MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Inner Child dengan Doodle Art

Minggu, 19 November 2017
Follow my blog with Bloglovin




Jujur sejujur jujurnya, saya baru tau istilah doodle pada bulan Oktober tahun 2017. Plis jangan ketawain. Ok. Thanks!

Ayo, ngaku! Kamu! Iya kamu! Kamu yang lagi baca, tau doodle sejak jaman kapan hayooo? Hihihihi

Kapan pun itu, sekarang kita bahas sedikit ya terkait doodle. Doodle itu secara harfiah memiliki arti yang tidak terlalu positif. Pada awal abad ke 17 (kalo ga salah ye), doodle itu artinya bodoh. Kemudian abad 18 doodle sebagai arti kerja yang diartikan juga sebagai coretan yang menipu, coretan yang dibuat saat melamun, atau coretan yang dibuat untuk menghabiskan waktu dengan rasa malas. 
Doodle saya versi modifikasi alias tiruan dari sana sini

Tapi apa benar doodle itu negatif seperti arti katanya secara harfiah?



Ada yang ingat ga saat jaman sekolah dulu (ketahuan deh udah ga anak sekolahan :D ), kita sering orat oret di meja sekolah atau di buku saat guru sedang menerangkan pelajaran kan? (Kalo ga ingat, berarti cuma saya yang kaya gini hahahaha. Eh ga denk, saya dan teman-teman sekelas sih kala itu #adatemen). Nah, aktivitas corat coret yang kita lakukan tersebut itulah doodle.

Kemudian saya juga jadi teringat tentang pelajaran sejarah terkait doodle. Coba ingat-ingat penemuan sejarah jaman purba, salah satunya berupa coretan di gua kan ya? Dari penemuan tersebut bisa kita lihat bahwa kebiasaan manusia dari jaman purbakala itu ya melakukan corat coret. Corat coret dilakukan dimana biasanya kondisi diri seseorang tersebut tengah dirundung rasa malas untuk melakukan rutinitas tapi tetap berfikir tentang apa terkait dirinya dan sekitarnya. Bahasa sekarangnya kayanya sejenis galau kali ya hahaha. Kaya halnya jaman purba, coretannya ga jauh-jauh dari senjata berburu dan perburuan atau gambar kelompok koloni mereka. Alias gambar yang dihasilkan sebagai output dari input visual si manusia. Hmmm
source: www.doodleartsmagazine.com

Saya jadi sedikit mengkaitkan aktivitas doodle art ini ke psikologi manusia. Saya kurang tau apakah sudah ada penelitian terkait doodle dan psikologi sih(pas di googling sih ada, tapi saya belum baca hahaha), tapi saya meyakini bahwa sesungguhnya manusia memilliki kemampuan untuk memvisualkan pikirannya sebagai salah satu cara mengurangi beban, apakah itu beban pikiran ataupun perasaan, sejenis stress release. 

Coba kita lihat doodle  versi manusia mini alias anak-anak. 


Aktivitas paling membahagiakan tatkala kita anak-anak menurut saya (dan setelah memiliki anakpun saya makin yakin) adalah salah satunya menggambar. Seperti contohnya anak-anak saya. Meski gambar yang mereka hasilkan tidaklah terbaca tepat secara visual saya orang dewasa, tapi dalam visual anak-anak saya gambar tersebut bercerita tentang visualisasi pikiran mereka yang tentunya sangat imajinatif (karena anak-anak sosok paling keren dalam mengimajinasikan sesuatu  menurut saya). Dampak positif dari aktivitas menggambar (sebagai visualisasi pikiran anak yang mereka hasilkan) yang bisa saya liat adalah, kebahagiaan. Seperti ada energi yang tersalurkan. Entahlah apa itu istilahnya dalam psikologi atau keilmuan terkait. Seolah mereka tengah menyalurkan rasa yang dipendam, baik itu rasa positif ataupun negatif.
ini gambar Octopot and Kitchen
for cooking kata Ziad

Anak-anak tentunya belum memililki beban pikiran yang bisa menyebabkan stress (menurut kita manusia dewasa), tapi anak-anak sudah memiliki beban perasaan (menurut saya). Nah kan, saya jadi inget lagi sesuatu ...

