MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Jurnal Ramadan: Allah Solusi Semua Masalah

Selasa, 28 April 2020
Ada perasaan negatif yang setiap orang tahu bahwa perasaan tersebut adalah buruk jika muncul dari dalam diri. Perasaan ingin mengakhiri hidup, rasa ingin pergi meninggalkan segala yang ada, berputus asa, dan berbagai macam goncangan hidup yang membuat karamnya jiwa. Hidup kemudian terasa hampa tak bermakna. Yang semula penuh semangat dengan tujuan yang jelas, tiba-tiba berubah buntu dan menjadi tidak tahu kemana akan melaju.


Beberapa hari yang lalu, qodarullah saya digiring berdialog virtual dengan seorang ibu yang hanya saya kenal melalui media sosial. Hanya berawal dari sebuah apresiasi dimana saya melihat bahwa usaha yang beliau lakukan di masa adaptasi dari seorang ibu pekerja menjadi ibu rumah tangga adalah luar biasa. 

Tak dinyana, berceritalah beliau bahwa ada bersitan negatif yang muncul di awal masa adaptasi itu. Bahwa hidup terasa lebih berat dan tak diperoleh lingkungan yang mampu mengimbanginya, pun dengan pasangannya. Saya tidak berani menggali lebih dalam. Cukup mengetahui bahwa apa yang terlihat tentu bukanlah apa yang dialaminya. Tentu ada faktor lain yang tidak bisa beliau ceritakan.

Ibu tersebut bukanlah orang pertama yang menjadikan saya merenung tentang hidup, depresi dan aneka macam pikiran negatif lainnya. Acapkali Allah menggiring takdir hingga saya dipertemukan dengan sosok yang memiliki jalan hidup cukup berliku. Yang tak jarang ekstrim, namun hingga akhirnya mereka menyadari kunci penyelesaiannya.

Saya pribadi pernah berada di posisi tersebut. Posisi dimana saya tak ingin membersamai keluarga tatkala awal pindah ke Amerika. Kehidupan terasa sulit. Tingkah dan perangai anak-anak sering memancing innerchild bermasalah saya muncul. Ada bayangan masa lalu yang tak lah begitu kelam, namun cukup mengganggu. Atau bahkan sangat mengganggu saya kala itu.

Hadapi!
Berbagai macam cara saya lakukan. Namun tetap saja, jiwa karam tak mampu bangkit. Yang muncul adalah rombongan pikiran negatif yang saya sendiri tak tahu datangnya dari mana.

Pendekatan agama, psikologi hingga pendekatan keluarga. Saya coba lakukan semua. Sulit. Hingga saya jatuh kembali setelah mencoba bangkit.

Tidak! Masalah ini bukanlah masalah besar. Malu rasanya diri ini jika tak mampu menghadapinya. Malu jika dicap cemen, lemah, tak berguna dan pikiran negatif lainnya 

Dirimu kini tengah menjauh! Mendekatlah kembali! Rangkul diri! Akui! Akuilah semua hal yang kamu rasakan! Jujurlah!

Tak Perlu Membandingkan
Acapkali kita, membandingkan apa yang kita alami dengan apa yang dialami orang lain. Tidaklah mengapa jika pembanding itu untuk mencari inspirasi dan hikmah. Namun janganlah membandingkan untuk kemudian merasa tidak pantas dan tak berguna. Karena sesungguhnya setiap orang memiliki kadar kemampuan yang berbeda.

Pun kita tidak pernah tahu secara terperinci apa yang orang lain alami. Namun kita tahu dengan sangat detail, apa yang diri kita alami. Hadapi dengan kejujuran bahwa,

Ya! Saya tak mampu! Jiwa saya hancur! Hati ini luluh lantak! 

Teriakanlah sekeras yang kita bisa. Lalu ...

Hadapilah BersamaNya
Pengakuan diri bahwa diri ini lemah, itulah sumber kekuatan. Karena memang hakikatnya kita manusia, adalah makhluk lemah. Lalu untuk apa kita malu mengakui semua kelemahan ini? Malu dikatakan cemen?Malu dianggap tak mampu? Jika manusia menjadi patokan, maka bersiaplah untuk kelemahan yang tak akan kunjung usai.

Semua orang pernah mengalami titik terlemah dalam hidupnya. Tak hanya kita. Karena memang begitulah cara Allah membuat kita mau untuk menghadirkanNya. Karena begitulah cara Allah untuk menunjukkan rasa cintaNya. Yang apabila tak dalam karamnya jiwa, mungkinlah kita akan terus merasa bangga akan capaian diri. Atau merasa selalu berbahagia atas apa yang dipunya. Sehingga lupalah kita terhadap Dzat yang berada dibalik semua itu.

Bukankah Rasulullah pernah mengatakan, bahwa apa yang beliau takutkan menimpa umatnya bukanlah sebuah ujian kesulitan, melainkan ujian kesenangan?

Maka janganlah kamu merasa sendiri. Janganlah kamu merasa berputus asa dan ingin mengakhiri hidup ini. Karena sungguh, ada Maha Pecinta yang tengah menunggu rintihanmu. Ada yang Maha Penyayang yang selalu mendekapmu erat. Ada Yang Maha Lembut yang membelaimu setiap waktu.

Lembutkanlah jiwa yang karam. Hadapilah dengan kejujuran dan ketaqwaan. Karena semua orang pernah mengalaminya. Namun tidak semua orang mampu menghadapinya. Mintalah kepadaNya. Mintalah sepuas hatimu. Rasakan getarannya. Nikmatilah hangatnya airmata. Dan rayakan ketenangan jiwa. Hingga Allah memampukanmu untuk melewati semuanya.

Semoga hidup kita semakin bermakna dan mampu kembali ke surgaNya ...

Batujajar, 28 April 2020
Post Comment
Posting Komentar

Komenmu sangat berarti bagiku 😆
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... 🤗