MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Tips Parenting Uminya si Kembar

Kamis, 25 Mei 2017

Yey! Libur telah tiba ... Libur telah tiba ... hatiku gembiraaaaa #tasya'ssong πŸ˜„

Tapiiiii ... liburnya kepanjangaaaaan 😭😭😭

Eh bukan soal libur kepanjangan yang mau dibahas. Tapi soal pengasuhan si kembar. Katakanlah tips parenting ala-ala Umi ZaZi.

Seperti halnya di Indonesia, setiap akhir persekolahan biasanya ada acara sejenis perpisahan. Nah, disini juga ada acara sejenis meski ga semeriah TK-TK di Indonesia.

Pada acara yang dinamakan "Celebration The End of School Year" ini, setiap anak akan menerima laporan akhir perkembangan mereka beserta sertifikat dan portofolio mereka selama bersekolah. Dalam 1 tahun, anak-anak sebenarnya menerima laporan perkembangan sebanyak 4 kali, di pertengahan semester fall, akhir semester fall, pertengahan semester spring dan terakhir, sebelum liburan summer.

Bedanya laporan akhir dengan 3 laporan sebelumnya, laporan ini disertai dengan bukti anak-anak beraktivitas selama bersekolah dengan foto-foto dan video aktivitas mereka. Daaaaaaaan, buat saya karena ini pengalaman pertama anak-anak menyelesaikan 1 tahun sekolahnya, rasanya 'W O W!!!!'. Saya terharu dan amazing bangeeeeeeeet #alay saat menyaksikan foto dan video aktivitas mereka.

Tapiiiii ... disinilah dia awal kegalauan dimulai (lagi). Iya lagi! Karena saya sangat sering galau kalo udah ngomongin anak-anak terlebih soal perkembangan mereka. Kenapa? Karena membesarkan 2 anak sama usia itu tantangannya beda lagi. Dan pastinya membesarkan setiap anak dengan jumlah tertentu itu juga memiliki tantangan nya masing-masing.

Jom kita lihat ilmu parenting ala-ala umi ZaZi #eaaaaaaa. Terutama dalam menghadapi berbagai macam kejutan dari anak kembar ini ...yang selalu bikin Uminya galau dan mikir 😫

πŸ‘¬ Saat 2 Perpaduan sempurna bersatu
Halah judulnya. Tapi memang begitulah adanya. Ketika 2 perpaduan karakter, cengeng bertemu dengan iseng. Kebayang kan apa yang terjadi???? Yups! Si cengeng akan terus merengek manja karena diisengin, dan si iseng semakin gemes buat terus menerus mengisengin. Mau marah? Lha gimana caranya??? Yang iseng hanya mencoba mengajak main, yang cengeng hanya mencoba merajuk manja. Ulalaaaaa ... pusing pala syahrini.
SolusiπŸ‘‰ Situasi seperti ini solusi terbaiknya adalah sabar πŸ˜†. Bersabar menunggu si kembar menyelesaikan 'tugas'nya. Si iseng selesai dengan keisengan nya, dan si cengeng selesai dengan kecengengan nya. Sampai kapan??? Sampai mereka menjawab "udah" ketika ditanya "Udah iseng/cengeng-nangis nya?". Kemudian selanjutnya berbicaralah dari hati ke hati bahwa sesungguhnya umi fusing dan fening melihat kalian iseng dan nangis begini #umicurhat. Saya yakin setiap orang tua punya cara komunikasinya sendiri dalam hal ini πŸ˜†πŸ˜…

πŸ‘¬ Saat mereka saling mempengaruhi
Saya sadar alias tidak pingsan bahwa anak kembar meski lahir di tanggal yang sama dan tahun yang sama, mereka tetaplah 2 individu dengan 2 karakter yang berbeda. Dan disinilah terkadang saya merasa binun (bingung) tatkala mereka bertukar karakter sebagai efek dari saling mempengaruhinya mereka.
Misal, ketika sang cuek dan antimainstream tengah melukis (Zaid) akan mempengaruhi si karakter perfeksionis bin mainstream (Ziad) yang juga sedang melukis. Ziad yang awalnya melukis sesuai warna yang seharusnya di lukiskan pada si gambar mendadak ikut absurd dengan lukisan abstrak ala Zaid πŸ˜‚. Untuk hal ini saya hanya mengamati saja. Belum menemukan cara untuk pengarahan karakter asal pengaruh yang saling mereka berikan bukan hal yang prinsip.
Tak jarang, pertukaran karakter seperti pemalu berganti dalam kurun waktu tertentu. Contohnya, awal persekolahan yang pemalu adalah Ziad. Namun di akhir persekolahan, Zaid lah yang menjadi pemalu. Sedangkan Ziad percaya diri seperti halnya Zaid di awal semester (ini kegalauan baru saiah πŸ˜‘)

