MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Image Slider

Jurnal Ramadan: Komunikasi dan Interaksi

Kamis, 30 April 2020
Meskipun kembar, Zaid dan Ziad memiliki katakter yang berbeda. Mereka pun memiliki kecenderungan yang berbeda terkait selera, gaya, ataupun cara belajar. Dan tentunya hal ini sangat amat menantang untuk saya dan dan suami.


Sebagai orang tua yang percaya bahwa mengenal anak dengan tetap menjaga interaksi dan komunikasi dengan mereka, membuat saya cukup evaluasi banyak hal. Seperti halnya menjaga komunikasi, terkadang cara yang saya lakukan sama sedangkan anaknya kan beda karakter. Maka tak jarang saya dibuat pusing ketika mendapati pola komunikasi yang saya bentuk dialamatkan ke anak yang salah.

Ujung-ujungnya saya malah jadi yang curhat ke mereka. 

"Umi tu udah mulai tua. Suka lupa kamu tu Zaid atau Ziad."

Dan akhirnya mereka antara sedih Uminya menua dan juga ngeledek πŸ˜‚.

Belajar Dari Anak
Pada hakikatnya, anak sudah mengajarkan banyak hal kepada kita para orang tua. Bahwa komunikasi adalah inti dari sebuah interaksi. Memiliki interaksi belum tentu terjalin komunikasi. Namun jika kita berkomunikasi, sudah pasti terjadi interaksi.

Disadari atau tidak, berdasarkan pengalaman saya, jika komunikasi saya dan anak-anak lancar, maka biasanya seluruh agenda keluarga bisa berjalan dengan lancar. Lancar dalam artian tidak terjadi drama tangisan, ambekan, atau bahkan kemarahan. Jikapun terjadi salah paham, biasanya akan cepat terselesaikan karena komunikasi sudah berjalan lancar. Atau bisa dibilang satu frekuensi.

Dari hal inilah saya melihat bahwa sesungguhnya kerewelan anak itu adalah pelajaran buat kita orang tua. Tidak akan ada anak yang rewel tanpa sebab. Sehingga kita kita orang tua yang berposisi sebagai manusia dewasa yang bisa berfikir kompleks, seharusnya bisa melihat letak kesalahannya dimana. Itulah yang saya maksud belajar dari anak.

Penyebab Gagal Komunikasi
Barangkali setiap keluarga akan menemukan faktor yang berbeda kenapa sebuah komunikasi dengan anak bisa gagal. Dalam keluarga saya, biasanya komunikasi gagal yang ditandai dengan tidak kooperatifnya anak, hyperacting, dan cari perhatian terjadi karena:

1. Timing
Komunikasi yang dilakukan disaat yang tidak tepat, seperti ketika anak sudah memperlihatkan sikap kurang kooperatif, atau disaat anak kecewa. Atau bisa juga disaat anak sangat lapar atau mengantuk. Saya biasa menyembutnya dengan sounding atau penyamaan persepsi agar anak siap menjalani hari.

Meski saat ini aktivitas kita hanya di rumah saja selama pandemi Covid-19, sounding tetap perlu dilakukan. Terlebih untuk saya yang memiliki kondisi unpredictable dengan bayi yang masih memiliki jam tidur yang butuh dikeloni. Sedangkan ZaZi sudah memiliki jam tidur layaknya orang dewasa. 


2. Gengsi
Kurang terbuka terhadap apa yang menjadi kesalahan atau kelemahan kita sebagai orang tua menurut saya juga bisa menjadi faktor penyebab komunikasi gagal. Misal, karena kita kurang mampu mengatur waktu karena keasikan main HP, sehingga keteteran semua agenda. Termasuk agenda mendampingi anak. Ketika pendampingan kurang (at least 2 jam dalam sehari kita luangkan waktu untuk membersamai anak), anak-anak tentu akan mencoba mencari perhatian. Sehingga mereka bisa overacting dengan aneka tingkah seperti berantem, becanda berlebihan, membuat kerusakan, atau dengan cara lain.

Sebagai orang tua, biasanya rasa gengsi akan muncul terlebih ketika harus meminta maaf untuk sesuatu yang bukanlah menjadi penyebab langsung chaos nya anak-anak. Namun dari pengalaman saya, terbuka dan juga membuka ruang diskusi serta memancing logika berfikir mereka terhadap chaos yang mereka buat, mampu menjadi jalan untuk membentuk karakter bertanggungjawab bagi anak. 

Karena dengan keterbukaan tanpa rasa gengsi, anak bisa melihat bahwa ketika kita ingin hari-hari kita lancar, maka aturlah dengan baik. Jika tidak, maka banyak hal tidak sesuai keinginan akan terjadi, seperti halnya anak yang berantem.

Nah itu contoh dari pengalaman saya.

Tidak masalah anak menyalahkan saya terhadap apa yang terjadi pada mereka. Justru hal ini baik, agar kita tidak melakukan kesalahan dan kelalaian yang sama. Sehingga kontrol keluarga bisa dilaksanakan dari kedua belah pihak, dari pihak anak dan juga dari pihak orang tua. Karena bagi saya, hakikatnya saat ini saya mendidik anak untuk memperisiapkan mereka menyambut usia matang mereka, yaitu usia aqil baligh.

Interaksi Berkualitas
Banyak hal yang bisa kita lakukan agar memiliki interaksi dengan anak. Namun untuk menciptakan interaksi yang berkualitas, tentu butuh kelihaian kita melihat. Kualitas seperti apa yang ingin kita ciptakan.

Saya pribadi melihat sebuah interaksi berkualitas apabila ada keterlibatan seluruh anggota keluarga, tidak hanya secara fisik, tapi juga hati dan pikiran. Dan tentunya hal ini bisa kita ciptakan dengan komunikasi. Bisa saja kita berinteraksi di meja makan. Saling menolong meletakkan posisi lauk yang susah dijangkau salah seorang anggota keluarga. Namun dalam interaksi itu, bisa saja pikiran di setiap anggota keluarga berbeda-beda. Sehingga untuk menyatukannya, perlu dikomunikasikan dengan cara memancing pertanyaan, melempar topik atau sekedar membuka dengan guyonan.