Dulu tahun 2012, saya pernah berkesempatan mengikuti aktivitas mendongeng salah seorang teman di sekolah keren di daerah Cimenyan, Kab. Bandung. Di sela aktivitas mendongeng tersebut, teman saya yang akrab di sapa Kak Idzma ini meminta anak-anak yang mengikuti dongeng sebelumnya untuk menggambar apapun yang ingin mereka gambar. Dari gambar tersebut Kak Idzma mencoba membaca sisi terdalam dari anak-anak perserta dongeng tersebut. Duh saya lupa apa istilahnya. Menariknya, benar saja, bahwa gambar spontan anak-anak saat itu benar-benar menggambarkan kondisi perasaan dan apa yang sedang ada dalam pikiran mereka setelah anak tersebut diminta untuk menjelaskan apa yang mereka gambar. (Jadi jika anak-anak dianggap tidak memiliki beban pikiran, kita harus pikir ulang deh ya. Anak-anak kan banyak juga latar belakang 'sejarahnya') - saya cukup sering membaca kondisi perasaan anak-anak lewat gambar yang mereka buat.
orangnya lagi sad kata Zaid.
(Zaid saya paksa ngegambar orang, saya menduga yang sedih itu dia)

Doodle saya versi bebas
Balik lagi ke doodle, dari beberapa hal di atas, saya mencoba melihat bahwa doodle bisa dijadikan salah satu cara untuk mengurangi ketegangan pikiran alias stress release dengan cara membebaskan diri kita untuk menggambar apapun yang ingin kita gambar. Tak peduli gambar itu jelek atau bagus, esensinya balik lagi pada doodle itu sendiri. Doodle sebagai coretan cakar ayam. Dan kemudian lihatlah hasilnya, akan menjadi karya seni paling fenomenal at least bagi diri kita sendiri. Hahahaha ... Dan saya pun ingin mencoba nya. (Mencoba versi bebas, bukan versi tiruan hihihihi)


Lalu apa hubungannya Inner child dengan DoodleArt?


Lagi-lagi ini hanyalah lintasan pikiran. Dimana saya, mencoba dan memang doyan mengkaitkan rasa yang muncul dalam diri saya sebagai salah satu respon psikis dari diri saya. Hehehe, mulai deh belibet.

Bagi yang sudah baca tulisan saya terkait Inner child, Barangkali bisa merasakan apa yang saya rasakan dan pikirkan. 
Coba lagi-lagi kita mengingat masa kanak-kanak kita. Kalo disuruh menggambar, kita bakal gambar apa? Jujur saja, saya selalu menggambar dua gunung dengan matahari di tengah plus jalan panjang meliuk kebawah dilengkapi pemandangan sawah nan luas. Bagi saya, gambar ini akan membantu saya mendapatkan ponten 8+. Sebagai pribadi yang memiliki kemampuan menggambar 'not too bad', saya mencoba mengasah gambar pemandangan saya tersebut. Perlahan muncul tambahan gambar berupa burung, awan, dan terakhir rumah ditengah sawah. Pernah mencoba gambar lain, saya langsung dapet ponten 6, hahahaha #lol

Mindset seperti ini saya akui salah satu dampak dari kebiasaan dictation guru dan orang tua. Dimana mindset mainstream diatur sedemikian rupa yang ternyata merampas kebebasan berekspresi yang sesungguhnya. Fenomena psikologi memang tak akan pernah selesai, dan saya hanya mencoba mengambil hikmah dari masa kanak-kanak yang saya lewati agar apa-apa yang kurang baik tidak terulang.

Lalu dimana letak kekeliruannya selain dari kebebasan dalam visualisasi mengekspresikan pikiran dan perasaan lewat gambar?

Menurut saya, kekeliruannya ada pada tujuan menggambarnya. Untuk apa ada aktivitas menggambar di sekolah? Yang saya tau untuk belajar menggambar. Untuk apa belajar menggambar? Jujur saya ga tau. Hahahaha. Tapi sekarang, jika hal ini saya pertanyakan pada diri saya sendiri terkait parenting, maka menggambar adalah salah satu aktivitas natural manusia. Bisa dikatakan naturilistik nya manusia. Makanya juga kan milestone nya anak-anak salah satunya dilihat dari coretan yang dihasilkan anak untuk melihat perkembangan Thinking Skills / Cognitive development anak.

