MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Anak Main, Orang Tua Belajar

Senin, 15 Januari 2018
Main sama anak emang agak bikin saya yang bosenan ini jadi bosen πŸ˜…. Pasalnya, bocah memang demeeeeen banget main trus diulang-ulang. Namanya juga anak-anak kan ya ... Tapi demi kebaikan anak, memang kitalah (saya aja keleeees) yang harus bisa mengontrol rasa bosen. Kenapa? Biar ga kehilangan momen keemasan anak plus ga nyesel kalo entar anak udah besar malah kangen main sama anak jaman masih bocah ingus nan lucu πŸ˜†

Nah, di tulisan kali ini, saya bakal kasih laporan sedikit tentang observasi atas keterlibatan saya dan suami dalam kolaborasi bermain yang kami lakukan pasca memperoleh secercah pencerahan dari coaching class 'Main Sama Anak'. Apaan tuh?

Jadi, bulan Desember tahun lalu, saya dan suami 'menjerumuskan' diri dalam sebuah kelas online yang dibina oleh Kak Idzma yang diasisteni oleh istrinya sendiri, Kak Lintang. Nama kelasnya 'Main Sama Anak'. Gratis? Nope! Berbayar Rp. 150.000 sehingga diharapkan bisa menumbuhkan 'rasa memiliki' terhadap kelas tersebut. Sehingga kita lebih bertanggungjawab atau at least merasa rugi kalo tidak terlibat aktif dalam rangkaian program yang sudah dirancang Kak Idzma dan tim. Tapi kita ga akan bahas soal berbayarnya wkwkwkwk.. itu preferensi masing-masing ya ... yang pasti coaching class ini pasti teramat sangat bermanfaat dan murah kalo dibandingkan dengan ilmu yang kita perolehnya. Intens selama 10 minggu dengan fasilitas konsultasi kapan pun yang kita mau selagi Kak Idzma nya ga lelah wkwkwkwk. Diskusi dan berbagi inilah yang tak ternilai harganya disamping ilmu dari materi-materi yang diberikan. Belum lagi nambah teman dan pelajaran dari pengalaman peserta lain.

Dalam kelas ini, saya dengan 90 lebih orang peserta lainnya (ada yang couple seperti saya dan suami dan anak yang sendiri tampaknya) akan memperoleh materi-materi kece bin menarik tentang anak dan bermain. Terdengar simple dan remeh ya ... tapi disinilah letak daya tariknya. Ternyata dalam sebuah hal yang remeh, terdapat pelajaran yang berharga yang bisa membantu kita lebih mengenal anak sehingga tau darimana harus menstimulus anak.

Selain itu, masih banyak diantara kita para orang tua yang memiliki kekhawatiran berlebih terhadap pola dan tingkah laku anak kita dalam bermain dan berinteraksi. "Duh anak saya normal ga ya, kok senengnya main sendiri." Atau "Lho kok anak saya cuma merhatiin orang lain main aja ya, kaya yang ga tertarik ikut main". Atau hal lain lagi "Buset anak saya kalo main seneng minjem mainan temen". Dan masih banyak lagi jenis komentar khawatir lainnya.

Hal-hal terkait bermain inilah yang kami bahas di kelas online 'Main sama Anak' ini. Bisa dikatakan sejenis memperkaya khazanah keilmuan kita terkait bermain pada anak. Tak sekedar mengetahui bahwa bermain itu penting dan baik bagi anak. Tapi bagaimana mengetahui bahwa main yang dilakukan anak itu normal atau tidak.