Tujuan Komunikasi dan Interaksi Berkualitas
Bagi saya pribadi tujuan menjalin komunikasi dan interaksi berkualitas itu hanya satu, yaitu harmonisasi. Mengingat kita manusia memiliki pikiran, karakter dan juga ketertarikan yang berbeda, maka harmonisasi keluarga dengan alat bantu komunikasi dalam sebuah interaksi adalah kunci. Jika harmonisasi bisa dibina, maka keluarga akan minim konflik. Saling pengertian akan terjadi. 

Batujajar, 30 April 2020

Jurnal Ramadan: Langsung Diuji!

Rabu, 29 April 2020
Malam ini saya tidak bisa menulis banyak. Karena jam sudah menunjukkan pukul 9.36 malam. Kepala mulai berat. Artinya, ada hak tubuh yang belum saya penuhi. Memang hari ini saya tidak tidur siang seperti biasa. Bukan karena hari yang sibuk secara fisik. Namun pikiran yang sibuk sehingga ada jiwa yang diuji disana. Seperti halnya dalam tulisan saya pada jurnal hari kelima Ramadan.


Kontan! Saya langsung kembali diuji dengan ujian yang saya tuliskan di dalam tulisan tersebut. Ya! Zaid Ziad. Mereka ujian terbesar saya sekaligus anak-anak kesayangan saya. Karena tertumpu banyak haraplah makanya terasa berat setiap ujian yang diberiNya. 

Semoga saya dimampukanNya. Dan kami, seperti apa yang saya ungkap pada tulisan itu, bisa kembali berkumpul di surgaNya. Aamiin.

Batujajar, 29 April 2020

Nb. Jurnal Ramadan ini adalah catatan pribadi saya. Sebagai rekam jejak terhadap apa yang terjadi dan menarik perhatian dan pikiran saya. Jadi bukan untuk konten blog untuk meningkatkan trafik seperti tulisan-tulisan saya terdahulu. Karena blog ini akan kembali saya gunakan sebagai blog pribadi, bukan untuk tujuan pengkaryaan diri lagi.

Sesekali saya akan berbagi inspirasi. Namun lebih banyaknya renungan dan evaluasi. Karena manipulasi gambar itu sangatlah mudah. Namun jujur terhadap proses yang payah itu, tentu sangat susah.

Semoga blog ini bisa menjadi saksi sejarah dan pertanggungjawaban saya bahwa saya selalu dan selalu berusaha memberikan hak anak-anak yang tercermin dalam kegelisahan hati. Artinya, ada hati yang gundah dan otak yang selalu diasah untuk melihat masalah sebagai sumber hikmah. 

Mendidik anak itu tak sekadar preparasi media ajar. Tak sekedar dokumentasi hasil belajar. Namun lebih! 

Jurnal Ramadan: Allah Solusi Semua Masalah

Selasa, 28 April 2020
Ada perasaan negatif yang setiap orang tahu bahwa perasaan tersebut adalah buruk jika muncul dari dalam diri. Perasaan ingin mengakhiri hidup, rasa ingin pergi meninggalkan segala yang ada, berputus asa, dan berbagai macam goncangan hidup yang membuat karamnya jiwa. Hidup kemudian terasa hampa tak bermakna. Yang semula penuh semangat dengan tujuan yang jelas, tiba-tiba berubah buntu dan menjadi tidak tahu kemana akan melaju.


Beberapa hari yang lalu, qodarullah saya digiring berdialog virtual dengan seorang ibu yang hanya saya kenal melalui media sosial. Hanya berawal dari sebuah apresiasi dimana saya melihat bahwa usaha yang beliau lakukan di masa adaptasi dari seorang ibu pekerja menjadi ibu rumah tangga adalah luar biasa. 

Tak dinyana, berceritalah beliau bahwa ada bersitan negatif yang muncul di awal masa adaptasi itu. Bahwa hidup terasa lebih berat dan tak diperoleh lingkungan yang mampu mengimbanginya, pun dengan pasangannya. Saya tidak berani menggali lebih dalam. Cukup mengetahui bahwa apa yang terlihat tentu bukanlah apa yang dialaminya. Tentu ada faktor lain yang tidak bisa beliau ceritakan.

Ibu tersebut bukanlah orang pertama yang menjadikan saya merenung tentang hidup, depresi dan aneka macam pikiran negatif lainnya. Acapkali Allah menggiring takdir hingga saya dipertemukan dengan sosok yang memiliki jalan hidup cukup berliku. Yang tak jarang ekstrim, namun hingga akhirnya mereka menyadari kunci penyelesaiannya.

Saya pribadi pernah berada di posisi tersebut. Posisi dimana saya tak ingin membersamai keluarga tatkala awal pindah ke Amerika. Kehidupan terasa sulit. Tingkah dan perangai anak-anak sering memancing innerchild bermasalah saya muncul. Ada bayangan masa lalu yang tak lah begitu kelam, namun cukup mengganggu. Atau bahkan sangat mengganggu saya kala itu.

Hadapi!
Berbagai macam cara saya lakukan. Namun tetap saja, jiwa karam tak mampu bangkit. Yang muncul adalah rombongan pikiran negatif yang saya sendiri tak tahu datangnya dari mana.

Pendekatan agama, psikologi hingga pendekatan keluarga. Saya coba lakukan semua. Sulit. Hingga saya jatuh kembali setelah mencoba bangkit.

Tidak! Masalah ini bukanlah masalah besar. Malu rasanya diri ini jika tak mampu menghadapinya. Malu jika dicap cemen, lemah, tak berguna dan pikiran negatif lainnya 

Dirimu kini tengah menjauh! Mendekatlah kembali! Rangkul diri! Akui! Akuilah semua hal yang kamu rasakan! Jujurlah!

Tak Perlu Membandingkan
Acapkali kita, membandingkan apa yang kita alami dengan apa yang dialami orang lain. Tidaklah mengapa jika pembanding itu untuk mencari inspirasi dan hikmah. Namun janganlah membandingkan untuk kemudian merasa tidak pantas dan tak berguna. Karena sesungguhnya setiap orang memiliki kadar kemampuan yang berbeda.

