MOM BLOGGER

A Journal Of Life

'Yes Man': Inspirasi Belajar Keluar Negeri

Senin, 04 Februari 2019
Siapa sih yang ga mau belajar ke luar negeri. Jujur-jujuran aja, kalo belajar ke luar negeri itu memang keren kan ya. Keren pengalamannya dan keren juga tantangannya. Yang pasti, belajar di luar negeri sendiri alias di negeri orang itu bakal berpeluang memperoleh insight baru. Bisa dikatakan lebih kaya akan nilai dan pesan moral lah. Menurut saya ya ...


Saya, bukanlah pribadi yang senang belajar di jenjang formal. Melanjutkan pendidikan formal ke tingkat yang lebih tinggi juga bukan menjadi impian. Jadi boro-boro kepikiranbuat  belajar ke luar negeri, lanjut ke jenjang yang lebih tinggi saja ga jadi targetan pribadi saya.

Baca Juga: Sekolah di Amerika, Beda?

Tapi meskipun demikian, saya selalu penasaran dengan orang-orang yang seneng banget belajar di jenjang pendidikan formal. Baik yang non stop kuliahnya (beres kuliah S1, lanjut S2. Belum lama beres S2, lanjut lagi S3), maupun yang kuliah kerja kuliah kerja. Masha Allah. Otaknya ga panas apa ya ... 😅.

Memetik Inspirasi Dari Sekitar
Bersyukurnya saya saat ini berada di lingkungan orang-orang yang seneng belajar. Jadi saya bisa melihat langsung gimana sih orang yang hobi belajar itu nuntasin pekerjaannya sebagai mahasiswa, misalnya. Gimana sih cara mereka membahagiakan diri kalo misal otak udah ngebul. Atau gimana cara mereka bersosialisasi, mengatur ritme dengan peran lain mereka terutama bagi yang sudah berkeluarga.

Tiga tahun menyaksikan fenomena ini, kesimpulan awal yang bisa saya ambil adalah mereka memang orang-orang pilihan yang ulet dan bekerja keras. Pintar dan ga malesan. Mereka mau tenggelam dalam ilmu, terseok kepayahan dalam ujian. Dan yang pasti, mereka membuat saya jadi sangat ingin seperti mereka, belajar tanpa henti, dengan menjadi mahasiswa (lagi).

Tapi apa sesempurna itu mereka? Saya protes donk!!! ASLI IRI!!! Dan dalam tulisan ini saya bahas kisah inspiratif yang menurut saya bisa memotivasi kita untuk terus menjadi pribadi pembelajar sejati.

Baca Juga: Produktif Dampingi Suami Bersekolah

Haruskah Belajar Formal?
Geliat belajar generasi muda saat ini memang luar biasa ya (kalo ngomong kaya gini saya mendadak merasa tua). Entah karena saya memang lagi berada di lingkaran mahasiswa, tapi memang kesadaran masyarakat kita akan pentingnya pendidikan semakin meningkat. Terlebih semakin banyaknya peluang bagi setiap kalangan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi tanpa terkendala dana dengan aneka macan tawaran beasiswa.

Tapi apakah harus belajar di jenjang pendidikan formal?

Pertanyaan ini lantas saya lontarkan ke salah seorang kenalan saya. Pertanyaan yang sangat menghantui saya yang baru memiliki predikat sarjana. Meski pernah mengecap pendidikan master selama 1 semester, tak lantas membuat saya memiliki keinginan kembali bersekolah master dengan berbagai macam pertimbangan, apalagi setelah beranak pinak seperti sekarang.

Lalu apa jawaban dari kenalan saya tersebut?

"Belajar tak harus bersekolah!" Begitu katanya.

Saya, yang mendengar jawaban itu merasa memperoleh pembenaran atas segala pertimbangan yang ada dalam pikiran saya. Saya ga lanjut S2 berarti ga salah donk ya. Tapi saya kurang puas meski sesaat merasa terbela. Saya coba tanya lebih mendalam lagi.

