MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Copas dari FB tertera di foto

Selasa, 29 Desember 2015

Wahai Ibu, tidakkah engkau menyimpan surga di telapak kakimu?

Tetiba mata terbelalak. Kerongkongan terasa tercekat. Napasku memburu. Dan tak habis pikirku setelah membaca sebuah postingan seorang ibu yang lewat di berandaku. Seorang ibu menggetok kepala anaknya dengan piring hingga terbelah.... ya Allaah, hatiku menangis. Batinku teriris. Semoga saja sang anak tidak apa2. Seperti yg dikatakannya dlm sebuah komentar....

Disini sy tidak akan menghakimi sang ibu yg bisa melakukan hal setega itu dan sy berharap itu yg pertama dan terakhir kali ia lakukan.
Disini sy ingin mengajak kepada semua wanita yg bergelar IBU untuk sama2 bercermin. Sama-sama bermuhasabah...

Wahai Ibu, SeREWEL dan seNAKAL apapun tingkah dan polah anak kita, tetaplah kita TIDAK BERHAK untuk melukai dan menyakiti mereka.
Ketahulah, melotot, mengancam dan membentak bisa membuat hati anak terluka.
Apalagi, mencubit dan memukul tubuhnya.
Tubuhnya bisa kesakitan. TAPI yang lebih sakit sebenarnya apa yang ada dalam tubuhnya.

Wahai Ibu, sebelum kita mengeluhkan anak2 kita, selayaknya kita bertanya apakah telah memenuhi hak-hak mereka?

Jangan-jangan kita marah kepada mereka, padahal kitalah yg sesungguhnya berbuat durhaka kepada anak kita.

Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka, padahal kitalah yang kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka.

Kita sering berbicara kenakalan anak, tapi lupa memeriksa apakah sebagai orangtua kita tidak melakukan kenakalan yg lebih besar.

Kita sering bertanya bagaimana menghadapi anak, mendiamkan mereka saat berisik dan membuat mereka menuruti apa pun yg kita inginkan, meskipun kita menyebutnya dengan kata taat. Tetapi sebagai orangtua, kita sering lupa bertanya apakah kita telah memiliki cukup kelayakan untuk ditaati.

Kita ingin anak2 mengerti keinginan kita, tapi tanpa kita mau berusaha memahami pikiran anak, kehendak dan jiwa mereka.

Ketahuilah, salah satu hak anak-anak yg harus ditunaikan orang tuanya adalah memberinya kasih sayang sebagaimana yg dicontohkan oleh Rasulullah. Bagaimana Rasulullah bercanda dgn anak2, memberi pengertian kpd mereka, juga mendoakan mereka. Dan kisah Rasulullah memendekkan solat saat mendengar tangis anak dan memanjangkan sujudnya saat cucu2 beliau menaiki punggungnya.

Tentang mencintai anak, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda,

"Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki." (HR. Ath-Thahawi).

Pada sebuah kisah yg lain diriwayatkan pula dlm sebuah hadist,

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : جَاءَتْنِى مِسْكِيْنَةٌ تَحْمِلُ ابْنْتَيْن لَهَا، فَأَطْعَمْتُهَا ثَلَاثَ تَمْرَاتٍ، فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيْهَا تَمْرةً لتَأَكُلهَا، فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا، فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِى كَانَتْ تُرِيْدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا، فَأَعْجَبَنِى شَأْنَهَا، فَذَكَرْتُ الَّذي صَنَعَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَقَالَ :

إِنَّ اللهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ، أََوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مَنَ النَّارِ .

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Aisyah radiyallahuanha pula, berkata: Aku didatangi oleh seorang wanita miskin yang membawa kedua anak gadisnya, lalu aku memberikan makanan kepada mereka itu berupa tiga biji buah kurma. Wanita itu memberikan setiap sebiji kurma itu kepada kedua anaknya, sebuah seorang dan sebuah lagi diangkatnya ke mulutnya hendak dimakan sendiri. Tiba-tiba kedua anaknya itu meminta supaya diberikan saja yang sebuah itu untuk mereka makan pula lalu wanita tadi memotong buah kurma yang hendak dimakan itu menjadi dua buah dan diberikan pada kedua anaknya. Keadaan wanita itu amat mengherankan aku, maka aku beritahukan apa yang diperbuat wanita itu pada kedua anaknya. Keadaan wanita itu amat mengherankan aku, maka aku beritahukan apa yang diperbuat wanita itu kepada Rasulullah saw. kemudian beliau bersabda:

"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk wanita itu masuk surga karena kelakuannya tadi, atau Allah telah membebaskannya dari api neraka."
(HR Muslim)

Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, hadis no. 1329; Muslim, hadis no. 4763; al-Tirmizi, hadis no. 1838; Ahmad, hadis no. 22926, 23433, 23470, 24167 dan 24866.

Sekarang... marilah bercermin, apa yg sudah kita lakukan terhadap anak-anak kita?

Sudahkan kita memanjangkan sabar dan melapangkan maaf dalam mendidik dan merawat buah hati kita?

Sudahkan kita memberi kebahagiaan kpd mereka dgn menyapa ruang jiwanya, menyediakan punggung kita sebagai pelana untuknya, agar terpenuhinya kebutuhan psikis mereka n menjadikan mereka tumbuh sbg pribadi yg bahagia, kokoh dan kuat?

AKAN TETAPI wahai Ibu...
Itu bukan berarti kita tidak boleh punya perasaan kecewa, sedih, capek, dan pusing menghadapi anak-anak. Perasaan2 negatif terhadap anak itu wajar. YANG JADI PERHATIAN, bagaimana menyalurkannya shg tak sampai menyakiti anak-anak. BAGAIMANAPUN kita bukanlah orang tua malaikat.  Maka yakinlah anak kita pun bukan anak malaikat yg bisa selalu baik dan menyenangkan. Maka maklumilah tingkah polah anak-anak kita krn mereka sedang berproses.

Cobalah sekali-kali tengoklah wajah anak anak yg telah tertidur. Cobalah untuk mengusap-usap kepalanya, keningnya dan tak lupa wajahnya. Sentuhlah dengan perasaan yg tulus. Dan lihatlah, alangkah sedikit yang telah kita lakukan. Masih banyak kelalaian dan kealpaan kita thdp anak anak kita. Padahal kitalah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Kitalah yang akan ditanya di hari kiamat nanti.

Astaghfirullahal 'adzim....

Semoga Allah mengampuni kedzaliman kita...
Semoga pula Allah mengampuni keangkuhan kita kepada anak-anak kita sendiri....

Jangan pernah berharap akan disayangi oleh anak anakmu... tetapi engkau tak pernah menanam cinta dan kasih sayang di hati mereka...

Jangan pernah engkau berharap akan dirindukan oleh anak2 disaat tuamu kelak... tetapi engkau tak pernah punya waktu untuk sekedar mendengar celotehan mereka dan tertawa bersama mereka....

Kurniaty Prayuni K.
Semarang, Desember 2015

★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★★

Maafin umi zaid .. ziad .. maafin umi .. umi sayang kalian

#tulisan ini saya save untuk menjadi pengingat diri yang masih sangat lemah ini. Ya allah ...

Post Comment
Posting Komentar

Komenmu sangat berarti bagiku 😆
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... 🤗