Dari pertama kelas dimulai, tanggal 20 berapa yak, saya lupa karena saya masih on the trip hehehe ... sampe saat ini, saya dan teman-teman yang lainnya sudah menerima 3 materi dengan 2 challenges yang harus bin tidak wajib (kalo wajib ga dilaksanain dosa panπŸ˜…) kita lakukan. Jadi sistemnya, setelah memperoleh materi, mempelajari dan mengolahnya dalam sistem saraf otak πŸ˜„ ... kita diminta untuk mengimplementasikannya dan atau mengamatinya. Berhubung saya tengah dalam perjalanan di materi dan tantangan pertama, sehingga saya bolos. Padahal menarik lhoooo ... dan saya ga akan ngasih bocoran apa nya. Biar pada penasaran dan menunggu kelas online batch 2 'Main Sama Anak' buka (kode promosi wkwkwkwkw)

Trus gimana dengan materi 2 dan 3? Kali ini saya hanya akan berbagi ulasan materi ke 2 dan menuliskannya di blog ini sebagai pemenuhan tugas untuk challenge 2. Hehehe...

Materi kedua ini adalah tentang perkembangan bermain anak dan tipe bermain anak. Challengenya adalah menceritakan tentang tipe bermain yang anak kita lakukan dan jenis perkembangan bermain mereka.

Hmmm ... memang penting ya mengetahui tahap perkembangan bermain anak? Trus harus ya menjabarkan atau mengetahui tipe bermain anak? Jawabannya, penting ga penting, yang namanya ilmu pasti jadi penting hehehe. Kalo soal keharusan menjabarkan semata-mata buat memahami utuh menyeluruh si implementasi materi yang didapat. Keuntungannya, ketika kita mengetahui teorinya, kita jadi lebih tau apa kelebihan dan kekurangan anak sehingga tau juga hendak menstimulus atau berbuat apa untuk anak. Betul apa benar? Trus paling ga kita jadi tau juga, kita wajar apa ga khawatir terhadap anak kita, dalam hal ini konteks bermain.

Oke lanjut!!!
Ada 3 tahap perkembangan bermain anak yang dijabarkan kak Idzma di materi kedua kali ini.

1. Manipulative play
2. Functional play
3. Symbolic play
πŸ‘‰ Pretend play
πŸ‘‰ Imaginary play

Nah anak-anak sudah melewati semua tahap perkembangan ini dan sekarang mereka lagi doyan pretend dan imaginary play deh kayanya (emak ga yakin beginih πŸ˜†). Sedikit bocoran soal 3 tahap perkembangan ini, bahwa anak semasa bayi hingga berusia sekitar 2 tahun pastinya akan melewati 3 tahap perkembangan ini.

Ketika bayi, dimana anak tengah mengenal diri dan lingkungannya. Menjadi hal yang sangat wajar ketika anak menggunakan segala inderanya untuk mengetahui semua hal yang terakses oleh indranya. Maka tak jarang kan kita liat bayi doyan masukin semua benda yang dia dapatkan ke mulutnya. Nah, itulah dia tahap perkembangan pertama. Dimana anak akan menggunakan seluruh inderanya, mulai dari pemglihatan, pengecap, pendengaran hingga indra peraba. Makanya anak seneng tuh kalo diajak main yang mengeakplore indra-indra tersebut, seperti dengan bermain Ci luk ba. Dimana indra penglihatan anak dimanipulasi dengan gerakan membuka dan menutup wajah kita. Karena anak hanya akan melihat apa yang dia lihat. Tidak bisa melihat dan mengetahui apa yang sebelumnya dia lihat (sebelum tangan di tutup). Jadi cuma bisa tau hal konkrit bukan abstrak. Dan ci luk ba ini permainan yang sangat menarik buat baby kan hihihi

Seiring berjalannya waktu, anak akan terus berkembang tahap bermainnya. Memasuki tahapan functional play dimana anak akan mulai memainkan benda sesuai dengan fungsinya. Sendok ya buat makan misalnya, atau mobil-mobilan ya buat digerakin maju mundur kaya mobil, dll. Dan tentunya lagi-lagi stimulus dari orang tua perlu donk untuk memberitahu fungsi benda-benda tersebut agar anak masuk ke tahap functional play ini.

Ketika anak terus bertambah besar dan di stimulus melalui main bersama, symbolic play dimana anak bisa menggantikan fungsi benda A sebagai benda B akan menjadi tahapan perkembangan bermain anak selanjutnya. Seperti bermain peran atau story telling.

