur kok ga tidur-tidur. Mungkin karena saya takut Pak Topik (suami saya) ketiduran. Sedangkan jam 12 malam ini akan ada wisuda virtual di jurusannya.



Kehadiran Covid-19 ini tentunya diluar dugaan kami. Saya dan suami yang tadinya merencanakan LDM hingga bulan Mei, membatalkan rencana tersebut. Kenapa? Hanya karena alasan saya ga sanggup melihat anak-anak terbengkalai terlalu lama, terutama untuk urusan pendidikan mereka. Padahal di lain sisi saya sangat menginginkan suami mengikuti wisuda doktoralnya. Bukan karena gengsi, tapi karena lagi-lagi alasan keluarga yang membuat beliau tidak pula merasakan wisuda masternya.

Namun bulan November 2019, detik-detik menjelang suami ujian disertasinya, saya semakin tidak tenang. Merengeklah saya seusai suami ujian disertasi agar beliau pulang saja secepatnya setelah menyelesaikan segala sesuatu terkait kelulusan. Dan akhirnya pulanglah beliau di akhir tahun 2019, tepatnya tanggal 25 Desember 2019.

Saya, sebagai (lagi-lagi) faktor penyebab beliau tidak merasakan dua wisudanya berkali-kali meminta maaf sembari berdoa di dalam hati agar kami diberikan kelapangan rezeki sehingga suami bisa kembali ke US untuk menghadiri wisudanya. Meski kondisi ril nya, saya tidak tau akan menggunakan uang apa untuk kembali ke US.

Saat itu ternyata wabah Corona mulai menghantui dunia. Namun baru saya sadari di bulan Januari 2020. Saat itu hati hanya menerka-nerka. Tak berani bersuara melainkan hanya gumam hati saja. Dan saya juga tak berani berfikir rentang waktunya. Berapa lamakah dan akankah sampai ke Indonesia dan Amerika?

Waktu bergulir, satu persatu apa yang jadi terkaan seolah jadi kenyataan. Apa yang diguman hati seolah terjadi. Tapi lagi-lagi saya tak berani berfikir terlalu jauh. Tentu saja saya menginginkan situasi normal dalam segala hal. Namun saya berkeyakinan, seburuk apapun situasi, Allah tidak akan pernah zolimi hambaNya.

Corona dan Wisuda
Salah satu hikmah yang saya dan suami bisa peroleh melalui pandemi ini adalah, bahwa dibalik beratnya hati saya meminta suami untuk mempercepat kepulangan dengan konsekuensi tanpa wisuda yaitu Allah masih mengizinkan kami melewati pandemi dalam situasi terbaik. Untuk kasus keluarga kami, Allah kumpulkan kami di Bandung. Ga kebayang sama saya jika suami masih di US dalam situasi seperti sekarang ๐Ÿ˜ญ

Selain itu, karena pandemi ini suami berkesempatan menghadiri wisuda meski hanya virtual bersama dengan para wisudawan lainnya. Tidak. Saya tidak sedang berbahagia di atas penderitaan orang lain ๐Ÿ™. Saya hanya sedang memetik hikmah yang dialami keluarga saya. Dan saya meyakini, di setiap kita tentu ada hikmah dan pelajaran yang ingin Allah sampaikan kepada kita yang sifatnya lebih personal.

Semoga kita bisa membuka mata hati kita lebih lebar lagi untuk melihat apa yang tadinya tak terlihat.  Jika belum terlihat, barangkali belumlah sekarang melainkan nanti. Karena yakinlah, Allah tidak akan pernah menzolimi kita. Yakinlah bahwa Allah paling mengetahui apa yang terbaik untuk kita.

Demikian perenungan saya malam ini sembari menunggu jam 12 malam yang ternyata masih 1 jam lagi ๐Ÿ˜…๐Ÿ™„. Semoga kita diberikan kemudahan, kelapangan dan ketenangan dalam menghadapi segala cobaan dariNya. Aamiin ya Rabb.

Dan untuk teman-teman yang sedang mengurus kepulangan ke Indonesia, semoga Allah mudahkan dan dilancarkan. Aamiin ya Rabb ...

Batujajar, 2 Mei 2020
Selamat hari Pendidikan!!!

Jurnal Ramadan: Ramadan Bulan Latihan

Jumat, 01 Mei 2020
Saya meyakini bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat bagi kita untuk menciptakan momen. Salah satunya yaitu momen latihan. Sebagaimana kita melatih diri menahan hawa nafsu, di bulan Ramadan kita juga bisa melatih diri untuk lebih produktif.


