MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Banjir, Milad dan Lebaran

Minggu, 03 Juli 2016

Tidak ada kejadian yang sia-sia, termasuk banjir yang melanda kawasan rumah mertua saya. Sejak Rabu 29 Juni 2016 setelah nyaris sebulan bebas banjir, akhirnya banjir pun datang kembali. Saya tidak akan komen tentang penyebab banjir melainkan hanya satu: budaya membuang sampah. Ah saya hanya pendatang yang ga ngerti permasalahan akar dari awal mula banjir di daerah Baleendah ini. Tapi sekarang jujur saja saya terusik dan kesel sampe ke ubun-ubun karena selama 4 tahun mengenal daerah ini, intensitas banjir meningkat meski hanya diguyur hujan gerimis (kalo bahasa Sunda nya cuma ngeclak doank hujannya). Di otak saya muncul pertanyaan besar: "ADA APA INIH!!!!!"

Seminggu sebelum lebaran masyarakat sekitar harus deg-deg an menanti Lebaran. Apakah akan lebaranan banjir-banjiran atau bisa lebaranan dalam kondisi normal? Salutnya, banjir pertama terjadi tepat di malam ganjil ke 23 Ramadhan dan jamaah mesjid Al-azim tetap berdatangan di tengah malam untuk mengikuti program I'tikaf. Meski mereka harus menerjang banjir yang saat itu sudah mencapai betis orang dewasa, semangat mereka tampak lebih besar dari banjir yang menerjang. Ah Masya Allah ...

Alhamdulillah air pun surut tuntas pada pukul 10.00 keesokan harinya. Namun tentunya kami belum bisa menarik nafas lega, kenapa? Karena masih mendung dan perkiraan cuaca menyebutkan hujan akan datang kembali sekitar pukul 14.00. Benar saja, pukul 15.00 hujan ngeclak  kembali mengguyur rata di setiap daerah mulai dari Bandung sampai Majalaya. Artinya, kemungkinan besar banjir akan kembali datang. Tadaaaaaaaaaa... sekitar pukul 17.00 benar saja, air sudah menggenangi jalanan depan. Huft... sabar sabar ...

Alhamdulillah banjir nya ga lama dan ga sampe masuk rumah lagi. Paling ga suami sama mertua ga harus bersih-bersih rumah lagi. Jumatnya, mumpung kering kami memutuskan untuk menyelesaikan bebarapa urusan, mulai dari ke pasar sampai urus sesuatu ke bank. Maklum, tidak berapa lama lagi kami akan segera meninggalkan Indonesia. Masih banyak hal yang harus kami selesaikan, sementara banjir selalu membayangi dengan tingginya tingkat curah hujan hingga tanggal keberangkatan kami nanti. Hiks... nikmati nikmati nikmati ... :)

Keesokan harinya, tanpa diminta dan disadari namun sangat bisa ditebak, hujan yang mengguyur malam hari tadi pastinya akan mengundang banjir datang kembali. Teng tereeeeeeng ... bangun sahur yang kami lakukan pertama bukannya masak, tapi melongok ke ruang utama rumah lantai bawah. Hahaha... masuk lagi banjirnya dan sekarang lebih tinggi dari banjir hari Rabu. Kami hanya mampu tertawa sambil menikmati hidangan ayam goreng hangat sebagai santap sahur kami. Seusai Subuh, rencana demi rencana yang hendak di eksekusi hanya tinggal kenangan. Kami mendadak menjadi manusia gua yang tidak bisa kemana-mana. Teronggok di kasur sambil sesekali bercanda dan bercengkrama. Menonton dan kemudian kembali tertidur. Bangun-bangun banjir masih setia menggenangi jalanan depan sampai pagi kembali datang. Alhamdulillah paling tidak banjir tidak setia menggenangi rumah. Kasian mertua kalo genangan nya terlalu lama di rumah, lumpurnya bisa susah di bersihkan dari lantai rumah.

Meski banjir, saudara dari jauh tetap mulai berdatangan. Seolah tak takut akan banjir, karena mungkin bagi mereka momen silaturahim lebaran jauh lebih penting  dari rasa khawatir mereka terhadap banjir. Salah satu anggota keluarga yang ditunggu-tunggu kedatangannya adalah adik ipar saya alias adik suami satu-satunya. Tepat tengah hari ahad keluarga besar namun kecil di keluarga suami menjadi komplit kembali. Paling tidak, rasa khawatir akan banjir yang bisa menghalangi kedatangan adik ipar tak lagi menggelayuti pikiran mertua saya. Terlihat dari wajah bahagia mertua meski sore harinya banjir kembali datang. Mungkin di hati beliau berkata "yang penting anak-anak saya sudah kumpul semua".