"Lha, terus kamu kenapa mau cape-cape sekolah sampe sejauh ini?"

Pertanyaan ini saya lontarkan karena saya sudah cukup kapok dengan karakter orang-orang pintar yang selalu membuat orang lugu seperti saya terjebak. Seperti yang pernah saya alami zaman sekolah dulu. Dengan polosnya saya percaya bahwa teman saya tidak belajar apapun untuk persiapan ujian harian. Saya lugu mengikutinya. Alhasil, ujiannya bernilai baik sedangkan saya??? Ga usah dijawablah ya.

Baca Juga: Persiapan Keberangkatan Studi ke Amerika

Dalam jawaban teman saya ini, saya mencurigai hal senada bakal terjadi. Bisa saja dia tidak mau saya menjadi pintar seperti dirinya 😅. Makanya dia tidak memotivasi saya untuk bersekolah kembali dengan mengeluarkan jawaban seperti di atas.

Menjawab pertanyaan saya selanjutnya, dia hanya berkata,

"Saya tu Yes Man. Kaya judul film ya?!" Katanya.

"Maksudnya? Saya belum pernah nonton fiom itu" Dialog pun mulai terbuka.

"Tapi ga ada kaitannya sih sama film. Itu cuma istilah saja buat diri sendiri. Saya ga sadar ternyata saya selalu mengiyakan tawaran yang datang. Tak banyak pikir dan pertimbangan. Jadi saya merasa kaya Yes Man gitu. Termasuk ketika menjalani kehidupan akademis dan karir. Saya melakukan apapun yang orang sekitar saya minta. Dan ternyata, setelah dipikir-pikir semua itu jadi jalan buat saya untuk sampai ke titik sekarang." tambahnya menjelaskan.

"Ya tapi ga mungkin donk tawaran dan permintaan datang ke sembarang orang" ungkap saya rada sewot.

"Proses sih!" Katanya singkat.

Singkat cerita, tersadarlah saya bahwa keberuntungan memperoleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi itu tidak melulu soal ambisi. Ada orang-orang yang ternyata sampai ke titik tertentu justru karena tak memiliki ambisi akan hal tertentu. Tapi tidak pula tanpa usaha.

Inspirasi Part 1
Seperti teman saya ini. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, bisa dikatakan dia lanjut ke jenjang berikutnya dengan cukup cepat tahapannya. Lulus S1 tahun 2010, lanjut S2 2013 dan selesai 2014. Kemudian bersekolah lagi S3 di tahun 2016 awal hingga sekarang. Semua mengalir, tanpa dia targetkan. Begitu dia menceritakannya pada saya.

Bagi orang-orang sekitarnya, dia seperti sosok jenius yang bisa lanjut bersekolah ke luar negeri tanpa harus merasakan kegagalan dalam melayangkan permohonan beasiswa. Setelah lulus sarjana tahun 2010, di tahun yang sama dia mencari beasiswa S2 ke Amerika Serikat. Dapatlah dia beasiswa USAID dengan kampus negara Amerika sebagai kampus bidikan dan tujuan. Terlihat mulus tanpa penolakan dan kegagalan.

Belumlah beres masa studinya S2 nya, datang tawaran untuk melanjutkan S3 dengan mengikuti sebuah program kerjasama. Sehingga tak lama berselang dari kelulusan masternya, S3 lah dia di Ohio State University (OSU) ini. Di kampus yang sama dengan suami saya. Masha Allah.

Penasaran ga sih dengan kisahnya teman saya ini? Jujur, saya saja sampai sekarang ga percaya kalo dia sampe ke titik sekarang hanya karena dia seorang Yes Man. #sayajulid

Yes Man Story
Tak banyak orang yang mengetahui kisahnya, kata teman saya ini pada saya. Karena memang dia bukanlah sosok yang pandai membuat cerita apalagi mengisahkan diri untuk dijadikan inspirasi sekitar. Memang, teman saya ini terlihat sebagai pribadi yang serius dan cukup kaku. Media sosialnya lebih sering berbincang perihal yang berat-berat kaya batu 😅.