Yups! Itu sedikit yang saya tangkap dan cerna ... kalo ada yang kurang tepat komen-komen aja ya ... terus biar saya edit hehehehe.

Sedangkan untuk tipe bermain, ada 6 tipe bermain yang sering dilakukan anak dan tak jarang orang tua kurang mengetahuinya. Nah saya bakal coba bahas sedikit dengan contoh bermain yang pernah Za Zi lakukan.

1. Unoccupied play
Tipe bermain dimana anak asik sendiri dengan aktivitasnya yang tak jelas arah dan tujuannya bagi orang dewasa. Zaid Ziad dulu ketika masih kecil banget, melakukan tipe bermain ini semisal tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya sambil komat kamit dan kemudian lompat mendadak. Terus ketawa sendiri. πŸ˜… Sekarang, setelah berumur 4 tahun jika pun mereka masih cukup sering kedapatan melakukan hal-hal geje menurut orang dewasa, tapi mereka sudah bisa explain, sehingga jadi cukup kebayang apa yang mereka lakukan.
FYI, saya jaman anak-anak ngelakuin tipe bermain ini, jujur agak sedikit 'stres'. Banyak pikiran tentang duh normal apa ga. Dan setelah mengetahui ilmunya ... ketika anak melakukan unoccupied play saya jadi tidak khawatir lagi. Yang penting tetap jaga kedekatan dengan anak sehingga anak terbantu untuk mendapatkan tambahan info yang bisa membantu daya kreatifitas mereka dalam bermain. Kalo terus-terusan unoccupied tanpa ada perkembangan yang signifikan ya worry juga hehehe ...

2. Solitary play

Yang sering main jenis main ini adalah Ziad. Sibuk main sendiri dengan mainannya. Nyaris setiap hari Ziad pasti melakukan tipe bermain ini. Tak peduli Abangnya lagi main juga apa ga. Tadi sore juga Ziad sibuk mainin mobilan hotwheelsnya di sofa. Saya dan suami plus Zaid lagi menyantap pizza. πŸ˜…

Eh tapi yang ada di foto ini mah Zaid πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.
Nah di foto ini, Zaid lagi sibuk sama bumble bee nya ditengah kita-kita yang lagi sibuk foto-foto. Bermain sendiri dan asik sendiri meski waktu itu Ziad lagi asik main dengan para tante yang bareng kita ngetrip kemaren, Zaid tak terpengaruh dalam beberapa waktu.

3. Onlooker play
Main yang cuma ngeliatin doank tanpa ikut main sama teman bermainnya ini pernah dilakukan oleh Zaid. Zaid yang agak sering. Tapi ga sering-sering amat karena memang Zaid tipenya pilih-pilih temen. Sehingga diawal bermain dengan teman baru, Zaid lebih memilih bermain tipe onlooker play ketimbang associative atau parallel play.  Ga kaya Ziad yang easy going dan doyan make a friend. Meski sering solitary play, justru kalo lagi ada temen baru Ziad sering bermain tipe Associative dan Parallel play (2 tipe ini dijelaskan di poin selanjutnya)


Dalam foto di atas, sebelumnya Zaid agak cukup lama berdiri sekedar mengamati Ziad dan temen barunya yang juga kembar bermain. Itu bocah bayi adalah bocah yang lagi ulangtahun. Jadi ceritanya memang Za Zi ke pesta ulang tahun dan nemu teman baru yang kembar juga dan sama-sama pake baju ijo. Ini pertama kalinya saya liat Zaid jadi onlooker play setelah dulu jaman mereka kecil bingits seriiiiiing banget jadi onlooker play. Berdiri dibalik pantat emak sembari ngintipin teman atau orang lain main πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

4. Parallel play
Mainin mainan bareng di tempat yang sama ... Padahal sebenernya mereka main masing-masing. Ga nyambung gitu. Nah inilah yang dilakukan Za Zi saat memainkan stroller. Main bareng di tempat yang sama, trus ga sengaja si stroller nabrak. Trus  sibuk lagi masing-masing liatin pasir yang hambur-hambur kena roda plus garis bekas jalur roda stoller mereka.