Banyak diantara kita kaum muslimin yang membuat agenda dan target di bulan Ramadan. Kenapa? Karena ketika kita mampu melatih diri melakukan target harian di bulan Ramadan, maka kita akan sangat terbantu untuk menjadi konsisten melakukan kebiasaan baik yang sudah menjadi target di bulan Ramadan.

Jikapun tidak mampu melebihi target di bulan Ramadan, paling tidak bertahan dengan standar yang kita lakukan di bulan Ramadan sudah sangat membantu diri kita untuk menjadi lebih baik.

Lalu bagaimana caranya agar produktifitas meningkat di bulan Ramadan? Salah satu cara paling mudah yaitu dengan mengalihkan aktivitas konsumtif menjadi aktivitas produktis. Misalnya, konsumsi gadget kita kita dalam satu hari adalah lima jam. Maka alokasikan tujuh puluh persen aktivitas gadget dengan hal yang produktif. Seperti menulis, mengedit video, membaca artikel (bukan membaca status orang ya ๐Ÿ˜…) dan hal lain yang mengasah indera untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Saya pribadi, mencoba menjadikan Ramadan sebagai momen melatih kembali diri ini untuk produktif menulis. Ketika aktivitas menulis meningkat, mau tidak mau aktivitas membaca saya pun meningkat. Dan tentu akan berefek pada aktivitas gadget yang tadinya hanya sekedar scroll timeline menjadi ketak ketik di keypad.

Dalam melatih kebiasaan baik tentu tidak mudah. Banyak halangan dan rintangan tentunya. Dan halangan yang paling berat yaitu rasa malas. Sehingga, salah satu cara agar halangan terberat ini tidak menghadang, maka pilihlah aktivitas produktif yang paling minim rasa malas. Artinya aktivitas yang benar-benar kita suka.

Selain itu, bagi ibu rumah tangga seperti saya, memiliki rutinitas kerumahtanggaan tentunya sudah menjadi sebuah produktivitas otomatis saya. Namun, bagi saya bukan produktivitas seperti inilah yang ingin saya latih. Karena saya pribadi sudah melatih diri melakukan aktivitas kerumahtanggaan di saat merantau kemaren. Jadi agak kurang menantang rasanya jika masih fokus pada urusan rumah tangga ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ.

Bisa dikatakan saya sudah harus beralih, karena tujuh tahun berumah tangga dengan 3 tahun setengah hidup mandiri jauh dari keluarga sudah lebih dari cukup. Sekarang saatnya menantang produktivitas diri yang sifatnya non rumah tangga, yaitu menulis.

Harapannya, semoga dengan momen latihan di bulan Ramadan ini saya bisa menulis satu artikel bermutu (bukan tulisan lepas seperti ini) yang memiliki pelajaran dan manfaat di dalamnya.

Nah, semoga teman-teman menemukan tantangan melatih produktivitas diri ya. Mumpung Ramadan dan di rumah aja. 

Semoga bermanfaat!

Batujajar, 1 Mei 2020

Nb: berikut contoh konsumtif to produktif
1. Hobi nonton๐Ÿ‘‰ tulis review film yang ditonton
2. Hobi main game๐Ÿ‘‰ review plus minus game dalam kacamata kamu
3. Hobi makan๐Ÿ‘‰ masaklah resep kesayangan kamu
4. Suka pernak pernik๐Ÿ‘‰ praktekan satu tutorial pernak pernik favoritmu


Berhubung tulisan ini ga diedit-edit karena kaya masih belum menemukan permasalahan keypad saya yang suka mengetik otomatis ulang kata yang sebelumnya, dan menghapus kata dibelakang cursor ketika kita pencet tombol enter, jadilah saya sisipkan contoh aktivitas produktif. 

Jurnal Ramadan: Komunikasi dan Interaksi

Kamis, 30 April 2020
Meskipun kembar, Zaid dan Ziad memiliki katakter yang berbeda. Mereka pun memiliki kecenderungan yang berbeda terkait selera, gaya, ataupun cara belajar. Dan tentunya hal ini sangat amat menantang untuk saya dan dan suami.


Sebagai orang tua yang percaya bahwa mengenal anak dengan tetap menjaga interaksi dan komunikasi dengan mereka, membuat saya cukup evaluasi banyak hal. Seperti halnya menjaga komunikasi, terkadang cara yang saya lakukan sama sedangkan anaknya kan beda karakter. Maka tak jarang saya dibuat pusing ketika mendapati pola komunikasi yang saya bentuk dialamatkan ke anak yang salah.

Ujung-ujungnya saya malah jadi yang curhat ke mereka. 

"Umi tu udah mulai tua. Suka lupa kamu tu Zaid atau Ziad."