Kadang saya suka bingung, kenapa hanya sedikit orang-orang hebat yang mau dan mampu membagikan inspirasi hidup mereka ke khalayak, termasuk teman saya ini.

Jadilah saya berpikir untuk meneruskan kisah-kisah keren ini. Setelah sebelumnya saya berhasil memperoleh kisah keren lainnya dari seorang wanita sekaligus ibu. Dan sama, dia juga tidak mau identitasnya dimunculkan. Masha Allah tawadhu sekali. Tabarakallah.

Baca Juga: Menempuh Doktoral Bersama Bayi

Back To Yes Man's Story
Teman saya ini, sebelum berangkat S2, bekerja sebagai salah satu staf administrasi di salah satu kampus negeri. Kalo dipikir-pikir, staf administrasi kok bisa-bisa nya sekolah tinggi, keluar negeri pula. Tapi disinilah inti cerita saya tentang apa yang saya cantumkan pada judul tulisan saya, Yes Man: Inspirasi Belajar Keluar Negeri

Berawal dengan kepribadian yang senang meng-iya-kan segala macam tawaran selagi bermanfaat dan positif, tanpa memikirkan benefitnya-teman saya ini secara tidak sadar menjemput takdir baiknya seperti sekarang. Terkesan minimalis sih usahanya. Ga kaya para pemburu beasiswa yang pernah saya baca yang jatuh bangun sampe berdarah-darah.

Bukan Berarti Tak Ada Usaha
Memang, teman saya ini tidak memiliki target capaian tertentu. Katanya, dia hanya mengusahakan apa yang bisa dilakukan dan melihat peluang yang bisa diambil.

Jadi, ketika sedang skripsi, saya lupa lagi apakah setelah sidang atau justru sebelum sidang skripsi, dia memperoleh tawaran dari salah seorang dosen di jurusannya untuk melamar menjadi staf administrasi salah satu pembantu rektor. Tanpa pikir panjang dia melayangkan lamaran tersebut dan setelah melalui fit and proper test, dia diterima.

Tadinya, dia melirik balai bahasa kampus tersebut sebagai tempat memulai debut karirnya. Tapi ternyata nasibnya tak berjodoh disana katanya. Sempat sedih dan kecewa juga dia, karena bisa dikatakan dia sangat berharap bisa bekerja di balai bahasa.

Ternyata, jalan rezeki memang terbuka melalui pintu lain. Begitu ungkap teman saya ini. Setelah menjadi staf administrasi, kesempatan berselancar di dunia maya jadi lebih banyak. Disinilah dia memiliki waktu dan fasilitas lebih dalam mempersiapkan diri untuk melamar beasiswa dan mencari kampus tujuan. Berbekal internet kampus disela waktu istirahat kerja.

Tentunya persiapan ini perlu usaha dan kerjakeras. Saya bilang ke teman saya ini, kok bisa kamu langsung lulus. Kamu hebat banget donk ya. G-E-N-I-U-S

Baca juga: Yang Muda Yang Inspiratif

Dan dia menangkis, entahlah, mungkin hanya ingin rendah hati 😅. Dia bilang dia hanya mengatur strategi dengan tidak ngoyo harus ke negara mana dan di kampus apa. Dia juga hanya memastikan kemampuan dirinya untuk memperoleh beasiswa yang dia bidik dan kampus yang dia lirik mampu dia penuhi standar kelulusannya. Istilah orang sekarang mah kaya memantaskan diri gitu.

Dia Ternyata Pernah Gagal
Mengulik kisah lainnya agar saya tak terlalu terhempas, akhirnya saya pun iseng bertanya.

