MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Anak Rewel dan Bertingkah Bertemu Orang Baru?

Minggu, 03 Januari 2016

"NO!!!!"
"Lalai!!!!!!"
"Jijik"

Kira-kira 3 kata itu yang keluar dari mulut anak-anak ketika bertemu dengan orang asing/baru dikenal>>>
1) yang over attention ke mereka
2) yang langsung nyosor gemes ke mereka (atau sejenisnya)
3) dan disuruh salim ke orang tersebut

Kata yang makna nya agak tepat untuk sebuah penolakan sih yang pertama. 2 kata lagi memang tidak memiliki makna sesungguhnya. Maklum, anak-anak belum juga bisa mengungkapkan keberatannya dengan baik ketika mendapati situasi yang membuat mereka kurang nyaman.

Sebagai orang tua, tentunya saya sangat menginginkan anak-anak berkembang seperti hal nya anak-anak seusia mereka. Saya juga menginginkan anak-anak bisa bersikap manis dan mau diberikan arahan bagaimana cara bersikap ketika bertemu dengan orang asing atau yang baru mereka kenal. Saya tentunya juga tidak menginginkan anak-anak bersikap kasar dan cenderung tidak bersahabat terutama dalam kondisi dimana mereka mendapati 3 poin yang saya sampaikan diatas. Namun jika apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada? Gimana?

Bersyukurlah para orang tua yang mendapati anaknya sangat cerewet dengan segenap rasa ingin tahunya. Bersyukurlah yang memiliki anak yang bisa bersikap manis dan gampang diberi arahan ketika ini dan itu. Tapi bagi orang tua dianugrahi anak unik seperti anak-anak saya, maka bersyukur, berbangga dan bersiaplah. Hehehe... bersiap untuk sebuah treatment dan manuver jitu untuk menghadapi tekanan-tekanan sosial dengan segala judgement mereka.

Jujur, saya pribadi pernah (masih) merasakan cape hidup dibawah bayang-bayang. Baik itu bayang-bayang orang tua, tetangga, teman ataupun orang lain yang tengah dekat dengan kita. Hidup dibawah bayang-bayang dengan segenap ekspektasi mereka hanya akan membuat kita kehilangan pikiran logis kita sebagai orang tua dan manusia dewasa. Termasuk dalam menyikapi anak dengan tingkat defensiasi mereka yang tinggi terhadap orang asing.

Padahal, jika kita mau jujur, kondisi-kondisi dimana anak-anak menjadi rewel ketika bertemu dengan dengan orang yang baru mereka kenal seringnya bagian dari akibat tindakan kita manusia dewasa. Misalkan, tidak jarang saya harus menghadapi anak-anak yang tiba-tiba menangis kejang setelah dipeluk paksa, digendong atau bahkan dibawa kabur sesaat oleh salah seorang kerabat. Atau mereka terus merengek karena selalu digoda, dicubit gemes, atau dicolek-colek (emang sabun colek) oleh seorang teman. Parahnya lagi, mereka membalas tindakan orang-orang asing ini dengan memukul atau mencubit mereka sambil mengeluarkan kata ajaib mereka yang 3 tadi. Di satu sisi saya jadi ga enak, disisi lain ya salah siapa sih ya. Orang dewasanya yang ga memposisikan diri sebagai pribadi yang membuat anak-anak nyaman... >_<

Situasi ga enak ini bagi saya pribadi masih bisa ditolerir. Saya pribadi masih sangat sanggup menghadirkan beribu alasan untuk kondusifitas perkembangan anak-anak. Saya masih bisa membaca apa sih yang membuat anak-anak menolak dibeginikan dan begitukan. Namun, apakah orang-orang disekitar kita bisa memberikan pemahaman dan pengertiannya?

Selama ini, saya menghadapi situasi dimana saya harus mendapati anak saya dibilang 'keras', 'jahat', 'nakal', dan ungkapan negatif lainnya. Pernah suatu waktu, ada seorang tetangga yang tengah mengikuti senam rutin di depan rumah mertua saya bertanya,

"Yang nakal itu yang mana? Ini atau itu". Sambil menunjuk kedua anak saya secara bergantian.

Saya pun dengan tegas bilang "ga ada bu!!! Yang ada cuma yang suka becanda!!!" Grrrrrrggrrrrrrr.... geram dan kesel tingkat dewa. Tapi ya sudahlah. Toh anak nakal atau tidak itu bukan penentu kesuksesan. Nakal versi awam itu terlalu general. Sementara bagi saya, tidak ada anak nakal. Yang ada hanya anak kurang perhatian. Itu menurut saya.

Kemudian beberapa waktu belakang. Kondisi dimana saya saat ini tinggal sementara bersama orang tua saya, ada peran orang dewasa lain yang sebenarnya harus saya kondisikan ketika menghadapi anak-anak yang kurang welcome terhadap orang asing. Misal >> memberi arahan kepada oma, opa, dan yang lainnya untuk

★ hindari menyalahkan sikap anak secara langsung di depan orang asing tersebut
★ arahkan anak sesuai karakter dan kemauannya, bukan karakter dan kemauan kita
★ tidak memaksa. memaksa hanya akan membuat anak semakin menolak
★ pahamkan kepada orang asing tersebut tentang cara anak beradaptasi
★ bebaskan anak memilih cara berkenalan versi mereka
★ jika ingin mendidik anak dengan cara kita, lakukan konsisten ketika anak dalam kondisi yang baik dan nyaman
★ menjaga kenyamanan anak. Karena hal ini lebih utama dibanding kenyamanan tamu

Nah, kalo poin-poin ini semua komponen keluarga berperan, saya yakin anak-anak lambat laun akan menemukan cara mereka sendiri untuk menerima kehadiran orang baru saat situasi kondisi yang mungkin selama ini membuat mereka tidak nyaman.

Sebagai ilustrasi singkat. Misalkan saja, kita baru menempati rumah baru dilingkungan baru. Dengan orang-orang yang baru bahkan belum dikenal sama sekali. Terus tiba-tiba ada yang nyosor mencium kita, atau menggendong kita, atau bahkan mencolek-colek, apa yang kita rasakan??? Ya sudah, jawabannya sudah jelas.

Anak-anak juga memiliki sikap mereka sendiri. Kitalah orang dewasa yang harusnya bisa membantu mereka untuk bisa memunculkan sikap positif mereka dengan memberi stimulus positif juga, yaitu dengan membuat mereja nyaman.

Saya berterima kasih kepada teman atau kerabat yang sudah menempatkan diri sehingga anak-anak saya nyaman. Dan liat sendiri kan, anak-anak juga bisa bersikap manis.

Anak-anak rewel itu banyak faktornya. Udah mana mereka lagi ngantuk, laper, eh dibikin ga nyaman juga... huwooooooooo yang cape ya emaknya... :'(

Payakumbuh, 4 Januari 2016

Post Comment
Posting Komentar

Komenmu sangat berarti bagiku 😆
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... 🤗