Dan akhirnya mereka antara sedih Uminya menua dan juga ngeledek ๐Ÿ˜‚.

Belajar Dari Anak
Pada hakikatnya, anak sudah mengajarkan banyak hal kepada kita para orang tua. Bahwa komunikasi adalah inti dari sebuah interaksi. Memiliki interaksi belum tentu terjalin komunikasi. Namun jika kita berkomunikasi, sudah pasti terjadi interaksi.

Disadari atau tidak, berdasarkan pengalaman saya, jika komunikasi saya dan anak-anak lancar, maka biasanya seluruh agenda keluarga bisa berjalan dengan lancar. Lancar dalam artian tidak terjadi drama tangisan, ambekan, atau bahkan kemarahan. Jikapun terjadi salah paham, biasanya akan cepat terselesaikan karena komunikasi sudah berjalan lancar. Atau bisa dibilang satu frekuensi.

Dari hal inilah saya melihat bahwa sesungguhnya kerewelan anak itu adalah pelajaran buat kita orang tua. Tidak akan ada anak yang rewel tanpa sebab. Sehingga kita kita orang tua yang berposisi sebagai manusia dewasa yang bisa berfikir kompleks, seharusnya bisa melihat letak kesalahannya dimana. Itulah yang saya maksud belajar dari anak.

Penyebab Gagal Komunikasi
Barangkali setiap keluarga akan menemukan faktor yang berbeda kenapa sebuah komunikasi dengan anak bisa gagal. Dalam keluarga saya, biasanya komunikasi gagal yang ditandai dengan tidak kooperatifnya anak, hyperacting, dan cari perhatian terjadi karena:

1. Timing
Komunikasi yang dilakukan disaat yang tidak tepat, seperti ketika anak sudah memperlihatkan sikap kurang kooperatif, atau disaat anak kecewa. Atau bisa juga disaat anak sangat lapar atau mengantuk. Saya biasa menyembutnya dengan sounding atau penyamaan persepsi agar anak siap menjalani hari.

Meski saat ini aktivitas kita hanya di rumah saja selama pandemi Covid-19, sounding tetap perlu dilakukan. Terlebih untuk saya yang memiliki kondisi unpredictable dengan bayi yang masih memiliki jam tidur yang butuh dikeloni. Sedangkan ZaZi sudah memiliki jam tidur layaknya orang dewasa. 


2. Gengsi
Kurang terbuka terhadap apa yang menjadi kesalahan atau kelemahan kita sebagai orang tua menurut saya juga bisa menjadi faktor penyebab komunikasi gagal. Misal, karena kita kurang mampu mengatur waktu karena keasikan main HP, sehingga keteteran semua agenda. Termasuk agenda mendampingi anak. Ketika pendampingan kurang (at least 2 jam dalam sehari kita luangkan waktu untuk membersamai anak), anak-anak tentu akan mencoba mencari perhatian. Sehingga mereka bisa overacting dengan aneka tingkah seperti berantem, becanda berlebihan, membuat kerusakan, atau dengan cara lain.

Sebagai orang tua, biasanya rasa gengsi akan muncul terlebih ketika harus meminta maaf untuk sesuatu yang bukanlah menjadi penyebab langsung chaos nya anak-anak. Namun dari pengalaman saya, terbuka dan juga membuka ruang diskusi serta memancing logika berfikir mereka terhadap chaos yang mereka buat, mampu menjadi jalan untuk membentuk karakter bertanggungjawab bagi anak. 

Karena dengan keterbukaan tanpa rasa gengsi, anak bisa melihat bahwa ketika kita ingin hari-hari kita lancar, maka aturlah dengan baik. Jika tidak, maka banyak hal tidak sesuai keinginan akan terjadi, seperti halnya anak yang berantem.

Nah itu contoh dari pengalaman saya.

Tidak masalah anak menyalahkan saya terhadap apa yang terjadi pada mereka. Justru hal ini baik, agar kita tidak melakukan kesalahan dan kelalaian yang sama. Sehingga kontrol keluarga bisa dilaksanakan dari kedua belah pihak, dari pihak anak dan juga dari pihak orang tua. Karena bagi saya, hakikatnya saat ini saya mendidik anak untuk memperisiapkan mereka menyambut usia matang mereka, yaitu usia aqil baligh.

Interaksi Berkualitas
Banyak hal yang bisa kita lakukan agar memiliki interaksi dengan anak. Namun untuk menciptakan interaksi yang berkualitas, tentu butuh kelihaian kita melihat. Kualitas seperti apa yang ingin kita ciptakan.