"Pernah gagal ga? Atau punya fase pahit atau apalah yang ga ideal dalam hidup." Kata saya.

"Pernahlah ... ... ...". Cerita pun mengalir panjang kali lebar kali tinggi.

Saya yang mendengarkan mengangguk-ngangguk paham. Hati saya bergumam dan secara tidak sadar membandingkan dengan diri sendiri. Saya jadi menyadari bahwa penyikapan teman saya ini terhadap masalah, kegagalan atau ketidak idealan dalam hidup, sangat berbeda dengan saya.

Sedikit Tentang Latar Belakang Yes Man ini
Berasal dari keluarga sederhana, ayahnya seorang guru dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Melanjutkan SMP dan SMA di pesantren modern yang tak jauh dari rumahnya di sebuah kabupaten. Pesantren ini baru saja berdiri saat itu, tanpa kualitas yang mumpuni dan prestasi yang menjanjikan.

Kehilangan sang Bapak di tahun 2008 justru nyaris membuat dia tak bertitel sarjana. Berbekal beasiswa kesana kemari dengan bantuan orang sekitar yang baik hati, 2010 gelar sarjana dia raih.

Diterima S2 atas restu ibu, harapan mendiang bapak dan dukungan atasannya
Selain "Yes Man" ke segala hal, teman saya ini ternyata juga "Yes Man" ke orang tuanya. Bersekolah di pesantren, yang katanya jadi pembuka kebebasan berfikir dan berindak, karena mengiyakan permintaan ayahnya.

Berkesempatan pesantren di Gontor, tapi karena sang ibu tidak rela berjauhan dan meminta sekolah di pesantren dekat rumah saja, jadi jalan buat dia memperoleh berkah ilmu. Padahal teman saya ini bilang, dia bersekolah di pesantren nodern yang belum ajeg sistemnya kala itu. Kelas dan guru pun masih terbatas. Tapi memang ilmu kalo berkah mah ya. Ga usah cari tempat favorit atau ternama apalagi mahal hehehe.

Setelah direstui sang Ibu, lamaran beasiswa dia diterima atas bantuan rekomendasi atasannya. Pada tau kan kalo pengajuan ke beasiswa ada yang meminta untuk menyertakan rekomendasi profesor atau doktor?

Baca juga: Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Studi ke Amerika

Tawaran S3 Datang
Meski sedang cuti sementara dari kantornya, atasannya teman saya ini memang tipe atasan yang mendukung sekali jika ada bawahan ulet menuntut ilmu. Jadi, saat teman saya ini sedang di titik akhir penuntasan S2 nya, tiba-tiba dia memperoleh tawaran S3 dari atasannya melalui sebuah program kerjasama. Dimana teman saya ini bisa melanjutkan S3 di salah satu dari 3 kampus yang tergabung dalam program tersebut. Artinya, dia dibantu semua hal untuk memperoleh LoA dari kampus-kampus tersebut.

Setelah menuntaskan semua syarat dan ketentuan untuk mendaftar di kampus yang dia pilih, yaitu OSU, dia pun mulai mencari beasiswa karena kerjasama yang ditawarkan tidak mengurusi funding. Singkat cerita, dia berhasil memperoleh beasiswa LPDP. Lagi-lagi, tanpa mengalami kegagalan dulu 😅. #guesewot

Inspirasi Part 2
Kita tentunya tidak bisa menyamakan jalan hidup kita dengan orang lain. Karena setiap manusia memiliki jalan hidup dan garis takdir masing-masing. Tapi, tak lantas membuat kita menutup mata dari kisah hidup orang lain juga.