Pun kita tidak pernah tahu secara terperinci apa yang orang lain alami. Namun kita tahu dengan sangat detail, apa yang diri kita alami. Hadapi dengan kejujuran bahwa,

Ya! Saya tak mampu! Jiwa saya hancur! Hati ini luluh lantak! 

Teriakanlah sekeras yang kita bisa. Lalu ...

Hadapilah BersamaNya
Pengakuan diri bahwa diri ini lemah, itulah sumber kekuatan. Karena memang hakikatnya kita manusia, adalah makhluk lemah. Lalu untuk apa kita malu mengakui semua kelemahan ini? Malu dikatakan cemen?Malu dianggap tak mampu? Jika manusia menjadi patokan, maka bersiaplah untuk kelemahan yang tak akan kunjung usai.

Semua orang pernah mengalami titik terlemah dalam hidupnya. Tak hanya kita. Karena memang begitulah cara Allah membuat kita mau untuk menghadirkanNya. Karena begitulah cara Allah untuk menunjukkan rasa cintaNya. Yang apabila tak dalam karamnya jiwa, mungkinlah kita akan terus merasa bangga akan capaian diri. Atau merasa selalu berbahagia atas apa yang dipunya. Sehingga lupalah kita terhadap Dzat yang berada dibalik semua itu.

Bukankah Rasulullah pernah mengatakan, bahwa apa yang beliau takutkan menimpa umatnya bukanlah sebuah ujian kesulitan, melainkan ujian kesenangan?

Maka janganlah kamu merasa sendiri. Janganlah kamu merasa berputus asa dan ingin mengakhiri hidup ini. Karena sungguh, ada Maha Pecinta yang tengah menunggu rintihanmu. Ada yang Maha Penyayang yang selalu mendekapmu erat. Ada Yang Maha Lembut yang membelaimu setiap waktu.

Lembutkanlah jiwa yang karam. Hadapilah dengan kejujuran dan ketaqwaan. Karena semua orang pernah mengalaminya. Namun tidak semua orang mampu menghadapinya. Mintalah kepadaNya. Mintalah sepuas hatimu. Rasakan getarannya. Nikmatilah hangatnya airmata. Dan rayakan ketenangan jiwa. Hingga Allah memampukanmu untuk melewati semuanya.

Semoga hidup kita semakin bermakna dan mampu kembali ke surgaNya ...

Batujajar, 28 April 2020

Jurnal Ramadan: Family Project

Hari ke empat puasa Umi tumbang πŸ˜…. Seperti biasa, pasti ada satu hari dimana tiba-tiba banyak yang datang ke rumah. Ga direncanakan, dan ga disadari padahal itu semua gara-gara kita sendiriπŸ˜….


Jadi ceritanya kemaren Zaynab ga bangun sahur, bangun-bangun jam setengah 6. Jadilah dia tidur lagi sekitar jam 9 pagi. Sedangkan hari sebelumnya dia bisa tidur lagi pasca sahur itu jam 5 subuh dan bisa bertahan hingga jam 11an. Sehingga aktivitas Ramadan ZaZi bisa dilaksanakan.

Pagi, kita udah kedatangan nenek yang minta tolong jualin kerudung instan. Ga berapa lama, Zaynab minta bobo. Sekitar jam 9.

Nah udah gitu, Zaynab tidurnya keganggu gara-gara tukang sayur datang anter pesanan. Jadilah dia bangun dan minta gendong terus. Sedangkan Umi harus bersih-bersih belanjaan. Dan harus ditegain buat ga gendong dia, alhamdulillah anaknya ngerti juga.


Disaat lagi bersihin belanjaan, yang benerin mobil datang. Lumayan agak lama, sampe waktu Zuhur masuk. Jam satu Zaynab ngantuk lagi. Dengan berbagai macam cara saya cari waktu dulu untuk mandi karena ga enak ngelonin Zaynab badan lepek apalagi abis bersih-bersih. Akhirnya Zaynab tidur penuh perjuangan karena air susu seret kurang sayuran hijau πŸ™ˆ.

Eh jam 2.30 tukang sayur nge wa, dia kelebihan ngasih tulang iga dan mau ambil sekarang ke rumah. Demi Zaynab bobo nyenyak dan ZaZi juga ga kebangun tidur siang, saya tangkringan lah si tukang sayur di depan rumah. Datang-datang ternyata jam 3 sore 😭. Tau gitu saya tidur dulu🀧. 


Karena sudah mau Ashar, harapan untuk tidur siang lenyap. Dan bener, ga lama anak-anak semua pada bangun. Baiklah, beranjak ke agenda berikutnya yaitu masak.

Tang ting tung, semua agenda berjalan hingga shalat taraweh usai. Jam 8.30 semua masuk kamar. Saya yang tadinya berniat menyelesaikan tulisan jurnal Ramadan hari ke 4, blas ketiduran 🀧. 

Tapi alhamdulillah karena Abi anak-anak full di rumah, jadi dalam situasi kaya gini, ZaZi tetap bisa memperoleh aktivitas Ramadan dengan Abinya. Dan kemaren itu mereka diskusi dan belajar banyak tentang bulan, fase bulan dan juga tentang peristiwa air pasang dan air surut. 


Dan alhamdulillah juga, kemaren projek Ramadan untuk family challenges nya Noor Kids kekerjain juga. Meski di pagi harinya hanya Zaid yang mood rekaman. Malam harinya akhirnya Ziad juga jadi mood. Projeknya yaitu menyapa teman-teman seluruh dunia dengan buku favorit mereka. Zaynab nimbrung terus donk πŸ˜‚.

Selain itu, projek Ramadannya membangun masjid kecil di dalam rumah. Kita pake alat seadanya, yaitu tangga dan aneka selimut dan seprei πŸ˜‚.


Alhamdulillah, tough day menurut saya. Sampe tadi pagi pun saya masih leleus 🀧🀧🀧. 