Saya pribadi melihat sebuah interaksi berkualitas apabila ada keterlibatan seluruh anggota keluarga, tidak hanya secara fisik, tapi juga hati dan pikiran. Dan tentunya hal ini bisa kita ciptakan dengan komunikasi. Bisa saja kita berinteraksi di meja makan. Saling menolong meletakkan posisi lauk yang susah dijangkau salah seorang anggota keluarga. Namun dalam interaksi itu, bisa saja pikiran di setiap anggota keluarga berbeda-beda. Sehingga untuk menyatukannya, perlu dikomunikasikan dengan cara memancing pertanyaan, melempar topik atau sekedar membuka dengan guyonan.

Tujuan Komunikasi dan Interaksi Berkualitas
Bagi saya pribadi tujuan menjalin komunikasi dan interaksi berkualitas itu hanya satu, yaitu harmonisasi. Mengingat kita manusia memiliki pikiran, karakter dan juga ketertarikan yang berbeda, maka harmonisasi keluarga dengan alat bantu komunikasi dalam sebuah interaksi adalah kunci. Jika harmonisasi bisa dibina, maka keluarga akan minim konflik. Saling pengertian akan terjadi. 

Batujajar, 30 April 2020

Jurnal Ramadan: Langsung Diuji!

Rabu, 29 April 2020
Malam ini saya tidak bisa menulis banyak. Karena jam sudah menunjukkan pukul 9.36 malam. Kepala mulai berat. Artinya, ada hak tubuh yang belum saya penuhi. Memang hari ini saya tidak tidur siang seperti biasa. Bukan karena hari yang sibuk secara fisik. Namun pikiran yang sibuk sehingga ada jiwa yang diuji disana. Seperti halnya dalam tulisan saya pada jurnal hari kelima Ramadan.


Kontan! Saya langsung kembali diuji dengan ujian yang saya tuliskan di dalam tulisan tersebut. Ya! Zaid Ziad. Mereka ujian terbesar saya sekaligus anak-anak kesayangan saya. Karena tertumpu banyak haraplah makanya terasa berat setiap ujian yang diberiNya. 

Semoga saya dimampukanNya. Dan kami, seperti apa yang saya ungkap pada tulisan itu, bisa kembali berkumpul di surgaNya. Aamiin.

Batujajar, 29 April 2020

Nb. Jurnal Ramadan ini adalah catatan pribadi saya. Sebagai rekam jejak terhadap apa yang terjadi dan menarik perhatian dan pikiran saya. Jadi bukan untuk konten blog untuk meningkatkan trafik seperti tulisan-tulisan saya terdahulu. Karena blog ini akan kembali saya gunakan sebagai blog pribadi, bukan untuk tujuan pengkaryaan diri lagi.

Sesekali saya akan berbagi inspirasi. Namun lebih banyaknya renungan dan evaluasi. Karena manipulasi gambar itu sangatlah mudah. Namun jujur terhadap proses yang payah itu, tentu sangat susah.

Semoga blog ini bisa menjadi saksi sejarah dan pertanggungjawaban saya bahwa saya selalu dan selalu berusaha memberikan hak anak-anak yang tercermin dalam kegelisahan hati. Artinya, ada hati yang gundah dan otak yang selalu diasah untuk melihat masalah sebagai sumber hikmah. 

Mendidik anak itu tak sekadar preparasi media ajar. Tak sekedar dokumentasi hasil belajar. Namun lebih! 

Jurnal Ramadan: Allah Solusi Semua Masalah

Selasa, 28 April 2020
Ada perasaan negatif yang setiap orang tahu bahwa perasaan tersebut adalah buruk jika muncul dari dalam diri. Perasaan ingin mengakhiri hidup, rasa ingin pergi meninggalkan segala yang ada, berputus asa, dan berbagai macam goncangan hidup yang membuat karamnya jiwa. Hidup kemudian terasa hampa tak bermakna. Yang semula penuh semangat dengan tujuan yang jelas, tiba-tiba berubah buntu dan menjadi tidak tahu kemana akan melaju.


Beberapa hari yang lalu, qodarullah saya digiring berdialog virtual dengan seorang ibu yang hanya saya kenal melalui media sosial. Hanya berawal dari sebuah apresiasi dimana saya melihat bahwa usaha yang beliau lakukan di masa adaptasi dari seorang ibu pekerja menjadi ibu rumah tangga adalah luar biasa. 