Seperti kebiasaan yang sudah mengakar di setiap keluarga di Indonesia, lebaran tanpa makanan spesial tentulah menjadi hampa. Begitu pun di keluarga suami saya. Meski personil di keluarga ini tak lebih dari 10 jari (alias cuma mertua plus 2 anak nya, 1 mantu 2 cucu) tapi semangat membuat hidangan terbaik seolah tak bisa dihindari. "Bukan buat kita, tapi buat para tamu (notabenenya keluarga karena masyarakat di sini masih banyak yang terpaut hubungan darah) biar kita berbagi bahagia dan rejeki", begitu lebih kurang yang dibilang mertua saya (aslinya pake bahasa Sunda kental akut).

Ah mama ... sehabis subuh rela menerjang lumpur sisa banjir demi memenuhi kebutuhan sajian lebaran. "Opor ayam, sayur tulang, sambel goreng kentang dan udang sama sayur cabe". Wow .... takjub plus takjub. Belum lagi kueh. Mana sebelumnya juga masak kue-kue tradisional. Entah kenapa baru di tahun ke tiga lebaran ini saya menyadari perbedaan kebiasaan keluarga besar saya di Payakumbuh yang anti ribet dengan keluarga Bandung yan rela ribet dan repot. Berbagi hal terbaik di hari terbaik, itulah pelajaran yang saya dapat.

Keesokan harinya, setelah sidang itsbat memutuskan lebaran jatuh pada tanggal 6 (mertua saya donk ... nanya-nanyain terus "lebaran teh jadinya iraha?" Mau masak tapi khawatir masak kecepatan malah cepet basi. Ga masak khawatir lebaran besok. Aduh aduh...), artinya tanggal 5 Juli tepat dimana usia anak-anak 3 tahun kami menjalani shaum Ramadhan terakhir. Dan momen ini pun dijadikan sebagai momen kumpul keluarga mungil kami nan besar dengan bukan puasa bersama sembari tasyakur binni'mahnya anak-anak di sebuah rumah makan deket rumah, di traktir adik ipar. "Tau aja nih Om diky umi abi lagi bokek", celotehan anak-anak mungkin ya.. hehe.

Ah ... keluarga ini membuat saya merasa menjadi orang yang tak bersyukur. Mendadak inget emak babeh di kampung Payakumbuh. Alhamdulillah personil masih lengkap, tapi saya nya suka ngeyel dan bikin perang. Sedangkan keluarga suami, romantisnya ala-ala sinetron gitu meski personil minus bapak, aa dan si bungsu enog (alfatihah....).Aduh jadi melenceng nih tulisannya.

Yah begitulah ... di Ramadhan pekan ke 4 ini, banjir selalu setia membayangi kami. Bahkan sampai di malam terakhir dimana kalender hijriyah sudah berubah menjadi bulan syawal, hujan kembali turun dan kami pun pasrah. Banjir ga banjir tetap lah lebaran. Bedanya, kalo ga banjir shalat ied di lapangan (di jalan) kalo banjir shalat di masjid sambil melipat bawahan agar tak kotor terkena becek sisa banjir atau bahkan banjir.

Allahu akbar!
Allahu akbar!
Allahu akbar!
Lailahaillallahu wallahu akbar!

Walillahilham!

Masyarakat Baleendah permai masih diizinkan lebaranan tanpa banjir! Becek-becekan udah biasa. Tancap! Berangkat shalat! Dan lanjut sungkeman seusai shalat. Tentunya tak lupa mengicip santapan khas 'ketupat plus Opor ayam'. Silaturahim keliling dari rumah ke rumah termasuk ziarah kubur. Lumayan cape bajai karena malem takbiran begadang beres-beres rumah sisa peradaban banjir (suami ma adik ipar sih, saya mah urusan dapur dan percucian). Tapi meskipun cape semua jadi hilang lah ya ... karena anak-anak dapet angpau #eh

Lebaran lebaran ... saya pribadi agak sedih karena awal dan akhir Ramadhan dikasih cuti shaum. Aslinya jadi ada yang kurang. Tapi tetep aja, lebaran kali ini ingin sekali rasanya semua dioptimalkan, ya ibadahnya, ya silaturahimnya ... karena jarak sebentar lagi akan memisahkan. Hanya mampu bertatap via medsos ... ah .. Indonesia. Budaya mudik dan suasana khas lebaran akankah bisa dirasa nanti di tanah rantau? Semoga!

Siap-siap esok silaturahim ke Jakarta. Giliran lebaranan dengan keluarga Payakumbuh dengan cita rasa baru, Jakarta.

Bandung, 6 Juli 2016

Barakallahu fii umrik untuk Za dan Zi ... maafin umi di milad ke 3 kalian hari-hari agak sedikit tak bersahabat ... semoga susah senang bisa kita lewati dengan kesabaran dan kesyukuran ya ... bantu umi pliiiiiis ... :*

Post Comment
Posting Komentar

Komenmu sangat berarti bagiku 😆
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... 🤗