Semoga Ramadan kita berkah dan jadi ajang melatih diri menjadi lebih baik lagi. In sya allah.

Batujajar, 27 April 2020

Jurnal Ramadan: Noor Kids Digital Ramadan Camp

Minggu, 26 April 2020
Ramadan kali ini, banyak para relawan yang berdonasi dalam berbagai macam bentuk. Salah satunya donasi keahlian. 

Jadi beberapa hari sebelum Ramadan saya memperoleh link Digital Ramadan Camp dari grup ibu-ibu pengajian di US. Yaitu berupa program online Ramadan untuk anak usia 7 hingga 14 tahun yang dibuat oleh  noorkids.com. Programnya gratis untuk 750 keluarga pertama yang daftar. Dan alhamdulillah saya kebagian gratis πŸ₯°.
Sumber: Noorkids.com

Harusnya saya cek email notifikasi program tanggl 23 April waktu US atau 24 April waktu Indonesia. Tapi karena riweuh dan ga banyak pegang HP kaya biasanya, jadilah saya lupa. Baru keingetan tadi malam tanggal 25 April. 

Mumpung belum ketinggalan banyak, saya agendakanlah ikut live broadcastnya jam 6 pagi waktu Indonesia (Ramadan hari ketiga) atau 6 sore waktu US. Dan alhamdulillah, tadi pagi kami sekeluarga berhasil join dan ga tidur habis subuh lagi. Horrree.


Nah, ternyata program Ramadan online dari Noor Kids ini selain menyediakan video surat pendek dan family challenges, si Live Broadcast ini tak lain dan tak bukan adalah semacam tausiah untuk anak-anak dengan menggunakan cerita bergambar. Jadi cocok banget dengam schedule keluarga jam 5-6 pagi mendengarkan pengajian. Tinggal geser waktu ke jam 6-6.30, agenda pengajian anak-anak jadi lebih fun buat mereka. 

Btw, cerita yang dibawakan menarik terutama untuk ZaZi yang secara bahasa belum paham jika harus mendengarkan full bahasa Indonesia. Sehingga program ini membantu ZaZi mengenal Islam dan Ramadan melalui bahasa yang mereka pahami. Karena Noor kids ini adalah platform buku cerita untuk anak-anak muslim, sehingga mereka sudah sangat piawai mengambil ide cerita, konflik dan juga problem solvingnya. Sehingga anak-anak tidak merasa digurui atau disindir.

Dalam cerita di live broadcast tadi pagi, pesan yang ingin disampaikan author yaitu bahwa Ramadan bisa membantu kita menjadi pribadi yang lebih dan makin bersabar. Puasa di bulan Ramadan bisa membantu kita mengendalikan diri dari nafsu perut dan nafsu jiwa seperti rasa marah. Dan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk melatih diri dalam hal apapun yang baik-baik.

Tokoh-tokohnya

Cerita yang diangkat sangat dekat dengan anak-anak. Usia tokoh pun mendekati usia ZaZi sehingga mereka merasa cerita tersebut benar-benar tentang mereka. 

Alhamdulillah dengan mengawali pagi menyuguhkan tausiah untuk anak-anak, cukup membantu kami sedikit bisa bersabar ketika mereka mulai perang saudara πŸ˜…. 

Sebenarnya program yang ditawarkan Noor Kids ini bisa kita temui di You tube. Namun memang siaran langsung efektif membuat ZaZi untuk ga gatel nonton acara lain. Karena siaran dijalankan langsung oleh pembawa acaranya. Selain itu style American nya dapet dan kita berasa ikut Sunday School nya anak-anak waktu di masjid Noor 😭. Pas pula namanya Noor, kaya nama Mesjid tempat ZaZi ngaji dulu. 

Nah selain aktivitas baru di atas, seperti dua hari sebelumnya, kami tetap menjalankan agenda keluarga sesuai jadwal atau jika pun tidak sesuai jadwal yang terpenting aktivitasnya terlaksana. 

Ziad Munif Alfatih

Seperti aktivitas Ramadan dan good deed. 

Hari ini kami coba mulai memperkenalkan coding sederhana menggunakan warna kepada ZaZi. Seperti biasa, Zaid akan selalu terlihat tidak tertarik jika ada hal baru. Dia hanya curi dengar dan ga mau join. Tapi nanti dia bakal tau dengan sendirinya apa yang tadi kami sampaikan ke Ziad. Dan keselnya, dia ga mau dikasi tau kalo salah πŸ˜‚πŸ˜….

Zaid Mursyid Atsabit

Selain itu, hari ini kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan diskusi kecil ala keluarga kami. Anak-anak sibuk bertanya tentang apapun yang ada di dalam pikiran mereka. Dan ujung-ujungnya pasti ditutup dengan anyang-anyangan penghilang rasa lapar mereka πŸ˜… karena Umi sudah mulai masuk dapur πŸ˜‚.

Anyang-anyangan rutin
Kali ini observasi sifat api

Oh ya, untuk good deed mereka kebagian hal yang sama, yaitu merapikan magic table mereka. Yang sebenarnya hal ini sudah jadi kebiasaan mereka namun memang masih butuh untuk diingatkan. 

Demikian dulu jurnal Ramadan hari ketiga kali ini. Tulisan ini hanyalah jurnal keluarga, jika ada yang membaca ini, semoga ada manfaat yang bisa dipetik ya πŸ€—.

Batujajar, 26 April 2020

Nb. Berikut tambahan hasil karya Ziad di bidang fotografi per hari ini

Batman nolong lego



Jurnal Ramadan: Day 2

Sabtu, 25 April 2020
Alhamdulillah hari ini masih berjalan lancar. ZaZi mulai terbiasa meski mereka masih shock menyadari kalo Ramadan itu 30 hari lamanya. Jadi ternyata mereka mikir kalo Ramadan itu cuma sehari πŸ˜‚πŸ˜‚.

sumber:Pexels 

Meskipun lancar, namun agenda hari ini agak lebih kacau alias tidak sesuai dengan jadwal. Pasalnya saya kebangun gara-gara satpam perumahan teriak sahur jam 2.30 dini hari. Sedangkan saya baru tidur jam 11 malam tanpa tidur siang yang cukup. Karena khawatir bablas kalo saya tidur lagi, akhirnya saya bangun untuk masak. Dan baru tidur lagi ba'da subuh jam 5. Itupun nunggu Zaynab ngantuk juga. Karena dia ikut sahur seperti hari sebelumnya. 