Hikmah, inspirasi atau pelajaran bisa datang dari mana pun, siapapun. Mungkin nasib kita tidak akan serupa dengan orang sukses yang tengah kita baca atau dengar kisahnya. Tapi, semangat atau pengalaman dan cara mereka menjalani hidup, tentu bisa kita ambil untuk ditiru yang baik-baiknya. Pun dari mereka yang mungkin di mata kita bukan siapa-siapa, inspirasi tetap bisa kita petik jika kita mau jeli melihat dan menyusuri.

Baca Juga: Rubrik Baru: Inspirasi Hari Ini

Belajar dari kisah teman saya, sebut saja namanya Yes Man tadi, banyak pelajaran yang bisa saya ambil.

1. Lakukan Apapun Selagi itu Baik
Kadang, saya suka picky dalam melakukan sesuatu. Apalagi kalo dirasa hal tersebut tidak terlihat benefitnya. Saya mengenal teman saya ini sebagai orang yang sangat pintar. Heran, kok dia mau jadi staf administrasi alias kerjaan yang ga ada sama sekali bayangan karirnya sebagai lulusan sarjana pendidikan. Tapi, ternyata justru disitulah batu pijakannya untuk melompat menjemput takdir akademik dan karirnya.

2. Ijabahnya Doa sang bapak
Tertampar rasanya saya ketika mendengar kisah teman saya ini. Sebegitunya dia memuliakan orang tuanya. Dan ternyata, sebelum ayahnya meninggal, ayahnya sudah berfikir menyekolahkan teman saya ini ke jenjang S2. Saya melihatnya, takdir dia bersekolah ini sebagai ijabahnya doa sang bapak untuk anaknya.

3. Kebiasaan Baik Kepada Ibu
Ada sebuah kebiasaan yang dimiliki teman saya ini yang menurut saya membuat jalan hidupnya berkah. Yaitu selalu memberi kabar dimana pun dia berada dan meminta doa kepada ibunya setiap kali hendak tes, ujian dan lain-lain.

4. Belajar lagi belajar terus dimana dan kapan pun
Motivasi teman saya ini dalam belajar ternyata sederhana, yaitu hanya ingin mengetahui sesuatu yang belum diketahui. Wow! Lha saya? Baru aja merasa belajar rada banyak, ngedadak udah merasa cape karena motivasinya salah niat 😅. Makanya teman saya ini kerjaannya belajar lagi belahar terus dimana pun dan kapan pun. Tak harus melalui jalur formal, non formal atau informal, semua adalah tempat belajar.

Tips Mencari Beasiswa dan Kampus
Sebagai penutup dari tulisan ini, teman saya menitipkan beberapa tips buat temab-teman atau adik-adik yang sedang mencari beasiswa baik di dalam atau pun luar negeri. Tips umum dan mendasar dalam mencari beasiswa dan kampus.

1. Pelajari
Banyaknya informasi tentu harus benar-benar kita pelajari. Baik informasi mengenai beasiswa ataupun kampus. Setelah yakin paham dengan semua syarat, ketentuan, proses dan prosedurnya, maka mulai list persiapan yang perlu dilakukan.

2. Persiapkan dengan matang
Persiapan untuk berkuliah dengan bantuan beasiswa, biasanya meminta beberapa hal sebagai gambaran kemampuan dan kelayakan kita sebagai applicant. Sehingga pastikan apa yang kita persiapkan itu detail, mulai dari persiapan dokumentasi maupun persiapan tes.

3. Pasrahkan diri
Jika usaha yang kita lakukan sudah maksimal, maka pasrahkan diri untuk hasil terbaik di mata Allah. Luruskan kembali niat.

Dari Saya
Itulah sekisah yang bisa saya sampaikan tentang inspirasi hari ini. Semoga kita jeli dan ga pake gengsi melihat dan memetik inspirasi dari sekitar.

Buat yang belum tau, rubrik inspirasi ini terlahir untui melatih diri saya pribadi untuk bisa lebih peka terhadap inspirasi-inspirasi yang terserak.