πŸ‘¬ Saat hari-hari kita berubah jadi tim pencari mainan 😫
Mendidik itu long lasting memang. Jika berhasil mengajarkan sesuatu, yang lebih berat itu justru follow up nya. Dan yang paling signifikan terasa berat ketika konsep "mainannya dijaga karena kalo udah hilang ga bisa dibeli lagi" membuat anak-anak sangat menjaga dan menyayangi mainan mereka. Dan hal ini merupakan perubahan positif kalo mengingat bagaimana dahulu kala mereka memperlakukan mainan mereka sekenanya. Di lempar dan disakiti #umi lebay dan kalo ilang bilang "Beli lagi" 😧.
Tapiiiii ... follow up sikap positif ini cukup berat mengingat mereka belum memiliki daya fokus layaknya orang dewasa. Ketika fokus mereka teralihkan, saat itulah mereka bisa lupa dimana terakhir kali menaruh mainan mereka. Dan masalahnya, mainan yang selalu awet dibawa-bawa itu berupa mobil-monilan hotwheels dimana si hotwheels ini sangat mudah menghilang kaya jin #eh. Alhasil, saya dan suami nyaris setiap hari dan setiap waktu terlibat dalam misi pencarian mainan mereka 😏
Solusi πŸ‘‰ Setelah memastikan si mainan hilang ulah siapa, minta mereka yang menghilangkan untuk mencari si mainan tersebut. Jika mereka sudah berusaha keras dan belum ketemu juga, kita bantu cari. Jika tidak ketemu, pasrahkan pada takdir dan berikan mereka pengertian bahwa jika tidak teratur menyimpan mainan, jadinya mainan gampang hilang. Endebla endeble πŸ˜†. Dan konsisten menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi masalah seperti ini πŸ€—

πŸ‘¬ Saat si kembar berekplorasi diluar batas kewajaran
Ga perlu heran lah ya kalo liat anak kecil melakukan hal-hal ajaib semisal masukin manik-manik kehidung, meludah dan ngacak-ngacak ludahnya, manjat benda-benda yang rawan jatoh atau patah, lompat sekena hati, dan hal lain yang mungkin lebih ekstrim. Yah begitulah! Anak-anak nan unik ini memang tinggi rasa penasarannya. Lalu bagaimana???
SolusiπŸ‘‰ Pastikan ekspresi kita dalam batas wajar tanpa teriak atau pun tindakan yang mengagetkan anak. Karena hal ini hanya akan membuat mereka semakin tertantang untuk meneruskanπŸ˜‚. Jadi sebaiknya, katanya, bangun open ended question seperti "ade lagi ngapain?" atau "Lagi acak-acak apa de?" atau "wah, dede hebat manjatnya, manjatin apa de?" dan seterusnya. Sehingga menumbuhkan keterbukaan anak dalam menjelaskan kenapa atau atas tujuan apa mereka melakukan hal tersebut. Jika anak belum bisa bicara jelas, kita bisa alihkan jika hal yang mereka lakukan itu membahayakan. Misal alihkan perhatian anak yang akan ngedrumb di kepala adik bayi, misalnya, ke ngedrumb di ember atau galon atau hal lain yang bisa mengalihkan perhatian mereka. Jangan lupa lontarkan pujian dan dorongan kepada mereka untuk hal-hal yang mereka respon dengan baik. Jika belum berhasil, bersabarlah πŸ˜„

Segitu dulu aja deh ... moga manfaat 😘

Columbus, Mei 2017

Disclaimer: tulisan ini hanyalah catatan curhat yang dirangkum seolah ilmiah biar dibaca πŸ˜†. Adapun ketidaksesuaian tulisan dengan teori yang ada bukanlah faktor kebetulan melainkan memang begitulah teori parenting. Fleksible sesuai objek nya. Berhubung objeknya manusia jadi teorinya liquid .. (halah bahasanya). Jadi ga menutup kemungkinan tips parenting ini bakal berbeda di orang tua yang lain 😘.

Post Comment
Posting Komentar

Komenmu sangat berarti bagiku πŸ˜†
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... πŸ€—