Aktivitas Ramadan yang di kertas
Tulis tangan saja hehehe

Nah hal positifnya, aktivitas Ramadan berjalan sesuai rencana. Berbeda dengan hari kemaren yang mana aktivitas Ramadan dicomot berdasarkan mood ZaZi. Sedangkan hari ini stimulusnya menggunakan list aktivitas Ramadan yang sudah ditempel di dinding.

Apa aja aktivitasnya? Yaitu membuat bendera beberapa negara di dunia dengan fokus di benua Eropa. Zaid memilih negara Jerman, Finlandia, Kazakhstan, Swedia dan Britania Raya. Sedangan Ziad memilih Finlandia, Iceland, Britania Raya, Kazakhstan, Perancis dan Spanyol. 

Sedang Mencari Bendera Negara

Seharusnya, mereka diminta untuk mempresentasikan negara beserta ibukotanya. Namun saya sudah harus kembali menidurkan Zaynab dan Abinya sudah mulai lemah baterai πŸ˜…. Akhirnya aktivitas dicukupkan hingga kegiatan mengingat negara dan ibukota negaranya. 

Ziad Munif Alfatih

Jika mereka masih bisa di trigger, besok rencananya saya akan mengajak mereka untuk eksplorasi negara-negara tersebut. Sehingga mereka bisa membayangkan seperti apa negara yang mereka pilih tersebut.

Zaid Mursyid Atsabit

Selain itu, di siang menuju sore, kami kembali melakukan percobaan kecil-kecilan. Tentang prinsip tekanan udara yang memiliki temperatur berbeda, panas dan dingin. Alat dan bahan yang digunakan yaitu, lilin kecil (tea candle, tapi kami menggunakan lilin besar yang dipotong yang ditaro di atas tutup botol saos ABC πŸ˜…), botol bening besar, wadah mangkok besar, dan pewarna makanan.


Cara mainnya, oleskan pewarna makanan ke bagian belakang tutup saos ABC (tea candle bagi yang punya). Isi air mangkok besar dan letakkan lilin di atas air tersebut. Nyalakan api dan tutup lilin dengan botol bening. Maka air terlihat naik ke dalam botol dan lama kelamaan api akan padam. 


Untuk Good Deeds Calendar, mereka terlihat lebih antusias, terutama Zaid. Zaid kebagian mencuci baju, Ziad mengasuh Zaynab. Nah lucunya, Zaynab ga mau dikasih perhatian oleh Ziad. Dan Ziad overprotective bikin Zaynab ga nyaman malah jadi sering ngadu dan minta gendong saya atau Abinya πŸ˜…. Sedangkan good deed Zaid hari ini cenderung lancar karena hanya mencuci baju pake mesin cuci πŸ˜‚.

Aslinya anaknya protes. Karena dia berfikir akan mencuci baju dengan sikat. Tapi karena dia udah keburu mandi, jadi saya larang karena orang-orang lagi pada antri mandi dan Zaynab mulai ngantuk πŸ˜…. Tapi next time saya akan beri kesempatan itu. 

Evaluasi hari ini:
1. Tidur lebih cepat, in sha Allah jam 10 malam setelah tulisan ini kelar.
2. Materi penerapan adab harus lebih sering dan dibuatkan listnya agar terkontrol
3. Tidur siang agar taraweh lebih khusu (untuk ZaZi)
4. Preparasi waktu shalat lebih dioptimalkan
5. Evaluasi ajak ZaZi

Demikian jurnal hari ini, semoga ada info yang bisa diadopsi. Semoga ya πŸ˜….

Batujajar, 25 April 2020


Jurnal Ramadan: Day 1

Jumat, 24 April 2020
Marhaban ya Ramadan semuanya. Alhamdulillah hari ini hari pertama Ramadan. Rasanya alhamdulillah lapar πŸ˜‚πŸ˜‚. Jam 11.00 saya memulai nulis blog ini alhamdulillah anak-anak pada tidur dan berhasil ga tidur bada subuh. Horeee. 


Dalam jurnal Ramadan kali ini, bagi saya sekeluarga ga terlalu terasa perbedaannya Ramadan di tengah pandemi dibandingkan dengan Ramadan 3 tahun lalu berturut-turut di negara minoritas muslim. Bedanya, jadi ga bisa sama sekali ke masjid, ga ada buka bareng dan ga ada shalat Ied (tapi mudah-mudahan tetap ada 😟). Meski ga terlalu kerasa bedanya ... Tetap kerasa sedih

Sedih meski udah biasa Ramadan di rumah selama di US. Sedih ternyata harapan bisa Ramadan di masjid, i'tikaf dan sebar ta'jil jadi ga bisa dilakuin lagi kaya masa Zaid Ziad (ZaZi) kecil dulu. Padahal saya sudah berencana untuk melakukan hal-hal khas di bulan Ramadan sebagai aktivitas pembelajaran untuk ZaZi. Tapi ga ada yang sia-sia jika kita yakin bahwa semua terjadi atas kehendak Allah. Semangat!!!

Ramadan, Pandemi dan Aktivitas
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya berusaha mengajak ZaZi untuk melakukan aktivitas produktif untuk menyambut Ramadan. Dan juga mengajak mereka untuk meningkatkan kapasitas diri dengan menambah pasokan ilmu terutama ilmu keislaman. Jadilah kita kita mencoba melakukan hal-hal berikut:
1. Membuat poster Ramadan
2. Menyusun agenda Ramadan
3. Merencanakan aktivitas Ramadan
4. Menantang diri melakukan aktivitas kebaikan selama Ramadan

Tujuannya, agar Ramadan ga berlalu begitu saja dan menyisakan kenangan indah bagi ZaZi sehingga mereka terbiasa mempersiapkan diri dengan kualitas terbaik. Sehingga, setiap tahun mereka bertumbuh mereka bisa terus menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.