Foto di bawah ini, juga lagi parallel play. Aslinya ada anak-anak lain yang juga bermain di miniatur firetruck ini. Mereka sibuk masing-masing mengekspos si firetruck. Ada yang jadi firefighter. Ada yang cuma mainin onderdil mobilnya ... ada yang cuma duduk.


5. Associative play
Ketika anak bermain bersama tapi dalam cerita yang berbeda. Kadang anak saling pinjam barang tapi tetap di jalan cerita masing-masing. Nah untuk contoh yang ini, saya ingat beberapa waktu yang lalu Za dan Zi main menggunakan mainan favorit mereka masing-masing. Za dengan spiderman nya dan Zi dengan Batmannya sibuk masing-masing. Nah kemudian waktu itu Ziad ingin meminjam tokoh bad guy kepunyaan Zaid. Tak lama berselang Zaid yang pinjam mobil batman Ziad untuk keperlua  bermain dia. Disinilah terkadang pertikaian terjadi tatkala yang punya barang ga mau minjemin πŸ˜‚πŸ˜…

6. Cooperative play
Ada aturan main. Itu kali ya cooperative . Ada tujuan yang jelas. Contohnya ketika anak-anak bermain hide and seek. Yang jaga kalo yang kalah hom pim pa misalnya. Yang jaga selanjutnya yang paling awal ditangkap. Tipe bermain ini sering terlihat di anak usia 6 tahun ke atas. Kalo Za Zi masih cooperative ala-ala πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Begitulah sedikit gambaran tipe bermain anak. Maap-maap ya kalo contohnya agak kurang tepat. Saya juga lagi belajar. hihihi.

Esensinya kenapa sih kita harus mengenal tahap perkembangan bermain anak dan juga tipe bermainnya, seperti yang sudah saya singgung di atas, bahwa ternyata bermain itu tidak melulu harus barengan temen. Sesuai aturan standar manusia dewasa, misalnya. Selagi anak ada dalam konteks bermain seperti yang dipaparkan di atas dan melewati 3 tahapan perkembangannya, artinya kita ga perlu khawatir. Yang terpenting tetap bantu anak mengenal dunia lebih luas dengan bermain bersama anak. Karena ketika anak sedang bermain, maka hakikatnya kita orang tua sedang belajar.

Semoga manfaat ya.

Yang penasaran soal kelas online "Main sama Anak" japri aja ya buat tanya-tanya ... wkwkwkw #timmarketing

Columbus, 15 Januari 2018

4 komentar on "Anak Main, Orang Tua Belajar"
  1. wah, seru nih ka.. btw, anak-anak umur berapa sekarang?

    BalasHapus
  2. hihihi..iya .. ini seru2an ala emak2 ya levina wkwkwwk ... you will be here πŸ˜… soon. anak2 udah 4 tahun 6 bulan ... udah tua eh udah gede maksudnya πŸ˜…

    BalasHapus
  3. teteh, aurum sm nana pas di tempat kajian kan ada kids cornernya, bukannya ikutan main malah asik lari2 we berdua, pdhl rame pada bikin slime trus ke play ground. ga tertarik gera, malah pd lari2 gangguin emak sm abinya. huehue tipe apa ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. main berdua bisa masuknya parallel play ... tenang aja ... masih masuk tipe bermain kok hehehe ... biar kenal tipe yg lain .. sering2 aja diajak main bareng misalnya .. tp ga usah dipaksa.. anak2 masih pada kecil ini.. associative play itu katanya mpe anak2 umur 6 th .. 6 th k atas baru cooperative ... jadi dont worry yaks ... (aku juga lagi belajar πŸ™ˆ)

      Hapus

Komenmu sangat berarti bagiku πŸ˜†
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... πŸ€—