Tak dinyana, berceritalah beliau bahwa ada bersitan negatif yang muncul di awal masa adaptasi itu. Bahwa hidup terasa lebih berat dan tak diperoleh lingkungan yang mampu mengimbanginya, pun dengan pasangannya. Saya tidak berani menggali lebih dalam. Cukup mengetahui bahwa apa yang terlihat tentu bukanlah apa yang dialaminya. Tentu ada faktor lain yang tidak bisa beliau ceritakan.

Ibu tersebut bukanlah orang pertama yang menjadikan saya merenung tentang hidup, depresi dan aneka macam pikiran negatif lainnya. Acapkali Allah menggiring takdir hingga saya dipertemukan dengan sosok yang memiliki jalan hidup cukup berliku. Yang tak jarang ekstrim, namun hingga akhirnya mereka menyadari kunci penyelesaiannya.

Saya pribadi pernah berada di posisi tersebut. Posisi dimana saya tak ingin membersamai keluarga tatkala awal pindah ke Amerika. Kehidupan terasa sulit. Tingkah dan perangai anak-anak sering memancing innerchild bermasalah saya muncul. Ada bayangan masa lalu yang tak lah begitu kelam, namun cukup mengganggu. Atau bahkan sangat mengganggu saya kala itu.

Hadapi!
Berbagai macam cara saya lakukan. Namun tetap saja, jiwa karam tak mampu bangkit. Yang muncul adalah rombongan pikiran negatif yang saya sendiri tak tahu datangnya dari mana.

Pendekatan agama, psikologi hingga pendekatan keluarga. Saya coba lakukan semua. Sulit. Hingga saya jatuh kembali setelah mencoba bangkit.

Tidak! Masalah ini bukanlah masalah besar. Malu rasanya diri ini jika tak mampu menghadapinya. Malu jika dicap cemen, lemah, tak berguna dan pikiran negatif lainnya 

Dirimu kini tengah menjauh! Mendekatlah kembali! Rangkul diri! Akui! Akuilah semua hal yang kamu rasakan! Jujurlah!

Tak Perlu Membandingkan
Acapkali kita, membandingkan apa yang kita alami dengan apa yang dialami orang lain. Tidaklah mengapa jika pembanding itu untuk mencari inspirasi dan hikmah. Namun janganlah membandingkan untuk kemudian merasa tidak pantas dan tak berguna. Karena sesungguhnya setiap orang memiliki kadar kemampuan yang berbeda.

Pun kita tidak pernah tahu secara terperinci apa yang orang lain alami. Namun kita tahu dengan sangat detail, apa yang diri kita alami. Hadapi dengan kejujuran bahwa,

Ya! Saya tak mampu! Jiwa saya hancur! Hati ini luluh lantak! 

Teriakanlah sekeras yang kita bisa. Lalu ...

Hadapilah BersamaNya
Pengakuan diri bahwa diri ini lemah, itulah sumber kekuatan. Karena memang hakikatnya kita manusia, adalah makhluk lemah. Lalu untuk apa kita malu mengakui semua kelemahan ini? Malu dikatakan cemen?Malu dianggap tak mampu? Jika manusia menjadi patokan, maka bersiaplah untuk kelemahan yang tak akan kunjung usai.

Semua orang pernah mengalami titik terlemah dalam hidupnya. Tak hanya kita. Karena memang begitulah cara Allah membuat kita mau untuk menghadirkanNya. Karena begitulah cara Allah untuk menunjukkan rasa cintaNya. Yang apabila tak dalam karamnya jiwa, mungkinlah kita akan terus merasa bangga akan capaian diri. Atau merasa selalu berbahagia atas apa yang dipunya. Sehingga lupalah kita terhadap Dzat yang berada dibalik semua itu.

Bukankah Rasulullah pernah mengatakan, bahwa apa yang beliau takutkan menimpa umatnya bukanlah sebuah ujian kesulitan, melainkan ujian kesenangan?

Maka janganlah kamu merasa sendiri. Janganlah kamu merasa berputus asa dan ingin mengakhiri hidup ini. Karena sungguh, ada Maha Pecinta yang tengah menunggu rintihanmu. Ada yang Maha Penyayang yang selalu mendekapmu erat. Ada Yang Maha Lembut yang membelaimu setiap waktu.

Lembutkanlah jiwa yang karam. Hadapilah dengan kejujuran dan ketaqwaan. Karena semua orang pernah mengalaminya. Namun tidak semua orang mampu menghadapinya. Mintalah kepadaNya. Mintalah sepuas hatimu. Rasakan getarannya. Nikmatilah hangatnya airmata. Dan rayakan ketenangan jiwa. Hingga Allah memampukanmu untuk melewati semuanya.

Semoga hidup kita semakin bermakna dan mampu kembali ke surgaNya ...

Batujajar, 28 April 2020