MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Bangkit Dari Alam Mimpi

Rabu, 14 Februari 2018

Eaaaaaa ... judulnya kaya pilem Suzana ye πŸ˜…. Bukan dan sungguh bukan. Ini bukan tulisan review film nya nenek Suzana. Ini adalah judul refleksi diri minggu ini. Sek asek ... Refleksi kehidupan di Amerika ceritanyah.

Memasuki satu tahun keberadaan saya di Amerika, saya dan suami kerap kali berdiskusi tentang kehidupan pasca studi disini. Dan diskusi itu masih berlanjut hingga sekarang disela obrolan-obrolan kami. Diskusi tentang apa? Tentang adaptasi anak-anak, adaptasi kami. Adaptasi akan perubahan lingkungan, kultur dan kebiasaan.

Ya! Disini, alhamdulillah kami memperoleh standar kesejahteraan hidup di atas kesejahteraan kami waktu masih di Indonesia. Sebut saja tiga kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, papan, semua terpenuhi lebih dari kata cukup. Bukan karena standar kemewahan meningkat, tapi karena standar keterjangkauan bertambah πŸ˜…

Lalu kemudian beberapa hari ini eh bukan, beberapa minggu belakangan, saya mulai berfikir dalam pikiran sendiri tentang kehidupan disini yang ibarat fatamorgana ini. Salah seorang teman disini mengatakan

"kuliah disini tu kaya mimpi mba, pulang-pulang ke Indonesia, itu kita baru bangun dari mimpi itu"

Begitu lebih kurang katanya. Dan saya pun mengiyakan.

Jujur saja, bersekolah ke luar negeri memang meningkatkan strata sosial kita di masyarakat. Meski saat ini bersekolah ke luar negeri bukan lagi 'barang langka', namun masih menyimpan prestise yang cukup bisa meningkatkan kebanggaan jiwa. Makanya banyak generasi muda yang berbondong-bondong hendak keluar negeri dengan aneka ragam motivasi kayanya ya ...

Prestise hidup ini tentunya juga menimpali saya donk. Manusiawi bukan? Makanya di awal-awal kedatangan di Amerika semua spot deket apartment dan kampus saya sambangi hanya demi sebuah photoshotπŸ˜… dan update di media sosial πŸ™ˆ. Mumpung masih liburan dan emang lagi euforia. MaapkeunπŸ™

Dan ketika menulis blog pun, saya lagi-lagi membidik Amerika sebagai salah satu tema tulisan yang menurut saya bisa mengundang rasa penasaran pembaca. Maklum, blog saya kan masih blog amatiran yang pembacanya masihlah teman dan rekanan di media sosial, belum pembaca setia πŸ˜…

Apakah taktik saya berhasil? Yups! Tema-tema terkait kehidupan disini jauh lebih menarik perhatian pembaca ketimbang tulisan lain πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Dan saya harus menerima kenyataan itu dengan lapang dada πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Fenomena ini cukup membuat saya terhenyak #eitdah, bahwa sesungguhnya yang menarik itu adalah kehidupan saya di Amerika, bukan tulisan saya πŸ˜‚πŸ˜‚. Artinya, tatkala Amerika tak lagi membersamai saya, habislah karir saya sebagai blogger #eaaaaa

Akhir tahun 2017 lalu saya bertekad konsisten menulis konten 'rada bener' di blog. Rada bener dalam artian tak lagi menulis curhatan dan 'pamer amerika' tok. Kalaupun menulis curhatan, dikemas sedemikian rupa biar ga bener-bener bahasa curhat. Begitu juga kalo mau 'pamer'. Buat apa? Biar orang betah baca blog saya dan ga sebel kalo ada konten pamernya πŸ˜„

Jadi memang keseriusan menekuni dunia blogger ini membuat saya harus menyadari kapasitas diri dan bagaimana cara meningkatkannya. Sehingga, dimana pun saya berada, apapun kondisi saya, tetap, tulisan yang saya produksi bermanfaat untuk dibaca dan menarik pembaca tentunya.

Bagaimana caranya? Entahlah. Yang ada dalam pikiran saya saat ini hanya satu, yaitu bangkit dari alam mimpi lebih awal. Tanpa harus menunggu pulang ke Indonesia. Caranya? Dengan menulis konten-konten di luar Amerika raya. Jikapun ada, sebatas konten perbandingan untuk diadopsi nilai positifnya.

Selain itu, menyalurkan hobi fotografi ke genre yang tidak mengandalkan keindahan alam Amerika saja, tapi dengan belajar genre fotografi yang ilmunya bisa diterapkan ketika pulang ke Indonesia. Bukan berarti ga bakal motret alam Amerika lagi ya. Kalo motret sih ga perlu dibatasin. Lha wong mumpung disini πŸ˜…. Kalo nulis? Nah perlu dilatih biar ga ngejual Amerika mulu. πŸ™ˆ

Demikian refleksi hari ini. Satu pelajaran yang saua dapatkan, jadi blogger tu ga semudah menulis suka-suka saja. Tapi harus menulis suka-suka dengan tujuan tentunya πŸ˜….

Columbus, 14 Februari 2018

Post Comment
Posting Komentar

Komenmu sangat berarti bagiku πŸ˜†
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... πŸ€—