Tapi tenang! Semua yang saya dan anak-anak lakukan ga selalu sempurna dan tentu penuh drama kok. Yang di tulis di blog tentunya dengan pembahasaan yang disesuaikan biar ga curhat-curhat amat πŸ˜….

Apa Perlu Membuat Poster Ramadan?
Ya sebenarnya bukan poster ya kalo saya mah. Anggap aja poster karena saya bingung istilah nya apa πŸ˜…. Hanya tulisan yang dibuat dalam ukuran besar agar nuansa Ramadannya terasa. Dengan tujuan saat melihat tulisan tersebut, kita sekeluarga sadar bahwa saat ini tengah Ramadan. Jadi bagi saya, membuat poster tidak hanya sekedar ikut-ikutan melainkan harus jelas maksud dan tujuannya. Biar si tulisan atau posternya (bagi yang membuat poster) kerasa ruh semangatnya 😍. 



Apa aja agenda Ramadan ZaZi?
Pada tahun ini, saya menawarkan agenda keluarga. Jadi tidak hanya ZaZi yang memiliki agenda Ramadan, namun juga Umi Abinya. Prinsipnya lebih memberikan teladan dan memperkenalkan aktivitas-aktivitas rutin yang memiliki nilai pahala yang besar disaat Ramadan. Seperti mengkhatamkan Al-Quran, mendengarkan kajian (berhubung kita tidak bisa ke masjid), taraweh berjama'ah dan juga amalan lain seperti berbagi ta'jil ke tetangga. Jadi ga ada amalan khusus yang saya minta ke ZaZi untuk dilakukan. Yang ada hanya amalan yang Umi Abi lakukan yang melibatkan ZaZi.



Nah berhubung ZaZi punya adik kecil yang sedang luar biasa masya Allah aktif. Jadi saya menyiapkan beberapa tawaran aktivitas Ramadan untuk mengusir rasa jenuh, rasa lapar dan bisa menstimulus kreatifitas mereka. Karena meski pandemi, Ramadan tetap harus menjadi momen belajar unggulan. Sehingga saya jadikan Ramadan sebagai titik awal penertiban agenda homeschooling ZaZi.


Ada dua jenis aktivitas Ramadan ZaZi yang dievaluasi menggunakan:
1. Good Deeds Calendar
Evaluasi ini mencakup 5 aktivitas:
πŸ’ Mencuci piring sendiri
πŸ’ Mencuci baju sendiri
πŸ’ Membersihkan meja belajar
πŸ’ Mengasuh Zaynab
πŸ’ Hafalan


Kenapa hanya 5? Karena menyesuaikan dengan karakteristik keluarga. Selain itu agar tujuan akhir untuk pembentukan kebiasaan bisa tercapai pasca Ramadan.

2.Family's Ramadan Schedule
Yaitu jadwal kegiatan harian yang disusun selama 1 bulan Ramadan. Tujuannya agar seluruh anggota keluarga bisa mengoptimalkan waktu (khususnya Umi Abi), mempermudah koordinasi antara Umi dan Abi, dan juga melatih keluarga untuk terbiasa merencanakan aktivitas harian. Sehingga meminimalisir rasa bosan, bingung mau ngapain dan lain sebagainya terutama selama pandemi.

Pelaksanaan nya ga saklek sesuai jadwal. Karena tentu Umi bakal keteteran karena aktivita saya bergantung pada jadwal tidur Zaynab 🀧.

Yang penting, aktivitas krusial terlaksana, seperti alma'tsuratan, membaca AlQuran, mendengar kajian, dan program homeschooling anak-anak.

Ramadan hari 1
Alhamdulillah saat tulisan ini saya lanjutkan pukul 10.35 malam, hari pertama Ramadan kami berjalan lancar. ZaZi alhamdulillah shaum tuntas, saya pun begitu dan Zaynab sangat kooperatif.

Meski sempat jam 11 siang pasca tidur, mereka agak kelaparan. Setelah dibawa diskusi dan disuguhkan aktivitas Ramadan, akhirnya merekapun lupa dengan rasa lapar mereka. Salah satu cara yang saya coba lakukan yaitu:

1. Berdiskusi tentang fakir miskin, latar belakang kenapa ada Ramadan sampai tentang makanan apa yang ingin mereka makan saat berbuka puasa nanti. Kalo udah diskusi, mereka suka muncul aja ide aktivitas. Dan tadi mereka pengen melukis pake cat air.



2. Mengalihkan aktivitas mereka dengan yang mereka sukai. Sehingga kami melakukan beberapa eksperimen.





3. Memberikan apresiasi terhadap apa yang tengah mereka usahakan berupa cemilan yang mereka sukai.

Evaluasi
Hari ini jadwal harian tidaj berjalan sesuai waktu. Namun agendanya tetap dilaksanakan di waktu berikutnya. Puasa pertama kebetulan Abi anak-anak ada keperluan keluar rumah hingga ba'da Dzuhur. Selain itu ada tragedi rumah kebanjiran karena saluran serapan hujan lupa dibuka πŸ˜…. Dan tukang sayur ga lewat sehingga kita berbuka dengan apa adanya.

Alhamdulillah Zaid Ziad tetap senang karena dapet reward cemilan dan dibikinin minuman segar, martabak manis maskipun bantet, dan ikan sayur kesukaan mereka.

Segitu dulu aja jurnal hari pertama. Semoga besok jauh lebih baik dan jurnalnya bisa diperpendek biar saya ga tidur kemalaman πŸ˜…πŸ˜‚.

Batujajar, 24 April 2020

Nb: foto-fotonya belum dijudul. Nanti kalo sempet di edit. Sekarang udah jam 11 malam. Semoga saya kebangun. Kenapa maksa nulis jurnal per hari? Karena mau menantang diri sendiri aja. Jadi tulisan ini untuk dokumentasi pribadi ya. Untuk jurnal anak-anak. Jika ada yang bisa diambil manfaatnya alhamdulillah. Jika ada yang kurang berkenan mohon dimaafkan.