Thinking skills disini bisa jadi salah satunya kemampuan anak dalam melihat sekitar dan mengolah rasa yang muncul. Jika ada rasa atau emosi yang tak terselesaikan di masa kecil, maka tentunya akan menjadi innerchild yang tak terselesaikan (jangan lupa baca self healing inner child terkait bahasan inner child ya ... ). Nah, saya meyakini, tatkala kecil, sebenarnya kita memiliki kemampuan dan keinginan dalam menyelesaikan emosi kita yang bermasalah tadi, yaitu lewat doodle. Saya inget banget gimana saya suka corat coret entahlah apa dan makin gede jadi seneng corat coret diary dan itupun karena udah tau kalo curhat yang aman ya lewat diary jika saya sedang dalam kegundahan. Untuk konteks anak-anak yang belum memiliki kemampuan menulis, mencorat coret tampaknya menjadi aktivitas yang bisa membantu menuangkan emosi tak terselesaikan tadi (ini hanya pemikiran saya saja ya). Sayangnya, jaman dulu kala belum ada atau belum usum membaca perasaan anak lewat gambar atau apalah terkait rilis emosi seperti halnya jaman sekarang. Jadi wajar saja tatkala emosi tertahan dan tak terselesaikan dan mengendap lalu muncul perlahan saat dewasa, maka manusia dewasa yang sudah terbiasa tak berekspresi lewat doodle akan mengalami kesulitan melepas emosi dan tekanan lewat doodle. Yang ada malah tertarik dengan keindahan hasil doodle orang yang ciamik dan cantik (ini saya sih hahahaha).

Jadi, dibalik makna harfiah yang kurang bagus, doodle atau doodle art memiliki tujuan positif buat psikologi manusia (lagi-lagi menurut saya). Kenapa? Karena dengan nge-doodle terjalin banyak koordinasi disana dimana rasa dan asa diasah bersama pikiran dan perasaan berupa coretan jujur pengungkap rasa dalam jiwa. 

OKe, segitu dulu deh terkait inner child dan doodle art nya. Yang mana kesimpulannya, doodle bukanlah seni dengan teknik menggambar tertentu, karena doodle dikategorikan sebagai freehand art dimana apapun berupa coretan adalah doodle. Baik itu coretan berupa tulisan, gambar benda, pola, apapun yang bersifat torehan tinta. Hehehehe.

Selamat ngedoodle dan kenali doodle dirimu dengan bebaskan jemari untuk menyambungkan titik  titik menjadi sebuah coretan. Yang tertarik mengenal lebih dalam terkait doodle, join aja di grup emak doodle di Instagram atau bisa pelajari sendiri bareng kakek Google :D

Columbus, 19 November 2017
8 komentar on "Inner Child dengan Doodle Art"
  1. Menarik sekali! Baru tau kl stiap coretan yg dibuat itu doodle dan bs menggambarkan inner child kita. Jujur aku trmasuk slh satu yg paling suka coret2 ketika sedang tdk mengerjakan apa2. Sayangnya tdk bs mmbaca hasil doodleku sendiri yaa. Cb cuuz ke grup instagramnya ah. Tfs eniwei

    BalasHapus
    Balasan
    1. di grup enak dudle itu kita bakal dikasih modul ttg dudle mba.. termasuk salah satunya tipe2 dudle. saya juga belum tau sih secara tepat dudle saya..hihi..tp kayanya pattern deh.. kl lettering saya nyerah 😂😂😂😂

      Hapus
  2. aku udah gabuuung~ hahaha. Tapi kok ngga dikasih pdf ya? :P
    aku pgen gambar free gitu.. tp pd akhirnya jelek.. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. aq telat ya komennya.. udah di pm kan ya sama teh wilda nya? semoga segera dpet pdf nya.. dan meresapi jenis doodle mu..hihihihi

      Hapus
  3. Nice post, mbak.
    Dan betapa menyesalnya saya zaman SD dulu sering pake joki untuk kelas menggambar di sekolah,hahahaha..

    salam kenal, mbak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wuih mba raya keren, jaman Sd udah joki2an ... hihihihi

      salam kenal juga mba :)

      Hapus
  4. Hai teh Merisa. ���� Wah kece nih tulisannya. Lebih mendalam dan reflektif. Setelah ngedoodle memang diri lebih rileks. Nuhun ya udah gabung dan sharing di Emakdoodle ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. hatur nuhun juga teteh udah berkunjung ... sukses untuk teh wilda :)

      Hapus

Komenmu sangat berarti bagiku 😆
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... 🤗