MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Buku-buku Zaid Ziad

Selasa, 14 Maret 2017

Saya dan suami kalo dibanding-bandingin ya sama orang tua lain memang termasuk orang tua yang hmmm .. apa ya ... hmmm ... gitu deh.

Contohnya saja soal buku. Kalo diadain perlombaan koleksi buku terbanyak balita, dijamin kami ga masuk nominasi 🙈. Bukan saya bangga dengan semua ini, miris tepatnya.

Tapi eh tapi ... dibalik kemirisan ada faktor penyebabnya. Mungkin bukan faktor utama, tapj jadi faktor pendukung yang membuat saya dan suami akan berfikir ribuan kali untuk membelikan sesuatu untuk anak. Apapun. Termasuk buku.

🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵
Alkisah, seorang anak lelaki kecil yang tinggal di sebuah desa kecil bernama Kananga. Letaknya di kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Lelaki kecil ini memiliki segudang harapan dan cita. Dan tentunya juga memiliki keinginan akan sesuatu yang disenangi anak kecil. Sebut saja mainan.

Dalam memperoleh apapun yang dia inginkan, dia tidak berani meminta kepada kedua orang tua nya. Bahkan setelah uang jajan pun dia sisihkan, tetap saja dia tidak berani membelikannya pada hal yang dia suka. Entah mengapa. Hingga secara tak sadar, dia pun tumbuh menjadi anak yang berjuang sendiri untuk semua yang dia butuh dan dia mau. Tanpa mau merepotkan orang tuanya sedikitpun.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Sekarang lelaki kecil ini sudah menjadi ayah. Suami saya ... hehehe ... Apapun yang saya ingin beri kepada anak-anak selalu diusahakan terlebih dahulu cara lainnya. Alias jangan langsung beli. Tak jarang saya pake jurus ngambek dulu baru dibelikannya anak-anak. Setelah diskusi panjaaaaaang tentunya. Disatu sisi saya kesal, kok kesannya jadi kaya pelit. Tapi disisi lain ternyata membuat anak-anak tumbuh menjadi anak-anak yang ga asal mintak ke orang tua.

Ya begitulah Abi kalian anak-anak. Umi juga pelit ... Abi penuh pertimbangan. Jadi wajar ya kalo kalian cuma punya sedikit mainan dan sangat sedikit buku. Mainan atau buku baru akan kalian dapatkan setelah delayed gratification yang berbulan-bulan. Maklum saja, Abi saja belum memberikan gratifikasi kepada dirinya melainkan hanya berupa makan di restoran enak atau sekedar membeli makanan enak untuk dibungkus pulang dan kita makan bersama.

Kalian Umi lihat menikmati sekali dengan cara hidup kita yang seperti ini. Meski umi dan abi ga sesaklek kakek almarhum, atau juga tidak sepelit oma hehehe.. (peace omaaaa) ... tapi umi abi hanya berusaha memberi sesuatu berdasarkan apa yang kalian capai.

Tapi ternyata ada sedikit evaluasi. Bahwa untuk buku, kami tidak akan membatasi nya lagi melainkan hanya sekedar pembatasan jenis buku. Kalo jumlah, jug sebanyak banyak yang kalian mau. Asal tetep dengan duit kalian sendiri ya.. hihihihi ..

Tumbuhlah di atas kaki kalian sendiri, dengarlah nurani kalian sendiri. Karena sesungguhnya, kalian lahir utuh bersama diri kalian sendiri yang sudah dibekali pesan dari ilahi Rabbi ...

Umi Abi hanya wasilah dalam tumbuh kembang kalian ... yang selalu kami sertai doa doa kebaikan ... semoga hidup kalian berkah ya cakep-cakep nya umi ... 😘😘😘

Columbus, 7 Maret 2017

Post Comment
Posting Komentar

Komenmu sangat berarti bagiku 😆
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... 🤗