MOM BLOGGER

A Journal Of Life

Rewrite (Kembar oh Kembar)

Senin, 13 Februari 2017

Dibawah ini merupakan Copas tulisan saya 1 tahun yang lalu ... bahasannya masih tetap hangat karena terkait fenomena beranak kembar 😆


Columbus, 12 Februari 2017

👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬👬

Merupakan sebuah anugerah tentunya diamanahi anak kembar. Karena tidak semua orang bisa mendapatkannya. Tinggal kita, orang tua yang diamanahi anak kembar harus belajar lebih banyak agar tumbuh kembang anak kembar kita baik.

Memiliki anak kembar sepintas seperti - sama dengan - memiliki 2 anak. Namun sesungguhnya sangatlah berbeda. Anak kembar lahir, tumbuh dan kembang dalam waktu yang sama. Sedangkan adik kakak beda usia, lahir dan tumbuh dalam waktu yang berbeda. Dari kondisi ini tentunya terdapat perbedaan pula terhadap psikologis orang tua anak kembar dengan yang anaknya dua, apalagi dengan orang tua yang anaknya satu. Psikologis yang saya maksud disini salah satunya dari sisi kesiapan.

Ibu anak 1 cenderung bisa lebih leluasa dalam menerapkan pola didik dan pola asuh terhadap anaknya karena bisa fokus pada perkembangan 1 anak. Ibu anak 2 pun bisa mengambil hal positif yang sudah diterapkan pada anak pertama untuk diterapkan lebih baik pada anak kedua. Meski ketika anak kedua lahir, ibu 2 anak tidak bisa lagi sefokus saat anak masih 1. Nah bagaimana dengan ibu dengan anak kembar???

Berbagi dari pengalaman saya, ibu dengan anak kembar rata-rata memiliki kesulitan ketika menerapkan pola didik dan asuh kepada anak kembarnya. Kenapa? Karena ibu tersebut harus memikirkan pola yang cocok untuk 2 anak sekaligus (apalagi triplet ya, kembar 3) dalam waktu yang bersamaan. Pola didik dan asuh ini tentunya harus terus menerus diperbarui dan disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga, pada ibu dengan anak kembar memang harus bisa membagi fokus dengan baik. Lebih tepatnya menerapkan pola didik dan pola asuh tanpa harus fokus pada 1 anak alias langsung pada 2 anak.

Sulit? Tentu saja. Karena, meskipun terlahir kembar, anak kembar pun memiliki karakter kepribadian yang berbeda satu sama lain. Sehingga dibutuhkan ketelatenan dari orang tua untuk memahami kebutuhan 2 anak sekaligus. Untuk menumbuhkan ketelatenan ini, diperlukan beberapa hal yang harus dimiliki orang tua, diantaranya:

● Kesadaran
Orang tua harus menyadari bahwa kita sedang membesarkan 2 anak sekaligus dengan 2 karakter dan kebutuhan yang berbeda. Apabila kita sadar akan hal ini, maka kita pun akan lebih siap untuk menghadapi dinamika dalam mendidik si kembar. Kita juga tidak perlu lagi menyoroti perbedaan mereka karena sadar mereka memang berbeda.

● Kesabaran
Setiap orang tua yang diamanahi anak, haruslah sabar. Karena kita sedang diamanahi manusia, dengan segenap kemampuan yang terus berkembang. Mulai dari manusia yang tidak tau apa-apa menjadi manusia yang berpengetahuan luas. Dalam proses ini tentunya ada sikap anak yang menguji kesabaran kita sebagai orang tua. Nah jika diamanahi anak kembar, artinya sabar kita pun kudu harus kembar alias dobel.

