MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Delayed Gratification

Minggu, 29 Januari 2017

⚘Delayed Gratification⚘
.
.
a.k.a menunda kepuasan pada anak dipercaya bisa meningkatkan konsentrasi dan logika anak disaat mereka dewasa. Anak yang sudah tebiasa menahan diri dari keinginan juga dipercaya lebih awet menjaga persahabatan dan mampu bertahan dibawah tekanan.
.
.
Seperti apa sih menunda kepuasan itu?
.
.
Anak pada usia dini memiliki kebiasaan berupa keinginan untuk dilayani. Selain karena memang mereka belum mampu maksimal dalam melakukan hal-hal teknis seperti membuka pintu, memasang baju, atau sekedar menuang minuman ke dalam gelas, anak-anak menuntut perhatian tatkala mereka merasa bosan atau gelisah karena kondisi badan kurang baik.
.
.
Nah, saat anak mengungkapkan keinginan  mereka inilah delayed gratification (DG) bisa dilakukan. Konsepnya hanya menunda. Menunda sampai kapan? Sampai waktu yang kita tentukan. Misal, disaat kita sedang memasak, anak merengek minta digendong, kita bisa mengatakan "tunggu hingga umi selesai memasak, setelah memasak, umi gendong kamu". Atau ketika anak meminta dibelikan mainan favorit atau makanan kesukaan mereka. Kita juga bisa mengatakan "Tidak sekarang, beli mainan jika kamu bersikap baik pada adikmu/saudaramu lebih sering ketimbang rewel atau menangismu. Menolong, memberi perhatian, atau tidak merebut mainan saudaramu secara paksa". (ini curhatan saya😆)
.
.
Lalu bagaimana DG untuk bayi? Apakah bisa? Konon, di Perancis, bayi ketika menangis apakah karena haus atau lapar atau ingin diganti popok, orang tua tidak langsung menyusui atau memenuhi tuntutan dan keinginan si bayi. Melainkan membiarkan bayi menangis sesaat sekitar 5 menit. Baru kemudian menggendong si bayi atau melayani keinginan bayi tersebut.
.
.
Apapun caranya, konsep dasar nya menunda. Dalam batas yang wajar dan cara penyampaian yang baik.
.
.
Disarikan dari berbagai sumber

Columbus, 25 Januari 2017

Post Comment
Posting Komentar

Komenmu sangat berarti bagiku 😆
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... 🤗