Columbus, 3 Februari 2019
29 komentar on "'Yes Man': Inspirasi Belajar Keluar Negeri"
  1. Kisah yang inspiratif dalam meraih pendidikan yang lebih tinggi. Yang saya suka, disitu ada unsur sederhana tapi dasyatnya sama seperti usaha lain; doa ibu bapak yang mustajab. Keep writing inspiring stories ya, mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibalik kesederhanaan usahanya teman saya ini ternyata ada kerja keras yg tak tampak oleh lain mba.. huhuhu suka malu kl nemu org kaya gini 😭

      Hapus
  2. Hai Mbak Mer,

    Nice sharing, tulisannya sangat menginspirasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba henny. Semoga bermanfaat dan ada hikmah yg bisa diambil ya mba 😊

      Hapus
  3. Wah ini kayak cerita temen saya juga, dibela-belain buat ngurusin ini itu demi lanjut studi di China. Padahal temen- temen yang lainnya udah kerja ini itu. Nyatanya sekarang dia bisa kuliah juga di Changchun.

    Keren deh inspirasinya mbak. Tidak ada hasil yang menghianati prosesnya.

    BalasHapus
  4. nice sharing mbak, memang restu kedua orang tua bagi seorang laki-laki itu utama dan restu suami bagi seorang wanita itu juga utama...makasih mbak dan sudah diambil hikmahnya :)

    BalasHapus
  5. Dulu aku sempat tertarik buat sekolah ke luar negeri tapi ya gimana orangtua kan gak bisa membiayain semua kalau di sana. Informasi beasiswa juga kurang.
    Btw mbak suamiku juga gak ambil S2 dia belajar & upgrade diri tanpa kuliah

    BalasHapus
  6. sama sih, aku juga gak ada keinginan untuk belajar formal di universitas.
    Tapi aku doyan belajar dari jalur lain: komunitas atau sumber2 lain yang bisa dengan mudah didapatkan :D

    BalasHapus
  7. Masya Allah makasih udah sharing mba. Memang sdh seperti itu jalannya teman mba ya, dimudahkan di jalam yg dia pilih. Skrg ini aku lg ikhtiar daftar beasiswa. Kalau mmg sdh jalannya, aku akan diterima. Kalau blm, Allah mau aku maksimalkan usaha di bidang lain.

    BalasHapus
  8. Baca tulisan Mbak Merisa kali ini kok mbrebes mili ya. Jadi, makin sayang kepada bapak ibu, apalagi aku anak tunggal. Pun aku percaya doa bapak ibu itu selalu menguatkan dan insya Allah membawa berkah bagi kita. Terima kasih ya Mbak Meri untuk sharingnya.

    BalasHapus
  9. Malam-malam baca tulisan ini.. dari judulnya sudah bikin aku penasaran untuk baca.. dan setelah baca.. Mashaallah isinya sangat bermanfaat dan inspiratif banget, banyak value yang aku dapat dari tulisan ini, mulai dari niat baik, usaha yang baik dan InshaAllah akan menghasilkan sesuatu yang baik juga.. aamiin

    BalasHapus
  10. Ponakan ku baru wisuda !
    Nopember kemarin dari Universitas di Fukuoka, Jepang.Dapat beasiswa LDPD untuk S2, yang katanya susah,

    BalasHapus
  11. Masya Allah... luar biasa ya perjuangan Yes Man tadi. Kalau menurutku itu bukan sekedar akibat Yes yang selalu dilakukannya, tapi lebih kepada positive thinkingnya ya. Rajin, tekun, dan berbakti pada orang tua. Aku kok jadi membayangkan ntar itu anak-anakku kayak gitu ya. Aamiin... Semoga anak-anak kita diberikan berkah selalu dari Allah.