Simalakama di Sosial Media

Senin, 20 April 2020
Beberapa minggu yang lalu saya meniatkan diri untuk kembali produktif menulis. Jadilah saya menghubungi kembali salah satu komunitas dimana saya mewakafkan diri untuk berbagi dalam bentuk tulisan. Berhubung saya akan menulis di platform komunitas, saya tentunya mencoba mencari ide-ide tulisan yang segar dan sesuai dengan target pembaca. Maka muncullah sebuah ide tentang mengelola informasi di era digital dalam kaitannya dengan manajemen emosi. Hahaha sok sok an banget emang 🀣


Belumlah rampung tulisan tersebut, tidak sengaja saya melihat sebuat postingan yang membuat saya sebagai individu pengguna aktif sosial media berfikir tentang apa yang selama ini menjadi kebiasaan sosial baru, yaitu menerbitkan postingan pribadi di akun sosial media saya. Agak-agak ada kaitannya kan ya sama yang mau saya bahas mengingat media sosial menjadi platform teramai yang digunakan masyarakat dalam memperoleh informasi. Plus si postingan ini mempermainkan emosi πŸ˜‚. Warming up dulu deh sebelum nulis buat komunitas πŸ™ˆ

Jadi, saya meminta teman-teman Instagram saya untuk menyampaikan pandangan mereka terkait postingan tersebut. Adapun postingan tersebut yaitu postingan makanan. Ranah sensitif yang menyinggung orang-orang yang lagi terkena dampak ekonomi gara-gara si wabah Covid-19. 

Berikut saya sisipkan gambar screenshoot postingannya agar bisa melihat konteksnya secara langsung yaks. 😁


Sekedar informasi, dari 315 orang yang melihat postingan saya, 23  orang yang berkontribusi memberikan pandangan dan pendapatnya. Terimakasih ya πŸ˜πŸ˜ƒ. 

Dalam tulisan ini, pendapat-pendapat tersebut saya coba kelompokkan ke dalam 3 pendekatan, yaitu pendekatan sosial, personal dan agama. Mohon maaf ya teman-teman sosiolog kalo-kalo saya salah salah menggunakan istilah. ✌🏼✌🏼✌πŸΌπŸ™πŸ™πŸ™ Saya mah pake ilmu kirologi alias ngira-ngira aja untuk penggunaan istilah.

Disclaimer dulu deh ya, tulisan ini dibuat untuk meningkatkan produktivitas menulis dan sarana belajar saya. Ruang diskusi  sangat terbuka ya untuk mengoreksi jika ada yang kurang tepat. Tentunya boleh juga menambahkan jika sekiranya ada yang kurang atau ga kebahas. Dan satu lagi, tulisan ini ga punya landasan teoritis ya. Bagi akademisi yang terdampar, mohon jangan jadikan tulisan ini sebagai referensi πŸ˜‚πŸ˜…. Karena saya ga lampirin pendapat aslinya. Cuma rangkumannya aja yang saya tulis ulang kembali πŸ™ˆ


Oh iya, selain tujuan yang sifatnya personal diatas, tulisan ini juga saya tujukan untuk teman-teman yang mungkin suka maju mundur cantik untuk aktif di sosial media karena terkait hal serupa seperti ini. Jadi saya berharap tulisan ini bisa memberikan gambaran variasi pandangan orang-orang terkait simalakama dalam bersosial media. Mana tau kan ada yang mau ngesosmed buat aktualisasi diri, jadi mundur gara-gara ngerasa ini dan itu.

Sebelum kita mulai, saya mau bikin semacam batasan masalah ya. Biar ga ngambang πŸ˜….  

1. Apa sajakah postingan yang menimbulkan kontroversi dalam sosial media?
Dalam tulisan ini tentunya foto masakan 😁.

2. Apa sikap kita dalam menghadapi kontroversi sebuah postingan?
Jawabannya bakal saya ungkap dalam tiga pendekatan seperti yang saya sebutkan di atas. 

Sekali lagi maafin ya saya ga baca-baca dulu panduan ilmiah dalam membuat batasan masalah. Saya hanya pake ilmu jaman skripsi sekitar 10 tahun yang lalu πŸ™ˆπŸ€«πŸ€«.

Mulai yaks πŸ€— Semoga saya ga bingung membahasakannya πŸ˜‚πŸ˜‚

1. Pendekatan Sosial
Dalam pendekatan ini, saya coba paparkan pendapat dan pandangan teman-teman kontributor (selanjutnya saya akan sebut kontributor saja) yang membahas dalam sudut pandang sosial. Sudut pandang yang melihat interaksi dunia maya khususnya melalui akun sosial media sebagai interaksi sosial. Rata-rata, kontributor yang memberikan pandangan dalam pendekatan sosial merupakan akun yang aktif posting untuk personal branding.
Berikut poin-poinnya:

πŸ’ Mengenali Follower
Memastikan diri mengenal follower atau lingkaran pertemanan di akun sosial media bisa membantu kita untuk memilih hal apa saja yang sekiranya 'layak' untuk diposting. Karena setiap orang tentunya memiliki lingkaran pertemanan yang berbeda. Jika lingkaran pertemanan kita cukup variatif, kita bisa memilih follower di lingkaran pertemanan yang sekiranya tidak berkeberatan terhadap postingan kita. Atau bisa juga dengan 'self branding' sebagai food influencer masakan tradisional, misalnya yang kita cantumkan di biografi kita. Sehingga, jika ada hal-hal seperti di atas terjadi, kita tidak perlu terlalu menggubris.

πŸ’Peka
Bersosial media bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kepekaan sosial. Jika keaktifan kita dalam bersosial media hanya sebatas hal-hal konsumtif, yaitu menghabiskan waktu memposting dan membalas pesan atau komen, maka dengan meningkatkan kepekaan sosial dengan berkontribusi langsung mengatasi masalah yang ada baik berupa dana atau mungkin tenaga, bisa menepis rasa bersalah kita ketika postingan kita membuat kurang nyaman follower kita.