● Kemauan
Mendidik anak tentunya harus dengan ilmu. Meski seringkali kita ketahui bahwa toh orang tua kita dulu pun bisa sukses mendidik anak tanpa ilmu. Namun persepsi ini sudah tidak bisa diterapkan di jaman sekarang ini.
Ilmu bisa didapat dengan adanya kemauan untuk belajar, kemauan untuk tahu lebih banyak, dan kemauan untuk terus menerus mengevaluasi diri. Apalagi memiliki anak kembar memiliki sensasi berbeda dan harus dihadapi dengan cerdas.

● Kreativitas
2 karakter, artinya 2 kreativitas minimal. Karena anak memiliki kesukaan dan kebutuhan yang berbeda. Sehingga aktivitas mereka pun harus disesuaikan. Karena itulah orang tua dituntut kreativitas lebih dalam menginovasi permainan dan aktivitas untuk mengoptimalkan tumbuh kembang si kembar.

Lebih kurang, ketika 4 hal ini terus kita pupuk dan ciptakan, maka kita pun akan jadi lebih telaten dalam mendidik si kembar. Tanpa harus panik dan stres ketika mereka rebutan mainan sampai cakar-cakaran. Tanpa harus marah ketika mereka salah. Karena kita mengetahui dengan baik kondisi mereka, cara menangani mereka, dan apa saja yang menjadi faktor membuat mereka begini begitu. Tinggal menyeimbangkan saja dengan faktor intern kita seperti kondisi psikologis kita.

Oh iya, biar lebih rill, saya list hal-hal yang biasanya membuat ibu dengan anak kembar pusing ya. 
1) Rebutan mainan
Jika rebutan mainan antara anak beda usia, mungkin kita akan memilih untuk memberi pengertian kepada anak yang usianya lebih besar. Gimana kalo anak kembar?
Rebutan mainan anak kembar yang biasanya membuat ibunya pusing, jika terjadi saat anak belum memiliki kemampuan verbal yang baik. Namun tidak usah menyerah ya. Anak meski belum bisa berkomunikasi dua arah dengan baik, tapi mereka memiliki kemampuan untuk memahami hal yang terus diajarkan secara kontiniu. Jadi, konsisten saja ketika menerepkan manajemen bermain kepada anak. Misal, kapan boleh ambil mainan yang dipegang saudaranya, gimana caranya, ketika saudara sedih karena mainannya direbut apa yang harus dilakukan, dan lain-lain sebagainya.

2) Bercanda kelewat batas
Karena mereka dari brojol barengan, maka mereka tentunya akan menjadi teman bermain. Nah seringkali anak kembar bermain sambil becanda dengan saudara kembarnya sampai kelewat batas. Misal sampai jambak-jambakan atau cubit-cubitan. Kita sebagai orang tua tentu bingung bagaimana cara melerai dan menasehati mereka. Karena anak-anak tersebut sama-sama belum paham bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah menyakitkan. Biar mereka paham, ya sounding saja  terus menerus kepada mereka sampai mereka pada akhirnya mengerti kalau dicubit dan dijambak itu sakit.

3) Memiliki keinginan yang berbeda

4) Nangis barengan ga mau berhenti

5) Tantrum barengan

6) Berantakin rumah barengan dengan diam-diam

7) Kabur dari rumah barengan

8) Ingin menguasai ibunya secara barengan tapi ga mau dipeluk barengan (rebutan mama)

9) Rebut mainan anak tetangga barengan penuh kerjasama

10) Keroyokin anak tetangga barengan

11) Minta gendong barengan

12) ....

Silahkan dilanjutkan ya listnya... hehehe...

Apapun itu, memiliki anak tidak akan jauh-jauh dari yang namanya pusing. Karena anak itu memang ujian. Jadi daripada pusing dengan tingkah anak-anak, lebih baik kita fokus saja pada perkembangan mereka. Sehingga tingkah yang tadinya kita pandang negatif, bisa kita sikapi sebagai bagian dari masa perkembangan.

Semog bermanfaat...

^^
21 Agustus 2015
9.29 PM

Post Comment
Posting Komentar

Komenmu sangat berarti bagiku 😆
Makasi ya udah ninggalin komen positif ... 🤗