    BalasHapus
  12. Aku ada beberapa teman yang rela kesana kesini demi mimpinya kuliah S2 di luar negeri dengan beasiswa. Setelah luluspun gak lama setelah itu dia ambil S3. Salut karena masih kerja dan ngurusin anak2 juga

    BalasHapus
  13. Jadi inget temenku yang S2 di Melbourne. Banyak banget dukungan yang dia peroleh hingga sejauh ini. Lingkungan yg mendukung jelas itu modal penting

    BalasHapus
  14. Wow, luar biasa mbk temannya. Bener bener dari 0 ya, kuliah lanjut kerja sebagai staf dan lanjut S2 dan S3.. Bener bener nggak disangka ya mbk.

    BalasHapus
  15. Temannya kk luar biasa yah, emang kuncinya itu berbuat baik kepada orang tua, duh jadi introspeksi diri. Makasih sharingnya kak, titip salam dong sama tmnnya😊 sukses selalu 😊

    BalasHapus
  16. Mba Mer, tulisannya ngaduk2 perasaan aq nih Mba. Banyak inspirasi yg bs sy ambil. Mulai dr lurusin niat, keep positive thinking, berbakti kpd kedua orangtua, n banyak lg. Tks so much inspirasinya Mba Meri

    BalasHapus
  17. Swmangat memang harus kenceeeng dan tidak boleh putus asa saat sekolah lagi. Banyak inspirasi datang dari sekitar kita yaaa

    BalasHapus
  18. Kalau kata ustadzku.

    Berbaktilah kepada orangtua. Niscaya kamu akan menjadi orang sukses karena setiap.langkah yang dilaluindengan ridho orangtua

    BalasHapus
  19. Salam salut buat temannya ya mbk. Apa yang ia capai saat ini ternyata didahului oleh restu kedua orangtuanya dan juga semangatnya utk terus bersekolah meskipun saat sang ayah, yg merupakan sumber kekuatan keluarga, baik berupa materi atau non, telah tiada.

    BalasHapus
  20. Tulisannya keren ...menginspirasi saya baca dari awal sampai akhir hehe sesuatu yg jarang dilakukan kalau lagi dikejar list BW hahaha..jujur amat. Saya kirim link ini ke si sulung yg sdg kuliab di Turki deh.. :)

    BalasHapus
  21. MasyaAllah, temennya keren ya mbak dan ceritanya menginspirasi sekali. Dulu sy pengen banget bisa kuliah di luar negeri, tapi setelah menikah, ya udah lah ya belajar bisa dimana aja, nerima keadaan, haha.. Yes man ini mirip ga sih sama orang2 yg hidupnya mengalir? Go with the flow gitu~

    BalasHapus
  22. Inspiring banget ceritanya, mbak.. Aku selalu salut ama mereka yang terus semangat melanjutkan pendidikan formal, apalagi kalo perjalanannya mencapai itu penuh petjuangan.

    BalasHapus
  23. Ya insyaAllah nti anak2ku mba bisa study di luar negeri aamiin,, kisahnya inspiratisi bngt y bikin Kita semangat

    BalasHapus
  24. Salut dengan orang-orang yang jauh-jauh menuntut ilmu ke luar negeri. Kalo ada aku mempersiapkan anak-anakku saja semoga mereka bisa kuliah di luar negeri.

    BalasHapus
  25. Yes Man..
    Mengingatkanku sama drama yang aku tonton.

    Tapi memang benar...jika ada kemauan, pastilah ada jalan.

    BalasHapus
  26. Kisahnya sangat menginspirasi ya, saya sendiri pengen banget kuliah nih huhu soale abis srkolah langsung memilih nikah dan ngurus anak. Tapi aku berharap anak-anakku nanti bisa dapat beasiswa kuliah di LN .

    BalasHapus
  27. MasyaAllah makaaih mba Med sudah membagikan kisah inspiratif ini untuk saya. Ya Allah smua bermula pada orangtua lantas usaha kita. Salam buat yes mannya mba Mer.

    BalasHapus

Komenmu sangat berarti bagiku 😆
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... 🤗