πŸ’Critical thinking
Dalam menyikapi seperti kasus di atas, tentunya memunculkan pemikiran kritis beberapa kalangan. Mengingat berselancar di media sosial di Indonesia tidaklah gratis. Sehingga asumsinya, setiap orang yang bisa bersosial media telah tuntas dengan kebutuhan primer mereka. 

2. Pendekatan personal
Dalam pendekatan personal, kontributor lebih menitiktekankan pada diri sendiri sebagai pengguna sosial media. Rata-rata, kontributor yang memberikan pandangan dengan pendekatan personal ini merupakan pengguna aktif sosial media tanpa tujuan personal branding. Adapun poin-poinnya sebagai berikut:

πŸ’ Mengenali diri sendiri
Jika dalam pendekatan sosial kontributor berpandangan bahwa mengenali follower sebagai salah satu cara untuk tidak terjebak simalakama sosil media. Maka dalam pendekatan personal, kontributor berpendapat bahwa mengenali diri sendiri adalah cara yang paling mudah untuk dilakukan. Dengan kita mengenali diri sendiri seperti hal apa saja yang menjadi ranah sensitif kita, maka kita bisa batasi diri untuk melihat postingan terkait hal tersebut. Atau bisa juga dengan mengenali kekuatan diri yang bisa menangkis sensitifitas terhadap postingan tersebut.

We can't control others, but we can control ours

πŸ’ Introspeksi diri
Dalam pendekatan personal, kontributor memberikan feedback kepada diri sendiri terhadap reaksi sosial yang diperoleh di lingkaran pertemanan di akun sosial media mereka. Jika dalam pendekatan sosial kontributor lebih persuasif menjadi aktif produktif dengan meningkatkan kepekaan. Dalam pendekatan personal ini justru kontributor memilih mundur atau menjadi silent reader di akun sosial media mereka dengan berbagai macam latar belakang dan pengalaman. 

πŸ’ Preferensi pribadi
Hal ini terkait apa yang menjadi kenyamanan diri sendiri. Pembatasan follower, mengatur akun menjadi terkunci atau membatasi postingan, semua dikembalikan pada preferensi pribadi. Karena akun sosial media seperti halnya platform Instagram sudah menyediakan berbagai macam fitur yang memfasilitasi kenyamanan penggunanya dalam berinteraksi.

πŸ’ Sarana informasi
Kebutuhan seseorang terhadap sesuatu tentu berbeda. Seperti halnya kebutuhan akan resep masakan. Sehingga kehadiran akun-akun yang aktif membagi resep beserta foto masakannya menjadi jalan kemudahan bagi para pengguna sosial media lainnya. Sehingga kontributor berpendapat bahwa media sosial justru menjadi sarana informasi yang pas untuk memperoleh apa yang dibutuhkan.

3. Pendekatan Agama
Dalam pendekatan ini, menurut saya pendekatan yang paling kita butuhkan. Kenapa? Karena sosial media adalah bentuk lain dari interaksi sosial yang mana segala sesuatunya sudah di atur dalam agama Islam. Dalam hal ini, makanan. Dan tentunya sebagai muslim kita ingin donk jadi muslim yang baik. Berikut poin-poinnya ya:

πŸ’ Niat
Hampir seluruh kontributor menyinggung poin ini. Karena semua yang kita lakukan harus dilihat lagi apa niatannya. Jika memang kita memiliki fokus dalam poin ini, maka memastikan niat yang lurus dalam memposting sesuatu adalah kuncinya. Lebih banyak manfaatnya atau justru hanya ada mudharatnya. Begitu lebih kurang rangkumannya.

πŸ’ Wara' atau berhati-hati
Dalam poin ini, kontributor berpendapat bahwa berhati-hati dalam memposting merupakan sikap yang harus dimiliki setiap muslim. Sehingga kita tidak asal posting karena bersosial media pun dicatat sebagai amalan kan.

πŸ’Menghindari penyakit 'ain
Untuk poin ini saya ga kasih penjelasan ya. Jika yang penasaran dengan penyakit 'ain bisa pelajari di link ini ya. 

πŸ’ Menjaga adab 
Artinya, meski dalam bersosial media kita tetap harus memperhatikan adab. Jika hendak memposting, pastikan kita menggunakan bahasa yang baik. Jika ada yang tersinggung dengan postingan kita, tidak sungkan untuk meminta maaf. Dan lain sebagainya terkait adab. 

Itulah dia rangkuman pendapat dan pandangan yang masuk ke kotak DM akun Instagram saya terkait postingan foto masakan yang menyinggung kalangan terkena dampak Covid-19. 

Sebenarnya tidak hanya makanan ya yang menjadi ranah sensitif. Jauh sebelum Covid-19 datang, ranah paling sensitif yang kontroversinya seperti tak pernah usai yaitu ranah parenting πŸ˜…. Dan poin-poin di atas tampaknya tetap bisa diaplikasikan untuk semua ranah sensitif yang teman-teman rasakan. Karena sudah menjadi hukum sosial ya ketika kita melihat seseorang yang memiliki sesuatu disaat kita tidak memiliki, maka akan muncul sebuah rasa dihati. Bisa dalam bentuk iri, dengki, hasad dan lain sebagainya.

'Perang' ini hanya akan berakhir dengan ... ??? 

Jawab sendiri ya. Karena hanya kamu yang tau bagaimana cara yang tepat mengatasi masalah mu terutama dalam bersosial media πŸ˜ƒ

Semoga tulisan ini ada manfaatnya ya. Mau ngemedsos atau pun ga, yakinlah bahwa kamu tetaplah kamu yang diciptakan Tuhan dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Tinggal pilih mau melejitkan yang mana πŸ’πŸ’πŸ’ dan menggunakan apa atau melalui apa πŸ€—

Batujajar, 20 April 2020
Lagi dan lagi aku nulis di tanggal 20 πŸ˜…

NB: terimakasih banyak yang 23 orang teman-teman kontributor. Berkat kalian ku jadi nulis lagi 😭😭😭😭